The Next Life (Part 1) *Sekuel Revenge*

Title : The Next Life (sekuel Revenge)
Genre : NC17, straight, romance, life *sadis belom muncul
Length : 1 of 3
Main Cast :
–    Park Yoo Chan
–    Kim Sung Je
Other Cast :
–    Park Yoo Rin
A/N : Gue nambah utang lagi!!! YEYEYEYE!!!! #oranggila
Ini sekuel sebenernya ga ada yang minta. Tapi gue bikin aja *baik kan gue?? *ditendang
Okeee, semoga ada yang baca. Sengaja nih ga gue protect!! Baik kan gue??? #ditimpuksendal
Ga usah takut ini bakal discontinue, ini udah end di kompi!! Hahaha… dan endingnya silakan tebak sendiri. Kalo gue pas bikin sih nangis #PLAAAK

***

Hampir 2,5 tahun sudah kematian saudara kembarnya yang dibunuhnya dengan sadis itu. Sampai sekarang ia tidak tahu kabar mayat saudara kembarnya itu. Apakah dibakar dan disebar di laut, atau ditaruh dipeti dan di kubur?
Entahlah~
Sekarang Yoochan tidak memikirkannya. Terserah keadaan disana bagaimana. Yang penting sekarang ia punya kehidupan sendiri. Hidup yang tidak mudah, tapi cukup membuatnya bahagia.
Setelah ia membunuh kembarannya, Yoochan kabur ke Jepang dengan uang tabungannya dan Yoochun. Keluarganya tidak mencarinya, karena memang mereka workaholic dan lebih memilih pekerjaan daripada anaknya. Menurut cerita yang Yoochan dengar, orangtuanya malah membiarkan Yoochun meninggal dibunuh daripada pekerjaannya yang terbengkalai.
Sekarang ia hidup di Jepang bersama suaminya yang seorang direktur utama sebuah perusahaan terkemuka Jepang. Tapi suaminya adalah orang Korea asli. Makanya Yoochan tidak harus bisa berbahasa Jepang untuk berkomunikasi.
“Waeyo?” tanya Kim Sungje, suaminya.
Yoochan langsung terbangun dari lamunannya. Ia menatap lelaki berbadan tinggi tegap itu di depannya. Masih memakai baju khas kantornya.
“Sudah pulang?” tanya Yoochan dengan senyum terpaksa.
“Kau kenapa? Ada masalah?”
Yoochan menggeleng. “Aniya.”
“Kalau ada masalah cerita saja padaku. Aku kan suamimu.” Katanya sambil tersenyum tulus.
Ada sedikit rasa tidak enak dari dalam hati Yoochan. Tanpa sadar ia sudah membohongi lelaki itu. Lelaki yang benar-benar tulus mencintainya.
“Kau mau apa?” tanya Yoochan kaget ketika Sungje sudah membuka bajunya.
“Memuaskan istriku.” Jawabnya sambil tersenyum jahil.
“Aku tidak mau!”
“Tapi aku mau. Ya? Aku kan jarang di rumah!”
Yoochan tertawa kecil. “Hanya seminggu 2 kali kau tidak pulang ke rumah. Dan setiap kau pulang aku sudah memuaskanmu kan?”
“Dan hanya seminggu dua kali pula kau memuaskanku kan? Ayolah! Kelihatannya kau sedang stres. Jadi, kita ‘bermain’ saja!”
Yoochan tetap menggeleng.
“Ya sudah. Pakai obat perangsang ya biar—“
“Ani!! Ani!! Aku sudah tidak mau mencoba lagi obat itu!”
“Panas kan? Makanya ayo!! Tidak ada ruginya kok! Kita juga belum punya ‘baby’. Let’s make again, ne?”

***

Pagi yang cerah menyambut Yoochan yang baru membuka matanya. Ia menatap ke sekeliling. Dilihatnya Sungje masih tidur di sampingnya dengan mulut sedikit terbuka dan bertutup selimut. Yoochan tersenyum dan menutup pelan bibir suaminya dengan tangannya. Dengan hati-hati ia turun dari tempat tidur.
“Mau kemana?” Sungje menarik tubuh Yoochan untuk kembali tidur di sampingnya. “Disini saja.”
“Ne, suamiku.” Yoochan mengecup bibir suaminya.
Sungje membuka matanya perlahan. Makin lama makin melebar. Dan terlihatlah dua bola mata cokelat sedang memandangnya dengan tatapan sayang. Sungje tersenyum. Lalu menautkan bibirnya ke bibir istrinya itu.
Tangan Sungje meremas payudara istrinya yang tidak tertutup apa-apa. Lalu memainkan nipple-nya dengan gemas. Yoochan mendesah tertahan.
“Fight again?” Sungje menunjukkan penisnya yang masih tegak hasil permainannya semalam.
Yoochan mengangguk. Ia menunjuk vaginanya yang sudah memerah. “Tapi manjakan dulu.”
Sungje menurut. Ia mengarahkan kepalanya ke mahkota istrinya itu. Lalu mengulumnya gemas.
“Ahhhh…” Yoochan mencoba merapatkan pahanya. Ia memejamkan matanya berkali-kali karena tidak bisa membedakan rasa geli dan nikmatnya disentuh. Tangannya meremas sprei yang diremasnya tadi malam pula.
Croooot~
Cairannya akhirnya keluar. Yoochan mendesah lega. Tinggal menunggu benda tumpul panjang memasuki mahkota kebanggaannya.
Setelah menghabiskan cairan dari vagina Yoochan, Sungje mengarahkan penisnya perlahan ke lubang vagina istrinya. Yoochan menarik nafas. Menahan diri agar tidak berteriak ketika penis suaminya yang super besar itu memasukinya lagi.
“Ahhhh sakiiiit…” sedikit air mata turun dari pelupuk mata Yoochan.
“Okay. Aku pelan-pelan ya..” Sungje mengulum bibir Yoochan. Membiarkan lidahnya dan lidah Yoochan beradu dan mengeluarkan liur yang tercampur. Sungje memasukkan penisnya perlahan.
Ciumannya perlahan turun ke leher putih Yoochan yang penuh dengan hasil ‘lukisan’nya tadi malam. Tanda itu masih terlihat memerah. Ada beberapa yang terlihat membiru. Tapi Sungje membiarkannya. Dan melanjutkan aksinya.

***

“Aku ada rapat sampai hari Rabu. Kau tidak apa-apa kan kutinggal?” Sungje memakai kemeja birunya sambil menatap pantulan dirinya di kaca.
Yoochan menggeleng sambil memilihkan dasi untuk suaminya. Setelah menemukan dasi yang menurutnya cocok, Yoochan memakaikannya ke tubuh suaminya.
“Aku sering kau tinggal dan tidak apa-apa.” Yoochan tersenyum manis. “Harusnya aku yang bertanya, tidak apa-apa kan kau tanpa aku?”
Sungje mengecup kilat bibir Yoochan. “Sebenarnya aku tidak bisa melakukan apa-apa tanpamu. Tapi sebagai direktur utama aku harus profesional.”
Yoochan memeluk tubuh kekar suaminya. “Kalau aku selalu merindukan ini kalau kau tidak ada.”
Sungje membalas pelukan istrinya hangat. “Sekarang aku memelukmu. Enak?”
Yoochan mengangguk. “Aku pasti merindukanmu.”
Sungje menghela nafas. Lalu melepaskan pelukan Yoochan dan menatapnya lembut. Ia tersenyum. “Kenapa kau tidak mau ikut kalau aku bertugas?”
Yoochan menggeleng. “Pada saatnya nanti aku akan ikut. Sekarang aku hanya jadi pengganggu untukmu kan?”
“Kata siapa?” Sungje menggeleng. “Malah aku selalu berharap kau selalu ikut aku kemana-mana.”
“Aku tidak bisa. Aku tidak bisa beradaptasi dengan mudah.”
Sungje mengangguk. “Ya sudah. Aku ingin dua hari lagi aku pulang dan kau sudah dalam keadaan—“
“Arasso.” Yoochan mengangguk. “Tapi aku tidak mau.”
“Bohong besar!” Sungje mencubit pelan pipi Yoochan. “Ya sudah. Aku berangkat ya. Jaga dirimu.” Sungje mengecup puncak kepala Yoochan. Dengan langkah berat ia meninggalkannya lagi untuk urusan pekerjaan.

***

“Aku sudah makan malam, yeobo! Kau tenang saja!”
‘Pakai apa? Apa itu bergizi? Kau tidak merasa apa-apa kan?’
Yoochan memindahkan ponselnya ke telinga kiri. “Kalau kau cerewet lagi akan kututup teleponnya!”
‘Iya.. iya. Kau pintar sekali sih mengancam!’ Sungje mendengus di seberang sana. ‘Aku bosan. Makanya aku menelponmu. Memangnya tidak boleh aku menelpon istriku sendiri?’
Yoochan tersenyum lebar. “Kapanpun boleh. ASALKAN tidak cerewet seperti tadi. Pusing tahu!”
‘Iya.. iya. Sedang apa?’
Sungje tidak pernah absen meneleponnya kalau tidak pulang ke rumah. Yoochan harus ekstra sabar menghadapi suaminya yang terlalu manja dan serba ekslusif. Apa saja mau dilayani. Kalau tidak dia bakal mogok beraktivitas.
Kadang-kadang Yoochan sendiri bingung. Kenapa ia bisa menyukai lelaki seperti dia? Lelaki itu tidak pernah bertanya siapa orangtuanya, darimana ia berasal, siapa nama saudaranya atau latar belakangnya.
Mereka bertemu tanpa sengaja karena koper mereka tertukar. Kebetulan handphone mereka ada di koper. Mereka membuat janji dan bertemu. Begitulah. Seperti cerita drama yang berujung bahagia.
‘Ya sudah kalau kau mengantuk. Jaljayo! Mimpi indah sayang. Dan jangan lupakan aku.’ Pesan Sungje sebelum menutup teleponnya.
“Okay. Sweet dream too, my husband. Jangan memforsir waktumu ya.”
Sambungan telepon pun terputus. Digantikan oleh kesunyian. Mereka berdua sama-sama kesepian.

***

Hari ini sepertinya hari yang paling melelahkan untuk seorang Kim Sungje. Sebagai direktur perusahaan besar dan juga suami dari Park Yoochan ia harus berkonsentrasi di dua bidang. Kali ini ia harus memikirkan tentang kerjasama perusahaannya dengan salah satu perusahaan besar dari Korea. Di sisi lain ia merindukan Yoochan. Entah kenapa hari ini sepertinya kerinduan itu lebih besar.
“Direktur Kim?” sekretarisnya yang sudah memanggilnya beberapa kali akhirnya bisa menyadarkan lamunan Sungje.
“Ada apa?” Sungje berdiri dan memasang wajah berwibawanya.
“Presdir Park Company meminta anda untuk ikut makan malam hari ini di hotel Kaoru sambil membicarakan rencana kerjasama.”
“Oh okay.” Sungje menyetujuinya. “Siapa saja yang kesana nanti?”
“Hanya anda saja. Ini pertemuan antar presdir.” Sekretarisnya itu menjelaskan.
Setelah sekretarisnya pergi, Sungje kembali merasa kesepian. Andaikan istriku yang menjadi sekretarisku..

***

“Terima kasih sudah mau datang ke acara perjamuan malam hari ini, Direktur Kim.” Direktur Park membuka pembicaraan di tengah acara jamuan malam itu.
Sungje tersenyum hormat. “Suatu kehormatan bagi saya diundang kesini.”
“Ah terlalu berlebihan.” Direktur Park tersenyum pada direktur muda itu. “Bagaimana kabarmu? Pasti kau lelah karena terus-terusan bekerja untuk membangun perusahaan ini lebih maju.”
Sungje tersenyum kecil. “Tidak juga. Saya hanya mengarahkan, sedangkan yang mengerjakan para karyawan saya.”
“Appa!!!” teriak seorang yeoja berusia sekitar 16 tahunan pada direktur Park dan istrinya.
“Ah anakku! Sini!” Direktur Park menyuruh yeoja itu duduk di kursi kosong di sebelahnya. “Ini anakku. Namanya Park Yoo Rin. Yoo Rin, ini Kim Sungje. Direktur muda yang pernah appa ceritakan.”
Yeoja bernama Yoorin itu tersenyum malu pada Sungje. Wajahnya memerah ketika Sungje membalas senyumnya.
“Annyeonghaseyo. Na neun Yoorin imnida!” yeoja itu memperkenalkan diri sambil menjulurkan tangan kanannya.
“Sungje imnida.” Sungje pun membalas jabatan tangan Yoorin.
“Ini anak perempuan kami satu-satunya. Kalau kami tidak punya anak laki-laki mungkin dia yang jadi penerus Park Company.” Kata Istri Direktur Park bangga. “Yoorin ini juara umum selama SMP. Kerjaannya belajaaaaar terus. Hampir tidak pernah main. Pacaran saja belum pernah. Hihihi..”
Sungje mengangguk saja. Ia tidak tahu sebenarnya ini acara untuk membahas masa depan perusahaannya dan perusahaan keluarga Park atau acara perjodohan.
“Ah umma!!” Yoorin memukul lengan ibunya manja sambil tertawa kecil.
DEG
Sungje tiba-tiba ingat Yoochan. Entah kenapa wajah Yoorin sedikit mengingatkannya dengan Yoochan. Cara tersenyumnya, matanya yang seperti hilang ketika tertawa, dan gerak manjanya.
“Direktur Kim, kau tertarik pada putri kami?” tanya Direktur Park menggoda.
Sungje langsung menggeleng. Kalau tidak ada wanita lain aku pasti memilihnya! Jawabnya dalam hati.
“Putri kami cukup cantik kan? Kami berencana mau menjodohkan kalian. Direktur Kim sudah punya pacar belum? Kalau belum biar Yoorin saja yang menjadi pacarmu. Kalian cocok loh!” istri direktur Park itu sangat semangat mengatakannya.
Sungje tersentak. Begitu juga Yoorin. Tapi Sungje tetap bersikap berwibawa seperti biasanya. Sedangkan Yoorin menyembunyikan gurat merah di sekitar wajahnya.
“Rencana kami selain membicarakan kerjasama ini sebenarnya untuk menjodohkan kalian. Otte? Direktur Kim tertarik kan pada Yoorin?”
Sungje tersentak. Ia ingin menghajar direktur Park kalau saja ia tidak ingat kalau direktur itu lebih tua darinya. Nafsu makannya menguap sudah. Bersamaan dengan menguapnya niat untuk menyetujui kerjasama itu.
Sungje menyentakkan garpu dan sendoknya di atas piring. “Maaf, saya kira ini pertemuan antar rekan kerja.” Sungje berdiri dari duduknya. “Dan juga saya sudah mempunyai istri. Maaf kalau saya lancang melakukan ini. Anda melewati batas. Maaf, kerjasama ini… batal.”

***

BRAKKK!!!!
Yoochan tersentak kaget mendengar pintu apartemennya dibanting orang. Ia yang sedang memasak di dapur langsung berlari panik ke depan untuk melihat siapa orang yang berani masuk ke apartemennya dan Sungje malam-malam begini.
“Yeobo, ada apa?” tanya Yoochan panik ketika melihat Sungje berjalan gontai sambil menahan amarahnya.
Sungje mengatur nafasnya dan membiarkan tubuhnya ditarik Yoochan ke ruang tamu. Yoochan mendudukkannya di atas sofa empuk yang dibelinya dari hasil keringat sendiri.
“Waeyo? Ini minum dulu.” Yoochan memberikan segelas air dingin dan duduk di samping suaminya.
“Kurang ajar!”
“Nuguya?”
Sungje meneguk air dingin itu sampai habis. “Presdir itu tidak punya otak!!”
“Hushh!! Ceritakan pelan-pelan padaku, oke?” Yoochan mengelus lengan Sungje lembut. “Kita keluar ya? Di balkon?”
Sungje mengangguk. Lalu berjalan perlahan ke balkon. Sungje memeluk Yoochan dari samping. Menikmati angin malam yang berhembus perlahan.
“Direktur itu mengajakku makan malam. Katanya mau membahas tentang kerjasama perusahaanku dan perusahaannya. Tapi nyatanya ia malah mau menjodohkanku dengan anak perempuan satu-satunya! Ckck..”
Yoochan tertawa kecil. “Lalu kau bilang apa?”
“Aku batalkan kerjasama ini. Kewenangan ada di tanganku. Jadi aku bebas bilang iya atau tidak. Batal atau jadi.” Sungje menghela nafas. Lalu mengecup puncak kepala Yoochan.
“Kau menyukainya?”
“Siapa?”
“Kau menyukai anak direktur itu?”
Sungje menggeleng keras. “Tentu saja tidak. Tahu tidak daritadi aku membuat kantor geger gara-gara aku tidak fokus terus menerus. Jalan tidak lihat-lihat, akhirnya menabrak tong sampah. Lalu aku hampir terjepit lift kalau saja tidak dilihat oleh salah satu karyawanku. Aku pesan jajangmyun, tapi mie-nya hanya ku acak-acak dan menyebabkan meja kotor. Benar-benar hari ini melelahkan!”
Yoochan tersenyum kecil mendengar cerita suaminya itu. Lalu menyandarkan kepalanya di dada bidang Sungje. “Istirahat dulu. Besok kau pasti bisa berfikir jernih.”
Sungje mengangguk.
“Sudah makan?”
Sungje menggeleng. “Terlanjur kesal, jadi aku tidak nafsu makan.”
“Ada kimchi lho! Mau?”
Sungje langsung mengangguk semangat. Lalu mengajak Yoochan masuk dan menikmati kimchi bersama.
“Kenapa kau selalu bisa menenangkanku?” tanya Sungje di tengah santap malamnya.
“Mollayo.” Jawab Yoochan sambil tersenyum malu.
“Terimakasih untuk selalu ada di sampingku.”
Yoochan mengangguk. “Terimakasih juga sudah mau ada untukku.”
“Kita tidur yuk. Aku sudah selesai.”

***

Sungje belum bangun keesokkan paginya. Yoochan masih terjebak di dalam pelukan erat Sungje. Tapi beberapa detik kemudian ia bisa lepas dari pelukan hangat nan eratnya dan membuatkan beberapa makanan untuknya.
Tapi kemudian ia merasa perutnya tidak enak. Perasaan yang sudah beberapa minggu dirasakannya kembali dirasakan.
“uhulk…” terlambat. Belum sempat Yoochan ke kamar mandi, semua makanan yang ditelannya kemarin terbuang percuma di lantai dapur itu.

*

Sungje mengerjapkan matanya berkali-kali. Berusaha mencerna semuanya. Ia terlambat bangun, dan Yoochan tidak ada di sampingnya. Biasanya walaupun ia terlambat bangun pasti Yoochan akan tetap menunggunya bangun.
Bau hangus menyebar ke penjuru apartemen yang luas itu. Sungje mengira ini kebakaran. Ia berlari ke seluruh penjuru apartemen untuk mencari Yoochan. Tapi ternyata bau hangus itu berasal dari dapur. Sungje langsung mematikan kompor dan melihat Yoochan berlutut di dekat meja makan sambil terus mengelap air mata dan keringat dinginnya.
“Omona, Channie, gwaenchana???” Sungje langsung memeluknya erat. “Kita ke dokter ya.”
Yoochan menggeleng. “Perutku sakit..”
“Gwaenchana. Ada aku. Ayo kita ke dokter.”
Yoochan tetap menggeleng. “Aniya!! Aku tidak mau!! Hiks..”
Sungje mengangkat tubuh Yoochan yang ia rasa makin berat ke kamar. Ia biarkan dapurnya kotor untuk sementara.
“Sudahlah tidak usah menangis. Hanya muntah saja kan? Uljjima yeobo…” Sungje mengelus rambut Yoochan.
Yoochan memeluk Sungje. Merasakan aroma tubuhnya yang belum berubah dari tadi malam. Merasakan hangatnya pelukan yang tidak pernah berubah dari dulu.
“Kita ke dokter ya? Aku takut kau kenapa-napa.”
Yoochan merasa beruntung sekarang. Ia mempunyai orang yang perhatian, khawatir dan percaya padanya.

***

“Memangnya anda tidak melihatnya, presdir Kim?” tanya dokter Yakagi pada Sungje.
“Panggil saja aku Sungje. Aku sedang menjadi orang biasa sekarang.” Kata Sungje sambil tersenyum kecil. “Memangnya kenapa?”
“Perut istri anda makin besar. Ini sudah memasuki minggu ke-6.” Dokter Yakagi tersenyum memperlihatkan hasil pemeriksaannya.
“Jadi… istri saya… hamil?”
Dokter Yakagi mengangguk. “Iya. Lihatlah perutnya makin besar. Ia juga makin berat kan? Memangnya kau tidak pernah melihatnya ke kamar mandi?”
Sungje menggeleng. “Katakan ini benar, Dokter!! Katakan!!”
Dokter Yakagi mengangguk. “Iya benar, direktur Kim. Istri anda hamil.”
Sungje langsung bersorak girang dan melompat-lompat seperti kadal karet. Lalu masuk ke kamar dimana Yoochan diperiksa dan langsung memeluknya.
“Aaaaahhhh aku akan jadi ayah!!” teriak Sungje girang sambil memeluk Yoochan.
“Iya iya. Appa nappa! Hahaha..” Yoochan terkikik geli.
“Kira-kira anaknya perempuan atau laki-laki ya? Aaah akhirnya dapat juga.” Sungje mengelus perut Yoochan yang masih terbilang ‘rata’ untuk ukuran ibu hamil.
“Menurutmu apa? Kau mau laki-laki atau perempuan?”
Sungje mengecup bibir Yoochan sekilas. “Apa saja asalkan dari rahimmu. Dan apa saja asalkan dia imut dan tidak menyaingimu.”
“Aku akan menjaganya dengan sepenuh hati. Hanya untukmu.”
“Aku juga akan menjaganya, hanya untuk kita.” Sungje menempelkan telinganya ke perut Yoochan. “Dia bilang dia tidak akan menyakiti umma.”
Yoochan menjitak pelan kepala Sungje. “Ada-ada saja!”
Kebahagiaan ini berada di puncak. Sungje mempunyai anak dari istrinya, dan Yoochan bahagia karena Sungje bahagia. Ia berjanji akan menjaga anak itu sebaik-baiknya.

***

# 3 bulan kemudian

“Channie-ah, aku pergi dulu ya!” teriak Sungje dari dalam kamar.
“Tidak makan dulu?” tanya Yoochan sambil menunjuk telur dadar yang baru ia buat.
“Bungkuskan untukku ya? Hehehe…”
Yoochan mendengus geli. “Bos besar makan bekal telur dadar.”
Sungje tertawa. “Kan yang penting bekal dari istriku. Bukan dari orang lain.”
Yoochan memberikan kotak bekal berisi telur dadar itu pada Sungje. “Seperti anak TK!”
“Biarin! Lebih romantis karena ini dari istri sendiri.” Sungje mengecup bibir merah Yoochan berkali-kali. “Kenapa bibirmu semanis ini? Aku jadi tidak tega meninggalkanmu.”
Yoochan tertawa kecil. “Tenang saja. Ini hanya untukmu.”
Sungje mengelus perut Yoochan yang makin lama makin membesar. “Sayang, appa berangkat ya. Awas kalau buat umma sakit!”
“Sudah sana berangkat!”
“Iya. Jaga dirimu ya yeobo-chan..”
“Joshimae!!”

***

Sungje terus menyunggingkan senyum sesampainya di kantor. Semenjak menerima kenyataan kalau Yoochan hamil semua karyawan kantor tidak pernah absen membalas senyum sang manager. Suasana kekeluargaan makin terjalin.
“Direktur, ada tamu di dalam.” Sekretarisnya mengatakan dengan nada bergetar.
“Oh. Oke.” Sungje segera masuk ke dalam ruangannya untuk menyambut tamu paginya. Mungkin tamunya ini ingin membahas rencana Sungje untuk menambah cabang di negara lain.
“Sungje oppa!!” teriaknya riang. “Apa kabar?”
Sungje mencoba tersenyum. “Baik. Kau.. sedang apa?”
“Aku hanya ingin mengunjungi kantormu. Ternyata bagus juga.”
Sungje mengangguk menyetujui. Kantorku memang bagus! “Ada perlu apa kesini?”
“Jangan terlalu serius, oppa!” Yoorin mengambil sesuatu dari kantongnya. “Ini ada tiket ke taman bermain. Main yuk oppa?”
Sungje tersenyum mengejek. “Mianhae. Aku sedang sibuk hari ini. Aku tidak punya waktu untuk itu.”
“Kalau untuk istrimu pasti bisa!” kata Yoorin sengit.
Sungje mengambil beberapa berkas di laci mejanya. “Apapun akan kulakukan untuknya.”
“Ini apa?” Yoorin menyentuh kotak bekal yang diberikan Yoochan.
“Jangan sentuh!!” Sungje langsung mengambil kotak bekal itu dan menyimpannya di bawah meja. “Kau sentuh, kubunuh kau!”
Yoorin tersentak kaget melihat raut wajah Sungje yang sepertinya siap menerkamnya kapan saja.
“Ini dari istriku. Aku tidak mau ada orang yang menyentuhnya tanpa seizinku!” Sungje mengambil kotak bekal itu dan membawanya keluar. Menitipkannya pada salah satu karyawannya.
“Maaf nona. Saya sarankan anda jangan bertemu dengan direktur Kim selama seminggu. Direktur tidak suka kalau barang-barangnya disentuh tanpa seizinnya. Apalagi dari istrinya.” Sekretarisnya yang sudah mengerti kebiasaan bosnya memberitahu Yoorin.
“Memangnya istrinya seperti apa sih? Lebih cantik dan muda aku kan?” Yoorin tersenyum sinis.
“Memang tidak lebih muda dari nona, tapi direktur sangat mencintainya.”
Yoorin mendengus kesal. Pupus sudah harapannya untuk mengajak Sungje ke taman bermain hari ini. Yoorin membuang tiket itu ke tong sampah dan pulang dengan wajah murung.

***

“Kau belum sarapan kan, oppa? Kenapa kau lembur sedangkan karyawanmu enak-enakan di rumah?” Yoorin datang keesokkan harinya sambil membawa kotak bekal dengan makanan enak di dalamnya.
Sungje tidak menghiraukan gadis itu. Ia masih sibuk dengan berkas-berkas di depannya dan memindahkannya ke komputer.
“Oppa, kau masih marah padaku? Kenapa?” tanya Yoorin sedih.
Sungje tetap diam dan tetap fokus pada pekerjaannya. Kemudian iPhone-nya bergetar. Ada SMS.

From : My Yeobo-Chan~

Presdir, sudah sarapan belum? Jangan lupa makan! Aku sudah buatkan kimchi special dan sushi kesukaanmu. Aku antar ke kantor ya?

Sungje tersenyum sendiri. Dengan semangat ia mengetikkan jawabannya.

To : My Yeobo-Chan~

Kau tahu kan aku benci dipanggil presdir?! Aku kelihatan tua sepertinya kalau dipanggil itu. Kkk
Aku belum makan! Kebetulan istriku mengingatkan.
Tidak perlu ke kantor. Aku yang akan ke rumah. Tunggu aku!! ^^

Setelah itu Sungje langsung mengambil kunci mobil di dalam jasnya dan meninggalkan Yoorin sendirian di dalam ruangan khusus Direktur.
“Cih! Memangnya istrinya secantik apa sih?” gumam Yoorin kesal. Ia melempar kotak bekal itu ke tong sampah yang ada di dalam ruangan. Lalu meninggalkan ruangan besar itu dan pulang kembali.

***

“Sudah berapa hari tidak makan, eoh?” tanya Yoochan geli setelah melihat Sungje mengambil lauk untuk ketiga kalinya.
“Lagian kau membuat ini enak sekali. Apa sih rahasianya??” Sungje tersenyum geli.
“Rahasianya? Hati!” Yoochan mencondongkan tubuhnya untuk mengelap bibir Sungje yang basah oleh kuah kimchi.
“Kau lembur?” Yoochan menuangkan air putih ke gelas Sungje yang sudah kosong. “Kenapa tidak izin aku? Aku sampai terus-terusan turun kebawah menunggumu.”
Sungje menghela nafas. Tidak menyangka akan ditunggu oleh Yoochan. Lagipula salahnya juga kenapa lupa memberitahu Yoochan kalau ia tidak pulang hari itu?
“Mianhae, istriku sayang. Aku tiba-tiba ada tamu tak diundang.” Sungje menceritakan hal yang dilakukan Yoorin kemarin dan tadi.
“Kau seperti anak kecil saja! Punya barang bagus tidak boleh dipegang.” Yoochan tertawa geli sambil terus mengelap sisa makanan yang ada di bibir Sungje.
“Tapi yang penting aku tidak pamer! Weeee!!”
Yoochan mengangguk. “Otte? Sudah kenyang?”
Sungje mengangguk. “Aku jadi ngantuk.”
“Ya sudah. Tidur saja.”
“Pekerjaanku masih banyak.” Sungje menggeleng.
“Direktur juga butuh istirahat.” Yoochan membereskan piring-piring yang sudah kosong melompong dimakan raksasa bertubuh kecil (?)
“Tapi aku tidak mau merepotkan karyawanku. Mereka sudah bekerja, masa aku enak-enakan tidur?”
Yoochan mengangguk. “Direktur yang baik!”
Sungje berdiri. Lalu memeluk tubuh Yoochan yang sedang mencuci piring dari belakang. Sungje menghembuskan nafasnya di sekitar leher Yoochan. Membuatnya bergidik geli. Sudah lama juga Sungje tidak melakukan ini!
“Aku mau tidur.” Ucap Sungje pelan.
“Tidur saja. Nanti aku telepon sekretarismu untuk menyelesaikan sebagian.” Yoochan mengelus pipi Sungje lembut setelah mencuci tangannya.
“Temani!”
Yoochan menjitak pelan kepala Sungje. Lalu menuntunnya ke kamar dan membiarkannya tidur dengan kemeja birunya yang berantakan karena tidak ganti seharian.
“Tidak mau ganti baju dulu?” tanya Yoochan sambil mengelus rambut suaminya lembut.
Sungje menggeleng. “Ngantuk.”
Yoochan mengangguk. “Tidurlah.”

***

“Kata Yoorin tadi ada direktur Kim?” tanya direktur Park pada sekretaris Sungje.
Sekretaris itu mengangguk. “Iya. Dia izin pulang sebentar tapi sampai sekarang belum kembali. Terus istrinya menelepon kalau direktur kelelahan dan mau beristirahat sebentar.”
Direktur Park mengernyitkan dahi. “Istri?”
“Iya.”
“Istri?” Direktur Park tidak bisa mempercayai pendengarannya. “Dia punya istri?”
Sekretarisnya mengangguk. Sudah banyak yang tidak percaya kalau direktur muda itu sudah punya istri. Padahal kelihatan dari wajahnya Sungje bukan orang yang mementingkan cinta.
“Istrinya… bukan sekretaris atau… apalah di perusahaan ini?” tanya direktur Park lagi.
Sekretaris itu menggeleng. “Dia hanya ibu rumah tangga biasa. Direktur Kim tidak mau membiarkan istrinya kelelahan karena ikut dia keliling dan bekerja begini.”
Direktur Park mengangguk. “Ckck.. boleh aku tahu alamatnya?”
Sekretaris itu tersenyum kecil. “Maaf, saya tidak boleh memberitahu tanpa persetujuannya.”

***

“Jam berapa ini?” tanya Sungje setelah bangun dari tidurnya. Yoochan ada di sebelahnya sambil membaca buku tentang ibu hamil.
“Jam 10 malam.”
“Mwo?!!” Sungje langsung duduk di atas tempat tidurnya. “Kenapa tidak membangunkanku? Pekerjaanku—“
“Bisa tidak sehari saja kau tidak membicarakan pekerjaan?” Yoochan menutup bukunya dan menatap Sungje. “Aku kesepian. Aku ingin kau ada di rumah sehariiiii saja.” Yoochan mengusap air mata yang perlahan turun.
Sungje menelan ludahnya. Lalu memeluk Yoochan dengan penuh rasa sayang. “Iya, sayang. Tapi izinkan aku hari ini lembur. Proposal ini harus diterima 2 minggu lagi. Aku mau menyelesaikannya hari ini. Besok kita bisa pergi kemana-mana. Otte?”
“Masih 2 minggu lagi. Kenapa tidak santai sehari saja?”
Sungje menggeleng sambil tersenyum lembut. “Ini sama seperti menunda PR, sayangku. Kalau PR ini harus dikumpulkan minggu depan dan kita menunda mengerjakannya, pasti tugas akan menumpuk dan kita akan lupa dengan tugas yang diberikan seminggu lalu.” Sungje menyibakkan rambut Yoochan ke belakang telinga. “Jadi, boleh kan aku mengerjakannya hari ini? Besok free deh. Otte?”
Yoochan mengangguk. “Kerjakan disini saja bisa kan?”
Sungje juga mengangguk. “Aku ambil laptop dan berkasnya. Kau tunggu sini ya. Tidurlah.”

***

Sungje menunggu Yoochan sampai ia benar-benar tertidur dulu. Baru kemudian ia kembali bekerja, menyusun proposal untuk menawari kerjasama.
Malam semakin larut, tapi Sungje tetap setia mengerjakan tugasnya. Sesekali ia melihat ke belakang, ke ranjang dimana istrinya yang selalu menjaganya itu tidur. Dan senyum manis itu pasti kembali menghias wajahnya kala melihat wajah teduhnya.
Sungje benar-benar menyayanginya.
Drrttt…. Drrrttt…. Drrttttt….
iPhone-nya bergetar. Sungje buru-buru mengambilnya dan membaca SMS-nya. Takut getaran itu membuat Yoochan terbangun.

From : (no name)

Oppa, kau sedang apa?

Sungje langsung menghapus SMS tak penting itu. Lalu melanjutkan pekerjaannya agar besok bisa bebas dan menemani istrinya di rumah.
Kemudian iPhone-nya bergetar lagi…

From : (no name)

Oppa, kau sedang sibuk ya? Atau sedang tidur?

Sungje kembali menghapus SMS itu dan melanjutkan pekerjaannya.
Tapi kemudian iPhone-nya bergetar berkali-kali. Tanda ada yang menelepon. Tidak ada namanya. Sungje menghela nafas dan menekan tombol hijau.
‘Oppa, ini aku Yoorin!’ ujar gadis di seberang.
Sungje menghela nafas. Tanpa rasa hormat ia memutuskan sambungan telepon itu dan mematikan iPhone-nya.

***

“Kau tidak tidur semalam ya?” tanya Yoochan setelah bangun dari tidurnya.
Sungje menutup laptopnya dan berbalik badan menatap Yoochan. Lalu merebahkan dirinya di sebelah Yoochan.
“Anak presdir itu menelponku! Cih!” Sungje menatap sinis ke iPhone-nya yang ada di atas meja.
“Pantas saja aku mendengar iPhone kesayanganmu itu bergetar terus.” Yoochan tertawa kecil. “Mau kubuatkan teh hangat?”
Sungje menggeleng. “Tidak usah. Nanti aku bisa buat sendiri. Kau tidak boleh kelelahan, ne?”
Yoochan mengangguk. Lalu menyandarkan kepalanya ke dada bidang suaminya. Rasa hangat langsung menjalar ke seluruh tubuh. Yoochan paling menyukai saat-saat seperti ini. Ketika ia sangat dekat dengan Sungje.
“Kau tidak cemburu ada perempuan lain yang menelponku malam-malam? Meng-SMS-ku berkali-kali malah.” Tanya Sungje.
Yoochan menggeleng. “Tidak sama sekali.”
“Berarti kau tidak mencintaiku!” Sungje mengerucutkan bibirnya.
Yoochan tertawa sambil menjewer pelan telinga Sungje. “Aku percaya padamu, kalau kau tidak akan bisa pergi dariku.”
Sungje tersenyum. “Benar juga.”

***

Yoochan menatap Sungje yang sibuk dengan iPhone-nya lagi. Lagi-lagi membicarakan pekerjaan. Sebenarnya ia bosan, tapi itulah yang memang harus diterimanya sebagai istri presiden direktur sebuah perusahaan besar.
“Mereka setuju aku tidak masuk hari ini. Ayo kita main!” Sungje berkata riang.
“Yang kutahu presdir bisa bebas, mau masuk boleh, tidak masuk pun juga boleh. Kenapa harus izin?”
Sungje tertawa kecil. “Yang membantu pekerjaanku ya karyawanku. Jadi aku meminta izin mereka untuk merepotkannya. Begitu!”
Yoochan mengangguk. “Aku mau ke pantai!”
Sungje berdiri. Lalu memasang tampang hormat seperti pelayan yang siap mengantar putri raja kemanapun.
“Izinkan hamba mengganti baju, tuan putri.” Ucap Sungje sambil menunduk hormat.
Yoochan tertawa. “Silakan.”

***

“Haishhh dasar!!” Yoorin membanting iPhone-nya kesal. “Kenapa daritadi oppa tidak menjawab telpon atau SMSku?”
Kleek..
Pintu kamar Yoorin terbuka. Seorang wanita berusia pertengahan 40-an masuk. Ya, dia ibunya.
“Ada appa, umma?” tanya Yoorin sopan.
“Kau kenapa? Harusnya umma yang tanya itu.” Ibunya mengelus rambut putri satu-satunya itu dengan lembut.
“Daritadi Sungje oppa tidak menggubrisku! Aku telepon tak diangkat. Aku SMS tak dibalas. Aku ke kantor katanya dia izin.” Jelas Yoorin sambil mengerucutkan bibir.
“Yoorin-ah, mau dengar umma?” tanya ummanya lembut. Ia masih mengelus rambut indah putrinya sambil menyibakkan poni yang menutupi matanya. “Sungje sudah punya istri, sayang. Kau bisa cari pria lain yang lebih baik.”
“Tapi Sungje oppa baik! Dia bisa sangat mencintai istrinya, kenapa tidak dengan wanita lain?”
Ibunya menggeleng. “Umma akui, Sungje memang baik. Baik sekali malah. Dia pintar, cekatan, dan berwibawa seperti appa-mu. Tapi dia sudah ada yang punya, sayang.”
“Pokoknya aku mau dengan Sungje oppa!! Aku harap umma dan appa membantuku untuk mendapatkannya!”
Ibunya menggeleng sambil menghela nafas. “Yoorin, umma sudah pernah melihatnya bersama istrinya. Dia terlihat sangat menyayanginya. Seperti tidak mau melepaskannya. Sungje sudah menemukan tautan hatinya. Ia sudah menemukan sandaran hidupnya. Ia punya—“
“Memangnya istrinya secantik apa? Sekaya apa dan sepintar apa? Kenapa lelaki seperti Sungje oppa menyukainya?”
“Umma akui. Dia tidak cantik, dan sepertinya tidak sekaya dan sepintar anak umma. Tapi dia bisa memberikan kebahagiaan untuk Sungje. Umma melihat sifat asli Sungje jika dekat dengannya. Sungje sangat nyaman berada di dekatnya.”
Yoorin menyambar kunci mobil dan langsung keluar kamar meninggalkan ibunya seorang diri. Hanya satu tempat yang ingin dikunjungi Yoorin. Tempat yang baginya sangat menenangkan. Pantai!
Yoorin membiarkan angin mengibas rambut panjangnya. Ia bersandar di sebelah mobil sedan hitamnya tanpa melakukan apapun. Dibiarkannya ponsel kesayangannya terus berteriak karena ada panggilan.
Pandangan Yoorin tiba-tiba teralih ke arah seorang lelaki bersama pasangannya yang sedang hamil. Mereka menautkan tangannya sambil tertawa riang. Nafas Yoorin naik turun ketika melihat sosok perempuan di sebelah lelaki muda yang tampan itu.
“arrrggghhhhhhh!!!!!” Yoorin memekik kecil sambil memukul bagian depan mobil sedannya. “Sialan!! Aku tidak percaya istrinya tidak lebih dari aku!!”
Yoorin memfokuskan pandangan ke arah pasangan suami istri itu. Sungje—lelaki dambaannya—terlihat benar-benar menikmati waktunya bersama sang istri. Kadang-kadang ia menyipratkan air ke wajah istrinya yang memerah kena sinar matahari pagi. Dan setelah itu mengecup bibirnya berkali-kali. Sungje terlihat sangat tenang disitu.
“Lihat saja! Aku akan merebutnya!!” Yoorin masuk ke dalam mobil. Lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.

***

TBC

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s