songfic : i have nothing part 2

“hah??”

“kau belum pernah kan? Ini adalah syarat untuk menjadi bandel sejati!”

Sam menunjukkan sesuatu yang berbentuk bubuk berwarna putih di dalam plastik obat warna putih di depan mataku. Aku menatapnya sesaat. Sebenarnya aku ingin menolaknya. Tapi sam biasanya akan mengadukanku pada alan dan alan akan menambahkan bebanku lagi.

“ayolah, jae! Ini untuk kebaikanmu!!” bujuk sam.

“kebaikan?” tanyaku sinis. “kau ingin aku menghisap ini?”

Sam mengangguk. Lalu memberikan benda itu di tanganku. Aku menatap kebawah dan melihat bubuk putih yang memuakkan itu.

“sam, sorry. I cant do it boy!” kataku sambil memberi benda itu ke tangan sam.

“jae joong, please! You must try it, ok?” bujuk sam lagi.

“NO!”

“really?”

“umm.. yeah!”

“oh joongie..”

Deg—

Nama itu.. aku jadi ingat orang yang memanggilku dengan nama joongie itu! Yunho hyung!! Bagaimana kabarnya sekarang?

“sammy, jae joong!!” sentak seseorang keras.

Sam langsung menepuk pundakku dan tersenyum tanpa arti. Lalu pergi. Kemudian mr larry datang dan menamparku.

“jae joong!!!” geramnya. “apa lagi yang kau lakukan???”

“a-aku..” aku tidak bisa menjawabnya. “AKU DIJEBAK!!”

“dijebak?”

“iya! I know that I’m a naughty boy. But, I can’t do it—“

“enough! Aku bosan mendengar alasanmu!”

“TAPI INI BENAR! AKU TIDAK MELAKUKANNYA! AKU DIJEBAK! AKU DIJEBAK SAMUEL JONAS DAN KAWAN-KAWAN!”

“kau berani membentakku??”

“aku berani kalau saja aku tidak bersalah!”

“shit!” mr larry langsung melayangkan tamparan ke pipiku. Tamparan ini lebih keras dari yang tadi. “JAE JOONG, KAU TAHU, INI APA? INI PUTAU!!”

“I know it mister! But, it’s not my mistake!”

“jelas lah! Kau membuat—“

Si larry itu terus saja berbicara yang membuat kupingku ini menjadi besar sebesar gajah dan merah semerah cherry.

 

*Author POV*

 

Jae joong menerima hukuman dari mr larry atas tuduhannya itu. Ia dibawa ke ruang guru dan menerima sebuah map merah untuk diberikan pada orang tuanya yang berisi hukuman skors sebulan untuk jae joong. Bagi jae joong, itu adalah keberuntungan. Tapi bagi orang tuanya, ini sangat menyakitkan. Berkali-kali jae joong harus menerima hukuman cambuk dan tendang dari ayahnya, young woon.

“beritahukan ayah sekali lagi, punya siapa itu?” tanya young woon emosi.

Jae joong mengangkat kepalanya yang terasa berat. Darah bercucuran di lantai marmer yang indah itu. “itu punya SAM! Bukan punyaku. Puas?” jawab jae joong mengulang jawabannya tadi.

PLAK!

Jae joong kembali mendapat cambukan lagi dari ayahnya. Lalu tendangan kuat di perutnya. Lengkap sudah penderitaannya. Ia tidak bisa bergerak lagi. Bernafas saja rasanya seperti ditiban kapal titanic yang besar itu.

“ini.. bukan.. salahku..” kata jae joong lirih. “yunho hyung.. ini bukan salah joongie!”

Young woon tercekat mendengar perkataan anak laki-lakinya ini. Ada perasaan merasa bersalah karena ia memisahkannya dengan yunho di saat ia masih muda. Ia mengalihkan pandang ke anak laki-lakinya itu. Jae joong memegangi perutnya. Beberapa kali jae joong memuntahkan darah dari mulutnya itu sambil menggumamkan kata “yunho”

“ah.. yunho hyung.. sakit!!” kata jae joong lagi. Kali ini nadanya lebih lirih. Lebih terdengar seperti bisikan. Akhirnya young woon membawanya ke rumah sakit.

 

*yunho POV*

 

Aku mencoba bersikap lebih baik dari kemarin. Sudah 8 tahun ini aku selalu diam, seperti anak autis yang hanya bisa diam dan tidak bisa berkomunikasi dengan anak seusianya. Aku selalu memikirkan jae joong, yang sekarang entah dimana. Appa tidak pernah memberitahukanku dimana ia berada. Bahkan untuk sekedar menanyakan kabarnya saja aku selalu mendapat omelan dari appa. Katanya jae joong harus dilupakan. Untuk apa aku melupakannya kalau aku akan mengingatnya lagi? Aku tidak bisa melupakannya walaupun dengan cara apapun! Hanya dia yang bisa mengubahku ke kehidupan semula! Percayalah.

Dug!

Seperti ada yang menendang perutku. Aku menengok kesana kemari untuk mencari sesuatu yang mungkin menyakiti perutku. Dug! Dug! Kali ini lebih sakit! Aku memegangi perutku yang kaku ini sambil meneriakkan nama jae joong. Entah kenapa hanya dia yang ada di pikiranku. Ugh.. sakit! Jae joong, apakah kau merasakan ini? Joongie!! Kau dengar hyung kan?

 

Stay in my arms if you dare

Or must I imagine you there

 

*author POV*

 

“joongie, sini kalau kau takut!” gumam yunho sambil mencoba meraih sesutu yang tidak ada disana. “joongie, sini sayang. Hyung sakit nih.. kamu sakit nggak?”

Yunho terus berbicara dengan halusinasinya. Dua pembantunya, mbak jeje dan mbak chunijem yang melihat anak majikannya yang paling ganteng itu langsung bergidik ngeri membayangkan jae joong yang menjadi makhluk halus yang mengganggu yunho. Mbak chunijem dengan sedikit keberaniannya mengambil telepon rumah yang ada di meja dekat ruang tv di dekat yunho untuk menelepon majikannya.

“nyonya, mas yunho kesakitan nggak tahu kenapa. Terus dia manggil-manggil mas jae joong.. iya saya tunggu!.. sekarang lagi manggil dokter.. eh dokternya dateng.. cepat ya nyah!” kata mbak chunijem di telepon.

 

@ philadelphia

 

Young woon mondar-mandir sepanjang koridor untuk menenangkan pikirannya terhadap anaknya yang sedang menunggu kesembuhan di dalam sana. Young woon merasa bersalah. Bukan hanya karena ia memukulnya sampai terjadi seperti itu, tapi juga karena kejadian 16 tahun lalu itu berkelebat di pikirannya.

“untuk apa aku menukarnya kalau akhirnya aku tidak bisa mengurusnya. Ayah macam apa aku?” pikir young woon dalam hati. Ia mengacak-acak rambutnya untuk menghilangkan setiap potongan-potongan kejadian yang tersusun seperti film yang belum di edit.

Young woon jatuh terduduk di depan ruang dimana jae joong sedang diperiksa. Ia menangisi nasibnya yang telah memisahkan dua anak tak bersalah, dan menyiksa anak sampai seperti ini.

“tidak ada gunanya kau menangisi nasib!” kata seseorang. “tidak ada yang perlu ditangisi lagi. Buka lembaran baru dan kita lewati bersama!”

Young woon mendongakkan kepala. Ia tersenyum pada perempuan di depannya itu. Lalu berdiri memeluk perempuan itu.

“aku bukan ayah yang baik! Aku bukan ayah yang baik!” kata young woon di pelukan istrinya itu, yoo jin.

Yoo jin memeluk suaminya erat untuk menguatkannya. “young woonnie, kita harus memulainya dari awal!” yoo jin melepaskan pelukannya. “hanya satu yang bisa kita lakukan! Mempertemukannya dengan yunho!”

Young woon tersentak. “ma-mana mungkin? Aku—sudah berjanji pada yong hwa!”

Yoo jin mengelus pipi suaminya sambil tersenyum. “janji harus ditepati. Tapi, ini demi kebaikan jae joong! Sekali.. saja! Aku yakin ia bisa menerimanya!”

Young woon memikirkan gagasan istrinya. Ia tidak yakin dengan gagasan itu. Ia terlanjur janji kalau tidak akan mempertemukan jae joong dengan yunho setelah masa kontraknya habis. Tapi masa kontraknya belum habis. Young woon memutus kontrak ditengah jalan karena ia lelah mengurus heechul, si bengal yang manja.

“bagaimana keadaan jae joong, dok?” tanya yoo jin pada dokter yang baru keluar.

Dokter itu mengusap rambutnya. Lalu memandang dua suami istri itu. “saya akan jelaskan di ruangan saya!”

 

@ seoul

 

BRAK!

Pintu langsung di dobrak oleh yong hwa dan hye na—orang tua yunho—yang panik mendengar berita anaknya tiba-tiba sakit sambil memanggil nama jae joong. Suami istri itu langsung ke kamar yunho di sebelah kanan kamar tamu.

“yunho!” hye na langsung memeluk yunho yang terbaring lemas di kasurnya. Lalu mengalihkan pandang ke dokter yoon, dokter langganan keluarga. “yunho kenapa dok?”

Dokter yoon menggelengkan kepala bingung. “saya sendiri juga bingung!”

“dokter gimana sih!” bentak yong hwa. “masa’ kaya gitu aja nggak tahu?”

“tapi benar, tidak ada gejala penyakit apapun di dirinya!” jawab dokter yoon yakin.

“ma-mana mungkin??” kata yong hwa bingung.

“joongie.. joongie..” gumam yunho sambil menggerak-gerakkan tangannya. Seperti orang yang hendak menggapai sesuatu. “joongie, hyung disini! Joongie..”

Hye na langsung menggenggam tangan yunho dan menangis di sisi kasur. Yong hwa reflek langsung memeluk istrinya sambil menenangkan yunho.

“yun, joongie tidak ada! Yun, tidak ada joongie, kau dengar?” kata yong hwa.

“ani.. joongie, jangan tinggalkan hyung! Joongie.. jangan marah. Joongie, hyung tidak akan meninggalkanmu lagi!” butiran air mata jatuh melalui pipi mulus yunho yang langsung dihapus oleh hye na. “joongie, disini..”

 

Don’t walk away from me

I have nothing.. nothing.. nothing..

If I don’t have you..

@ philadelphia

 

*jae joong POV*

 

Aku membuka mataku dan kembali menghadapi kenyataan. Mataku harus menyesuaikan diri dengan cahaya yang dipancarkan sang surya padaku. Aku terus mengerjap-ngerjapkan mata untuk menyadari dimana aku sekarang. Karena belum juga menyadari tempatnya, aku langsung bangun dari posisi tidurku. Tapi uhh.. perutku rasanya sakit. Seperti ada batu yang dilemparkan ke perutku sehingga rasanya benar-benar menyakitkan.

“jae joong, kau sudah bangun nak?” tanya seorang perempuan yang sekarang harus ku panggil omma.

“ne, omma.. arrgg—“ jawabku disertai erangan kesakitan.

“jangan bangun dulu!” omma mengembalikanku ke posisi semula. “kamu belum pulih!”

Ya iyalah! Mana mungkin ada orang yang langsung pulih dengan hitungan jam setelah dipukuli hanya karena terkena hukuman skors?

“masih sakit?” tanya omma sambil memegangi perutku.

Aku langsung menepisnya. “aku tidak hamil. Jadi tidak perlu repot urus perutku!”

“umm.. omma keluar dulu ya! Kau mau makan? Biar omma yang belikan.”

“tidak perlu! Aku bisa tahan tanpa makan.”

Omma langsung keluar kamar. Ffiuhh.. aku mendesah lega karena tidak ada siapa-siapa di tempat ini. Aku baru sadar, aku ada di rumah sakit. Tempat yang sering kujadikan tempat untuk bermain petak umpet bersama yoon jun hyung, anaknya dokter yoon. Huh.. masa lalu yang kelam.

Oh ya, aku tadi memimpikan sesuatu yang tak nyata. Aku mimpi aku dan yunho hyung sedang berada di sebuah labirin yang membingungkan. Tiba-tiba aku menghilang entah kemana. Yunho hyung terus berteriak memanggil namaku. Haah.. tidak mungkin yunho hyung melakukannya! Hanya mimpi. But, I like it!

 

*author POV*

 

Sementara itu diluar ruangan, young woon dan yoo jin sedang memikirkan cara untuk membuat jae joong melupakan orang yang pernah mengisi pikirannya dulu—bahkan sekarang.

“jin-ah, sepertinya memang benar gagasanmu!” kata young woon. “kita memang harus mempertemukan jae joong dengan yunho!”

“ya!” yoo jin mengangguk. “hanya itu! Hanya yunho yang bisa membuatnya mengerti agar ia bisa melupakannya!”

“kita atur waktu dan tempatnya!”

young woon mengeluarkan HP dari saku jeans-nya dan mencari nomor kontak yong hwa yang sudah lama tidak berhubungan dengannya.

 

TBC

One thought on “songfic : i have nothing part 2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s