“dangerous friendship” part 9

“aku ingin mengakhirinya!” kata junsu.

Deg—

Aku langsung melepaskan pelukannya. Lalu pergi dari hadapannya dengan hati dongkol. Mana ada yang mau hubungannya diakhiri hanya karena satu masalah yang bukan salahnya? Ia tidak ingat kalau masih punya aku? Ia tidak ingat kalau aku adalah orang yang sangat ikhlas mendampinginya? Ia tidak ingat siapa orang yang sangat mencintainya, yang rela meninggalkan kegengsiannya hanya untuknya?

***

“changmin-ah, aku mohon jangan pikirkan perkataanku kemarin!” kata junsu sambil mengejarku saat aku baru masuk dari gerbang utama.

Junsu terus mengejarku. Ia memegang tanganku erat. Tapi aku tetap saja jalan seperti tidak ada orang disana. Junsu lalu menghentikan langkahku dengan cara menendangku. Ini kebiasaannya kalau aku jalan terlalu cepat.

“kau kan yang mau mengakhirinya? Ok. Aku akan meninggalkanmu! Aku akan mengakhirinya seperti yang kau mau. Puas??”

Aku langsung pergi dari hadapannya. Junsu tetap terdiam di tempat sambil menatap kepergianku. Sekedar info, ini adalah hari ke-lima dimana aku bertengkar dengannya. Aku masih sakit hati kalau ia ada di depanku. Aku akan mengingat segala perlakuanku yang ternyata hanya dianggap candaan tidak serius olehnya. Sekarang, aku punya pendamping lagi. Kali ini perempuan! Sekarang, ia ada di depanku. Ia tersenyum riang padaku dan memeluk pinggangku dengan manja.

“changmin-ah, apa kau akan menjadi salah satu murid harvard?” tanya jessica.

“mungkin. Doakan saja yang terbaik!” jawabku.

“kenapa kau selalu begini?? Berikanlah satu senyum indahmu padaku!”

Sejak 3 hari lalu aku menjalin hubungan dengannya, aku belum pernah memberi senyuman indah seperti yang aku berikan pada junsu. Mau bagaimana lagi? Aku hanya memanfaatkannya sebagai pelampiasan. Yah.. aku memang jahat. Tapi aku masih mencintainya!

“changmin-ah, apa kau hanya memanfaatkanku sebagai—“

Aku langsung mencium bibirnya paksa. Aku tidak mau mendengarnya berkata lagi. Aku ingin semuanya berjalan sesuai rencana. Aku mau semuanya berjalan lancar dan tidak ada hambatan! Jessica sepertinya menikmati ciuman itu. Ia membalasnya dengan lumatan yang cukup membuat bibirku basah.

“ok..” aku langsung melepaskan ciumanku. “aku harus ke kelas. Kau lihat kan kalau aku tak hanya memberi senyum?” aku tersenyum manis. “annyeong..” aku melambaikan tangan ke arahnya. Ia juga balas melambaikan tangan.

Aku merasa senang sudah mengelabuhinya. Tapi aku juga merasa bersalah pada junsu karena aku tidak menepati janjinya. Changmin-ah, now, junsu is not mine! Junsu is my enemy.

“ya!” yoochun hyung menghampiriku sambil menepuk pundakku keras.

“ne, hyung? Wae?” tanyaku sambil melakukan ‘special hi five’ dengannya.

“aniyo. Sepertinya ia marah!”

“I don’t care!”

Aku berjalan melewati yoochun hyung. Tapi akhirnya kami jalan berdua. Bersamaan ke kelas. Biasa aku melakukan ini dengan junsu. Ahh.. kenapa aku harus memikirkannya? Dia kan sudah bukan milikku walaupun dia masih di geng shinki.

“kenapa kau meninggalkannya?” tanya yoochun hyung.

“aku sakit hati!” jawabku sambil tersenyum pilu mengingat semua yang sudah terjadi.

“dia kan sudah minta maaf, dan bilang sejujur-jujurnya.”

“kalau kata maaf bisa mengubah segalanya, untuk apa ada hukum dan polisi?” (ngambil dari BBF)

“I think so!”

Aku dan yoochun hyung tidak melanjutkan pembicaraan lagi. Sekarang kami sudah masuk ke kelas. Yunho hyung dan jae joong hyung sudah menunggu. Tapi sepertinya mereka sibuk sendiri. Hanya berpelukan, dan tertawa bersama.

“kalian tidak menyapaku? Anak yang paling tampan di shinki??” candaku sambil menaruh tas di sebelah yoochun hyung.

“chagi,” yunho hyung bertanya pada jae hyung. “adakah yang lebih tampan dari aku?”

Jae hyung menatapku. Lamaaa sekali. Aku duluan yang harus mengakhirinya. Aku langsung duduk dan menenggelamkan wajahku di belakang tumpukan tanganku.

“changmin-ah, junsu mana?” tanya yunho hyung.

Oohh.. kenapa harus mengatakan nama itu di depanku? Aku ingin memulai hidup baru dengan perempuan. Bukan laki-laki!

“kau sudah menikmati dengan perempuan itu?” tanya yunho hyung.

Aku mengeluarkan wajahku lagi (?) lalu tersenyum tanpa sebab ke arahnya.

“aku sedang berlatih!” jawabku.

“tapi kelihatannya kau masih mengharapkan junsu!” timpal yoochun hyung.

“can you stop saying that name? sudah cukup sakit aku dengannya!” kataku kesal.

“ohh.. ok. Tapi jangan kau suruh aku untuk mengeluarkannya!” kata yunho hyung disambut pukulan keras dari jae hyung.

“kau mau mencoba berselingkuh??” kata jae hyung marah.

“aniyo.. aku kan hanya—“

“hanya apa?? Apa kau menyukainya? Apa kau bla.. bla.. bla.. bla..”

Jae hyung terus memarahi yunho hyung. Sedangkan yunho hyung harus tahan mendengar semua omelan jae hyung dan pukulan manis darinya. Aku dan yoochun hyung tidak bisa menahan tawa lagi.

“jadi kau menjadikan jessica sebagai pelampiasan?” tanya junsu padaku saat istirahat tiba.

Aku langsung berhenti membasuh mukaku dengan air segar ini. Lalu menatapnya dengan kesal.

“kenapa kau harus mengurusku? Kau masih punya badan yang harus kau urus!” kataku.

Junsu langsung diam. Ia menundukkan wajahnya. Aku khawatir kalau ia menangis. Aku ingin memeluknya. Tapi ia bukan milikku. I’ll never touch him!

“kau cemburu?” tanyaku.

“ya. Aku cemburu! Aku masih menyimpan perasaan padamu!” junsu langsung pergi dari kamar mandi.

Aku terus memandanginya sampai bayangannya menjauh dariku. Lalu menyandarkan diriku di tembok. Kakiku sudah tidak tahan lagi dengan berat badanku. Air mataku sudah tidak tahan di dalam sini. Aku pun menumpahkan semua yang sudah ku tahan selama ini. Aku menangis. Untuk pertama kalinya aku menangis hanya karena masalah cinta.

Oohh.. sudah hampir 3 bulan aku bertengkar dengannya. Sebenarnya aku tidak tahan dan ingin meminta maaf, bersujud padanya, dan memohon padanya agar menerimaku kembali. Tapi apadaya? Inilah aku yang sebenarnya. Aku tidak bisa merubah segalanya dengan otakku yang dibilang abnormal ini.

Hari ini adalah hari kelima liburan sekolah. Aku tidak bisa bertemunya untuk 2 minggu. Sebenarnya aku sering menatapnya diam-diam. Aku menaruh fotonya dan memandanginya sepanjang malam. Bahkan tak jarang aku menangis karena aku sangat bodoh karena tidak bisa menghargainya.

Hubunganku dengan jessica pun mulai serius. Aku dan dia sering bertemu, sering bertengkar, dan sering menimbulkan kontroversi.

“uugghhh…”

Aku merebahkan badanku di kasur empuk milikku yang bergambar klub bola kesukaanku. Manchester united. Walaupun MU sekarang agak down. Aku tetap suka. Sekarang bukan ini yang aku ceritakan. Aku ingin menceritakan tentang kematian seorang wanita yang tidak diketahui masalahnya sampai sekarang, siapa pelakunya, dan apa motifnya. Aku bertemunya beberapa hari sebelum libur. Dan kemarin, tepatnya 5 hari setelah bertemu, ia dibunuh.

*flashback*

Hari ini adalah hari pembagian rapot. Aku sudah mengambilnya dan langsung pergi ke markas shinki. Aku ingin menyelesaikan masalahku. Tapi yah.. aku dan junsu sama-sama canggung jika dekat.

Aku membuka pintu markas geng shinki dan masuk ke dalamnya. Aku hendak melempar tas-ku kalau aku tidak melihat ada seorang gadis dengan gayanya yang tomboy ada di sofa.

“nu-nuguseyo??” tanyaku hati-hati pada wanita itu.

Gadis itu langsung berbalik arah dari depan. Ia lalu menatapku sambil tersenyum. Jujur. Senyumnya manis. Ehm.. aku merasa pernah melihat perempuan itu. Tapi aku sangat sangat yakin kalau aku tidak pernah bertemu dengannya dimanapun!

“na neun, park yoochan imnida.” Kata perempuan itu ramah sambil mengulurkan tangannya. “kau?”

Aku membalas uluran tangannya. “shim changmin!”

“ohh.. yoochun sering menceritakanmu padaku! Katanya kau adalah anak yang pintar. Kepintaranmu hampir setara dengan dosen. Benar?”

Aku tersenyum mendengarnya. Itu pemikiran orang. Pemikiranku? Aku adalah anak yang benar-benar bodoh dalam urusan apapun. Terutama cinta.

“itu menurut orang! Menurutku, aku adalah orang yang sangat sangat bodoh.” Kataku.

“yeah. Orang pintar biasanya merendah. Tapi orang pintar biasanya juga menginginkan lebih dari yang ia punya.” Katanya sambil tersenyum.

You’re right! Jawabku dalam hati.

“umm.. yoochun mana?” tanyanya kemudian.

Aku menaikkan kedua bahuku dan duduk di sofa kesayangan yunho hyung. Biarlah aku memakainya. Sekaliii.. saja.

“memangnya kau siapanya yoochun hyung?” tanyaku balik.

“kembarannya!” jawabnya.

Glek..

Aku menelan ludahku karena tidak percaya kalau dia adalah kembaran yoochun hyung. Pantas saja aku merasa familiar! Matanya, mirip. Senyumnya, dimana-mana manisan dia. Gerak geriknya, sifatnya, dan—

“kau kaget ya?” tanyanya.

Dia juga bisa membaca pikiran rupanya. Aku langsung mengangguk pelan.

“ya. Kau tahu, aku tidak pernah suka bertemu orang baru terutama perempuan.”

“jadi, kau tidak suka bertemu denganku?”

“bukan begitu. Umm.. aku—“

“yoochan-ah..” panggil seorang yang sudah sangat ku kenal. “eh, changmin!”

Yoochun hyung menepuk pundakku keras. Lalu kembarannya ia ajak ber-hi five ria. Aku tidak tahu jenis hi five apa itu. Akhir-akhirnya suit dan jitak-jitakkan. Menyenangkan.

“kau sudah kenal dengannya kan? Jadi aku tak harus mengenalkannya!” kata yoochun hyung sambil memberikan sekaleng sprite padaku dan kembarannya.

“yeah.” Aku membuka kaleng sprite itu. “kenapa dia sangat berbeda dari kau?”

“berbeda bagaimana? Hanya jenis kelamin yang beda!”

“ne, arasso. Tapi gayanya loh. Kau yang jelas-jelas laki-laki feminin, dan—“

“jangan bilang kalau aku lebih cantik daripadanya!”

Aku tertawa kecil. Memang benar aku mau mengatakannya. Tapi kembarannya boleh juga. Ehm.. shim changmin.. kau sudah menyakiti 2 orang kalau begini!

3 hari ini, yoochan sering bermain ke markas. Kita semua sudah menganggapnya sebagai anggota keluarga geng shinki. Yoochan anaknya baik, supel, cerewet, dan pintar. Aku khawatir akan menjadi musuhnya. Kita sering sekali bertengkar. Itu karena ia menjahiliku ketika aku sedang membaca buku. Nanti akhir-akhirnya kita meminta maaf dan kembali mengulanginya lagi.

Besoknya adalah hari berkabung untukku dan anggota shinki. Terutama yoochun hyung. Yoochan ditemukan tewas di bar tempat biasa kita berkumpul, minum, dan melakukan apapun untuk melepas stress. Yoochun hyung terus menangis di atas gundukan tanah yang menelan kembarannya. Ia terus mengutuk-ngutuki junsu. Kenapa junsu? Semua orang percaya junsu yang melakukannya. Tapi jujur. Aku merasa ada yang janggal diantara semua ini.

*end flashback*

“neon nareul wonhae neon naege ppajyeo neon naege michyeo

he eo nal su eobseo I got you~ under my skin”

Ahh.. suara HP-ku menggangguku! Seorang yang sangat tidak kutunggu menelponku. Haruskah aku mengangkatnya? Haruskah aku berbicara padanya? Aku ingin melepas baterai HP saja agar benda ini tidak terus berteriak untuk di angkat.

“yoboseyo?” akhirnya aku menjawabnya.

“changmin-ah,” terdengar suara lelaki yang tak ku kenal. Ia memberitahukan sesuatu yang membuatku harus menelan ludah berkali-kali.

“JESS-JESSICA??”

Aku langsung menyambar kunci mobil dan berlari menuju garasi tanpa mempedulikan penampilan, seruan omma dan sungmin dan juga keadaan. Aku mengendarai mobil ke rumah jessica. Aku mendapat kabar kalau dia meninggal! Bukan karena kecelakaan. Tapi keracunan.

Akhirnya aku sampai di rumahnya. Rumahnya penuh dengan karangan bunga yang bertuliskan ungkapan duka cita. Aku langsung memarkirkan mobil di tempat yang sudah di sediakan. 3 orang teman dan 1 mantanku langsung menyambutku ketika sampai disana.

“kenapa dia? Kenapa—“ aku tidak bisa menahan air mataku lagi. Yoochun hyung memelukku langsung.

“aku tahu perasaanmu.” Kata yoochun hyung.

Yunho hyung ikut menangis. Baru pertama kali aku melihatnya menangis. Jae hyung? Dia kelihatan biasa saja. Ekspresinya menunjukkan kesedihan. Tapi aku yakin, itu hanya dibuat-buat.

“dialah pelakunya!” yoochun hyung menunjuk junsu.

Aku menatapnya. Tidak ada yang berbeda darinya. Wajahnya tetap manis seperti dulu. Tatapan tanpa dosanya membuatku ingin terus bersamanya, menemaninya. Tidak ada tampang pembunuh dalam dirinya.

“dialah yang membunuh jessica, min! dia!” yoochun hyung bersiap memberikan bogeman mentah kepada junsu. Namun langsung kutepis.

“kau tidak bisa sembarangan menuduh. Aku tidak bisa menuduhnya!” kataku.

“oh. Kau membela yang salah? Ternyata kau lebih bodoh daripada yang orang bilang! Aku benar-benar salah memilihmu sebagai teman.” Kata yoochun hyung marah.

“aku membela yang salah? Mana buktinya?”

“lalu siapa yang kau tuduh? Mana mungkin dia tidak membunuh?”

“ku tanya, MANA BUKTINYA??”

“TIDAK PERLU BUKTI FOTO ATAU VIDEO DISINI! YANG PASTI DIA YANG MEMBUNUH JESSICA DAN YOOCHAN!”

“OK. AKU TAHU KAU MASIH TERPUKUL. TAPI KENAPA HARUS DIA YANG MENERIMA TUDUHAN INI?”

“CHANGMIN, YOOCHUN!!” getak yunho hyung marah. “UNTUK APA KALIAN MARAH-MARAH DISINI? UNTUK APA??!!” kata yunho hyung.

Kita berdua diam. Langsung menundukkan kepala tanpa ekspresi. Aku menggenggam tangan junsu. Entah kenapa aku benar-benar merindukannya. Tangannya dingin. Sedingin es di kutub. Malah lebih dingin dari itu.

“tidak ada yang bisa disalahkan disini.” Kata yunho hyung. “ini adalah takdir. Kematian sudah diatur oleh tuhan. Kalian pernah belajar kan?”

Ya, benar. Kematian sudah diatur oleh tuhan sedemikian rupa. Tapi kenapa nasib junsu harus begini? Jujur. Entah kenapa aku merasa ada yang aneh disini. Aku tidak berpikir kalau junsu yang melakukan!

“kau punya bukti kalau junsu yang melakukan?” tanyaku pada yoochun hyung. “apakah hanya karena ia bekerja di bar yang biasa kita datangi, dan yoochan mati disana? Junsu memang bartender! Tapi aku yakin—“

“jangan samakan urusan pembunuhan ini dengan perasaanmu!” kata yoochun hyung dengan suara kecil. Menahan emosi. “aku tahu kau masih mencintainya.”

Aku langsung mendorong yoochun hyung ke belakang. Genggamanku pada tangan junsu sudah kulepas.

“kau bilang jangan samakan urusan pribadi dan perasaan! Padahal kau sendiri yang menyamakan!” kataku tepat di depan wajahnya.

“ok. Jadi disini aku yang salah?? Ok. Kau hebat untuk mengorek-ngorek kesalahan orang!” yoochun hyung mendorongku ke belakang.

Akhirnya kita adu kuat. Berawal dari dorong-dorongan, sampai akhirnya tonjok-tonjokkan. Yunho hyung menahanku. Sedangkan junsu menahan yoochun hyung. Jae joong hyung tetap diam di tempat dan hanya menonton pertunjukkan. Emosiku tidak bisa terkontrol. Kemarahan terhadap yoochun hyung sekarang bertambah lagi dengan kecemburuan.

***

Malamnya, aku dan yunho hyung ke bar yang lebih mewah dari biasanya. Ada kamar tidur untuk orang yang mabuk berat. Biaya sewanya pun tak kalah mahal dari hotel berbintang di seluruh dunia. Aku dan yunho hyung sedang duduk berhadapan. Kami meminum bir yang sama.

“kau kan tidak kuat, min!” kata yunho hyung sambil mencegahku meminum segelas bir yang biasa diminum yunho hyung.

“tolong jangan larang aku melakukan apapun sekarang!” kataku.

Yunho hyung langsung mengangkat tangannya dari tanganku. Aku pun meneguk segelas kecil bir itu. Kepalaku agak pusing. Tapi aku merasakan sensasi yang belum pernah aku rasakan. Aku ingin menyampaikan semua yang aku rasakan selama ini pada yunho hyung.

“hyung, kau tahu bagaimana perasaanku kan?” tanyaku pada yunho hyung.

Yunho hyung mengangguk. Aku melanjutkan,

“kau tahu kan kalau aku masih menginginkan junsu?” tanyaku lagi.

Yunho hyung tetap mengangguk. Ia menatapku seperti tatapan kasihan. Yah.. kasihan. Aku selalu bermasalah beberapa hari ini.

“kau tahu kan bagaimana perasaanku saat mendengarnya mengatakan bahwa junsu dituduhnya sebagai pembunuh? Aku yakin ia tak melakukannya!”

“kau benar!” kata yunho hyung. “aku tahu ia tak melakukannya.”

“yunho hyung,” panggilku. “bolehkah aku menuduh salah satu orang di antara geng shinki ini?”

Lagi-lagi ia hanya mengangguk. Aku bosan! Tapi tak apalah daripada tak direspon sama sekali.

“jae joong hyung!”

Yunho hyung langsung membelalakkan matanya. Lalu menyuruhku untuk mengungkapkan alasan kenapa aku memilihnya sebagai tersangka.

“dejavu-ku sering kambuh!” kataku. “dan semua yang ada di mimpiku sekarang terwujud.” Aku meneguk bir untuk ketiga kalinya. “aku mimpi jae hyung bertanya apakah aku mencintainya. Aku jawab tidak. Dan memang benar dia menanyakannya! Lalu aku mimpi yoochun hyung meninggal, itu karena kembarannya meninggal. Ini belum terbukti. Aku harap ini bukanlah suatu mimpi yang harus diwujudkan. Dan—kemarin aku bermimpi jessica mati di tanganku! Aku tidak bisa menahannya hyung! Bagaimana ini???”

Yunho hyung langsung mengguncang-guncangkan tubuhku. Air mataku tumpah begitu saja. Aku benar-benar tidak bisa menahannya. Aku teringat mimpiku yang dari dulu menuntutku untuk mengingatnya.

“kau benar-benar mendapatkannya min?” tanya yunho hyung. “apa lagi? Kau punya mimpi yang lebih dari itu?”

“tentang mimpi basahku dulu,” aku menjawabnya. “aku bermimpi melakukan itu dengannya. Dan dia melakukannya tengah malam setelah ulang tahunku. Setelah aku menyatakan cinta pada junsu!”

Yunho hyung langsung shock. Aku langsung bilang kalau di mimpiku jae hyung bilang ia lebih mencintaiku daripada yunho hyung.

“dari dulu ia mendekatimu hanya untuk berduaan denganku. Makanya aku sering mengajakmu atau yang lainnya kemana-mana.” Kataku.

“apa yang kau katakan setelah itu?” tanyanya.

“aku bilang, kalau aku tidak mau menodai persahabatanku denganmu. Aku bilang, kau masih sangat mencintainya. Dan pokoknya aku bilang yang sejujurnya!” jawabku.

Yunho hyung langsung shock. Ia meminum bir yang masih ada lumayan banyak di dalam botol itu. Lalu jatuh tertidur di meja. Aku pun melakukan hal yang sama agar benar-benar mabuk.

***

“changmin hyung,” panggil sungmin padaku.

“ne?” tanyaku.

“hyung jangan pernah tinggalkan aku ya!”

Aku menatap anak polos itu sambil tersenyum. Lalu mengacak rambut tebalnya. Aku membisikkan sesuatu yang membuatnya tersenyum lebar dan melompat-lompat kegirangan. Aku hanya tertawa kecil melihatnya senang. Entah kenapa aku merasa takut senyum itu hilang dari hadapanku. Aku tidak mau kehilangannya.

***

Ahh.. lagi-lagi hanya mimpi. Aku membuka mataku perlahan. Mencoba menyesuaikan mataku dengan sinar matahari yang bersinar sangat terang. Pandanganku kabur. Rasanya dunia ini berputar-putar.

“apa kau memimpikan sesuatu yang indah?” tanya seorang wanita paru baya.

“molla, ajumma.” Jawabku. “kenapa aku bisa ada disini?”

“seorang lelaki mengantarmu kesini. Ia berjalan kaki untuk mengantar kesini.”

“siapa dia?”

“aku tidak tahu pasti. Laki-laki itu manis, agak gemuk, dan lucu. Yahh.. dia seperti bayi.”

Kim-jun-su? Apakah itu dia? Aku tidak mau mendengar kalau itu kim junsu! Ani.. ani.. tapi aku merindukannya! Otokke?

“sekarang, orang itu dimana?” tanyaku setelah berdiri dari posisi sebelumnya.

“ia langsung digiring polisi setelah keluar dari sini.” Jawab ajumma. “padahal aku tidak yakin kalau ia yang melakukan!”

“mwo? Ajumma sudah tahu?”

“aku bertanya pada polisi yang menggiringnya ke kantor. Katanya ia terlibat pembunuhan yang merenggut dua orang gadis dan 1 laki-laki.”

Aku langsung mengerutkan kening. Mana mungkin junsu membunuh 3 orang? Aku hanya tahu ia dituduh membunuh 2 orang perempuan.

“satu orang laki-laki teridentifikasi dibunuh. Aku yakin kau tahu tentang ini!”

Aku menghembuskan nafas panjang. Mencoba menenangkan diri. Aku tidak mau dikaitkan dalam masalah ini!

“ini masih ada kaitannya dengan shinki!” kata ajumma.

Apakah dejavu lagi? Apakah—

“itu bukan kau kan?” tanya ajumma.

Aku tidak kuat!! Aku tidak kuat lagi mendengarnya mengatakan masalah pembunuhan ini!! Aku tidak mau mendengar nama junsu, shinki, pembunuhan, racun, jessica, yoochan, darah, tusukkan, pisau..

“tenanglah..” ajumma memelukku. Ia membiarkanku menangis di pelukannya. Aku menumpahkan semua yang aku pendam.

“ajumma, kau percaya kan aku tidak ikut dalam urusan ini? Kau percaya kan kalau aku tidak melakukannya??” tanyaku pada ajumma.

Ajumma menepuk-nepuk pundakku. Ia membelai rambutku lembut. Kurasakan juga sebuah tangan kecil menenangkanku. Ia berbicara dengan gaya bicaranya yang lebih dewasa dari umurnya. Ia menenangkanku. Ia mempercayaiku!

“changmin hyung, hyung pasti bisa bangkit! Hyung pasti bisa mengatasinya!” kata sungmin menyemangati.

Aku langsung memeluk anak itu erat. Aku tidak ingin melepasnya. Aku takut kehilangannya. Sudah cukup orang terdekatku hilang. Dan orang terdekatku dituduh.

***

Sudah seminggu lebih kejadian itu terjadi. Aku belum bisa melupakannya. aku sudah memulai aktivitas seperti biasa. Bedanya, tidak ada olimpiade, tidak ada hubungan khusus, tidak ada kumpul bersama, tidak ada ciuman lembut dari seseorang. Semua fans shinki di sekolah ini tahu kalau aku masih terpukul. Mereka pun terpukul. Formasi shinki tidak selengkap dulu. Minus yoochun hyung dan junsu. Yoochun hyung, antara dibunuh dan bunuh diri. Ia meninggal saat aku dan yunho hyung di bar. Junsu, ia mendekam di penjara karena tuduhannya. Aku ingin menemuinya!!

“aku tahu ini sulit!” kata yunho hyung. “ini juga sangat sulit untukku.”

Aku langsung menatapnya. “mana jae hyung?”

“ada rahasia yang harus aku beritahukan padamu!” yunho hyung duduk di sebelahku. “tentang junsu.”

Aku langsung antusias. Aku ingin mendengar kabar darinya.

“junsu terkena gangguan jiwa di penjara sana!” kata yunho hyung. “harus segera diobati. Kalau tidak, ia bisa membunuh dirinya sendiri!”

“I cant understand it! Can you explained more?”

“ok. Junsu terkena gangguan jiwa. Satu-satunya harapan adalah kau! Kau yang bisa menyembuhkannya. Kau yang bisa memberinya dukungan.”

Ya tuhan.. cukup sudah penderitaanku!! Siapa lagi yang akan kau ambil setelah ini? Apakah junsu? Ataukah teman-temanku yang lain?

Yunho hyung menghembuskan nafas panjang. Ia menepuk pundakku.

“aku juga punya masalah. Jangan kau beritahukan pada yang lain!” kata yunho hyung. Ia membisikkan sesuatu padaku yang berhasil membuatku ingin mengeluarkan semua isi perutku.

“jae joong hyung..??”

TBC

3 thoughts on ““dangerous friendship” part 9

  1. bonita

    serem sih,kok jadi kisah pembunahn beruntun.
    jangan2 bener pembununya jaejoong lagi,dia cinta mati ama changmim .
    tapi itu masih dugaanku aja.

    Reply
  2. ajulle

    aku lagi
    aku pindahan dari blogs ni

    wah ko jadi tambah deg deg ser gini ye bacanya ?
    Kayanya yang bunuh jaejong ye ? Terus ngasi obat gitu ama junsu biar dia jadi gila *korban sinetron*
    tapi itu jaejongnya kenapa ? Terus rahasia apa ?
    Apa jaejong hamil ? Kaya di ff laen gitu ?
    Aduuuuh … Penasaran lanjutannya …

    Mian banyak bacot🙂

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s