TWINS HIGH SCHOOL PART 5

Title : “twins high school”
Length : chaptered (5/??)
Main cast :
–    2wins Yoo a.k.a park yoo chun & park yoo chan
–    JungBro a.k.a jung yunhak & jung yunho #fiksiajaguejadiinkembar
A.N : huhhhh!! Walaupun saya tau ga ada yang mau baca tetep aja bikin A/N !!😄
Pengen numbuhin konflik yang rada kejam buat 2wins yoo dan jungbrother!! Hahaha.. tapi kayanya ga berhasil deh.. u,u #nangisdipojokan
Yaudah, silakan dinikmati deh ^^

***

<< previous

“gue mohon chan, lo jangan cari gara-gara sama kakak gue, yunhak!!” pinta yunho dengan mata berkaca.
“itu hak gue dong! Lagi juga, gue ga pernah cari gara-gara sama dia..”
“yunhak itu jiwanya psikopat! Dia bisa bunuh lo dengan keji kalo lo nggak bisa akur sama dia..”
Yoochan melebarkan matanya. Lalu tertawa garing memecah keheningan.
“gue juga bisa numbuhin jiwa psikopat! Malah papa gue pernah bawa gue ke psikiater karna gue hampir ngebunuh temen sendiri Cuma gara-gara hal sepele!” kata yoochan meremehkan.
“gue mohon, chan!!” yunho berlutut di bawah kaki yoochan. “dari dulu dia udah rencanain..”
Yoochan tercekat.
“lo tau junsu kan? Orang yang suka sama yoochun, yang nembak yoochun diem-diem?” yunho memandang yoochan dengan tatapan menusuk. “yunhak itu temen masa kecilnya. Dari dulu yunhak pengen banget jadi pendampingnya..”
Yoochan menelan ludahnya. Mencoba mencerna maksud yunho tentang saudara kembarnya.
“jadi..”
“lo pasti bisa nebak, chan!” yunho berdiri dari posisinya. “emang bukan lo yang jadi korban pertama, chan..” yunho menghapus air mata yang jatuh dari pelupuk matanya. “tapi yoochun, kembaran lo!”
Setelah itu, yunho pergi. Pergi tanpa meninggalkan jejak lanjutan untuk kasus ini. Yoochan masih belum bisa mencerna lebih. Ia duduk bergeming. Pandangannya kosong. Tidak tahu apa yang harus dilakukan..

>> part 5 <<

Kelas sudah terisi sepenuhnya. Tidak ada yang tidak masuk di hari itu. Jarang sekali ada yang tidak masuk karena hampir seluruh anak jarang sakit kalau bukan musimnya. Dan kalau satu anak sakit, kembarannya pun akan ikut sakit. Jadilah jarang ada yang sakit. *ini gue ngapain sih ??
Seorang guru masuk ke kelas X-5. seorang perempuan, berkulit putih dan berambut cokelat panjang tergerai, memakai baju putih yang ditengahnya terdapat bekas tusukan *GANTI* seorang perempuan, berambut cokelat panjang tergerai dan memakai baju khas dinas pendidikan twins high school *bayangin ndiri.. gue ga bisa deskripsiin
“loh? Yoochan??” tanya bu yoona—si guru—pada seorang anak yang telah menurunkan harkat martabaknya kemarin *digaplok *gue lagi pengen martabak u,u
Yoochan tersenyum dari bangku belakang paling pojok. Bu yoona yang ngeliat langsung memalingkan muka. Tidak mau terkutuk lagi oleh anak itu.
“ibu kaget ya saya udah masuk lagi? Kan pak young woon udah bilang saya ga boleh keluar kamar seminggu. Iya kan?” tebak yoochan. Dan bingo!! Seratus ribu persen betul!!
“kok kamu bisa sih baca pikiran ibu?” tanya bu yoona.
“kepala ibu kayak plastik sih.” Balas yoochan yang mendapat sambutan plototan dari bu yoona. “bisa diliat! Transparan gitu..”
“YOOCHAAAAAAN!!” koor anak-anak kelas X-5.
Bu yoona kalau sudah marah pasti bakal ngadu ke pak young woon. Dan nanti akhirnya pak young woon yang bakal menghukum anak-anak. Eum singkat aja deh. Jadi pak young woon itu suka banget sama bu yoona. Tapinya, bu yoona suka sama pak seung hyun, jadilah cinta segi-ribet #plakk
“kamu kabur?!!” tanya bu yoona sengit.
“iya!!” jawab yoochan tak kalah sengit.
“kok kamu bales sengit juga sih?!” bu yoona mulai menaikan nadanya.
“tuh ibu malah tambah sengit..”
Bu yoona langsung melempar bawaannya ke atas meja. Kertas-kertas ulangan beterbangan kala angin membelainya. Benar-benar hancur! Lalu bu yoona keluar kelas dengan tampang kecut. Lebih kecut daripada ketek.
“kok pada diem sih?! Itu soal ulangannya. Lo pada ambil dan liat buku buat belajar. Nanti balikin lagi!” Kata yoochan memerintah. “mumpung ada di depan. Daripada dijadiin sate sama pak young woon karna dapet nilai jelek. Hmm?”
Semua anak langsung mengerubungi meja untuk melihat soal-soal ulangan. Lalu membawanya ke meja masing-masing. Yunhak membawakan satu. Of course untuk yoochun.
“thanks!!” kata yoochun tulus.
Yunhak tersenyum manis. “you’re welcome!”
Yoochan memandang dua orang itu dengan sengit. Benar-benar sengit. Lalu mengalihkan pandang pada satu novel yang berhasil dipinjamnya dari anak kelas XI.
Beberapa menit kemudian, bu yoona datang dengan seorang bodyguard gratisan di sampingnya. Ia amat sangat terkejut ketika melihat kertas ulangan di atas meja sudah habis dibabat anak-anak. Anak-anak yang tadi berisik (?) jadi sepi. Hanya suara jangkrik sekarat yang terdengar.
“yang mana yang jadi tersangka, bu?” tanya pak young woon dengan suara yang dilembut-lembutkan.
“yang pojok itu!” bu yoona tidak menunjukkan dengan tangan.
“yang pojok?” pak young woon memandang pojok kiri. Tidak ada yang aneh menurutnya. Pojok kiri ditempati dua anak kembar yang sama-sama cantik. Jiyong dan jin young.
“itu bukannya jin young sama jiyong?” tanya pak young woon bingung. “mereka kan ga pernah cari gara-gara.”
“emangnya pojok Cuma yang itu apa?! Itu tuh..” bu yoona mulai menunjuk bangku yoochan.
Wajah pak young woon kembali masam seperti mangga belum matang. Sebenarnya ia sudah tahu pelakunya. Hanya saja, ia ingin melewati hari bersama bu yoona walau hanya satu jam. SATU JAM! *ini knapa jadi angst gini??
Pak young woon sedang menjalani pengobatan tradisional untuk darah tinggi dan mendidih. Entah kenapa, setiap mendengar nama atau kasus yang dilakukan yoochan, pasti sekujur badan pak young woon panas.
Ingin rasanya ia mengeluarkan yoochan dari sekolah. Malah ingin membunuhnya saja agar tidak ada bibit-bibit canggih (?) sepertinya. Tapi pak young woon adalah orang yang taat aturan dan penuh komitmen. Ia sudah bertekad, akan membuat anak pintar jadi tambah pintar, anak bodoh jadi sedikit pintar, anak jahil jadi baik, dan anak kembar yang jauh jadi dekat.
“saya bingung mau ngapainin dia!” kata pak young woon lesu.
“sama! Ibunya ngidam apaan sih bisa jadi dia? Kembarannya aja lembutnya minta ampun. Ckck..” balas bu yoona sambil menggelengkan kepalanya.
“ya sudah. Lagi ulangan kan? Hukum dia aja kalo nggak dapet 100.”
“itu dia pak!!” bu yoona mulai frustasi. “dia selalu dapet nilai segitu! Mau dihukum apaan?”
“yaaah.. bingung deh saya.” Pak young woon geleng-geleng. “ya sudahlah, terserah dia aja mau ngapain.”

*

istirahat tiba. Yoochan dan kwangmin seperti biasa, selalu ke kantin membeli roti dan minuman. Atau hanya numpang lewat dan pergi ke perpustakaan.
Yunho kembali lewat dengan tetek bengek (?) menari tarian khas michael jackson. Lalu memberi kedipan mata pada kwangmin dan membawa yoochan pergi ke tempat yang sepi di belakang.
“lo ngerti kan maksud gue tadi, humm?” tanya yunho dengan wajah memelas.
“yunhak psikopat. Gue tau!” jawab yoochan santai. “dia ngincer kakak gue karna waktu itu junsu nyatain cinta ke yoochun, padahal yunhak cinta banget sama junsu. Tapi yoochun nolak junsu dan junsu nangis. Dia cerita ke yunhak.”
“jadi?”
“gue mau kasih pelajaran!”
Yunho menjitak kepala yoochan. “sinting!! Ga mungkin lo kasih pelajaran. Yang ada dia bunuh lo duluan!”
“biarin aja. Asalkan ga yoochun.”
Yunho mengernyit. “tumben?”
“yoochun itu satu-satunya cucu nenek yang berhati lembut kayak sutra. Yang laennya gak terlalu! Apalagi cowoknya.” Yoochan menggeleng. “gue aja ga pernah diperhatiin sama nenek. Tapi yah.. kakek yang sayang sama gue. Tapi sayangnya dia udah dipanggil ama yang maha kuasa.”
“kebisaan dah ngubah topik! back to topic!!” wajah yunho kembali tegang. “gue kemaren ngeliat yunhak nyiapin belati!”
Yoochan mengernyit. “then? Dia mau bunuh yoochun secepat itu? Silakan!! Langkahin dulu mayat gue.”
Yunho menggeleng. “ga semudah itu, chan! Lo ga tau kan berapa orang yang udah dia bunuh? Dia pernah masuk penjara dua kali karna pembunuhan!”
“yaah.. Cuma dua kali?”
“tapi dia udah ngebunuh lebih dari 10 kali! Kalo ga salah terakhir dia ngebunuh itu sebulan lalu, dan jadi 12 korban seluruhnya.”
“jadi gue yang ke-13 kalo gitu? Silakan aja!!”
Yunho menghembuskan nafas panjang. Benar-benar tidak mengerti kenapa yoochan tidak terpengaruh dengan ucapannya dan malah menantang maut.
Di balik pohon besar, kwangmin memperhatikan dua sahabat itu berbicara 4 mata. Tidak banyak yang diketahui kwangmin. Tapi mendengar kata ‘pembunuhan’, ‘korban’ dan ‘penjara’ sudah cukup jelas. Yunhak benar-benar ingin menyelakai yoochan dan yoochun!

*

“mau makan apa?” tanya kwangmin sambil menunjuk stand makanan yang mulai ditinggalkan anak-anak.
“ngga napsu!” jawab yoochan sengit.
Kwangmin memaklumi. Pasti yoochan sedang memikirkan cara untuk mengalahkan yunhak agar ia tidak mati.
“yaudah. Gue mau pesen mie dulu ya. Lo mau ikut gak?” tanya kwangmin lembut. Dibalas dengan gelengan yoochan yang tidak bergairah.
Kwangmin mengangguk. Lalu berjalan ke stand yang menjual mie instan tanpa menengok ke belakang lagi.

*

Tanpa disadari yoochan, gadis itu sudah berada di tempat yang sepi. Di sebuah ruang kelas yang tidak terpakai lagi. Seseorang telah membawanya kesana. Diculik? Sepertinya. Tapi ia tidak disekap dan diikat.
Seorang lelaki dengan wajah yang ditutup masker berjalan mendekat ke arah yoochan berdiri. Gadis itu tersentak. Kemudian ia pasang badan. Siap menghadapi kenyataan. Dan ia tahu, yunhak-lah yang membawanya kesini.
“udah denger kan bejatnya gue dari yunho? Hmm?” kata yunhak dari balik masker.
Yoochan tersenyum sinis. “udah! Bosen gue. Emangnya itu bisa bikin gue takut? Cih! Salah besar!”
Masker yang menutupi sebagian wajah yunhak dibuka. Dan tersembullah senyum dingin bak malaikat pencabut nyawa.
“lo denger kan, yunho bilang gue udah nyiapin belati?” tanya yunhak lagi, dengan suara kecil.
“gue udah denger fakta bejat lo, brengsek!! Gue udah tau kebobrokan lo!” jawab yoochan dengan lantang.
“hmm.. tapi gue jamin lo ga tau.” Yunhak mendekati yoochan. “tapi mungkin lo kenal sama geng BLACKIE DEATH!”
Yoochan tersenyum mengejek. Lalu mendorong perut yunhak sampai lelaki itu terjengkang ke belakang.
“oh.. jadi lo ketua geng itu? Cih!! Ga perlu deh pake basa-basi. Gue bisa nebak.” Yoochan menggelengkan kepala. “bener-bener bego lo!!” kaki yoochan kembali melayangkan tendangan ke perut yunhak. Lalu wajahnya.
“uhuk..” yunhak tersedak karena tendangan di perutnya. Ia lalu tersenyum dingin dan menepuk tangannya. Dua orang berbadan besar langsung masuk ke dalam ruangan itu sambil membawa satu buronan.
“bagus ya!!” yoochan menepuk tangannya. Mengejek. “jadiin kembaran gue sebagai umpan.”
“lo yang jadi umpan, bego!!” cibir yunhak sambil mencoba berdiri. Tangannya menekan perutnya yang sakit.
“iya! Gue jadi umpan kemaren-kemaren. Sampe-sampe lo suruh anak buah lo buat nyerang gue. Tapi nyatanya, gue Cuma dikeluarin dari sekolah, dan gue masih sehat!”
Yunhak menggelengkan kepalanya. “pantes aja anak buah gue pada kalah sama lo. Lo bener-bener pinter!!”
“yoochan, please jangan lawan!!” pinta yoochun lirih. Seorang di sebelahnya menendang perut yoochun dengan dengkulnya.
“sialan lo!” umpat yoochan pada dua orang berbadan besar itu. “lo lawan gue dulu, nyet!! Baru lo bisa jadiin kembaran gue buronan!”
“yoochan, please.. aarrgghh..” yoochun kembali mendapat tendangan di perutnya. Darah segar langsung muncrat dari dalam mulutnya.
“ladenin aja, bro!! yoochun ga bakal kabur.” Kata yunhak. Dua orang berbadan besar itu langsung melepaskan yoochun dan mengepung yoochan.
“lo punya senjata gak? Keluarin!! Gue Cuma pengen tau!” kata yoochan, menantang maut.
Dua orang berbadan besar itu mengeluarkan belati.
“lo pada bisu ya?! Kenapa dari tadi ga ngomong?” kata yoochan meremehkan.
“kita punya belati!!” koor (?) dua orang itu.
“Otak lo tuh otak babu semua ya!! Ga ada perintah ga bakal jalan. Ckck..” yoochan menggelengkan kepala sambil tersenyum remeh. Lalu menatap yunhak. “kayaknya bos lo juga calon babu gue nih..”
Yunhak menggelengkan kepalanya sambil tersenyum pada dua anak buahnya. Lalu menyuruh dua orang itu mundur.
“sekarang lo berhadapan sama bos-nya. Ga ada istilah babu dan bos disini!” kata yunhak.
“keluarin belati lo!” suruh yoochan sambil mengadahkan tangan.
Yunhak menggeleng.
“keluarin, bastard!! Ga punya kuping lo? Tuli, umm?”
Yunhak mengeluarkan senjata biasanya. Lalu menunjukkannya ke atas kepala.
“mau ngambil kan? Silakan aja!”
Yoochan menggeleng. “gue bukan orang bego yang mau nyuri senjata orang.”
Yunhak mengangguk. Lalu menurunkan belati itu dan hendak memasukannya kembali ke saku celana.
“gue ga nyuruh lo masukin ya!” bentak yoochan.
Yunhak menghembuskan nafas dari mulutnya dan kembali mengangkat senjatanya. Senyum sinis kembali menghias wajahnya.
Yoochan tertawa kecil. Mengejek tentunya. Yoochun yang sedang menahan sakit di dekat pintu juga tertawa kecil tanpa suara. Tidak ada yang memperhatikan.
“puas?!” tanya yunhak kesal.
“puas banget!! Bisa juga lo diperbudak sama anak kecil. Ckck..” yoochan menggeleng. “ada bos, ada babu!”
Semua yang ada di ruangan itu tertawa puas. Termasuk anak buah yunhak yang berbadan besar. Yoochan menepuk pundak yunhak dan keluar sambil membawa yoochun lari. Tidak ada yang sadar saat itu.

*

2wins yoo kembali ke kelas dalam keadaan kumal. Yoochun apalagi. Terdapat noda darah di bajunya. Sedangkan yoochan, walaupun tidak ada darah, tapi ada luka batin yang mendalam.
“kalian kenapa?” tanya pak siwon lembut.
“a little accident.” Jawab yoochan lemas.
“kecelakaan apa? Kamu berantem sama yoochun?”
Yoochan menggeleng. “nggak kok.”
“beneran?”
Giliran yoochun yang menjawab. “bener pak! Sayangnya kita belom bisa jujur. Nanti kita dibilang ngadu.”
“kalian liat yunhak?” pak siwon mengedarkan pandang keluar.
Yoochan dan yoochun mengangkat dua bahunya. Terpaksa berbohong daripada harus menjalani introgasi lanjutan di kantor kepala sekolah.
Pak siwon mengangguk. “kerjakan buku paket dua bab. Hari ini harus dikumpul!”
Yoochan dan yoochun mengangguk. Lalu menyeret kaki mereka ke bangku belakang. Kemudian mengerjakan tugas fisika yang ditugaskan pak siwon.

At 7.00 pm

“yoochun, liat rumus dong!!” teriak yoochan emosi.
Yoochan yang sudah menguasai pelajaran itu dari masa lampau sudah menyelesaikan tugasnya sejak satu jam lalu. Sekarang ia jadi guru privat untuk yoochun.
“itu yang diatas disuruhnya apa sih? Masa dari tadi ga konek!! Cepetan ahh!! Ditungguin tuh sama pak siwon!!”
Kwangmin dan youngmin serta yunho dan pak siwon ikut menonton kejadian itu. Pak siwon geleng-geleng kepala takjub (?)
“sebenernya itu tinggal nyontek aja bisa! Pasti bener jawaban si yoochan.” Kata yunho.
“pak siwon tuh ga suka ada yang nyontek!” timpal kwangmin yang mendapat anggukan dari pak siwon.
“sebenernya mereka tuh yang paling deket loh..” kata pak siwon misterius (?)
“maksud bapak?” tanya yunho, kwangmin dan youngmin.
“ya.. sebenernya hubungan mereka tuh ga jauh. Malah mereka ga bisa jauh-jauh.” Kata pak siwon amat sangat yakin.
“ga yakin..” yunho menggelengkan kepala.
“menurut pandangan saya sih, yaa.. mereka ga bisa dipisahin. Yang ada mereka ga hidup. Mereka saling membutuhkan..”
“ckck.. segitunya..” yunho menggeleng tak jelas.

*

Besoknya, yoochan dan yoochun datang ke sekolah bersama. BERSAMA!! Ini hal yang jarang dilakukan dua anak ini. Kwangmin dan youngmin yang terlibat perang dingin saja tidak pernah terlihat berdua.
Sesuatu bergetar dari dalam saku celana yoochun. Yoochun mengambil benda kecil berharga itu dan menempelkannya di kuping setelah menekan tombol berwarna hijau.
“orang misterius. Mau ngomong sama lo!” kata yoochun dingin.
“ah?” jantung yoochan tiba-tiba berdebar kencang.
Yoochun mengangguk. Sebenarnya jantungnya juga berdebar kencang seperti genderang mau perang (?) tapi demi menjaga image sebagai laki-laki playboy pujaan wanita yoochun tetap memasang wajah tenang tapi dingin.
“halo?” sapa yoochan dengan suara berat ala laki-laki. Gaya biasanya jika sedang curiga.
“hari ini juga lo mati!” dan “biiip”
Yoochan menghentikan langkahnya. Padahal ia sudah ada di bibir tangga tinggal naik ke kelasnya. Telepon misteriusnya itu mengganggunya.
Apa semua ini akan menjadi dejavu??

***

“chan, ke kantin yuk?” ajak kwangmin ramah, seperti biasa.
“nggak!!” balas yoochan galak. Kwangmin sampai mundur beberapa langkah mendengar ucapan galaknya.
“kenapa?” kwangmin berbisik ke arah yoochun sambil menunjuk yoochan. Yang hanya dibalas dengan kerdikan dua bahunya. Lalu yoochun membentuk jarinya menjadi huruf P, M dan S.
Kwangmin menggelengkan kepala. Lalu pergi ke kantin sendirian karena orang yang sering menjadi setan kantin (?)nya sedang PMS *gue ga tau dah PMS apaan ==

*

Pulang sekolah..

Hubungan Yoochan dan kwangmin mulai berjalan dengan baik lagi. PMS yang numpang lewat di jiwa yoochan mulai hilang terbawa angin. Kenapa lagi kalau bukan gara-gara makanan?
“lo kenapa sih tadi?”
Pertanyaan kwangmin itu menghentikan aktivitas makan yoochan. Gadis itu berusaha keras untuk menelan kunyahannya yang ketiga. Tapi terlalu susah untuk melakukannya.
“chan?”
Yoochan menelannya pelan-pelan. Lalu tersenyum pada kwangmin sambil menggeleng.
“biasalah cewek kalo mau dapet kan gini..” katanya santai.
“kata yoochun lo belom? Kok bisa tau sih tanda-tandanya?” tanya kwangmin bingung.
“eh? Ahaha.. tau lah! Gue kan serbatahu. Apapun yang orang ga tau gue tau..”
“oh.. hehe..” balas kwangmin canggung.

***

“sialan dia barengan sama orang!” umpat seorang lelaki di dekat pohon besar depan sekolah.
Dia Jung Yunhak. Kali ini ia sendiri, tanpa ditemani anak buahnya yang berbadan super besar.
Yunhak menatap belati yang dipegangnya di tangan kiri. Seharusnya ini waktunya ia membunuh yoochan, nanti diikuti yoochun dan tidak ada lagi yang bisa mengambil junsu dari tangannya.
“hyung!!” panggil yunho memergoki yunhak.
“Eh, elo ho!” balas yunhak santai. “doain gue biar gue bisa bunuh tu anak!” yunhak menunjuk gadis di sebelah kwangmin.
“lo bunuh, gue ga bisa maafin lo sampe mati, hyung! Gue bakal lapor polisi dan bikin lo sengsara seumur hidup kalo lo ngebunuh dia!”
“emang lo siapanya sih? Penting gitu gue biarin dia hidup?”
“emang apa salah dia hyung? Apa salah yoochan?”
“bukan dia! Kembarannya!!”
“apa salah yoochun? Dia udah nolak junsu kan? Dan junsu juga udah bilang ke elo kalo yoochun ga bisa nerima dia karna yoochun itu normal.”
“tapi dia nyakitin junsu!! Lo ga tau kan kalo dia bunuh diri dua hari setelahnya?!”
Yunho membelalakkan matanya. “junsu—mati?”
“meninggal!” ralat yunhak. “junsu manusia!”
“oke, sori..” ucap yunho. “hyung, kematian itu kan takdir.”
“tapi ga mungkin junsu meninggal kalo si brengsek yoochun itu ga nyakitin dia.” Yunhak mengatakannya dengan rahang mengeras menahan amarah.
“tapi yoochun jujur, lagi juga yoochun kan lagi ada yang punya, jelaslah kenapa dia nolak!”
“TAPI BISA KALI BAIK-BAIK!! LO GA TAU SIH NYAKITIN BANGET TAU PAS GUE DENGER KATA-KATA DARI MULUT YOOCHUN PAS NOLAK JUNSU!!” teriak yunhak di tengah keremangan malam. Yunhak menghela nafas. “dia bilang, ‘sorry, gue masih normal. Gue bukan gay. Gue ga kenal lo, gimana gue bisa suka lo. Gue mohon, lo cari yang lain. Masih banyak cewek yang mau sama lo!’”
Yunho mengernyitkan dahi. Nyakitin? Dimana letak nyakitinnya? Yoochun kan bener ngomongnya!
“GUE MASIH NORMAL! GUE BUKAN GAY! GUE GA KENAL LO! Itu nyelekit, Ho!!”
Yunho mengangguk. “gue tau. Tapi.. Itu bukan salah yoochun, apalagi yoochan. Kematian itu takdir!!”
Yunhak mendorong tubuh yunho sampai terjengkang ke belakang. “takdir?? Junsu mati karna yoochun!! Lo ga—“
“Tuhan udah ngerencanain semuanya, kak! Dan rencana Tuhan itu junsu mati bunuh diri! So what?? Mau nyalahin takdir??”
Yunhak menatap adik kembarnya geram. “gue tetep ga akan maafin yoochun, dan lepasin yoochan!!”
“maksud lo..?” yunho bangkit dari posisinya. “lo—“
“okay, gue suka ama tu anak. Puas?!!”
Yunhak langsung pergi dari hadapan yunho. Yunho tidak bisa berkutik. Diam. Tidak tahu harus melakukan apa. Tidak tahu harus senang, atau malah sedih.

***

“Ho, gue suka sahabat lo. Tapi gue ga bisa maafin kembarannya. Menurut lo gimana?” tanya yunhak ketika di kamar.
Yunho menggeleng.
“selama ini gue bikin dia keluar dari sekolah itu karena gue pengen dia masuk sekolah gue! Gue pengen dia deket sama gue! Dia beda, Ho!”
Yunho mengangguk.
“lo jangan Cuma ngangguk dong!! Lo bantuin gue, gimana cara ngatasin ini semua!!”
Yunho menggeleng. “gue ga bisa lakuin apa-apa, hyung.”
Yunhak menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur. “huhh!!”
“sebenernya, lo suka sama siapa? Yoochan, atau junsu?” tanya yunho akhirnya. Ia masih bingung dengan perasaan sang kakak dari cerita.
“gue cinta junsu, tapi sejak ngelawan yoochan.. gue suka. Gue bingung kenapa! Gue ga pernah begini, ho!!”
Yunho mengangguk. Lalu menghela nafas berat.
“yoochan itu kalo dendam ga pernah lebih dari 2 jam. Tapi sama lo lebih hyung! Kalo begitu, yoochan bener-bener ga bisa maafin. Walaupun hubungan yoochan sama yoochun itu ga keliatan sedeket yang lain, tapi mereka saling menyayangi!” yunho menatap yunhak. “hyung, lo harus berusaha keras buat ngelupain dendam lo sama yoochun, dan damai sama yoochan. Tapi susah!! Kalo ga keras ga bakal bisa lo!”
Yunhak mengusap wajahnya. Lalu menghela nafas berkali-kali.
“gue bakal berusaha.. gue ga akan bunuh yoochun..”

***

TBC

Kyakyakyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
Ternyata ni ff makin ancur aja yaa !! hahaha..
Ga jelas ni cerita apaan >,< #kabuuuuuuur

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s