Time To Love part 5

Title : “Time To Love” *ga tau dah ni nyambung apa kagak ==”

Genre : comedy (?), romance (?), family, shonen-ai, yaoi, mpreg

Length : ga banyak-banyak (?)

Rate : PG 15 (?)

Cast :

–       park geonil *Cho Shin Sung*

–       kim sungje *Cho Shin Sung*

–       other Cho Shin Sung members~

Summary : kim sungje, namja cantik yang kaya dan terhormat meminta tolong kepada park geonil, si kutu buku yang menyukainya untuk mengakui anak di dalam kandungannya itu sebagai anaknya, dengan jaminan sungje akan belajar mencintai geonil dan menerimanya apa adanya. Maukah geonil melakukannya setelah sungje menolak cintanya mentah-mentah?

Disclaimer : all cast in this ff is belong to me *digaplak* and the story also mine. Jadi kalo ternyata ada ff yang mirip ama ff ini, itu bukan kesengajaan ^^

A/N : I’M COMEBACK!! COMEBACK!! COMEBACK FROM LONG HIATUS!!!! ^^

Ada yang kangen sama gue? #PLAK atau kangen sama ff nyeleneh gue? #plaklagi

Gue yakin pasti ada yang kangen sama GeonJe! Iya kan??? #plaaakmeneh

Sekarang GeonJe makin menggoda!! Liat deh di stupid love. Sungje yang rambut merah, Geonil yang nyanyi pertama. Rambut item~😄

Okay cukup pamer biasnya. Ditunggu komentar kalian ^^ #ngarep

***

<< previous

“Ck! Seperti mengenalnya…” gumam Sungje. “Ngapain dia bawa album foto ini? Isinya foto kecil semua!”

Saat Sungje sedang memikirkan anak kecil yang berada di samping Geonil kecil, album foto itu terangkat. Diangkat tepatnya.

“G-Geonil…”

“Siapa yang menyuruhmu mengacak tasku?” Geonil menatap Sungje tajam. Sangat tajam. Membuat Sungje bergidik ngeri.

“A-Aku…”

Geonil langsung membawa album foto itu ke belakang. Sungje tidak mengikutinya. Ia tidak berani menampakkan dirinya di depan Geonil yang sedang marah.

Kali ini Geonil benar-benar misterius. Tidak seperti waktu kecil yang terlihat selalu tersenyum, bahagia dan tertawa. Geonil membuatnya penasaran. Sangat penasaran!!

>> part 5 <<

Sungje terdiam lama. Sangat lama di ruangan itu. Ruang tamu. Tanpa seseorang di sampingnya. Geonil masih belum keluar dari tempatnya. Entah dimana dia sekarang. Sungje tidak berani menyusulnya.

“Ssstt.. makan dulu yuk!” ajak seseorang dengan nada ramahnya.

Sungje langsung tersadar dari lamunannya. Di depannya Geonil sedang tersenyum ramah sambil mengulurkan tangannya.

“Geonil..”

“Maaf ya. Aku menakutimu ya?” Geonil mengusap kepala Sungje lembut. “Maaf..”

“Geonil..” Sungje menatap Geonil dengan mata berkaca-kaca.

“Apa, sayang? Kamu mau apa? Siapa tau aku bisa bantu..” balas Geonil. Masih dengan senyum ramahnya.

Sungje hampir menangis melihat ekspresi Geonil. Mungkin ini bawaan bayinya, membuatnya sensitif dari hari ke hari. Tapi kali ini..

“Ngg.. Kamu.. Nggak papa kan?”

Geonil menatap Sungje. Penuh perhatian. Penuh ketulusan dan cinta. “Emang aku kenapa?”

“Tadi…”

“Album foto? sudah ku bakar!”

“W-wae???”

“Itu hanya cermin. Cerminan masa lalu.” Geonil buru-buru melanjutkan, “sudahlah, tak usah dipikirkan ya? Kita makan yuk!”

Kali ini Geonil benar-benar misterius. Dari sikapnya yang tadi dingin, dengan cepat berubah menjadi ramah dan baik.

“Kau kenapa sih?” tanya Sungje hati-hati.

“Gwaenchana..” jawab Geonil sambil menyiapkan piring.

“Apa kau punya dua kepribadian?”

Geonil tertawa kecil. “Mungkin.”

Sungje bergidik. Sedangkan Geonil tertawa. Sungje dongkol. Tapi dalam hati ia kembali tenang. Karena Geonil hanya butuh sedikit ketenangan. Geonil masih bisa bercanda, walaupun tidak dari hatinya. Itu menurut Sungje.

“Kau tadi malam sudah tidur. Makanya aku tidak jadi membuatkan kimchi. Mian ya..” Geonil menyendokkan kimchi ke piring Sungje.

“Gwaenchana.”

Geonil melirik jam dinding di dapur. Lalu kembali duduk dan mengambil kimchi. Salah satu makanan kesukaannya.

“Kau gelisah?” tanya Sungje ketika melihat Geonil terus-terusan melihat jam.

“Emm.. kau bisa melihatnya.” Jawab Geonil sambil tersenyum lesu.

“Kau terlihat lelah.”

“Bukan terlihat, tapi memang lelah!”

“Mianhe.. aku memaksamu bekerja.”

Geonil menggeleng. “Gwaenchana. Ini kan demi keluarga. Sekarang aku sudah jadi ayah, jadi aku harus bertanggung jawab terhadap istri dan anakku..”

Sungje mengatupkan bibirnya. Tiba-tiba ia merasa bersalah. Bukan istri, bukan anak! Aku istri Jihyuk dan ini anak Jihyuk! Ucap Sungje dalam hati. Harusnya Jihyuk yang bertanggung jawab! Bukan Geonil!!

Drrttt… drrrtttt…

Handphone Geonil bergetar di atas meja. Geonil langsung menyambarnya dan membaca SMS yang tertera di layar. Sungje terus memperhatikannya sambil terus mengunyah makanannya.

“Nuguya?” tanya Sungje setelah Geonil menaruh handphonenya lagi ke atas meja.

“Aniya. Bukan siapa-siapa.” Geonil tersenyum seakan menyembunyikan sesuatu.

“Kau selingkuh?!”

Geonil tertawa geli. Selingkuh? Mana bisa ia selingkuh di belakang namja cantik ini?? Sungje menggigit bibir bawahnya menahan malu. Entah darimana kata itu terlintas di pikirannya dan diucapkan bibir merahnya.

“Aku tidak akan bisa selingkuh di belakangmu, chagiyaa.. aku sudah terlanjur mencintaimu.”

Sungje mau tak mau tersenyum. Yang hanya dibalas Geonil dengan senyum lemah. Lagi-lagi ia berusaha menerka apa yang disembunyikan ‘suami’-nya itu.

***

Hujan turun dengan derasnya diluar. Jam menunjukkan pukul 12 malam. Sungje belum tidur. Belum bisa tidur tepatnya.

Klek~

Pintu terbuka. Sungje menoleh kaget. Takut ada orang mencurigakan masuk ke rumah itu. Untungnya Geonil yang masuk.

“Belum tidur? Sudah malam lho!” kata Geonil sambil tersenyum karena lelah.

“Tidak bisa tidur.” Jawab Sungje sambil membaca majalah anak-anak miliknya dulu.

“pasti karena hujan. Kau kan tidak suka suara hujan!” kata Geonil sambil melepas jaket kulitnya dan menggantungkannya di tembok. “Aku sudah menemukan rumah baru. Setidaknya lusa kita bisa kesana.”

“Lusa? Tidak terlalu cepat?”

“Kandunganmu semakin besar. Aku tidak mau orang-orang berbisik-bisik karena kau hamil. Jadi kita pindah! Bukannya kau yang ribut dari dulu ingin pindah?”

“Tapi… kan kita masih sekolah!”

“Aku sudah izin kepala sekolah untuk kepindahan kita. Dari jauh-jauh hari juga aku sudah memprosesnya. Sekarang baru dapat uang dan rumah. Ya berarti besok juga kita sudah bukan murid Supernova high school lagi.” Geonil tersenyum simpul.

“Memangnya sekolah itu milikmu? Ckck..”

“Tidurlah. Besok kita ke rumah orangtuamu. Meminta izin.”

“Izin apa?”

Geonil tersenyum sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Sungje. “Izin membawamu lari!”

***

Pagi itu seharusnya cerah…

“Pakai saja!!”

“Ani!!”

“Sungje-ya!!”

“Ya! Aku lebih tua darimu!”

“Hyung, pakailah!”

“Aniya!!”

Geonil menyuruh Sungje memakai hanbok untuk mengunjungi orangtua dan neneknya. Tapi Sungje menolak karena menganggap itu terlalu berlebihan.

“Ini mertuaku! Makanya aku harus berpakaian rapi mengunjungi mereka!” kata Geonil.

“Kita kan bukan suami-istri benaran!”

“Kata siapa? Pernikahan kita terdaftar kok!”

Sungje langsung bungkam. Memang benar pernikahannya terdaftar. Tapi Geonil tidak terdaftar di hatinya. Ia masih sangat mencintai Jihyuk. Walaupun orang itu entah kemana. *jihyuk belom mau nampang :p

“Ya sudah kalau tidak mau pakai. Biar aku saja yang pakai hanboknya.” Kata Geonil. Ia lalu mengambil kunci mobil.

“Mobil siapa itu?”

“Mobilku!” jawab Geonil acuh tak acuh.

Sungje mengerutkan kening. Darimana Geonil dapat uang untuk beli mobil? Memangnya penghasilannya besar?

***

Nenek Sungje mengangguk-angguk mendengar penjelasan Geonil atas kedatangan mereka ke rumah. Mereka berdua akhirnya memakai pakaian yang sangat santai. Tidak terlalu sopan untuk kunjungan ke rumah mertua.

“Sebenarnya kami tidak bisa jauh darinya. Tapi mendengar penjelasan darimu… wajar saja. Baik kau atau Sungje pasti tidak suka orang menggosipi kalian.” Kata nenek.

“Kau cerdas sekali. Siapa ayahmu? Biasanya anak laki-laki itu kecerdasannya turun dari ayahnya!!” tanya ayah Sungje tiba-tiba sambil menyelipkan teori ngasal.

Ibu Sungje langsung memukul pelan pundak suaminya karena menyinggung masalah keluarga Geonil. Sebagai ibu ia tahu, sangat menyakitkan kalau seorang anak ditanya tentang orangtuanya yang sudah tidak ada.

“Ayahku bernama Park Hwan Hee.” Jawab Geonil sambil tersenyum hormat.

“Park Hwan Hee…?”

“Iya.”

Ayah Sungje langsung tersenyum bodoh. Berusaha menyembunyikan raut wajah aslinya pada Geonil.

“Jadi bagaimana? Boleh aku membawanya ke tempat itu? Aku memang tidak bisa selalu ada untuknya. Tapi kuusahakan untuk selalu terhubung dengannya.” Kata Geonil mencoba mengembalikan topik.

“Aku setuju saja. Tapi itu kan jauh. Kalau Sungje tiba-tiba ingin masakanku bagaimana? Kau punya mobil? Kau punya motor? Atau kau punya—“

“Mobil, aku sudah punya. Dan aku akan memberi materi pada istri dan anakku.”

“Halmeoni, tenang saja! Aku akan merepotkannya nanti disana!” kata Sungje yang sedang menerima belaian lembut ibunya.

“Jangan!” kata ibunya lembut.

“Ah umma! Kenapa membelanya?” Sungje mengerucutkan bibir.

“Bukan membelanya. Kasihan suamimu. Dia kan harus kerja untuk memberi makan kau dan anakmu. Kalau kau merepotkannya, nanti dia bisa stress. Geonil kan masih muda.”

“Aniya, umma. Aku bisa mengatur waktu. Sewaktu appa masih ada aku selalu diajarkan untuk mengatur waktu dengan sebaik-baiknya. Jadi, aku pasti bisa kalau direpotkan.” Jawab Geonil tenang. Membuat nenek Sungje langsung kagum dengan lelaki yang satu itu.

“Berarti, aku sudah tidak khawatir lagi dengan Sungje. Kau jaga dia baik-baik ya! Kapan rencananya kalian pindah?” tanya ayah Sungje.

“Rencananya lusa. Barang-barang di rumahku sudah ku kirim ke rumah baru.”

“Ooooh bagus! Barang-barang Sungje bagaimana? Apa yang mau kau bawa, jagi?” tanya nenek riang.

Pembicaraan itu masih terus berlanjut. Pembicaraan yang sukses memberinya kekuatan untuk membina keluarga kecilnya dengan Sungje. Tapi Geonil disini hanya berstatus menjadi ‘pengganti’ Jihyuk disini. Ia tidak bisa berharap lebih. Bukan tidak bisa, tapi tidak boleh.

***

“Waeyo?” tanya Sungje pada Geonil setelah pulang dari rumah orangtuanya. Sungje melihat perubahan raut wajah Geonil.

“Aniya.” Jawab Geonil seadanya.

“Mianne, aku menyeretmu sampai sini.”

Geonil menatap Sungje sambil menyetir. “Baru sadar kalau kau menyeretku sampai sini?”

Sungje mendengus kesal sambil menonjok pelan pundak Geonil. Geonil tertawa kecil melihat raut wajah Sungje.

“Boleh aku bertanya?” tanya Geonil hati-hati. “Mungkin ini pertanyaan sensitif untukmu.”

“Apa?”

“Kau… apa sudah mencoba mencintaiku?”

Deg—-

Sungje speechless. Ia sama sekali belum ‘belajar’. Dan ia juga tidak tahu, apa yang harus ‘dipelajari’.

“Tuh kan sensitif! Tidak usah dijawab juga tidak apa-apa.”

Sungje menghela nafas lega. Ia tidak tahu apa yang akan dilakukan Geonil kalau ia mengatakan yang sejujurnya.

“Kalau dalam waktu dekat ini Jihyuk datang, kau mau kembali padanya, atau tetap mempertahankan hubungan kontrak kita?”

Speechless lagi! Sungje tidak bisa menjawab pertanyaan Geonil.

“Kalau kau masih mencintainya, kembalilah.” Ucap Geonil pelan. “Kembalilah…”

“Kau kenapa sih?! Daritadi—ani! Dari kemarin-kemarin kau aneh sekali! Awalnya kau marah-marah karena aku melihat album foto itu! Itu kan kau dan keluargamu. Memangnya kenapa kalau aku lihat? Kau saja tidak kularang melihat keluargaku!!”

“AKU TIDAK MAU KAU MELIHAT ALBUM ITU!! AKU TIDAK MAU!!” teriak Geonil.

“IYA, TAPI KENAPA?!!”

“KARENA AKU TIDAK MAU!!”

“TIDAK MAU KAN PASTI ADA ALASANNYA!! BERITAHU AKU ALASANNYA APA SUSAHNYA SIH?!”

Geonil menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Lalu menatap Sungje dengan tatapan dingin nan menyeramkannya. Sungje langsung mencengkram pintu mobil saking kagetnya dengan raut wajah Geonil.

Geonil berusaha mengatur nafasnya. Lalu kembali memegang stir dengan tangan bergetar menahan amarah. Ia baru sadar kalau sekarang ia berhadapan dengan ‘istrinya’ yang sedang hamil. Ia tidak mau membuat Sungje tertekan.

“Disitu ada foto Jihyuk. Makanya aku tidak mau kau membukanya. Aku takut kau tidak bisa belajar mencintaiku kalau kau melihat fotonya. Mianhe..”

Sungje menatap keluar jendela. Ia tidak mau mendengar apa yang Geonil katakan. Dan memang benar-benar tidak mendengar apa yang Geonil katakan. Sungje menghapus air matanya yang sesekali jatuh. Dan Geonil tidak tahu itu.

***

Baru pukul 12 malam. Sungje terbangun dari tidurnya setelah pulang dari rumah orangtuanya. Perutnya keroncongan karena belum diisi. Anaknya meronta meminta asupan gizi. Pikiran gila ala ibu hamil pun melintas di pikirannya. Ia ingin makan masakan Geonil. Apapun itu dan makan bersama. Dengan lilin di tengahnya…

Sungje menggelengkan kepala. Mengurungkan niatnya. Ia hanya ingin makan. Sudah berapa jam perutnya tidak diisi.

Tidak ada makanan di kulkas. Tidak ada makanan di meja. Tidak ada makanan pula di lemari. Jadi apa yang harus ia lakukan?!

“Waeyo? Kau lapar?” tanya Geonil yang tiba-tiba datang. Wajahnya terlihat lelah. Ia berjalan terseok dengan kaki panjangnya. Rambutnya berantakan seperti habis dijambak zombie (?). tapi senyum bodohnya yang manis masih mengembang.

“Kau mau apa? Aku juga belum makan.” Kata Geonil sambil menguap lebar.

“Apa saja asalkan makan!” jawab Sungje dengan nada jengkel.

“Ya sudah. Nasi campur saja ya? Aku ngantuk. Hanya bisa membuat itu.”

Geonil mengambil mangkuk yang paling besar di rak piring. Lalu memasukkan nasi dan sayur-sayuran dan mengaduknya sampai tercampur. Geonil lalu meletakkan mangkuk itu ke tengah meja. Sungje sudah menunggunya.

Sungje langsung tersenyum melihat santapannya datang. Ia tidak memikirkan kejadian tadi sore. Malah ia sudah lupa. Sungje langsung menyambar mangkuk berisi nasi campur itu dan memakannya dengan lahap. Geonil menatapnya sangat dalam. Lalu tersenyum dan menumpuk tangannya di meja. Lalu menenggelamkan wajahnya di tumpukan tangannya itu.

***

“Ah?” Geonil langsung kaget ketika membuka mata. Ia berada di tempat yang tidak semestinya untuk tidur.

“Dasar tidak sopan! Tidur di meja makan! Mengganggu selera makanku tahu!” kata Sungje yang sedang memasak sesuatu.

“Tapi kau habiskan juga kan nasi campurnya? Otte? Enak?” Geonil tersenyum menggoda.

“Ya.. kuakui memang enak. Tapi kau tidur disitu membuat nafsu makan berkurang!” Sungje membalikkan telur yang dibuatnya.

“Oh.. kalau begitu maaf. Kau kan tahu suamimu ini sekolah pada siang hari dan bekerja pada malam hari. Lalu mengurus masalah lain. Jadi aku bisa tidur dimanapun.”

Sungje hanya mengangguk dan kembali sibuk dengan telur dadarnya yang sedang ia buat. Setelah selesai ia menaruhnya di piring dan mengambil nasi secukupnya. Ada dua piring. Dan Geonil belum bisa menebak kalau piring yang satunya disediakan untuknya.

“Makanlah! Kau begitu kurus! Aku takut kau tidak bisa membawaku kemana-mana kalau kurus.” Kata Sungje sambil menyodorkan piring berisi telur dadar dan nasi itu di depan Geonil.

Geonil masih heran menatap makanan di piring putih lebar itu. Matanya masih perih. Masih mengantuk.

“Aku tidak bisa membuatkanmu apapun selain telur! Kalau telurnya keasinan kau tambahkan saja gula! Gampang kan?”

Geonil tersenyum lagi. Senyum bodoh yang manis, menurut Sungje.

Geonil mulai menyendokkan nasi dan telur itu. Lalu memakannya dengan lahap sampai tidak bersisa. Kalau boleh, sebenarnya ia mau menambah lagi.

“Otte? Masakanku enak?” tanya Sungje sambil senyum-senyum.

Geonil memasang tampang bingung. Lalu menatap sekeliling dan menggelengkan kepalanya. Sungje mengerucutkan bibir.

“Tenang saja! Enak kok! Kalau tidak enak pasti di piring ini masih ada setitik dua titik nasi. Lihat kan piring ini bersih? Kau tidak perlu mencucinya!”

Sungje tertawa senang karena masakannya disukai. Sebenarnya ia tidak bisa memasak. Tapi kali ini entah kenapa ia mencoba untuk memasak dan akhirnya berhasil. Ia berjanji akan membuatkan Geonil makanan setiap hari.

“Kita pindah besok. Kau sudah siap?”

Sungje mengangguk sambil tersenyum. Lalu menatap Geonil di depannya yang masih saja tersenyum bodoh setelah mencicipi makanannya. Mungkin ini efek samping masakan yang dibuat orang yang tidak profesional seperti Sungje. Yang makan jadi gila!

“Besok buatkan aku makanan ya? Apapun itu! Aku akan mencari uang banyak agar bisa menyewa pembantu.”

“Aniya!! Aku bisa kok membuatkanmu makanan terus. Kau tenang saja!” Sungje tersenyum manis.

Geonil mengangguk. “Bagus.” Dalam hati lelaki itu membatin apa yang ada di pikiran lelaki cantik itu? Kenapa dengan mudah ia mau membuatkan makanan untuk Geonil?

“kuharap kau selalu begini. Satu menit sangat berharga untukku kalau begini.”

*********

To Be Continued~

Otte???? Makin aneh ya??? Mian mian mian mian!!!

Member supernova lain belom muncul! Sorry~ nanti Sungmo pasti muncul kok!! #PLAAAK

6 thoughts on “Time To Love part 5

  1. laladwiputri

    Nggak nyangka udah sampe part 9 ini padahal di wp lain yg juga ngepost ini ff baru sampe 4 untung liat wp ini lg soalnya saya suka baca ulang ff bad boy good boy itu ff nggak ada matinya biar dibaca seribu kali juga muahahahaha *berlebihan ya saya? Ngahahaha well tp gara2 itu nemu ff ini deh jd nggak harus lama2 nunggu update-an di wp lain wakakakaka😀 sungguh keberuntungan! Hohoho

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s