Stupid Love (Part 2)

Title : Stupid Love
Genre : school-romance
Length : 2 of ?
Cast : couple abadi a.k.a Sungje-Yoochan #dor
A/N : lanjutan ff ga jelas gue !! WAJIB KOMEN BAGI YANG BACA!! #Plak #Kidding #JanganTakutBaca sekali lagi saya tenangkan (?) ini udah hampir chap akhir di lappie. Jangan takut ga tau akhirnya #PLAAAAK *emng ada yang mau tahu??
Mohon maafkan kalo ada typo😀

***

<< previous

BLASHHHHH!!!
Bola terakhir. Sungje dan Yoochan sama-sama tersungkur di lapangan. Dada mereka naik turun mengatur nafas. Yoochan menatap ke samping setelah beberapa menit menahan nafas. Sungje masih berusaha mengatur nafasnya. Keringat mengucur deras dari kulit kepalanya.
“Kau bawa minum? Kalau tidak aku ada.” Kata Yoochan.
Sungje membalikkan badan ke samping. Tangannya ia jadikan bantal untuk kepalanya. Yoochan langsung bangun.
“Tenang saja aku bawa minum. Entah masih ada atau tidak.” Sungje menjawab pertanyaan gadis itu.
“Oh. Mau kuambilkan?” tawar Yoochan.
Sungje menggeleng. “Bangunkan aku saja. Ah.. ternyata melawanmu susah juga!”
Yoochan tersenyum bangga. “Di pertandingan nanti, anggap lawanmu perempuan. Kau pasti tidak mau kalah kan dari mereka? Lawan dengan sekuat tenaga!”
Sungje bungkam. Tapi dalam hati ia benar-benar berjanji untuk melawan dengan sekuat tenaga. Tangannya mengepal. Ingin bersiap-siap untuk membalas dendam karena tahun lalu sekolah mereka kalah. Sungje bangun. Tidak menghiraukan kakinya yang masih pegal dipakai main tadi.
“Ayo latihan lagi! Hari minggu sudah dekat!” Sungje tersenyum. Lalu mengulurkan tangannya untuk membantu Yoochan bangun.

>> part 2 <<

Keesokkan harinya…
“Kalau dilihat kalian seperti orang pacaran ya. Ckck..” ucap Yunho pada Sungje.
Sungje menatap Yunho dengan tatapan tidak biasa. Mata memicing sambil tersenyum kecil di bibirnya. Ia sudah menduga cepat atau lambat teman-temannya di basket pasti akan mengungkit masalah ini.
DUAGHHHH!!!!!
Sungje tersungkur setelah mendapat tonjokkan di pipi kirinya. Sungje mengelus pipinya yang terasa bengkak tapi tidak mengeluarkan darah.
“Memangnya kenapa kalau aku berlatih dengannya, ah? Memangnya dia pengganggu seperti cheerleader itu? Yang hanya bisa menari tanpa membantu?” kata Sungje pada Yunho.
“Tapi dia pembawa sial! Kau tahu, dulu kalau tidak ada anak itu pasti sekolah kita mendapat piala bergilir itu dan diletakkan di sekolah!” jawab Yunho.
Sungje tersenyum mengejek. Ia berusaha bangkit dan menutupi rasa sakit setelah ditendang perutnya sebelumnya.
“Memangnya apa hubungannya? Memangnya hanya Yoochun hyung yang bisa diandalkan waktu itu? Untuk apa basket mempunyai 5 pemain kalau ternyata hanya satu yang bisa bermain? Untuk apa keempat pemain lainnya? Pelengkap?”
Yunho mendorong tubuh besar Sungje. “Dia kapten kita! Karena dia dekat dengan si pembawa sial itu makanya Yoochun tidak bisa main karena cedera! Kau mau apa?!”
“Oh.. jadi kau takut kalau aku terbawa sial karena dekat dengannya? Karena apa? Yoochun hyung cedera karena kecelakaan, bukan karena Yoochan!!”
“Tapi kalau saja Yoochun tidak menyelamatkannya kakinya tidak akan kenapa-napa. Tangannya tidak akan kenapa-napa. Ingatannya juga tidak akan kenapa-napa.”
Kini gantian Sungje yang memukul Yunho. “Okay. Kalau begitu aku tidak usah main di pertandingan ini. Daripada sial!”
Sungje membalikkan badan. Tapi Yunho langsung menarik jaketnya. Membuat Sungje tidak bisa bergerak dan terpaksa melayani protes Yunho.
“Dia memberi pengaruh apa untukmu, eoh?” tanya Yunho dengan suara pelan.
“Banyak.” Jawab Sungje singkat. Lalu melepaskan tangan Yunho yang masih mencengkram jaketnya dan pergi dari lapangan.

***

BRAKKK!!!
Sungje melempar tasnya ke meja di belakang. Yoochan yang mendengar benturan keras dari tas itu langsung melepaskan headsetnya dan menurunkan buku andalannya.
Kelas sekarang sepi. Karena anggota basket akan bertanding di pertandingan tingkat provinsi minggu nanti, jadi anak-anak dipulangkan lebih cepat.
“Kenapa?” tanya Yoochan.
Sungje duduk di bangkunya. Wajahnya memerah karena marah. Berkali-kali Sungje memukul meja dengan kepalan tangannya. Yoochan langsung mendatangi kursi Sungje.
“Sungje-ah, waeyo?” tanya Yoochan lembut.
Tubuh Sungje naik turun. Nafasnya memburu. Tangannya masih sibuk memukul meja, meluapkan emosi.
Deg—
Tiba-tiba Yoochan ingat. Kini ia berhadapan dengan bintang basket, hari minggu nanti Sungje dan kawan-kawan akan berjuang untuk mendapatkan piala bergilir. Piala yang selalu diincar oleh banyak sekolah yang mempunyai eskul basket. Ia ingat setahun lalu kakaknya tidak bisa bermain basket karenanya. Dan.. kali ini pasti terjadi lagi. Pasti!
Yoochan mundur selangkah. Dua langkah. Tiga langkah. Sampai akhirnya menjauh dari Sungje. Ia sampai di pojok kelas. Air matanya tidak bisa dibendung lagi. Yoochan berjongkok dan mulai menangis. Menyesali kenapa ia selalu ada di sebelah orang yang akan berjuang untuk sekolah. Predikatnya sebagai pembawa sial akan benar-benar terbukti kalau kali ini Sungje tidak boleh main.
“Bukan salahmu.” Ucap Sungje yang tiba-tiba ada di depannya. Sungje menceritakan semua yang terjadi di lapangan tadi.
Yoochan mendongakkan kepala. Masih dengan air mata yang membasahi wajahnya. Mata Sungje juga memerah. Bisa dipastikan Sungje juga menangis.
“Kenapa kau menangis? Ini bukan salahmu.” Kata Sungje lagi. Ia berlutut. Menyamakan posisinya dengan Yoochan.
“Sini. Biar kuhapus air matamu.” Sungje mendekatkan ibu jarinya ke wajah Yoochan untuk menghapus air matanya sampai benar-benar kering.
“Kau bukan pembawa sial.” Kata Sungje lagi.
“Aku memang pembawa sial.” Balas Yoochan dengan suara serak.
“Bukan.”
“Iya. Yoochun pernah begitu karena dekat denganku.”
Sungje menggeleng. “Bukan.”
“Tapi kenyataannya begitu! Aku selalu membawa sial bagi semua orang!! Kenapa kau masih dekat denganku? Kenapa kau mau dekat denganku? Kenapa?!!” Yoochan menangis lagi. Sungje langsung memeluknya erat.
“Bukan. Kau bukan pembawa sial.” Ucap Sungje lembut. Dibiarkannya gadis itu menangis sepuasnya.

***

“Sungje hyung benar-benar tidak mau main! Otte? Dia kan bintang basketnya!” kata Dongho panik.
“Iya! Kenapa bisa begini?” Geonil juga ikut panik.
“Pertandingannya 3 hari lagi, sedangkan kita kehilangan pemain yang sangat penting!! Otte?!!” kata Kwangsu panik juga.
“KALIAN BISA DIAM TIDAK?!!” teriak Yunho emosi. Si wakil ketua itu juga sedang pusing. “Memangnya pemain basket hanya ada 1? Memangnya yang bisa bermain basket hanya 1 orang? Lalu untuk apa ada 4 orang lainnya di tim?” Yunho menghela nafas. “Jangan bicarakan si mantan bintang basket itu di depanku! Aku bisa latih kalian!! Ayo berlatih lagi!!”

*

Sungje terus-terusan memutar bola basketnya di tangannya. Ia tidak memperlakukan bola basketnya seperti biasa. Hari ini libur. Sungje mengajak Yoochan ke lapangan basket di dekat rumahnya.
“Kenapa kau tidak mau main?”
“Aku malas!”
“Pemain basket tidak pernah malas!”
“Aku bukan pemain basket lagi sekarang!”
“Kalau bukan, kenapa bola basket itu masih kau pegang?” Yoochan duduk di samping Sungje. “Itu berarti kau masih mau main basket.”
“Tidak.”
“Tapi kenyataannya kau masih mau main basket.”
Sungje menghela nafas. “Okay. Calon sutradara pasti bisa menebak jalan cerita.”
Yoochan tertawa kecil. “Bukannya yang bisa menebak jalan cerita itu penulisnya?”
Sungje ikut tertawa kecil. “Ya sudah. Kita bermain santai! Aku bosan di rumah!”
“Bosan dirumah dan aku yang harus menemanimu. Ckck.. dasar licik!”
Sungje memantul-mantulkan bola basketnya. “Nanti kalau kau butuh apa-apa panggil aku saja. Aku bisa kok datang.”
“Kalau aku butuh untuk melihatmu bermain hari minggu nanti kau mau datang tidak?”
Sungje mengerucutkan bibir. “Jangan beri aku pertanyaan seperti itu! Aku bosan! Memangnya tidak ada yang lain yang aku bisa?”
“Kalau begitu renang. Kau bisa?”
Sungje menatap Yoochan dengan kilatan mata kesal. Bola basket di tangannya masih dipantul-pantulkannya. Yoochan tersenyum kecil.
“Tangkap!”

***

“Kau benar-benar tidak mau main?” tanya Yoochan lagi keesokkan harinya. Lusa pertandingannya dimulai.
“Mereka saja yang main. Biar saja kalah lagi!” jawab Sungje sambil terus membidik bola agar masuk ke ring.
“Aku bisa pergi agar kau tidak terbawa sial olehku.”
“Jangan!!” Sungje menangkap bola yang memantul lagi ke arahnya. Lalu menatap Yoochan sambil memegang bolanya. “Kau bukan pembawa sial. Aku sudah bilang berkali-kali kan!”
Yoochan mengangguk. Lalu merebut bola basket itu dari genggaman Sungje. Permainan pun dimulai. Dan tanpa disadari mereka, ada beberapa orang yang mengintip.

*

“Tuh! Sepertinya memang Sungje hyung harus ikut main!” kata Dongho memprovokasi.
“Dari dulu juga sudah kubilang! Kita memang bisa main basket, tapi kan tanpa Sungje hyung aneh. Triknya Sungje hyung kan bagus.” Balas Geonil.
“Jadi bagaimana? Mau ajak Sungje hyung main?” tanya Kwangsu.
“Tapi nanti urusannya dengan Yunho hyung!” kata Geonil.
“Ah iya. Benar! Nanti kalau Yunho hyung marah bagaimana? Dia kemarin saja sudah seram sekali. Orang kesetanan saja masih mending. Ini?!” Dongho menggeleng. Kedua temannya juga mengangguk. Mereka pun memutar otak bagaimana cara agar Sungje bisa main di pertandingan hari minggu ini.

***

“Sebenarnya kenapa kau mau dekat denganku?” tanya Yoochan setelah selesai latihan. Karena sudah beberapa hari latihan basket bersama mereka tidak merasa letih seperti kemarin.
“Kau baik.”
“Hanya itu?”
Sungje menggeleng. “Entahlah.”
“Pasti ada hal lain! Apa kau punya salah denganku?”
Sungje tertawa kecil. Lalu meneguk sebotol air mineral yang dibelinya sampai habis. “Lalu, kenapa kau mau dekat denganku?”
“Ya! Jangan menutupi apapun dariku!”
“Okay. Aku suka dekat denganmu karena kau melihatku seperti teman biasa. Bukan bintang basket yang harus main terus, bukan pula orang yang memanfaatkan uangku. Kau lebih ke memanfaatkan kelemahanku untuk impianmu itu.” Sungje menghela nafas sejenak. “Kau memperkenalkanku pada duniamu. Kau memperkenalkanku dunia ballad. Kau memperkenalkanku SG Wannabe, M to M, K.Will, Kim Tae Woo, Shin Hyesung, dan lainnya. Kau memperkenalkanku tentang dunia hiburan dan dunia lain yang belum pernah kulihat. Cukup?”
Yoochan tersenyum malu mendengar tuturan Sungje yang terlalu jujur itu. Sungje menggenggam botol minumnya yang sudah kosong dan membuangnya ke tempat sampah yang jauh dari jangkauannya.
“Ini.” Yoochan memberikan sisa air minumnya pada Sungje. “Kau pasti haus.”
Sungje mengangguk. Lalu menegak habis setengah botol minum itu dan kembali melemparnya ke tong sampah.
“Sungje-ah,”
Sungje menatap Yoochan.
“Aku mohon kau main di pertandingan ini ya?”
Sungje menghela nafas. Entahlah kenapa pertanyaan ini sangat berat bagi Sungje yang tidak mau meninggalkan gadis itu hanya untuk pertandingan ini.
“Aku akan berusaha agar kau bisa diterima lagi oleh mereka. Ya? Kau main ya?” bujuk Yoochan.
“Kalau aku main kau mau beri aku apa?”
Yoochan berpikir sejenak. Tidak menyangka Sungje akan melontarkan persyaratan lanjutan.
“Kalau tidak mau—“
“Aku akan ajak kau ke taman bermain seharian! Kita bermain! Otte?” Yoochan tersenyum sambil memiringkan kepalanya.
“Taman bermain?”
“Ice skating?”
Sungje menggeleng. “Taman bermain, DEAL! Aku yang bayar!”
Yoochan menatap Sungje dengan mata berbinar. Kini lelaki di depannya sedang sibuk memantul-mantulkan bola dan memasukkannya ke ring.
“Kau bisa mengurusnya? Aku kan sudah bilang pada mereka kalau aku tidak mau ikut pertandingan ini.”
Yoochan menghela nafas bingung. “Ya.. nanti kuusahakan.”
BLASHHH!!!
Bola yang telah memantul dari ring itu dibiarkan Sungje melompat-lompat di lapangan. Sungje berdiri di depan Yoochan yang lebih pendek 10 centi lebih darinya.
“Asalkan kau tersenyum dan tidak memaksakan diri aku bisa mengurusnya. Kau tenang saja.” Sungje menarik tubuh Yoochan ke pelukannya dengan hati-hati. Disandarkannya kepala gadis itu di dadanya. Entah apa yang mendorong Sungje melakukannya. Tapi, ia merasa jauh lebih tenang sekarang.

***

“Mau tidak mau kau harus ikut!” kata Yunho tiba-tiba ketika Sungje baru sampai di depan pagar rumahnya.
Sungje diam. Ia memencet bel agar orang di dalam membukakan pintunya.
“Kau harus ikut pertandingan ini!” kata Yunho lagi.
Klek..
Pintu dibukakan oleh ibu Sungje. Wanita parubaya itu mempersilakan Yunho masuk. Tapi Sungje yang menolaknya.
“Waeyo?” tanya ibunya lembut.
“Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Biarkan saja dia diluar.” Jawab Sungje tak acuh. Lalu naik tangga dan masuk ke dalam rumah.

***

BRUUUUUK!!!!
Kembali suara tas yang membentur permukaan meja terdengar keras. Yoochan terlonjak kaget. Kali ini ia tidak memakai headsetnya jadi dengan mudah ia mendengar suara dentuman itu.
“Aku mau cerita. Boleh?” tanya Sungje yang sudah mengambil posisi duduk di depan Yoochan. Wajahnya menunjukkan kalau ia sudah tidak kuat menahan untuk tidak cerita.
“Silakan saja.” Yoochan menutup bukunya dan menatap Sungje.
Sungje menghela nafas. “Aku disuruh ikut pertandingan besok!”
Mata Yoochan berbinar.
“Tapi aku tidak mau,” lanjut Sungje lagi.
Yoochan mendengus kesal. Matanya kembali seperti biasa.
“Tapi karena ingat kau, aku jadi mau main.”
Mata Yoochan kembali berbinar. Kali ini ia merasakan suhu udara makin panas. Keringat mulai membasahi tubuhnya.
“Jadi, kau harus ada di kursi depan untuk menontonnya!” Sungje memberikan tiket yang sudah bernomor. “Kalau kau tidak ada, kau harus tahu akibatnya!”
Sungje lalu menaruh tiket itu di atas meja Yoochan. Kemudian ia tersenyum dan berlari kencang keluar. Yoochan tersenyum kecil sambil menggelengkan kepala. Ia mengambil tiket yang ada di atas mejanya.

Ps : Pokoknya tidak ada alasan! Kau yang menyuruhku main maka kau yang harus mendukungku! Dan lagi, jangan lupa datang ke lapangan untuk melihatku!

Begitulah tulisan yang ada di halaman belakang tiket itu. Halaman belakang kosong, jadi Sungje memanfaatkannya untuk menulis pesan. Yoochan tertawa kecil. Dalam hati ia amat sangat senang. Ingin sekali memeluknya dan sekali lagi mengucapkan terima kasih karena mau dekatnya walaupun baru 2 minggu.

***

DUGG DUGG BLASHHH!!!
DUGG DUGG BLASHHH!!!
Suara bola basket itu menggema ke seluruh penjuru lapangan. Para pemain dengan semangat terus berebut bola, dan mengiringnya menuju ring. Sungje menguasai permainan hari ini. Tentu saja bukan tanpa alasan.
PRIIIIIIIIIIIT~
“Break!” teriak sang pelatih. Semua pemain berjalan ke sisi lapangan. Merebahkan diri mereka dan meminum minuman yang telah disediakan.
“Thank’s” ucap Sungje setelah menerima minuman dari Yoochan.
“Hati-hati diracun!” teriak salah satu pemain dari tengah lapangan.
Sungje melambaikan satu tangannya sambil meminum air di dalam botol itu sampai habis.
“Kalau aku mati aku bisa tenang karena tidak harus menanggung beban besok!” balas Sungje setelah menghabiskan minumnya.
Sungje duduk di samping Yoochan sambil mengelap keringatnya. Bajunya sudah benar-benar basah.
“Kau terlalu egois.” Ucap Yoochan tiba-tiba. “Bola itu bukan milikmu. Bola itu milik semua. Kau bisa berikan pada pemain lain yang dekat dengan ring.”
Sungje mengangguk-angguk.
“Mengerti tidak? Jangan-jangan tidak mengerti sudah mengangguk!”
“Iya aku mengerti! Tenang saja!”
Yoochan mengangguk. “Kalau besok permainanmu jelek, akan kusuruh kau berenang di kolam 2 meter!” bisik Yoochan sambil tersenyum jahil.
Nafas Sungje tercekat di tenggorokkan. Ingin sekali ia menjitak gadis itu. “Kau juga harus ikut!”
Yoochan menggeleng. “Permainanku kan lumayan. Jadi tidak harus masuk kolam!”
PRIIIIIIIIIIIIT~
“Let’s play again!!!!”

****

Sudah malam. Yoochan masih setia menunggu Sungje yang masih berlatih untuk besok. Sebenarnya ia harus istirahat untuk menyiapkan diri besok. Tapi demi perjanjiannya dan Sungje ia tidak bisa meninggalkannya.
Tapi Yoochan takut kejadian yang lalu terulang. Di hari yang sama, di waktu yang sama, bertepatan dengan pertandingan bergengsi…

~flashback

“Aku tidak sabar untuk besok!” Yoochun tersenyum menatap kembarannya di sampingnya sambil menjilat es krim di tangannya.
“Aku juga! Pasti permainanmu sangat hebat!” Yoochan mengangguk mengiyakan.
“Kau nonton ya. Di bangku paling depan.” Yoochun memberikan secarik kertas. Itu tiket menonton pertandingan basket antar sekolah. “Awas kalau tidak! Kusuruh kau berenang di kolam 2 meter!”
Yoochan mengerucutkan bibirnya. Lalu mengejar kembarannya yang sudah lebih dulu lari dengan gesitnya.

***

“Nanti kau ke Amerika ya?” Yoochan menghela nafas setelah berhenti mengejar Yoochun.
“Iya. Umma belum mengizinkanmu.” Yoochun tersenyum lemah. Ia mengelus rambut Yoochan lembut. “Nanti pasti bisa. Kau lawan dulu penyakitmu!”
Yoochan mengangguk. “Jadi nanti aku sendiri?”
Yoochun menggeleng. “Aniya. Ada aku. Disini. Di pikiran dan di hatimu.”
Mereka berjalan bersama sambil bergandengan tangan. Terlihat seperti sepasang kekasih. Padahal mereka bersaudara, kembar pula. Yoochun yang terlalu pintar setingkat lebih tinggi daripada kembarannya. Mereka terbawa suasana. Sampai sebuah truk besar melaju kencang ke arah mereka dari sisi kanan. Jarang sekali ada truk di jalan ini. Yoochun buru-buru mendorong Yoochan ke sisi jalan dan menyelamatkan dirinya. Berhasil. Mereka bisa bangun. Tapi masih ada mobil dari sisi kirinya melaju dengan kencang. Yoochun kembali mendorong kembarannya ke depan. Sedangkan ia tertabrak mobil sedan itu. Tubuhnya terpental sejauh lebih dari 5 meter. Yoochun masih setengah sadar. Ia bisa merasakan sakitnya terpental jauh, merasakan tulangnya yang terasa patah disana sini, bayangan tentang masa lalu dan masa depannya juga berkelebat di otaknya. Yoochun merasa ini waktunya ia harus menghadap sang pencipta. Meninggalkan saudara kembarnya yang sangat ia sayangi.
“Yoochun-ah, bertahanlah!! Sebentar lagi ambulans datang!! Yoochun-ah!!” bahkan Yoochun masih bisa melihat siapa yang memeluknya sekarang. Siapa yang menangisinya sekarang. Siapa yang menyuruhnya untuk bertahan. Ingin sekali ia menggerakkan tangan untuk menghapus air mata itu. Tapi ia tidak bisa. Tubuhnya mati rasa. Ia tidak tahu lagi bagaimana caranya menggerakkan tubuh. Yoochun menutup matanya. Membiarkan rasa sakit itu menggerogotinya.

***

4 hari kemudian…

Yoochun masih belum sadar. Teman-temannya datang menjenguk setiap hari untuk melihat kondisi Yoochun. Yoochun koma.
“Dulu juga hampir begini. Untungnya masih bisa selamat. Sepertinya ‘dia’ bisa dikategorikan pembawa sial.”
“Iya. Kasihan Yoochun.”
“Padahal pertandingan kemarin sangat penting.”
“Pembawa sial!”
Dan mulai hari itu. Yoochan mendapat predikat pembawa sial. Setiap hari selalu menangisi hal itu. Ditambah Yoochun lupa ingatan selama sebulan. Ia lupa siapa namanya, wajahnya, orangtuanya, saudara kembarnya, teman-temannya, dan semua yang berhubungan dengannya. Selama itu orangtuanya juga kesal dan menyebutnya pembawa sial. Tapi hanya beberapa hari. Tidak seperti orang lain..

~end flashback

“Ya!!”
Yoochan langsung tersadar dari lamunan tentang masa lalunya. Ia tersenyum gugup pada orang di depannya.
“Kenapa? Ada masalah?” tanya Sungje. Ia duduk di sebelah Yoochan lagi.
“Aniya.”
“Terus kenapa diam?”
“Memangnya tidak boleh?”
Sungje tertawa kecil. “Bagi minum!”
Yoochan menyeringai geli. Lalu memberikan sebotol minumannya lagi. Sungje paling rakus setelah bermain.
“Mau temani aku makan?” tanya Sungje lagi.
Yoochan mengedikkan bahu. “Entah.”
“Tenang saja aku yang bayar.”
“Nanti disangka aku memanfaatkan uangmu.”
“Tidak. Aku tahu kau bukan orang seperti itu. Kalaupun kau orang seperti itu, ya.. harus kumaklumi.”
Sungje mengelap keringatnya sekali lagi. Lalu menggendong tasnya sambil membawa bola basket di tangannya.
“Tidak ganti baju?”
“Kalau aku ganti baju disini pasti kau melihatnya. Iya kan?????”
Yoochan menjitak kepala Sungje pelan. Dibalas Sungje dengan jitakan yang lebih keras. Yoochan balas lagi menjitak. Dan akhirnya mereka bermain jitak-jitakan.
“Ganti baju sana! Bau tahu!” kata Yoochan jahil.
Sungje mendengus kesal. “Ya sudah. Tapi temani aku makan!”
“Iya.. iya.”

****

“Aku pulang denganmu ya!” kata Sungje setelah menghabiskan makanannya.
“uhukk.. uhukk..” Yoochan langsung tersedak. Sungje sudah menduga ini akan terjadi. Sungje menyodorkan minuman ke gadis itu.
“Tidak usah takut. Aku tidak akan sakit.”
“JANGAN!!”
“Wae???”
“Kubilang jangan ya jangan!!”
“Sejak kapan ada peraturan begitu?!!”
Yoochan mengelap bibirnya. “Aku sudah bosan dibilang pembawa sial. Kau tahu bagaimana rasanya? Sakit!! Apalagi waktu itu dibilang pembawa sial untuk keluarga sendiri. Makanya aku tidak boleh ikut ke Amerika.”
“Tapi kan kau tidak selalu membawa sial.”
“Memang. Maksudku memang tidak sekarang. Tapi nanti, pada waktunya.”
Sungje menghela nafas. Ia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Mereka berdua makan di restoran Jepang di dekat sekolah.
“Masalah kau dan kakakmu itu sudah berakhir! Sekarang kau hanya tinggal memulihkan citramu saja.”
“Memang benar dari dulu. Kalau berbicara itu lebih mudah dari melakukan.”
Sungje mendengus kesal. “Memang begitu kenyataannya.”
“Ya sudah. Aku tidak mau kau ikut aku jalan!”
“Tapi—“
“Aku tidak akan datang besok kalau kau ikut aku jalan!” ancaman Yoochan berhasil. Sungje langsung lemas mendengarnya.
Ini juga untuk kebaikanmu, Sungje-ah..

***

TBC

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s