Uljima, Umma~

Title : Uljima, umma~ *bingung mau ngasih judul apa
Length : oneshoot
Genre : family, romance, comedy, little angst
Cast :
–    Kim Sungje
–    Park Yoochan
–    Je-Chan’s son XDD
a/n : saya membuat ff ini dengan rangka hari ibu !! hahaha.. tapi jadinya malah aneh..
saya sarankan untuk mendengarkan lagu For You – Cho shin sung/Cho Shin Sei a.k.a Supernova buat bagian akhirnya XDD

***

Anak laki-laki itu mendesah kesal.
Bosan. Ya. Yong Jun bosan di lapangan tempat anak-anak banyak bermain. Suara teriakan anak-anak yang sedang bermain bola mengganggunya. Tapi tidak ada pilihan lain selain menunggu sang ibu di tempat itu.
“yong jun-ah, maafin mama ya sayang..” akhirnya sang ibu datang. Ia langsung memeluk yong jun dan mengelus rambutnya sayang.
Wajah yong jun masih cemberut. Masih kesal karena untuk ke berapa kalinya ibunya itu telat menjemputnya.
“maaf ya mama telat. Tuh papa kamu manja banget! Minta disuapin makannya!”
Yong jun tersenyum kecil. Ia dan papanya memang sering minta perhatian pada wanita satu-satunya di rumah itu. Tidak ada yang mau mengalah kalau sedang mencari perhatian sang mama, termasuk papanya yang sudah dewasa.
“junnieeeee!!!” teriak seseorang.
Yong jun dan ibunya menoleh untuk melihat siapa yang berteriak. Sebenarnya sudah ada prediksi siapa yang memanggilnya. Tapi untuk lebih jelas mereka menengok.
“yeeee manja banget nih sama mama!!” katanya.
Kim sungje, papa manja—kata yong jun—mengacak rambut yong jun sampai tidak serapi tadi.
“manja apaan!” kata yong jun sambil mengerucutkan bibir. “aku aja ga jadi marah sama mama!”
“eh, marah sama mama ga enak loh, dek!” kata sungje sambil memicingkan matanya ke arah yoochan—sang ibu.
“dek, mau tau gak, dulu tuh kalo mama udah mulai marah sama papa, papa kamu nangis-nangis loh di depan rumah sampe diliatin tetangga. Dikira ga dikasih makan sama mama!” cerita yoochan untuk mempermalukan sungje di depan sang anak.
“boong tuh!! Mama ga usah dipercaya. Yang ada mama tuh yang kalo marahan sama papa nangis-nangis! Nanti akhirnya minta maaf sambil meluk-meluk. Gak mau ngelepasin!” balas sungje tidak mau kalah.
Yong jun tertawa keras. Kini ia tidak kesepian lagi. Ada super mama di samping kanannya, dan ada papa manja di sebelah kirinya. Mereka berdua sangat menyayanginya. Amat sangat menyayanginya.
“dek.. dek, dulu tuh papa maksa mama buat pacaran mulu loh sama dia! Sampe akhirnya mama mau nerima dia saking bosennya digangguin mulu!” cerita yoochan lagi yang dibalas dengan jitakan kecil di kepalanya.
“tapi akhirnya papa ngegodain mama terus abis diterima gitu!” kata sungje sambil tersenyum jahil ke arah yoochan.
“udah ah!! Yong jun jadi denger cerita dewasa gini!” yoochan mengangkat yong jun ke gendongannya.
“biarin! Biar nanti dia romantis sama pacarnya. Gak kayak mamahnya tuh!!”
Yong jun tertawa keras lagi. Matanya menyipit. Persis seperti sang ayah kalau tertawa. Semuanya juga ikut tertawa.
“mau kemana nih? Ke kantor apa ke rumah?” tanya sungje pada yong jun.
“kantor!!!!!” jawab yong jun semangat.
Yoochan mengecup pipi yong jun gemas. “sayaaang, kamu kok imut banget sih?!!”
“siapa dulu papahnya!!” sungje membanggakan dirinya sendiri.
“iya deh, papa ganteng!!”

***

Di kantor, yong jun tidak melakukan apa-apa. Hanya mengotak-atik komputer tanpa tahu untuk apa. Di kantor papa dan mamanya sebenarnya ada lapangan. Tapi yong jun terlahir sebagai anak yang punya kelemahan jantung. Yang tidak bisa bermain di lapangan seperti anak lainnya.
“junnie, ada game starcraft loh! Mau gak?” tanya sungje menyadari kebisuan yong jun.
Yong jun mengangguk. Lalu menatap layar komputer yang sedang di otak-atik ayahnya. Setelah game starcraft ditemukan, sungje mengkliknya dua kali. Dan layar hitam langsung menyambutnya.
“kok mati pah?” tanya yong jun bingung.
Sungje menoleh ke atas. Diikuti yong jun yang penasaran.
“bagus ya papa!!” yoochan menjewer telinga sungje di depan yong jun. yong jun tertawa terpingkal menatap kedua orangtuanya itu.
“yong jun yang mau kok!! Iya kan dek?” tanya sungje sambil meringis menatap yong jun.
Dengan wajah tanpa dosa yong jun menggeleng. Jeweran di kuping sang ayah pun makin keras. Yong jun dan mamanya tertawa keras.
“itu dicariin dari tadi kok, direktur kim!!” yoochan melepaskan jeweran di kuping suaminya. Lalu menggandengnya ke ruangan khusus direktur.

***

“siapa yang nyari, sayang?” tanya sungje setelah duduk di bangkunya.
Yoochan mengangkat tangan setelah duduk di bangku depan meja sungje. “aku!”
Sungje mendengus kesal. “kangen sama aku? Aku kan disamping kamu terus!!”
Yoochan melayangkan jitakan ke kepala sungje.
“masalah yong jun..”
Sungje tersentak. Mencoba tenang. “wae?”
Yoochan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Mencoba menghalau air mata yang sebentar lagi pasti meluncur deras.
“Ada kegiatan outbond dari sekolah. Yong jun mau ikut.” Yoochan menghela nafas. “aku mau dia ikut..”
Sungje ikut menghela nafas. “yong jun-nya?”
“mau juga.”
Sungje menutup wajahnya dengan telapak tangan juga. “dia bilang ke kamu mau begitu?”
Yoochan menggeleng. “aku liat di diary-nya. Tanpa sadar kita ga ada artinya buat dia.”
Sungje menggeleng. Ia berdiri dan mengajak istrinya duduk di sofa empuk ruangan itu.
“bukan ga ada artinya,” ucap sungje. “dia ga mau bikin kita sedih. Jadi dia ungkapin di tempat lain.”
Yoochan menyandarkan kepalanya di dada bidang sungje.
“kamu pernah gak denger dia cerita menyedihkan ke kita?” sungje mengelus kepala istrinya lembut. “nggak kan?”
Yoochan mengangguk. “tapi please, Je. Bikin dia bisa main!”
Sungje menggeleng. “kalo aku jadi Tuhan, aku pasti bakal sembuhin yong jun dan jadiin dia normal. Tapi sayangnya, aku manusia. Aku gak bisa apa-apa. Kita serahin semua ke Tuhan ya..”

***

“kita duluan ya, pak..”
“ne..”
“duluan pak..”
“iya..”
Kantor itu perlahan sepi. Tinggal sekeluarga pemilik perusahaan saja yang masih di dalam gedung.
“mau jalan dulu gak?” tanya sungje pada yong jun.
Yong jun menggeleng. Lelah.
“sini.. uuuhhh.. junnie udah gede nih!! Makin berat aja!” sungje menggendong yong jun. lalu menatap istrinya yang menatap iba ke sang anak.
“sstt.. tenang aja..” sungje menepuk pundak yoochan. Lalu mengajaknya keluar kantor.

***

Yong jun langsung tertidur lelap setelah di turunkan dari gendongan sungje ke kasur. Kedua orang tua muda yang menyayangi anak semata wayangnya itu menungguinya. Walaupun masih memakai baju kantor dan belum menyentuh air sama sekali.
“Yong jun mirip banget sama kamu..” yoochan membelai pipi anak laki-laki itu. “padahal lahirnya dari rahimku..”
Sungje tersenyum. “tapi yong jun kuatnya kayak kamu.” Sungje menatap istrinya. “yong jun nyembunyiin keburukan dan memendamnya di dasar. Kamu juga..”
Yoochan menatap sungje. Bekas air mata terlihat jelas di wajahnya. Sungje mengulurkan tangannya dan menghapusnya.
“maafin aku ya, aku nggak ngasih yang kamu mau..”
Sungje menggeleng. “kamu ngasih aku segalanya. Kamu ngasih aku cinta, harapan, kesetiaan, dan juga..” sungje mengelus rambut yong jun. “yong jun..”
Yoochan berdiri. Mengambil piama dari dalam lemari untuk mengganti seragam yong jun. sungje juga membantunya.
“yong jun kecil banget..” yoochan mengecup pipi yong jun. “dikira masih TK. Padahal udah kelas 2.”
Sungje menarik celana yong jun ke atas. “tapi pikirannya udah lebih dari kelas 6 SD..”
Ya~ kedua orang ini harus bersyukur. Mempunyai seorang malaikat kecil yang tidak pernah mengecewakannya. Selalu menurut dengan apa yang diperintahkan, selalu semangat menjalani hari, dan selalu membanggakan orangtuanya dengan prestasi segudangnya.

***

Sungje harus ekstra sabar menenangkan sang istri yang terus menangis karena yong jun. pria itu memeluknya sambil mengelus rambutnya. Hal yang biasa dilakukannya untuk menangkan yoochan.
Yoochan shock. Ketika sedang memulai rapat, pihak sekolah menelponnya dan mengatakan yong jun tiba-tiba pingsan dan langsung dibawa ke rumah sakit. Akhirnya rapat itu tidak jadi dilaksanakan hari itu.
“yong jun baik aja, sayang..” kata sungje mencoba menenangkan.
Dokter yang memeriksa yong jun keluar. Sungje langsung menepuk pundak istrinya untuk memberitahunya. Pasangan suami istri itu mengikuti langkah dokter ke ruangannya.

*

“yong jun nggak papa. Cuma kecapekan aja.” Kata dokter itu. “terus juga sering kena debu.”
Sungje dan yoochan sama-sama menghela nafas lega. Buah hatinya itu baik-baik saja.
“terus, jantung yong jun gimana?” tanya yoochan khawatir.
“baik-baik aja, asal dijaga. Jangan sampe kecapekan dan jaga pola makan. Terus jangan lupa check up. Itu aja!”
Sungje mendesah lega. “tuh kan, yong jun ga papa! Kamu sih terlalu protective!”
Yoochan tersenyum. “terus, dokter masih berusaha nyari jantung buat yong jun kan?”
Dokter itu mengangguk. “pastinya..”
Kedua orangtua itu lega. Mereka langsung keluar dan menengok si buah hati yang masih tergolek lemas di kasurnya.

*

Yong jun sudah membuka matanya ketika kedua orangtuanya sampai di ruang inapnya. Kondisinya masih lemah. Alat bantu pernafasan masih melekat di tubuhnya.
“maafin mama ya sayang.. coba mama kuat waktu itu. Pasti kamu lahir tepat waktu..”
Ucapan itu terdengar jelas di telinga yong jun. anak laki-laki itu merasa bersalah telah membuat ibunya menangis lagi untuknya. Padahal ia sudah bersyukur masih mempunyai kedua orang tua yang sempurna. Yang menyayanginya lebih dari apapun.
“kamu sabar ya sayang. Nanti mama cariin jantung baru buat kamu. Kamu nanti bisa main. Yong jun berdoa ya..” yoochan menggenggam tangan yong jun.
Yong jun mengangguk lemah tanpa diketahui yoochan. Anak laki-laki itu menatap langit-langit ruang inapnya. Ia berdoa. Meminta Tuhan untuk mengabulkan keinginan ibunya.

***

“sebentar lagi hari ibu. Kamu mau kasih apa?”
Yong jun menoleh ke arah hyun ra, sepupunya yang sedang berbicara dengan teman-temannya.
“nggak tau. Kamu Ra?”
Yong jun menghela nafas. Menatap buku pelajarannya yang sudah terisi penuh oleh jawaban-jawabannya. Tidak ada hal lain yang bisa dilakukannya selain itu.
Jantung lemah membuatnya harus diam dan tidak boleh kelelahan. Setiap pelajaran olahraga yong jun pasti hanya diam di lapangan dengan baju olahraganya. Tidak diizinkan ia ikut olahraga. Padahal olahraga itu penting.
Setiap ada upacara pun begitu. Yong jun akan diam di dalam kelas bersama seorang guru dan berbicara seperlunya dengan sang guru. Anak laki-laki itu bosan dengan hidupnya.
“yong jun, kamu nanti ikut dateng outbond pas hari ibu?” tanya hyun ra.
Yong jun menatap sepupu perempuannya itu lesu. Ia mengedikkan bahu sambil menghela nafas. Ia sendiri bingung ingin mengatakannya pada kedua orangtuanya atau tidak tentang hari ibu itu.
“nggak tau. Kalo dateng juga aku nggak ngapa-ngapain kan? Cuma diem? Kayaknya nggak usah aja, daripada ngiri..” jawab yong jun sambil tersenyum manis.
Hyun ra mengangguk. Tapi dalam hati ia sedih juga. Sepupunya itu memang punya kelemahan jantung. Hanya hyun ra satu-satunya orang yang mau dekat yong jun di sekolah.
“tapi kamu bilang ya ke om sama tante kalo ada acara di sekolah. Biar papa sama mama mau dateng juga..” pinta hyun ra.
Yong jun mengangguk. “iya deh..”
“makasih ya, yong jun!!”

***

Sungje dan yoochan menyadari kebisuan yong jun sampai di rumah. Yong jun tidak melakukan hal lain selain menyendiri di perpustakaan sejak pulang sekolah. Bahkan ia tidak mau diajak ke kantor tadi.
“je, dia kenapa??” tanya yoochan khawatir.
“kan kamu ibunya. Tanya dong!!” balas sungje. Dibalas dengan tonjokkan di dadanya.
“kayaknya punya masalah. Apa.. gara-gara..”
Sungje menempelkan telunjuknya di depan bibir yoochan. “nggak mungkin. Yong jun Cuma butuh waktu menyendiri. Bosen juga kali dia main sama mama papanya mulu. Kalo nggak sama hyunra. Tambah bosen dia main permainan cewek. Makannya, dia di perpus.” Sungje memeluk yoochan dari samping. Mengajaknya pergi dari depan perpustakaan kecil yang dibuatnya. “kita ngomong di kamar aja. Biar aman!!”
Yoochan menghela nafas berat. “iya..”

***

“junnie, mau cerita ke papa?” tanya sungje ketika malam-malam ia datang ke kamar yong jun. tentu saja tanpa sepengetahuan yoochan.
Sungje tahu anaknya itu tidak akan tidur kalau punya masalah. Makanya ia sempatkan ke kamar diam-diam.
Yong jun membalikkan tubuhnya. Menatap sang papa yang tersenyum manis menunggunya berbicara. Yong jun duduk di atas ranjangnya. Mendekati sang ayah yang juga duduk di pinggiran kasur.
“di sekolah ada acara buat hari ibu.” Kata yong jun memulai pembicaraannya. “disitu juga ada outbond, antara ibu sama anak. Atau papa sama mama, atau papa sama anak buat mama. Tapi.. yong jun kan..” anak itu menatap sang ayah yang masih tenang menghadapi masalahnya. Sungje memeluknya hangat.
“yong jun kenapa emang? Yong jun sama kok! Kamu lahir dari perut siapa?” sungje menatap mata anaknya.
“mama..”
“yang ngandung kamu siapa?”
“mama..”
“yang nyusuin kamu siapa?”
“mama..”
“yang sering nangisin kamu siapa?”
Yong jun menghela nafas. “mama..”
“yang selalu janjiin yang terbaik buat kamu siapa?”
Yong jun menunduk. Badannya berguncang. Sungje tahu, anaknya itu sudah sadar. Yong jun lalu mengangkat wajahnya yang penuh air mata. Sungje tersenyum, lalu memeluk yong jun lagi.
“sekarang papa tanya,” sungje melepaskan pelukannya. Mencengkram bahunya untuk menguatkannya.
“sekarang yang di depan kamu siapa?”
“papa..”
“yang ada di samping kamu selain mama?”
“papa..”
“yang ngasih kamu uang siapa?”
“papa..”
Sungje tersenyum. “nah!! Temen-temen kamu gini juga gak? Apa mereka selalu dikelilingi mama-papanya?”
Yong jun tersenyum. Lalu menggeleng. Anak itu sudah mengerti. Ia memang beruntung. Sangat beruntung malah. Ia punya segalanya. Kasih sayang melimpah. Lebih dari hartanya.
“nah, mana surat undangannya? Biar papa bikin surprise. Tapi jangan bilang mama yaa..” bisik sungje.
Yong jun mengangguk. Lalu turun dari tempat tidurnya menuju meja belajar. Ia mengambil salah satu buku, lalu membuka halaman tengah. Disana ada selembar kertas. Yong jun mengambilnya dan memberikannya pada papanya.
“okay. Kamu tunggu aja kabar dari papa! Inget, jangan kasih tau mama!! Urusan mama biar sama papa aja. Okay??” sungje mengangkat jari kelingkingnya di depan dadanya.
Yong jun juga mengangkat kelingking kecilnya. Lalu mengaitkannya pada jari kelingking papanya yang besar.
“sekarang jagoan papa tidur ya!! Besok kan sekolah. Kalo nggak sekolah, nggak ada komputer!” ancam sungje.
Yong jun langsung merebahkan dirinya di atas kasur. Ia tersenyum pada sang ayah. Orang yang selalu ribut untuk urusan mama kini akur karena mama juga.
Sungje menunggui yong jun sampai ia menutup matanya rapat. Setelah benar-benar tertidur, sungje menarik selimut sampai dada yong jun. lalu mengecup keningnya dan pergi dari kamar buah hatinya.
“tidur nyenyak ya, sayang..”

***

“aku jemput yong jun ya! Kamu urus aja deh klien-nya!”
Yoochan bingung. Tapi ia tetap mengerjakan pekerjaan yang seharusnya dikerjakan suaminya sebagai bos.
Tiga hari ini sungje rutin menjemput yong jun duluan. Yoochan tidak diperbolehkan ikut. Katanya “urusan laki-laki”.
Sebenarnya ia takut kalau sungje akan mengajarinya yang tidak benar. Tapi melihat hubungan yang makin dekat antara sungje dan yong jun membuatnya yakin, kalau sungje mengajari yang benar.
“bu, bagaimana dengan yang ini?”
Yoochan memeriksa proposal yang telah dibuat karyawannya. Lalu menyetujuinya karena sesuai dengan yang diinginkannya.

***

“lagunya gampang kok dek!! Coba ikutin papa..” sungje berdeham sebentar.

Arigatou kimi no egao ni
Yozora terasu ano hoshi no youni
Arigatou ima kimi no tame ni
asu ni mukaou itsuni..

Yong jun mencoba mengikuti lagunya. Walaupun susah, anak itu tetap berusaha.
Sudah tiga hari yong jun mengikuti pelatihan menyanyi dari ayahnya yang ternyata bersuara ‘lumayan’. Tapi cara mengajarnya itu, membuat yong jun bosan dan kesal! Sekali salah = dijitak. Pelan sih..
“acaranya 4 hari lagi. Kita harus siap!!” sungje memberi semangat pada yong jun. “semangat!!”

***

Mirai yayukou..
Itsuni.. itsuni.. itsu demo..
Itsuni..

Yong jun mengakhiri lagu For You ciptaan ayahnya dan beberapa rekan kerjanya yang pernah membuat band itu dengan sangat baik. Tepuk tangan meriah diberikan dari kelima teman ayahnya itu.
“kamu berbakat banget, jun!!” kwangsu, teman ayahnya yang menjadi guru theater itu menepuk pundak yong jun salut.
“siapa dulu dong papanya!!” kembali sungje membanggakan dirinya. Kelima temannya langsung menjitaknya ramai-ramai.
“yeee.. anak ya anak. Bapak ya bapak!! Keila aja beda kok!” kata geonil, si pengusaha kaya di jepang.
Yong jun tersenyum. Ia sudah siap untuk besok. Acara besok ia harus siap!! Harus!! Tidak boleh mengeluh walaupun jantungnya siap meledak tiap malam.

***

“aaahhh.. mamaaaaaaaa!!” Yong jun merintih kesakitan setelah keluar dari ruang perpustakaan. Ia memegangi dadanya yang seperti tertekan benda berat.
“mamaaaaaaaaaaaaaa!!!” rintih yong jun lagi. Tapi suaranya tercekat. Tidak bisa kencang. Tidak mungkin terdengar sampai ruang TV. Jangankan itu. Di dapur yang berjarak lima langkah saja tidak bisa terdengar.
“mamaaaaaa..”
Akhirnya yoochan dan sungje datang tergopoh. Yong jun tergolek lemas di lantai depan perpustakaan sambil memegangi dadanya. Nafasnya tercekat. Wajahnya pucat.
“YONG JUUUUUUN!!!” Yoochan langsung mengangkatnya dengan berurai air mata. Sungje segera mencari kunci mobil untuk mengambil mobil di garasi.

*

Keempat kalinya dalam 2 minggu, yong jun masuk rumah sakit lagi. Kondisinya kini lebih parah. Sampai satu jam kemudian dokter tidak muncul. Sungje mulai cemas. Amat sangat cemas. Karena menginginkan yang terbaik untuk acara besok, ia lupa dengan kondisi yong jun.
“yong juun..” lirih yoochan.
Sungje memeluknya erat. “mianhe.” Gumamnya. Tapi tidak terdengar di telinga yoochan. Sungje menangis. Menangisi kebodohannya tepatnya.

***

“gimana yun? Yong jun bisa tampil besok nggak?” tanya sungje panik pada dokter di tengah malam.
Dokter yang memeriksa yong jun berfikir sejenak. Kemudian menggeleng lemah.
“dokteeeeer!!” sungje menggenggam tangan dokter. Mencoba mengubah pikirannya. Yang ada di otak sungje hanyalah kado untuk sang ibu dari kim yong jun, anaknya.
“dok, dokter bisa bayangin gak kalo dokter ada di posisi saya? Saya mencoba meyakinkan anak saya bahwa ia kuat, ia bisa memberikan kado untuk mamanya di hari ibu..” sungje menitikkan air mata.
Dokter itu mengangguk. “tentu saja. Aku ada di posisi anda..” dokter itu menepuk pundak sungje. “kau boleh membawanya, asalkan ada dokter yang menjaga.”
Sungje tersenyum. “yunhak nggak sibuk kan?”
Hanya jung yunhak, temannya yang bisa membantunya untuk besok. Demi yong jun!!
Dokter yang memeriksa yong jun mengangguk. Diikuti anggukan sungje yang tersenyum penuh harap.  Ia sangat yakin kalau besok akan lebih baik dari yang dibayangkannya.

*

Yong jun terisak di dalam ruang inapnya. Inilah saat yang paling ia benci. Ada di rumah sakit ketika ada hal yang penting.
Yoochan dan sungje tidak ada di ruangannya. Yong jun bebas sekarang. Bebas mengekspresikan apa yang bergejolak di dalam hatinya. Anak itu putus asa. Habis sudah usahanya untuk memberi kado untuk hari ibu.
“Yong jun-ah, kok bangun?” tanya sungje yang langsung masuk ke kamar inapnya.
Yong jun buru-buru menghapus jejak air matanya. Tapi tetap saja sungje tahu kalau jagoan kecilnya itu menangis.
“tenang aja!! Papa dapet caranya buat besok!! Yong jun nggak usah nangis ya?”
Hanya kalimat itu..
Yong jun mendapatkan spiritnya lagi. Mendapatkan semangat yang sempat hilang hanya karena rumah sakit.
“mama mana?” tanya sungje sambil menoleh sana sini mencari istrinya.
Senyum yong jun pudar. Digantikan dengan rasa bersalah yang amat sangat. “nyari jantung baru buat yong jun..”
Sungje menghela nafas berat. Lalu memeluk anak semata wayangnya yang masih lemah.
“yong jun udah punya kata buat disampein ke mama kan?” tanya sungje.
Yong jun mengangguk di pelukan sungje. “udah pa..”
Sungje ikut mengangguk. “good!! Jagoan papa emang the best!!”

***

Aula serbaguna sekolah yong jun telah disulap menjadi panggung theater yang megah. Dihiasi dengan berbagai macam hiasan yang biasa disukai ibu-ibu, sekolah itu tidak terlihat seperti sekolah. Tapi pesta untuk ibu-ibu.
Sungje terus membisikkan kata penyemangat untuk anaknya yang masih lemah di gendongannya. Yang masih memakai baju rumah sakit. Yang juga harus memakai infus di tangannya. Di belakangnya berdiri ibu dan juga dokter pemeriksanya.
“kim yong jun anak hebat!! Kim yong jun bukan anak lemah!! Kim yong jun jagoan dari korea!!” bisik sungje di telinga yong jun. yong jun tertawa kecil.
Tanpa sadar yoochan tersenyum. Senyum lembut seorang ibu yang ikut bahagia melihat anaknya bahagia.
“kamu hebat! Punya anak kayak yong jun!” ucap dokter jung sambil tersenyum.
Yoochan tertawa kecil. “beruntung banget! Yong jun anak hebat!”
Para tamu undangan duduk di tempat yang sudah disediakan. Dokter jung juga ikut menemani. Ia duduk di sebelah sungje daripada diamuknya kalau duduk di sebelah yoochan.
Akhirnya acara dimulai. Acara dimulai dengan penampilan memukau murid kelas 1 yang bernyanyi sambil berakting.
Kemudian dilanjut dengan pembacaan puisi dari anak kelas 1 tentang ibu. Para hadirin menitikkan air mata mendengar lantunan puisi yang dibaca dengan penuh penghayatan oleh anak itu.
Setelah itu giliran penampilan kelas 2. Yong jun mencoba tersenyum ketika teman-temannya tersenyum. Tersenyum padanya. Anak itu menatap selang infus yang menempel di tangannya. Lalu tersenyum pilu.
“nanti yong jun juga ngerasain! Tenang aja..” kata sungje kembali menyemangati anaknya.
Yong jun mengangguk. Toh ia tidak akan selamanya diam di pinggir lapangan, di dalam rumah atau kelas.
Penampilan drama musikal kecil-kecilan itu ditutup oleh murid kelas 6. Lalu dilanjut oleh hiburan dan pesan dari beberapa anak untuk mamanya. Hiburannya harus dilakukan bersama ayah. Sedangkan pesannya diucapkan anak tanpa bantuan sang ayah.
“Kita sambut Kim Yong Jun dan papa!!!” teriak MC yang adalah anak kelas 5 dan 6.
Yong jun dan sungje mengatur nafas agar tidak gugup. Lalu meminta doa pada yoochan untuk penampilan mereka. Sungje mengedipkan mata ke istrinya seakan mengatakan ‘anak kita akan menunjukan yang terbaik’.
Sungje mengundang teman-teman lamanya yang pernah membuat band dengannya untuk menjadi pemain musik pengiringnya. Termasuk dokter jung juga ikut menyumbangkan kemampuan bermusiknya.
Yong jun menekan tuts piano-nya bersamaan dengan suara belakang dari teman-teman papanya. Bagian pertama ia nyanyikan dengan lancar walaupun air mata bercucuran menahan haru.
Ironna omoi ga afureru dasu “ima” dakara
tsutaetai kimi ni
Lalu dilanjutkan oleh sungje.

tanoshii jikan mo
tsurai koto mo subete
kokoro kara wakachi atta

Lirik itu sukses membuat yoochan yang duduk di bangku penonton tak bisa membendung air matanya. Melihat itu, yong jun dan sungje sama-sama tidak bisa mengendalikan emosi dan menangis. Tapi tidak mengurangi konsentrasi mereka untuk bernyanyi dan memainkan musik.
Di tengah-tengah lagu, Yong jun berdiri dari balik piano. Ia mengambil mic yang tadi ia gunakan untuk bernyanyi sambil memainkan piano. Lalu mulai mengungkapkan isi hatinya untuk mamanya tercinta.
“mama..” ucap yong jun sambil menyeka air matanya. “mama itu super!! Mama itu hebat!! Mama itu lebih dari apapun..”
Yoochan benar-benar tidak bisa menahan emosi. Ia menangis sejadinya di bangku penonton. Hani, istri sung eun—kakak sungje—memeluknya untuk menenangkannya. Sedangkan sung eun hanya bisa menepuk pundak adik iparnya.
“walaupun mama nggak pernah tepat ngejemput yong jun, walaupun mama nggak pernah bisa berhenti nangis kalo udah nyangkut yong jun, walaupun mama nggak pernah bisa tenang kalau yong jun sakit, mama tetep mama hebat buat yong jun!!” yong jun mengelap air matanya. “mama emang nggak sempurna. Mama punya kelemahan. Tapi kelemahan mama itu nggak ada apa-apanya dibanding jasa mama selama ini..”
Sungje yang berdiri di belakang yong jun untuk memegangi tabung infusnya ambruk karena tidak percaya dengan ucapan sang anak. Akhirnya dokter jung yang membawakan tabung infusnya.
“mama emang nggak ngelahirin yong jun tepat pada waktunya. Mama emang nggak ngelahirin yong jun dengan sempurna seperti anak lain, tapi yong jun tau mama udah berusaha buat yong jun. mama bertaruh nyawa buat yong jun. mama selalu berusaha nyari jantung baru buat yong jun..” kembali yong jun membuat seluruh pengunjung menangis.
Yong jun menatap mamanya dengan berurai air mata. Sebisa mungkin ia menghapus air mata yang selalu mengalir tanpa bisa dibendung.
“mama..” ucap yong jun lirih. “yong jun nggak butuh jantung baru. Yong jun nggak butuh apapun selain mama. Selain super mama, dan papa manja!”
Penonton tertawa di tengah tangisan. Sungje yang tadinya sesak nafas karena tidak mampu menahan emosi juga ikut tertawa. Aibnya terbuka lebar.
“yong jun hanya butuh mama dan papa! Yong jun butuh kalian berdua!! Yong jun nggak mau ngerepotin kalian!!” ucap yong jun keras. Membuat orang tua siswa yang datang bertepuk tangan.
“mama, jangan nangis buat yong jun lagi ya?” yong jun mengangkat jari kelingkingnya. “yong jun janji, nggak akan buat mama khawatir lagi!! Yong jun akan baik aja!! Yong jun nggak akan membuat mama nangis lagi dan lagi!! Yong jun janji!!”
Semuanya bertepuk tangan. Sungje langsung bangkit dan mengangkat anak semata wayangnya itu tinggi-tinggi. Membanggakan putranya yang benar-benar membanggakan.
Lagu berlanjut. Dengan teman-teman sungje sebagai penyanyinya.

arigatou kimi no egao ni
kagirinai ano hoshi no youni
arigatou kimi no tame ni
asu ni mukou
mabushii mirai e yukou
isshoni…
isshoni…
itsu demo isshoni
Dan penampilan memukau itu ditutup dengan tepuk tangan meriah dari para penonton. Yong jun tersenyum. Walaupun ada sedikit rasa sesak di dadanya. Tapi ia percaya, rasa sesak itu adalah kelegaannya telah mengungkapkan semuanya pada mamanya.
“anak papa hebat!!” bisik sungje sambil mengecup yong jun berkali-kali setelah turun panggung.
Yoochan langsung berlari memeluk anaknya. Darah dagingnya. Ia ciumi hampir semua bagian wajahnya. Tidak ia biarkan anak hebatnya itu pergi. Tidak akan ia biarkan anaknya itu pergi dari hidupnya.
“mama..” yong jun berkata lirih sambil memegang dadanya.
“kamu sakit lagi?” tanya yoochan panik. Dokter jung langsung cepat-cepat memeriksa detak jantung yong jun.
“lemah~”

***

Sepilah sudah pemakaman itu. Tidak ada orang yang berkerumun untuk memberikan penghormatan terakhir untuk yang meninggal.
Yoochan masih diam mematung di depan gundukan tanah yang mengubur buah hatinya tercinta. Buah hatinya yang kemarin memberikan penampilan yang memukau untuknya. Buah hatinya itu kini telah pergi.
Mungkin itulah maksud yong jun. ia berjanji tidak akan membuat mamanya menangis lagi dan lagi. Inilah.. yong jun lebih baik pergi agar tidak memberikan beban untuk mama dan papanya.
“yong jun sayang..” kata yoochan sambil mengelus batu nisan yang mengukir nama yong jun. “kamu udah capek ya liat mama nangis? Maaf ya sayang. Kamu jadi pergi..”
Sungje menggeleng. Lalu berlutut di sebelah yoochan. Pria itu menyandarkan kepala yoochan ke dadanya.
“yong jun sayang, kamu malah bikin kita tambah nangis sayang. Kamu kenapa pergi sih?” tanya sungje sambil menitikkan air mata.
Rintik hujan perlahan turun. Lalu makin deras seperti air mata yoochan dan sungje. Tidak mereka pedulikan derasnya hujan itu. Mereka belum rela anak semata wayangnya yang kemarin masih tersenyum itu akhirnya pergi. Pergi jauh ke tempat yang tidak mereka tahu.
“yong jun, mama pulang ya!!” akhirnya yoochan mengakhiri perjumpaan itu. Merelakan kepergiannya demi kebahagiaannya. “kamu pasti sehat disana. Main-main sama yang baik ya sayang! Mama nggak mau kamu jadi anak jahat..”
Sungje berdiri. Lalu membantu istrinya juga berdiri. Mereka berpamitan pada yong jun yang dikubur di dalam sana. Sungje lalu menuntun yoochan menuju mobil.

***

10 tahun kemudian..

“YONG JUUUUUUUUUN!!!!!!!!” teriak yoochan geram.
Anak laki-laki bertampang jahil itu tersenyum mengejek setelah menumpahkan minyak goreng ke atas lantai. Melihat ibunya marah, ia malah kabur.
“YONG JUUUUUUUUN!!!” giliran sungje yang berteriak ketika anak laki-laki itu menabraknya ketika sedang berjalan menuju dapur.
Sungje menggeleng. Lalu tersenyum pada istrinya. Yoochan juga tersenyum. Entah perasaannya kini bagaimana.
“yong jun yang ini beda banget kan?” kata sungje sambil mengedipkan sebelah matanya. “mirip kamu banget!”
Yoochan memukul pelan dada sungje. “iya iya!!”
Kematian yong jun yang tiba-tiba ternyata membawa berkah lebih untuk pasangan ini. Setahun kemudian mereka telah mendapat pengganti yong jun yang diberi nama yong jun juga. Tapi sifat mereka beda. Berbeda jauh!
Yong jun yang pertama baik, pintar dan penurut. Sedangkan yong jun pengganti jahil, tidak terlalu pintar dan tidak mau menurut.
“Kangen yong jun yang dulu..” kata yoochan sambil menatap yong jun yang sedang sibuk menendang-nendang bola diluar.
Sungje tertawa kecil. Lalu berdiri di sebelah yoochan dan memeluknya dari samping. Mereka menatap titipan Tuhan yang sedang mengolah bola dengan lincahnya.
“yong jun yang ini bisa bergerak bebas..” kata sungje sambil menyibakkan rambut yoochan.
Yoochan tersenyum sambil mengangguk. Lalu menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya. Tempatnya bersandar.
“MAMA!! PAPA!!” teriak yong jun dari luar. “AKU DAPET TIKET SELEKSI PEMAIN INTI U-10!! MAMA PAPA NONTON AKU YA!!”
Walaupun mereka berbeda, tapi mereka sama-sama membanggakan. Hanya saja berbeda bidang. Yong jun satu dalam akademis, sedangkan yong jun dua dalam olahraga.
“pasti!!” sungje mengangkat jempolnya. “anak papa hebat!!”
“anak mama banget tuh kalo hebatnya begini!!” yoochan ikut menyumbangkan jempolnya.
Yong jun dua tersenyum dari luar. Lalu kembali bermain dengan bolanya. Menggiringnya dengan lincah. Tidak ada halangan untuknya.
“Tuhan.. terima kasih telah memberikan mereka untuk kami..” ucap yoochan sambil menatap langit dari dalam dapur.
Sungje mengangguk. Menyetujui. “ya. Terima kasih Tuhan..”

END~~

Sumpeh nangis gue bikinnya !!! T.T
Sebenernya nggak mau ending begini !! tapi entah kenapa jadi begini #bantingotak
Makasih bagi yang nyempetin baca!!
Your comment is my spirit..!!

5 thoughts on “Uljima, Umma~

  1. Fie 'Ilumination .BoFi.'

    Huhuhuhu😥
    author belajar dari mana sih bkin ff bgni?! Sukses bgt buat aku nangis😥
    daebaaaaaaak!!!
    Coba di bkin chapter, tambah keren tue!!
    Ok dech, ku tngu ver. Chapterny xD

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s