“dangerous friendship” part 6

Aku menatap sungmin dari ujung rambut sampai ujung kaki. Perawakannya hampir sama denganku waktu kecil. Mungkin! Kau terus menatapnya sampai sungmin membenamkan mukanya di pelukan omma karna takut dengan wajahku.

“wae?” tanyaku pada anak kecil itu.

“hyung seram!” jawab sungmin polos.

Seram? Seram? Scary? Perubahan ini membuatku benar-benar menyeramkan! Sungmin saja takut denganku.

_besoknya di markas shinki_

“ya!” yunho hyung menepuk keras pundakku. Lagi-lagi di ruangan ini hanya ada aku dan yunho hyung. Yang lain sedang mendapat tugas membeli camilan karena persediaan camilan sudah habis.

“wae?” tanyaku sambil melempar tasku ke kasur dari pintu kamar.

“benar kau sudah mendapatkannya?” tanya yunho hyung.

“mendapatkannya? Apa?” tanyaku balik.

“kau sudah mengalaminya kan?” pertanyaan ini sukses membuatku mual! Aku ingin muntah di depan mukanya.

“da.. da.. darimana.. kau tahu?” tanyaku gugup.

Yunho hyung menepuk pundakku. Dia tersenyum. “ada orang yang menceritakannya!”

“nugu? Who?”

Yunho hyung menaruh es sirup yang tadi dia bikin ke meja di dekat sofa. Dia menatapku dengan tatapan menyimpan rahasia.

“nanti kalau tiba waktunya akan ku beritahu!”

“sekarang saja!”

“belum waktunya..” yunho hyung tersenyum jahil. “berharap saja yang lain datang! Nanti akan kuceritakan!” yunho hyung berjalan menjauh dari hadapanku. Aku langsung menarik kerah bajunya.

“apa yang lain sudah tahu?” tanyaku panik.

“sayangnya belum! Makannya aku mau beritahukan!” jawab yunho hyung santai. Aku mencengkram kerah baju yunho hyung lebih kuat. Aku dengan mudah mencengkramnya karna aku lebih tinggi darinya.

“changmin-ah, you wanna die?”

“oh..” aku mengerti maksudnya. Maka langsung ku kendurkan cengkraman tanganku dari kerahnya. Yunho hyung menyeka kerah bajunya yang jelas-jelas BERSIH dari kotoran apapun! Yah.. gayanya sangat sombong. Dia lalu pergi ke ruang tv.

“jae-ah, kau dimana chagi?.. kenapa lama? Apakah uangnya kurang?.. oh ok ok jangan lama-lama ya! Aku lapar! Bye chagi~” aku mendengar obrolan yunho hyung dan jae joong hyung! Mereka selalu romantis! Tapi, dia over protective! Dia bakal menghajar lelaki yang berdekatan dengan jae hyung! Jae hyung kan cantik untuk ukuran laki-laki!

“ya anak kecil!” panggil yunho hyung. Dia menatapku yang daritadi memperhatikannya dari balik tembok dekat ruang tv (?) *anggep ajalah* “kenapa kau memperhatikanku? Kau menyukaiku?” tanya yunho hyung yang sukses membuatku ingin menonjoknya kalau dia bukan leader geng.

“I’ve said over and over that I’m not gay! I’m normal hyung! N-O-R-M-A-L!” kataku sambil mendekatinya di sofa dekat tv.

“ngapain duduk disini? Hush.. hush..” usir yunho hyung.

“shit!” aku langsung melempar bantal di sofa itu ke mukanya. “andaikan aku bisa menonjokmu! Pasti dunia ini akan terasa indah!” sindirku.

“ayo!” yunho hyung berdiri mendepaniku. “pukul saja!” yunho hyung menunjuk wajahnya.

“tapi, kalau istrimu itu tak pulang!” aku tersenyum sambil menunjuk jae hyung yang sedang berdiri mematung di depan pintu.

Yunho hyung mendekati kupingku. Dia membisikan sesuatu. “itu menyakitinya, bodoh!” yunho hyung langsung berjalan melewatiku. Dia menghampiri jae hyung yang masih berdiri di pintu.

“chagiya..” yunho hyung menunjukkan adegan NC 17 di depanku. Padahal aku baru 14 tahun! Yunho hyung memeluk jae joong dan mencium bibirnya yang merah itu.

“apa liat-liat?” tanya yunho hyung yang membuatku tersadar dari pandanganku.

“ye..! siapa juga yang ngeliatin? Ge-eR banget!” bantahku lalu berjalan ke kamar.

“dia fans baruku loh!” ujar yunho hyung.

Aku langsung menghentikan langkahku. Mungkinkah yunho hyung menunjukku?

“ya! Kenapa diam?” tanya yunho hyung.

Aku mengangkat kedua bahuku dan menggelengkan kepala, lalu berjalan kembali ke kamarku.

***

Sudah 3 bulan terhitung semenjak junsu menjadi anggota geng shinki. Formasi kami sekarang ber-5. ini pas dengan angka rasi cassiopeia. Malam ini, anggota grup shinki berkumpul di ruang khusus. Maksudnya studio. Semua studio ada di ruangan itu. Ruangannya terpisah dari tempat kita menginap. Maksud semua studio itu ada studio musik, biasanya dipakai oleh semua anggota untuk nge-band; studio fotografi, biasanya digunakan yoochun hyung. Sekarang junsu juga ikut menikmati studio fotografi itu; dan ada studio khusus untuk yunho hyung yang belum pernah aku masuki sebelumnya. Semua anggota shinki—kecuali jae joong hyung—belum pernah memasukinya. Kata jae hyung sih semua yang yunho hyung suka ada disana. But, I don’t know what does he like!

“min, sudah dapat kan? Enak kan?” tanya yunho hyung jahil.

“hyung, kau membicarakannya lagi kubunuh loh!” jawabku seraya mengancam.

“kau berani mengancamku, min? ok! Kau hebat!”

“hah?”

“kau hebat! Di grup shinki ini tidak ada yang pernah mengancamku seperti itu. Tentu saja selain jae joong!”

“jadi yoochun hyung pun belum pernah??”

“ya begitulah! Dia juga mempengaruhi pendapatanku!” jawab yoochun hyung.

“hyung, boleh kulihat studiomu?” tanyaku pada yunho hyung.

“eh, aku ke studio sebentar ya! Junsu, come here!” kata yoochun hyung pada junsu. Ahh.. mengganggu!

Aku mengalihkan pandang ke yunho hyung menunggu jawaban. Aku benar-benar penasaran apa yang ada di dalamnya! Jujur.

“kau penasaran dengan apa yang ada di dalamnya?” tanya yunho hyung.

“begitulah.” Jawabku seadanya.

“apa yang kau pikirkan?”

“maksudmu?”

“apa yang kau pikirkan tentang studio itu?” yunho hyung menunjuk sebuah ruangan berpintu merah hitam yang bergambar seperti setan.

“umm.. mungkin kau menyimpan setan, atau jin?”

“bodoh!” timpal jae joong hyung. Aku baru sadar ada dia disini. Oh.. mianhe jae hyung.

“siapa maksudmu, chagi?” tanya yunho hyung pada kekasihnya.

“itu!” jae hyung menunjukku. “mana mungkin yunho menyimpan setan! Sekedar menontonnya saja panik.”

“what? Seingatku kau biasa saja saat menonton film horor dulu!”

Aku menengadah ke atas untuk melihat awan putih yang menceritakan masa lalu saat menonton film horor. Aku tertawa sendiri membayangkannya.

*flashback*

Sekitar setahun lalu, kita berempat merayakan keberhasilan naik kelas dengan nilai baik dengan menonton film. Film yang ditonton adalah death note. Yah. Menurutku biasa! Malah hanya sedikit menyeramkannya. Tapi jae hyung yang duduk di antara aku dan yunho hyung sangat ketakutan sampai memeluk erat diriku. Yunho hyung menatapku dengan kesal.

“jae, kau tidak ingat aku ya?” sindir yunho hyung.

Jae hyung langsung melepas tangannya dari diriku. Ia menatapku dengan tampang innoncent-nya dan langsung memeluk yunho hyung.

“kau tidak takut chagi?” tanya jae hyung pada yunho hyung.

“u-untuk apa aku takut?” tanya yunho hyung balik.

*end flashback*

(sorry klo flashback-nya kaga nyambung soalny dr kmaren ga ad alur flashback-nya. Kan biar rame.. hahaha..)

“you still remember?” tanya yunho hyung kecut.

“ya!” jawabku. “kau bilang ‘untuk apa aku takut?’ padahal jelas-jelas kau takut! Mukamu panik hyung. I know it!”

“ok.. ok arasso. Aku memang tidak berani! Hanya saja aku ingin jae joongie-ku melihat sisi gentle di diriku!”

Aku hendak berbicara lagi kalau saja junsu tidak membuka pintu studio yoochun hyung dan menyuruhku masuk. Terpaksa aku masuk karena aku benar-benar tidak menyukai bidang fotografi. Fotografi itu hanya untuk orang yang kurang kerjaan jadi ia hanya memotret-motret tidak jelas! Kalau aku bilang seperti itu ke yoochun hyung, ku jamin ia akan membunuhku dengan sekali tebas dengan clurit. Yoochun hyung itu walau dari luar kelihatan baik ternyata bukanlah orang yang seperti itu! Ia adalah makhluk paling kejam kedua setelah yunho hyung.

“masuk cepat!” perintah yoochun hyung sambil terus melihat ke arah komputernya yang sedang menampilkan foto gunung yang diselimuti es di atasnya.

“itu gunung fuji ya?” tanyaku sok berbasa-basi. “kau dapat darimana fotonya?”

“mana ada gunung fuji begini min?” jawab yoochun hyung serius. “ini jayawijaya tahu!”

“kenapa kelihatan seperti fuji dari sini?” tanyaku lalu mendekat ke komputer yoochun hyung.

“ya jelas lah!” sahut junsu. “di antara kita kan yang matanya paling jelek kamu! Apalagi kamu ngeliat gambar dari dekat pintu. Pastilah kelihatan seperti fuji!”

Aku menatap junsu kesal. Junsu tidak tahu karena ia sedang serius membaca majalah style dengan majalah menutupi wajahnya yang manis. Ups.. manis? Ya aku akui. Sebenarnya aku menyukai wajahnya yang manis itu. TAPI, aku masih normal. Jadi aku menyukai perempuan daripada dia. Tapi wajahnya lumayan untuk ukuran laki-laki. Umm..

“shim chang min!!” geram yoochun hyung. “kenapa liatin junsu begitu?”

“hah?” aku langsung salting.

Junsu menurunkan majalah dari wajahnya dan menaruhnya di atas pahanya. Ia lalu menatapku bingung. Wow.. mataku beradu pandang dengannya! Deg.. deg.. inikah yang namanya jatuh cinta? Benar-benar jantung ini tidak mau berhenti berdetak keras. Junsu menelan ludahnya. Terdengar sekali suaranya di kupingku. Tenggorokannya yang dilewati air liur yang hendak masuk ke dalam tubuh junsu terlihat jelas di mataku. Untuk beberapa detik aku hanya diam dan menatapnya tanpa sebab. Lalu junsu kembali mengangkat majalahnya ke wajahnya. Aku pun langsung mengalihkan pandang ke lukisan yang terpampang di dinding bagian atas.

“ehm.. ehm..” dehem yoochun hyung membuatku ingin menonjoknya. Ia masih sibuk mengotak-atik gambar gunung jayawijaya itu dengan serius.

Aku kembali mengalihkan pandang ke arah junsu yang sedang duduk di sofa merah studio yoochun hyung sambil menaikan kaki kanannya ke kaki kiri. Tangannya bergetar seperti diguncang gempa berskala besar sehingga majalah yang dipegangnya itu hampir saja jatuh dari genggamannya.

“mentang-mentang lagi jatuh cinta serasa dunia milik berdua. Aku dilupakan!” kata yoochun hyung lalu bangkit dari kursi komputernya dan hendak keluar studio. “aku balik ke kamar. So, jangan ganggu yunjae, ok? Kalau ganggu aku tidak segan menonjokmu, shim changmin!”

“kenapa aku?” tanyaku bingung. “kenapa tidak junsu saja? Memangnya hanya aku yang ada disini!”

“aku tidak tega menyakitinya. Kau lihat tampang manisnya? Itu yang kusuka! Dan jangan keluar sampai aku menyuruh kalian keluar! Oh ya, mana HP kalian?”

“untuk apa?” tanyaku dan junsu bebarengan.

Ups.. untuk keberapa kalinya kita selalu mengucapkan kalimat berbarengan. Ini bukan aku yang minta lho. Tapi selaluuu.. saja sampai aku sendiri bingung berapa kali aku dan ia melakukannya. Ohh.. yoochun hyung dengan tatapan jahilnya terus tersenyum tanpa dosa sambil menengadahkan tangan (?) meminta HP kita.

“kenapa kau meminta HP kita?” tanya junsu. Suaranya terdengar menahan gugup.

“kesinikan saja!” yoochun hyung langsung mengambil HP yang ada di saku jaket kita berdua. Lalu memasukkan HP kami ke saku celananya.

“kalian baik-baik ya!” yoochun hyung langsung berjalan ke bibir pintu. “annyeong.. yunjae sudah balik!”

Yoochun hyung langsung mengunci pintu studio. Oow.. disini hanya ada aku dan junsu. Aku dan junsu?! Oh tuhan.. kenapa harus sekarang? Aku benar-benar tidak tahan disini. Dari dulu aku tidak pernah dikurung dimanapun oleh orang lain. Ffiuuhh.. aku baru sadar kalau dari tadi aku berdiri disini. Aku lalu berjalan mengitari studio ini. Ternyata tidak rugi aku dikurung. Disini ternyata tidak terlalu menyedihkan. Ku kira di studio yoochun hyung ini hanya ada foto-foto tak jelas yang diambil dari tempat yang tak jelas. Ternyata ini bisa menjadi semacam ‘pencucian mata’ untukku.

“junsu-ah,” kataku. “apakah yoochun hyung tidak mempunyai komik untuk dibaca?”

“tidak!” jawab junsu singkat. Masih dengan majalah style di tangannya.

“kau tidak bosan membaca itu?”

“tidak!”

Junsu hanya menjawab seadanya jika aku bertanya. Seperti menjawab “iya” atau “tidak” yah.. jawaban yang dari dulu kubenci. Aku tidak suka mendengar orang bilang salah satu dari dua kata itu tanpa alasan.

“ya tuhan, kenapa aku harus disini bersama makhluk itu?” kataku.

Junsu langsung menutup majalahnya dan memukul meja.

“ohh.. aku juga tidak mau bersama makhluk tinggi seperti monster itu yang sedang berdiri memandang takjub setiap benda yang ada di museum ini!” balas junsu menyindir.

Aku sadar diri. Tetapi aku pura-pura tidak menyadarinya dan menengok ke kanan ke kiri mencari orang lain di ruangan ini. Junsu kesal atas perlakuanku. Ia lalu membanting majalah itu ke bawah.

“wow.. ada monster besar marah!” godaku yang membuat amarah junsu memuncak. Junsu mengejarku ke penjuru ruangan ini. Aku berlari secepat yang aku bisa. Kata orang, lariku itu seperti kuda. Orang di dekatku yang ingin jogging bersamaku harus mempunyai tenaga besar untuk menyamai langkahnya dengan langkahku. Yah.. I’m the best no doubt soal lari.

“don’t you know, junsu-ah. You cant catch me with your hands!” kataku sambil terus menghindari junsu.

“you’re right!” kata junsu. “I’m tired.”

Junsu kembali duduk di sofa merah itu. Ia lalu menutupi mukanya dengan bantal kecil yang ada di sofa itu. Beberapa detik kemudian ia membaringkan dirinya di sofa merah itu. Bantal yang tadi menutupi wajah manisnya ia jadikan bantal untuk kepalanya. Junsu memejamkan matanya yang membuat wajah innoncent-nya bertambah innoncent.

Deg deg.. deg deg..

Kim jun su.. orang yang sering membuat jantungku berdebar-debar.. serasa ingin copot jantung ini saat melihat wajah manisnya. Saat ia tertawa, itulah semangatku. Saat ia ketakutan, itulah kelemahanku. Dan saat ia tertidur, itulah daya tariknya. Junsu..

Aku mendekatinya. Mengamati wajahnya dari dekat. Beberapa lama aku tersenyum-senyum sendiri. Aku mendekatkan wajahku ke wajahnya. Setelah itu aku langsung menampar pipiku sendiri karena sudah berlaku tidak benar di depan laki-laki.

“junsu-ah, andaikan wajahmu begini juga saat sadar. Aku pasti akan lebih menyukaimu! Ohh.. aku sudah tidak normal. But, kalau itu denganmu, aku tidak merasa bersalah.” Kataku padanya. Aku pun ikut tidur di bawah sofa itu.

ZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZ

“umma, appa, jangan bertengkar!” ingau seseorang.

Aku bangun dari tidurku dan menatap sekeliling. Aku baru sadar kalau aku ada di studio yoochun hyung. Aku melihat jam tanganku yang menunjukkan pukul 02.01 dini hari. Dan kulihat junsu sedang mengingau tak jelas sambil menangis.

“jun—“

“umma, appa, awas ada truk!!”

Truk? Apa maksudnya?? Aku langsung mengguncang-guncangkan tubuh junsu. Sebenarnya aku tidak tega. Tetapi aku takut ada sesuatu yang serius jadi aku mencobanya.

“umma, appa, awas!!” ingau junsu lagi.

Aku makin tidak mengerti!

“umma, appa, banting stir!!! Aaarrggghhh…”

Junsu langsung bangun dan memelukku erat. Ia menangis di dadaku. Air matanya menghangatkanku. Tangisannya mengguncang jiwaku. Aku mengelus lembut rambut junsu.

“aku tidak tahan, changmin-ah!!” isak junsu.

Aku mempererat pelukanku berharap tangis junsu akan segera mereda dan ia akan menceritakan semuanya padaku. Junsu melepas pelukanku. Masih dengan air mata di pipinya.

“aku takut, changmin-ah!!” isak junsu lagi.

Aku ingin memberinya minum. Tapi aku tidak berani mengambil minuman dari lemari es kecil di dekat meja komputer sana. Bukan karena aku takut karena disitu seram. Tapi aku takut meninggalkan junsu yang sudah seperti ini. Ketakutan yang mencekam.

“jangan tinggalkan aku!” kata junsu sambil memelukku kembali.

Aku balas memeluknya. “ok!”

Perlahan pelukan junsu merenggang. Ia kembali tertidur. Di pelukanku! Oh my god, bagaimana ini? Mungkinkah aku harus melakukan ini sampai pagi nanti? Nothing problem. Yang penting junsu tenang.

“have a nice dream!” bisikku di kuping junsu.

Aku pun kembali tidur sampai pagi hari.

***

Klek..

Suara pintu dibuka. Seberkas cahaya matahari masuk melalui celah dari pintu itu. Yoochun hyung berdiri di depan pintu sambil tersenyum riang padaku. Lalu mengalihkan pandangnya ke bawah. Aku baru sadar junsu masih tertidur pulas di pelukanku.

“ehm.. ehm..” dehem yoochun hyung. “yunho-ah, jae joong-ah!!” panggil yoochun hyung. “ada hal yang bisa dibawa besok!”

Aku langsung tersadar dari alam bawah sadarku dan langsung membangunkan junsu yang masih menikmati mimpinya. Junsu terbangun dan langsung dikejutkan oleh 3 orang yang tidak diundang.

“kau bermimpi baik, jun?” tanya yoochun hyung to the point.

“kau tidak diperlakukan seperti ‘itu’ kan?” tanya yunho hyung disambut pukulan dari jae joong hyung.

Jae hyung tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya menatapku. Tatapan cemburu? Yah.. seperti itulah! Tapi aku tidak yakin juga. Mungkin hanya perasaanku. Ya.. perasaan tergila yang pernah ku alami. Aku menatap ke arah junsu yang sedang ketakutan. Ia mengirimkan ‘secret code’ padaku untuk membantunya.

“aku dan junsu tidak melakukan apapun! Hanya hal yang biasa dilakukan saja!” jawabku tegas.

“aku tidak percaya!” kata yoochun hyung. “sayangnya aku tidak disini tadi malam. Jadi, aku tidak bisa mendengar changmin mengatakan ‘na norul saranghae, junsu-ah’ semalam! Ahh.. benar-benar disayangkan!”

“MAKSUDMU APA SIH?? AKU BENAR-BENAR TIDAK MENGERTI KENAPA KAU TIDAK MEMPERCAYAINYA!!” teriakku marah.

Aku lalu berdiri dan dengan paksa menerobos 3 orang berbadan besar di depan pintu. Aku berlari ke mobil sport merah-ku dan mengendarainya dengan kecepatan tinggi. Kalau terjadi kecelakaan, bisa mati aku! Aku kan belum dapat SIM. Secara, aku baru 14 tahun!

***

“changmin-ah, aku percaya! Jangan begitu dong!” kata yoochun hyung saat aku baru keluar dari mobil sport merah-ku.

Aku hanya diam dan tidak menanggapinya. Yoochun hyung terus merajuk minta dimaafkan. Apakah harus aku maafkan? Sebenarnya aku sudah tidak mempermasalahkannya. Hanya saja, aku tidak mau begitu saja memaafkannya. Selama beberapa hari aku tidak menyapa anggota geng shinki termasuk junsu. Aku tidak datang ke markas, aku tidak mempedulikan omelan yunho hyung, aku tidak mempedulikan panggilan dan SMS dari mereka, pokoknya aku putus kontak beberapa hari ini. Aku hanya diam di rumah selama bertengkar ini. Aku hanya membaca buku, membacakan cerita untuk sungmin, makan masakan pembantuku yang menurutku lebih enak buatan jae hyung, dan belajar seperti biasa.

“changmin-ah!” ada seseorang yang memanggilku saat aku berjalan melewati mading sekolah. Aku menengok ke asal suara di belakangku dan menemukan ada seorang lelaki manis yang menyebabkan masalah ini, kim junsu.

Aku hanya menatapnya sebentar dengan perasaan bersalah sambil berlalu menjauhinya. Junsu langsung berlari dan menangkap lenganku. Aku kembali menatapnya.

“a-aku mau bicara!” kata junsu tanpa menatap mataku.

“disini saja!” untuk pertama kalinya aku membuka suara setelah bermusuhan dengannya.

“tidak! Aku tidak mau ada orang yang tahu!”

Deg—

Junsu membuatku benar-benar tidak mengerti! Ia bersikap seolah aku adalah hantu yang harus ditakuti. Ia tidak menatapku.

“ayolah!!” kata junsu. “demi kebaikan—kita berdua!”

Deg.. deg..

Detakan jantungku tak menentu. Kebaikan? Apakah itu—

TBC

Apakah junsu nembak changmin ???? amin dah.. doain ya moga selamat (??)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s