Stupid Love (Part 1)

Title : Stupid Love

Genre : school-romance

Length : 1 of ?

Cast : couple abadi a.k.a Sungje-Yoochan #dor

A/N : seharusnya ini jadi ff pertama penyambut hiatus gue. Eeh malah TTL duluan yang selesai. Berkat GeonJe tercinta😀 *woooooy!!!

Mungkin emang ga nyambung ini judul. Tapi maafkan keegoisan saya yang pengen ff ini berjudul stupid love J ini juga buat hadiah anniv ke-6 bulan saya dan Sungje Kim tercinta tanggal 11 kemaren. Kekekeke~Tenang, ini ff udah sampe chap 2 kok di lappie.

Okedeh, cekidot~

***

>> part 1 <<

“Ssstttt si pembawa sial datang!!”

“Stttt berhenti!! Dia bisa mendengar!!”

“Ssssttt… sssttt…. ssstttt….”

Seperti itulah tanggapan untuk seorang Park Yoochan. Entahlah apa salah dan dosanya sehingga ia selalu ‘diumpat’ orang-orang sekolah.

“Buka tudungmu, pembawa sial!!” teriak salah satu dari mereka. Anak-anak langsung tertawa puas.

BRUG!!!!!

Tiba-tiba ada yang menubruk orang yang berteriak menggoda Yoochan. Orang itu jatuh tersungkur. Belum sempat bangun,orang yang menubruknya menendang dengan kerasnya.

“S… Sungje oppa!!!!” teriak anak-anak perempuan. Mereka takjub sekaligus takut karena wajah idola sekolah itu benar-benar menyeramkan.

“Sudah berapa kali aku bilang, jangan mengganggunya! Kenapa kalian masih mengganggunya, eoh? Kalian menyukai tendangan hebatkukah?” kata lelaki bernama Sungje itu.

“M-mian… sunbae!!” ucap orang yang menjadi korbannya itu. “T-tapi… k-kau bilang…. kau tidak akan… masuk hari ini…”

Sungje tersenyum dingin. “Kalian pikir aku tidak tahu apa yang akan kalian lakukan pada yeoja itu? Sana! Kembali ke kelas kalian! Ini wilayah kekuasaan kelas 3!”

Anak-anak yang ada di tempat melongo. Wilayah kekuasaan kelas 3? Ini kan ruangan anak kelas 1!

*

“Kau memang tidak tahu terima kasih! Sudah bagus kutolong tadi! Malah dari kemarin-kemarin!” kata Sungje pada Yoochan.

Yoochan terus berjalan tanpa mempedulikan orang yang telah ‘menolong’-nya. Ia mengambil ipod dan mengganti lagu yang ia kehendaki.

Sungje merebut ipod gadis itu dan melihat playlistnya. Yoochan masih tetap diam. Membiarkan sang idola sekolah mengutak-atik ipodnya.

“SG Wannabe? Ternyata seleramu yang seperti ini! Ck!” Sungje masih terus melihat playlist di ipod gadis itu.

“Sepertinya sudah berapa kali kau melihat ipodku. Kenapa masih heran melihat nama SG Wannabe di playlistku?” kata Yoochan dingin.

“M to M. Shinhwa-Angel, shinhwa – destiny of love, shinhwa-once in a lifetime, Kim Tae Woo.. dasar gadis aneh! Menyukai lagu sedih.”
Yoochan langsung merebut ipodnya ketika sampai di depan ruang kelasnya. Neraka dunia yang paling panas.

“Ya!! Tidak sopan!” ujar Sungje kesal.

Gadis itu tetap diam. Duduk di bangkunya. Tepat di pojok kiri belakang. Tempat yang paling dihindari anak-anak. Lalu ia membuka tasnya. Kembali sibuk dengan sebuah buku yang selalu dibawanya dan dibacanya kemanapun dan kapanpun.

****

TEEEETTTTTTTTTTT~

Bel yang ditunggu sejak tadi akhirnya berbunyi juga. Anak-anak langsung merapikan meja dan menggendong tasnya. Lalu keluar dengan wajah sumringah.

Yoochan baru membereskan barang-barangnya ketika semua orang sudah keluar ruangan. Terlebih dahulu ia mengeluarkan buku andalannya yang selalu dibawa kemanapun dan kapanpun. Lalu membawanya tanpa mau melepasnya.

“Sungje?” tanya gadis itu bingung. Seorang lelaki dengan gayanya yang lebih persis dikatakan sebagai preman pasar daripada bintang basket ternyata masih ada di dalam kelas.

“Belum pulang?” tanya Yoochan pada lelaki itu.

“Kalau aku ada disini tandanya aku belum pulang!!” jawab Sungje dingin.

“Aku duluan ya.”

“Duluan saja! Memangnya aku menunggumu apa?”

Yoochan keluar. Meninggalkan Sungje sendirian di dalam kelas yang sudah sepi. Sebenarnya ia tidak tahu apa yang akan ia lakukan di kelas yang sudah sepi itu. Padahal jam sudah menunjukkan pukul 9 malam.

Tap! Tap! Tap!

Langkah kaki yang terdengar gontai berasal dari arah kanan. Sungje langsung menoleh untuk melihat siapa yang datang.

“Oh kau! Kukira hantu!” kata Sungje ketika melihat Yoochan masuk ke kelas.

“Pintu mau ditutup. Dan aku baru ingat ada kau. Makanya aku langsung kesini.” Kata Yoochan sambil tersenyum lemah.

“Oh. Bilang pada satpam. Aku masih disini!”

“Kalau menurutku kau lebih baik pergi dulu dan menunggu orang yang kau tunggu diluar.” Yoochan menatap ke seluruh penjuru ruangan.

“Memangnya kenapa?” balas Sungje sengit.

Yoochan terlihat masih menatap penjuru ruangan. Lalu menghela nafas.

“Kalau aku cerita pasti aku dibilang dungu! Dan kalau kau celaka aku pasti dibilang pembawa sial!” Yoochan tersenyum. “Ada yang mau mengganggu! Aku merasakannya. Semoga saja tidak dibelakangku.”

Bulu kuduk Sungje langsung berdiri. Ada satu rahasia yang paling ia tutupi. Yang hanya ia dan keluarganya saja yang tahu. Sungje paling takut hantu! Tapi kali ini, ia harus berhasil menutupinya.

“Kau merasa panas?” tanya Yoochan.

“P-panas? Panas kenapa? Ani!!” jawab Sungje gugup.

“Ternyata tidak. Berarti itu keringat dingin. Biasanya orang berkeringat dingin kalau sedang tercekam. Kau merasakan sesuatu?”

Blank!! Sungje blank!! Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan!! Ia tidak tahu apakah ia harus kabur dari tempat ini atau tidak. Ataukah ia harus mengalihkan perhatian gadis ini?

“Tanganmu, apa merasa dingin?” tanya Yoochan lagi.

Duarrrrrr!!!

Sungje blank again!! Sepertinya gadis ini sedang menguji titik lemahnya. Dan itu 100% berhasil. Berhasil membuat Sungje ketakutan sendiri.

“Dingin sekali!” Yoochan menggenggam tangan Sungje.

Keringat dingin benar-benar menetes dari keningnya. Sungje ketakutan!!

“Okay okay!! Kau sedang menguji titik lemahku kan? Kau tahu kalau aku paling takut dan sangat benci dengan yang berbau horor! Kau tahu aku lemah di titik ini! Iya kan?!!” Sungje akhirnya berbicara dengan suara bergetar karena ketakutan.

Yoochan membelalakkan mata. Bahan ‘tumbal’nya untuk mencari tahu raut wajah orang ketakutan ternyata benar-benar berhasil dan menunjuk titik lemah.

Sungje menatap ke seluruh penjuru ruangan. Lalu memeriksa pintu. Takut ada yang lewat. Ia lalu mendorong Yoochan ke tembok dan mengunci ruang geraknya.

“Mwoya?!! Kau mau melakukan apa? Ya!” teriak Yoochan yang sekarang balik ketakutan. “Aku akan berteriak kalau kau melakukan—“

Sungje langsung mundur dan duduk di salah satu meja di dekat tembok. Ia mengatur nafasnya. Sama seperti Yoochan.

“Kau—“ Sungje masih tersengal. “Jangan katakan kelemahanku pada orang-orang!”

Yoochan tersenyum jahil. “Tentu saja aku akan katakan! Berita seperti ini akan laku di pasaran!”

“Ya!!” gertak Sungje. Hampir melayangkan tinjunya.

“Ayo tinju saja!! Aku yakin aku yang lebih kuat darimu!” kata Yoochan bangga. “Kau mau keluar? Jangan-jangan kita disekap disini oleh uka-uka. Hiii~”

“Park Yoochan!! Kau bilang lagi benar-benar kubunuh disini!”

“Ayo bunuh saja!! Nanti kuganggu terus!”

Sungje menatap Yoochan kesal. Yoochan balas menatapnya jahil. Dua tatapan berbeda ekspresi beradu.

“Ternyata si pembawa sial ini berbakat menipu!” kata Sungje sambil menaikkan kaki ke atas meja di seberangnya. “Ini bakal jadi HOT NEWS!!”

“Kau bilang itu, aku akan beritahu rahasiamu!”

“Andwaeeeee!!!” Sungje langsung bangun dari duduknya. “Kau beritahu, NEO JUGEOSSO!”

“Tetap akan kuberitahu!”

“Andwae!!”

“Nanti kutempel di mading, ‘KIM SUNGJE, BINTANG BASKET YANG TAKUT HANTU!!’ dijamin langsung laku di pasar!!”

“YOOCHAAAAAAAAAAN!!!!!” Sungje bersiap menendang kursi yang ada di dekatnya ke arah Yoochan.

“Slow man!!” Yoochan tersenyum biasa. “Aku bilang juga tidak ada untungnya. Mereka juga pasti tidak mau dengar, kan?”

Raut muka Sungje berubah malu. Ia tidak sadar kalau Yoochan adalah orang yang paling tidak beruntung di sekolah ini.

“Ya sudah. Jadi kau masih mau disini? Kali ini aku benar-benar merasakan!!”

“Yoochan-ah!!”

Yoochan terkikik geli. Lalu berjalan keluar dengan santainya. Sungje menghela nafas sambil menahan tinju yang tidak pernah peduli gender.

Mereka berdua telah sampai di gerbang. Dua orang satpam penjaga malam langsung membukakan pintu untuk mereka.

“Kau naik apa?” tanya Yoochan pada Sungje.

“Ibuku tidak bisa menjemput. Aku naik bus. Kau?”

“Jalan.”

Mereka berdua diam. Tetap berjalan pada langkah masing-masing.

“Sungje-ya!” panggil Yoochan sambil menoleh ke arah lelaki yang lebih tinggi darinya.

“Ne?”

“Gomawo.”

Sungje mengernyitkan dahi menatap gadis itu. “Untuk apa?”

“Baru kali ini ada yang memanggilku dengan namaku, bukan ‘si pembawa sial’ atau apalah yang mereka bilang.” Yoochan tersenyum lemah. “Walaupun hanya satu hari, aku berterimakasih. Karena masih ada yang mengingat namaku, walaupun itu bukan panggilan dari hati.”

Sungje diam. Masih menatap Yoochan dengan beban berat di pundaknya.

“Itu haltenya! Kau naik bus kan?” Yoochan menunjuk halte di seberang jalan.

“Ara!” Sungje mengangguk. “Kau tidak naik bus juga? Rumahmu dimana?”

“Dekat gedung Core Content Media.”

“Itu kan jauh! Kau… jalan? Tidak naik bus saja? Searah denganku!”

“Aniya!!” Yoochan menggeleng. “Biar kau saja. Aku sudah terbiasa jalan.”

Sungje merogoh saku celananya. Mengeluarkan beberapa uang untuk gadis itu. Lalu memberikannya.

“Untuk naik taksi. Pasti bahaya naik bus malam-malam begini.”

Yoochan menggeleng sambil menyerahkan uang itu ke pemiliknya. “Tidak usah. Aku selalu jalan kok. Kau saja yang naik bus!”

“Ya sudah uang itu untukmu saja!” Sungje meninggalkan Yoochan dan menyebrang jalan sendirian.

“SUNGJE-YA!!”

TIIIIIIIIIIIIIIN~~

“SUNGJE AWAAAAAAAAAAAS!!!!!!”

Sebuah mobil sedan melaju kencang dari arah kiri mendekati Sungje. Yoochan langsung mendorong Sungje untuk menghindari kecelakaan. Mereka berdua sama-sama tersungkur di pinggir jalan.

“YAA!!!” teriak Sungje sambil memeriksa tangannya. “Tanganku berdarah!! Ahhh~ dua minggu lagi ada pertandingan, tahu!!”

“YA! Kau tidak lihat rambu pejalan kaki menunjukkan warna merah? Mobil sedan kencang sekali tadi! Masa aku mau membiarkanmu mati disini?”

Sungje tidak jadi marah. Memang benar ia melanggar peraturan dan akhirnya malah kecelakaan sendiri.

“Ya sudah ke dokter saja. Ahh tapi aku tidak punya uang.” Yoochan menatap ke sekeliling.

“Tidak usah. Luka seperti ini aku juga sering. Buat apa kupermasalahkan?” Sungje langsung berdiri tegak. Lalu mengulurkan tangannya untuk Yoochan.

“Mianhae!!” ucap Yoochan. Ia belum mau beranjak dari posisinya.

“Gwaenchana. Pemain basket pasti pernah mengalami luka di tangan!”

“Tadi kau marah-marah karena tanganmu berdarah.”

Sungje menatap wajah polos Yoochan saat melihatnya. Lalu menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal.

“Iya.. iya. Tadi aku memang marah. Sekarang tidak kan? Ya sudah, bangun!! Kajja!”

Yoochan langsung bangun dengan mata masih mengarah ke Sungje. Ia takut kejadian dulu terulang lagi. Hanya karena masalah sepele ia dikucilkan oleh orang banyak.

“Itu busnya!! Aku duluan ya! Annyeong!! Gomawo sudah menyelamatkanku!!” ucap Sungje sambil melambaikan tangan ke arah Yoochan dan berlari ke halte.

***

“Kemarin aku melihat si pembawa sial dan Sungje oppa jalan berdua!!”

“Jinjjayo?!”

“Nee!! Sampai ada adegan jatuh di trotoar! Memang dasar dia pembawa sial bagi Sungje oppa!!”

Kembali bisik-bisik itu terdengar ketika Yoochan baru datang. Ia berusaha tidak menghiraukan. Tapi akhirnya malah mendengar juga. Padahal volume lagu yang di dengarnya sekarang cukup keras. Mungkin karena lagu yang diputarnya sekarang lagu bogoshipda-nya Kim Bum Soo jadi suara dari luar tetap saja terdengar.

“Aku berjalan dengan Park Yoochan kemarin! Bukan ‘si pembawa sial’ yang kalian maksud!!” ujar Sungje yang baru datang sebagai ‘penyelamat’ Yoochan.

Yoochan menatap Sungje dengan tatapan dinginnya seperti biasa. Lalu kembali berjalan ke kelas sambil mengganti lagu di ipodnya.

*

“Menunggu siapa lagi?” tanya Yoochan pada Sungje.

“Menunggumu!”

“Memangnya aku minta ditunggu?”

Sungje mendengus kesal. “Sudah bagus kutunggu! Bukannya berterimakasih malah bilang begitu!”

Yoochan tertawa kecil. “Kemarin kau bilang ‘memangnya aku menunggumu?’ waktu aku bilang ‘aku duluan ya.’”

Sungje langsung diam.

‘“Anyway, gomawo.”

“Nah begitu!!” Sungje berdiri dari kursinya. “Kau membaca apa sih?” Sungje mendekat.

Yoochan langsung menutup buku bersampul putih itu dan melindungi buku itu dari tangan Sungje.

“Ini rahasiaku!” Yoochan tersenyum jahil.

“Apa?!! Cepat beritahu!!”

“Rahasia bukanlah hal yang bisa diberitahu!”

“Yoochaaaan…” Sungje berusaha merebut buku itu dari tangan pemiliknya. Yoochan dengan lincah memindahkan buku itu ke tangan satunya.

“Kau jangan bilang siapa-siapa! Aku akan beritahu!!”

“Apa?”

“Benar?”

“Iya!!”

“Serius??”

“Duarius! Ayolaaaah jangan buatku penasaran!”

“Jinjjayo?”

“YOOCHAN-AH!!”

Yoochan tertawa melihat raut wajah penasaran Sungje sampai merengek minta diberitahu.

“This is it!!” Yoochan menunjukkan buku itu. Hanya buku biasa. Tapi bertuliskan “How To be A Good Director”

“H-hanya itu?” tanya Sungje bingung.

“Maunya bagaimana?”

Sungje menggeleng. “Kenapa kau selalu tutupi?”

Yoochan tersenyum. “Molla. Aku hanya tidak mau orang tahu kalau aku mau jadi sutradara.”

“Oh director itu sutradara. Kukira direktur!” Sungje tersenyum bodoh sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“Kukira kau sudah mengerti!!”

“Hehehee… satu lagi kelemahanku adalah bahasa inggris. Walaupun aku anak basket, tapi aku tetap tidak bisa bahasa inggris. Aku hanya tahu istilah-istilah basket.”

“Ck! Kukira bintang basket juga tahu bahasa inggris!”

“Memangnya kenapa? Aku kan juga manusia!”

Yoochan mendengus geli. Lalu kembali melanjutkan membaca buku panduan menjadi sutradara itu.

“Whoaaaa bahasanya inggris! Kau mengerti?”

Yoochan menatap Sungje yang masih takjub melihat rentetan tulisan berbahasa inggris itu.

“Kalau aku tidak mengerti aku tidak bisa menyusulnya ke Amerika!” jawab Yoochan sambil tersenyum senang.

“Siapa dia?”

“Special person in my life..”

Sungje menghela nafas. “Sudah dibilang aku tidak mengerti bahasa inggris!”

Yoochan menggeleng sambil tertawa kecil. “Ternyata benar kau tidak bisa! Mau kuajarkan?”

“Kau bisa gila mengajariku! Hyung-ku saja sampai pusing karena tidak tahu bagaimana cara mengajariku.”

“Aniya. Hitung-hitung untuk belajar menjadi sutradara. Sutradara itu harus sabar. Harus bisa ‘menghipnotis’ artisnya.”

Sungje mengangguk-angguk. Padahal tidak mengerti.

“Mau pulang?” tanya Yoochan akhirnya.

“Ah.. Ya. Kau juga ya?”

“Iya!!”

***

“Mendengarkan apa?” tanya Sungje keesokkan malamnya. Yoochan kembali sibuk dengan buku panduan menjadi sutradaranya sambil mendengarkan lagu.

“M to M.” Jawab Yoochan acuh tak acuh.

“Oh.” Hanya itu jawaban Sungje.

“Kau suka?”

Sungje menggeleng. “Tidak. Aku tidak suka ballad.”

“Mau dengarkan? Ini!” Yoochan memberikan satu headsetnya pada Sungje. “Dengarkan saja. Tidak suka tidak apa.”

Sungje menerima satu headset putih itu. Lalu menempelkannya di telinga. Alunan musik slow menyambutnya.

Nado neorul saranghae neomu saranghae

Honjasseo nal gobekhaneunmal..

 

Tanpa sadar Sungje terbawa oleh lagu itu. Lagu Good bye dari M to M. Sungje memejamkan matanya. Meresapi setiap lirik dari lagu itu.

Yoochan tersenyum melihat teman barunya itu menikmati musik ballad padahal tadi dengan yakin ia bilang tidak suka lagu ballad.

Lagu Good Bye habis. Lagu berganti menjadi lagu I Wonder If You Hurt Like Me dari 2AM. Kembali iringan piano menyambut pendengarannya.

Haru jongil ni saenggakman hada ga
han ga dak nunmuri, meotdaero jureureuk heureunda

georeum georeum ni moseubi bal byeoseo
ireul hada gado, nado moreuge tto heureunda

“Ini lagu 2AM. Kau tahu kan?” tanya Yoochan di tengah lagu.

Sungje mengangguk. “Enak juga.”

“2AM memang bagus menyanyi ballad. Makanya aku menyukai mereka.”

Sungje mengangguk. Tidak terlalu menghiraukan ucapan Yoochan tentang lagu yang sedang di dengarkan ini.

****

“Sekarang lagu apa?” tanya Sungje lagi keesokkan harinya. Kali ini Yoochan tidak sambil memegang buku panduannya.

“Lagu K.will, because i couldn’t say that i love you. Mau dengar?” tawar Yoochan.

Sungje berjalan ke bangku Yoochan. Lalu duduk di sampingnya dan langsung mengambil satu headset yang di sodorkan Yoochan.

Saranghanda mareul mothaesso

Sarangiran mareul mothaesso

 

“Lumayan juga.” Sungje tersenyum mendengarkan lagu itu. “Tadi apa judulnya?”

“Because i couldn’t say that i love you.”

“Panjang sekali judulnya.” Komentar Sungje.

Yoochan tersenyum kecil. “pasti kau tidak mengerti.”

Sungje mengangguk. “Makanya ajari aku bahasa inggris!”

“Sudah kubilang akan kuajari. Because artinya karena. I artinya saya. Couldn’t itu singkatan dari could not, artinya tidak bisa. Say artinya mengatakan. I love you artinya aku mencintaimu. Jadi artinya karena aku tidak bisa mengatakan aku mencintaimu!”

Sungje mengangguk saja. Padahal ia tidak sepenuhnya mendengar ocehan gadis itu. Perhatiannya tertuju pada lagu itu.

***

Hari ini jam pulang lebih awal. Biasanya pukul 7 malam mereka baru bisa merapikan buku. Tapi kali ini pukul 4 sore sudah diperbolehkan pulang. Yoochan menatap meja di sampingnya. Sungje menatap ke samping. Ke arah dua meja di sebelahnya. Sungje sedang tertawa kecil pada teman-temannya sambil memainkan bola basket. Bintang basket itu memang keren kalau sudah memegang bola basket.

“Aku pulang ya! Good luck untuk minggu nanti!” kata seorang teman Sungje berpamitan.

“Nee!!” Sungje masih sibuk dengan bola basketnya. Ia hanya tersenyum sambil menganggukkan kepala.

Setelah temannya itu pergi, Sungje bangkit dari duduknya. Lalu mengikuti jejak teman-temannya yang sudah lebih dulu keluar kelas. Kembali kelas sepi dan hanya ada satu orang di dalamnya.

 

*

Ternyata Sungje di lapangan basket!

Disana ia hanya sendiri. Tidak ada teman-temannya yang lain. Tangannya sibuk membidik bola agar tepat masuk ke dalam ring.

Blashhh!!!

Berhasil! Yoochan tersenyum senang sambil melompat-lompat. Untungnya Sungje masih fokus pada permainannya dan tidak melihatnya.

Blashhh!!!

Two point. Giliran Sungje yang tersenyum. Tinggal satu lagi untuk threepoint. Ia kembali membidik agar tepat sasaran. Dan…

Blashhhh!!!!!

Bola itu malah memantul dari ring dan jatuh tepat ke bawah kaki Yoochan. Gadis itu kaget. Tapi ia berusaha menyembunyikannya.

“Eeeh ada kau! Pantas saja bolanya kabur!” canda Sungje sambil menatap Yoochan riang.

“Memangnya aku kenapa? Nih aku kembalikan!” Yoochan tersenyum sambil melemparkan bola ke arah Sungje. Tapi ternyata bolanya malah mengarah ke ring dan masuk dengan sempurna. Sungje menatapnya takjub sampai tidak berkedip.

“Wow…” gumam Sungje benar-benar takjub.

“Aku juga bisa basket tahu!” Yoochan tersenyum kecil.

“Kukira perempuan hanya bisa voli atau tennis.” Sungje menghela nafas. “Hebat!”

“Mau threepoint?” tantang Yoochan pada lelaki itu.

Sungje mengangguk mantap. “Ayo! Siapa takut!!”

Sungje dan Yoochan langsung berebut bola dan bertanding threepoint.

****

“fuhhhhh… hahhhhh… fuhhhhh…. hahhhhhh…” deru nafas kedua orang yang baru latihan basket itu terdengar saling menyahut. Sungje dan Yoochan duduk di bawah lapangan dengan tubuh bermandi keringat.

“Mau…. minum….? hh…..” Sungje masih ngos-ngosan.

“Kau saja.” Balas Yoochan.

Sungje berusaha bangkit. Lalu mengambil botol minuman di dalam tasnya dan memberikan pada gadis itu.

“Kau saja.”

“Ani.” Sungje menggeleng. “Kau yang sudah berbaik hati mengajariku. Kenapa harus aku duluan yang minum?”

Yoochan tetap menggeleng. “Kau saja.”

“Aku akan mempermalukanmu besok kalau kau tidak mau mengambil minuman ini!”

“Mempermalukan? Mengatakan aku si pembawa sial seperti mereka?”

Sungje tertawa kecil. “Sebenarnya mereka tahu tidak siapa yang memberi kesialan? Bukan orang, bukan pula setan. Tapi Tuhan, yang berhak atas seluruh dunia.”

Yoochan tersenyum sambil memandang Sungje. Orang yang tidak memandang ucapan orang. Tapi dalam hati gadis itu ia sangat takut, kalau-kalau akhirnya Sungje mendapat kesialan darinya, bukan dari Tuhan..

“Besok latihan basket lagi denganku ya?”

***

BLASHHHH!!!!

“Aaaaaah!!!!!” teriak Sungje kesal karena lawannya bisa memasukkan bola dengan mudah dari jarak jauh ke kandangnya.

“Fokus!! Kalau lawanmu bisa lebih baik dari aku pasti akan lebih buruk bagimu. Fokus!!” kata Yoochan sambil mengelap keringatnya.

Sungje mengangguk. Sambil memicingkan mata ia menerima bola yang dilemparkan Yoochan untuknya. Lalu berlari untuk menyelamatkan bola dari Yoochan.

BLASHHHH!!!

Kali ini Sungje berhasil padahal Yoochan sudah berusaha merebut bola darinya. Lelaki itu tersenyum manis. Lalu memberikan bola itu pada Yoochan dan kembali berebut bola.

BLASHHHHH!!!

Sungje mulai bisa fokus dan bisa merebut bola dari cengkraman Yoochan. Sungje tersenyum padanya. Lalu kembali memberikan bola itu.

BLASHHHHH!!!

Bola terakhir. Sungje dan Yoochan sama-sama tersungkur di lapangan. Dada mereka naik turun mengatur nafas. Yoochan menatap ke samping setelah beberapa menit menahan nafas. Sungje masih berusaha mengatur nafasnya. Keringat mengucur deras dari kulit kepalanya.

“Kau bawa minum? Kalau tidak aku ada.” Kata Yoochan.

Sungje membalikkan badan ke samping. Tangannya ia jadikan bantal untuk kepalanya. Yoochan langsung bangun.

“Tenang saja aku bawa minum. Entah masih ada atau tidak.” Sungje menjawab pertanyaan gadis itu.

“Oh. Mau kuambilkan?” tawar Yoochan.

Sungje menggeleng. “Bangunkan aku saja. Ah.. ternyata melawanmu susah juga!”

Yoochan tersenyum bangga. “Di pertandingan nanti, anggap lawanmu perempuan. Kau pasti tidak mau kalah kan dari mereka? Lawan dengan sekuat tenaga!”

Sungje bungkam. Tapi dalam hati ia benar-benar berjanji untuk melawan dengan sekuat tenaga. Tangannya mengepal. Ingin bersiap-siap untuk membalas dendam karena tahun lalu sekolah mereka kalah. Sungje bangun. Tidak menghiraukan kakinya yang masih pegal dipakai main tadi.

“Ayo latihan lagi! Hari minggu sudah dekat!” Sungje tersenyum. Lalu mengulurkan tangannya untuk membantu Yoochan bangun.

TBC

Aneh!!!! Ahahahaaaaaa….

Ditunggu komentarnya J kalo ga mau komentar ya silakan saja. Nanti ga akan saya lanjut😄

6 thoughts on “Stupid Love (Part 1)

  1. seungri's wife

    Gue bukan silent reader ya, jadi gue komen!!
    Yoochan itu hebat yah karakter yg satu nama tapi bisa ganti-ganti sifat. Sebenernya gua bingung kenapa sungje itu suka banget nolongin yoochan, berasa disinetron-sinetron. Cowok kece pasti nolongin cewek yg menyedihkan. Dan pas udah nyampe tengah-tengah gue berhasil ngelupain itu, disini yoochan-sungje nya udah dpt feel-nya dan makin kebawah makin bikin penasaran, gue tunggu next chapter bro!

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s