FF : “sweet promise” part 1

Title : “sweet promise”

Length : insya allah 2shoot :p

Cast : yunjae~

FF ini terinspirasi dari film jepang yang judulnya “I give my first love to you” jadi kalo ada bagian yg agak sama maklumi aja.. tafsiran (?) kehidupan disini MURNI tafsiran (?) saya yg terlalu menggampangkan hidup!

Ditunggu komennya lohh.. tapi khusus yg iklas!!!^_^ makasih

&&& sweet promise &&&

“yunnie janji bakal selalu disamping joongie!”

“joongie juga janji kalau joongie akan selalu disamping yunnie sampai joongie mati!”

Itu semua memang hanya janji. Janji manis yang di kemukakan dua orang anak laki-laki kecil berusia 9 tahun, yang selalu bersama saat berada di ruangan penuh suka cita—yang sebenarnya adalah jalan menuju surga, yaitu ruang permainan khusus anak-anak penderita kanker.

Semua perawat sudah tahu, dua anak berumur 9 tahun itu memang sering bertanya tentang kehidupan setelah kematian. Bahkan dengan polosnya mereka menginginkan sebuah kehidupan yang kekal, tanpa ada kesakitan di sekujur tubuh. Perawat itu memang butuh kesabaran ekstra.

***

TTTIIIINNNGGGGGGGGG…

Bel pulang berdenting keras dengan semangatnya, membuat anak-anak yang ada dalam keadaan yang sangat terdesak bisa bernafas lega karena ada si penyelamat.

“kkhhh.. benar-benar si kim botak itu tidak punya perasaan!” keluh jae joong setelah bertemu yunho.

“hey.. nanti kau akan menyesal lho mengatakannya!” kata yunho sambil tersenyum.

“aku tahu!” jae joong membuka bungkus permen untuk dimakannya. Dan tak lupa untuk laki-laki di sampingnya.

“lalu kenapa kau mengatakan itu?” tanya yunho setelah memasukkan permen ke mulutnya.

“karena aku tahu penyesalan datang terakhir, dan semua orang pun tahu itu. Jadi, aku tidak kaget kalau menyesal di akhir nanti.” Jawab jae joong, mungkin tanpa berpikir.

Sudah 7 tahun melewati masa di dalam ‘kurungan surga’ di rumah sakit. Yunho dan jae joong, dua anak jelmaan malaikat yang membuat semua orang bahagia, masih bisa bertahan hidup. Sebenarnya dokter sudah mendiagnosa kalau dua anak itu hanya bisa bertahan 5 tahun lagi. Tapi ternyata mereka masih bisa bertahan 2 tahun setelahnya, walau bergantung pada obat-obatan dan kemoterapi.

“kau tahu, saat kim botak itu mengajariku, kepalaku langsung sakit. Tidak kuat menampungnya!” kata jae joong, dengan gaya cute-nya yang membuat orang gemas. Tapi untuk yunho, semua itu membuatnya cemas. Takut jae joong meninggalkannya duluan.

KKKKRRRIIINNNGGGG…

Jam weker bulat bergambar doraemon berteriak kencang menyuruh sang empu bangun karena hari sudah harus dimulai.

“ahh.. ini kan hari sabtu!!” kata jae joong malas sambil mematikan jam weker doraemon-nya.

Dddrrrttt… ddrrrttt..

Sekarang HP-nya bergetar menyuruhnya untuk mengangkatnya. Nomor yang sangat dikenal. Langsung saja ia memencet tombol hijau dan mendekatkan HP-nya ke kupingnya.

“ne??”

“JOOONGGGIIIEE BANGUN!!!!!”

Teriakan super keras itu membangunkan jae joong dari alam bawah sadarnya. Ia baru sadar kalau hari ini adalah harinya check up untuk melihat perkembangan kanker di otaknya. Ia selalu check up bersama yunho, kegiatan ini sebenarnya sudah berlangsung selama ia hidup.

“ne, kau tunggu di kamarku, ok? Aku akan mandi!”

Bip—

Sambungan telepon di putus tanpa perasaan. Langsung saja jae joong masuk ke kamar mandi yang ada di dalam kamarnya.

Yunho memutar knop pintu kamar jae joong dan masuk ke dalamnya setelah melihat keadaan kamar yang selalu rapi. Koleksi buku, kaset, accesoris lain di tata dalam beberapa ruangan terpisah di satu lemari. Sangat rapi! Mungkin semua orang yang masuk kamar itu tidak percaya kalau lelaki itu sendiri yang merapikannya. Bagaimana tidak? orang tuanya selalu punya pekerjaan di luar negeri, saudaranya yang lain tidak bisa diterima oleh jae joong. So, harus diakui kalau jae joong sendiri yang merapikan.

“kau sudah lebih dari 7 tahun ini masuk ke kamarku. Kenapa masih terpesona juga?” canda jae joong setelah keluar dari kamar mandi.

Yunho tersenyum, senyum termanis yang tidak pernah ia berikan pada siapapun kecuali jae joong, sang lelaki manis yang jadi pujaan di sekolah.

“kau tahu, aku masih bingung dengan otakmu. Pelajaran pak kim kau bilang susah, pekerjaan rumah seperti ini malah gampang. Ckckck..” balas yunho.

“cepat pakai bajumu. Nanti kau dimarahi dokter shim!” kata yunho setelah terpaku beberapa saat karena terpesona dengan penampilan lelaki di depannya yang sedang telanjang dada itu.

“ne, yunho ssi!!”

@ dr shim’s room

“ini memang mukjizat. Kau bisa hidup sampai 2 tahun setelahnya. Tapi—“ dokter shim changmin melihat hasil rontgen otak jae joong. “—keadaan makin memprihatinkan!”

Jae joong menanggapinya dengan santai. Ia tahu kalau keadaan akan menjadi bak sinetron murahan yang menjual overacting pemainnya, kalau tidak ya body.

“aku tahu!” kata jae joong akhirnya, dengan nada santai. “aku tahu kalau hal ini akan datang. So, berapa lama aku bisa hidup lagi?”

Dokter shim menggeleng. “belum ada diagnosa.”

“ok. Sekarang, bagaimana dengan yunho?”

“biar dia yang mendengarnya. Sekarang, kau keluar.”

Jae joong mengikuti saran dokter spesialis kankernya dari kecil. Lebih baik ia tidak ikut campur urusan orang. Biarlah ia mengurus urusannya sendiri, dan yunho mengurus urusannya sendiri.

Dokter shim memperhatikan bayangan pasien kecilnya yang telah menjadi dewasa itu keluar. Kim jae joong, anak dari keluarga pengusaha ternak yang menderita kanker otak, yang tidak pernah tersenyum pada orang selain partner-nya—yunho, dan tidak pernah peduli nasib. Ia selalu yakin kalau tuhan telah mengaturnya sehingga ia tidak perlu susah-susah mengaturnya juga.

“dokter!!” panggil yunho, partner jae joong yang paling ceria, murah senyum, dan peduli pada nasib. “bagaimana? Apa aku bisa lebih lama?”

Dokter shim tersenyum. “belum ada diagnosa lagi. Aku bukan tuhan disini.” Jawab dokter shim. “penyakitmu menyebar dengan sangat lambat. Jadi kau bisa santai.”

Yunho tersenyum senang. Waktuku masih banyak untuk menemani joongie di dunia!

“tetap jaga kesehatan.” Dokter shim menunjuk dadanya. “check up terus jangan sampai darah putih mendominasi. Dan hatimu—“

Yunho mengangguk. Lalu keluar dari ruangan penuh misteri itu untuk menemui sang pujaan hati. Jae joong sudah bosan menunggu rupanya. Ia duduk sambil mengadukan kedua ibu jarinya, menentukan siapa pemenangnya. Setelah yunho mendepaninya, jae joong baru sadar.

“kau sudah selesai?” tanya jae joong sambil berdiri.

“kau bisa lihat sendiri.” Jawab yunho.

“aku yakin kau akan sembuh.”

“tidak.” Yunho merangkul bahu lelaki itu. “kanker belum ada obatnya. Kau tahu itu kan?”

“yeah, aku tidak perlu memikirkannya. Tuhan sudah mengaturnya. Jadi, tidak ada hak untukku menghancurkannya. Now, ke ruangan anak-anak?”

Yunho mengangguk. “aku yakin mereka sudah menunggu!”

“ya tuhan, aku lupa bawa cokelat! Bagaimana??”

“ok. Kita pulang sebentar dan kesini lagi. Kau sudah menyiapkannya kan pasti?”

Jae joong mengangguk. Lalu masuk ke dalam mobil sedan yunho.

***

“anak-anak!!!” sapa jae joong ceria saat memasuki ruangan paling mencolok di rumah sakit itu.

“pagi anak-anak!!” sapa yunho juga.

“PAGI HYUNG.. OPPA..!!” sahut anak-anak penderita kanker itu.

“bagaimana kabar kalian hari ini?” tanya jae joong sambil duduk di depan seorang anak laki-laki penderita kanker otak, sama sepertinya.

“BAIK HYUNG.. OPPA..” jawab anak-anak itu tanpa mempedulikan lagi penyakitnya.

Di saat seperti ini, jae joong selalu ingat masa-masa dalam kurungan indah itu. Anak-anak lain menganggapnya sebagai taman bermain, atas usulan suster-suster yang bertugas disana. Tapi bagi jae joong, itu adalah tempat paling menakutkan yang pernah ada. Tempat itu bukannya menentramkan, tapi malah mencemaskannya. Tempat itu malah membuat jae joong harus setiap hari menahan sakit kalau-kalau teman-temannya disitu meninggal satu demi satu. Mereka—anak-anak penderita kanker—harus diberi ujian mental seperti itu. Betapa sakitnya melihat formasi anak-anak disana tumbang satu demi satu!

“jae joong hyung, ini masih bersisa!” kata joo hwan sambil memberikan cokelat padanya.

“hah?” jae joong jadi salah tingkah.

“makanya, jangan melamun terus!” sahut yunho dari barisan belakang. “coklat sudah kubagikan dari tadi!”

Jae joong tersenyum sinis. Lalu menerima cokelat dari anak penderita kanker darah itu.

“kenapa masih bersisa 1?” gumam jae joong.

“shin ae meninggal kemarin.” Joo hwan menjawab gumaman jae joong.

Shin ae.. shin ae.. jae joong ingat! Itu adalah anak perempuan penderita kanker hati. Anak itu telah memberi kesan yang baik bagi anak-anak, dan jae joong sendiri. Tanpa sadar air matanya pun turun tanpa disuruh.

***

“inilah yang kubenci kalau mendatangi tempat itu!” kata jae joong setelah keluar dari surganya anak-anak penderita kanker.

Yunho mengiyakan. “kau ingat, aku pernah menangis saat lee hwan tidak kuat menahan kanker hatinya?”

Kejadian itu sudah terjadi 5 tahun lalu, saat mereka berdua berumur 11 tahun. Lee hwan juga teman jae joong. Tapi jae tidak terlalu menganggapnya teman. Itu semua untuk menghindari sakit hati terhadap orang-orang di dekatnya.

“kau salah jika menganggap semua orang adalah musuh!” kata yunho. “toh kau sudah ditakdirkan begitu.”

“aku tidak menganggap semua orang itu musuh kok!” jae joong memasukkan lollipop yang ia beli tadi ke mulutnya. “aku hanya menganggap mereka angin, yang akan datang lalu pergi lagi.”

“kau memang perlu pelajaran untuk ini. Hanya satu yang belum bisa kau lakukan, jae!” yunho mempercepat langkahnya menuju mobil.

“kapan lagi kau kemo?” tanya yunho di mobil.

Jae joong masih mengemut lolli-nya. “mungkin besok?”

“kenapa tak sekalian hari ini?”

Jae joong menggelengkan kepalanya. “aku takut rambutku akan berkurang lagi, dan akhirnya nanti malah menyebar lebih cepat.”

“ckckck..” yunho mendecakkan lidah. “mana mungkin kemo menghasilkan itu??”

“kau bisa lihat aku! Setiap hari pasti rambutku rontok. Kenapa sih harus begini kejadiannya?? Ckckck..”

Yunho menaikkan dua bahunya. Lalu memasukkan gigi untuk menambah kecepatan mobilnya.

###

“aku tidak bisa melakukan apapun lagi,” kata dr shim melihat hasil rontgen otak jae joong. “harapanmu untuk hidup lebih lama menipis.”

Seperti biasa jae joong tidak menampilkan ekspresi kekagetan. Seperti semua sudah diketahui sebelumnya. Ia hanya menyunggingkan senyum manis.

“arasso!”

“mau tahu berapa lama lagi?” tawar dr shim.

Jae joong mengangguk mantap. Entah kenapa ia melakukannya padahal sebenarnya ia belum siap mendengarnya.

“2 bulan!”

Kali ini jae joong menggigit bibir bawahnya. Lalu duduk bersandar di sofa ruangan dokter shim sambil menatap langit-langit ruangan. Dokter shim sudah tahu kejadiannya bakal begini. Mana ada orang yang terlihat sangat tegar disaat diagnosis kematian?

“kau tidak perlu khawatir. Kau masih bisa bertahan lebih lama kalau tuhan mengizinkan.” Kata dokter shim mengobati kecemasan jae joong.

“aku tidak cemas!” kata jae joong. “aku hanya ingin cepat-cepat mencicipi kehidupan dunia setelah kematian!”

Jae joong adalah anak yang suka berkhayal. Selama di ruangan khusus anak kanker hanya dia yang diam dan tidak menikmati yang ada. Orang tuanya selalu menitipkannya setiap hari ke tempat itu bersama jung yunho, partnernya. Seharian hanya dipenuhi dengan khayalan dari buku yang pernah dibacanya.

“aku ingin jadi malaikat penjaga kalau aku mati nanti!” kata jae joong saat itu.

“boleh aku ikut?” tanya yunho yang sudah mulai menikmati khayalan jae joong.

Jae joong mengangguk. Diikuti sorakan meriah yunho.

“dokter??” jae joong mengguncang-guncangkan tubuh dokter shim yang sedari tadi tidak bergerak dari tempatnya.

“eh? Ada apa?” tanya dokter shim balik.

“harusnya aku yang bertanya!” jae joong menggelengkan kepalanya. “ok. Aku sudah selesai. Gamsahamnida!!”

Setelah membungkuk hormat pada dokter yang menjaganya sejak kecil, jae joong keluar ruangan. Biasanya yunho sudah menunggu di depan ruangan sambil berkacak dada menanti jawaban jae joong. Sekarang tidak. Yunho ada urusan dengan ‘teman’ perempuannya.

Entah kenapa jae joong selalu merasa risih melihat yunho berdekatan dengan teman-temannya. Jae joong merasa disingkirkan oleh yunho. Hanya yunho yang menjadi teman jae joong, dan jae joong teman sejati yunho. Itu yang diucapkan dua anak itu.

***

“kenapa?? Apa aku kurang menarik?” tanya seorang perempuan pada jae joong.

“tidak!” jawab jae joong santai. “kau hanya salah memilihku.”

“aku merasa benar!” belanya.

“tapi kenyataannya kau salah. Kau memilih orang yang penyakitan, bodoh, sinis, egois, dan kejam bagimu.”

Perempuan itu diam. Memang benar jae joong seperti itu. Tidak pernah sekalipun jae joong menyembunyikan sifatnya.

“aku punya kanker otak. Kau tahu kan penyakit gila itu? Dan 2 bulan lagi, kau tidak bisa melihatku lagi! Mungkin lebih cepat? Aku harap begitu!”

Perempuan itu menundukkan kepala. “jadi, kau menolakku?”

“itu kau tahu!” jawab jae joong. “aku tidak mau kau menangisiku bila aku pergi saat aku dipangkuanmu seperti di sinetron itu! Aku ingin kau bahagia dan tidak melihat orang sejahat aku.”

Perempuan itu menyimpan kekaguman pada jae joong. Tidak ada orang yang blak-blakan tentang kehidupannya. Jae joong tidak egois! Ia tidak suka dekat dengan orang karena takut orang itu akan terus-terusan mengingat kematiannya, masa hidupnya, masa sekolahnya, dan lain-lain.

“aku mengerti!” kata perempuan itu. “kau memang orang yang baik!”

“baik?” jae joong mengernyit mendengar kata itu.

“yeah..” perempuan itu menatap jae joong. Masih ada sedikit air mata yang membasahi pipinya. “tidak ada orang yang berpikiran jauh seperti itu. Tapi, caramu salah! Kau memang harus belajar tentang kehidupan yang lebih jauh.”

Perempuan itu lalu menundukkan badan hormat. Lalu pergi dari lab bahasa yang sudah kosong sedari tadi dan tidak ada lagi yang belajar di lab itu. Jae joong hanya bisa diam dan merenungi perkataan perempuan itu yang INTINYA sama seperti perkataan yunho.

“joongie, apa yang kau lakukan disitu?!!” tanya yunho dari pintu lab.

Jae joong berjalan mendekati yunho. “harus berapa kali kubilang jangan memanggilku dengan nama itu lagi!!”

Yunho hanya tersenyum manis. Lalu merangkul jae joong yang sudah dianggap menjadi adiknya ke lapangan.

Seperti biasa, pelajaran olahraga di habiskan di pinggir lapangan. Yunho dan jae joong menopang dagunya masing-masing. Ingin merasakan asyik dan lelahnya berolahraga.

“andaikan aku punya kesempatan merasakannya!” gumam jae joong.

“kita dilahirkan di tempat yang sama, waktu berbeda, dan kondisi yang sama. Jadi, tidak hanya kau yang belum merasakannya. Temanmu di sebelah sini, juga belum pernah merasakannya!” hibur yunho.

“tapi setidaknya kau masih bisa bernafas lega. Nah aku?” jae joong menggelengkan kepalanya. “aku hanya bisa diam dari kecil. Memandangi teman-teman sebayaku yang berjatuhan karena bermain bola. Keringat mengucur deras, senyum mengembang,”

“memangnya kau dari kecil sudah diketahui kanker otaknya?”

“belum.” Kata jae joong. “pertama aku memang terlahir tidak sehat. And then aku mempunyai tumor. Tapi didiamkan selama beberapa tahun. Untungnya perkembangannya tidak terlalu cepat. Beberapa bulan sebelum ulangtahun-ku yang ke-9, aku tidak pernah sekolah karena setiap datang aku langsung mimisan, dan akhirnya aku dibawa pulang. Dan tepat beberapa hari setelah umur 9 tahun, barulah diketahui kanker otaknya!” jae joong menelan ludahnya karena lelah menceritakan pengalaman kelam-nya. “kau sendiri bagaimana?”

Yunho tertawa miris. “aku memang lebih beruntung daripada kau!”

“ya sudah, jangan ceritakan! Malah membuatku iri.”

“ehm???”

“ok ok. Ceritakan atau kau kubunuh!”

Yunho menelan ludahnya untuk melegakan tenggorokannya. “kecil dulu, ayahku selalu mengajariku olahraga. Tapi aku tidak bisa! Malah ayahku sampai kesal denganku. Dan saat aku ingin berolahraga, disitulah penyakitku datang!”

“kok bisa?”

“yeah..” yunho menceritakan semuanya. “aku juga bingung. Yang pasti, aku langsung muntah darah setelah berloncatan. Kakakku sampai bilang kalau aku vampir karena memuntahkan banyak darah. Setelah itu, aku pingsan. Dan akhirnya aku di diagnosis liver. Tapi ternyata aku leukimia. Untungnya tidak terlalu parah. Yah.. hatiku juga harus dijaga memang. Ckckck.. memang tuhan aneh!”

Jae joong menatap yunho. “maksudmu?”

“yeah.” Yunho tersenyum menghadap anak-anak yang bermain basket di lapangan. “untuk apa tuhan menciptakan makhluknya kalau kita akan kembali lagi? Itu kan menyusahkan! Ckckck..”

“kau tidak boleh begitu!” jae joong menepuk pundak yunho sambil tersenyum. “tuhan menciptakan kita untuk memberi pelajaran tentang kehidupan pada orang lain.”

“tapi kenapa harus aku yang begini? Kenapa bukan anak yang ingin mendapatkannya atau setidaknya anak yang malas. Kenapa—kenapa harus aku?”

“just god who knows that!” jae joong tersenyum miris. “kita lahir tidak bisa menentukan siapa ibunya, kapan lahirnya, tempat lahirnya, dan kondisi yang diinginkan. Orang tua bayi memang ingin mempunyai anak yang sehat, cerdas, dan kuat. Mana ada orang tua yang tidak mau? Cerdas karena itu akan membuatnya dan keluarganya terlihat terhormat, sehat dan kuat karena itulah yang diperlukan untuk menggapai cita-cita!”

Yunho mencerna kata-kata lelaki di sebelahnya. Baru kali ini lelaki itu mengatakan hal tentang kehidupan. Biasanya jae joong selalu pasrah, tidak peduli dengan apa yang tuhan perbuat untuknya. Menurutnya itulah yang terbaik.

“aku memang tidak peduli dengan kehidupan ini.” Kata jae joong mengerti pikiran yunho. “tapi aku tahu jalan pikiran tuhan!”

“yeah, aku memang tidak bisa membodohimu untuk urusan seperti ini.” Kata yunho pasrah.

Dua orang itu terdiam beberapa saat. Mereka hanya menatap kosong ke arah depan. Tanpa disadari, seorang laki-laki tinggi dan tampan pujaan wanita datang sambil melemparkan bola basket ke arah yunho. Reflek yunho langsung menengok. Ingin tahu siapa yang dengan sengaja melemparkan bola itu.

“enak ya jadi kalian!” kata yoochun, lelaki itu. “tak perlu susah-susah, berlarian kesana kemari saat pelajaran olahraga!”

Yunho  tersenyum sinis. “what?! Enak? Kau kira berada dekat dengan kematian enak apa?! Malah aku yang ingin jadi sepertimu.”

“yeah, aku juga kanker loh!” yoochun mengambil bola basket yang ada di pangkuan yunho. “KANtong KERing! Hahaha..”

Candaan yoochun tak digubris oleh dua sehabat itu. Malah dua orang itu merasa tersindir karena penyakit mematikan seperti K.A.N.K.E.R itu diplesetkan. Mereka yang mengatakannya tidak tahu seberapa bahayanya penyakit berhuruf 6 itu.

“kenapa? Kalian tersindir? Ohh.. maaf! Tapi inilah kenyataannya. Kalian harus melawannya!” kata yoochun, entah menyemangati atau menyindir.

“kami sudah cukup lelah melawannya.” Jawab yunho. “kau tidak tahu betapa susahnya hidup seperti ini.”

“yeah..” yoochun menerima botol berisi air mineral dari junsu, pacar rahasianya. “aku belum pernah merasakannya! Aku penasaran bagaimana berteman dengan kematian itu.. ckckck..”

“enak!” jawab jae joong. “sangat enak! Kau coba saja. Berteman dengan kematian itu sama seperti berteman dengan tuhan. Kau bisa dekat dengannya. Apapun yang kau mau pasti terwujud!”

“kalau begitu, aku harus belajar dari kalian.” Yoochun tersenyum sambil melambaikan tangan dan langsung pergi.

“kau mengerti maksudnya??” tanya yunho, menatap jae joong di sebelahnya.

“mungkin dia punya sesuatu yang di sembunyikan.” Jawab jae joong, santai. Seperti tidak menyadari omongannya.

***

“bisa kau jelaskan apa maksudmu tadi?” tanya yunho pada yoochun, setelah pelajaran olahraga selesai.

Yoochun tersenyum. “nothing mean!” katanya sambil meneguk coca cola-nya. “entah kenapa aku benar-benar bersyukur punya teman sepertimu!”

“kenapa?”

“aku dilahirkan menjadi anak yang cerdas, pintar, sehat. Sedangkan kau dan jae joong, cerdas, pintar, tapi sakit! Apa yang perlu dibanggakan? Ckckck..”

PLAK!

Yunho langsung menonjok pipi yoochun sampai lelaki itu tersungkur kebawah. Kini yunho ada di atasnya.

“APA MAKSUDMU MENGATAKANNYA, HAH?!” teriak yunho.

Dua orang itu menjadi pusat perhatian anak-anak. Yunho terus-terusan melayangkan pukulan mematikan ke wajah yoochun.

“STOP!!!!” teriak seorang laki-laki, yang membuat dua orang itu berhenti baku hantam.

***

“ada untungnya kau melakukan itu?” tanya jae joong saat mereka berdua di kelas, tinggal berdua.

Yunho diam. Hanya menunduk dan matanya mengikuti arah gerak kaki jae joong.

“kenapa tak jawab?!” tanya jae joong sambil memukul meja keras. “ADA UNTUNGNYA KAU MELAKUKAN ITU?”

Yunho mendongakkan kepala. Ia menghentikan langkah jae joong yang berjalan mengelilinginya. Tatapan tajamnya mengarah pada tatapan tajam jae joong. Sempat ada pertarungan mata sebelum jae joong mengalihkan pandangannya dan pergi dari kelas yang sudah sepi satu jam lalu.

Besoknya, jae joong tidak masuk sekolah. Begitu juga sampai seminggu kemudian. Yunho merasa kesepian di kelas. Sendirian tanpa ada orang yang bisa diajak bicara tentang kehidupan yang makin lama makin menipis. Atau mungkin.. jae joong benar-benar sudah parah??

Yunho langsung berlari kencang ke rumah jae joong tanpa peduli teriakkan guru, satpam, dan teman-temannya yang menyuruhnya untuk tetap di sekolah. Bahkan beberapa guru sudah menyiapkan motor untuk membantu mengejar yunho yang kabur.

*jae joong POV*

“ayolah, mau apa lagi kau disini? Tidak ada waktu lagi! 2 bulan itu tidak lama, jae joong!!” kata appa.

Aku tetap diam. Tidak menyahuti. Bahkan kata-kata itu saja hampir tidak terdengar di kupingku. Aku menaikkan kaki ke atas meja. Badanku kusandarkan pada sandaran sofa yang empuk.

“maka itu aku tetap disini.” Kataku akhirnya. “aku tinggal menunggu kematian. Gampang kan?”

“joongie..” umma mengelus rambutku. “tolonglah. Jangan bersikap seperti anak kecil.”

“anak kecil?” aku menegakkan posisiku. Kuarahkan tatapanku ke tatapan umma. “malah inilah yang dimaksud dewasa. Aku sudah berpikir jauh. Apanya yang kecil?”

Appa duduk di depanku. Pancaran matanya mengisyaratkan permohonan. “ikut ke new york, berobatlah!”

Aku menggeleng. “malah aku akan menemui ajal lebih cepat. Aku masih ingin menikmati hidup. Walau hanya satu jam!”

Umma mengelus lenganku. “ayolah.. kau anakku satu-satunya. Aku tidak mau kau pergi!”

“tapi aku harus pergi.” Aku menegaskan. “tidak ada manusia yang tidak akan pergi. Pasti akan berakhir sama! Kalau begitu memang tidak usah ada makhluk di dunia. Haahh~”

“dasar anak ini! Harusnya aku tidak memberimu buku tentang kematian sebelumnya!” appa beranjak pergi meninggalkanku.

Aku memang mendapatkan pelajaran kehidupan ini dari sebuah novel, yang bercerita tentang anak penderita kanker yang menggampangkan hidup, yang akhirnya meninggal dalam keadaan menyesal.

Tapi aku tidak berpikir aku akan menyesal. Bagiku penyesalan hanyalah sebuah angin yang akan pergi lagi kalau sudah membuat orang merasa sedikit lebih sejuk.

Aku merebahkan diri di sofa. Tanganku kujadikan bantal untuk melihat langit-langit rumahku yang dianggap orang sangat bagus. Padahal itu hanya ada ukiran berbentuk galaksi.. umm.. andromeda? Dan juga rasi cassiopeia.

“JOONGIE!!!” teriak seseorang.

Aku tersadar dari lamunanku dan menoleh ke asal suara. Suara yang ku kenal. Suara berat, bass, dan—

“KEMANA SAJA KAU?!!” teriaknya panik sambil mendekatiku.

Aku hanya diam dan mempersilakannya untuk berbicara lebih banyak. Aku bosan kalau aku terus yang berbicara. Mungkin orang ini ingin memarahiku karena aku tidak masuk selama seminggu karena kondisiku yang makin parah.

Dokter sudah memvonisku akan mati lebih cepat. Aku biasa saja. Kematian adalah hal yang biasa dikalangan makhluk hidup. Bahkan makhluk yang tidak hidup seperti i-pod kesayanganku juga bisa mati kapan saja kalau ada sedikit kecelakaan.

“ku kira kau sudah mati!” kata yunho sambil duduk di sebelahku.

“ku harap juga begitu.” Kataku mengiyakan ucapannya.

“aku hanya bercanda, joongie!! Kenapa kau meresponnya begitu??” yunho memelukku. “aku kira kau sudah mati!!” terdengar isak tangis dari bibirnya.

Aku tahu ia hanya bercanda. Tapi aku juga ingin mati. Untuk apa aku hidup kalau aku hanya sendiri? Bukan.. hanya ada yunho? Jung yunho, orang yang mau mendengarkanku selama ini, orang yang mau menemaniku selama ini, orang yang mau membantuku menyadarkan kehidupanku..

“sebenarnya kau mau apa kesini?” tanyaku akhirnya.

Yunho mengangkat wajahnya. Masih ada sedikit air mata yang mengaliri wajahnya. Ia tersenyum sambil mengacak-ngacak rambutku yang tinggal sedikit. Seperti saat berumur 9 tahun dulu..

“aku ingin bertemu denganmu!” jawab yunho.

Mwo? Bertemu denganku? Dasar orang aneh!! Yunho memang suka melantur. Tapi aku melihat keseriusannya mengatakan ini. Kenapa??

“kau tahu, selama seminggu ini aku dihantui kesepian. Aku kesini juga dikejar-kejar oleh guru-guru. Aku—aku benar-benar tidak bisa hidup tanpa teman seperjuanganku!” kata yunho panjang lebar.

*Jae joong POV end*

“kau tahu, selama seminggu ini aku dihantui kesepian. Aku kesini juga dikejar-kejar oleh guru-guru. Aku—aku benar-benar tidak bisa hidup tanpa teman seperjuanganku!” kata yunho panjang lebar.

Jae joong mengernyit. “ternyata kau hanya menganggapku sebagai teman perjuangan ya?”

Yunho tersentak. “memangnya kau mau aku anggap apa?”

“sahabat? Mungkin? Entahlah!”

Yunho tersenyum dibalik air matanya. “dasar!! Oke, mulai sekarang aku menganggapmu sebagai sahabat. Sahabat sejati!!” yunho menaikkan satu jari kelingkingnya. “sahabat sejati! Selamanya..”

Jae joong menggigit bibir bawahnya. Menahan air mata yang sebentar lagi akan keluar. Dengan gemetar jae joong menaikkan satu jari kelingkingnya untuk dikaitkan dengan kelingking besar yunho. Dan hari itulah mereka resmi menjadi sahabat sejati.

“aku tidak janji akan selamanya!” kata jae joong. “tinggal sedikit waktuku di dunia..”

Yunho tersentak. “apa maksudmu??”

Jae joong tersenyum tanpa sadar. “yeah.. beberapa minggu lalu dokter shim memberitahukan umurku yang tinggal menghitung minggu.. haahh..”

*yunho POV*

“yeah.. beberapa minggu lalu dokter shim memberitahukan umurku yang tinggal menghitung minggu.. haahh..”

Kenapa anak itu masih bisa santai dengan umurnya?? Aku benar-benar tidak bisa membaca jalan pikiran anak itu. Ia meninggalkan kesan yang tidak menarik agar orang-orang tidak mengingatnya dan menjadikannya kenangan, ia selalu mengatakan tidak pernah menyesal..

“sekarang kita bukan berlomba untuk hidup lebih lama. Tapi mati lebih cepat..” kata jae joong. “mungkinkah aku duluan?”

Aku diam. Aku tidak mau menanggapi hal gila seperti ini. Untuk apa juga aku memikirkan kematian? Lebih baik menunggu Tuhan yang akan menjemput kita nanti. Kematian itu takdir. Untuk apa takdir dijadikan taruhan?

“kita keluar?” tanya jae joong dengan wajah ceria.

“hah??” aku bingung melihatnya cepat merubah mood-nya.

“kita keluar. Sebelum aku tidak bisa keluar lagi!”

Yunho pun langsung berdiri mendengar sahabatnya mengajak keluar. Itu berarti jae joong sudah mengerti pemanfaatan waktu sebelum mati.

TBC

Apakah yang akan terjadi setelahnya??

Semoga aja bakal beneran 2SHOOT.. haha.. di part 2 insya allah ada NC dan saya protect..

Oh ya,, saya udah ganti nomer loh jadi 085697824342.. jadi kalo mau ngirim mario tinggal SMS itu aja *plakk

Gomawo 4 understanding^^

Maap kepanjangan..

One thought on “FF : “sweet promise” part 1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s