This Love (Epilog)

Title : This Love (Epilog)
Subtitle : Young Love
Genre : straight, romance, angst, love story
Length : oneshoot
Cast :
–    Choi Seung Mi
–    Kwon Ji Yong
A/N : dulu saya inget ada berapa orang minta sekuel atau after story ff this love ya?? Hahaha.. ada yang masih inget gak sama ff nista ini??
Ini bukan sekuel, tapi ini epilog yang ceritanya tentang masa lalu Seungmi dan Jiyong. Hehehe😀
Terima kasih bagi yang mau baca😀

***

Anak laki-laki itu berdiri di depan kelas yang ber-tag 3-A. Anak laki-laki itu menunggu seseorang. Di tangannya sudah ada sebatang cokelat yang ia beli dari hasil menabungnya.
“Jiyong-ah, kau menungguku?” tanya seorang anak perempuan berkuncir 2 sambil tersenyum riang. Wajahnya memerah kala menatap kedua mata cokelat anak laki-laki itu.
“Ini untukmu.” Jiyong memberikan cokelat batang itu pada gadis kecil didepannya, Choi Seungmi.
“Aaaa sudah lama aku tidak makan cokelat!! Gomawo, Jiyong-ah!!” Seungmi melompat girang. Tanpa sadar ia mencium pipi Jiyong yang agak tembem.
Jiyong kaget, begitu juga Seungmi. Seungmi berusaha menutupinya dengan berjalan menjauhi Jiyong. Sedangkan Jiyong hanya bisa membelalakkan matanya. Lama-lama ia tersenyum sendiri. Lalu berlari mengejar Seungmi.

***

“Kau suka?” tanya Jiyong sambil menatap Seungmi disebelahnya yang sedang asyik makan cokelat pemberiannya di samping sungai han.
Seungmi mengangguk. “Enak sekali! Pasti harganya mahal!”
Jiyong menggeleng. “Tidak kok.”
“Kau kan orang kaya. Pasti ini tidak mahal di matamu.”
Jiyong tersenyum. “Itu kubeli dengan uangku sendiri lho..”
“Mwo?! Kau tidak dimarahi? Nanti aku ganti ya?”
Jiyong menggeleng. “Tidak usah. Aku sudah izin ibuku untuk membelikanmu cokelat itu. Ibu juga menambahkan sedikit jadi aku hanya mengambil sedikit tabunganku.”
Seungmi tersenyum. “Gomawo, Jiyong-ah.”
“Cheonmaneyo.” Jiyong tersenyum lebar. Ia berbalik badan. Melihat sungai han dari dekat.
“Seungmi-ah, mau minum?” Jiyong mengambil botol minum yang isinya masih penuh. “Aku belum meminumnya.”
Seungmi menggeleng. “Tidak usah.”
Jiyong menghela nafas lesu. Lalu kembali memasukkan botol minum itu ke dalam tasnya.
“Jiyong-ah, mau? Cokelat ini enak lho! Ada kacang mede-nya!” Seungmi memberikan sepotong cokelat itu pada Jiyong.
Jiyong menerimanya. Lalu memakannya langsung. Jiyong tidak percaya kalau cokelat ini benar-benar enak rasanya. Ia tidak menyadari kalau ada noda cokelat yang menempel di ujung bibirnya. Seungmi tersenyum kecil. Lalu membersihkan sisa cokelat yang ada di ujung bibir Jiyong.
“Eung?” Jiyong menggigit bibirnya. Lalu menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Seungmi tertawa. Matanya menyipit. Lesung pipinya muncul sebagai pemanis dari wajah Seungmi yang sudah manis.
“Wajahmu lucu sekali! Aku ingin mencubitnya! Hihihi..” Seungmi terkikik geli.
“Aku kan memang lucu! Baru sadar?” Jiyong menggembungkan pipinya. Seungmi kembali tertawa.
Jiyong sangat menyukai saat ini. Saat dimana Seungmi tertawa lepas bersamanya. Saat dimana Seungmi begitu menikmati waktu bersamanya. Waktu dimana Seungmi duduk manis di samping sungai han dan menikmati angin yang berhembus pelan.
“Jiyong-ah, kita pulang yuk! Sudah siang, aku takut umma marah.” Ujar Seungmi.
Jiyong membalikkan badan. Lalu mengangguk dan ikut berjalan bersama Seungmi. Rumah mereka berdekatan. Jadi mereka selalu pulang bersama.
“Lain kali aku mau memberikanmu sesuatu.” Ujar Seungmi di tengah jalan.
“Eh?” Jiyong kaget. “A-aniya! Tidak perlu. Aku yang akan memberikanmu sesuatu.”
“Sekali-kali aku boleh kan? Aku ingin memberikan sesuatu untukmu. Entah kapan. Tapi aku pasti akan memberimu.”
Jiyong mengangguk. “Oke. Kutunggu ya!”

****

“Seungmi sudah keluar kok.” Kata Kim Ki Ran, teman sekelas Seungmi.
“Kenapa tidak menungguku?” sungut Jiyong kesal. “Ya sudah. Terima kasih.”
Jiyong buru-buru berlari ke sungai han. Tempatnya dan Seungmi biasa menghilangkan stres. Jiyong mendengus kesal karena tidak menemukan sosok yang dicarinya.
“Jiyong-ah!!”
Jiyong langsung menoleh ke asal suara. Perempuan berkuncir dua dengan wajah yang memerah karena sinar matahari itu berlari kecil ke arah Jiyong. Jiyong tersenyum senang melihatnya.
“Kukira kau pulang duluan.” Sungut Jiyong kesal.
“Mianhae. Aku membeli ini.” Seungmi memberikan sebuah topi sederhana berwarna putih, dengan gambar seorang perempuan dan seorang laki-laki bergandengan tangan. Sepertinya itu lukisan Seungmi sendiri.
“Aku yang membuatnya. Aku juga mengambil tabunganku untuk membeli topi polos dan cat airnya. Otte? Bagus tidak? Pasti tidak ya?”
Jiyong tersenyum. “Gomawo. Ini hadiah terindah yang kupunya.” Jiyong lalu memakai topinya dan membuka tasnya. Lalu memberikan sebuah benda yang tidak asing di mata perempuan.
“Diary?!! Aaaaa aku ingin punya!!!” Seungmi berteriak senang.
Jiyong memberikannya pada Seungmi. “Ini untukmu. Kalau kau sedih dan tidak ada aku, kau bisa menuliskan semuanya disitu.”
“Tapi… aku masih boleh kan bercerita denganmu?” tanya Seungmi sedih.
Jiyong tertawa. “Tentu saja! Aku akan selalu ada. Dan kalau kau marah denganku, kau bisa tuliskan semuanya di diary itu. Otte? Seru kan?”
Seungmi tersenyum. “Gomawo, Jiyong-ah.”
Jiyong mengangguk sambil berjalan pulang. “Seungmi, maukah kau menjadi istriku nantinya? Kita menikah!”
Seungmi terkesiap kaget. Menjadi istrinya? Menikah? Hal yang tidak pernah terpikirkan oleh anak umur 9 tahun itu diucapkan Jiyong.
“Suatu saat aku akan menikahimu. Aku sangat mencintaimu. Mau kan?” Jiyong menggandeng tangan Seungmi.
Seungmi tidak bisa berkata apa-apa. Dalam hati ia sangat senang mendengarnya. Ia pun menyukai Jiyong. Jiyong yang selalu ada untuknya, Jiyong yang tidak pernah berhenti memperhatikannya, Jiyong yang selalu membahagiakannya.
“Aku mau.” Seungmi mengangguk. “Aku mau!”
Jiyong langsung melepaskan pegangan tangannya. Seungmi bingung. Tapi ia tetap berdiri diam dan melihat apa saja yang dilakukan Jiyong di dekat bunga matahari.
“Haeparagi,” Jiyong menyelipkan bunga itu di telinga Seungmi. “Aku ingin kau terus bersinar seperti matahari, dan terus menjadi yang terindah sampai nanti.” Jiyong juga menyelipkan sebuah batang tanaman yang sudah dibentuknya menjadi seperti cincin. “Aku sudah melamarmu. Jadi kau tidak akan bisa pergi kemana-mana!!”

*****

END

Otte???
Epilognya kependekan yaa?? Hahaha terserah gue napa!! #nyolot #digampar
Ada yang mau protes? Dipersilakan ^^
Terima kasih bagi yang baca ff ini dari awal !! ^^

2 thoughts on “This Love (Epilog)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s