“dangerous friendship” part 8

Aku langsung bangun. Jae hyung mengajakku mengendap keluar. Ke studio shinki. Jae hyung sudah memegang kunci kamar. Kami berdua sudah berdiri di depan pintu jati berwarna merah hitam setan itu. Lalu membuka pintunya dan…

Yahh.. ternyata hanya sebuah kamar! Menyedihkan. Hoho.. kamarnya berantakan, kasurnya besar, ruangannya gelap. Jangan-jangan..

“masuklah. Aku akan menjadi tour guide-mu!” kata jae hyung sambil menggandengku masuk.

Iyekkhh.. kamar ini sangat bau. Aku harus menutup hidung serapat-rapatnya untuk menghadang bau busuk ini. Yah.. kuyakini ini bau sperma yang menyatu. Sepertinya aku akan muntah sebentar lagi.

Jae hyung menutup pintu kamar. Yang membuat kamar ini semakin gelap. Aku tidak bisa melihat apapun! Kecuali jae hyung karena wajah putihnya menyinari tempat itu walau hanya sedikit.

BRUK!

Jae hyung mendorongku ke kasur. Ia menindihku seperti di mimpi! Apakah dejavu-ku kambuh? Kenapa harus yang ini yang dijadikan kenyataan, tuhan? Mengapa tidak mimpiku yang lain seperti aku berbaikan dengan sungmin, berciuman dengan junsu, dan—

“kau jadian dengan junsu kan?” tanyanya dingin.

Deg—

Darimana ia bisa tahu? Padahal jelas-jelas aku tak memberi tahunya! Ohh.. matilah aku disini.

“kau jadian dengan junsu kan?” tanya jae hyung lagi.

Aku tetap diam. Aku enggan menjawab. Jae hyung tersenyum dingin lalu menciumku ganas. Ia kembali melakukan hal yang ada di mimpi. Menindihku, meremas juniorku sampai aku membukakan pintunya, dan akhirnya ia menyerah.

“kau jadian dengan junsu kan?” tanya jae hyung lagi. Lalu tersenyum dingin. “kalau kau tidak jujur, aku akan menyebarkan ini pada yang lain besok! Aku akan menempelkannya di mading dan blog!”

“tempel saja!” kataku. “kau tidak punya bukti apa-apa soal aku jadian dengan junsu!”

Jae hyung mengambil sebuah benda di dalam sakunya. Lalu menunjukkan foto-foto yang ia jepret disitu. What?? That’s my photos and junsu!! What should I do ??

“puas! Aku mengambilnya dari awal kau disini. Aku juga punya videonya!!”

Ohh.. benar-benar kurang kerjaan orang ini! Jae hyung masih tersenyum jahil. Ia memanfaatkan kesempatan ini untuk melakukan itu. Untungnya aku punya keberanian. Jadi aku mendorongnya sampai dia terjengkang.

“KAU MAU BILANG? SILAKAN! AKU AKAN MENJELASKAN! AKU TIDAK PUNYA FANS? OK. AKU TIDAK BUTUH MEREKA! AKU KEHILANGANMU? ITULAH YANG KUMAU!” kataku lalu pergi dari studio pribadi yunho hyung.

Aku lega mengatakannya. Tapi aku takut dia akan mengadukannya pada yunho hyung dan ia akan menempelkan semua foto yang ia dapatkan di mading sekolah! Oohh.. matilah aku! Tapi tak apa. Setidaknya aku bisa menjaga perasaan junsu. Aku sangat menyayanginya!

Aku kembali ke markas. Aku tidak langsung ke kamarku melainkan ke kamar pacar baruku, kim junsu. Aku masuk ke kamarnya dan mendekatinya. Wajahnya saat tidur semanis dulu. Tapi bagiku, dulu dan sekarang sama. Junsu yang dulu dan yang sekarang sama!

Cup..

Aku mengecup keningnya sebelum meninggalkannya di kamar. Aku benar-benar bahagia bisa melakukannya.

“junsu-ah, apa kau tahu betapa aku sangat mencintaimu? Aku tidak ingin melepaskanmu! Aku akan bicara pada yang lain tentang hubungan ini. Aku tidak khawatir tentang berkurangnya fans shim changmin! Tapi aku berharap fans-mu bertambah.” Bisikku.

Aku lalu keluar dan balik ke kamar.

***

Cepat sekali! Perasaan aku baru saja tidur dan mengecup kening junsu tadi malam. Ini sudah pagi saja.

“annyeong, changmin-ah,,” sapa seseorang dengan senyum manisnya yang sangat menawan.

“annyeong, junsu-ah.” Balasku sambil tersenyum juga.

“kau lelah?”

“yeah.”

“ok. Kau tidak usah masuk! Kau disini saja.”

“ani! Aku ingin denganmu.”

“dasar manja!” junsu menjitak kepalaku keras.

“ishh.. sakit!!” kataku.

“mianhe, chagiya..”

Blushh.. kujamin wajahku memerah mendengarnya mengatakan ‘chagiya’. Aku tidak percaya ternyata ia memang sangat ikhlas mencintaiku!

“ya ampun, min.. kau belum pernah ya dipanggil chagi oleh siapapun?” tanya junsu sambil membelai wajahku.

Pernah? Aku ingat kejadian dulu. Ada yang memanggilku chagi dengan manja. Ia sangat mencintaiku tapi aku tak mencintainya. Aku merasa sangat jijik jika mengingatnya.

*flashback*

“changmin-ah,” kata jae hyung sambil memeluk leherkuku erat. “aku sangat mencintaimu..”

Aku melepaskan pelukannya dengan paksa. “mianhe. That’s just ur feeling. Not mine!”

Aku langsung berbalik dari hadapannya. Ia lalu menarik tanganku dan menciumku. Aku langsung memegangi bibir innoncent-ku yang sudah ternoda ini.

“kau jahat!” kata jae hyung.

“yeah. Aku jahat!” balasku. “TAPI SIAPA YANG LEBIH JAHAT? AKU ATAU KAU?”

“aku? Hahaha.. kau gila! Aku tidak melakukan apapun yang bisa kau katakan jahat!”

“kau tidak jahat, tapi bodoh!” aku menerawang ke langit. “kau tahu, yunho hyung sangat menyayangimu! Tidak pernah sekalipun ia menyakiti perasaanmu! Kau pernah melihatnya bersentuhan tangan dengan perempuan lain? Tidak! Ia menjaga perasaanmu!”

Jae hyung diam. Ia tertegun mendengar penjelasanku. Yeah. Memang yunho hyung sangat menyayanginya. Ia sering membicarakannya di telepon denganku. Haah..

Jae hyung kembali ke ekspresi semula. Ia tersenyum manis dan mengelus pipiku.

“saranghae, chagiya. Aku akan menunggu sampai kau mencintaiku!”

*end flashback*

“ya!” panggil seseorang sambil melambai-lambaikan tangannya.

“eh? Wae??” tanyaku setelah sadar.

“ya ampun. Jadi aku sedang latihan monolog gitu? Aku berbicara sendiri??”

“mianhe, junsu-ah.. aku kan sedang melamun!”

“lagian melamun! Kan tidak ada yang suruh.”

“memang!”

Junsu memeriksa keningku. Memangnya aku sakit? Ia lalu menyuruhku membuka mulutku dan memasukkan benda kecil panjang yang bernama termometer. Ia meletakannya di bawah lidahku.

“ya ampun min.. kau makan apa sampai panasmu segini??” tanya junsu sambil menunjukkan termometer dengan suhu normal.

“memang apa yang salah? Itu kan suhu normal!” tanyaku balik.

“dasar!” junsu menjitakku keras. “tadi malam suhumu tinggi tahu!”

“mwo??”

“kenapa? Memangnya kau ada masalah apa sampai badanmu panas begitu?”

Masalah?? Badanku panas?? JAE JOONG HYUNG!!!!!!!!!

“aishh.. jinca!” junsu memukul tanganku agak keras. “kau tidak ingat aku ada disini ya?”

“ne.. ne.. mianhe. Aku akan menemanimu, ya?”

“harusnya aku yang bilang begitu!”

“ahh.. kau membingungkan!”

“kau yang membingungkan!”

“kau!”

“kau!”

“kau!”

“SHIM CHANGMIN!!!”

“KIM JUNSU!!!”

“CHANGMIN!!”

“JUNSU!!!”

“WWWWOOOOOYYY….” Teriak orang yang ada di kamar sebelah.

Oow.. itu kan yunho hyung! Jangan-jangan sebentar lagi aku akan menjadi bulan-bulanannya?? Seseorang lalu masuk kamarku dan mendatangiku dengan senyumnya yang jahil.

“aku telat!” kata yoochun hyung.

“huh.. ku kira yunho hyung.” Kataku tak nyambung.

“yunho sedang bercumbu ria dengan jae joong! Kau tahu kan keadaan mereka seperti apa??”

I cant imagine! Aku sudah bosan memikirkannya.

“junsu-ah,” panggil yoochun hyung sambil mengarahkan tangannya ke wajah junsu. Tapi langsung kutepis.

“DON’T TOUCH MY LOVE!” kataku kesal.

“ok.. ok..” yoochun hyung menurunkan tangannya. “junsu-ah, aku ingin bilang kalau aku—“

“don’t say that u love him!”

“aishh.. min-ah, jangan over protect gitu dong.. aku jadi parno!” kata junsu.

“ahh.. terserah!”

Aku membalikkan badan dan menutup seluruh badanku dengan selimut. Lalu kembali memejamkan mata dan tertidur.

***

“changmin-ah,” panggil jae hyung. “apa kau mencintaiku?”

“mwo? Aku sudah bilang kalau aku tidak pernah mau menyukaimu, apalagi mencintaimu!” jawabku.

“changmin hyung, aku ingin bertemu denganmu!” sekarang sungmin yang bicara.

“aniyo. Hyung sibuk!” jawabku.

“ayolah hyung.. aku takut!”

“kenapa kau harus takut?”

“aku takut aku tak bisa bertemu denganmu lagi!”

“aku akan bertemu denganmu lagi, sungmin-ah. Kau tenang saja.”

“changmin-ah, maukah kau menemaniku ke kuburan?” tanya junsu.

“kenapa? Siapa yang meninggal?” tanyaku balik.

Junsu menunduk. Wajahnya berusaha menampilkan yang terbaik. Tapi nyatanya itu membuatnya makin pucat. Lalu dia mengangkat wajahnya dan mengatakan sebuah nama yang kukenal.

“yoochun hyung??”

“ne..”

“apa maksudmu yoochun hyung meninggal??”

“dia tak kuat telah kehilangan orang yang dia cintai!”

“siapa? Apakah itu kau??”

“bukan! Tapi kembarannya!”

Orang-orang terus bertanya padaku. Tapi aku tidak menjawab. Aku tak kuat! Aku jatuh terduduk sambil memegangi kepalaku yang sakit, menutup kupingku yang terus mendengar suara-suara permintaan, dan menangis penuh keputusasaan.

“ANI!!!!!”

***

“min-ah.. min-ah.. min-ah..” kata seseorang sambil mengguncang tubuhku.

Aku langsung tersadar dari mimpi burukku. Yoochun hyung, yunho hyung, jae joong hyung dan junsu langsung menghujaniku dengan pertanyaan.

“kau mimpi apa?” tanya junsu khawatir.

“iya! Kau mimpi apa sampai junsu menangis?” tanya yoochun hyung sambil menjitakku.

Belum sempat kubuka mulutku, yunho hyung langsung menyela.

“kau mimpi apa hah? Aku kan sedang menuju ke surga!”

Ooww.. aku baru sadar YUNJAE tidak memakai baju.. ahhh… mataku tercemar!!!!!

“AKU LUPA PAKAI BAJU!!” teriak jae hyung membuat suasana makin memalukan. Jae hyung lalu keluar dari kamarku.

Yunho hyung yang sepertinya baru sadar kalau dirinya sedang bertelanjang bulat langsung memperhatikan keadaannya. Lalu berteriak dengan sangat kencangnya.

“HHHWWWAAA…” teriak yunho hyung sambil berlari terbirit-birit ke kamar sebelah.

Untuk beberapa saat aku bisa melupakan mimpi burukku. Perasaanku aneh. Ya.. sungguh aneh! Aku merasa ada keanehan pada mimpi itu. Apakah itu akan menjadi dejavu?? No!! aku tidak akan membiarkannya.

“ya!” junsu melambai-lambaikan tangannya di depan mukaku.

“mianhe.. aku—terbawa suasana!” jawabku.

“kau mimpi apa sih sampai berteriak namaku?” tanya yoochun hyung.

“aku—“ aku tidak akan menceritakannya! Tidak.. tidak.. tidak..

“ok.. lupakan! Aku tidak mau membebani pikiranmu. Panasmu naik lagi kan?! Itu karena kau stress!”

“yeah.. stress karena mimpi itu!” jawabku dalam hati.

Junsu dan aku berangkat bersama keesokkan harinya karena aku sudah sembuh dari demam yang datangnya entah darimana asalnya.

“junsu-ah,” panggilku hati-hati. Aku ingin melakukannya jika aku mempunyai hubungan. “do you want some date??”

“date?” junsu tersenyum sambil mencubit pipiku.

“aishh.. sakit!”

“lagian, permintaanmu aneh-aneh saja! Aku belum siap dating.”

“kenapa? Kau kan sudah jadi milikku!”

“CHANGMIN!!!!!!”

Junsu kembali berteriak histeris karena melihat mobil dari arah yang berlawanan. Ia langsung membenamkan wajahnya di pundakku. Bisa kupastikan ia menangis.

“junsu-ah, sudah selesai!!” kataku.

“appa.. umma..” junsu kembali memanggil orang tuanya.

“sepertinya kau memang anak yang sangat manja!”

Junsu langsung mendongakkan wajah dan menatapku marah. Tapi itu malah membuatku makin menganggapnya imut.

“baby, please? Don’t set that face! I’ll never stop laughing if I see ur face!!” kataku sambil tertawa.

“shit!!”

Junsu dan aku banyak bercanda di mobil. Junsu sudah tidak ketakutan lagi. Malah ia sangat menikmati kalau ku ajak kemanapun dengan mobil sport merahku tercinta.

“junsu-ah,” panggilku. “apa kau tidak merasa ilfeel jika dekat denganku?”

“untuk apa aku harus ilfeel?” tanya junsu balik. “aku kan sudah bilang. Aku mencintaimu!”

“tapi kau bilang kau menyukaiku!”

“Aisshh.. memang begini ternyata kalau aku berpacaran dengan orang terpintar di dunia!”

Aku tersenyum mendengarnya mengatakan itu. Sebenarnya aku memang senang menggodanya. Entah kenapa aku begitu ingin merasakan bibirnya. Aku ingin mengecupnya walau hanya sekali. Aku memang bukan laki-laki yang romantis. Aku adalah lelaki ter-egois yang pernah ada. Aku sering meninggalkannya hanya untuk pendidikanku. Aku tidak pernah mau mengantarkannya ke tempat yang tidak aku sukai. Tapi dia senang-senang saja jika aku mengajaknya.

“mianhe, aku bukan lelaki yang romantis!” kataku pada junsu.

Junsu tersenyum manis walaupun pandangannya tetap saja ke arah jalanan. Entah apa yang dia lihat disana.

“kau tetap lelaki pujaanku dimanapun berada!” kata junsu bijaksana.

Aku dan junsu keluar dari mobil setelah memarkirkan cathy di parkiran khusus geng shinki. Aku memeluk dirinya erat.

“changmin-ah,”

“kau tenang saja! Aku tidak akan membiarkanmu sakit.”

***

Aku berjalan keluar kelas untuk menemui junsu yang menunggu di kantin. Aku sedang ada urusan dengan kim sonsaengnim tadi. Jadi, junsu duluan kesana. Tapi aku mendengar sesuatu yang harus aku dengarkan! Aku bersembunyi di tempat yang tidak bisa dilihat oleh mereka.

“aku ingin mengakhirinya!” kata jae hyung.

Deg—

Jantungku langsung berhenti berdetak sejenak. Tampang orang yang diajak bicara oleh jae hyung pun langsung berubah. Lelaki itu adalah choi siwon. Sepupu yunho hyung. Ohh.. dasar buaya!

“jae-ah,” siwon hyung memohon pada jae hyung.

“ani! Aku mencintai pria lain!” kata jae hyung.

“mwo? Nugu?”

“shim changmin!”

Deg—

Aku langsung pergi dari tempat itu sebelum aku pingsan dan mendapat omelan dari junsu. Aku tidak mau mendengar lagi apa yang akan dikatakan jae hyung.

Terhitung satu bulan lebih 3 hari aku dan junsu menjalin hubungan. Pertama-tama fans shinki memang tidak percaya, tidak menerima dan merestui. Tapi akhirnya setelah kuberitahu tentang arti cinta sesungguhnya, mereka mengerti dan membiarkanku berpacaran dengannya tanpa meninggalkanku.

Aku tersenyum sendiri mengingat anak itu. Aku sedang berada di kelas matematika untuk menerima pengajaran untuk olimpiade akhir tahun.

“changmin-ah, junsu—“ seorang laki-laki memberitahuku tentang hal ini. Dan aku langsung pergi dari hadapan kim sonsaengnim dan berlari ke tempat junsu berada.

“STOP!!!” cegahku ketika aku sampai sana. “APA YANG KAU LAKUKAN JIKA KALIAN YANG BERADA DI POSISI INI??” teriakku dengan lantang. “APA YANG KAU PIKIRKAN JIKA KALIAN MENJADI BULAN-BULANAN HANYA KARENA ORANG YANG DI DEKATNYA??”

Semuanya langsung berhenti. Mereka menatapku dengan tatapan ‘kenapa-orang-ini-aneh’ dan ‘kenapa-dia-sangat-mencintainya?’

“siapa yang salah dalam kejadian ini?” aku berhasil melunakkan suaraku. “SIAPA??!”

Semuanya diam. Lalu meminta maaf sambil menunduk padaku. Separuh dari pelaku penganiayaan ini adalah perempuan. Jadi mereka banyak menangis. Saat itu, kim sonsaengnim langsung datang dan membuat anak-anak langsung pergi.

“SHIM CHANGMIN!!” panggilnya.

Aku tidak langsung mendatanginya. Aku langsung mendatangi junsu yang sedang berjongkok di tengah aula sambil menangisi nasibnya.

“junsu-ah, aku disini!” bisikku.

Junsu langsung mendongakkan kepala dan menatapku. Wajahnya sangat ketakutan, pucat, dan terlihat seperti mayat hidup. Aku langsung memeluknya disana.

“tenanglah. Aku disini!” kataku sambil menepuk pundaknya.

“changmin-ah, aku tak tahan!!” tangisnya pecah setelah aku memeluknya. “aku ingin bebas! Aku tak ingin diteror. Aku tak ingin menjadi korban!!”

Aku membiarkannya menumpahkan kesedihan. Aku membiarkannya menumpahkan amarah dan kesedihan di dadaku.

“aku ingin mengakhirinya!” kata junsu.

Deg—

TBC

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s