“stand by u” part 1-5 (end)

PART 1

“jae, mianhe..” kata-kata yunho membuat air mata jae joong mengalir deras. Sederas hujan yang sekarang mengguyur bumi ini. Tubuh dua orang itu basah kuyup. Tapi mereka tetap di tempat.
“ini juga bukan mauku. Aku.. Aku akan kembali 5 tahun lagi!” kata yunho lagi yang membuat air mata lelaki manis (g brani bilang cantik! Haha) disebelahnya bertambah deras.
“aku janji, aku akan kembali kesini 5 tahun lagi. Aku akan menyuruhmu menjemputku di bandara, aku akan berdiri terus sampai kau datang!” janji yunho. Air matanya sekarang sudah tak bisa ia bendung. Ia biarkan air matanya bercampur dengan air hujan.
“apa kau rela, meninggalkanku?” tanya jae joong yang masih setengah terisak.
“tidak! Aku ingin membawamu. Tapi, apa daya? Aku harus sendirian kesana! Aku janji–”
“jangan ucapkan janji yang tidak bisa kau tepati! Kau jahat! Aku tak butuh orang sejahat kau! Aku– aku tak butuh kau lagi!” jaejoong langsung meninggalkan yunho sendirian di bangku taman itu. Hujan semakin deras. Bersamaan dengan air mata kedua orang itu yang semakin deras mengingat kejadian tadi.

5 tahun kemudian..

*jae joong POV*
5 tahun sudah yunho meninggalkanku. Dia tak memberi kabar. Dan aku tak mau mendengar kabarnya lagi karena itu sama saja aku menyakikiti diriku sendiri. Sehari sebelum kepergiannya, dia menyatakan perasaannya padaku. Ternyata dia.. Heu.. Aku tak suka dia! Sudah cukup hatiku disakiti olehnya!
5 tahun lalu, yunho pergi ke perancis untuk menyelesaikan proyek, dan studinya. Dia diberi proyek besar oleh ayahnya. Dia harus melaksanakan itu demi perusahaan ayahnya. Aku bisa memaklumi kalau itu proyek hotel, kerjasama ini itu dll. Tapi ini ?? Dia harus berjodoh dg putri seorang direktur perancis yg kaya, punya anak perempuan super cantik. Perusahaan ayahnya perlu dana untuk membangun lagi perusahaan.
Dddrrtt drrtt..
Hp ku bergetar. Ada sms masuk. Sms dari nomor yunho! Aku membukanya. Melihat tulisan yg ditulis dg bhasa inggris yang memberitahukan keberadaan yunho. Benarkah itu? Tuhan..

TBC

PART 2

*still jae POV*
tuhan.. Benarkah ini? Benarkah seperti itu kejadiannya? Benarkah yunho mengalaminya? Dan sekarang ada di tempat itu?
Aku tak bisa membendung air mataku lagi. Aku menangis lagi! Setelah 5 tahun aku menahan air mata ini.
Aku langsung berlari ke tempat itu. Tempat yang ditunjukan oleh orang yang mengaku tunangan yunho. Orang yang aku benci karena telah merebut yunho dariku.
“bagaimana.. Keadaannya?” tanyaku ngos-ngosan karena telah berlari dari rumah ke rumah sakit.
“dia kritis!” jawab perempuan itu. “kau siapanya? Kenapa speed dial pertama kau?”
bagaimana aku menjawabnya? Haruskah aku bilang kalau aku adalah orang yang dicintai seorang lelaki tampan pujaan wanita, jung yun ho?
“jawab aku! Kenapa dia selalu memencet nomor 1? Dan dia selalu marah, atau menangis setelah itu. Apa yang kau lakukan padanya?”
aku terdiam. Tak mungkin aku menjawabnya. Tak mungkin aku menjawabnya yun! Bagaimana yun? Bangunlah dan tolong aku!
“siapa keluarga terdekat tuan jung?” tanya dokter itu setelah keluar ruangan UGD.
“saya tunangan!” perempuan itu menjawabnya.
“apakah anda nona kim–” dokter itu menatapku.
“saya laki-laki!” jawabku sabar. “saya kim jae joong. Te.. Temannya.”
“anda.. Masuklah!” dokter itu menyilakanku masuk ke ruangan tempat yunho dirawat. Aku mendengar perempuan itu memaksa dokter untuk masuk. Tapi dokter itu tak mengijinkan. Akhirnya perempuan itu menyumpahiku –tapi aku tak yakin juga– dengan kata-kata yang tak aku tahu. Mungkin bahasa prancis.
Aku duduk di sebelah tempat tidur yunho. Kulihat lelaki itu tertidur dengan wajah yang menunjukan keletihan. Sebanyak apa beban yang kau dapatkan disana, yun? Apa kau marah padaku karena aku tak menjawab telponmu, smsmu, dan apapun yang kau kirimkan padaku? Apa itu salah satu beban hidupmu?
Sebenarnya perasaanku padanya tetap sama. Aku tetap mencintainya. Walau dulu aku bilang aku tidak butuh orang sepertinya, tapi dalam hati, aku sangat membutuhkannya.
“yun, apa kabar?” tanyaku pada yunho yang tertidur. “kau merindukanku?” tidak ada jawaban dari yunho. Tentu saja! Mana ada orang yang sedang tertidur pulas di kasur rumah sakit menjawab? Yang ada sebentar lagi aku digiring ke rumah sakit jiwa terdekat.
Seseorang menepuk pundakku. Aku menengok ke samping. Dokter yang tadi memeriksa yunho!
“ne, euisa?” tanyaku.
“gegar otaknya.. Lumayan parah! Mungkin hanya bisa bertahan sampai 3 bulan. Walaupun.. Dia tidak membuka matanya.” beritahu dokter itu.
Deg–
Jantungku serasa berhenti berdetak. Rasanya dunia ini berputar. Mungkin sebentar lagi aku akan pingsan.
“apa.. Tidak ada cara lain?” tanyaku. Air mataku mulai jatuh. Aku tidak siap menghadapinya! Siapa aku tanpa yunho? Dengan siapa aku tanpanya? Apa kata orang tentang aku nanti? Kim jae joong, anak pelacur dan pencuri? Selama ini hanya yunho yang dekat denganku. Yunho percaya denganku! Hanya dia yang percaya kalau aku tidak seperti orangtuaku!
“tidak ada orang yang bisa menentukan siapa orangtuanya, pekerjaan orangtuanya, dan latar belakang keluarganya. Aku percaya kalu kau tak seperti itu! Kau anak yang baik. Kau anak yang polos, pintar, walaupun tak ada yang tahu! Buktikanlah, joongieku yang manis!” kata yunho saat kita baru pertama bertemu. Saat ayahku tertangkap basah mencuri perhiasan di mall milik keluarga yunho.
“maaf tuan jae joong,” kata dokter itu. “aku..” dokter itu menatapku sedih. Dia mencengkram kedua bahuku sambil menundukkan kepalanya. Beberapa menit kemudian dia mendongakkan kepala dan mengatakan..

TOBECONT…. *kabur..!!

PART 3

(opening song : Stand by U – thsk)

“maaf tuan jae joong,” dokter itu menatapku sedih. “aku..” Dia mencengkram kedua bahuku sambil menundukkan kepala. Beberapa menit kemudian dokter itu mendongakkan kepala dan mengatakan..
“aku.. Akan berusaha sebaik mungkin bersama dokter lain. Kami akan mencari jalan keluar untuk menyelamatkan tuan jung!” kata dokter itu lalu melepaskan cengkramannya. “teruslah berdoa!”
“tunggu!” cegahku. “kenapa.. Kau menyuruhku masuk? Bukan tunangannya?” tanyaku.
“mungkin kau tidak percaya. Tapi ini benar!” kata dokter itu. “saat dia dibawa kesini, dia terus memanggil nama ‘kim jae joong’. Setelah dia mengucapkan nama itu tiga kali, dia langsung tidur. Dan sampai sekarang ini!” dokter itu tersenyum. Senyum penyembunyian kalau dia bersedih. “permisi!” dokter itu membungkuk dan keluar ruangan ini.
Sekarang, tinggal aku dan yunho. Yunho tetap pada posisinya.
“yun? Kau lapar? Mau kubuatkan makanan? Aku yakin kau tidak suka makanan disana! Lidahmu kan lokal. Hanya bisa menerima masakan orang tertentu.” aku mengajaknya bicara lagi. “yun, kau mau tahu apa yang aku lakukan saat kau pergi?” tanyaku. “aku hanya diam. Aku menangis. Malahan, aku tidak makan beberapa hari. Apakah aku tambah kurus, yun?”
Aku menatap wajah pucatnya dibalik balutan perban yang menutupi lukanya.
“yun, kenapa kau bisa seperti ini?” tanyaku. “aku masih tidak percaya kalau ini adalah kau. Aku juga tak percaya kalau kau mengalaminya! Kenapa kau bisa sangat ceroboh? Aku kan sudah bilang utamakan keselamatan!” tanpa sadar aku marah-marah padanya. Aku menangis di tempat tidurnya.
“yun, aku pulang ya!” kataku. “ternyata sudah malam! Padahal aku kesini tadi jam 10!” aku menatap wajahnya. Wajah yang sangat ku cintai. Aku tersenyum padanya. Walaupun dia tak melihatku. “annyeong!” aku menyeret kakiku keluar ruangan. Pandanganku terus tertuju padanya. Aku takut yunho kenapa-napa. Tuhan, jagalah malaikatku! Jangan kau ambil dia! Aku masih mencintainya.

Besoknya..
KRING.. KRING.. KRING..
Aku tersentak bangun ketika mendengar teriakan jam wekerku. Jam ini mengingatkanku pada yunho! Dia yang memberikan ini padaku karena dulu aku tidak punya jam. Haha.. Memalukan! Ngomong-ngomong, aku lupa kalau yunho sedang menungguku! Aku langsung mengambil handuk dan mandi cepat. Setelah itu aku ke halte naik bus ke rumah sakit itu.
“annyeong yun!” sapaku sesampainya aku disana. “joongie-mu yang manis ini datang!”
aku lalu memeluknya. Tapi tidak seerat biasanya. “yun, aku merindukanmu! Aku ingin merasakan pelukan hangatmu lagi! Boleh?” tidak ada jawaban dari yunho.
Klek..
Ada yang membuka pintu. Aku langsung berbalik badan dan melihat seorang lelaki dengan baju serba putih dan stetoskopnya. Tunggu! Ada dua lelaki lagi yang memakai pakaian layaknya bos perusahaan.
“kau..” pekik salah satu lelaki yang memakai jas hitam berdasi belang (?) sambil menunjukku.
Benarkah itu..?

TBC *babay.. Aye kabur dulu !!

PART 4

“kau..” pekik salah satu lelaki berjas hitam dengan dasi belang (?) sambil menunjukku.
Benarkah itu..? Benarkah itu.. Ayahnya yunho? Tuhan.. Aku tidak bermimpi kan?
“umm.. Aku permisi dulu..” kataku sambil membungkukan badan.
Dokter itu dan 2 orang tadi –termasuk ayah yunho– mendekat ke tempat tidur yunho. Dengan gemetar aku segera meninggalkan ruangan itu.
“tunggu!” kata ayah yunho. “kau kim jae joong kan? Anak pencuri perhiasan yang masih mendekam di penjara?”
Aku tersentak. Aku tidak membalikkan badan karena aku tak mau kalau ayah yunho melihatku dengan senyuman liciknya.
“kau..” ayah yunho mendekatiku. Dia memutar arah badanku. “apa yang mau kau lakukan lagi? Kau mau mencuri lagi dengan bantuan anakku?”
Pandanganku kabur. Mataku berkaca-kaca. Dan dalam hitungan detik air mata itu tumpah di pipiku.
“kau memakai cara yang salah nak! Yunho belum menjadi bos di perusahaan ini!” ayah yunho tersenyum licik. Dia mendongakkan daguku dengan kedua tangannya. Kita bertatapan! Seperti aku bertatapan dengan yunho. Bedanya, cahaya mata yunho bercahaya seperti malaikat. Dan orang ini, matanya tidak memancarkan cahaya apapun.
“kau dendam karena kejadian 7 tahun lalu itu?” tanyaku geram. “kau ingin aku mengembalikannya?” lanjutku. “apa yang harus ku kembalikan?” aku menghela nafas. “uang ratusan juta untuk mengganti modalmu? Berlian yang dulu ayahku curi?? Ok. Aku akan berusaha!” aku menepis tangan ayah yunho yang tadi menopang daguku. “walau aku tahu, aku tidak bisa mengembalikan. Dan kau akan tersenyum puas, mengajak orang-orang minum soju, karaokean, senang-senang?” aku menatapnya lebih dekat lagi. “dan otakmu, tak lebih baik dari orang-orang yang mencari belas kasihan di pinggir jalan!”
Ayah yunho kembali tersenyum dingin. “beraninya kau–”
“aku mengatakan itu pada orang yang tepat. Jadi untuk apa aku takut?” kataku.
“keluar!” kata ayah yunho. “KELUAR!! DAN JANGAN KEMBALI LAGI!!”
“Ok. Aku keluar! Ingatlah, aku, sudah menjadi bagian dari yunho. Aku dan dia tak bisa dipisahkan begitu saja! Jadi, aku akan terus kesini!”
“kau akan terima masalah lebih besar lagi kalau kau tak menurutiku!” kata ayah yunho.
“ingatkan aku tentang itu! Aku tidak takut padamu! Aku tidak bersalah apapun!” aku langsung keluar ruangan itu. Diluar, seorang perempuan, tunangan yunho berdiri berkacak dada di depan pintu.
“apa lagi?” tanyaku. “kata-kata keji apa lagi yang mau kau lontarkan padaku?”
“boleh aku bicara padamu? Sebentar saja! Aku mau membicarakan tentang yunho!”
“ya sudah cepat! Aku sibuk!”
“di belakang saja! Aku tidak suka berbicara di tempat seperti ini!”
aku dan tunangan yunho lalu berjalan menuju belakang. Di belakang ada taman yang indah sekali. Aku selalu memimpikan mempunyai rumah bertaman seperti ini. Sampai di taman, kita duduk di bangku panjang di dekat lampu hias (?)
“kau.. Kim jae joong?” tanyanya.
“iya. Kau?” tanyaku balik.
Dia tersenyum. Senyumnya manis! Tapi, aku tidak menyukainya. “aku.. Victoria! Orang yang paling bodoh sedunia!” katanya.
“kenapa?”
Dia menatapku malu. “aku dijodohkan dengan orang yang sudah mempunyai orang yang dia cinta. Aku terus mencoba untuk menghalangi cinta itu! Tapi, apa daya? Kekuatan cinta sama seperti kekuatan magnet! Susah dipisahkan kalau tidak punya cukup tenaga! Dia akan terus menempel walaupun dari jarak jauh sekalipun!”
Aku tertegun mendengarnya. Ternyata yunho masih peduli denganku. Masih cinta denganku. Hanya saja, aku yang tidak menyadarinya!
“tapi kebodohanmu tak sebanding dengan kebodohanku. Aku yang lebih bodoh!” kataku. Victoria mengerutkan kening. “aku tidak bisa merasakan cintanya. Aku tidak pernah sadar akan ketulusannya. Aku hanya menganggapnya seorang yang hanya singgah di hatiku sementara! Benar-benar bodoh!” kataku sambil memukul kepalaku sendiri.
“maaf, aku mencintainya.” kata victoria. “aku akan menebus kesalahanku!” katanya. Victoria mengeluarkan sebuah kotak sedang berwarna merah dari tasnya. Warna kesukaanku. Apa maksudnya?
“sebentar..” kataku. “kotak yang kau bawa itu..”

TBC *yah.. Saya ngetik di hp jadi terbatas. Ga jadi end deh *cabut..!

PART 5

“tunggu!” kataku. “kotak itu..”

Victoria mengerutkan kening. Dia lalu tersenyum. “ini kotak dari seorang yang bernama joongie.” Victoria memberikan kotak itu padaku. “ambillah!”

“untuk apa?”

“aku kembalikan ini!”

“ma-maksudmu?”

“aku ingin yunho melupakanmu! Kita sudah ada ikatan. Dan sebentar lagi, kita akan menikah. Sebenarnya tujuan kita pulang kesini adalah menikah. Tapi, kecelakaan itu membuat rencana ini gagal!”

Aku terdiam beberapa saat. Aku meremas kotak merah itu sambil menahan amarah.

“apa ini yunho yang minta?” tanyaku sambil menunduk. “apa dia yang memintanya?”

“umm..” victoria mengubah posisi kakinya. Yang tadinya kaki kiri diatas dengkul kanannya sekarang kaki kanan di atas dengkul kirinya. “tidak!”

Begitu mudahnya dia mengatakan itu? Tuhan.. inikah ujian yang kau berikan kepadaku di saat aku sedang mencintai seseorang?

“aku tahu ini tak mudah!” kata victoria. “tapi, aku terlanjur mencintainya! Aku mau dia melupakanmu, agar dia setia padaku.”

Sunyi~

Aku diam. Begitu juga victoria. Dia lalu berdiri di depanku. Aku langsung menatapnya.

“kim jae joong, dengar! Aku, victoria! Aku adalah orang yang belum pernah merasakan perasaan seperti ini! Jadi, aku akan melakukan apapun untuk mendapatkannya!” kata victoria sambil mendekatkan wajahnya ke wajahku. Dia lalu menyentuh bibir cherry-ku. Lalu menjauhkannya lagi. “pasti bibirmu ini sudah pernah merasakan bibir yunho!”

Victoria lalu mendekatkan kepalanya ke kepalaku. “berikan itu untukku!” victoria makin mendekatkan kepalanya. Bibirnya sedikit dimajukan untuk menyentuh bibirku.

“joongie, jangan berikan itu pada orang lain!” kata yunho saat dia pertama kali mencium bibirku. Tepatnya saat aku berumur 12 tahun di tepi danau. “kalau kau berikan, aku akan meninggalkanmu!”

“ANDWAE!!!” aku langsung mendorong victoria. Victoria terjatuh ke belakang. “tidak ada yang boleh mencurinya! Tidak satupun!!” kataku lalu berdiri mendepaninya. “kau, jangan berharap, yunho akan melakukannya padamu!”

Victoria menatapku kesal. Dia lalu berdiri sambil menyeka celananya yang tidak kotor sama sekali. Dia tersenyum sinis padaku.

“apakah ini tipe yang disukai yunho? Rendah sekali!” ejek victoria.

Mwo? Dia bilang seleranya rendah? Aku hampir saja melemparkan bogem mentah di mukanya kalau saja dia laki-laki.

“ya! Apa maksudmu bilang seleranya rendah? Apa karena aku dari kalangan bawah jadi kau menganggapku rendah?” tanyaku emosi. “apakah karena aku anak dari orang tua yang tak benar jadi kau menganggapku tidak punya otak? Tidak berpendidikan? Tidak patut dihormati?” tanyaku lagi.

Victoria diam. Dia menatapku dengan senyum sinisnya tadi. Sepertinya dia memandangku serendah itu.

“iya! Kau dari kalangan rendah. Ayahmu pencuri, ibumu pelacur.” Victoria mendekatiku. “ternyata enak jadi diriku!”

“apa yang mau kau lakukan? Kau memanggilku untuk membanggakan dirimu sendiri? Karena kau anak tunggal keluarga penerus perusahaan minyak yang punya segudang uang, kebahagiaan?” sindirku. Mata Victoria berkaca-kaca. Ku yakin sebentar lagi dia menangis. “apa kau mau menangis? Menangislah! Dan kau mengadukannya pada ayahmu yang punya kekuasaan itu untuk memanggil polisi dan memasukkanku ke penjara yang sama dengan ayahku? Silakan! Aku tidak akan menolak! Ayo.. menangislah!!” sindirku lagi. Sekarang dia benar-benar menangis. “ya! Hapuslah air mata buayamu itu!”

Victoria lalu menghapus air matanya dan membelakangiku. Terlihat tangannya masih mengusap-usap wajahnya yang penuh air mata buaya itu. Aku benar-benar puas menyindirnya seperti itu! Itulah kata-kata yang kusimpan selama 5 tahun ini karena tidak ada yunho! Dan aku juga tidak mau berkomunikasi dengannya karena itu akan membuatku semakin rindu padanya.

“jangan pernah mengunjungi yunho lagi! Biar dia jadi kenangan untukmu. Dan kenanglah cinta kalian yang kandas di tengah jalan karena aku, victoria!” kata victoria.

Dia mengaku juga kalau dialah penghalang cintaku dan yunho! Tapi kalau aku disuruh meninggalkan yunho, tidak boleh mengunjungi yunho, aku tidak akan bisa!

“kenapa diam? Bukannya kau memang ingin cari mati denganku? Yunho-mu itu takkan balik padamu!” kata victoria. “dia milikku sekarang!”

Deg—

“kenapa? Kau kaget? Heh- jangan harap kau bisa merebutnya lagi! Aku akan menikah dengannya!” kata victoria.

“bagaimana kalau keajaiban itu tak datang?” tanyaku. “bagaimana kalau yunho benar-benar tak bangun lagi seperti yang dikatakan dokter?”

“aku tahu itu! Tapi ini bukti kita!” kata victoria sambil menunjukkan cincinnya yang menempel di jari manisnya. Apakah yunho memakainya juga? Seingatku dia hanya hanya mau memakai barang-barang yang kuberikan. Dulu aku pernah membelikannya cincin—walaupun hanya cincin biasa—dan dia sangat senang sekali. Dia memakainya di sekolah dan terus memamerkannya pada orang-orang terdekatnya.

“dari siapa itu, yun?” tanya yeon lee saat itu.

“ini dari adikku, joongie! Bagus kan?” tanya yunho bangga waktu itu. Dia merangkulku sambil mencium rambutku.

“i.. iya bagus!” jawab yeon lee terpaksa.

Saat itu yeon lee memang pecinta beratnya yunho. Tapi entah kenapa yunho selalu mementingkan aku. Sampai waktu itu ada orang yang mencoba meracuniku karena aku dekat dengan yunho.

“kenapa diam? Kau mau bukti? Ini” victoria melepas cincinnya dan menunjukkan cincin mewah itu ke depan mataku.

*author POV*

Jae joong menatap cincin berukirkan dua malaikat itu dengan takjub. Ia terus memperhatikan itu sambil mengingat lelaki yang tengah menghadapi kematian di ruang ICU.

“kau iri kan?” tanya victoria memanas-manasi.

“baiklah..” jae joong menghembuskan nafas panjang. “aku serahkan padamu demi kebahagiannya. Aku akan melakukan apapun untuknya. Termasuk melepaskannya. Aku mencintainya, jadi aku tidak akan menghalangi kebahagiaannya!”

Victoria tersenyum penuh kemenangan melihat lelaki di depannya ini mulai berkaca-kaca matanya. Ia yakin kalau jae joong bakal menangis sebentar lagi. Tapi ternyata, dugaannya salah. Jae joong langsung pergi meninggalkan tempat itu sambil menggenggam kotak merah itu.

Jae joong terus berjalan tanpa peduli suara victoria yang terus memanggilnya dan membahas cincin berukir dua malaikat yang sedang berbahagia itu. Sepanjang jalan ia hanya menundukkan kepala sambil menatap kosong ke kotak merah itu. Kotak yang pernah ia berikan pada yunho saat ulang tahun yunho yang ke-15.

“yun, kemanakah kau yang dulu?” tanya jae joong dalam hati sambil terus berjalan menembus hujan. “kemanakah yunho yang selalu melindungi jae joong-nya, menahan jae joong-nya menembus badai, menenangkan jae joong-nya yang sedang menangis?”

Jae joong terus berjalan sambil menembus hujan yang semakin deras seperti air matanya. Ia berhenti di sebuah tempat yang membuat ingatannya tentang yunho bangkit.

“joongie, lihatlah!” kata yunho sambil menunjuk ombak yang menggulung-gulung seperti alat pembuat rambut keriting itu.

“nothing special?” jawab jae joong.

“bukan gitu, sayang!!” yunho memeluk jae joong erat. “kalau kau punya masalah, datang saja kesini. Ombak-ombak itu akan meringankan penderitaanmu!”

“mak—“

“ombak-ombak itu akan membantumu membawa pergi masalah-masalah yang ada di kepalamu. Jadi, dia special kan?”

Jae joong menganggukkan kepalanya. Ia lalu bersandar di dada yunho untuk mendengarkan detak jantung lelaki itu.

Sekarang, hanya ada jae joong di pantai itu. Tidak ada lagi yang mengunjungi laut itu di hujan yang lebat itu. Ombak-ombak yang biasanya tenang itu sekarang menjadi seperti monster laut yang akan memakan siapa aja yang ada di dekatnya.

“YUN, KAU DENGAR? AKU MERINDUKANMU! DENGAR?” teriak jae joong. “YUN, KAU TAHU, BETAPA HANCURNYA HATI INI SAAT TUNANGANMU ITU BILANG KAU DAN DIA AKAN MENIKAH!”

Jae joong memandang ombak besar yang menggulung-gulung, seakan mengacuhkan pembicaraan jae joong dengan bayangan yunho.

“yun,” nada suara jae joong ditekan hingga sangat kecil kedengarannya. “kenapa kau tega melakukan ini? Kenapa kau tidak bangun dan menolongku tadi? Kenapa kau tidak bangun dan memelukku di sini? Kenapa—kenapa kau tidak menghapus air mata ini? KENAPA?!!”

Jae joong jatuh berlutut. Tidak kuasa menahan tangisnya. Ia melempar kotak merah yang tadi di berikan victoria dan melemparnya ke tengah laut. Lalu ia kembali berjalan pulang dengan langkah lunglai.

Hujan masih turun membasahi bumi yang sudah cukup basah karenanya. Jae joong berjalan dengan tangan memeluk badan. Mencoba menghangatkan tubuhnya yang dingin. Ia terus berjalan tanpa melihat kanan kiri. Beberapa kali ia harus menerima klaksonan keras dari mobil-mobil mewah di jalanan itu. Di perempatan jalan, ketika hendak menyebrang, kesialan mendatanginya. Sebuah truk dengan kecepatan tinggi berjalan ke arah jae joong. Orang-orang yang menonton adegan itu menutup matanya dan beberapa detik kemudian mereka sudah melihat seorang lelaki berbaju putih itu tergeletak dan berlumuran darah.

“panggil ambulance!!!” teriak seorang bapak-bapak yang melihat kejadian itu. “cepat!! Dia kehilangan banyak darah!!”

Akhirnya seorang laki-laki mengeluarkan HP-nya dan mengetik nomor rumah sakit. Lalu menghubunginya untuk memberitahukan tempat kejadian. 5 menit kemudian, ambulance pun datang dan langsung membawa lelaki itu ke rumah sakit.

***

Terhitung 3 bulan setelah kejadian itu, jae joong belum juga sadarkan diri. Ia masih harus menerima pengobatan dan darah. Nasibnya sama dengan yunho yang sudah bertahan 4 bulan ini.

“bagaimana keadaan pasien di kamar 202?” tanya seorang dokter pada suster yang baru keluar dari ruang 202.

“belum ada perubahan.” Jawab suster itu sambil menggelengkan kepalanya. “tapi lumayan. Sekarang dia tidak perlu darah lagi.”

“sedikit perubahan.” Dokter itu menggeleng. “tidak adakah keluarga yang menjenguk tuan kim?”

“menurut laporan, ayah dari tuan kim di penjara, dan ibunya entah kemana.”

Dokter itu menggeleng lesu lalu membungkuk kecil pada suster itu dan pergi. Ia lalu medatangi ruang 333.

“annyeonghaseyo,” sapa dokter itu.

“dokter hwang!” sapa seorang perempuan muda yang cantik sambil bangkit dari tempat duduknya disamping pasien.

“bagaimana keadaan tuan jung?”

“umm.. belum ada perubahan.”

“apakah dia merindukan—“

“jae joong? Yah.. memang sih sudah lama dia tidak datang. Mungkin dia takut padaku karena dia sudah menikah denganku!”

“menikah?”

“iya! Ini cincinnya!”

“umm.. chukhaeyo!”

“gamsahamnida.”

Dokter itu mendekati pasiennya yang bernama jung yunho. Ia memeriksa mata si pasien dan memeriksa detak jantungnya.

“normal.” Kata dokter itu. “ajaib. Biasanya orang yang menderita pendarahan di kepalanya hanya bisa bertahan sebulan. Kekuatan cinta menguatkannya!”

“maksud dokter—aku menguatkannya?” tanya perempuan itu.

Dokter itu mengerutkan dahi. Entah kenapa ia mengatakan itu. Kekuatan cinta. Memang beberapa keluarga pasien yang koma selalu menguatkan si pasien dengan cinta. Dan akhirnya ia bisa bertahan sampai ajal menjemputnya.

“dok?” perkataan perempuan itu membuyarkan lamunan dokter.

“oh, begini nona victoria. Entah kenapa, umm.. maaf sebelumnya kalau aku mencampuri urusan ini. Umm maksud saya, maaf saya harus mengatakan ini..” dokter itu berhenti sejenak. Sengaja menggantungkan perkataannya. “sebenarnya, anda tidak boleh mencegah tuan kim mengunjungi tuan jung. Karena sebenarnya, yang dicintai tuan yunho itu tuan jae joong!”

“tapi mereka itu sejenis! Mana mungkin mereka bisa menjalani hubungan dengan keadaan seperti itu? Ataukah jae joong yang harus mengganti kelaminnya agar hubungan itu sah-sah saja dilakukan?”

“cinta itu tidak butuh bulu. Cinta hanya butuh perasaan. Hanya orang-orang berperasaan saja yang bisa merasakannya. Jika anda menjauhkan mereka, itu sama saja anda tidak berperasaan!” jelas dokter hwang. “maaf kalau saya lancang. Sebenarnya saya sudah kenal dekat dengan yunho karena anak saya adalah temannya. Yunho selalu datang ke rumah dengan tuan jae joong. Dan dari pandangan saya, yunho memang benar-benar mencintainya!”

“tidak mungkin!” kata perempuan itu, victoria. “yunho tidak boleh melakukannya!!”

“apakah anda mencintainya?”

“iya!”

“apakah anda rela mati untuknya?”

“umm.. semoga!”

“kenapa tidak jawab iya?”

“karena aku tidak yakin!”

Dokter hwang menghembuskan nafas panjang. Lalu menatap perempuan di depannya.

“kalau anda mencintai yunho, anda harus mencoba merelakan yunho demi kebahagiaannya. Ia bahagia dengan jae joong? Kau harus menerimanya!”

Victoria jadi ingat apa yang dikatakan jae joong waktu itu. “aku serahkan padamu demi kebahagiannya. Aku akan melakukan apapun untuknya. Termasuk melepaskannya. Aku mencintainya, jadi aku tidak akan menghalangi kebahagiaannya!”

“maaf, nona victoria. Bukannya aku berceramah. Tapi ini benar! Anakku selalu mengajariku kekuatan cinta. Jadi, aku ikut mempelajarinya dan memberikan padamu juga.” Kata dokter hwang. “saya permisi!” dokter hwang membungkukan badan dan keluar.

***

Victoria terus menatap wajah yunho yang pucat sambil memikirkan kata-kata dokter hwang tadi. Dan juga kata-kata jae joong yang jelas diucapkan dulu.

“yun, aku akan merelakanmu dengan jae joong,” kata victoria. “tapi tak sekarang! Aku belum siap!” victoria mengelus rambut yunho. “yun, boleh kan aku mendekapmu lagi? Aku ingin merasakan cinta, yun! Aku ingin merasakan seperti apa rasanya! Terima kasih sudah membuatku mengerti arti cinta sebenarnya yun. Cinta memang tidak boleh dipaksakan. Tapi aku terus memaksa. Maafkan aku.”

Victoria bangkit dari duduknya dan mencium kening yunho lembut. Ia melakukannya untuk yang terakhir kali.

“this is the last!” kata victoria. “aku akan merelakanmu!”

***

Yunho berjalan di tepi pantai sambil menikmati angin segar yang berhembus lembut. Ia memejamkan mata untuk mengusir pikiran-pikiran buruknya tentang seseorang. Ia terus berjalan diiringi matahari yang memancarkan sinar jingga yang ada di ufuk barat.

“Joongie?” tanya yunho tak percaya. “JOONGIE!!!” teriak yunho histeris saat melihat seorang lelaki manis yang duduk sambil memeluk lutut di tepi.

Lelaki manis itu bangkit. Ia lalu memeluk erat yunho sambil menangis di dada kekarnya. Lelaki manis itu melampiaskan kekesalannya pada lelaki kekar itu.

“kenapa kau meninggalkanku, yunnie? Kenapa? Aku tidak membuat ulah lagi!!” isak lelaki manis itu.

“mianhe, joongie-ah!” kata yunho. Ia lalu melepaskan pelukannya dan menghapus air mata lelaki itu. “aku ingin berdiri denganmu lagi. Seperti ini!” yunho memeluk pundak jae joong. “saranghae!”

“na do!” jae joong kembali memeluk yunho erat. Ia tidak ingin melepasnya lagi.

Yunho sangat menikmati moment itu. Ia lalu menatap matahari yang sedikit demi sedikit tenggelam ke dalam laut. Ia langsung melepas paksa pelukannya.

“joongie, aku harus pergi!” kata yunho sambil berjalan ke tengah pantai.

“ANDWAE!!!” teriak jae joong.

Teriakannya tidak digubris yunho. Jae joong ingin mengejar yunho kesana. Tetapi kakinya terasa kaku. Jadi dia hanya bisa berteriak sambil memanggil yunho.

***

“dokter, pasien di kamar 333 kritis!!” kata salah satu suster tergesa-gesa.

Beberapa dokter dan suster langsung berlari mendatangi ruang 333 di lantai 3. mereka semua panik karena lift berjalan sangat lambat. 1 detik terasa seperti satu tahun untuk mereka. Akhirnya para dokter dan suster itu sampai di lantai 3 dan langsung mendatangi ruang 333.

Yunho terbaring lemah tak berdaya di kasurnya. Detak jantungnya terlalu lemah untuk di bilang normal. Dokter-dokter berusaha mengembalikan detak normal itu dengan cara apapun. Tetapi tidak ada perubahan. Malah beberapa detik detak jantungnya tidak terdengar.

Di kamar jae joong, ia sedang menggumamkan kata-kata. Tidak ada yang bisa mendengarnya kecuali dia dan tuhan. Perlahan mata jae joong terbuka. Ia harus menyesuaikan matanya dengan cahaya yang ada. Ia menengok kesana kemari untuk mencari petunjuk dimana ia berada. Jae joong melihat seorang suster dengan membawa papan jalan masuk ke kamar rawatnya.

“syukurlah tuan sudah sadar!” kata suster itu sambil tersenyum. “eh, jangan dilepas dulu! Saya panggil dokter!”

“tidak perlu!” jae joong langsung melepas oksigen-nya dan infusnya. Ia mencoba turun dari tempat tidur. Dengan susah payah ia turun karena kepalanya masih pusing akibat pendarahan sedang di kepalanya. Akhirnya ia bisa berdiri. Ia memejamkan mata dan mengingat jung yunho. Tiba-tiba terbakarlah semangatnya untuk berlari mencari yunho.

“tuan, mau kemana? Tolong!!” kata suster itu sambil mengejar jae joong. Beberapa dokter dan suster yang ada disitu berusaha mencegah jae joong kabur. Beberapa suster dan dokter itu mengejar jae joong sampai ke ruang 333.

“YUNHO!! JANGAN TINGGALKAN AKU!! YUN!!!” teriak jae joong di genggaman suster dan dokter itu.

Victoria datang dengan mata sembab habis menangis. Ia menatap jae joong yang berusaha melepaskan diri dari genggaman orang-orang berbadan kekar itu.

“LEPAS!” jae joong berhasil melepaskan tangannya dari jeratan orang-orang itu dan masuk ke dalam ruangan.

Dokter-dokter yang tadi memeriksa yunho menyingkir dari hadapannya. Sekarang ia bisa melihat lagi orang yang sudah meninggalkannya selama 5 tahun. Yang selalu melindunginya, menyayanginya, mengasihinya. Jae joong langsung memeluk yunho yang sudah berbaring tak berdaya di kasurnya.

“yun, ini aku jae joong!” kata jae joong sambil menangis. “ini aku anak kecil yang cengeng, yang selalu merengek minta kasih sayang darimu!” jae joong mengelus kepala kecil yunho. “yun, aku rela kalau kau menikah dengannya! Tapi aku tak rela kalau kau pergi! Yun, ayolah!! Bangun!! Bangun!!”

Yunho tetap tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Jae joong menyerah dan pergi dari rumah sakit untuk melupakannya.

***

Seminggu berlalu dengan cepat. Jae joong hanya sendirian. Menikmati semilir angin pantai yang begitu lembut, menyejukkan seperti yang ada di mimpinya. Jae joong tersenyum pilu mengingat mimpi itu. Mimpi yang membuat jae joong tidak berani memandang tengah pantai.

“dor!” kata seorang sambil menepuk pundak jae joong.

Jae joong menyipitkan matanya. Mengucek-ngucek matanya untuk membuktikan bahwa orang yang ada di depannya adalah orang itu. Orang yang menghiasi hidupnya selama ini.

“YUNNIE!!!” jae joong langsung memeluk yunho erat. “bogoshippo!”

“na do!” yunho mengalungkan tangannya di leher jae joong. “joongie, look at me please!”

Jae joong menatap yunho. Manatap mata cokelatnya yang menghipnotis. Yunho memiringkan kepalanya lalu memejamkan matanya. Jae joong melakukan hal yang sama pula. Akhirnya, bertemulah dua bibir sejoli itu. Menyatu dengan lembut, dengan penuh cinta. Beberapa menit kemudian, yunho melepaskan ciuman pertamanya setelah 5 tahun dengan jae joong.

“would you marry me, kim jae joong?” yunho mengeluarkan kotak merah dari saku jaketnya. Yunho mengeluarkan cincin itu.

“itu—“

“iya! Cincin yang diberikan victoria. Sebenarnya kemarin hari seharusnya aku menikah dengannya. Tapi victoria tahu cinta kita. Jadi dia merelakannya.” Yunho memakaikan cincin berukirkan gambar 2 malaikat itu ke jari manis kecil jae joong. Setelah itu yunho kembali mencium kening jae joong lembut.

“saranghae” bisik yunho.

“na do” jawab jae joong.

Yunho berdiri sambil mengulurkan tangannya untuk membantu jae joong berdiri. Jae joong menerima uluran tangan itu sambil tersenyum. Setelah berdiri, yunho merangkul jae joong erat dan berjalan di bibir pantai.

“aku tidak akan meninggalkanmu lagi. aku janji!” kata yunho.

“aku juga! Aku tidak akan membuatmu cemas lagi.” timpal jae joong.

“kemana saja kau tak jawab telponku?”

“aku tidak mau menerima kabar darimu!”

“kau masih marah denganku?”

“untuk apa lagi aku marah? Kau ini!”

“joongie, maaf aku tak menggubrismu di mimpi itu!”

“jadi, kita dapat mimpi yang sama?”

“iya lah! Kau terus berteriak. Aku tahu joongie..”

Jae joong memeluk yunho lebih erat lagi. benar-benar tidak mau melepasnya lagi. “oh ya, kemana saja kau selama koma?”

“hah? Maksudmu?”

“apa kau sudah ke yunani?”

Yunho menjitak jae joong pelan. “jinja! Mana bisa?”

“kata orang, kalau orang yang koma itu biasanya roh-nya jalan-jalan! Kau kemana?”

“kau sendiri?”

“kau tahu aku koma?”

“3 bulan!”

“kok tahu?”

“I know everything about you!”

“YUNHO!!!”

Jae joong mengejar yunho yang sudah berlari di tepian pantai. Langit jingga mulai menghiasi korea. Yunho dan jae joong bermain air sekarang. Mereka tidak sadar ada sepasang mata sedang melihat sepasang kekasih itu dengan senyum mengembang.

“I know that love is a feel. Aku tahu cinta itu suci. Aku mengerti apa itu cinta. Terima kasih semuanya.”  Batin victoria.

“joongie, gomawo!” kata yunho.

“untuk apa?”

“untuk cintamu! Terima kasih kau sudah menguatkanku. Aku bisa hidup karenamu!”

“ne, yunnie!!”

 

-END-

***

Akhirnya slese juga !!! thank you buat yg baca.. mian kepanjangan !! hehe.. en juga mian klo makin ga nyambung en lama bgt publishnya !! haha.. thank you once more… *bow

4 thoughts on ““stand by u” part 1-5 (end)

  1. rara_cassielf

    Huweeeeee….
    Mewek semewek2.a bc nih ff
    Q pkir yun hbs kritis meninggal
    Ternyata msh hdp
    Syukurlah happy ending

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s