ff : “bad boy good boy” part 1

Title : “bad boy good boy”

Genre : yaoi, comedy (garing), crazy lah pokonya (?)

Rate : PG 13

Length : chaptered (1/??)

Main cast : GD X TOP

FF ini dibuat karna saya lagi kangen double combo ini.. hoho.. maap kalo bahasanya campuran gini. Ini Cuma buat hiburan kok..

Ok,, just read, comment, and if u like u can click ‘like’ button #halah# but if u don’t like, don’t read and no bashing #cerewet

***

Ji yong termenung sendiri melihat pemandangan di depannya. Pemandangan ini lebih buruk dari meletusnya gunung krakatau yang abunya sampai ke negeri belanda. Ia benar-benar tidak menginginkannya. Tapi apadaya? Dia terlanjur melihatnya, dan tentunya harus menyelesaikan tontonannya.

Dua orang yang merupakan teman dekatnya, yang mempunyai perasaan yang sama, yang pernah tinggal di nevada bersama, bersekolah di tempat yang sama, dan—

Tidak ada lagi yang bisa di sebutkan. Dua orang itu adalah orang yang paling berpengaruh dalam hidup ji yong. Yang selalu menyemangatinya dimanapun dan kapanpun. Saat senang, maupun sedih.

“hai!!” sapa seorang laki-laki sambil menepuk pundaknya.

Ji yong tersadar dari lamunannya. Ternyata yang menjadi objek tontonannya sudah ada di depan matanya. Ia speechless, tidak bisa berkata apa-apa.

“eh, yong bae, umm.. waeyo?” tanya ji yong salah tingkah pada sahabatnya, dong yong bae.

“hanya ingin menyapamu!” jawab yong bae sambil senyum. “kau merindukan kami?”

Ji yong tersenyum pahit. Tepatnya mengharapkan dara.

“ok. Aku dan dara sedang ada urusan di lain tempat. Setelah itu aku harus kencan dengannya.” Kata yong bae membeberkan semua urusan pribadinya.

“thank’s sudah menjodohkan kami! Aku benar-benar senang mengenalmu!” timpal seorang perempuan di samping yong bae, sandara.

Ji yong hanya bisa tersenyum—senyum terpaksa. Setelah dua orang itu hilang dari pandangannya, ia berjalan kembali ke gedung sekolahnya yang ada di sebelah taman kencan yang di jadikan tempat menonton. Sepanjang jalan ia hanya menunduk. Sampai akhirnya ji yong menabrak sesuatu yang lebih besar, lebih tinggi, dan lebih berisi daripadanya. Malah ia hampir terjengkang saking besarnya tameng pertahanan orang di depannya.

“untuk apa kau punya mata kalau kau tidak memakainya?” tanya lelaki itu sambil menggigit cokelat di es krim magnum-nya.

Ji yong diam. Ingin sekali menonjok lelaki itu di saat ia sedang kesal. Akhirnya ji yong hanya bisa menelan ludah pahit dan menghindar dari hadapan cowok itu. Tapi tangannya di tahan dengan cengkraman keras dari lelaki itu.

“namaku seung hyun. Choi-seung-hyun. Aku kelas 2-b. nomorku +011 898 7272! Telpon aku kalau kau merindukanku.” Kata lelaki itu lalu mengendurkan cengkramannya dan pergi dari situ.

Ji yong menyeka tangannya yang bersih dari noda apapun dengan gaya angkuh-nya. Lalu tersenyum sinis memandang lelaki berbadan tinggi besar yang langsung to the point memperkenalkan dirinya. Padahal tidak ada yang menyuruhnya.

“ck ck ck.. orang aneh!” gumam ji yong sambil melanjutkan perjalanannya. “siapa juga yang minta kenalan? Hii~”

***

Ji yong kembali ke sekolah keesokkan harinya. Kali ini ia ingin ke taman kencan itu lagi sepulang sekolah. Bukan untuk menonton dua temannya bermesraan, bercandaan, berkejaran dengan senang. Tapi untuk mengerjakan tugas makalahnya yang diberikan dua hari lalu.

“eh, kau tahu, aku dan dara kemarin meminta restu pada orang tua kami! Dan—DITERIMA!!!!” teriak yong bae senang.

Ji yong terpaksa tersenyum WALAUPUN hatinya sangat sakit. Kemudian senyumnya segera tergantikan oleh kesedihan. Dara datang sambil membawa coklat yang di hiasnya sedemikian rupa sehingga benda itu sangat special.

“eh, jiyong! Apa kabar?” tanya dara penuh keceriaan. “kau sakit? Kenapa wajahmu pucat begitu?”

Ji yong tersenyum, senyum manisnya yang paling dibanggakan. “aniyo.. aku baik saja! Lihat? Aku hanya bingung dengan tugas makalah itu!”

“yeah.. anak rajin selalu memikirkan tugas. Sedangkan aku??” yong bae menunjuk dirinya sendiri sambil menggeleng keras.

“ok ok. Aku tahu kalian sedang berbahagia. Now, I wont to disturbing u all!” ji yong berjalan keluar sambil melambaikan tangan dari arah belakang.

Ji yong membuka netbook-nya, hari ini ia bisa tenang karena sudah bisa merelakan dara—orang tersayangnya bersama yong bae, orang yang sangat tepat untuknya.

“ehm..” seseorang berdeham dengan kencangnya, membuat ji yong yang sedang menuangkan perhatiannya pada netbook accer itu harus melihat siapa orang iseng yang mengganggunya.

Ji yong mendengus kesal melihat lelaki kemarin yang sangat menyebalkan datang mengusiknya. Masih dengan magnum di tangannya.

“kenapa?” tanya ji yong malas.

“nothing!” jawab lelaki itu polos sambil melahap sisa es krim magnum-nya. “yahh.. abis!”

Ji yong tertawa kecil tanpa ketahuan. Harus ia akui, kalau seung hyun—lelaki di sebelahnya—itu mempunyai selera humor yang tinggi. Wajahnya yang polos saat melihat stik es-nya tak lagi dipenuhi dengan cokelat padat yang melapisi es yang enak.

“beli dong!” kata ji yong setelah mengtur emosi-nya.

Seung hyun menatap ji yong dari bawah tangan lelaki itu yang sedang mengetik. Ji yong yang kaget langsung memerah wajahnya.

“ehm.. kamu suka aku ya??” goda seung hyun setelah mengembalikan posisi kepalanya.

Ji yong dengan sengaja menginjak kaki seung hyun dengan sangat keras. Menyebabkan lelaki di sebelahnya meringis kesakitan. Setelah memberi smirk yang pas untuk seung hyun, ia menjinjing netbook-nya yang masih terbuka ke tempat lain, yang jauh dari lelaki menyebalkan yang polos itu. Tapi tetap saja seung hyun mengikutinya menuju tempat di dekat pohon besar lainnya.

“ngapain sih? Rajin banget!” kata seung hyun sambil menatap netbook ji yong.

“NGETIK!” jawab ji yong ketus.

“tugas?”

“IYA!!”

Seung hyun malah bercerita tentang masa kelas 1-nya yang menyedihkan. Ia memang anak yang pinter, dalam akademik maupun non-akademik. Akademik ia sangat pintar apapun yang berhubungan dengan matematika. Sedangkan non-akademik, ia jago olahraga terutama basket. Back to topic. Seung hyun menceritakan tentang tugas makalah IPA-nya yang belum ia kerjakan. Padahal tugas itu sudah diberikan seminggu sebelumnya. Akhirnya ia disuruh membersihkan genteng dari sampah-sampah buangan anak-anak.

“terus, kenapa nyambung-nyambung ke ngedance, sambil nge-rap?” tanya ji yong saat seung hyun berbicara tentang rap dan dance di dalam dongengnya.

“ya.. aku sebenernya nggak ngerjain pekerjaan itu. Malah ngedance sambil ngerap. Tapi ngedance-nya dikit aja. Nanti malah bolong lagi!” jawab seung hyun jujur.

Untuk kali ini ji yong merasa nyaman berada dekat dengannya. Ia bisa menceritakan segala sesuatu yang garing menjadi lebih hidup. Walaupun ceritanya agak kurang nyambung, tapi tetap saja ceritanya menarik.

***

“hai!!”

Dia lagi!! Teriak ji yong dalam hati. Ia sudah bosan tiap hari disuguhi pemandangan yang sama. Bukan yong bae dan dara yang bermesraan, tapi seung hyun, orang ternarsis yang pernah ia kenal.

“bisa nggak kamu diam dan tidak menggangguku??” tanya ji yong kesal. Itu adalah pertanyaan ke-berapa ratus kalinya setelah seminggu ini.

“umm.. tidak!” jawab seung hyun polos. “entah kenapa aku senang sekali mengganggumu!”

“ohh??”

Ji yong mempercepat langkahnya. Sedangkan seung hyun mengeluarkan dua lollipop kecil dari saku jas-nya. Satu ia berikan pada ji yong.

“kalau bad mood, enakan makan lolli! Dijamin langsung ilang bad-nya!!” kata seung hyun sambil terus menyodorkan lollipop-nya.

Ji yong berhenti mendadak. Lalu menatap seung hyun. Menatap lelaki pengganggu, stalker, dll. Baru pertama kali ji yong menatap mata seung hyun yang menghipnotis. Ia malah lupa apa yang mau dibicarakan.

“saking terpesonanya denganku sampai speechless gitu!!” goda seung hyun, membuat wajah lawan bicaranya memerah.

Ji yong kembali ke dunianya semula. Lalu mengatakan hal yang tadi ingin dikatakannya.

“eh, mau makan lolli sampe di pabriknya abis juga nggak bakal ilang bad moodnya! Apalagi kalo deket kamu.. ihh..” kata ji yong lalu membalikkan badannya.

“ehm.. hati-hati lho.. benci dan cinta—“

“CUKUP!!!” ji yong menutup mulut seung hyun dengan tangannya. “aku sudah bosan dengan pernyataan itu. So, close ur mouth and give that lolli!”

Seung hyun tersenyum menggoda sambil memberikan lollipop rasa stroberi asamnya pada ji yong. Setelah menerima, ji yong langsung berlari ke kelas meninggalkan seung hyun yang terus mengemut lolli-nya tanpa rasa.

“ck ck ck.. benar-benar anak yang menarik!” gumam seung hyun lalu berjalan ke kelasnya di lantai 2.

Istirahat..

“ji yong!!!” teriak seung hyun seperti anak kecil yang bertemu temannya di jalan.

Seung hyun menjadi pusat perhatian setelah berteriak tanpa kenal keadaan di kantin. Membuat cewek-cewek pengagum rahasia seung hyun menatap kejam ke arah ji yong yang sedang memesan somay di bang komeng.

“ya tuhan.. bisakah aku ditelan bumi agar tidak melihatnya lagi??” kata ji yong dalam hati.

“pak, nanti dulu deh! Duit saya ketinggalan!” kata ji yong pada bang komeng yang sedang mengambilkan somay untuk pesanan anak-anak.

Ji yong langsung berlari sambil merapatkan jaketnya dan menutup kepalanya dengan tudung jaket itu. Tapi nasib tetap mempertemukannya dengan seung hyun. Lelaki itu sudah berdiri dengan tegap di depannya. Akhirnya ia kembali menatap wajah lelaki itu yang lebih tinggi beberapa senti darinya. Orang-orang malah mempertontonkan kejadian itu. Akhirnya ji yong pergi dari situ.

“ahh.. benar-benar romantis!” komentar seorang perempuan.

“andaikan aku yang menjadi perhatian seung hyun oppa!!” sambung yang lain.

@ Saturday night

Malam minggu..

Malam yang paling ditunggu ji yong. Bukan karena ia ingin mengadakan kencan impian dengan seorang gadis pujaan. Tapi untuk terbebas dari seung hyun.

“yah.. persediaan camilanku habis!” gumam ji yong sambil menutup lemari camilannya yang kosong.

Ji yong langsung menyambar jaket, dompet dan topi untuk membeli camilan di minimarket dekat rumahnya. Tidak perlu menggunakan motor, jalan saja sudah cukup. Malah memberi keuntungan lebih jika jalan.

“what again??!” ji yong mengacak rambutnya ketika melihat seung hyun sedang asyik memilih es krim.

Untungnya ji yong yang pintar memilih berlama-lama di tempat snack. Sok-sokan memilih padahal yang ada di keranjang lebih dari cukup untuk seminggu. Setelah sosok seung hyun menghilang dari tempat es, ji yong langsung mengambil beberapa es.

“ehm..” ada yang menepuk pundak ji yong saat ia ingin membayar.

Ya tuhan.. apakah ini yang kau berikan padaku?! Kata ji yong dalam hati.

“banyak banget!” komentar seung hyun melihat ke belanjaan ji yong yang lebih baik dibilang memborong.

“iya! Kenapa?” tanya ji yong ketus, sambil menunggu giliran untuk membayar dan pergi dari situ.

“aneh aja!” jawab seung hyun. “badan sekecil kamu, makan sampe segitunya! Ck ck ck..”

“ini kan menguntungkan pihak swalayan!”

“ok.. ok..”

Sekarang giliran ji yong membayar. Seung hyun memberi kode kepada penjaga kasir itu. Penjaga kasir itu lalu membungkus semua belanjaan ji yong yang banyak dan langsung memberikannya pada lelaki itu.

“eh?” ji yong salah tingkah.

“nanti kujelaskan!” seung hyun langsung mengambil empat plastik besar belanjaan ji yong dan menarik lelaki kecil itu keluar.

Ji yong melepas paksa cengkraman elang seung hyun sesampainya mereka ke lapangan dekat minimarket itu. Lalu hendak mengambil kembali belanjaannya.

“cepat berikan!!” kata ji yong.

“kamu harus disini terus sampe aku cerita!” balas seung hyun, beralasan tepatnya.

“cerita apaan sih? Kamu kalo suka sama aku curhatnya ke yang lain aja deh!”

“jih? Siapa yang suka?!”

“terus, kenapa kamu ngejar-ngejar aku gitu sampe aku bingung? Sampe aku dibuat malu di kantin, jadi pusat perhatian, dan sekarang malah nyebar gosip yang nggak-nggak?!”

Seung hyun memonyongkan bibir sambil menggembungkan pipinya, ekspresinya saat mendengar semburan lava kemarahan dari orang. Ji yong benar-benar tidak tahan dengan ekspresinya, hampir saja ia mendekatkan bibirnya ke bibir lelaki itu kalau saja seung hyun tak mengembalikannya ke posisi semula.

“tuh kan, kamu tuh yang suka aku!” kata seung hyun dengan wajah santai, tidak menunjukkan ekspresi yang menggoda.

“si-siapa yang—“

“halah.. nggak usah muna gitu deh! Biasa juga cablak kalo urusan cinta!”

“eh, sejak kapan aku cablak?! Aku kan Cuma berani gitu sama yong bae!”

“dan yong bae adalah temanku.”

Speecless. Itu yang dirasakan ji yong. Ia menunduk untuk meredakan emosinya. Entah kenapa setiap bertemu dengan lelaki itu ia benar-benar kesal. Tapi itulah yang membuatnya rindu.

“eh, nangis ya? Maaf deh.. aku kan Cuma bercanda!” kata seung hyun sambil menaikkan kepala ji yong agar pandangannya tepat ke depannya.

Ji yong menepis tangan seung hyun. “tuh, sekarang siapa yang suka duluan? Aku, atau kamu?”

“kamu!”

“kok aku?”

“tuh, udah ketahuan! Setiap kamu liat aku, kayaknya kamu terpesona gitu!”

Ji yong menutup mulutnya. Mungkin sebentar lagi ia akan muntah dengan hebatnya seperti saat ia pertama kali naik pesawat. Hanya 1 jam perjalanan, ia hampir mati karena telah menghabiskan 5 kantong plastik untuk menampung muntahannya.

“ya ampun, magnum-ku!!!” seung hyun yang baru sadar kalau dari tadi menyimpan magnum di tangannya langsung membuka bungkusnya dan menahan kesedihan karena es krimnya meleleh.

“tanggung jawab juga ya buat 10 es krim-ku yang ada di dalam sana!” kata ji yong dingin.

“ok! Kau mau ambil semuanya juga tak apa.”

“kau yang bayar?”

Seung hyun menggeleng.

“lalu?”

“papi!”

“jangan libatkan orang tua di dalam urusan pribadi!”

“tapi aku anak yang manja. So, aku masih bergantung pada orang tua!” seung hyun menghela nafas panjang. “ok. Maksudnya, minimarket itu punya papi. Tepatnya punya keluarga choi! Papi jadi direktur utamanya sekarang. So, that’s how u and I can buy it free!”

Ji yong menelan ludah tak percaya. Sedangkan seung hyun tersenyum manis—senyum yang tidak biasa.

“eh?!” seung hyun melambaikan tangannya ke depan wajah cowok manis itu.

“eh? Kenapa?” ji yong kembali salting. Membuat seung hyun dengan senang hati menggodanya.

“ehm.. wajahnya—“

“DIAM!!!!”

***

Seung hyun terbangun dari tidurnya setelah mendengar suara keras dari luar rumah megahnya. Bunyi segala alat musik yang sering ia dengar ketika berada di jakarta, tempatnya menghabiskan waktu selama 3 tahun.

“hyunnie, bangun sayang!” kata mami-nya lembut.

Seung hyun membuka matanya perlahan. Lalu mengucek-nguceknya dan mengerjep-ngerjapkannya untuk menyesuaikan pandangannya pada sinar yang lebih kuat tenaganya. Setelah ia bangun dari posisinya dan melihat mami papi-nya menggunakan jas rapi, ia kembali tidur.

“kenapa sih mi?” tanya seung hyun sambil menelungkupkan wajahnya di bantal besar bergambar doraemon-nya. “aku nggak mau ikut ke kondangan! Mami sama papi aja ya.. hyunnie nyusul deh kalo dapet somay!”

“bangun dong, kalo mau tahu!” jawab maminya sambil mengelus wajahnya.

“mami, ini kan hari minggu!” keluh seung hyun manja sambil memonyongkan bibirnya dan menggembungkan pipinya. *sumpah!! Gue pengen banget liat dia begitu.. hyunnie gue tercinta !!!!!! *

“terus?” suara berat papi-nya ikut nimbrung, membuatnya langsung 100% bangun.

“kan harusnya aku tidur dengan amat sangat panjang melebihi mayat yang udah ditarik roh-nya ke surga!”

“ok.. ok.. sekarang, kamu siap-siap ya!” maminya menarik seung hyun untuk turun dari tempat tidur.

“kenapa sih, mi? aku masih ngantuk!! Kemaren aku udah capek latian pidato buat tampil di depan presiden!”

“udah.. anak papi cakep kok! Ayo langsung dandan!”

Seung hyun hanya menuruti perintah kedua orang tuanya. Ia di tarik ke meja rias tempat biasa ibunya dandan. Semua perias dari salon terbaik di kerahkan untuk merias wajah tampan seung hyun agar tambah tampan untuk moment ini.

“mami kenapa sih?!” seung hyun emosi, wajahnya yang sedang diberi lipstik untuk menghilangkan warna pucat bibirnya langsung mencorengkan wajahnya.

“ya ampun, anak mami yang manis dan imut ini, kenapa jadi cemong gini?! Kamu sih nggak bisa diem. Untung anak mami Cuma satu!” kata mami sambil mengelap bekas lipstik yang tersebar ke pipi kanan seung hyun.

“emang kalo anaknya dua kenapa?” tanya seung hyun polos.

“jadi mami nggak perlu bunuh diri buat ngajarin anak-anak mami! Udah ah, perias tolong lanjutkan!!”

Seung hyun diam. Tidak bisa berkutik lagi kalau sudah dengan mami papi-nya. Semuanya akan ia lakukan demi kedua orang tuanya yang telah membesarkannya menjadi seorang laki-laki tampan yang menjadi pujaan wanita. Memang benar ia adalah anak yang manja. Tiap hari kangen mami, kangen papi, telponan terus, kalo mami nggak nelpon pasti dia marah-marah sambil nangis, atau nggak dikasih duit sama papi pasti dia bakal ngeborong magnum sampe stok abis. Pokoknya benar-benar manja deh!

“mi, kok ada bunyi tanjidor segala? Pake petasan lagi!” tanya seung hyun tanpa mengacuhkan riasan wajahnya.

“nanti kamu juga tahu!” jawab papi-nya, padahal jelas-jelas yang ditanya mami.

“tapi hyunnie kan udah di sunat. Masa sunat lagi? Mau sampe abis? Nanti di orok ke kampung naik sisingaan? Ihh.. kalo begini aku nggak mau berbakti lagi deh!” kata seung hyun kesal.

“bilangnya nggak mau berbakti. Tapi nanti akhirnya nangis-nangis sambil bilang ‘aku kangen mami’ atau ‘aku kangen papi’!” goda maminya.

Setelah memakai pakaian adat ala campuran sunda-korea, diiringi dengan pasukan pembawa tanjidor dan orang sekampung, keluarga berangkat ke tempat seseorang.

“rumah bengkong kok bagus?” tanya seung hyun.

“siapa bilang mau ke rumah bengkong?” tanya papinya balik, padahal ia kesal dengan pertanyaan bodoh itu.

“nggak ada!” jawab seung hyun. “TAPI AKU MAU DIAPAIN???”

“nanti kamu juga tahu!” mami-nya ikut nimbrung.

“mami..” seung hyun hampir menangis putus asa. “aku capek! Nggak mau disunat untuk kedua kalinya. Nanti kalo abis gimana? Aku—“

Mami seung hyun kehabisan kesabaran. Akhirnya ia rela mengorbankan putranya untuk disumpal dengan kain bekas ngelap meja.

“selamat datang..” sambut sebuah keluarga—terdiri dari satu anak perempuan, satu orang wanita, dan satu orang pria.

“bagaimana? Ji yong mau?” tanya papi to the point.

Dreeennnggg…… *backsound

Maksudnya???????????

TBC

Oh ye,, follow me @lailaisvip mention and I’ll foll u back #promo

One thought on “ff : “bad boy good boy” part 1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s