“dangerous friendship” part 2

“mwo??” semua menganga mendengar pernyataan yoochun.

“aku serius! Mungkin aku tertarik dengan wajah bayi-nya!” yoochun hyung mengedipkan mata ke junsu. Junsu membalasnya dengan tatapan takut.

“sapa dia dong, min!” goda jae hyung.

“jadi, apa yang harus kulakukan disini?” tanyaku kesal.

“hanya ingin mengenalkannya padamu. Haha..” jawab yoochun hyung seraya tertawa.

Dasar!!

“ok, aku pulang!” kataku akhirnya sambil bersiap-siap keluar.

“changmin-ah, kalau kau pulang, jangan harap kau bisa masuk geng shinki lagi!” kata yunho hyung yang merupakan leader geng.

“kita tak akan menerima uang sogokanmu!” tambah jae hyung.

“yak, jae-ah! Kita harus terima uang itu kalau dia memberi!” kata yunho hyung.

Yunho hyung memang mata duitan! Sebenarnya duitnya juga tak terhitung. Diantara kami yang dompetnya paling tebal adalah dia. Yah.. karna dia anak presiden perusahaan jung fam dan dia juga pemilik sekolah dong bang jadi tak heran. Tapi, pelitnya bukan main! Setiap kita hang out siapa lagi yang membayar kalau bukan kita semua? Heu..

“ok ok. Aku tak jadi pulang!” kataku.

“sekarang, kau ajak dia main!” kata yoochun hyung sambil menunjuk junsu.

“mwo??!!” pekikku dan junsu bersamaan.

“oow. Bukan aku yang memfoto-kopi!” kataku.

“n.. ne..” kata junsu. Sepertinya dia tersipu. Mwo? Tersipu? Haha.. kenapa aku sebenarnya??

Tiba-tiba, 3 teman-temanku bertepuk tangan ria.

“sepertinya mereka cocok!” kata yunho hyung.

“mungkinkah dia akan seperti kita?” tanya jae hyung sambil bermanja-manja di dada yunho hyung.

“tak mungkin lah! Orang yang paling romantis kan aku!” jawab yunho hyung.

“hello!! Stop!! Ada dua anak kecil disini!!” kata yoochun hyung geram.

Dua anak kecil?! Mungkinkah aku? Kenapa aku selalu dibilang anak kecil? Apa mungkin karna umurku masih 14 tahun aku tak boleh duduk di bangku SMA kelas 3? Siapa satu lagi? Yunho, jae joong dan yoochun hyung umurnya 17 tahun! Mungkinkah.. junsu?

“memang berapa umurnya hyung?” tanyaku sambil menunjuk junsu.

“tanya sendiri dong!!” jawab yunho, jae joong dan yoochun hyung serempak.

Yoochun hyung berdiri dan mendekatiku. Dia menepuk pundakku keras. Lalu mendorongku ke pintu bersama junsu.

“apa-apaan kau?” tanyaku marah.

“ajak junsu pergi! Pergilah!” kata yunho hyung.

“untuk apa?” tanyaku.

“bawa atau belikan aku komik one piece sampai penulisnya lelah?” ancam yoochun hyung.

Dari kemarin komik one piece terus!! Mendingan untukku!

“mending aku bawa dia pergi! Sayang komik one piece-nya! Kau kan bisa beli sendiri!” kataku sambil keluar.

Aku menutup pintu itu keras. Aku sudah berada di luar markas sekarang. Sekedar info. Markas geng shinki itu tempatnya tidak seperti yang dibayangkan. Bukan tempat yang ber-AC, bersih, besar, pokoknya mewah! Tempatnya cukup besar untuk 4 orang karna kita hanya bermain disitu. Tidak ada AC, kalau kepanasan cukup pakai kipas angin. Tempat ini tak pernah bersih karna kita laki-laki. Mungkin jae hyung yang membersihkan kalau di tempat itu tak ada orang selain dia –dan mungkin aku— tempatnya tidak seperti rumah kami.

Karna aku harus mengajak junsu keluar –daripada komikku yang jadi korban—aku mengajaknya berputar kota dengan mobil sport kesayangan ini.

“umm.. junsu-ah,” panggilku canggung. Aku tidak menatapnya. Aku berpura-pura fokus ke jalan.

“ne?” junsu membalasku dengan canggung pula. Benar-benar dingin suasananya!

Hanya itu obrolan kita. Tak ada yang lain. Aku juga bukan orang yang pintar omong. Mungkinkah aku harus belajar menggombal seperti yunho hyung dan yoochun hyung?

“changmin-ah,” sekarang dia memanggilku! Aku membalasnya tanpa menengok ke arahnya. Aku takut konsentrasiku buyar karna melihatnya.

“ne?” balasku.

“kita.. mau kemana?”

“umm.. sekedar memutar saja!” deg—benar-benar deg-degan! “memangnya kau mau kemana?”

“aku.. juga.. tak punya tujuan!”

“oh ya. Aku punya tempat yang menurutku sangat bagus! Kau mau lihat?”

“dimana?” dia kelihatan antusias.

Aku menatapnya sambil tersenyum. Aku tak menghentikan mobilku. “ra-ha-sia”

“hahaha..” junsu tertawa. Deg—detak jantungku terasa berhenti! Aku baru pertama kali merasakan perasaan ini! “awas changmin-ah!!!” dia terlihat panik.

Aku langsung kembali fokus ke depan. Pantas saja dia berteriak panik. Ada truk di depanku. Aku langsung membanting stir ke kiri. Ffiuh.. aku selamat!

“kau takut?” tanyaku pada junsu yang masih shock dengan kejadian ini. “mian..”

“gwaenchana.” Katanya dengan senyum. “ayo lanjut!”

Aku gemetar. Tanganku dingin. Tak bisa lepas dari stir. Tak bisa menggerakannya ke kanan. Keringat dingin mengucur deras. Sepertinya junsu juga begitu.

“diamlah dulu disini kalau kau masih gemetar!” katanya.

“oh, ne.” kataku gugup. “mianhe.”

“sudahlah ini juga salahku membuatmu panik!”

“tidak, ini salahku!”

“kalau aku tidak berteriak kan kau tidak akan langsung banting stir!”

“tapi kalau kau tak berteriak, mobil sport kesayanganku ini bisa ringsek! Dan aku bisa membunuh diriku dan dirimu!”

Sunyi~ tak ada lagi pembicaraan. Aku sudah mulai tenang dan langsung melajukan mobil ini dengan kecepatan biasa. Setelah sampai aku langsung memarkirkan mobil di dekat pohon.

“kau suka tempat ini?” tanyaku.

Dia menatap tempat ini sambil menikmati anginnya. “ya.. tempat ini sangat bagus! Pantas kau suka!”

“kau juga kan?”

“iya!”

kita berdua berada di pantai tempatku biasa menghilngkan stress. Kalau aku sedang kesal dengan orang, aku pasti datang kesini. Aku biasa kesini sore menjelang terbenamnya matahari. Tapi untuk sekarang, siang aku kesini. Panas juga!

“umm.. junsu-ah, kau haus? Lapar?” tanyaku.

“sedikit!”

“mau makan? Itu ada café!”

“umm.. tidak usah!”

“kenapa?”

“aku belum terlalu lapar!”

“ayolah.. aku mau kesana!! Aku lapar!!” kataku manja. Manja?!?

“yasudah kau sendiri saja!”

“ok. Kutinggal ya!!”

“eh.. andwe!!”

Aku tersenyum. Aku lalu masuk ke dalam mobil sport-ku. Aku kembali menyetir ke café hard soft. Di kafe, aku memesan cappucino float. Aku tak lapar. Hanya haus. Junsu hanya memesan minuman dingin biasa.

“kenapa tak pesan yang lain?” tanyaku sambil menyeruput cappucino float-ku.

“umm.. aku lebih suka es jeruk daripada cappucino! Hehe..” jawabnya sambil tersenyum.

Oh my.. nice smile! Oh no no no.. I’m not gay! Kalau aku suka dia berarti aku harus menanggung malu!! Ooohhh…

“changmin-ah, wae?” tanya junsu sambil melambai-lambaikan tangan ke depan mataku.

“eh.. uh.. gwaenchana..” jawabku. “jun—“

“kokoro ni one smile..” HP-ku berbunyi. Telpon dari yunho hyung.

“junsu-ah, aku keluar dulu ya! Biasa!!”

Junsu hanya mengangguk tanpa menatapku. Aku langsung keluar. Aku memesan tempat di dekat pintu. Jadi aku bisa keluar dengan cepat.

“yoboseyo?” sapaku.

“bagaimana harimu? Seru?” ternyata suara yoochun hyung.

“lumayan! Dia tak menggangguku!” jawabku seadanya.

“kau suka dengannya?” sekarang jae hyung.

“belum..” jawabku singkat.

“jangan pulang sampai malam!!” sekarang yunho hyung yang membuatku bingung.

“mwo??!”

“kalau tidak, kau kubunuh!”

“ne.. ne..”

Bip—

Telponnya diputus paksa. Heu.. kenapa yunho hyung menyuruhku melakukan ini? Dia itu biro jodoh atau mau mendekatkan aku dan dia sebagai teman sih? Apa dia calon anggota shinki baru? Aku kembali masuk ke café. Junsu sudah menunggu. Sepertinya dia bosan.

“mian lama..” kataku sambil tersenyum. Aku duduk di kursiku.

“yunho hyung bilang apa?” tanyanya.

“dia Cuma bilang, aku tak boleh pulang sampai malam!”

“kenapa?”

“yah.. aku tak tahu. Dia memang aneh! Kalau aku pulang dia akan membunuhku!”

“memang dia bisa?”

“pasti!” aku berhenti sejenak untuk menyeruput cappucinoku. “dia bisa melakukan apapun dengan bebas! Tak ada yang bisa melawannya! Dia hanya takut pada orangtuanya!”

“berarti dia masih normal!”

BBUUURR..

Aku menyemburkan air yang ada di mulutku. Air coklat itu mengenai baju dan muka junsu! Oh my god!! What should I do?? *english ngasal ni* lagian dia juga bilang yunho hyung normal! Dimana-mana orang seperti dia itu tak normal!

“mi.. mianhe. Jongmal mianhe…” aku membersihkan bajunya yang berwarna putih dengan tisu. Tadinya kena wajahnya juga. Tapi dia sudah mengelapnya.

“gwaenchana!” katanya tenang. “kau juga tak ada gunanya membersihkan bajuku! Noda ini sudah menempel!” katanya yang membuat rasa sesalku bertambah.

“mianhe..”

“gwaenchana. Sudah kubilang!!”

Aku tak berani menatapnya sekarang. Bisa kupastikan dia sedang tersenyum-senyum tak jelas ke arahku. Aku benar-benar malu! Aku lalu kembali mengambil gelas berisi cappucino float-ku.

“sudahlah. Kau tak salah! Kau pasti kaget dengan ucapanku!”

Aku mendongakkan kepalaku lagi. “memang apa maksudmu bilang yunho hyung masih normal? Memangnya dia masih cinta wanita?”

“bukan hanya itu! Kalau ada anak takut pada orangtuanya, dia juga pasti akan dibilang normal! Kau juga masuk dalam normal!”

“ya iyalah! Ngapain juga omma dan appa-ku melahirkan anak tak normal! yang ada mereka membuangku duluan!” aku kembali menyeruput cappucino floatku sampai habis.

“kau mau lagi?” tawarnya.

Aku menatapnya dengan keadaan sedotan yang masih menempel di mulutku. “what?”

“eh.. hehe.. lagian kau napsu sih minum cappucino float-nya!”

“hehehe..” aku nyengir jahil padanya. “temani aku ke mall itu yuk!!” aku menunjuk mall di depan café.

“mau apa?”

“main dance floor!”

“memang bisa?”

Oh my.. dia meragukanku? “kalau aku tak bisa aku tak mungkin mengajakmu!! Harusnya aku yang tanya bukan kau!!”

“hehe.. aku meragukanmu karna badanmu terlalu tinggi. Aku tak membayangkan bagaimana dance-mu!”

“hei, harusnya aku yang bilang itu!!”

“ayo!! Mau ngapain lagi disini?”

Aku langsung keluar café. Aku mengambil mobilku yang terparkir di depan café. Lalu melajukan mobil ke mall dekat situ. Aku memarkirkan mobilku dekat tempat keluar agar gampang kalau pulang. kita berdua lalu turun dan berjalan ke lift dekat situ. Lama juga menunggu lift ini turun dari lantai atas.

TING..

Akhirnya lift ini berhenti di lantai dasar. Aku ingin langsung masuk. Tapi biar bagaimanapun yang lebih di utamakan yang keluar. Lagian, lift ini juga akan menunggu. Yang masuk ke kapsul besar itu hanya aku dan junsu. Entah kenapa aku gugup.

“wae? Kau takut adu dance floor denganku??” tanya junsu yang membuyarkan lamunanku.

“siapa takut? Memangnya aku pecundang!” jawabku. Aku memang tidak suka dengan orang yang meragukanku.

TING..

Lift berhenti di lantai satu. Ada 3 orang yang naik. Aku akan berhenti di lantai 3. tempat permainan dance floor.

Lantai 2 dilewat. Dan sampailah di lantai 3. aku keluar. Aku yang sudah hapal tempat ini langsung berjalan santai ke tempat permainan itu.

“wwwoo.. itu changmin oppa kan?” anak-anak SMP yang sedang bermain dance floor.

“iya!! Oh.. oppa!! Tampan sekali kau!” kata anak-anak itu.

Mwo? Oppa? Mereka saja yang tak sadar kalau umur mereka itu sama denganku! Aku kembali berjalan. Aku membeli koin untuk bermain. Anak-anak SMP itu menatapku penuh cinta. Atau hanya kagum dengan ketampananku ya?

“koin 10!” kataku singkat pada mbak-mbak penjual koin. Dia memberiku koin itu. Banyak sekali! Atau hanya perasaanku?

“bonus 5 untuk kau, changmin!” kata penjual koin itu sambil tersenyum padaku.

“ne, gamsahamnida..” kataku. Aku mengambil koin ini dan berjalan mencari tempat dance floor yang masih kosong. Heu.. ternyata tak ada!!

“hei, bagi koinnya donk!!” kata junsu.

“koinnya ada 15. kau mau bagi gimana?” tanyaku.

“aku 8, kau 7!”

“hei! Tak adil!!”

“kau kan yang muda! Yang muda yang dikit!”

“itu namanya tak adil!!”

“ya sudah, kita undi saja!!”

“undi gimana?”

“kita main basket!! Nanti kalau menang dapat koinnya!”

Aku menepuk pundak junsu. Keras. “SMART!!” kataku. “kita main basket saja dulu! Kan jadi 7-7 tuh!!”

“ok..”

Aku adu basket dengannya. Kita berlomba siapa yang bisa memasukkan bola paling banyak dalam 1 menit!

Hosh.. hosh.. hosh..

“kau lelah?” tanya junsu padaku.

“sedikit! Ini pemanasan sebelum dance!” jawabku.

“itu ada yang kosong!” tunjukku.

“ok. Are you ready??”

“sure!!”

TBC

One thought on ““dangerous friendship” part 2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s