Time To Love prolog

Title : “Time To Love” *ga tau dah ni nyambung apa kagak ==”

Genre : comedy (?), romance (?), family, shonen-ai, yaoi, mpreg

Length : ga banyak-banyak (?)

Rate : PG 15 (?)

Cast :

–       park geonil *Cho Sin Sung*

–       kim sungje *Cho Sin Sung*

–       other Cho Sin Sung members~

Summary : kim sungje, namja cantik yang kaya dan terhormat meminta tolong kepada park geonil, si kutu buku yang menyukainya untuk mengakui anak di dalam kandungannya itu sebagai anaknya, dengan jaminan sungje akan belajar mencintai geonil dan menerimanya apa adanya. Maukah geonil melakukannya setelah sungje menolak cintanya mentah-mentah?

Disclaimer : all cast in this ff is belong to me *digaplak* and the story also mine. Jadi kalo ternyata ada ff yang mirip ama ff ini, itu bukan kesengajaan ^^

A/N :

Annyeonghaseyo mina-saaaaaaaaaaaaaaan !!!!! *ga nyambung

Laila back again nih *ga ada yang nunggu* setelah berbulan-bulan (?) ga ngepost ff yaoi disini..

Mian banget banget banget karna saya bukan bawa lanjutan ff yg laennya.. tapi malah bikin ff baru dengan pair yang baru bagi saya *karna biasa GTOP or yunjae~

Okayy,, mungkin dua nama itu udah ga asing lagi bagi kalian para kpopers ^^ dua raja selca CHOSINSUNG gitu :DD

Itadakimasss!! *kepanjangan euyyyy ==”

 

***

 

Sungje menatap hasil penelitian dokter di rumah sakit itu dengan bingung. Matanya terus memicing, memastikan hasil itu miliknya.

“aniyo, euisa. Aku namja! Mana ada namja yang punya rahim? Ckck..” kata sungje tak terima dengan hasil itu.

“saya juga tidak yakin dengan hasilnya, tuan..” dokter itu menggeleng lesu. “mau lakukan tes ulang?”

Sungje melempar hasil pemeriksaannya di atas meja dokter kwangsu. Dokter kwangsu langsung memundurkan kursinya ke belakang karena kaget.

“impossible!! Mana mungkin—“ sungje menggelengkan kepala. “sudah 11 kali kita melakukan tes, dan hasilnya tetap. Hiks..”

Dokter kwangsu mengelus pundak sungje yang bergetar. Memang susah menerima kenyataan kalau seorang lelaki tampan dan terhormat seperti sungje ternyata mempunyai kemampuan untuk menyimpan benih kehidupan di perutnya.

“siapa yang harus bertanggung jawab akan anak ini, tuan?” tanya dokter kwangsu.

Sungje menatap dokter kwangsu kesal. “yang pasti appa dari bayi ini lah!! Kau bagaimana sih..”

Dokter kwangsu tersenyum. “ck.. maksudnya, siapa ayahnya?”

Tangis sungje langsung pecah setelah dokter kwangsu menanyakan ayah dari bayinya itu. Orang itu sudah menyakiti hatinya..

“dia ji hyuk!! Song ji hyuk!! Hueeeeeeeee…” teriak sungje kesal.

Dokter kwangsu langsung membekap mulutnya. “mwo? Song ji hyuk? Anak dokter Song yang sedang menuntut ilmu di amerika itu?”

Sungje mengangguk.

“ji hyuk?”

Sungje memukul meja dokter kwangsu. “BUKAN!!!” katanya kesal.

“bisa mati kau kalau meminta ji hyuk bertanggung jawab.” Dokter kwangsu menghembuskan nafas panjang. “dokter song tidak pernah mengizinkan ji hyuk bersama dengan orang pilihan sendiri. Jadi, kau harus mencari ayah baru untuk bayimu..”

“sebenarnya kau punya otak tidak sih?! Darimana ayahku bisa memilih dokter sebodoh kau?!!” sungje mengacak rambutnya frustasi. “darimana bisa aku mencari ayah baru untuk anak sialan ini?”

Dokter kwangsu menampar sungje. Tidak mempedulikan posisi sungje disini adalah ‘majikan’.

“kau tidak boleh sembarangan bicara! Anak itu datang karena kesalahanmu sendiri. Dia tidak mengerti apa-apa.” Ucap dokter kwangsu. “kau harus jaga anak ini, ne?”

Sungje menggeleng. “ani!! Aku akan menggugurkannya. Aku tidak mau dia hidup dengan sapaan anak haram.”

“ya itu urusanmu..” dokter kwangsu menepuk pundak sungje. “yang pasti, anak itu sudah hadir karenamu. Jadi kau harus bertanggung jawab melindunginya.”

 

*

 

“aku kembalikan, dan pinjam lagi..” ucap namja tampan itu pada pegawai perpustakaan sambil tersenyum.

“ne park geonil.. gamsahamnida..” balas si pegawai perpustakaan.

Geonil keluar dari perpustakaan sambil membawa 3 buku yang tebal-tebal. Satu buku ilmu sosial dan dua novel klasik. Kakinya ia langkahkan ke sebuah tempat di samping sekolah khusus pria itu.

Senyum geonil langsung mengembang ketika melihatnya. Melihat orang yang ia sukai. Tapi yang disukai sudah ada yang memiliki. Jadi hanyalah harapan kosong jika geonil bisa memilikinya.

Namja tampan yang kutu buku itu duduk di bangku di dekat pohon mapple untuk membaca bukunya. Sekalian menatap orang yang disukainya, yang sedang bermuram durja di seberangnya, membelakanginya. Geonil ingin mendekat dan menanyakan kenapa sungje—namja yang disukainya—terlihat begitu lesu. Apakah karena ia merindukan ji hyuk yang sejak seminggu lalu pergi ke amerika untuk belajar?

Kaki geonil sudah menopang tubuhnya dan siap berjalan. Tapi hati geonil tidak menginginkan pertemuan dengan sungje. Yeah, geonil pernah ditolak sungje. Dan semenjak itu, geonil hanya memperhatikan sungje dari jauh.

Tap! Tap! Tap!

Langkah kaki itu.. cara jalannya.. wajahnya..

Geonil benar-benar tak percaya. Ia ingin mengedipkan matanya, tapi takut kalau bayangan itu ternyata hanya ilusinya, dan menghilang.

Tapi..

“geonil-ah, jebal!!” katanya sambil terisak. Tubuh kecilnya memeluk tubuh kekar geonil yang masih diam mematung.

Debar jantung geonil sudah tidak beraturan. Terdengar bergemuruh, sampai-sampai geonil merasa akan mati sebentar lagi karena debaran jantungnya yang benar-benar cepat dan kencang.

“jebal, bantu aku!! Sebentar saja~~” pinta sungje memelas.

Geonil tersenyum lega. Ternyata ini bukan mimpi. Sungje meminta bantuannya? Dia memohon? Untuk apa? Apa hanya untuk pelarian?

Geonil tak memikirkan itu. Biar saja ia jadi pelarian. Yang penting ia bisa dekat dengan orang yang dia suka.

“untuk apa?” tanya geonil dengan suara bergetar.

“aku tidak mau membicarakannya disini!” kata sungje sambil menghapus air matanya dengan punggung tangannya.

“ya sudah. Kita ke tempat yang sepi saja. Ddarawa!!” geonil mengambil tiga buku tebalnya dan menentengnya.

 

*

 

“MWO?!!”

Mata Geonil membelalak kaget. Namja itu tidak pernah menginginkan kejadian yang seperti ini. Lebih baik ia menjadi pelarian atau pengganti ji hyuk saja daripada harus menjadi AYAH DARI BAYI YANG BUKAN MILIKNYA *caps kejepit

“jebal~ hanya untuk 9 bulan, sampai bayi ini lahir. Tapi semoga saja bayi ini keluar sebelum waktunya..” kata sungje.

Geonil mengalihkan pandangannya ke langit. Langit terasa lebih dekat dari atas atap ini.

“aku tidak pernah menghamilimu. Aku tidak mau kalau begitu!” kata geonil yang mulai kehilangan kesabaran.

“tapi aku mohon.. ayahku akan menghapus namaku dari keluarga kim. Dan kalau aku minta pertanggung jawaban ji hyuk, pasti orang tuanya yang tidak mau mengakuiku. Orang tuanya tidak pernah mengizinkan ji hyuk bersama dengan pilihannya. Ayolah~”

“kenapa tidak kau gugurkan saja bayi itu? Daripada kau bingung sendiri!”

“aku tidak diperbolehkan!!!!” sungje setengah berteriak. “jadi..”

“ya sudah,” geonil memotong ucapan sungje. “kau jaga saja bayi itu. Lagian.. itu jugakankarena kesalahanmu sendiri. Bukan kesalahan anak itu..”

“cih!! Kau dan dokter kwangsu benar-benar sama!!”

Sungje pergi dari hadapan geonil tanpa pamit. Geonil hanya bisa memandang punggung kecil itu menjauh dari hadapannya.

“sudah kubilang kalau jihyuk itu orang yang benar-benar brengsek! Lagian mau saja melakukan sex dengan jihyuk!” gumam geonil.

Beberapa detik setelah mengatakan itu, sungje kembali datang dan langsung berlutut pada geonil.

“jebal!! Aku mohon bantulah aku.. jadikan bayi ini sebagai anakmu—anak kita maksudnya. Ayolah~” mohon sungje dengan air mata yang melimpah (?)

Geonil diam. Mana mau ia menjadi ayah bayi itu? Mending kalau itu anaknya sendiri, kesalahannya sendiri.

“geonil-ah, aku akan membayarmu berapapun yang kau mau! Aku akan memperbaiki kehidupanmu! Aku akan—“

“aku bukan namja murahan!” kata geonil. “aku memang butuh uang. Tapi aku tidak akan melakukan itu, seberapapun besarnya!”

Sungje berdiri dari posisinya. “geonil-ah, ayolah~ aku janji, aku tidak akan membiarkanmu kenapa-napa. Aku akan melindungimu..”

“memangnya kau sudah bisa melindungi dirimu sendiri? Malah hamil gara-gara jihyuk sialan itu!” kata geonil kesal.

Sungje berdiri dari posisinya. Lalu menunjukkan dua jarinya membentuk tanda ‘swear’.

“aku janji, aku akan belajar mencintaimu. Betapapun susahnya itu. Tapi tolonglah, bantu aku untuk mengakui anak ini..” kata sungje memohon.

Geonil mempertimbangkan permintaan sungje. Cinta bisa tumbuh kapan saja. Dan geonil yakin, akan datang waktu agar sungje menerimanya menjadi cintanya, bukan pelariannya.

“tapi kalau anak ini lahir, dan perasaan kita ternyata tidak cocok, kau bisa tinggalkan aku dan anak ini berdua saja. Aku akan hidup sendiri.” Tambah sungje.

“hmm..” balas geonil singkat. “apa aku harus menikahimu juga?”

Sungje menepuk tangannya. “bingo!! Kau juga harus bilang ke ayahku, kalau aku hamil karenamu, dan kau bertanggung jawab.”

Geonil membelalakkan matanya. “mwooo??? Kau kira gampang mengaku seperti itu! Aku dilahirkan untuk bertanggung jawab karena ulahku sendiri. Bukan karena ulah orang lain.”

Sungje mendengus kesal. “arasso!! Kau menyalahkankukan? Arayo.. aku tahu ini salahku. Tapi aku tidak mau mati..”

Geonil mengangguk. “okay. Aku sedang baik hari ini. Jadi aku setuju.”

Sungje menyeringai sinis. Baik apanya?? Tapi kemudian ia tersenyum lega. Lalu memeluk geonil sambil melompat-lompat bahagia.

“gomawoooo!!!!!!!!!!!!!!!!” katanya senang.

“YAA!! Kau mau membunuh anak itu? Anak itu akan jadi kodok kalau kau loncat-loncat terus..” omel geonil, khawatir.

“YAA!! Anakmu sendiri kau bilang kodok? Omona.. kau benar-benar jahat ya! Bagaimana mau jadi appa untuknya?” sungje memukul lengan geonil.

Geonil berjalan melewati sungje yang masih mencak-mencak. “itu bukan anakkukan? Itu anak jihyuk! Ckck..”

 

***

 

TBC

 

And then, bagaimana jadinya dua orang ga jelas ini ?? #plakk

Mian, without editing nii😀 *lagi curi waktu :))

3 thoughts on “Time To Love prolog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s