“dangerous friendship” part 5

junsu menatapku dan kemudian… dia tertawa dengan kerasnya sampai aku harus menutup telingaku sampai tak mendengar lagi.

“haha.. itu bukan mimpi basah namanya!!” kata junsu.

“memang bukan!” jawabku salah tingkah. “tapi.. cairan menakutkan itu keluar!!”

“tunggu..” junsu seperti menerawang pada diriku. “suaramu sepertinya jadi lebih berat!”

Ehem… aku mencoba berdehem. Ternyata memang lebih berat! Kenapa aku baru sadar ya?

“haha.. kau sudah dewasa!” kata junsu. “tinggimu juga!”

“aku minum susu kemarin, makannya tinggi!”

Aku diam. Mencoba mengerti keadaan ini. Aku sudah mengalaminya! Tapi kenapa dengannya? Kenapa tak dengan perempuan lain?

“hyung—“ ups.. aku memanggilnya hyung!

“kenapa?”

“mulai sekarang aku akan memanggilmu hyung!” kataku.

“up to you!”

“aku mau tanya..” kataku lirih. Sepertinya sebentar lagi air mataku tumpah. “apakah.. perempuan.. yang.. ada di mimpi.. itu.. akan.. jadi.. pendamping kita nanti?”

“umm..” junsu menerawang ke langit biru. “tidak juga! Jodoh ada di tangan tuhan!”

Ffiiuuhh.. syukurlah! Aku tak akan jadi suami jae hyung! Lagian siapa juga yang mau dengan laki-laki seperti dia! *me : gue mau kok!! (bwa jeje lari ke KUA)*

“memang kenapa?” tanya junsu lagi.

“nothing!”

“oh ya, dari tadi kau bertanya! Sekarang aku mau bertanya!”

“apa?”

“kenapa kau bisa pintar?”

It’s a stupid question!

“tak ada lagi yang bisa kau tanyakan?” tanyaku.

“just kidding boy!” katanya sambil menepuk pundakku. “sebenarnya kau asli mana sih?”

“can you stop this stupid question??”

“lagian, bahasa inggrismu tak bisa diragukan!”

“just that?”

“yeah..”

Obrolan kita hanya sampai segitu. Kita tak meneruskan lagi. Seandainya tak ada junsu aku pasti bakal menangis.

“kenapa kau kesini?” tanya junsu memulai pembicaraan lagi.

“menenangkan diri!” jawabku singkat.

“kau ada masalah?”

“begitulah!”

“ceritakan!”

“tidak!”

“kenapa?”

“kau tak berhak tahu!”

“kenapa?”

“can you stop saying ‘why’ to me?”

“sorry~”

Aku tak mau menceritakan ini! This my problem! Jadi aku tak mau kalau semua orang tahu.

“kau sudah masuk geng shinki?” tanyaku.

“begitulah! Kenapa?” tanyanya lagi.

“umm.. nothing.”

“kau takut ya posisimu sebagai magnae diganti?”

“kata siapa? Masih banyak orang yang berumur lebih muda dariku!”

“kau mulai bisa mengalah!”

What??? Kenapa dia bisa tahu kalau aku adalah anak yang susah mengalah? Dan kenapa aku bisa saja mengalah seperti ini?

“kenapa? Kau kaget?” tanya junsu.

“kenapa kau bisa masuk shinki dengan cepat?” tanyaku tanpa mengacuhkan pertanyaannya.

“yah.. begitulah!”

“kenapa?”

“kau benar-benar ingin tahu?”

“tidak juga!”

“kenapa kau bertanya?”

“hanya ingin tahu!”

“kenapa—“

“BERHENTI BERTANYA ‘KENAPA’!!!” teriakku.

“ok.. ok.. sorry”

“aku mau masuk!”

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

“hello min!” sapa yunho hyung saat aku ke markas shinki.

“hai!” jawabku lesu.

“kok lesu?” tanya yunho hyung sambil memeluk pundakku.

“ani. Gwaenchana.” Jawabku mencoba tersenyum.

“umm.. junsu mana?”

“aku tak bersamanya!”

“jae joong juga mana ya dia?”

Please hyung! Stop to say that name!! I hate it!

“aku telpon dia dulu ya! Kau telpon yoochun dan junsu, ok?”

Heu.. dasar hyung pelit!! Masa uangnya hanya diberikan pada jae hyung!!

“hyung, aku pulang ya! Aku tak enak badan!” kataku. Benar! Aku tak enak badan!

“eh, telpon junsu dan yoochun dulu!” kata yunho hyung.

“shit!”

“changmin!!!”

“ne..”

Setelah aku menelpon dua orang itu, aku langsung keluar. Aku memang sudah izin ke yunho hyung. Untungnya dia mengizinkan. Aku menyetir mobil ini dengan kecepatan tinggi sambil memikirkan orang yang dibawa omma dan appa. Sampai di pagar rumah, mood-ku untuk mencari tahu hilang. Aku kembali melajukan mobil ke pantai tempatku biasa menghilangkan stress. I want to scream! Aku mau berteriak! Suara rock-ku hilang!! Suara indahku hilang! Otokke? Ottokke? Tapi pantai ini tak cocok untuk berteriak. Yang ada aku yang jadi sasaran amuk orang-orang. Setelah pikiran burukku hanyut terbawa ombak –walaupun tak semuanya—aku kembali pulang ke rumah. Aku pulang dengan pikiran yang sedikit kosong! Orang-orang penghipnotis pasti gampang menghipnotisku.

TOK.. TOK..

Aku mengetuk pintu rumah yang terbuat dari jati ini. Betapa terkejutnya aku ternyata yang membuka adalah seorang lelaki manis yang tak ku kenal.

“siapa kau?” tanyaku sinis.

“aku adikmu!” jawabnya polos.

What? Adikku? I don’t have and don’t wanna have it!

“I’m your brother, hyung.” Dia mengucapkan kata-kata bahasa inggris dengan lancar.

“I don’t have brother, you know?! Ini bukan dunia mimpi, bodoh!”

Dia diam. Menunduk. Sepertinya menunggu beberapa detik lagi dia akan menangis. Memangnya kata-kataku terlalu kasar? Aku hanya bilang yang sejujurnya kok!

“ya! Uljjima.. uljjima!!” kataku setelah melihat anak ini menangis. “ya! Uljjima!!”

“hiks.. hiks..” isaknya sambil menyandarkan dirinya di tubuhku.

“ya!! Hishh~” anak siapa sih ini?? Kenapa dia langsung merangkulku! Aku kan tak bisa masuk! Mana dia hanya sepahaku. “hei!! Biarkan aku masuk dulu!!”

“hiks.. hiks..” dia masih menangis.

AAARRGGGHHH…

“ya! Aku mau masuk!!” kataku menahan emosi.

“hyung—“

Aku langsung mendorongnya paksa dari diriku. Aku mencengkram bahunya. Dia masih menangis.

“dengar! Aku bukan hyung-mu! Aku shim changmin, anak tunggal keluarga shim! Kau pasti salah orang! Kau pasti punya hyung yang mukanya seperti aku!” jelasku pada anak ini.

“aniyo, hyung! Changmin hyung, kau hyungku! Aku adikmu, shim sungmin!!” katanya sambil terisak.

“aku bukan hyung-mu, anak manis! Panggil aku oppa! Kau perempuan kan?”

“namja hyung! Aku namja!”

“shit!” kataku kesal sambil memukul pintu jati ini. “ne, dongsaeng!!” kataku akhirnya. “ayo masuk! Hyung lelah!”

Aku menuntunnya masuk ke rumah. Dia masih menangis! Kenapa anak ini sangat cengeng? Benar-benar!

“changmin-ah, kau sudah kenal adikmu?” ternyata appa disini.

“appa tak kerja?” tanyaku.

“appa kesini untuk liburan!” jawab appa. “sungmin-ah, kau sudah kenal hyung-mu kan?”

“ne, appa!” jawab sungmin sambil menyeka sisa air matanya.

Appa membelai rambut sungmin. Lalu mengalihkan pandangannya ke arahku.

“manis kan teman bermainmu?” tanya appa.

“I have some friends now!” jawabku. “I don’t need him!” kataku sambil berjalan meninggalkan appa.

“apa kau tak dapat pendidikan moral selama 11 tahun ini?”

Aku langsung membalikkan badanku. Aku belum jauh dari tempatnya berdiri.

“kemana saja kau 11 tahun ini meninggalkanku? Pendidikan moral di dapatkan dari orangtua, bukan? Kenapa kau meninggalkanku tanpa alasan yang jelas? Kau hanya bilang kau harus pergi mencari adikku.”

“lupakan masa lalu!”

“I cant do it! Sorry!” aku kembali membalikkan badanku. Aku menaiki tangga ke kamarku. Sepertinya ada yang mengikutiku. Ah.. biarkan saja! Anggap saja dia bayanganku!

“changmin hyung..” panggil seseorang. Yah.. siapa lagi kalau bukan sungmin? Pengganggu!

“wae?” aku membalikkan badanku. Aku ada di anak tangga paling akhir sekarang. “waeyo, sungmin-ah?”

“hyung, hyung—“

“waeyo, sungmin-ah? Aku tak punya banyak waktu!!”

“hyung, kau tak suka denganku ya?”

“IYA!” aku menjawabnya dengan ketus dan langsung naik ke lantai di atas anak tangga terakhir (?) aku langsung masuk ke kamarku dan membanting pintunya sampai menghasilkan suara yang sangat besar.

AAAAAAAAAAARRRRRRRRRRRRRRRGGGGGGGGGGHHHHHHHHHHHHHHHHH………

Entah kenapa aku ingin berteriak kencang sekarang. Aku ingin suaraku kembali! Suara ini membuatku makin menakutkan! AAAAAAAAAARRRRGGGHHHH… aku kembali berteriak. Kencang? Pastinya! Sampai-sampai orang-orang di rumah mengerubungi pintu kamarku. Appa langsung mendobrak pintu kamarku.

“waeyo, changmin-ah? Kau kenapa?” tanya omma khawatir. Wajah inilah yang kutunggu dari dulu! Tapi tak sekarang!

“iya den, kenapa?” tanya ajumma dan pembantuku yang lain.

“hyung kenapa?” sekarang sungmin yang bertanya dengan wajah polosnya. Aku muak melihat wajah polosnya!

“gwaenchana.” Jawabku. “aku ingin mengembalikan suara itu!”

“SUARA APA?” tanya semuanya.

“oh.. arasso!” kata omma. Omma mendekatiku. Dia membelai rambutku sambil menjinjit. Apakah aku setinggi itu? “kau sudah dewasa nak!” kata omma. “duduklah! Susah melihatmu kalau kau berdiri!”

Aku lalu duduk di kasurku. Omma tidak ikut duduk. Dia berdiri di depanku. Sungmin melihatku dengan tatapan polosnya. Aku yang baru sadar kalau aku sedang bertatap mata dengannya langsung membuang muka darinya. Bisa kupastikan dia pasti sedih karna aku tak menanggapinya.

Semua orang yang ada di kamarku sedikit demi sedikit kembali ke rutinitas masing-masing. Hanya ada omma dan sungmin yang masih disini.

“sungmin, sini nak!” kata omma.

Sungmin langsung mendekat. Omma duduk di samping kananku sekarang. Sungmin hanya berdiri menunduk di depanku. Dia beberapa kali melirik ke arahku.

“apa?” kataku dingin.

“a.. aniyo..” sungmin menjawab dengan nada ketakutan.

“sini sungmin-ah!” sungmin duduk di pangkuan omma. Aku hanya menatapnya dengan tatapan iri. Iri?! Yah.. mungkin itu lah. Haha.. karna aku tak merasakannya lagi!

“kau baru mendapatkannya?” tanya omma.

“ya, begitulah!” jawabku.

“kau sudah mengerti sekarang?”

“ya..” sebenarnya aku pernah bertanya pada omma dan appa tentang mimpi basah. Aku bertanya itu setelah membaca buku IPA appa yang tergeletak di meja kerjanya. Aku melihat ada tulisan ‘mimpi basah’ kalau ada anak laki-laki yang sudah beranjak remaja. Aku dulu paling takut dengan yang namanya keremajaan karena yah.. aku takut aku bisa menghamili orang. Haha..

“kau dulu pernah menangis waktu kau mengompol. Kau mengira itu adalah mimpi basah. Dan kau berjanji kau tidak akan mengompol lagi sampai—“

“cukup omma!!” kataku setengah terkikik. “sudah omma! jangan ceritakan! Aku malu!!” aku menatap sungmin yang tertawa sambil menunduk. Dia lalu menatapku.

“apa? Apa yang kau tertawakan?” tanyaku dingin.

“changmin-ah, jangan begitu pada adikmu!” kata omma sambil mengelus kepala sungmin. “sungmin-ah, angkat kepalamu!” sungmin mengangkat kepalanya. Sebenarnya dia—kuakui—sangat manis. Dia seperti anak perempuan! Bibirnya merah ceri. Pokoknya imut! Tapi entah kenapa aku selalu bersikap dingin padanya. Padahal wajah polosnya sudah bisa meluluhkan hatiku.

“omma, benar.. dia adikku?” tanyaku.

“siapa lagi dia kalau bukan adikmu!” jawab omma.

Aku menatap sungmin dari ujung rambut sampai ujung kaki. Perawakannya hampir sama denganku waktu kecil. Mungkin! Kau terus menatapnya sampai sungmin membenamkan mukanya di pelukan omma karna takut dengan wajahku.

“wae?” tanyaku pada anak kecil itu.

sungmin menatapku polos dibalik pelukan omma. dan dia..

TBC *kabur…!!!*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s