Time To Love part 6

Title : “Time To Love” *ga tau dah ni nyambung apa kagak ==”

Genre : comedy (?), romance (?), family, shonen-ai, yaoi, mpreg

Length : ga banyak-banyak (?)

Rate : PG 15 (?)

Cast :

–       park geonil *Cho Shin Sung*

–       kim sungje *Cho Shin Sung*

–       other Cho Shin Sung members~

Summary : kim sungje, namja cantik yang kaya dan terhormat meminta tolong kepada park geonil, si kutu buku yang menyukainya untuk mengakui anak di dalam kandungannya itu sebagai anaknya, dengan jaminan sungje akan belajar mencintai geonil dan menerimanya apa adanya. Maukah geonil melakukannya setelah sungje menolak cintanya mentah-mentah?

Disclaimer : all cast in this ff is belong to me *digaplak* and the story also mine. Jadi kalo ternyata ada ff yang mirip ama ff ini, itu bukan kesengajaan ^^

A/N : ini lanjutannya!!!! ^^ ada yang nunggu? Semoga ada😀

Semoga aja sebentar lagi end. Pasti udah pada ga kuat baca ni ff~ hahaha XDD

Tengkyu bagi yang udah mau baca. Yang ninggalin jejak, maupun tidak, gomapseumnida!! ^^ *bow with Choshinsung members~

Dan maaf kalau saya bertele-tele dalam bercerita. Entah apa yang ada di pikiran saya sehingga saya membuat cerita sejelek ini T.T #ditabokGeonJe

***

 

<< previous

“Kita pindah besok. Kau sudah siap?”

Sungje mengangguk sambil tersenyum. Lalu menatap Geonil di depannya yang masih saja tersenyum bodoh setelah mencicipi makanannya. Mungkin ini efek samping masakan yang dibuat orang yang tidak profesional seperti Sungje. Yang makan jadi gila!

“Besok buatkan aku makanan ya? Apapun itu! Aku akan mencari uang banyak agar bisa menyewa pembantu.”

“Aniya!! Aku bisa kok membuatkanmu makanan terus. Kau tenang saja!” Sungje tersenyum manis.

Geonil mengangguk. “Bagus.” Dalam hati lelaki itu membatin apa yang ada di pikiran lelaki cantik itu? Kenapa dengan mudah ia mau membuatkan makanan untuk Geonil?

“kuharap kau selalu begini. Satu menit sangat berharga untukku kalau begini.”

>> part 6 <<

Keesokkan harinya………

“Geonil-ah, aku tidak bisa melihat!” teriak Sungje sambil terus menggerakkan tangannya di belakang agar lilitan kain ditangannya bisa terlepas dan ia bisa melepas penutup matanya.

Geonil tersenyum. “Tentu saja.”

“Lepaskan ini dari mataku!! Gelap sekali!!” teriak Sungje lagi.

“Gwaenchana. Aku tidak akan menakutimu. Ini surprise, sayang.”

“Tapi kau menakutiku! Kalau ada sesuatu yang terjadi bagaimana?”

Geonil yang sedang menyetir tersenyum sambil terus fokus ke jalan. Perjalanan ini baru 5 menit, tapi bibir Sungje tidak henti-hentinya meronta. Meminta penutup matanya dilepas.

“Geonil-ah, kau pasti sedang melihatku! Kalau kau kecelakaan bagaimana? Buka saja!! Geonil-ah!!” teriak Sungje lagi.

Deg.. deg.. deg..

Detak jantung Geonil langsung melambat perlahan. Geonil baru ingat kalau ia dulu pernah mengalami ini 7 tahun lalu. Matanya ditutup dan ia meronta. Ia takut sekali. Dan ternyata ketakutannya itu terbukti. Tapi ia beruntung karena terlempar dari mobil yang terbakar dan tidak melihat tubuh kedua orangtua dan kakaknya yang hangus terbakar.

“Geonil-ah!!! Buka!!!!!”

“BISA DIAM TIDAK?!!” teriak Geonil tanpa sadar. Wajahnya memerah. Keringat dingin meluncur jatuh membasahi sekujur tubuhnya.

Sungje langsung diam. Tidak tahu lagi apa yang harus ia lakukan agar pandangannya tidak gelap. Ia juga ingin melihat tempat ini. Tempat yang entah darimana Geonil temukan.

Ciiiiiiiiiiit….

Geonil mengerem mobil setelah membanting stir ke kiri. Ia mengatur nafas untuk membuang bayang-bayang buruknya. Geonil lalu membuka penutup mata yang tadi ia lilitkan ke mata Sungje dan membuangnya ke sembarang tempat. Setelah itu ia juga melepas kain yang melilit tangan Sungje.

“Mianhae..” ucap Geonil pelan.

“Kau kenapa sih?! Kenapa selalu aneh? Kenapa selalu membuatku penasaran?” tanya Sungje bertubi-tubi dengan air mata yang terus turun.

“Mianhae..”

“Wae?? Apa kau sebenarnya hanya menerimaku sebagai paksaan? Bahkan kau tidak meminta bayaran setelah beberapa bulan hidup denganku! Kau tidak pernah bilang pada ayah dan ibuku tentang siapa yang menghamiliku. Tapi di sisi lain kau selalu menutupi sesuatu dariku. Sebenarnya untuk apa kau sekarang disini bersamaku? Untuk apa kau melindungiku terus padahal aku tidak punya apapun untuk berterimakasih?”

Geonil menghela nafas. Tangannya lalu menghapus air mata yang meluncur bebas dari pelupuk mata Sungje.

“Mianhae..”

Setelah itu Geonil kembali menyetir mobilnya. Perlahan.. pelan.. santai.. sesekali ia melihat ke arah samping. Sungje tertidur dengan muka memerah menahan sesuatu. Matanya bengkak setelah menangis. Kali ini Geonil tidak mampu menjaganya.

****

“Eung??”

Sungje membuka matanya perlahan. Pemandangan tak biasa menyambutnya. Ia berada di sebuah kamar berwarna putih dengan piala-piala dan piagam-piagam yang ia dapatkan dari kecil, lalu ada meja belajar dengan tumpukan buku-buku yang rapi dan ada bingkai foto diatasnya.

“Aku… dirumahku??” gumam Sungje bingung. Ia bangkit dari kasur dan berjalan perlahan keluar. Matanya masih sakit dan sembab karena menangis tadi.

Klek..

Setelah membuka pintu, wangi masakan langsung menyeruak masuk ke hidung Sungje. Lelaki itu tidak bisa diam. Ia mengikuti arah wangi masakan itu.

“Sudah bangun?”

Wangi masakan yang menggugah selera dan iman itu langsung pudar dan digantikan bayangan penyihir yang merebut kebahagiaan anak-anak. Ternyata Geonil yang masak di dapur. Sungje masih kesal karena kejadian tadi.

“Kau mau memaafkanku kan? Aku sudah membuatkan makanan. Kau mau? Ada kimchi. Ada bulgogi juga!” Geonil berpromosi.

Sungje membalikkan badan hendak pergi ke kamarnya lagi. Tapi anak di dalam kandungannya meronta-ronta agar mendapatkan asupan makanan. Ia lapar.

“tidak usah mempertahankan gengsi. Ibu hamil perlu makanan bergizi. Makan dulu, lalu minum susunya.” Geonil mengambil seporsi kimchi dan seporsi bulgogi dan menaruhnya di meja. Ia lalu menyambar jaket yang ia letakkan di kursi dan memakainya.

“Mau kemana?” tanya Sungje masih dengan nada dingin. Antara gengsi dan perhatian.

“Membeli susu untukmu. Susumu habis.” Jawab Geonil lembut.

“Apa gunanya susu itu? Aku langsung muntah setelah meminumnya!”

“Muntahnya keesokkan harinya kan? Tenang saja susu itu baik kok. Buktinya kandunganmu biasa saja kan? Ah ya, aku sampai lupa memeriksa kandunganmu. Disini ada dokter kandungan juga. Besok kita kesana ya?”

“Kenapa tidak suruh Kwangsu kesini saja? Kita kan belum kenal dengan penduduk disini! Nanti kalau dokter itu bertanya kenapa laki-laki seperti aku bisa hamil bagaimana? Ini bukan hal biasa!! Geonil-ah, kau gila?! Nanti banyak yang menggosip!!”

Geonil tersenyum kecil sambil menghela nafas. Sebenarnya Sungje terlalu salah menilai Geonil. Geonil sebenarnya orang yang sangat pintar dan bisa mengambil langkah tegas. Geonil tidak pernah tidak punya alasan atas langkahnya.

“Kau dengar aku, kalau Kwangsu kita suruh kesini, apakah dia harus membawa semua alat-alat untuk memeriksa kondisi janin itu? Aku tidak tahu apa namanya. Dan apakah dia tahu tempat ini?” Geonil bertanya dengan intonasi lembut agar tidak menyakiti Sungje.

“Besok pagi-pagi kau keluar. Lihat apa yang terjadi.” Geonil tersenyum misterius.

“Memangnya ada apa?”

“Tunggu besok pagi!” Geonil melirik jam tangannya. “Sudah jam 8. Aku berangkat kerja dulu ya!”

“Katanya kau mau beli susu!”

Geonil baru menyadari kesalahan katanya. “Ya.. setelah bekerja beli susu. Kau sendiri disini tidak apa kan?”

Sungje agak ragu. “Keundae..”

“Tenang. Bosku tidak menyuruhku lama-lama. Paling satu jam sudah selesai.” Geonil menyelipkan handphone-nya ke dalam saku celana. “Telepon aku kalau kenapa-napa.”

Geonil tersenyum. Ia melangkahkan kakinya ke pintu. Sebelum keluar Geonil menatap Sungje lebih dulu. Melihat bagaimana wajahnya yang terlihat sedikit pucat karena ketakutan.

“Geonil-ah!!” teriak sungje sebelum Geonil benar-benar melangkahkan kaki panjangnya keluar. “Sebenarnya kau kerja apa?”

Geonil tersenyum. “Model. Model di sebuah majalah.”

****

Sungje benar-benar tidak bisa menikmati makanannya. Makanan yang biasanya enak di lidahnya kini terasa hambar. Tentu bukan tanpa alasan ia merasakannya.

“Kalau dia model.. dia artis? Lalu.. dia terkenal? Apakah iya?” pikir Sungje kalut. “Kalau orang-orang tahu aku istrinya bagaimana? Kalau orang-orang tahu aku bukan hamil anaknya? Otte??!”

Sungje meletakkan sendoknya. “Kalau dia model majalah… di majalah apa? Perasaan aku tidak pernah lihat dia di majalah manapun!”

Rasa penasaran Sungje mulai datang. “Apa kulihat di tasnya ya? Mungkin ada majalah tempat dia kerja! Kerja jadi model apa dia? Model jerapah usia SMA?” *sungje tega!! *plak

Sungje tidak menghabiskan makanannya. Ia berkeliling untuk mengenal rumah barunya. Rumah barunya itu lumayan besar dan mewah. Perabotan dan peralatan elektronik lumayan lengkap. Ada TV 29”, kulkas 2 pintu yang terisi penuh, lemari kumpulan piala dan piagam, komputer canggih yang terhubung internet, dan benda-benda lain yang tidak ditemukan di rumahnya.

Sungje menggelengkan kepalanya takjub. Antara kagum dan bingung darimana Geonil bisa mendapat uang untuk membeli semua perabotan ini? Memangnya dia model yang sangat terkenal sampai bisa membeli semuanya? Ataukah ini hanya akal-akalannya saja agar diterima keluarga Sungje? Ah.. atau mungkin keluarganya membantu Geonil mendapat uang?

Semua dugaan buruk langsung menyergap Sungje. Tapi ia tidak mau mempercayainya sampai mendengar pengakuan dari bibir Geonil sendiri.

Sungje berjalan ke lemari berisi banyak piala dan piagam. Piala itu milik Geonil semua. Jumlahnya mungkin lebih dari 20 mengingat pialanya hampir memenuhi lemari berukuran sedang itu.

Juara I lomba renang tingkat kota tahun 2001

Juara I lomba renang tingkat kota tahun 2002

Juara II lomba renang tingkat provinsi tahun 2003

Juara harapan I lomba mewarnai tingkat kota tahun 2002

Juara III lomba menggambar tahun 2000

Juara I lomba dance tahun 2011

Dan masih banyak lagi. Sungje mengerjapkan matanya berkali-kali untuk mempercayai semua tulisan di piala itu. Hampir semuanya juara I. paling kecil juara harapan I. Dan yang paling banyak adalah kejuaraan renang.

“Pantas saja tinggi!” gumam Sungje sambil terus menatap takjub ke arah lemari piala itu.

Pandangannya lalu mengarah ke jajaran piagam yang jumlahnya terlalu banyak untuk dihitung.

Perenang terbaik tahun 2001

Perenang terbaik tahun 2002

Perenang terbaik tahun 2003

Pemain basket terbaik tahun 2006

Pemain basket terbaik tahun 2007

Pemain bola U-14 tahun 2010

Dan lainnya.

Sungje masih takjub dan hanya bisa menggeleng. Ia tidak tahu seperti apa gaya Geonil jika berenang, bermain basket, bermain bola, menggambar, mewarnai, dan lain-lain. Kali ini Sungje penasaran dan ingin tahu tentang Geonil. Tapi.. bagaimana caranya? Dia kan sudah menolak mentah-mentah waktu Geonil mau memberitahu tentangnya. Ahhh!! Sungje kena batunya!

Sungje menatap ke atas. Di sebelah medali emas ada bingkai foto. Foto Geonil kecil sedang memegang medali emas itu sambil tersenyum riang. Dengan rambut dan badan yang masih basah dan hanya memakai celana khusus renang. Ini pasti habis berenang! Pikir Sungje. Lalu di bingkai sebelahnya lagi masih foto Geonil kecil bersama ayah dan ibunya. Kedua orangtuanya sama-sama mencium pipi kiri dan kanan Geonil. Geonil masih memegang medali emasnya.

“Itu waktu aku umur 8 tahun. Otte? Sudah tampan kan?” tanya Geonil yang tiba-tiba datang di belakangnya. Sungje terlonjak kaget. Takut-takut itu bukan Geonil.

“Kau bisa tidak sih tidak mengagetkanku? Kalau aku mati gara-gara kau kageti bagaimana?” tanya Sungje sambil mengelus dadanya.

“Oh mianhae. Aku kan ingin mengejutkanmu.” Jawab Geonil sambil tersenyum. Ia lalu masuk ke kamarnya dan kembali lagi.

“Aku perenang terbaik se-kota Seoul dulu. Waktu itu seharusnya aku bisa jadi perenang terbaik se-Korea selatan. Tapi akhirnya Cuma sampai tingkat kota.” Cerita Geonil.

“Memangnya kenapa tidak jadi terbaik se-korea?”

Geonil menghela nafas. “Waktu aku umur 10 tahun aku mogok berenang. Aku tidak mau berhubungan lagi dengan olahraga ini. Jadi aku tidak jadi dikirim untuk seleksi perenang terbaik se-korea.”

“Oh..” hanya itu yang Sungje ucapkan.

Geonil dan Sungje sama-sama diam. Sungje masih membaca tulisan-tulisan di piala dan piagam itu dengan serius. Sedangkan Geonil menatap fotonya bersama kedua orangtuanya. Ia terlihat sangat gembira waktu itu.

“Orangtuamu.. sudah tidak ada ya?” tanya Sungje hati-hati.

Geonil mengangguk. “Iya. Kecelakaan. Waktu itu aku baru genap 10 tahun. Masih terlalu kecil untuk ditinggal sendirian.”

Sungje mengangguk iba. “Oh. Mian.”

“Gwaenchana.” Jawab Geonil sambil memaksakan tersenyum. “Sudah biasa.”

Geonil terus menatap fotonya dan kedua orangtuanya. Sungje memaklumi. Beginilah perasaan seorang anak yang telah ditinggal pergi orangtuanya.

***

Pukul 6 pagi Sungje sudah bangun. Karena penasaran dengan dunia diluar ia pun keluar. Sungje membuka knop pintu dan keluar.

Udara segar langsung menyambutnya. Sungje menghirup udara itu dengan segenap hati dan perasaan. Lalu pemandangan yang tidak pernah dilihatnya mulai bermunculan.

Seorang laki-laki menggenggam tangan laki-laki. Seorang pria berumur menggandeng pria lainnya yang sedang hamil besar. Lalu ada seorang pria berjalan santai sedangkan pria yang lebih cantik berlarian sambil tersenyum ke arahnya. Ada lagi pasangan yang sepertinya sudah lama membina keluarga mempunyai anak yang menggemaskan. Mereka tampak bahagia.

“HOAMMM… Otte? Kau tidak perlu khawatir.” Kata Geonil lagi yang datang tiba-tiba. Sungje hampir saja jatuh ke bawah kalau ia tidak pegangan ke pagar kayu.

“Apakah… ini nyata?” tanya Sungje dengan mata berbinar.

“Tentu saja.” Jawab Geonil sambil tersenyum. “Itu ada yang baru punya anak. Lucu sekali!”

Sungje melihatnya. Seorang pria cantik mendorong kereta bayi disamping suaminya yang dengan perhatian menatapnya. Menjaganya agar tidak celaka.

“Apa aku akan sebahagia mereka nantinya?” tanya Sungje sambil tersenyum menatap keluarga bahagia itu.

Geonil menghela nafas. Lalu berdiri di samping Sungje dan melingkarkan tangannya di tubuh Sungje. Sungje menyandarkan kepalanya ke dada bidang Geonil.

“Aku berjanji akan membahagiakanmu.” Ucap Geonil dengan sepenuh hati.

Sungje tersenyum. “Kalau aku bahagia, apa kau juga bahagia?”

Geonil mengangguk. “Tentu saja.”

“Kira-kira, anak ini perempuan atau laki-laki?”

“Kalau aku sih maunya laki-laki. Pasti tampan sepertiku.”

Sungje langsung melepaskan lingkar tangan Geonil di tubuhnya. “Ini kan bukan anakmu!”

“Tapi selama kau hamil kan kau benci padaku. Iya kan? Menurut mitos orang yang dibenci oleh orang hamil anaknya akan mirip orang yang dibenci. Jadi pasti mirip aku!”

Sungje tertawa kecil. “Okay, aku tidak mau membencimu lagi. Aku tidak bisa membayangkan kalau anakku sepertimu.”

“Memang kenapa? Aku kan tampan, baik, pintar, jago olahraga, apa yang tidak aku bisa?”

Sungje tersenyum jahil. “Ah! Mengambil hati wanita! Kau pasti tidak bisa.”

“Memangnya kau bisa?”

“Tentu saja! Mau perempuan atau laki-laki pasti bisa terkena godaanku. Termasuk kau kan?” Sungje tertawa bangga.

Geonil mengangguk. Ia mengacak rambut Sungje lembut. “Iya. Kapan kau mau mencintaiku?”

Sungje langsung diam. Ini namanya merusak suasana!! Kata Sungje dalam hati. Sungje tidak bisa menjawab. Ia mengatupkan bibirnya.

Cup~

Hanya sekilas.

Hanya sekali.

Hanya sedetik.

Tapi…

GEONIL MENCIUMNYA!!!!

“Sudah kubilang aku akan menciummu!” kata Geonil sambil tersenyum bodoh.

“Kapan kau bilang?!” tanya Sungje sambil terus mengelap bibirnya.

“Waktu kau tidur kemarin.” Jawab Geonil. Lalu berlari ke dalam rumah.

Untuk beberapa detik Sungje tidak bisa mencerna yang terjadi. Tapi akhirnya…

“GEONIIIIIIIIIIL, NEO JUGEOSSO!!!!!!!!!”

***

“Cuma sedetik. Masa kau langsung marah?” Geonil terus membujuk Sungje untuk tidak marah padanya. Ini sudah 3 jam sejak Geonil ‘menyentuh’ bibir Sungje.

“Sedetik kan sama saja judulnya MENCIUM!!” jawab Sungje dongkol.

“Tapi tidak lebih dari 10 menit seperti yang kau lakukan bersama sepupuku kan?”

“Sepupu?” waah ini anak ngelindur! “Memangnya aku kenal dengannya?”

“Kenal!” kata Geonil sambil menyandarkan punggungnya di sofa merah itu sambil berkacak dada.

“Siapa?”

Geonil menghela nafas. Lalu berdiri dari kursinya. Sungje sudah membayangkan Geonil bakal pergi sebelum memberitahu siapa orang yang dimaksud.

“Jihyuk.” Akhirnya Geonil menjawabnya. Dan langsung pergi ke kamarnya.

***

“Mana mungkin Jihyuk dan Geonil sepupuan? Jihyuk tidak pernah cerita!” Sungje mulai bimbang dengan ucapan Geonil tadi.

“Kalau sepupuan juga, kenapa bisa berbeda marga?” Sungje mengacak rambutnya gemas. “Ya siapa tahu ibunya yang bersaudara dengan keluarga Geonil, otomatis marga Jihyuk itu Song, bukan Park. Nah itu! Ah… kenapa aku bodoh sekali?!!”

Geonil yang sedari tadi melihat ‘kegalauan’ hati Sungje itu hanya diam di depan pintu. Tadinya mau mengajak periksa kandungan. Tapi akhirnya malah menguping debat tunggal Sungje.

“Ya!! Kau menguping?!!” Sungje mulai menyadari ada keanehan dengan udara sekelilingnya. Dan terjawab sudah dengan melihat Geonil berdiri di depan pintu.

“Anak kecil saja sudah seperti ibu-ibu. Suka ngupin dan menggosip! Ckck..” Sungje menggelengkan kepala.

“Terserah kau mau bilang apa. Sekarang mau cek kandungan tidak? Aku sudah membuat janji dengan dokternya.” Kata Geonil cuek.

“Ya sudah terserah.”

***

“Kandungan istri anda begitu baik. Tidak ada masalah. Istri anda juga baik-baik saja. Anda pasti jago mengurus istri!” kata dokter kandungannya dengan ramah.

“Tentu saja. Aku sangat menyayanginya. Setiap hari selalu kusuruh makan dan minum susu. Yaah walaupun akhirnya dia marah-marah sendiri kalau besoknya muntah-muntah.” Balas Geonil sambil menatap Sungje yang duduk di sebelahnya.

“Istri anda cantik sekali.”

“JELAS!!” Geonil langsung bangga. “Tapi jangan coba-coba mendekatinya!”

Dokter kandungan itu tertawa kecil. “Tenang saja. Aku sudah punya istri. Dia juga cantik.”

Geonil menghela nafas lega. “Untunglah. Jangan goda istriku! Dia mudah tergoda.”

DUAGHHH!!!

Tonjokkan super kencang diberikan Sungje di pundak Geonil. Geonil berusaha menyembunyikan rasa sakit itu.

“Ya sudah dok. Kira-kira anaknya perempuan atau laki-laki?” tanya Geonil akhirnya.

Ini pertanyaan yang paling Sungje tunggu jawabannya. Di usia 4 bulan pasti bisa melihat jenis kelamin anak di dalam perut! *teori ngasal!! Gue ga tau woy!!

“Belum terlalu jelas. Nanti kalau kandungannya sudah 6 bulan atau lebih pasti ketahuan.”

Geonil mengangguk. Ia lalu berpamitan pada dokter kandungan yang baik itu dan keluar. Sungje tetap diam sampai Geonil menggodanya lagi.

“Nanti anaknya mirip aku lho kalau kau benci aku sekarang.” Kata Geonil.

Sungje melotot ke arah Geonil. “Tidak akan!!”

“Tanpa kau sadari aku dan Jihyuk itu hampir sama lho!”

Sungje menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Sama bagaimana? Jihyuk romantis, sedangkan kau tukang menggoda!”

“Tapi godaanku romantis kan?” Geonil mengedipkan satu mata.

Sungje bergidik ngeri. Ia melanjutkan jalan di sebelah Geonil dengan wajah yang menanggung kesal. Geonil yang ada di sebelahnya terus menyalami orang yang berpapasan dengannya.

“Geonil-ah, kau bisa tidak diam saja? Tidak usah tebar pesona begitu?!” bisik Sungje kesal.

Geonil masih tersenyum pada orang-orang di sekelilingnya. Ia lalu membalas bisikan Sungje. “Kau cemburu?”

“Kau mau aku cemburu, eoh?” Sungje menggeleng. “Tidak akan!”

“Okay. Kalau kau masih mau mempertahankan ego-mu. Kau sudah menyukaiku kan? Walaupun masih ada bayangan sepupuku di otakmu?”

***

“Kau masih mau sekolah tidak?” tanya Geonil ketika mereka berdua melewati sebuah gedung sekolah.

“Mau.” Sungje mengangguk. “Seharusnya tahun ini aku lulus.”

“Kalau mau aku daftarkan disitu.”

Sungje mulai bimbang. “Sekitar 5 bulan lagi anakku lahir. Dan 6 bulan lagi aku ujian. Otte?”

Geonil menghela nafas. “Ya.. dengan sangat terpaksa kita harus menundanya.”

“Masa aku seangkatan denganmu? Aniya!! Ani!!” Sungje menggeleng.

“Seangkatan bagaimana?” Geonil menggeleng. “Aku juga akan menundanya. Jadi kau tetap di tingkat 3, sedangkan aku di tingkat 2. otte? Mau?”

“Tapi anaknya…”

“Aku bisa mengurusnya. Kau mengurus untuk ujianmu saja. Aku bisa mengurusnya kok.”

“Bukannya kau harus bekerja?” Sungje mulai ragu.

Geonil menghela nafas lagi. “Aku sudah diajarkan ayahku untuk pintar-pintar mengatur waktu. Tidak ada alasan untuk repot untukmu.”

Satu yang sebenarnya Sungje suka dari Geonil, Geonil itu memang pintar. Tapi karena terlalu pintar ia pun jadi egois.

“Sudah sampai. Kau mau makan? Habis itu minum susunya.”

***

Sungje sendiri lagi. Sekarang pukul 8.30 malam. Waktu yang tepat untuk ‘mengintip’ barang-barang pribadi Geonil. Mumpung tidak ada orangnya. Kalau ada, bisa-bisa Geonil mengamuk seperti kemarin-kemarin. Menyeramkan!

Sungje masih penasaran, jadi model apa Geonil? Model di majalah apa? Kenapa Geonil tidak pernah menunjukkannya?

“Kalau Geonil jadi model majalah dewasa bagaimana? Pasti berfoto telanjang dengan modelnya! Ani.. ani!! Aku tidak mau melihatnya.”

“Ciee. Cemburu!” Geonil lagi yang datang di saat Sungje ingin membongkar sedikit rahasianya. “Ada yang ketinggalan. Kenapa kau tidak memberitahuku kalau ponselku tertinggal?”

“Mana kutahu kalau ponselmu ketinggalan!”

Geonil mengangguk. “Kalau kau kenapa-napa bagaimana? Kau tidak bisa menelponku tahu!”

“Ya aku bisa telepon ibuku, atau ayahku, atau—“

“Telpon aku kalau ada apa-apa!” Geonil langsung melambaikan tangan. Lalu berlari keluar karena dikejar waktu. Tapi masih ia sempatkan untuk mengirim senyum pada pujaan hatinya.

Sungje tersenyum kecil melihat tingkah Geonil. Jantung Sungje tiba-tiba berdegup kencang. Mengingat senyum yang tadi dilontarkan Geonil. Senyum itu…

Sungje menggelengkan kepalanya. Menghalau semua dugaan perasaannya sendiri. Sungje tidak mau Geonil menggantikan posisi Jihyuk! Sungje masih mencintai Jihyuk!

****

Klek..

Geonil baru pulang ke rumah pukul 12 malam. Pekerjaannya sangat banyak. Ia pulang dengan keadaan letih.

“Hiks.. hiks.. hiks.. sa-kit…”

Terdengar isak tangis dari kamar Sungje. Geonil segera melempar tasnya dan berlari ke kamar Sungje. Tidak ia hiraukan letih hari ini mendengar rintihan itu.

Benar. Itu Sungje. Sungje duduk meringkuk di pojok kamar sambil memegangi perutnya. Air mata mengucur deras dari pelupuk matanya. Geonil langsung memeluknya erat.

“Ah.. Geonil-ah.. sakiiiiit… hiks..”

Geonil mengelus rambut Sungje. Ia tidak mau melihat pujaan hatinya itu menangis, menitikkan air matanya.

Geonil lalu melepaskan pelukannya. Menghapus air mata yang masih membasahi pipi lembut Sungje. “Yang mana yang sakit?”

Sungje baru kali ini melihat Geonil sedekat ini. Melihat Geonil dengan perhatian berlari dan memeluknya erat. Melihat Geonil mencoba untuk tersenyum untuknya. Melihat Geonil menangis untuknya.

“Yang mana yang sakit?” tanya Geonil lagi dengan suara serak.

Sungje memegangi perutnya. Geonil mengerti. Ia tersenyum dan mengelus perut Sungje yang mulai membesar.

“Sayang, jangan sakiti umma ya. Umma kan butuh istirahat. Kamu juga istirahat ya.” Ucap Geonil pada kandungan Sungje.

Sungje tersenyum melihat Geonil berbicara dengan perut buncitnya.

“Kalau kamu nakal, appa pukul loh! Jangan buat umma menangis ya, sayang.” Geonil mengelus perut Sungje lagi. “Otte? Sudah baikan?”

Sungje mengangguk. “Ne..”

“Mau kutemani tidur?” tawar Geonil sambil tersenyum jahil.

Sungje mendengus kesal. “Dasar! Mencari kesempatan terus!” ia menjitak kepala Geonil.

“Hehehe.. Kajja. Kau pasti lelah.” Geonil memapah Sungje ke kasurnya. Lalu menunggunya sampai ia tertidur pulas. Sungje menggenggam tangan Geonil. Makin lama genggamannya makin renggang. Dan Sungje sudah kembali tenang.

“Sungje-ah, kalau tidak sekarang, boleh kan nanti?” gumam Geonil. Ia lalu berdiri dan mengecup kening Sungje lembut. Entah berapa banyak cinta yang sudah Geonil berikan pada lelaki cantik itu. Dan entah berapa banyak yang dirasakan Sungje dari cintanya.

TBC

PART 6 FINISHED!! ^^

Otte? Romantis gak?? Ahahha….

Sekali lagi makasih bagi yang udah baca. Walaupun ga komen, tapi kalian terdaftar sebagai viewers kok😀

Gomawo gomawo gomawo :DD

5 thoughts on “Time To Love part 6

  1. seungri's wife

    Komen lagi yaaahhh
    eh ternyata susah nyari ff dengan cast supernova, akhirnya gue ketagihan baca ff lo deh!
    Asli sebenernya gue jarang baca ff yaoi, dan ini gue malah ketagihan. Tanggung jawab!!! *nyodorin piso
    romantis-romantis^^ gua suka geonil!! kkkkk~

    Reply
  2. laladwiputri

    Jadi terharuuuuuu banget sama kisah geonil yg terus berusaha setia menunggu sungje sampai membalas cintanya aaaaaw is so touch! Kenapa sih susah banget buat sungje cinta sama geonil? Jelas2 dia namja yg 1000 kali ani lebih pokoknya lebih baik dari jihyuk aaaaaa geonil sini sama ku aja lagian aku belom hamil masih virgin nggak kayak sungje udah dicemarin orang hahahahaha ;D

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s