Twins High School (Part 6)

Title : “twins high school”
Length : chaptered (6/??)
Main cast :
–    2wins Yoo a.k.a park yoo chun & park yoo chan
–    JungBro a.k.a jung yunhak & jung yunho #fiksiajaguejadiinkembar
–    JoTwins a.k.a Jo Kwangmin & jo youngmin
A.N : udah lama juga ternyata gue ga ngelanjutin ni ff! hahaha.. pada masih inget gak? Kalo ga inget yaaaa ga usah baca deh. Ancur ceritanya!! *terus kenapa di share?!!
Yaudahlah, cekidot langsung. Cerita ini fokus ke Yootwins!! Sabar yaa ^^
WARNING!!!!
JANGAN TANYA KENAPA DISINI COUPLE-NYA KWANG-CHAN!!😄 soalnya pas gue bikin ini gue sama sekali belom kenal yang namanya supernova. Jadi bukan Je-Chan deh~ pengennya Je-Chan. Tapi disini si sungje udah gue jadiin guru dan udah terlanjur menyukai kwangmin u,u #ditabokhyunseong

****

<< previous

“sebenernya, lo suka sama siapa? Yoochan, atau junsu?” tanya yunho akhirnya. Ia masih bingung dengan perasaan sang kakak dari cerita.
“gue cinta junsu, tapi sejak ngelawan yoochan.. gue suka. Gue bingung kenapa! Gue ga pernah begini, ho!!”
Yunho mengangguk. Lalu menghela nafas berat.
“yoochan itu kalo dendam ga pernah lebih dari 2 jam. Tapi sama lo lebih hyung! Kalo begitu, yoochan bener-bener ga bisa maafin. Walaupun hubungan yoochan sama yoochun itu ga keliatan sedeket yang lain, tapi mereka saling menyayangi!” yunho menatap yunhak. “hyung, lo harus berusaha keras buat ngelupain dendam lo sama yoochun, dan damai sama yoochan. Tapi susah!! Kalo ga keras ga bakal bisa lo!”
Yunhak mengusap wajahnya. Lalu menghela nafas berkali-kali.
“gue bakal berusaha.. gue ga akan bunuh yoochun..”

>> next

Yunho memasuki kelasnya. Kelasnya sudah penuh anak-anak kelas X-5. Kelas itu gaduh. Ada yang gaduh karena bercanda, mencari contekan, atau hanya sekedar berbincang.
Kemudian pundaknya ditepuk seseorang. Kakak kembarnya, Jung Yunhak tersenyum. Kali ini senyumnya terlihat lega. Senyum tulus yang sering ia berikan pada orang-orang. Bukan senyum dingin yang membunuh.
“Ngapain disitu? Ayo masuk!!” kata Yunhak. Ia lalu masuk duluan tanpa menunggu Yunho. Baru beberapa detik kemudian kaki panjang Yunho berjalan memasuki kelas.
Yunhak berdiri tidak jauh dari kerumunan Jo Twins, Yoochan dan cewek tomboy keturunan amerika, Amber. *buahahaaa pilih yang sama-sama kek Yoochan!!
“Nyari ribut lo sama gue?” tanya Yoochan tanpa menatap ke arah Yunhak berada.
Yunhak menggeleng. “Nggak sama sekali.”
“Bunuh gue nanti aja! Jangan disini! Nanti pada nangisin gue!” kata Yoochan yang langsung mendapat jitakan ekslusif dari 3 teman lainnya.
“Ehh ga percaya! Pasti pada nangis nanti kalo gue dibunuh Yunhak disini!”
Semua tertawa.
“Nangis sih. Tapi bukan nangisin lo!! Nangis ketakutan karna punya temen psiko!!” kata Amber.
“iya!! Nanti jangan-jangan gue lagi yang dibunuh karna ketauan deket sama Yoochan!” tambah Kwangmin.
“Untung gue ga deket banget!!” kata Youngmin sambil tersenyum tega.
“Sialan! Awas lo kalo gue beneran mati kagak nangisin gue! Gue gentayangin sampe lo ke kuburan!”
“iiiih atut!!” kata Youngmin memasang ekspresi takut yang dibuat-buat.
“Youngmiiiiiiin, yang ada lo mati hari ini juga di tangan gue!!”
Semua tertawa lagi. Tanpa mempedulikan Yunhak yang daritadi diam mematung memperhatikannya. Ani. Memperhatikan satu gadis di sebelah Amber. Yang memunggunginya.
TEEEEEEEEEETTTTTTTTTTT….
“Yaah masuk!! Duduk sama si yoochun lagi deh!” kata Yoochan lesu.
“Duduk sama Key dah!” balas Amber.
Yunhak tetap berdiri di tempatnya. Seperti menunggu Yoochan yang baru selesai berbincang pagi dengan para sahabatnya.
“Kalo tempat gue di belakang gue ga perlu ngelewatin lo deh!” kata Yoochan menyindir.
“Ketemu gue di taman belakang istirahat nanti!” kata Yunhak dengan suara rendah.
“What?! Ketemu lo?! Mau bunuh gue?”
Yunhak menggeleng. “Nggak.”
“Awas lo! Mau ngapain halangin gue?”
Yoochan mencoba menembus pertahanan Yunhak dengan tidak memakai kekerasan. Tapi Yunhak seperti tidak menyadari kalau gadis itu sudah habis kesabarannya. Dan bisa melakukan apa saja di dalam kelas.
“Lo denger apa yang adek gue bilang, nyet?” tanya seseorang di belakang Yunhak.
BRAAAAAAAAK!!!!
Tanpa peduli keadaan Yoochun mendorong Yunhak ke samping sampai jatuh membentur meja. Tidak sampai situ. Yoochun juga menendang dan menonjok Yunhak brutal. Yoochan tidak bisa melerai. Begitupun teman-teman lainnya.
“Lo urusan sama gue! Bukan sama adek gue! Bisa kan urusin LANGSUNG sama gue?! Ga usah pake perantara?” tanya Yoochun dengan nada penuh penekanan.
Yunhak menatap rivalnya. Rivalnya yang ia kira lemah kini melumpuhkannya hanya dengan satu dorongan dan beberapa tonjokan.
“Jawab brengsek!!” kata Yoochun sambil menonjok pipi Yunhak.
“Sayang banget!” Yunhak mengatakan sambil mengatur nafasnya. “Sayang banget!”
“Sayang banget? Maksud lo apa—“
“Yoochun,” panggil Yoochan. Lalu mengulurkan tangannya. “Biarin aja orang kayak gitu! Ga usah dipikirin!”
Yoochun menghela nafas. Lalu membalas uluran tangan kembarannya. Setelah memberikan tendangan gratis di perut Yunhak, Yoochun segera berjalan ke bangkunya di meja paling depan.

******

“Eh tumben lo sama Yoochun—“ Yunho menatap yoochan bingung dari atas sampai bawah. Setelah bel istirahat banyak murid yang mengerubungi meja si kembar yang penuh dengan tanda tanya itu.
“Kenapa?! Lo pada belom pernah ngeliat orang pegangan tangan? Gue kira udah pada liat bokep semua!” balas Yoochan ketus. Lalu berdiri dari tempatnya dan mengikuti Kwangmin yang ingin keluar.
“lo kenapa?” tanya kwangmin datar setelah di perpustakaan.
Yoochan mengernyit bingung. “Maksud lo??”
“lo ga pernah sebaik itu!”
Yoochan tertawa kecil. “gue tau gue bandel. Jadi gue harus tiap hari bandel? Dan gue harus biarin orang lain ngebunuh saudara kembar gue sendiri?”
Pandangan orang-orang di perpustakaan langsung tertuju pada yoochan dan kwangmin. Yoochan menggunakan suara paling tinggi untuk di perpustakaan.
“gue emang bandel, kwang! Tapi gue ga pernah mau buat orangtua gue menderita! Gue sering banget nyembunyiin identitas mereka daripada orang-orang tau siapa orang tua gue sebenernya kalo gue ketangkep basah lagi tawuran. Dan satu-satunya hal yang lagi gue lakuin buat orangtua gue itu jagain yoochun. Dia penerus perusahaan papa! Puas?!”
Yoochan keluar dari perpustakaan tanpa mengembalikan buku yang dibacanya ke tempatnya. Sedang kwangmin sedang berusaha keras mengerti perkataan sahabatnya yang dikenal 7 bulan lalu itu.

*****

“Park yoochan?”
Bu yoona, guru tercantik se-twins high school itu memanggil nama murid yang sebenarnya dibencinya itu. Tapi sebenci apapun dengannya bu yoona diam-diam mengaguminya karena selalu mendapat nilai tertinggi di pelajarannya. Tapi untuk kali ini..
“Yoochun, kembaran kamu mana?” tanya bu yoona bingung karena seorang gadis dengan penampilan acak-acakan yang sudah di tempatkan duduk di depan itu hilang.
“saya juga ga tau bu.” Kata yoochun bingung. Ia lalu menengok ke belakang. Ke arah bangku yunho dan yunhak. Tapi mereka berdua masih duduk manis di situ. Tidak mungkin yoochan kabur kalau musuhnya ada di kelas. Yoochan bukan tipe orang yang bisa kabur dari masalah.
“nilainya turun. Kamu tau kenapa?” tanya bu yoona sambil menunjuk kertas ulangannya yang bernilai 27.
Pekikan kaget dilontarkan anak-anak. Terutama Kwangmin dan Yunho yang sudah menjadi teman dekatnya.
“Yunhak, ini gara-gara lo!!” ucap Yunho berbisik pada kembarannya.
“Sialan si Yunhak, ini gara-gara dia!” di tempat lain pun Kwangmin mengatakan hal yang sama.
“Awas lo, Yunhak!! Gue bunuh abis lo keluar kelas!!” ucap Yoochun pula dalam hati.
Semua anak langsung bergosip ria di kelas. Bu Yoona keluar. Meminta bantuan pak Young Woon untuk mencari Yoochan.
Setelah bu yoona pergi, kwangmin berjalan ke bangku Yoochun dan duduk di sampingnya tanpa meminta persetujuan. Tapi yoochun langsung berdiri dan berjalan ke bangku yunhak dan yunho di belakang.
“GUE TAU GUE SALAH!! TAPI LO BISA KAN HADAPI GUE LANGSUNG?! PENGECUT!” teriak Yoochun kesal. Semua anak menutup mulut.
“chun..” Yunho mencoba melerai. Tapi tubuh besar yunho dengan mudah disingkirkan dari hadapannya.
“sekarang lo tanggung jawab!! Tanggung jawab karna lo udah ancurin masa depan dia!!” air mata yoochun langsung turun begitu saja.
“Lo— SHIT!! YOU’RE BIG SHIT!! LO GA TAU BETAPA BANGGANYA GUE SAMA DIA!! LO GA TAU BETAPA BERHARGA SEMUA NILAI YANG YOOCHAN PUNYA!! LO GA TAU KALO ITU SEMUA HARAPAN BIAR DIA BISA DAPET PERHATIAN KELUARGA GUE?!”
Hal ini paling jarang dilakukan pasangan kembar yang paling terkenal itu. Hari ini benr-benar penuh kejutan. Tadi Yoochun memukul Yunhak untuk Yoochan. Lalu Yoochan mengamit tangan Yoochun dan menyuruhnya duduk di bangku dengan wajah yang ditekuk. Dan sekarang Yoochun marah-marah di depan Yunhak yang ditonton teman sekelasnya. Yoochun tidak peduli pada pandangan orang-orang. Air matanya dibiarkan jatuh dan menyentuh bumi. Itu air mata ketulusan, bukan keputusasaan.

***

Di sisi lain, seorang gadis menekuk lututnya di pojok gudang sekolah. Ia menangis. Merasa tidak kuat lagi dengan masalah ini. Walaupun sudah ada satu orang yang ia beritahu tentang ini, tetap saja ia tidak kuat.
Sebenarnya tanpa diketahui Yoochun, beberapa bulan lalu di awal ia dan Yunhak bersitegang ia keluar kamar malam-malam karena mendapat telepon dari orangtuanya.

~ flashback

TOK TOK TOK
Yoochan mendengar ketukan itu. Ia menatap kasur kembarannya di samping. Yoochun sudah tidur. Terpaksa Yoochan yang harus meladeni tamu itu malam-malam. Padahal ia sedang asyik membaca komik.
“Ada telepon dari ibu kamu.” Kata pak Young Woon dengan suara parau.
“kenapa harus malam-malam?” tanya yoochan bingung.
Pak young woon menggeleng bingung. “kamu tanya aja sama mama kamu sendiri. Dia ngotot minta ngomong sama kamu malam ini.”
Yoochan mengikuti arah jalan pak young woon ke ruang BP yang ada di gedung sekolahnya di seberang asrama. Disana sepi. Yoochan mengangkat gagang telepon yang sepertinya sudah dibiarkan dari tadi. Mulailah pembicaraan itu dimulai. Pak young woon memilih untuk tetap diluar. Tapi telinganya terus fokus menerima gelombang suara yoochan dan peneleponnya.
“Halo?” sapa Yoochan malas.
‘Berapa kali mama harus bilang sama kamu kalau kamu nggak boleh menyentuh kata berantem?’
“Aku gak pernah berantem tanpa alasan. Mama kenapa nelpon selarut ini?”
‘Alasan apa? Kamu diganggu? Yoochun diganggu? Sebenernya nggak kan?’
Yoochan memindahkan gagang telepon itu ke telinga kirinya. “Terserah mama mau percaya apa nggak. Ada orang yang pengen bales dendam ke yoochun lewat aku. Dia mau bunuh yoochun. Tapi aku masih punya kewajiban kan untuk menjaga yoochun? Jadi aku melindunginya. Mama pasti nggak percaya. Tapi yoochan mohon, jangan benci yoochan.”
‘Mama benar-benar kehabisan kesabaran buat kamu, Yoochan. Mama harap kamu nggak usah mikirin apapun tentang yoochun Cuma buat hasrat terpendam kamu untuk berantem. Mama udah bosen denger kamu lagi kamu lagi. Mendingan kamu jadi anak bodoh tapi baik daripada pinter tapi bandel. Kalau kamu bukan anak mama kamu udah mama benci dari dulu dan nggak ngebolehin Yoochun deket sama kamu. Tapi kamu anak mama. Jadi—‘
“Silakan mama benci yoochan. Aku bisa kok mati sekarang juga kalo mama mau.” Yoochan menutup gagang telepon itu paksa. Lalu berjalan cepat ke lapangan basket tanpa mempedulikan pak young woon yang masih berada diluar ruang BP.
“Sialan nih lapangan ditutup!!” dengus Yoochan kesal.
DUAGGG!!! DUAGGG!!! DUAGGGG!!!
Dua orang satpam yang sedang berjaga malam langsung datang tergopoh-gopoh ke sumber suara. Dilihatnya seorang gadis kelas 1 sedang menendang-nendang pintu lapangan basket.
“Sudah malam! Kenapa kamu belum tidur?” tanya salah satu satpam lembut.
“Bukan urusan kalian!” jawab Yoochan dingin. “Bisa bukakan pintu ini untuk saya?”
“Ini—“
“Pak Young Woon tau saya ada disini. Jadi kalian nggak usah takut dimarahin pak young woon besok.”
Satpam berhati baik itu pasrah. Ia mengambil kunci dan membuka pintu lapangan basket. Lalu menyalakan lampunya dan mengambilkan bola basket yang disimpan di pojok lapangan.
“Bisa kalian tinggalkan saya sendiri?” tanya Yoochan sopan. Kedua satpam itu mengangguk dan membiarkan Yoochan sendirian dengan bola basketnya.

***

Kwangmin mendesah berat. Ia tidak bisa tidur. Sudah beberapa kali berdoa dan membaca buku pelajaran tetap saja matanya tidak mau tertutup.
Kwangmin membuka pintunya pelan-pelan. Takut kembarannya terbangun. Dan juga takut ada yang mengintipnya keluar malam-malam.
Jam masih menunjukkan pukul 12 lebih 5 menit. Pasti semuanya sedang tertidur lelap. Biasanya yang berjaga malam hanya satpam. Tapi tidak terlalu menyusuri setiap ruangan di asrama.
Kwangmin berjalan pelan ke gedung sekolahnya. Tidak ada yang berjaga di depan asrama. Jadi dengan mudah Kwangmin bisa pergi ke gedung sekolahnya yang tidak terkunci. Tapi sebelumnya ia harus melewati dua satpam yang berjaga malam.
“Kwangmin ya?” tanya salah satu satpam ramah.
“Iya.” Kwangmin heran. Kenapa satpam ini bisa tahu namanya? Padahal ia kan bukan murid terkenal.
“Mau kemana, nak?”
“Ke lantai atas atau ke lapangan basket aja. Nggak bisa tidur.”
Dua satpam itu mengangguk. “Disana juga ada nak Yoochan. Kamu temenin gih. Bapak takut dia kenapa-napa. Dia kan temen baiknya nak Kwangmin.”
Kwangmin langsung panik mendengar nama bestfriend-nya itu disebut. Tanpa berpamitan ia langsung lari ke dalam gedung sekolahnya dan berlari ke tempat biasa Yoochan mangkal *emangnya gue tukang ojek ==”*
Di lapangan basket yang terbuka lebar tidak ada. Pasti di kantin atau di balkon atas. Ah! Kemungkinan besar di balkon atas.
Benar! Yoochan ada disana. Ia berdiri sambil memegang tembok pembatas dengan pandangan kosong. Bahkan ia tidak tahu Kwangmin ada di sampingnya.
“WAAAAA!!!!!” teriak Yoochan begitu sadar ada makhluk di sebelahnya.
“Ini gue, Kwangmin!! Slow aja!!” kwangmin ikut kaget.
Yoochan mendesah lega. “Gue kira kwangmin jejadian. Hehehe..”
Kwangmin merasa ada yang ditutupi gadis itu. “Lo kenapa?”
“Ngga papa.”
“Yang bener?”
“Lo ga liat gue? Kalo gue masih bisa teriak berarti gue baik dong?”
Kwangmin masih meragukan. “Nggak. Muka lo—“
“Gue nggak papa, Kwangmin..” Yoochan menghela nafas. “Gue nggak papa asalkan lo nggak ada disini.”
“Nah kan! Kenapa sih? Bisa kan cerita?”
“Gue mau mati. Minggir!”
Kwangmin mencengkram lengan Yoochan. “Maksud lo apa?”
“Gue capek makanya mau mati! Awas!!”
“Yoochan—“
“Menurut orang yang membenci gue, gue mati adalah kebahagiaan. Gue ga mau—“
“Yoochan!!!!” Kwangmin berteriak geram. Nafasnya naik turun. “Kalo mati adalah jalan terakhir menuju surga dan masalah akan selesai begitu saja pasti semua orang di dunia udah mati! Gue dan lo sama-sama nggak ada di dunia ini karna orangtua kita sama-sama nggak ketemu dan memilih mati sebagai jalan terakhir!! Dan juga nenek moyang kita dulu udah pasrah mati di tengah laut! Jangankan itu, adam dan hawa yang terpisah pasti juga milih mati kalo emang itu jalan terbaik dan bisa ketemu lagi di surga. Tapi nyatanya??? Mati juga malah menimbulkan hal yang lebih rumit.”
Yoochan tersenyum sinis. Berusaha menahan air matanya. “Okay. Biarin mereka ada di jalan mereka dan gue ada di jalan gue. Banyak orang yang mau gue mati termasuk keluarga gue. Jadi—“
“Gue nggak!” Kwangmin menggeleng. “Gue nggak mau lo mati.”
“Kenapa? Gue bukan orang baik. Kenapa lo mau deket sama gue? Keluarga gue sendiri aja bisa benci gue, kenapa lo nggak?”
“Karna lo yang ngubah gue.” Kwangmin memandang langit malam. “Kalo aja lo nggak ngajak gue kenalan waktu pertama kali kita ketemu, gue nggak mungkin punya temen sampe hari ini. Kalo aja lo nggak dateng waktu gue sama youngmin berantem pasti gue udah ngancurin asrama.”
Yoochan diam.
“Gue mohon. Lo pikirin lagi. Lo tega ninggalin gue sendiri? Satu-satunya temen baik gue itu ELO! Lo yang ngeliat gue apa adanya. Lo yang mandang gue ‘lebih’ daripada orang lain.” Kwangmin menghela nafas. “Okay gue tau gue emang ga ada hubungan apa-apa sama lo. Gue tau lo sebenernya nggak mandang gue begitu. Tapi gue mandang lo lebih. Gue nggak mau kehilangan lo.”
Yoochan tertawa kecil. “Cuma satu orang yang mengharap gue hidup.”
“Yoochun!”
“Bullshit banget kalo dia bilang dia mengharap gue hidup.” Yoochan duduk di bawah lantai yang kotor dan dingin. “Malah dia yang membuat gue mati.”
Kwangmin ikut duduk di depan Yoochan. “Lo bisa cerita ke gue kalo ada masalah. Gue bisa kok dengerin lo. Mau ceritanya sampe gue punya cucu 2 juga ayo!”
“Hahaha… bisa aja!”
“Yaudah, ceritain deh.”
Yoochan mengangguk. Dengan lancar dan penuh kejujuran ia menceritakan semuanya. Tentang dendam Yunhak pada Yoochun, tentang dirinya yang jadi umpan dalam dendam ini, tentang kasusnya ini yang sampai ke telinga keluarganya dan membuat mereka kesal, sampai telepon ibunya tadi.
“jangan pura-pura kuat!” kata Kwangmin di tengah cerita Yoochan.
“Selama gue masih bisa berpura-pura, buat apa gue nyerah dan ngabisin air mata disini?”
Kwangmin menelan ludah berat. “Sebenernya gue lebih benci orang yang sok kuat daripada orang yang sering nangis. Gue benci sama sifat mama gue yang sering pura-pura kuat padahal bebannya lebih berat dari yang gue bayangin. Mama selalu bilang ‘nggak papa’ padahal dia sakit.” Kwangmin tersenyum pilu. “Masih suka kesel sama papa dan Youngmin kalo inget itu.”
“Lo sayang banget ya sama mama lo?” tanya Yoochan.
Kwangmin mengangguk. “Jelaslah. Mama yang udah susah payah mempertahankan aku dan Youngmin di satu perut masa.. nggak sayang? Kurang ajar banget itu!”
Yoochan mengangguk. “Gue juga sayang. Sayang banget malah. Tapi gue malah ngecewain.” Yoochan menghela nafas. Lalu membenarkan posisi duduknya. “Gue nggak tahu lagi gimana caranya buat buktiin gue sayang sama mama, papa, kakek, nenek, dan semuanya. Terlalu terlambat buat buktiin. Gue nyesel!”
Kwangmin tersenyum berat. Lalu menepuk pundak Yoochan pelan. “Nggak ada kata terlambat untuk berubah.”
“Masalah gue—“
“Diam itu emas. Pernah denger kan?” Kwangmin menghela nafas. “Lo biarin aja si yunhak.”
“Nggak semudah itu, kwangmin!!”
“Gue bantuin deh. Mau gak?”
“Gue mau kasih pelajaran dulu buat yunhak. Baru deh gue diem. Gimana?”
“Lo kasih pelajaran yang bener dong! Kasih pelajaran tuh mukul!” Kwangmin tertawa kecil. “Inget, kuat diluar belum tentu kuat di dalem. Lo boleh jago beladiri dan bikin orang bonyok. Tapi lo ga kuat kan akhirnya?”
Yoochan mengangguk setuju.
“Sorry bukannya gue ceramah. Tapi emang bener. Dan gue ga mau temen gue kenapa-napa. Jadi gue mau kasih tau dulu sebelum lo bertindak gegabah.”
“Tapi kayaknya semua ceramahan sama aja deh. Gue juga.. masih—“
“Coba dulu! Gue ga mau denger protes lo!” Kwangmin bangkit. Lalu mengulurkan tangan untuk membantu Yoochan bangun. “udah jam 12 lebih, hampir jam 1. Besok kita telat lagi. Gue udah mulai ngantuk.”
Yoochan mengangguk. “Oke. Gue juga ngantuk. Makasih ya udah mau dengerin.”
Kwangmin mengangguk. “Sip!”
“Besok kalo gue nggak ada cari temen lain ya?”
“YOOCHAN!!!” teriak Kwangmin kesal. Yoochan tertawa keras. Dia kembali.. pikir Kwangmin.

***

Kwangmin lega karena akhirnya ia bisa memejamkan matanya juga. Ia juga lega melihat sahabatnya itu menceritakan semuanya. Walaupun Kwangmin yang akhirnya menanggung semuanya. Kwangmin tidak boleh menceritakan pada siapapun. Tapi pada siapa ia mau cerita lagi? Pada temannya? Ia tidak punya teman sebaik Yoochan. Pada Tuhan? Pasti Tuhan menonton mereka tadi.
Akhirnya Kwangmin memejamkan matanya dan masuk ke alam mimpi. Alam yang indah. Disisi lain pun Yoochan sudah memejamkan mata. Ia lega. Setidaknya sedikit lega.

~ end flashback

“Masih mau pura-pura kuat?” Kwangmin tiba-tiba datang ke tempat yang dikira Yoochan aman.
Yoochan menghapus air matanya. “Eh elo Kwang!”
Kwangmin memberikan sapu tangan putih dari saku jasnya. “Gue lebih suka liat lo nangis begini. Tapi yang gue nggak suka kenapa lo ngga ngajak gue?”
Yoochan tertawa kecil. “Emangnya harus?”
“Harus!” Kwangmin ikut duduk di samping yoochan. “Kenapa lagi?”
“Kepikiran kejadian beberapa bulan lalu.”
“Kenapa masih dipikirin? Emangnya ga ada yang bisa dipikirin lagi apa?”
Yoochan menggeleng. “Gatau kenapa masih kepikiran.”
Kwangmin sebenarnya ingin mengatakan kalau nilai ulangan yoochan kali ini benar-benar hancur. Ia juga ingin menceritakan tentang yoochun yang mengamuk di kelasnya hari ini. Tapi kalau cerita sekarang sepertinya… kurang tepat waktunya. Maka Kwangmin terpaksa tutup mulut lagi.
“Kok tau gue disini?” tanya Yoochan bingung.
“Feeling aja. Lo kan biasa kalo nggak di balkon di lapangan basket. Kebetulan di balkon ga ada, lapangan basket lagi dipake. Ke kemar mandi gue jamin nggak. Yaudah ke gudang.” Kwangmin tertawa jahil. “Sekali-kali cari tempat yang elite dikit napa! Masa di gudang?”
“Terus dimana? Di lapangan golf? Di tempat bilyard? Atau di bar?”
“Ya nggak gitu juga!”
“Terus?”
“Ya… dimana kek. Masa di gudang?”
“Maunya?”
Kwangmin tertawa kecil. “Lo pasti belom makan. Makan ramen yuk? Udah lama nih gue ga makan.”
Yoochan mengangguk. “Tau aja gue laper. Tapi duit gue kan di tas.”
“Pake duit gue dulu. Tapi ga usah diganti. Oke?”
“Ha?!”
Kwangmin menjitak kepala Yoochan gemas. “Gue traktir! Ngerti?”
Yoochan mengangguk. “Iya iya. Gomawo.”
“You’re welcome.” Jawaban yang tidak ada nyambungnya dengan bahasa yang Yoochan pakai.
Mereka berdua berjalan sambil tertawa-tawa. Tanpa mereka sadari sebenarnya Yoochun menonton mereka dari tadi. Yoochun terus bertanya kenapa ia tidak bisa membuat kembarannya tersenyum seperti itu? Kenapa ia tidak bisa membuatnya tenang? Kenapa ia hanya menambah bebannya sebagai saudara yang lebih muda?
“Nih kembaran lo! Mau ngomong kan lo sama dia?” Kwangmin langsung menyapa ketika melihat Yoochun berdiri mematung di depannya.
“Heh!! Ini kembaran lo!” Kwangmin melambaikan tangannya di depan mata Yoochun.
“Eh? Err.. Ng-nggak usah deh. Lo aja.” Yoochun langsung pergi dari hadapan mereka. Pandangan dua anak kembar itu sebenarnya saling bertemu. Dan mereka sama-sama bisa membaca pikiran masing-masing. Tapi, terlalu sulit untuk mengatakannya. Terlalu sulit untuk mengekspresikannya. Terlalu sulit bagi Yoochun untuk menerima kalau ia-lah penyebab ‘jatuh’-nya Yoochan, bukan Yunhak. Dan sulit juga baginya untuk menerima, bahwa keluarganya tidak memandang Yoochan lagi. Padahal dia mengorbankan semuanya untuknya.
Yoochun memekik dalam hati. Mengutuk dirinya sendiri yang begitu bodoh dan menyusahkan. Mengutuk dirinya yang menjadi penyebab kekacauan ini.
I’m a loser…

****

TBC

Tuh kan ngarahnya ke 2wins yoo!! *perasaan tadi bilangnya yootwins ==”
Otte? Aneh ya? Udah lama ga lanjut sih~ yaaaa udahlah~
Tengkyu bagi yang baca ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s