“dangerous friendship” part 3

“sure!!”

Kita langsung berlari ke tempat dance floor kosong itu. Sebelum sampai sana ada segerombolan anak perempuan SMA sampai duluan. Tapi sepertinya popularitasku membantu. Dia mempersilahkanku duluan. Aku memasukkan 2 koin. Koin pertama punyaku dan punya junsu yang kedua. Kita memilih-milih lagu yang bagus.

“itu saja! Tadi lagu tohoshinki rising sun!!” kata junsu.

“tidak!! Aku mau yang lain!!” tolakku.

“mirotic??”

“sepertinya bagus! Ok!” putusku akhirnya. Aku memilih lagu mirotic dari TVXQ. Lagunya benar-benar bagus untuk dance.

“.. I got you under my skin..” junsu menyanyikan lagunya sambil menari. Aku tidak membayangkan dia bisa melakukan itu!

“.. I got you under my skin.” Lagunya berhenti! Berapakah nilainya??

“A!” mesin itu mengatakan ‘A’! berarti masih lanjut! Lumayan daripada dibunuh yunho hyung!

“kau lelah?” tanya junsu.

“ani! Ayo lanjut lagi!!” kataku.

Junsu sekarang yang memilih-milih lagu. Dia menunjukkan lagu klasik.

“jangan! Itu terakhir saja! Gerakannya rumit! Menguras tenaga!” kataku.

Dia memilih lagi. Sekarang lagu we are. Soundtrack anime one piece yang kusuka! Yang nyanyi tohoshinki!

“ini saja!!” kataku.

Dia menurutinya! Sepertinya dia tahu seleraku! Kita dance terus sampai babak ke-7! Katanya belum ada yang pernah sampai segitu! Berarti kita orang pertama?

“junsu-ah, capek!!” kataku.

“tanggung!! Sudah yang ke-7! Pakai lagu se7en?”

“yang mana?”

“yang.. umm.. itu.. better together!”

“lumayan! Okay!!”

Di babak ini kita sengaja kalah. Yah.. sangat pegal kaki ini. Sudah tak kuat bergerak lagi! Orang-orang bertepuk tangan atas keberhasilan kita. Bahkan ada yang berkomentar,

“bagus sekali mereka! Andaikan mereka mau jadi guru dance-ku!”

“tak hanya tampangnya! Kemampuan mereka juga tak bisa diragukan!”

“siapa sih yang ada di sebelah changmin oppa? Dia lucu! Mukanya seperti bayi! Dance-nya juga bagus!”

“mereka benar-benar.. aku tak bisa berkomentar lagi! Andaikan aku produser aku pasti langsung mengontrak-nya!”

Tapi ada juga yang iri.

“dance apaan itu? Merusak lagu!”

“dance kok seperti ayam ketakutan! Ga kreatif!”

“lebih bagus juga dance-ku!”

Selesai itu, aku langsung duduk. Mengistirahatkan saraf-sarafku (?) setelah nge-dance tadi. Sumpah! Sangat melelahkan.

“ternyata kau hebat juga!” kata junsu.

“kau baru sadar?” tanyaku yang masih ngos-ngosan.

“hehe.. ku kira badan setinggi itu tak bisa! Hehe..”

PLETAK!

Aku menjitaknya.

“enak saja! Kau kira tinggi 180 tak bisa apa-apa?”

“kau.. kau 180? Tak diragukan!”

Aku tersenyum bangga.

“maksudku, tak diragukan lagi ketidaknormalanmu! Kau tak normal!!”

PLETAK!

Kali ini jitakannya lebih keras dari yang tadi. Aku yakin dia sangat kesakitan karna dia memegangi kepalanya.

“main lagi?” tawarnya.

“main apa?” tanyaku kesal.

“itu!” dia menunjuk permainan balap mobil.

“mwo?! Ok!”

Lumayan lah permainan ini ada tempat duduknya. Jadi bisa sekalian beristirahat. Aku memasukkan satu koin, junsu juga. Kita lalu bermain double player.

“hayo!! Mau apa kau??” tanyaku pada junsu yang mobilnya berada di depanku. Aku menabrak mobilnya. Dan dia berteriak. Tapi teriakannya tak biasa. Seperti teriakan ketakutan. Aku menghentikan mobilku.

“kenapa?” tanyaku khawatir.

“aniyo, gwaenchana.” Junsu mengeluarkan senyum terpaksa –yang menurutku—senyuman ketakutan.

Aku melanjutkan lagi. Tapi aku tak bisa berkonsentrasi. Sampai mobilku menabrak-nabrak pembatas jalan.

“changmin-ah, itu mobilmu sepertinya akan rusak sebentar lagi! Dan.. meledak.” Junsu mengatakan itu dengan nada misterius. Aku juga bingung bagaimana menjelaskannya. Dan pas kata ‘meledak’ dia bersuara lebih kecil.

Akhirnya permainan ku hentikan. Aku langsung berjalan meninggalkan tempat itu.

“changmin-ah, jamkaman!” kata junsu sambil mengejarku di belakang. “mau kemana?”

Aku menunjuk KFC. Aku tak bicara karna aku benar-benar lapar!

Dia memegang tanganku. “aku ikut!!”

Aku hanya berjalan. Dia masih memegangi tanganku sampai aku memesan makanannya.

“sampai kapan kau mau menggandeng tanganku?” tanyaku dingin. Entah kenapa aku jadi bersikap dingin dengannya.

“i.. iya..” junsu langsung melepaskan tanganku. “a.. aku.. cari tempat!”

Aku hanya mengangguk. Sekarang giliranku memesan.

“aku pesan dua ayam jumbo pedas, 4 nasi, tiga kentang, dan minumnya milo dua!” pesanku. Aku menatap seluruh ruangan. Junsu duduk di meja nomor 15 di dekat jendela. “tolong antar ke meja 15!” kataku.

“ne..”

“gamsahamnida..”

Aku langsung mendatangi junsu yang ada di meja nomor 15. dia menatap kosong keluar jendela. Mungkin tinggal menghitung detik dia akan menangis. Dan.. benar saja! Dia menangis!

“junsu-ah,” panggilku hati-hati.

Dia menengok ke arahku sambil mengelap air matanya. Lalu tersenyum. Aku lalu duduk di depannya. Dia duduk di meja yang untuk 2 orang. Aku duduk di depannya.

“kau kenapa?” tanyaku akhirnya.

“tak apa.” Jawabnya singkat.

“makanannya..” pelayan mengantarkan makanan pesananku.

“gamsahamnida.” Aku langsung mengambil dua nasi dan satu ayam jumbo. Aku langsung memakannya dengan napsu. Mungkin kelihatannya seperti orang yang tidak makan 3 hari. Tapi dance floor tadi sangat melelahkan! Setelah makan, aku dan junsu langsung balik ke markas. Kebetulan sudah jam 7.

“I’m back!” kataku setelah sampai di markas.

Markas itu sepi, gelap, dan tentunya berantakan. Tumben saja jae hyung tak membersihkan. Apa karna tak ada aku? Aku lalu menyusuri ruangan-ruangan yang ada. Oh ya. Di markas ini ada 5 ruangan yang bisa disebut kamar. Kamar ini biasa dipakai kalau kita sedang menginap. Yah.. ini lebih besar dari kamar kost.

Pertama, aku ke kamar yoochun hyung. Seperti biasa dia asyik dengan mimpinya alias tidur. Di kamar kedua, kamar jae hyung. Tidak ada siapa-siapa. Tapi kamarnya selalu rapi. Kamar ketiga kamarku. Pastinya tak ada siapa-siapa. Kamar sebelahnya kamar yunho hyung. Tidak terkunci. Aku membukanya. Dan.. kembali melihat adegan yang tak pantas dipandang mata.

“lagi-lagi..” keluhku dan junsu. Kita mengucapkannya bersama! Lagi?!

“mi.. mian.” Lagi-lagi samaan!! Apa benar kita jodoh?!

“bukan aku ya!” lagi-lagi???!!!

“ah sudahlah!!” aku yang akhirnya menghentikan ketidaksengajaan ini.

Aku kembali melihat ke arah yunho dan jae hyung yang sedang bercumbu. Tapi sekarang, mereka memelototiku dan junsu.

“jangan sampai dua anak kecil ini melihat kejadiannya!” kata yunho hyung.

“ani.. hyung. Aku tidak melihat!” jawabku. Aku memang tidak melihatnya. Hanya pas bagian kissmark saja yang kulihat.

“uh.. jadi kalau kita mau melakukannya mendingan di hotel saja! Yang lebih mewah!!” kata jae hyung.

“iya juga!” timpal yunho hyung.

“hei!” ada yang menepuk pundakku. Reflek aku langsung berteriak.

“teriakanmu seperti rocker!” kata yoochun hyung.

“mungkin dia marok! Mantan rocker!” kata yunho hyung.

“stop!!! Bilang saja kalian iri dengan suaraku karna suara kalian jauh lebih buruk daripada aku!!” kataku.

“kau hebat!” kata yoochun hyung. “kau bisa juga pulang jam segini!”

Aku diam. Kesal menatap yoochun hyung.

“sudah! Jangan marah! Smile!” hibur yoochun hyung sambil menepuk pundakku.

Aku tersenyum. Semua juga tersenyum. Jae hyung juga. Dia menatap ke arahku dengan tatapan yang tidak biasa.

“manis juga!” celetuk jae hyung.

“apa katamu, chagi?” tanya yunho hyung, cemburu.

“umm.. changmin manis!” jawab jae hyung sambil terus tersenyum padaku. Aku menatapnya aneh.

“hyung semua, aku mau pulang!” kataku. “annyeong..”

“aku juga ah. Ada PR!” kata jae hyung.

“PR? Tumben kau memikirkannya!” kata yunho hyung penasaran.

“i.. iyalah. Aku kan tak mau kalah dengan anak itu!” dia menunjukku. Tumbenan dia tak mau kalah denganku! Biasanya dia cuek!

“tapi hyung, tak ada PR untuk besok! Lain kali saja kau pulangnya!” kataku sambil tertawa. Lalu aku lari keluar.

***

Sampai di rumah, aku langsung membiarkan badanku jatuh ke sofa empuk di ruang tamu. Aku memejamkan mataku. Sungguh melelahkan hari ini!

“nak changmin,” panggil ajumma. “lelahkah?”

“ajumma, aku mau tidur! Tolong jangan ganggu!” kataku dengan suara yang lebih sopan.

“kenapa tak di kamar?”

“aku malas naik!”

“ya sudah. Tidurlah..” ajumma membelai kepalaku. Belaian lembut yang tak kurasakan dari omma.

***

“changmin-ah,” kata seseorang tepat di telingaku. Samar-samar aku mendengar suara ini. “changmin-ah,” katanya lagi. Makin jelas suara ini. Suara lembut yang sangat aku kenal. “changmin-ah,” kali ini aku bangun mendengar suaranya. Dan aku membuka mataku perlahan. Makin lebar dan makin jelas aku menatapnya. Wajah cantik dengan mata kecil dan hidung kecil. Aku mencoba mengingatnya. Dan aku memekik.

“jae hyung! Apa.. apa.. apa yang kau lakukan?” tanyaku kaget.

“lihat tubuhmu!” katanya.

“heh?”

“lihat tubuhmu!”

Aku membuka selimutku. Benar-benar tak bisa dipercaya! Bukannya tadi aku tidur di sofa ruang tamu? Kenapa sekarang aku ada di kasur? Di kamarku? Dan yang lebih tak bisa dipercaya, aku TELANJANG!! BUFF!!

“a.. apa yang kau lakukan padaku?” tanyaku. Rasanya aku ingin menangis. “apa.. apa yang.. kau perbuat? Bagaimana kalau.. ketahuan.. oleh.. yun—“ dia langsung menciumku ganas. Dia menindih tubuhku. Sakit! Apakah ini yang dirasakan jae hyung atau yunho hyung? Dia terus menciumku. Lidahnya mendorong-dorong mulutku untuk membukakan pintunya (?). Aku tetap bertahan dengan mulut tertutup walaupun aku kesulitan bernapas. Tangan jae hyung menyelinap di selimutku. Dia meremas juniorku dan..

“AUU..” pekikku pelan. Jae hyung memanfaatkan kesempatan ini. Lidahnya bergerak-gerak bebas di dalam mulutku. Lidahnya menelusuri setiap ruang di mulutku. Dia mencari-cari lidahku. Oh.. lidahku ketemu! Lidahku dan dia bertarung menentukan pemenangnya!

“Aggghh..” dia menggigit bibir bawahku. Bisa kupastikan bibirku berdarah karna jae hyung menjilatinya.

Hosh.. hosh.. hosh..

Kita berdua sama-sama kehabisan nafas. Aku merubah posisi jadi duduk sambil menutupi tubuh telanjangku ini dengan selimut.

“buka!” kata jae hyung dengan tatapan killer. “BUKA!!”

“n.. ne..” aku terpaksa menurutinya. Aku membuka selimutku perlahan. Perlahan hanya terlihat dadaku. Jae hyung menatapku napsu. Dia lalu melingkarkan tangannya ke leherku sedangkan lidahnya terus menjilatiku. Please jae hyung.. stop it!! Pasti besok aku langsung dibunuh yunho hyung! Oh tuhan.. dia terus menjilati dadaku. Mungkin untuk membuatku terangsang.

“delicious!” kata jae hyung. Dia tersenyum napsu padaku. Oh tuhan.. “kenapa tak terangsang?”

“aku tak mempan dengan laki-laki!” alasanku.

Setelah puas menjilati dadaku, jae hyung berdiri dan membuka bajunya. Oh hyung.. jangan bilang kau mau melakukan adegan yang biasa kau lakukan dengan yunho hyung padaku!!

“buka selimut itu!” perintahnya.

“ani!” bantahku.

“buka!!”

TBC

One thought on ““dangerous friendship” part 3

  1. yoenjaeqhie

    omigott..
    Gak nyangka jaema jadi pervert gt..
    Sama minnie agy..
    Minnie yg polos jadi ternoda..
    #plakk d.gampar jaema..

    Lanjutt ah..
    Mudah2.n NC..
    #yadong..

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s