Time To Love (Part 7)

Title : “Time To Love” *ga tau dah ni nyambung apa kagak ==”
Genre : comedy (?), romance (?), family, shonen-ai, yaoi, mpreg
Length : ga banyak-banyak (?)
Rate : PG 15 (?)
Cast :
–    park geonil *Cho Shin Sung*
–    kim sungje *Cho Shin Sung*
–    other Cho Shin Sung members~
Summary : kim sungje, namja cantik yang kaya dan terhormat meminta tolong kepada park geonil, si kutu buku yang menyukainya untuk mengakui anak di dalam kandungannya itu sebagai anaknya, dengan jaminan sungje akan belajar mencintai geonil dan menerimanya apa adanya. Maukah geonil melakukannya setelah sungje menolak cintanya mentah-mentah?
Disclaimer : all cast in this ff is belong to me *digaplak* and the story also mine. Jadi kalo ternyata ada ff yang mirip ama ff ini, itu bukan kesengajaan ^^
A/N : PART 7 !!!!
Ini ff terpanjang kedua setelah dangerous friendship bagi saya. Dan ini merupakan tantangan karna saya harus bisa menyelesaikannya biar tenang😄
Ada yang masih kuat baca? Saya sarankan untuk mengenal couple ini dari beberapa video ‘kemesraan’ mereka. Kkk~😄 *kalo ada waktu saya cariin deh😄
Disini mulai sedikit angst seperti kebanyakan drama korea. Kkk #kebanyakannontondrama
Okay, let’s read~ sorry if I have some problem of typo😀

***

<< previous

Klek..
Geonil baru pulang ke rumah pukul 12 malam. Pekerjaannya sangat banyak. Ia pulang dengan keadaan letih.
“Hiks.. hiks.. hiks.. sa-kit…”
Terdengar isak tangis dari kamar Sungje. Geonil segera melempar tasnya dan berlari ke kamar Sungje. Tidak ia hiraukan letih hari ini mendengar rintihan itu.
Benar. Itu Sungje. Sungje duduk meringkuk di pojok kamar sambil memegangi perutnya. Air mata mengucur deras dari pelupuk matanya. Geonil langsung memeluknya erat.
“Ah.. Geonil-ah.. sakiiiiit… hiks..”
Geonil mengelus rambut Sungje. Ia tidak mau melihat pujaan hatinya itu menangis, menitikkan air matanya.
Geonil lalu melepaskan pelukannya. Menghapus air mata yang masih membasahi pipi lembut Sungje. “Yang mana yang sakit?”
Sungje baru kali ini melihat Geonil sedekat ini. Melihat Geonil dengan perhatian berlari dan memeluknya erat. Melihat Geonil mencoba untuk tersenyum untuknya. Melihat Geonil menangis untuknya.
“Yang mana yang sakit?” tanya Geonil lagi dengan suara serak.
Sungje memegangi perutnya. Geonil mengerti. Ia tersenyum dan mengelus perut Sungje yang mulai membesar.
“Sayang, jangan sakiti umma ya. Umma kan butuh istirahat. Kamu juga istirahat ya.” Ucap Geonil pada kandungan Sungje.
Sungje tersenyum melihat Geonil berbicara dengan perut buncitnya.
“Kalau kamu nakal, appa pukul loh! Jangan buat umma menangis ya, sayang.” Geonil mengelus perut Sungje lagi. “Otte? Sudah baikan?”
Sungje mengangguk. “Ne..”
“Mau kutemani tidur?” tawar Geonil sambil tersenyum jahil.
Sungje mendengus kesal. “Dasar! Mencari kesempatan terus!” ia menjitak kepala Geonil.
“Hehehe.. Kajja. Kau pasti lelah.” Geonil memapah Sungje ke kasurnya. Lalu menunggunya sampai ia tertidur pulas. Sungje menggenggam tangan Geonil. Makin lama genggamannya makin renggang. Dan Sungje sudah kembali tenang.
“Sungje-ah, kalau tidak sekarang, boleh kan nanti?” gumam Geonil. Ia lalu berdiri dan mengecup kening Sungje lembut. Entah berapa banyak cinta yang sudah Geonil berikan pada lelaki cantik itu. Dan entah berapa banyak yang dirasakan Sungje dari cintanya.

>> part 7 <<

Sungje terbangun keesokkan paginya. Matanya terasa sakit dan bengkak. Tentu saja ia ingat kalau kemarin ia menangis karena perutnya terasa sakit. Untungnya Geonil datang dan bisa menenangkannya.
Sungje pun tersenyum sendiri…
“Aish!! Pagi-pagi sudah mengingatnya! Ckck.. pabo!” gumam Sungje sambil menjitak kepalanya sendiri. “Ah!! Semoga saja sudah sadar.”
Sungje lalu mencoba bangun dari tempat tidurnya. Ia mengacak rambutnya yang sudah berantakan duluan. Setelah membuka pintu kembali wangi masakan menyeruak masuk ke penciumannya. Geonil lagi yang memasak. Padahal waktu itu Sungje sudah berjanji dalam hatinya untuk membuatkan masakan untuk Geonil.
“Kenapa hari ini aku ingat tentang Geonil terus sih?!!” pikir Sungje dalam hati. Ia lalu berjalan ke dapur dan melihat suami penggantinya itu sedang memasak sambil tersenyum sendiri.
“Kenapa kau tersenyum sendiri? Seperti orang gila!” ucap Sungje tiba-tiba.
Geonil terlonjak kaget. Tapi kemudian ia bisa menguasai dirinya. Sungje membalas dendam karena Geonil kageti beberapa hari lalu.
“Ah.. Aku kan hanya ingin masakan ini tercium lezat dan terasa nikmat.” Jawab Geonil.
Sungje menggaruk kepalanya. “Maksudnya apa?”
Geonil menghela nafas. Lalu mematikan kompor dan berbalik badan menghadap Sungje. “Aku pernah bertanya pada ibuku kenapa dia bisa memasak dengan enak sekali. Dan ibu bilang memasaklah dari hati. Masakan yang sudah lezat akan terasa lebih lezat. Dan kalaupun tidak terlalu lezat orang-orang akan tetap senang karena itu dimasak dengan hati.” Jelas Geonil. “Kau sudah merasakannya kan? Aku tadi tersenyum dari hati lho!”
Sungje mulai mengerti. Ia mengangguk-anggukkan kepala. Sekarang Sungje benar-benar percaya Geonil memang mencintainya.
“Sekarang aku baru sadar. Kalau aku memaksamu mencintaiku itu sama saja memaksakan hati tersenyum. Menyakitkan! Jadi, terserah kau mau mencintai siapa. Tapi, izinkan aku tetap mencintaimu.” Geonil berbalik badan. Mengambil sup ikan tuna di atas kompor itu dan menaruhnya di meja. Sungje lalu duduk di salah satu kursi.
“Menurutmu kalau aku mencintai dua orang sekaligus, apakah itu adil? Maksudku.. apakah rasanya sama? Mereka semua merasakan cinta yang sama?” tanya Sungje. Sebenarnya ia bingung sendiri dengan pertanyaannya.
“Aku tidak tahu.” Geonil tersenyum kecil. “Tapi menurutku itu tidak bisa adil. Sama seperti kau mempunyai sebuah biskuit dan membaginya dua. Pasti ada yang kecil dan ada yang besar.” Geonil menelan ludah sedikit. “Jadi, pasti ada yang menerima cinta ‘lebih’ dari yang kau berikan.”
Sungje mengangguk. Tapi juga bimbang. Ia bertanya seperti itu bukan tanpa alasan. Sungje merasa ia sudah menyukai sedikit bagian dari Geonil. Tapi, sepertinya perasaannya masih tetap sama. Ia masih menunggu Jihyuk. Ia masih memegang janji untuk terus bersama Jihyuk. Geonil hanya menjadi pengganti Jihyuk sementara untuk mengakui anak di dalam kandungannya. Ya, seperti itulah.
“Kenapa kau bertanya begitu? Apakah kau sudah menyukaiku?” tanya Geonil yang sukses membuat wajah Sungje memerah.
“Atau kau mempunyai orang yang kau suka lagi selain Jihyuk dan aku?”
Sungje menggeleng lemah. “Entahlah.”
Geonil mengangguk. Ia lalu mengambil sedikit sup dan menaruhnya di mangkuk kecil. Sungje mengikutinya dan memakan makanan itu tanpa merasakan rasanya. Hatinya berkecamuk menentukan perasaannya pada lelaki didepannya ini.

***

“Aku berangkat dulu!” pamit Geonil malam harinya.
Sungje mengangguk lemah. “Kau lama tidak?”
Geonil melirik jamnya. Lalu menggeleng. “Semoga saja tidak. Aku berangkat ya!” Geonil baru akan berjalan ke pintu.
“Geonil-ah,” panggil Sungje. Suaranya bergetar. Detak jantungnya tak beraturan. “hati-hati!” sepertinya aku menyukaimu…
Geonil tersenyum senang. Ia melambaikan tangannya pada Sungje dan membuka pintu. Lalu menutupnya lagi dengan lembut dan mulai melangkah menjauh dari rumahnya.
Sungje masih berdiri di dekat sofa ruang tamu. Tubuhnya bergetar. Lalu kakinya tidak kuat menopang berat tubuhnya. Sungje terduduk di sofa putih itu. Ia terus mengelap air mata yang terus keluar dari pelupuk matanya.
“Geonil-ah…” gumam Sungje pelan. “Nan joahaeyo.. Joahaeyo.. hiks..” Sungje menghapus air matanya. Ia tidak tahu kenapa dadanya terasa sakit sekali. Lebih sakit daripada ditinggal Jihyuk waktu itu.
“Sebenarnya aku tidak tahu bagaimana perasaanku padamu. Tapi kenapa kau selalu memberi perhatian padaku? Kau kenapa? Hiks.. Geonil-ah, sebenarnya bagaimana perasaanku? Apa kau tahu? Apa kau mendapat bagian besar dari biskuit itu? Hiks.. Geonil-ah..”

*****

@ 11.30 PM

Geonil baru sampai di rumah. Ia membawa sebuket bunga mawar segar dan sebatang cokelat yang dibelinya di dekat kantornya. Wajahnya berseri-seri membayangkan Sungje akan menerima bunganya dan memakan cokelatnya dengan lahap. Semoga saja.
Klek..
Geonil menghela nafas panjang melihat Sungje tertidur di sofa ruang tamu tanpa bantal dan selimut. Geonil menaruh barang-barangnya di kamar terlebih dahulu. Lalu menatap Sungje yang tertidur pulas di atas sofa.
Geonil menyibakkan rambut Sungje yang mulai panjang yang menutupi mata indahnya yang sedang tertutup. Ia tersenyum sendiri. Tangannya mengelus pipi Sungje lembut. Setelah itu ia mengangkat Sungje ke kamarnya. Pelan-pelan agar sang pujaan hati tidak terbangun.
“Ah…” Geonil melupakan sesuatu. Ia berlari ke kamarnya setelah menidurkan Sungje di kasurnya. Ia mengambil sebuket bunga dan sebatang coklat itu. Lalu menaruhnya di meja kecil disebelah kasur. Di tengah-tengah buket bunga dan coklat itu ada secarik kertas. Geonil berharap Sungje akan membacanya besok pagi.
“Good night, my love..” gumam Geonil. Lalu kembali ke kamarnya.

****

“Ah… mataku sakit!!!” Sungje mengucek matanya setelah bangun tidur. Kemudian ia mulai merasa tidak asing dengan tempat ini.
Sungje mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kamar. Menebak siapa yang membawanya kesini. Kemudian ia baru sadar, pasti Geonil!
Sebuket bunga mawar dan sebatang cokelat kesukaaannya menarik perhatian Sungje. Ia mengambil secarik kertas di tengah dua hadiah itu.

Bunga dan cokelat untuk pujaan hatiku tercinta!! ^_^
Hope you like it dear  saranghae !! ^^

Hanya itu yang tertulis di kertas itu. Tapi mampu membuat Sungje memulai hari dengan senyuman. Jam menunjukkan pukul 6.54. Sungje segera bangun dan membuka pintunya.
Belum ada wangi masakan yang lezat. Pintu kamar Geonil masih tertutup rapat. Pasti Geonil belum bangun!
Sungje buru-buru melangkah ke dapur. Memeriksa persediaan bahan makanan di kulkas. Tapi tetap saja ia hanya bisa memasak telur dadar.
“Asalkan dari hati, pasti Geonil suka!” batin Sungje.
Sungje mulai mengocok telur itu. Setelah api panas ia memasukkan adonan telur itu ke dalam wajan dan membolak baliknya. Setelah selesai ia menaruhnya di atas piring putih yang sudah ada nasi di tengahnya. Telur dan nasi itu diatur sedemikian rupa sehingga membentuk bentuk yang lucu. Nasi yang sudah dicetak dari mangkuk adalah wajah. Dari saus sambal ia membentuk alis, mata, hidung dan juga bibir yang sedang tersenyum. Sedangkan telur dadarnya adalah rambut.
Sungje tersenyum sendiri melihat lauk bikinannya itu menjadi sangat lucu. Ia sudah membayangkan Geonil akan ikut tersenyum melihatnya.
“Ah!! Kertas!!” Sungje mencari kertas dan menulis pesan.

Untuk orang yang baru ku suka..
Hope you like it dear 
Aku menyukai bunga dan cokelatnya. Gomapta ^_^

Setelah itu Sungje kembali ke kamarnya. Dan menunggu Geonil membuka pintu dan menuju ke dapur.

***

“Hoammmmm!!!! Jam berapa ini?!!” Geonil mengerjapkan matanya yang masih sedikit sakit karena kurang tidur.

7.35

“Aku terlambat!!!!!!” Geonil mengacak rambutnya yang memang sudah berantakan. Ia lalu berlari menuju dapur. Betapa terkejutnya ia melihat sudah ada lauk terhidang disana. Geonil membaca pesan yang ditulis sang pembuat,

Untuk orang yang baru ku suka..
Hope you like it dear 
Aku menyukai bunga dan cokelatnya. Gomapta ^_^

Geonil tersenyum sendiri. Jantungnya berdetak tak karuan. Seperti memintanya untuk mengeluarkan jantung itu dari tempatnya. Geonil berlutut di meja makan.
“Terima kasih ya Tuhan..” gumam Geonil. “Terima kasih.”

Di sisi lain, Sungje berdiri menyaksikan kejadian itu. Ia berkali-kali menyeka air mata bahagianya yang selalu turun.

DUGG!!
Saking senangnya bersyukur Geonil sampai lupa kalau ia berlutut di bawah meja makan. Kepalanya terbentur meja makan. Sungje terkikik kecil.
“Hehehe..” Geonil tertawa bodoh sambil mengelus kepalanya yang sakit. “Terima kasih.”
“Harusnya aku yang berterima kasih!” kata Sungje sambil tersenyum malu.
Geonil mendekati Sungje. Berhadapan dengan orang yang baru menyatakan cintanya ternyata sangat mendebarkan. Geonil sampai lupa bagaimana cara bernafas dan menggerakkan tubuhnya.
“Boleh.. aku memelukmu?” tanya Geonil hati-hati.
Sungje mengangguk. Geonil langsung memeluknya erat. Seperti tidak mau melepasnya lagi. Tapi Sungje sudah meronta-ronta karena eratnya pelukan Geonil dan juga perutnya yang belum diisi.
“Kukira kau sudah makan!” Geonil masih menyunggingkan senyumnya. “Ya sudah itu untukmu saja.”
“Aku sudah memasaknya untukmu!! Itu benar-benar dari hati. Masa aku sendiri yang memakannya?”
Geonil tersenyum. “Jinjjayo? Ah!! Kalau begitu aku ingin merasakannya!!”
Geonil langsung berlari dan duduk untuk mencicipi masakan Sungje. Ia begitu menikmati di setiap suap makanannya. Kali ini Geonil benar-benar percaya pada ucapan ibunya, apapun yang dibuat dari hati akan terasa jauh lebih nikmat.

****

# sebulan kemudian…

“Dimana appamu? Katanya mau pulang cepat!” Sungje mengelus perutnya yang terasa lapar karena menunggu Geonil pulang.
“Aku kan sudah buatkan nasi goreng spesial! Baru sekali ini aku membuatkan orang makanan sampai dapur berantakan begitu.” Kata Sungje lagi.
Klek..
“Sudah menunggu lama ya? Tadi ada yang mengikutiku. Makanya aku mencari jalan yang membingungkannya.” Geonil melepas sepatunya.
“Mau kuambilkan minum?” tawar Sungje.
Geonil mengangguk. “Dengan senang hati, istriku!”
Sungje tersenyum malu. Ia mengambil segelas air dingin dan mengambilkan nasi gorengnya sekalian.
“Nasi goreng!! Aaah sudah lama aku tidak memakannya!!” mata Geonil berbinar-binar melihat nasi goreng itu terpampang didepannya.
“Makan berdua ya?” Sungje menampilkan puppy eyes-nya.
Geonil mendengus geli. “Umma manja!” ucap Geonil pada perut Sungje yang membesar lagi.
“Tapi bukannya kau suka? Eum?” goda Sungje.
Geonil mengangguk. Ia lalu meneguk air dinginnya sampai tinggal setengah dan menyendokkan nasi goreng itu untuk Sungje. Kemudian untuknya.
“Enak sekali. Apa ini buatanmu?” tanya Geonil sambil terus memasukkan bersendok-sendok nasi goreng ke mulutnya.
“Tentu saja! Aku kan memasak dari hati!” jawab Sungje bangga.
Geonil menyendokkan nasi goreng ke mulut Sungje. “Lain kali aku mau membawa bekal ke kantor! Aku bosan memakan makanan katering yang tidak seenak masakan istriku!”
Wajah Sungje mulai memerah.
“Godaanku masih berlaku ternyata.” Goda Geonil sambil menyendokkan nasi goreng terakhir ke mulut Sungje.
“Makanya jangan menggodaku!”
Geonil menghela nafas. “Sepertinya bulan ini kita belum periksa ya? Periksa ya besok?”
Sungje mengangguk. “Terserah.”
“Kandunganmu baik-baik saja kan? Kau rutin minum susu kan?”
Sungje mengangguk. Sebenarnya bosan juga ia mendengar Geonil bertanya seperti itu terus.
“Kalau kenapa-napa jangan sungkan panggil aku. Kalaupun aku sedang di kantor aku tetap akan pulang untukmu. Dan walaupun ada hujan badai aku tetap akan ada untukmu.”
Sungje diam. Ia mempertimbangkan ucapan Geonil. Dulu Jihyuk juga pernah mengatakan itu. Tapi kenyataannya…
Tunggu.. Jihyuk!! Ya, Sungje melupakan orang yang pernah dicintainya itu selama sebulan. Perasaannya kembali goyah.
“Kenapa melamun?” tanya Geonil yang ternyata baru kembali dari dapur untuk menaruh piring kotor dan mengambil minum.
“Ah? A-aniya. Aku hanya mengantuk.” Sungje berusaha menutupinya.
Geonil mengangguk-angguk. “Mau kutemani tidur?”
Sungje berdiri. Lalu menjitak kepala Geonil keras. Setelah itu berlari kecil ke kamarnya. Geonil tertawa kecil.

****

“Istriku…” bisik Geonil tepat di telinga Sungje.
Sungje masih tetap asyik dengan dunianya di dreamland. Tempat dimana mimpi terjadi. Geonil kembali membangunkan Sungje dengan cara romantis.
“Sungje-ah.. bangun sayang. Sudah pagi tuh..”
Sungje mengeliatkan tubuhnya perlahan. Lalu membuka matanya yang sebenarnya masih ingin terpejam lagi. Roh-nya sebenarnya juga masih mau di dunia mimpi. Tapi apadaya, sudah pagi. Sungje harus menuruti perintah Geonil untuk bangun.
Grepp..
Sungje langsung memeluk tubuh Geonil yang sedikit merebah di kasurnya. Sungje menyandarkan kepalanya ke dada Geonil. Terdengar gemuruh suara detak jantung Geonil yang tidak beraturan. Tapi Sungje merasa sangat hangat. Ia mengeratkan pelukannya.
“Geonil-ah..” panggil Sungje dengan suara serak. “Kau pernah dipeluk orang?”
Geonil tersenyum. Lalu mengangguk sambil mengelus rambut Sungje lembut. “Pernah.”
“Siapa saja?”
Geonil mencoba mengingat-ingat, “Ayahku, ibuku, kakakku, nenekku—“
“Selain keluargamu!”
Geonil kembali berpura-pura berfikir. “Errr…”
“Apa itu aku?” tanya Sungje sambil menatap Geonil dengan mata sipitnya.
Geonil mengangguk. “Harus kuakui memang kau.”
Sungje tersenyum bahagia. Ia mengeratkan pelukannya di tubuh Geonil lagi. Tubuh Geonil sangat hangat. Sungje merasa beruntung pernah memeluk tubuh sehangat ini.
“Geonil-ah,”
“Ne?”
“Boleh tidak aku bilang kalau aku mencintaimu?”
DEG
Geonil speechless. Baru kali ini Sungje memberikan kejutan yang benar-benar membuatnya hampir mati.
“Aku mencintaimu, Geonil-ah!” ucap Sungje tulus.
Geonil tersenyum kecil. Ia mengelus punggung Sungje. Dalam hatinya masih tidak percaya. Masih ada Jihyuk. Pasti masih ada Jihyuk di pikiran Sungje.
Tapi untuk hari ini, Geonil ingin ucapan ini memang benar. Geonil ingin mendengar ucapan ini dari bibirnya.

***

“Kalian terlihat lebih mesra dari bulan kemarin.” Kata dokter yang memeriksa kandungan Sungje.
Sungje dan Geonil sama-sama tersenyum malu.
“Kandungan istri anda pun makin sehat. Padahal biasanya istri selalu mengeluh sakit kalau memeriksakan diri disini.” Lanjut dokter lagi.
Geonil menganggukkan kepalanya. “Aku selalu menyuruh anakku untuk tidak menyakiti ibunya. Dan dia menurut.”
Dokter itu mengangguk. “Kalau boleh jujur aku iri dengan kalian. Kalian begitu mesra.”
Wajah Sungje memerah.
“Bulan depan kalian bisa lihat jenis kelaminnya. Kalian ingin anak apa?” tanya dokter itu lagi.
“laki-laki!” teriak Geonil semangat.
Sungje memukul pelan lengan Geonil. “Perempuan!!”
“Laki-laki saja! Pasti mirip aku!” kata Geonil.
DEG! Tapi ini bukan anak Geonil..
“Perempuan saja! Aku tidak mau anak laki-lakiku cerewet sepertimu!” Sungje mencoba membela diri.
“Sudah laki-laki saja. Kan kalau kau merindukanku tinggal melihat Ho Young. Dia mirip aku!”
“Ho Young? Bahkan kau sudah menamakannya tanpa seizinku!”
Geonil tersenyum jahil. “Apa kau mau menamakannya Hwa Young kalau perempuan?”
Dokter itu tersenyum kecil melihat kemesraan dua sejoli ini. Ia lalu memberikan vitamin untuk Sungje.
“Ini. Minumlah sehari sekali untuk menjaga tubuhmu agar vit, dan bisa melahirkan dengan selamat.”
“Gomapseumnida, euisa!” Geonil menunduk hormat. Lalu pamit dari hadapan dokter Cha.

***

“Aniya!!”
“Geonil-ah!”
“Aku tidak mau anakku dewasa sebelum waktunya!”
“Memangnya apa hubungannya? Yang membaca kan aku!”
“Tidak!! Aku tidak akan mencarikanmu majalah dewasa!”
“Geonil-ah…” Sungje mengeluarkan jurus mautnya. Senyuman manisnya.
Geonil menghela nafas. Berusaha membuat Sungje merubah ‘menu’ ngidamnya hari ini. Kemarin-kemarin tidak aneh-aneh. Paling hanya minta dipeluk, ditemani tidur, dicium, makan sepiring berdua, makan rujak cingur (?) dan sate.
“Geonil-ah, ini kan bukan inginku. Ini inginnya anakku!”
Geonil berlutut. Menyejajarkan tingginya dengan perut Sungje. “Baby, kau punya permintaan lain? Jangan majalah dewasa. Appa tidak mau kau dewasa sebelum waktunya.”
Sungje menggelengkan kepala. Lalu menjitak pelan kepala Geonil. “Carikan aku majalah dewasa SEKARANG!!”
“Yang lain deh? Sungje-ah?? Yang lain ya??”
“Aniya! Aku mau majalah dewasa! Kalau tidak… ya.. aku tidak mau tanggung kalau anak kita ileran!”
“Itu kan anakmu. Ya sudah aku diam saja.”
“Ah!! Geonil-ah!!!”
Geonil menyerah. Ia terpaksa mencarikan majalah dewasa pesanan Sungje. Geonil keluar sebentar untuk berfikir kemana ia bisa mendapatkan majalah yang diinginkan istrinya.
Sebenarnya Geonil adalah model majalah dewasa. Tapi untungnya ia tidak harus selalu berfoto telanjang. Hanya berfoto dengan model saja dan sesekali menunjukkan otot perutnya. Tapi.. ia tidak mau Sungje tahu pekerjaannya ini!
“Ah!! Aku lupa kalau aku punya teman yang otaknya ‘rada-rada’!!” Geonil mengambil ponselnya. Lalu menelepon seseorang.

()()()()()()()()()()()()()()()()()()()()()()()()()()()()()()()()()()()()()()()()()()()()()()()()

Dentum musik disko yang memekakan telinga membuat seorang pemuda yang sedang berdansa erotis dengan seorang gadis bule itu menghiraukan getaran dari ponselnya.
Drrrtttt….drrrtttt…drrrttt…
Baru setelah beberapa kali handphone itu bergetar pemuda itu mengeluarkan ponselnya. Ia melihat nomor yang dikenalnya meneleponnya. Pemuda itu minta izin keluar sebentar pada gadis sexy di depannya.
‘Sungmo-ah!!’ sapa orang di seberang.
Pemuda bernama Sungmo itu berusaha menyesuaikan pendengarannya. “Who’s speaking?”
Orang di seberang mendesah berat. ‘Ini aku Geonil!’
Sungmo tidak bisa mendengar suaranya dengan jelas. “Who’s there?”
‘Ini aku Geonil!! Kau masih ingat aku??’ tanyanya dengan suara agak keras.
Sungmo baru menyadarinya. “Oh Geonil. Kukira siapa! Ada apa?”
‘Kau pengkoleksi majalah dewasa dari manapun kan?’
Sungmo mengangguk. “Iya. Kenapa?”
‘Oh aku beruntung sekali punya teman sepertimu Sungmo-ah!! Bantu aku ya??’
Sungmo mendesah berat. “Bantu apa? Jangan aneh-aneh!”
‘Boleh aku pinjam sedikit majalahmu? Istriku ngidam aneh-aneh! Sekarang ingin membaca majalah dewasa!’
Sungmo tertawa keras mendengar curhatan teman kecilnya. “Kau punya istri? Whoaaaa kapan kalian menikah?! Kenapa tidak mengundangku?! Kau keterlaluan melupakan teman kecilmu!!”
‘Ya maaf. Lagian aku tidak tahu dimana kau tinggal.’
Mereka berdua malah terlibat pembicaraan seru..
‘Eh, bagaimana? Bisa tidak aku pinjam majalahmu?’
Sungmo langsung diam. Ia melihat keadaan sekitar. Ini Italia. Ia sedang berada di Italia. Bukan di Korea.
“Geonil-ah.. aku—“
‘Jangan bilang kau menghabiskan pulsaku karena tidak bisa meminjamkanku!’
Sungmo mendengus kesal. “Tapi kenyataannya begitu.”
‘Wae???!’
“Aku..” Sungmo melihat keadaan sekitar lagi. “Di Italia!!”

Tut.. tut.. tut.. tut..

><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><>

Geonil hampir membanting ponselnya mendengar jawaban teman kecilnya itu. Tapi ponsel itu adalah hidupnya. Kalau Sungje membutuhkannya ketika Geonil ada di luar pasti menelponnya. Kalau tidak ada handphone-nya…
“Arrrgggghhhhhhhh dasar Sungmo gila!!!!!! Kubunuh kalau sudah pulang!!! Arrgggghhhhh!!!!”
Sungje merasakan kegalauan hati Geonil. Semenjak hamil ini Sungje memang lebih egois. Ia ingin segala sesuatu ada di depannya. Ia ingin semuanya berjalan lancar tanpa memperhatikan orang lain.
“Geonil-ah,” dengan langkah berani Sungje berjalan mendekati Geonil yang sedang duduk di tangga depan rumahnya. Geonil tersenyum kecil.
“Aku tidak mendapatkannya.” Ucap Geonil lemah. “Jam segini mana ada toko buku buka?”
“Tidak usah juga tidak apa-apa.” Sungje menyandarkan kepalanya ke pundak Geonil.
“Nanti anakmu ileran. Kau tidak mau kan?”
Sungje tertawa kecil. “Tidak apa-apa.”
Geonil memeluk tubuh Sungje dari samping. Menghangatkannya di tengah malam yang dingin ini.

***

Drrtttttt… drtttttt….. drrrtttt….. drrrtttt…. Drrrtttt….
Getaran panjang ponsel Geonil itu menggetarkan meja makan. Sungje yang sedang asyik memakan mie instan super pedas yang ia inginkan dari tadi malam menatap Geonil bingung. Geonil melirik sebentar ke ponselnya. Lalu kembali memakan mie yang tersisa di mangkuknya.
“Siapa? Secret admirer-mu ya?” tanya Sungje dengan nada cemburu.
Geonil menggeleng. “Bibiku.” Jawabnya santai.
“Kenapa tidak diangkat?”
“Paling membahas masalah yang sudah lalu. Aku lagi bosan membicarakan itu!”
“Tentang keluargamu?”
Geonil mengangguk kecil. Sedikit tentang keluarga. Selebihnya?
Drrtttttt… drtttttt….. drrrtttt….. drrrtttt…. Drrrtttt….
“Angkat saja, Geonil-ah!!” ucap Sungje yang sudah tidak tahan dengan getaran yang dihasilkan ponsel Geonil.
Geonil kembali pasrah. Ia menekan tombol hijau dan menempelkannya di telinga. “Yoboseyo?”

***

Geonil melangkah gontai ke arah restaurant yang ditentukan oleh bibinya untuk berbicara. Sebenarnya ia tidak mau ke restaurant itu. Dan Geonil juga tidak mau meninggalkan Sungje sendiri. Tapi sepertinya bibinya ini ingin memberikan ‘kejutan’ untuknya. Untungnya Sungje mengizinkan walaupun dari raut wajahnya menunjukkan ia tidak yakin.
“Geonil-ah! Ooh kau tampan sekali sekarang!” kata bibi Park.
Geonil duduk di tempat yang telah disediakan. Seorang pelayan datang dan menanyakan pesanan. Geonil memesan espresso double shot. *gue jadi inget lagu CAFÉ ==”
“Ada apa?” tanya Geonil dengan nada dingin.
“Kudengar kau sudah berapa bulan tidak masuk sekolah?” bibi Park memulai pembicaraan.
“Aku keluar.” Jawab Geonil singkat.
“Waeyo?”
“Aku sekarang punya kehidupan sendiri. Aku punya istri dan aku punya rumah sendiri. 4 bulan lagi anakku lahir. Jadi, aku harap bibi tidak menggangguku lagi.”
“Punya istri? Kau sudah menikah?” mata bibi Park membulat sempurna.
“Sudah.”
“Kenapa kau tidak mengatakannya pada kami?”
Bibir Geonil menyunggingkan senyum dingin. Kemudian seorang pelayan datang mengantarkan pesanannya.
“Karena aku mengkhianati sepupuku sendiri.” Jawab Geonil santai. Seperti tidak ada beban. Ya, karena sebenarnya Jihyuk yang mengkhianatinya. Mengambil orang yang dicintainya tanpa izin. “Tapi ini juga untuk kebaikannya. Jihyuk tidak boleh menikah dengan pilihannya. Apalagi dia menyukai laki-laki. Pasti Song ajusshi tambah tidak mengizinkannya.”
Bibir bibi Park bungkam. “Geonil-ah..”
“Aku terpaksa mengkhianatinya, ajumma. Bagaimana bisa Jihyuk menghamilinya sebelum menikah?”
“Tunggu! Apakah dia.. Sungje?”
Geonil mengangguk. Bibinya ini hampir tahu semua rahasia di keluarganya.
“Aku pernah mendengar cerita dari keluarga Sungje, kalau sebenarnya Sungje itu mendapat kutukan karena neneknya mencuri batu permata dari gunung tertinggi di negara ini. Cucu kesayangannya bisa meninggal di tengah kehamilannya karena hal apapun. Cucu kesayangannya adalah Sungje, cucu laki-laki pertama di keluarga. Dan sekarang Sungje hamil. Hampir setiap malam di awal kami menikah aku mendengarnya menangis karena takut mati.”
Bibi Park mengangguk. “Lalu..”
“Dan menurut cerita juga, kutukan itu akan hilang kalau ada orang yang mencintainya dengan tulus dan selalu ada untuknya. Tapi dia memilih Jihyuk, bukan aku.”
Bibi Park diam.
“Apa bibi tahu alamat Jihyuk di Amerika?”
“Kau mau apa kalau kuberitahu?”
Geonil menggeleng bingung. “Aku hanya ingin tahu. Entah apa yang akan kulakukan pada alamat itu.”
Mereka berdua terdiam. Tanpa sadar espresso double shot yang dipesan Geonil sudah habis saking lamanya tidak ada pembicaraan.
“Geonil-ah,” panggil bibi Park pelan.
“Hmm?” tanya Geonil pelan.
“Ada yang belum kau ketahui dari sepupumu itu.”
“Apa?”
Bibi Park menelan ludahnya dengan susah payah. Geonil pun ikut menelan ludahnya. Menunggu lanjutan cerita bibi yang paling disayanginya itu.
“Jihyuk…”

***

“Geonil kemana sih?!! Jangan-jangan dia pacaran lagi! Selingkuh padahal udah punya istri!! Geoniiiiiiiiil, kalau ketahuan mati kau!!!” gumam Sungje dongkol. Ia menunggu di sofa ruang tamu.
Sudah satu jam lebih Geonil belum pulang. Padahal janjinya 30 menit lebih sedikit. Sungje memukul-mukul sofa saking kesalnya.
DUGGG!!!
Pintu dibuka paksa oleh seseorang. Sungje terlonjak kaget. Untungnya tidak sampai berteriak histeris. Di depannya sudah berdiri Geonil dengan wajah yang menyeramkan, seperti ketika Sungje membuka album foto yang berisi foto kecilnya.
Sungje kira ia akan menerima ungkapan marah Geonil. Tapi ternyata Geonil malah berlutut. Air matanya mengalir deras. Ia memohon,
“Tinggalkan Jihyuk. Sungje-ah, tinggalkan dia! Kumohon..”

***

TBC

PART 7 FINISHED!! ^^
Pegel juga yah seharian nongkrong di kamar Cuma buat ni lanjutan!! Hohoho~
Mungkin ini ff terakhir sebelum saya hiatus lagi buat ujian RSBI dan nunggu kelulusan. Hihihi~😄
Doain saya ya semuanya !! ^^
Buat yang baca, komen dan like *ga wajib kok^^* terima kasih banyak ya!! Dengan itu tanpa sadar kalian mendukung saya *plak #JanganKapokRCLyaaaa

10 thoughts on “Time To Love (Part 7)

  1. Seungri's Wife

    Jihyuk mati kan? *sotoy*
    oke gue ngiri gue ngiri!! Menyebalkan kenapa bisa romantis! Jangan romantis mulu ah, reader cemburu nih!! *plak
    gue lagi gabisa komen yg bermutu nih, sorry.

    Reply
  2. laladwiputri

    Odiga? Selalu tbc disaat klimaks of klimaks cerita yaAllah kenapa lg is jihyuk udah ah nggak usah masukin jihyuk dalem cerita lagi muahahaha ketawa setan! Cerita gila ini makin buat saya gila dan mungkin memang saya gila beneran hohohoho :p

    Reply
  3. kitty ai-chan

    .anyeong haseyo author-ssi,, salam kenal!!saya reader baru d sini!! ^_^#gag pnting,,
    .ini ff pertama dan chap prtama yg saya baca d sini,, & saya berpikir kalo ff ini,,daebak!!\^o^/
    .sprtinya ckup skian y,,gomawo ne!!keep writing! =3b

    Reply
  4. LaillaMP Post author

    yeeeee ada temen baru yang baca ^^ welcome yaaa🙂

    baca dari chap ini mah ga bakal nyambung :p anyway, thank you udah baca ff gaje saya ini🙂

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s