TWINS HIGH SCHOOL part 4

Title : “twins high school”

Length : chaptered (4/??)

Main cast :

–       2wins Yoo a.k.a park yoo chun & park yoo chan

–       Jo twins a.k.a jo kwangmin & jo youngmin

Other cast : Find yourself~~

 

***

 

Keesokan harinya, tumben-tumbenan yoochan datang ke sekolah tanpa nyerempet waktu masuk. Yoochan sendiri aja bingung.

“woy..!!” Seseorang menepuk pundak yoochan.

Yoochan membalasnya dengan senyum. “kenapa? Kaget ya gue tiba-tiba dateng ga nyerempet?”

Kwangmin mengangguk. “iyalah. Biasanya manjat pager plus ngasih saweran ke satpam dulu baru masuk.”

Mereka berdua tertawa. Tapi sepertinya dunia tidak menginginkan mereka (?) bahagia. Miss yoona tiba-tiba datang sambil membawa panci colongan dari tetangganya.

“ooww..” gumam yoochan yang terdengar oleh miss yoona.

Miss yoona mengulurkan tangannya untuk menjewer yoochan. Tapi sepertinya anak itu tahu triknya dan menghindar.

“PARK YOOCHAAAAAAAAAAAN!!!” teriak miss yoona kesal.

“eh iya bu! Reflek.. ulang lagi deh..” kata yoochan memohon.

Miss yoona kembali mengulang adegan menjewernya. Tapi tetap saja yoochan berhasil menghindar. Walhasil 5 menit sebelum bel masuk miss yoona baru bisa marah-marah sambil menjewer anak bandel bin jahil itu.

“kamu tuh ya, harusnya ibu sadar dari kemaren kalo kamu ngebohongin saya!!” miss yoona mencak-mencak sambil terus menjewer yoochan. Kwangmin yang ada di sebelahnya sampai menyingkir beberapa langkah ke samping.

“emang harusnya ibu sadar dulu.. ahhh~~” balas yoochan yang membuat miss yoona mendidih (?)

“malah dijawab lagi..!! dasar anak bandeeeeeeeel!!” miss yoona makin menggencet kuping yoochan.

“lagian ibu kenapa malah nurut sama saya? Kan ibu udah lebih dari 8 kali saya jahilin!!” balas yoochan sambil meringis.

Miss yoona mengendurkan jewerannya. Lalu mengangguk. “iya juga ya.. kamu baru dateng aja udah berani bilang ke pak siwon kalo saya suka dia.”

Yoochan mengangguk sambil meringis. Sedangkan kwangmin yang dilupakan hanya bisa tertawa kecil bersama anak-anak yang kebetulan lewat.

“sekarang ibu lagi naksir kan sama pak seung hyun? Mau saya comblangin gak? Insya allah berhasil bu!!” tawar yoochan yang berhasil membuat miss yoona langsung melepaskan jewerannya. Dan kwangmin mendekat.

“beneran kamu mau comblangin saya sama dia? Tapi kabarnya kan dia mau nikah..” miss yoona mengerucutkan bibirnya.

“oh iya!” yoochan menepuk jidatnya. “berarti ga jadi dong.. daripada saya dituduh ngambil suami orang. dadah ibu!!”

Yoochan langsung menggandeng kwangmin dan berlari secepat angin *digampar si angin* miss yoona yang bingung masih diam di tempat. Anak-anak yang tadi menonton hanya bisa tertawa kecil sambil berjalan.

“JADINYA GA JADI NIH??!!” miss yoona baru sadar. “PARK YOOCHAAAAAAAN, GUE KENA LAGIIIIIIIIIIII!!!!!!”

 

#dzuinggg… dzuinggggg.. (?)

 

***

 

“tetep aja datengnya nyerempet masuk chan.. lo sih cari gara-gara ke bu yoona!!” kata kwangmin yang kena ampas hukuman yoochan.

“hehehe.. kan reflek. Lo kaya gatau refleksi otot aja..” kata yoochan sambil menyapu daun kering.

“reflek sih reflek. Tapi kok bisa-bisanya lo nipu dia di saat lagi genting gitu?” kwangmin ikut menyapu daun kering itu dan mengumpulkannya di pojokan (?)

“daripada gue telat trus dapet hukuman esklusip dari pak youngwoon, mendingan kayak begini deh..”

Kwangmin menggeleng. “udah berapa kali lo dapet hukuman?”

“dimana?”

“di sekolah manapun yang lo singgahi!”

Yoochan menggeleng. “ga keitung. Lagian gue juga jarang ngejalanin hukuman!”

“terus lo ngapain kalo dikasih hukuman tapi ga dikerjain?”

Yoochan nyengir kuda. “tidur di UKS. Kalo nggak ya gue ngeborong kantin. Bayarnya pas pulang sekolah.”

“kok pulang sekolah?”

“kan istirahat gue dihukum lagi. Pernah waktu itu gue disuruh godain tukang somay. Untung aja tu abang bisa gue kibulin!”

Kwangmin menjitak kepala yoochan dengan gagang sapu lidi yang panjang.

“dasar anak bandel!”

“ckck.. biasa!!”

Kwangmin dan yoochan berhasil menyelesaikan hukuman menyapu halaman dari daun-daun kering 20 menit kemudian. Lalu mereka kabur ke kelas dan belajar seperti biasa.

“eh, ngapain lo duduk di kursi gue?” tanya yoochan pada anak laki-laki cantik yang kemarin menjadi korban kejahilan yoochan.

Anak baru itu tersenyum sinis. Sepertinya anak baru itu menantangnya. Yoochan hampir saja menonjok wajah anak itu.

“eh monkey, mumpung gue lagi baik nih, pergi dari kursi gue!!” yoochan mencolek pundak anak baru itu. Tapi ditepis orang itu.

“sialan lo ya?! Mau pake cara kayak gimana nih??” sekarang yoochan benar-benar tidak ingat dimana ia berada, dan siapa orang yang ada.

“kenapa kamu ganggu yunhak yang mau belajar? Biarin dong dia pinjem buku yoochun karna dia belom dapet buku!” kata pak sungje, si guru biologi yang cantik.

“oooohhh.. namanya yunhak toh~” yoochan mengangguk tanpa mempedulikan kemurkaan pak sungje. “kayak nama sepatu deh! Ckckck.. gimana sih orangtua lo ngasih nama anaknya? Yunho masih bagus. Ini?? Ckck..” ledek yoochan yang sukses membuat pak sungje melepas sepatu dan melemparnya ke yoochan. Tapi seperti bu yoona tadi, yoochan bisa menghindar.

“ini bukan urusan nama.” Lelaki bernama yunhak itu berbicara dengan nada tenang yang dipaksakan.

“oh.. ternyata bisa sakit hati juga ni orang. Keliatannya lo berhati es deh!” ledek yoochan yang kembali direspon pak sungje dengan melempar sepatu.

“fine.” Pak sungje kehilangan kesabaran. “kamu ikut saya ke ruangan pak young woon.”

Yunhak tersenyum dingin seperti mengatakan “emang enak!” dan dibalas dengan tatapan dingin yoochan.

Yoochan mengikuti pak sungje yang sudah keluar lebih dulu. Ketika melewati meja kwangmin, tangan gadis itu ditarik kwangmin. Dan kembali membisikan sesuatu yang membuat yoochan harus menahan diri untuk tidak marah-marah.

“nanti kita omongin lagi. Gue ga bisa ngapa-ngapain disini!” kata yoochan dingin dan pergi keluar.

 

*malam harinya*

 

Yoochun merebahkan dirinya di atas kasur empuknya setelah beberapa jam berkutat dengan pelajaran tambahan karena tidak ada satupun anak kelas X-5 yang mendapat nilai diatas rata-rata untuk pelajaran kimia.

“coba aja lo menang tadi chan!” kata yoochun lemas.

Yoochan menurunkan komiknya untuk menatap kembarannya yang benar-benar lesu di tempat tidur.

“kenapa?” tanya yoochan penasaran.

“gue ngerasa..” yoochun mengubah posisinya menjadi duduk diatas kasur. “aneh banget kalo deket anak baru itu!”

“yunhak?” yoochan mengernyit mendengar nama itu keluar dari mulutnya sendiri.

“iya..”

Yoochan tersenyum sinis. “sayangnya selama seminggu gue ga bisa ketemu tu anak buat ngelindungin lo!”

Yoochun mengernyitkan dahi. “maksud lo??”

“gue di skors seminggu sama pak young woon! Gue ga boleh keluar kamar selama itu!”

“bukan itu!! Yang ngelindungin gue itu! Emangnya gue anak teraniyaya apa dilindungi segala? Apalagi sama lo!”

Yoochan menutup komiknya dan menaruhnya diatas sofa. “sayangnya gue belom siap ngasih tau lo. Gue mau perkembangan anak itu terhadap lo!”

“emangnya kenapa sih?!! Lo ga biasanya main rahasia-rahasiaan gini! Emangnya si yunhak semisterius itu, apa?”

Yoochan berdiri untuk mengambil jus jeruknya di kulkas yang tadi dibeli. Lalu meminumnya untuk melegakan tenggorokan.

“gue ga bisa ngejelasin sebelum ada fakta yang mendukung.” Kata yoochan serius.

“lo ga habis baca conan kan? Lo kenapa jadi misterius gini sih? Merinding gue! Jangan-jangan yang ada di tubuh lo tuh bukan lo!” yoochun jadi ngeri sendiri.

“ga perlu baca conan buat ngubah gue jadi kayak gini.” Yoochan berbicara dengan nada dingin. “udahlah. Lo tidur aja! Gue yang ngerjain PR lo!”

Yoochun menggelengkan kepalanya. Lalu berdiri dan masuk ke kamar mandi untuk ber-shower ria.

 

*

 

Sementara itu di kamar kwangmin dan youngmin, suasana penuh ketegangan menyelimuti ruangan itu. Youngmin duduk diatas kursi meja belajar tanpa melakukan apa-apa. Sedangkan kwangmin duduk diatas kasurnya.

“gue ngerasa ada yang ga beres sama anak baru itu.” Kwangmin memecah keheningan malam di ruangan itu.

Youngmin diam.

“gue takut yoochun sama yoochan kenapa-napa.”

Youngmin tetap diam. Pikirannya entah ia bawa kemana sampai dialog kwangmin yang harusnya dibalasnya jadi tidak diacuhkan begitu.

“gue mohon young, sekali aja lo dengerin gue ngomong! Sekarang kita udah beda selera!! Gue suka sama yang laen, bukan orang yang lo suka!!”

Youngmin tetap diam. Tidak mau merespon ucapan kwangmin yang merupakan fakta itu.

“lupain masa SMP, dan kita mulai lembar baru mulai hari ini!”

Youngmin tersenyum mengejek sambil menatap jadwal pelajaran yang ditempel di atas meja belajarnya. Lalu ia memutar kursinya dan menatap saudara kembarnya.

“gue bisa ngelupain masa SMP, tapi gue ga bisa ngelupain masa dimana lo jadi orang terakhir yang dia liat!! Gue sakit..!! sakittt..!!!!!” kata youngmin sambil memukul dadanya sendiri.

Kwangmin memasang wajah sedih karena akhirnya masalah SMP-nya dulu menggentayangi pikirannya.

“itu bukan salah gue!!” kata kwangmin mencoba membela diri sendiri.

“bukan salah lo? Jadi salah gue?” ejek youngmin.

“iya!!” kwangmin berdiri dari tempatnya. “lo yang ga percaya sama gue, kenapa gue yang salah? Gue udah berusaha meyakinkan lo biar dateng ke rumah sakit saat itu juga!! Tapi kenapa lo malah bilang gue omong kosong? Lo pake acara bilang gue berhati busuk, pengkhianat, dan semuanya!!”

Youngmin menggeleng. Ia berdiri juga dari kursi belajarnya. “so? Gue ternyata beneran salah ya disini??”

Kwangmin melebarkan matanya dan memelototi youngmin. Kini ia berani melakukannya karena ia bosan dengan keadaan mereka yang tidak pernah bisa akur hanya karena masalah cinta.

“LO SALAH, JO YOUNGMIN!! LO SADAR DONG HARUSNYA, LO NYESEL KAN?? LO NYESEL KAN KARNA LO GA PERCAYA GUE? LO—“

BRUUUUGGG!!

Tonjokan gratis langsung dilemparkan pada kwangmin yang memojokkan youngmin. Kwangmin tersenyum dingin.

“sadar?” kata kwangmin sambil tersenyum kecut. Lalu membalas tonjokkan itu ke pipi kanan youngmin.

“enak banget!! Sumpah!! Gue suka banget sama cara lo nyadarin gue!!” sindir youngmin sambil mengelap darah yang keluar dari ujung bibirnya.

“tapi lo belom sadar!! Lo masih mabok! Sini gue sadarin lagi..!!” kwangmin siap-siap memukul youngmin lebih keras lagi.

Youngmin tertawa kecil.

 

*

 

Yoochan menghitung komik yang ia simpan di rak. Ternyata tidak ada komik yang belum selesai ia baca. Semua komik sudah selesai dibacanya lebih dari dua kali.

“pinjem punya kwangmin ah!! Siapa tau tu anak punya lebih banyak komik.” Gumam yoochan lalu mengangguk sendiri dan pergi keluar.

Perlu berjalan beberapa langkah untuk sampai di kamar kwangmin dan youngmin. Jarak dengan kamarnya kira-kira 10 kamar berukuran sedang.

Yoochan mengangkat tangannya ketika sebuah pintu bertuliskan nama kwangmin dan youngmin berada di depannya. Hampir saja ia mengetuk pintu itu sambil meneriakan nama kwangmin. Tapi suara teriakan dari ruangan kedap suara itu terdengar samar ke kuping yoochan.

“GUE BENCI LO, KWANGMIN!!!! SUMPAH GUE BENCI BANGET!!”

“GUE LEBIH BENCI LO, JO YOUNGMIN!! GUE NYESEL PERNAH AKUR SAMA LO, GUE NYESEL PERNAH NGENALIN YURA KE LO!!!”

Dan setelah kalimat itu diucapkan kwangmin, seseorang membuka pintu kamar berbahan jati itu. Yoochan tidak sempat menghindar ketika kwangmin sudah keluar dari kamar.

“yoochan?” tanya kwangmin kaget.

Yoochan menatap kwangmin dengan wajah penuh penyesalan.

“sori, gue—ga maksud..”

“gue tau..” kwangmin mengangguk sambil menepuk pundak yoochan. “jangan ganggu gue dulu ya. Gue butuh ketenangan.”

“kwang—“

“DIEM!!!” bentak kwangmin langsung. Lalu pergi dari hadapan yoochan. Meninggalkan sejuta tanda tanya tentang masalah yang dihadapi si kembar.

 

***

 

Keesokan paginya..

 

Yoochun sibuk mencari dasinya dari tadi. Semuanya sudah siap, hanya dasi saja yang belum terpasang di tubuhnya.

“chaaan, liat gak?!! Jangan Cuma diem baca teenlit napa!! Issshhh..” bentak yoochun kesal karena tidak menemukan dasinya.

Yoochan menurunkan teenlit dari depan wajahnya. Lalu menatap yoochun dengan tatapan dingin tapi jahil (?) seperti biasa.

“pake aja punya gue, chun! Kan gue di skors sama pak youngwoon.” Kata yoochan.

Yoochun langsung menepuk dahinya. Lalu menyambar dasi kembarannya yang digantung di atas meja belajar.

“gue berangkat ya! Baek-baek lo di kamar jangan sampe ketauan pak youngwoon! Dadahh~~” yoochun menjitak pelan kepala yoochan.

Yoochun langsung berlari keluar dengan cepat karena waktunya sudah mepet. Sambil menggendong tas-nya yang luar biasa berat karena tambahan laptop, yoochun terus berdoa memohon perlindungan agar tidak dihukum seperti kembarannya.

“alhamdulillah ya gue bisa dateng tepat! Gue masuk bel langsung bunyi!” kata yoochun ngos-ngosan.

Yoochun lalu berjalan seperti biasa ke kelasnya di dekat tangga. Untungnya bukan hanya dia yang telat.

“hai!” sapa orang yang bernasib sama dengan yoochun.

Yoochun tersenyum. “hai!”

“yoochun ya?” tanyanya sambil tersenyum manis.

“iya. Lo yunhak kan? Anak baru yang jadi korban baru adek gue?”

Yunhak mengangguk. “ayo masuk. Udah diujung tuh gurunya. Takut gue!”

Yoochun mengagguk. Lalu berjalan di belakang yunhak dengan langkah biasa.

 

*

 

Sementara itu di kamarnya sendiri, yoochan hanya bisa melakukan hal yang sering dia lakukan. Menonton, baca komik, baca novel, main komputer, dan ngemil. Tapi tetap saja yoochan bosan di ruangan itu.

“keluar ahh~” kata yoochan tanpa mempedulikan sesuatu lain terjadi. Ia mengambil jaketnya dan keluar dari kamarnya menuju kantin.

Sepi.

Hanya itu yang bisa menggambarkan keadaan dorm para anak kembar yang dilewatinya. Tidak ada penjaga ternyata untuk yoochan. Padahal ia dihukum tidak boleh keluar dari kamar selama seminggu.

“yaaah.. itu mah sama aja boong!! Ngapain juga pake dihukum ga boleh keluar kamar kalo ga ada yang ngejagain? Kalo dia keluar kayak gue gini gimana? Suka dodol deh yang bikin hukumannya!” kata yoochan sambil menggelengkan kepala.

Gadis itu berjalan lagi perlahan. Tapi pendengarannya yang tajam berhasil mendeteksi ada orang yang mengikutinya dan tanpa basa-basi apalagi pemanasan langsung menjewernya dengan keras.

“kata siapa gak ada yang ngejagain??” kata pak young woon to the point. “siapa yang dodol disini?”

Yoochan nyengir kuda seperti biasa. Lalu berbalik badan menghadap pak young woon tanpa melepas jewerannya.

“kata siapa gak ada yang ngejagain, park yoochan?!!” tanya pak youngwoon keras. Berharap anak bandel di depannya ini mau menuruti perintahnya.

“kata bapak!” jawab yoochan langsung.

“hah? Gimana ceritanya?” tanya pak young woon bingung. “saya tanya, kenapa kamu jawab begitu, hah?!!”

Yoochan melancarkan aksinya. Ia menyuruh pak young woon untuk melepaskan jewerannya kalau mau tahu penjelasannya. Tapi sepertinya wakil kepala sekolahnya ini sangat pintar dan tidak mudah ditipu yoochan.

“nanti kamu kabur kan?! Memangnya bapak nggak tahu kamu sering ngejahilin guru-guru dengan cara gitu?!!” kata pak young woon galak.

Yoochan menggeleng. “saya nggak kabur kok!!”

Pak young woon tanpa sadar langsung melepaskan jewerannya. “nggak kabur gimana?!! Kemarin saya lihat kamu ngejahilin bu yoona sampe dia ga berenti nangis Cuma mikirin pernikahan pak seung hyun!”

“yee si bapak! Emang saya ngapainin dia sih? Kan saya Cuma nawarin, ga maksud buat ngehancurin impiannya buat jadi pendamping pak seung hyun! Bu yoonanya aja yang lebeh!!” kata yoochan sambil berkacak dada.

Pak young woon ikut berkacak dada. “bukan itu masalahnya!!! Kamu kan kabur kemaren.”

“tapi kan sekarang nggak!!” bela yoochan sewot.

“iyalah.. orang kamu belom saya suruh apa-apa. Makanya kamu ga kabur!”

“yaudah. Saya kabur ya pak..!!” kata yoochan sambil melambaikan tangannya ke wajah pak youngwoon. Lalu kabur seperti biasanya sebelum pak youngwoon me-loading data (?)

“akhirnya gue kena. Ckckck..” pak youngwoon menggelengkan kepala. “bener-bener pinter tu anak! Ampunnn!!!”

 

*

 

Kwangmin mengacak rambutnya sampai benar-benar berantakan karena frustasi. Bukan hanya karena pelajaran biologi yang tak dia mengerti, tapi juga karena yoochan yang dari tadi belum menampakkan batang hidungnya. Biasanya kalau dia telat masuk kelas juga tetep aja masuk (?)

“yoochun, adek lo mana?” tanya kwangmin dengan tampang madesu-nya. “dia ga marah kan? Ga nangis kan? Ga ngamuk juga kan?”

Yoochun mengernyitkan dahi. “hah? Marah? Nangis? Ngamuk? Perasaan dari kemaren dia baek-baek aja tuh..”

Kwangmin menghela nafas lega. “bagus deh!! Kemaren gue bentak soalnya. Lagian dia dateng pas akhir-akhir beranteman gue sama youngmin.”

Yoochun yang tadinya ingin ke kantin mengurungkan niatnya. Ingin tahu apa yang terjadi tadi malam.

“emang lo berantemin apa?” tanya yoochun dengan wajah berbinar. Ia duduk diatas meja kwangmin.

“masa lalu yang udah ga bisa diubah..” balas kwangmin pilu. Mengingat pertengkarannya dengan kembarannya kemarin.

“ga semua masa lalu ga bisa diubah kali..” kata yoochun.

Kwangmin menatap yoochun. Lalu menatap yoochun lekat.

“ternyata lo diliat-liat mirip yoochan juga..” kata kwangmin mengubah arah pembicaraan.

Yoochun menggebrak meja. Tadinya mau menjitak atau menempeleng kwangmin. Tapi ia harus menghormati orang yang lebih tua.

“kalo diliat dari deket emang mirip. Tapi kalo dari jauh, sumpah ga ada mirip-miripnya! Gue aja ngerasa ga ada mirip-miripnya.” Kata yoochun sambil menggelengkan kepala.

“tapi lo lebih mirip anak baru itu!” kwangmin mengernyit ketika menyebutkan ‘anak baru’.

“dari dulu gantengan gue juga kaliiii!!” yoochun turun dari atas meja dan berjalan pergi dari hadapan kwangmin.

“eeeeh, adek lo mana??” tanya kwangmin sebelum yoochun menyentuh lantai luar kelas.

“di kamar!” jawab yoochun.

Kwangmin geleng-geleng kepala. “dasar!! Kakak adek sama aja jawabnya.”

 

*

 

Yoochun kembali dari sekolah dengan wajah lesu yang bikin orang bingung. Yoochan aja sampe melotot saking kagetnya.

“kenapa lo? Diapain lo sama kembarannya si yunho?” tanya yoochan sambil tersenyum sinis.

“lo kenapa sih? Benci banget kayaknya sama yunhak!” balas yoochun tanpa memandang kembarannya.

“chun, ini dari hati gue, lo denger baik-baik!” kata yoochan dengan nada serius. “gue ga mau kehilangan lo gara-gara anak itu. Gue ga mau lo sakit karna anak itu.”

Jantung yoochun langsung berdetak tak karuan. Bukan karena melting dengan ucapan kembarannya yang romantis. Tapi karena tidak biasanya yoochan mengatakan itu. Apa ini pertanda.. hubungan yoochan dan yoochun akan mulus seperti kembar lainnya? Yang saling membutuhkan?

 

*

 

Pak young woon datang ke kamar yoochan dan yoochun setelah dua anak kembar itu selesai membicarakan ucapan romantis yoochan. Ternyata yoochan hanya takut kehilangan yoochun karena nanti tidak ada yang bisa diajak berantem ==” *betul bangeeeeet!!!

“park yoochan, saya benar-benar tidak bisa menjaga kamu.” Kata pak youngwoon not to the point.

“terus?”

“besok kamu sekolah aja lah. Bapak udah gak sanggup ngejagain kamu. Lagian kamu mau dihukum kayak gimana pun pasti ga bisa jauh dari jahil. Bingung bapak..” pak young woon menggelengkan kepalanya.

Yoochan mengangguk. “saya juga bingung pak! Makanya, seberat apapun hukumannya, ga bakal bisa bikin saya jera!”

Pak young woon mengangguk. “kamu bener-bener berpotensi jadi penipu! Jangan dilanjut ya!!”

Yoochan menggeleng. “kayaknya bakal saya lanjut aja deh pak..”

Asap kemarahan ala pak young woon keluar dari ubun-ubun, lubang hidung, lubang kuping dan lubang buaya (?). ia lalu mengangkat kakinya dari kamar paling menyesakkan (?) itu.

 

*

 

Matahari menyinari dunia dengan teriknya. Inilah yang membuat orang korea semangat menjalankan aktivitas sehari-hari.

“jadi lo kemaren kabur plus berhasil ngejailin pak young woon?” tanya yoochun sembari berjalan berdampingan yoochan.

“iya.. lagian dia lepas kendali gitu kalo deket gue.” Balas yoochan sambil tersenyum jahil.

“ya udah. Baek-baek dong. Tanpa sadar, lo udah bikin malu keluarga, tau!”

Yoochan mengangguk. “arayoo!!”

Yunho berdiri di depan yoochan setelah menjalankan ritual dance (?) ala michael jackson. Ia mengamit satu tangan yoochan tanpa persetujuan yang punya.

“chun, gue pinjem adek lo dulu ya! Mumpung masih pagi, makanya gue ajak dia ngobrol dulu..” kata yunho dengan senyum menawannya, yang membuat jae joong jatuh hati padanya *PLAAAAK!!

Yunho langsung menarik yoochan seperti kebo. Yoochun yang kaget hanya bisa diam sampai 2 menit berikutnya.

 

*

 

“gue mohon chan, lo jangan cari gara-gara sama kakak gue, yunhak!!” pinta yunho dengan mata berkaca.

“itu hak gue dong! Lagi juga, gue ga pernah cari gara-gara sama dia..”

“yunhak itu jiwanya psikopat! Dia bisa bunuh lo dengan keji kalo lo nggak bisa akur sama dia..”

Yoochan melebarkan matanya. Lalu tertawa garing memecah keheningan.

“gue juga bisa numbuhin jiwa psikopat! Malah papa gue pernah bawa gue ke psikiater karna gue hampir ngebunuh temen sendiri Cuma gara-gara hal sepele!” kata yoochan meremehkan.

“gue mohon, chan!!” yunho berlutut di bawah kaki yoochan. “dari dulu dia udah rencanain..”

Yoochan tercekat.

“lo tau junsu kan? Orang yang suka sama yoochun, yang nembak yoochun diem-diem?” yunho memandang yoochan dengan tatapan menusuk. “yunhak itu temen masa kecilnya. Dari dulu yunhak pengen banget jadi pendampingnya..”

Yoochan menelan ludahnya. Mencoba mencerna maksud yunho tentang saudara kembarnya.

“jadi..”

“lo pasti bisa nebak, chan!” yunho berdiri dari posisinya. “emang bukan lo yang jadi korban pertama, chan..” yunho menghapus air mata yang jatuh dari pelupuk matanya. “tapi yoochun, kembaran lo!”

Setelah itu, yunho pergi. Pergi tanpa meninggalkan jejak lanjutan untuk kasus ini. Yoochan masih belum bisa mencerna lebih. Ia duduk bergeming. Pandangannya kosong. Tidak tahu apa yang harus dilakukan..

 

***

 

TBC again..

 

Gue ga tau nih kenapa jadi complicated (?) gini urusannya. Gue Cuma pengen numbuhin konflik aja tanpa ada maksud apa-apa. Gue jadiin yunhak psikopat juga atas kemauan batin gue..

Semoga aja ada yang mau baca ini sampe selese. But it’s impossible!! Thank’s for your understanding ^^

 

-salam kecup cium dari yunhak-

 

4 thoughts on “TWINS HIGH SCHOOL part 4

  1. Lidyaatrueelf^^

    SAENG, SAYA BAKALAN BACA SAMPE END!
    Hahaha,
    mian ya part3nya comentnya disini, soalnya buru2 pengen bca yang part 4.
    Tapi mungkin karna kembar, eon jadi agak bingung ngecernanya.
    But that’s ok. Tetep dilanjut yah saeng =P

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s