“dangerous friendship” part 7

Deg.. deg..

Detakan jantungku tak menentu. Kebaikan? Apakah itu—

“ayo cepat.. keburu orang tahu!!” kata junsu sambil menarik tanganku.

Aku pasrah. Hanya mengikuti tarikan erat tangan besar junsu dan langkah kecil kaki junsu yang mengarah ke balkon atas.

“sebelumnya—“ junsu menggantungkan kata-katanya. “lupakan! Changmin-ah, kita kan.. sudah kenal lama.” Junsu terdiam. Ia lalu menatapku dengan takut. “kita, sudah kenal lama. Jadi—“

Junsu diam lagi! Benar-benar anak ini ingin membunuhku dengan cara mengenaskan!! Masa aku harus mati penasaran dengan posisi berdiri? Too stupid! Lebih baik aku mati terlindas truk daripada mati penasaran! Wait.. wait.. junsu bilang ia sudah kenal lama denganku. Apakah ini.. pernyataan cinta?

Aku tersenyum senang. Aku langsung menjawabnya tanpa menunggu kata-kata selanjutnya dari dia. Aku yakin ia benar-benar ingin menyatakan perasaannya padaku. Maka dengan bangga aku menjawab,

“aku terima!” jawabku bangga.

Junsu langsung menatapku heran. Ia mengerutkan keningnya. “terima apa? Aku kan belum berkata apapun!”

Deg—

Berarti itu hanya halusinasiku?? Jincha???

“bukannya tadi kau bilang kau sudah kenal lama—“

“a-ani. Aku kan sudah bilang kalau aku belum mengatakan apa-apa!”

Deg—

Aku ingin loncat dari sini. Lumayan lah aku sedang berada di lantai 4. kalau aku loncat mungkin aku bisa mati secara mengenaskan. Dan fans-fans cewekku akan berteriak “changmin-ah, kenapa kau meninggalkanku??” dan pasti mereka akan menangis 7 hari 7 malam sampai mata mereka bengkak.

“changmin-ah?” panggil junsu membuyarkan lamunanku. “kau sakit ya?”

“a-ani!” kataku. “cepatlah.. apa yang ingin kau katakan?”

“umm.. aku mau bilang, aku—aku minta maaf! Bukan maksudku membuatmu menelan nasib pahit itu. aku hanya ketakutan!”

Aku menghela nafas panjang. Lalu duduk di lantai balkon itu.

“ceritakan mimpi itu! kenapa kau sampai memelukku begitu?” tanyaku to the point.

Junsu duduk di sampingku. Ia lalu mulai bercerita.

“kau ingat saat kita jalan-jalan berdua naik mobilmu? Kau hampir tabrakan dan aku benar-benar ketakutan. Aku sengaja menyembunyikan ini.” Junsu mengambil nafas sejenak. “dan saat kita bermain game, aku sangat ketakutan. Kau ingat?”

(adakah yg inget apa yg dibilang junsu? Kalo ga inget baca aja part 2! #plaak)

*back*

Aku mengangguk. Memang saat itu aku melihat ketakutan yang mencekam di dirinya. Dia melanjutkan,

“aku menyimpan ini sendirian. Sekarang, aku ingin menceritakan padamu.  Bolehkah?” tanya junsu.

Aku mengangguk.

Junsu menghembuskan nafas panjang. “sekitar 5 tahun lalu, saat aku SMP, aku berjalan-jalan bersama orang tuaku. Aku anak tunggal. Jadi aku selalu dimanja. Dan saat di mobil, omma menerima telepon dari rekan bisnis laki-laki. Appa mengira itu adalah selingkuhan omma. Dan.. bertengkarlah mereka.” Junsu menyandarkan badannya di tembok. “mereka tidak sadar kalau ada truk yang melaju dengan kecepatan ekstra cepat di depan. Aku terlalu sibuk dengan urusanku dan—dan terlindaslah mobil kita. Hanya aku yang selamat. Aku tidak mengalami cedera apapun. Hanya saja aku mengalami tekanan psikis yang membuatku tidak mau membuka rahasia ini. Sekarang, inilah pertama kali aku menceritakannya.”

“kenapa kau baru cerita?”

“aku ingin menyembuhkannya sendiri. Jadi—“

Aku berdiri di depannya sambil berkacak pinggang. “KAU ANGGAP AKU, YOOCHUN HYUNG, YUNHO HYUNG DAN JAE JOONG HYUNG ITU APA? APA GUNANYA KITA UNTUKMU???” teriakku emosi.

“bukan begitu!” junsu berusaha mencari kata yang tepat untuk menjelaskannya. “ok. Aku memang egois!” jawab junsu. “aku tidak mau dibantu, walaupun oleh orang yang dekat denganku sekalipun!”

“lalu kenapa kau tetap memelihara sifat burukmu itu?”

“ok.. ok.. aku minta maaf! Puas?”

Junsu langsung meninggalkanku di atas sendirian. Ia turun dengan wajah marah. Dilemparnya tas yang tadi dia bawa. Lalu mengambilnya lagi. Ahh.. so funny!

Aku kembali duduk di bawah. Menyandarkan tubuh di tembok besar balkon ini. Tetapi ini tidak bertahan lama karena bel sialan itu memanggilku untuk kembali ke kelas. Aku pun mengikuti perintahnya dan menuruni tangga dengan langkah kesal. Untung hari ini aku di lantai 3 jadi aku bisa langsung masuk kelas. Di dalam kelas, suasana menjadi dingin. Junsu dingin sekali sikapnya. Padahal dia yang salah! Yunho dan jae joong hyung, mereka juga ikut dingin. Aku menyapa saja tak mereka jawab! Dan yoochun hyung, aku tidak heran dengannya. Ia selalu dingin padaku kalau sudah memegang i-pod nano-nya.

“sekarang giliranku duduk sama siapa?” tanyaku cuek.

“duduk aja di bangku yang ada, susah banget sih!” jawab jae hyung dingin.

Aku mengikuti perintahnya. Mukanya seram kalau sedang dingin seperti itu. Seperti orang yang hendak memangsa bangsanya sendiri. (?)

“annyeonghaseyo, anak-anak!” sapa kim sonsaengnim.

Semua anak menyahut. Tapi kali ini aku tidak ikut. Aku bosan didiamkan seperti ini! Untung saja aku yang kena. Kalau yoochun hyung yang diperlakukan begini? Wow.. pasti ia bakal menangis seperti bayi di kasurnya!

***

Akhirnya semua pelajaran berakhir. Aku bisa menghirup udara bebas sekarang. Dan juga aku bebas dari tatapan dingin geng shinki. Sebenarnya ada apa sih??

Aku keluar dari kelas disambut tatapan aneh para gadis. Aku sudah mengetahuinya. Mereka pasti salah sangka kalau aku pacaran dengan junsu! Open your eyes all!!

“changmin-ah, apa kau benar—dengan junsu??” tanya lee yeon, fans beratku.

Aku menghela nafas panjang. Lalu menunduk sedikit untuk menyamakan tinggiku dengannya.

“I don’t have relationship with him! I’m still love a woman!” jawabku yang membuat semua gadis berteriak kegirangan. Mereka lalu berebut memelukku. Ohh.. inilah yang ku sebal dari menjadi idola!

“SHIM CHANGMIN!!” hentak seorang laki-laki dengan suara bass-nya yang agak keras (?) padaku. Bukan jung yunho. Tapi jung yun hwa. Guru matematika. “SHIM CHANGMIN, KAU HARUS MENGIKUTI LOMBA LUSA!”

“mwo? Lusa?” tanyaku tak percaya.

“aku baru dapat pengumumannya. Jadi, aku menyuruhmu langsung!”

“tanpa latihan??”

“latihan sekarang dan besok biar gampang!!”

Ok ok ok.. karena aku salah satu anak cermelang dari yang cemerlang di SMA dong bang ini, jadi aku harus mengikutinya. Selama ini hanya aku yang menjadi perhatian orang-orang di dong bang. Kenapa lagi kalau bukan karena kecermelangan otakku?

“ok.. ok..” putusku lalu mengikuti yun hwa sonsaengnim ke ruang guru.

Brak!

Setumpuk buku tebal-tebal di jatuhkan di atas meja. Tepat di depan mataku! Semua buku ini mencakup semua soal-soal yang ‘mungkin’ akan diujikan. Mulai dari soal SMP, sampai soal kuliahan. But, kadang-kadang ada juga soal dosen yang menyelinap di dalam sana. Yun hwa sonsaengnim membuka satu buku yang ada di deretan paling atas tumpukan itu. Lalu menjatuhkan itu tepat di depanku setelah menyingkirkan buku yang lain. Ia memberikanku pulpen.

“kau harus mengerjakannya dalam waktu 10 menit! Waktu, dimulai!” komando yun hwa sonsaengnim.

Aku langsung mengambil bolpenku dan memfokuskan diri ke soal-soal menyebalkan ini. Bayangkan saja. 100 soal dalam 10 menit!!

10 minutes later…

“selesai!” kata yun hwa sonsaengnim.

Huh.. untung aku sudah selesai. Tepat pada waktunya! Aku langsung menghembuskan nafas lega dan menyandarkan diri di sandaran kursi.

“yap! Kau benar semua! Kerjakan lagi!”

@ 11.59 pm

Aku berjalan lunglai ke parkiran untuk menemui mobil sport merah kesayanganku. Ahh.. benar-benar guru itu!

“asshhh.. aku pusing! Bagaimana mau sampai rumah kalau begini? Ashhh..” desahku kesal.

Aku lalu masuk ke dalam mobilku dan pulang dengan keadaan ngantuk. Ohh.. aku akan berteman dengan kematian! Mungkin sebentar lagi mobil terbaikku ini akan dilindas truk besar dan aku mati. Ohh.. aku sangat mengharapkan itu!

“kokoro ni one smile..”

Ashh.. dasar! Siapa sih yang menelpon jam segini?? Mengganggu saja!!

“yoboseyo?” tanyaku kesal.

“changmin-ah,” kata orang di seberang. Yang aku yakini JUNSU!

“ne?”

“kau—sudah pulang?”

“aku baru di jalan! Kenapa?”

“umm.. gwaenchana.”

Tut—

Shit! Tidak sopan sekali anak itu! Dia yang memulai tanpa salam awal, dan salam perpisahan!

Wait, kenapa aku jadi begini ya? Biasanya kan aku tidak pernah memperhatikan awal dan akhir dari sebuah telepon! Kenapa sekarang aku perhatikan? Benar-benar anak itu!

Besoknya..

Kembali ke rutinitas. Bangun tidur, mandi, makan, ke sekolah, dan latihan untuk olimpiade.

“memangnya kenapa aku harus mengikutinya sih? Bisa kan cari yang lain selain aku??” tanyaku pada yun hwa sonsaengnim.

“aninde!” jawab yun hwa sonsaengnim. “hanya kau yang kemampuannya di atas rata-rata!”

Ok.. ok.. IQ-ku memang hampir mendekati IQ para dosen. Makanya aku sering dibilang abnormal oleh guru-guru SD-ku.

*flashback*

Masuk SD..

“umurnya berapa dik?” tanya sang guru pada changmin kecil.

“3 tahun.” Jawab changmin polos.

“3 tahun?!!” kaget si guru. “harusnya kamu di TK, sayang. Di playgroup!”

“aku bisa nulis kok!”

“coba!”

Changmin menuliskan namanya, umurnya, kisah hidupnya, di sebuah kertas kecil. Sang guru terkejut melihatnya.

“ini benar tulisanmu?” tanya si guru masih tidak percaya.

“ibu liat kan tadi saya nulis?” tanya changmin balik.

“iya. Tapi—“ si guru membuka kacamatanya. Memperhatikan tulisan itu dengan secermat-cermatnya. “kok tulisan kamu bagus sih?”

“dunno!” jawab changmin.

“kamu bisa bahasa inggris?”

“yeah.”

“siapa yang mengajarkanmu?”

“tidak ada! Aku hanya listening dan reading!”

Sang guru makin bingung. Ia lalu memanggil guru bahasa inggris untuk mengetes kemampuan anak kecil itu.

“bahasa inggrisnya telur?” tanya si guru bahasa inggris.

“egg.” Jawab changmin yakin.

Guru bahasa inggris itu mengangguk. “mata?”

“eye!”

“hidung?”

“don’t ask me anymore! I’m the best for that!”

Guru bahasa inggris itu membisikkan sesuatu pada guru tadi. “kemampuannya di atas rata-rata!”

Guru tadi menjawab, “ya. Aku yakin ia bohong!”

“I don’t have any lies!”

“ok ok. Wait a minute, ok? I’ll be back!”

Akhirnya changmin masuk ke SD yang terkenal dengan murid-muridnya yang pintar itu dan lulus pada umur 7 tahun. Umur 8 tahun ia masuk ke sekolah di USA dan lulus pada umur 10 tahun. Lalu ia menganggur sekitar setahun karena umurnya tidak cocok dengan jenjang pendidikannya. Maka ia kembali bersekolah umur 12 tahun.

*end flashback*

Ahh.. aku selalu tersenyum jika mengingat apa yang terjadi dulu. Aku selalu diikutsertakan di lomba apapun yang berhubungan dengan pelajaran.

“shim changmin!” gertak yun hwa sonsaengnim.

“eh, ne??” sahutku kaget.

Lagian orang sedang melamun diganggu! Dasar sonsaengnim bodoh!! Tapi kalau ia bodoh, kenapa bisa menjadi sonsaengnim? Mengajar murid-murid yang tadinya tidak bisa menjadi bisa, yang nakal menjadi baik, yang malas tambah malas.

“kau kenapa? Jangan tegang! Tenang saja. Aku menunggu disini mendoakanmu!” kata yunhwa sonsaengnim sambil memberikan soal yang tadi kukerjakan.

“mwo? Kenapa ini salah??” tanyaku melihat soal nomor 17 yang disalahkan.

“jalanmu benar. Hanya saja kau kurang teliti menghitungnya.” Jawab yunhwa sonsaengnim. “kau lelah? Mungkin kau mau istirahat lebih?”

“yeah, kupikir memang harus.” Jawabku.

“ok. Silakan! Fighting untuk besok!”

“gamsahamnida.”

Aku membungkuk dan keluar dari ruang ketegangan. Uhh.. masih terpikir olehku tentang soal nomor 17 yang menurutku gampang tadi. Ok, aku ke parkiran. Mendatangi mobil sport merahku yang baru saja kukasih nama tadi pagi.

“oh my god!” kagetku melihat mobil jaguar yunho hyung kempes. Aku lalu mendekatinya. “tumben kempes! Biasanya tak pernah begini.”

Kenapa aku harus mengurusnya? Menyusahkan! Aku langsung pergi dari depan mobil yunho hyung dan mendatangi cathy, mobil cantikku.

“oh.. I miss u girl!!” kataku sambil memeluk mobil sportku.

“dasar gila!” sahut seseorang. Lalu menyembul dari balik mobilku.

“junsu? Sedang apa kau disana?”

Junsu mendekatiku. Lalu menepuk pundakku keras. Deg—

“sukses?”

“hah?”

“sukseskah latihanmu?”

“umm.. I think yeah.”

“fighting untuk besok!”

*besoknya*

Hari ini aku lomba! Ohh.. aku dapat dispensasi untuk hari ini dan besok. Tapi aku menolak dispensasi besok karena aku tidak mau. Umm.. sebenarnya alasanku hanya seseorang. Siapa lagi kalau bukan junsu? Yeah. Aku berpikir sepertinya aku akan menjadi musuhnya setelah bertemu dulu. Tapi ternyata aku tertular virus gay dari yang lain. Ohh.. gengsiku kalah oleh perasaanku pada junsu! Sebenarnya aku ingin menyatakannya keburu diambil yoochun hyung. Selama ini aku tahu kalau yoochun hyung sangat menyukai junsu. Musuh terbesarku! Aku ingin menyampaikan perasaanku padanya secepatnya!!

“yak!” gertak seseorang sambil menepuk pundakku. Yah.. yunho hyung.

“can u hit me slowly??” tanyaku kesal.

“no!” jawabnya marah. “kau mengempeskan roda jaguarku kemarin ya??”

“what?? Ohh.. aku punya pekerjaan yang lebih berat dari pada itu! Apa untungnya untukku mengempeskan ban mobilmu?”

“KAU PURA-PURA BODOH YA? KAU PIKIR TIDAK ADA SAKSI??”

“saksi?? Tidak ada siapa-siapa disitu selain aku!”

“TIDAK ADA??” yunho hyung mengalihkan pandang ke atas. Lalu kembali memandangku. “DASAR BUTA!”

Amarahku memuncak. Aku langsung mendorongnya sampai ia terjengkang ke belakang. Tepat bersandar di pohon beringin di parkiran.

“MATAKU MEMANG TAK SEBAGUS KAU! TAPI AKU TAHU DAN SANGAT YAKIN TIDAK ADA ORANG SELAIN AKU DI PARKIRAN KEMARIN!!” teriakku di depannya.

“jadi kau berani ya sekarang?” nada yunho hyung diturunkan beberapa oktaf. “kau tahu berapa orang yang mendorong mobil terbaikku itu ke bengkel terdekat??”

“don’t know and don’t wanna know!”

Aku langsung berbalik badan. Lalu yunho hyung menarikku kembali.

“what?” tanyaku kesal. “I’m busy. I must go to—“

“olimpiade?? Hahaha..” yunho hyung langsung tertawa lepas.

Aku bingung. Aku ingin menonjoknya kalau yang lain tidak datang kesana sambil membawa kue, kado, dan senyum mengembang.

“saengil chukahamnida.. saengil chukahamnida.. saranghaneun shim changmin.. saengil chukahamnida..” ucap member shinki, dan anak-anak yang ada disitu.

Ohh.. sekarang perasaanku berubah. Aku bukan ingin menonjok yunho hyung lagi. Tapi aku ingin memeluknya dan menangis di dadanya. Ohh.. benar-benar tak normal. Bisa-bisa aku dibunuh jae hyung nanti malam. Wait. Aku tidak ingat kalau hari ini ulang tahunku! Oh my.. aku memang sangat bodoh!!

“mianhe.” Kata yunho hyung sambil memelukku. “aktingku bagus kan??”

“ne..” jawabku. Aku menangis sekarang.

“hapus air matamu!” kata junsu sambil mengelap air mataku dengan jari indahnya. “don’t cry in ur day!”

Jae hyung mendekat padaku. Lalu menyodorkan kue ke depan wajahku. Ia tersenyum penuh arti padaku. Tapi aku tak tahu artinya.

“make a wish, min!” kata jae hyung.

Make a wish. Apa ya?? Banyak yang kuinginkan. Sekolah di Harvard, menjadi lebih baik, menjadi normal, tidak mendapat masalah, tidak bertemu dengan orang aneh, dan—menjadi milik junsu.

“satu saja, jangan banyak-banyak!!” sahut yoochun hyung dari belakang jae hyung.

“ayolah.. aku lelah memegang ini!!” kata jae hyung manja.

Aku menurunkan tangan jae hyung beberapa centi dari wajahku. Terlihat wajah penuh kecemburuan dari yunho hyung dan yoochun hyung. Tapi sepertinya jae hyung tidak tahu tentang itu.

“ok. Aku berharap supaya mendapatkan yang terbaik dalam hidupku.” Ucapku lalu meniup lilin angka 14 diatas kue.

“SAENGIL CHUKHAE, CHANGMIN-AH!!” teriak semua fans shinki girang.

Mereka semua lalu mendekatiku untuk berjabat tangan denganku dan memberi kado kecil untukku. Jumlahnya tidak hanya 1 atau 2. tapi lebih dari itu! Ohh.. bagaimana aku membawa ini pulang?

TTTEEETTTT…

Bel berbunyi nyaring memekakan telinga. Anak-anak yang tadi berkumpul harus masuk. Kecuali kami, para penguasa shinki. Oh.. aku melupakan olimpiade itu! Kenapa yunhwa sonsaengnim tidak menjemputku?

“kau mencari yunhwa sonsaengnim??” tanya yunho hyung sambil memeluk jae hyung penuh cinta.

“ye.” Jawabku. “dimana dia?”

“kau masih percaya ada olimpiade itu?” tanya yoochun hyung sambil memakan kuacinya.

“darimana kau dapat kuaci?” tanyaku tak nyambung.

“KAMI MENGERJAIMU!!” teriak semuanya riang.

Ohh.. they want to die in my arm!

“jadi apa artinya aku pusing, harus pulang malam, dan hampir muntah menghadapi soal-soal sialan itu?” kataku geram.

“nothing mean!” jawab yunho hyung. “jangan marah dong, min!”

“gwaenchana..” jawabku.

Untuk hari ini, seharian penuh, aku habiskan dengan anggota shinki. Kami pergi ke toko buku, toko kamera, toko permainan, toko makanan, semua toko di mall milik yunho hyung pokoknya! Ohh.. benar-benar hari yang sangat menyenangkan!

Malamnya, kami kembali. Kembali ke markas. Aku malas pulang. Semua pun begitu. Karena aku bosan di dalam, aku memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar. Mungkin aku akan ke taman.

“changmin-ah,” panggil junsu tergopoh-gopoh. “aku ikut!”

Aku tersenyum. “sure.”

Aku dan junsu berjalan bersama. Tangan di kebelakangkan, menatap langit yang ditaburi bintang-bintang kecil yang indah, memikirkan sesuatu yang ada di pikiran. Aku tidak tahan! Aku ingin melakukannya!!

“junsu-ah,” panggilku grogi.

“wae?” tanya junsu sambil menatapku dengan tampang innoncent-nya.

“umm.. gwaenchana. Aku—aku hanya takut kau kenapa-napa!”

“oh.”

Aku kembali berjalan. Di tengah keremangan malam, di tengah kedamaian para orang yang telah di surga. Akhirnya, aku dan junsu sampai di taman kota.

“changmin-ah.. junsu-ah..” Kita saling memanggil nama??!!

“kau duluan..” kali ini bersamaan mengucapkan kalimat yang sama!

Pertanda apakah ini???

“kau dulu!” kataku.

“aku—“ junsu menunduk. “—ingin mengatakan sesuatu yang bodoh!”

“aku juga!”

“sebenarnya waktu di balkon, aku ingin mengatakan ini. Tapi.. aku terlalu takut!”

“aku juga!”

“aku yakin kau tak akan menerima ini!”

“aku juga!”

“aku—“ junsu tersenyum kecut. “—aku menyukaimu.”

Deg—

Jantungku serasa berhenti berdetak! Rasanya aku ingin memeluknya, melompat dengannya, dan memulai hidup dengannya. Aku lalu tersenyum kegirangan.

“AKU JUGA!” teriakku.

“benar??”

“ye..” kataku. “AKU SANGAT MENCINTAI KIM JUNSU!!!”

Akhirnya, aku jadian dengannya. Tanggal 18.02.11. menurutku ada yang indah di tanggal ini. Bukan karena ini ulang tahunku. Tapi 1+8+2 = 11. dan tahun ini adalah tahun 2011. ohh.. benarkah ini? Ini bukan mimpi kan??

“pulang yuk! Aku dingin!” kata junsu sambil tersenyum jahil.

Aku melepaskan jaketku. Lalu memakaikannya ke badan junsu. “aku menghangatkanmu!”

*di markas*

“ehem.. kemana saja kalian??” tanya yunho hyung saat kita baru membuka pintu. Ia tersenyum mengejek.

“ke taman!” jawabku santai. “sudahlah.. aku ngantuk.”

***

“changmin-ah,” kata seseorang. Seorang laki-laki tentunya. “changmin-ah” katanya lagi.

Aku membuka mata dan melihat seorang laki-laki berwajah cantik membelai rambutku lembut. Ia tersenyum dan menyuruhku bangun.

“ne, jae hyung-ah?” tanyaku ngantuk. “ini jam berapa?”

Jae hyung mengangkat tangannya. Dan menunjukkan jam digital hitamnya ke arahku. Pukul 11.56?!!

“kenapa–??”

“ssstt…” jae hyung menempelkan jari telunjuknya ke bibirku. “aku akan tunjukkan sesuatu padamu!”

“besok saja—“

“ani!” cegah jae hyung. “ini hadiah ulang tahunmu!”

“4 menit lagi berganti hari!”

“masih ada 3 menit. Ayo kutunjukkan studio yunho!”

Aku langsung bangun. Jae hyung mengajakku mengendap keluar. Ke studio shinki. Jae hyung sudah memegang kunci kamar. Kami berdua sudah berdiri di depan pintu jati berwarna merah hitam setan itu. Lalu membuka pintunya dan…

One thought on ““dangerous friendship” part 7

  1. hyukAi jewel

    wew…changmin narsis…
    100soal 10mnit??klo itu aq mungkn aq udah brbuih…
    Itu…kalimat terakhr “dan….” dan apha??
    Udah ya..mu lompat k chap slanjut.a..hehe

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s