Stupid Love (Part 3)

Title : Stupid Love
Genre : school-romance
Length : 3 of ?
Cast : couple abadi a.k.a Sungje-Yoochan #dor
A/N : NEXT PART!! Gimana part 2-nya? Ga seru yah? #nyadar
Okelah, ini persembahan saya sembari menunggu pengumuman *semoga bisa masuk smaktiii!!!

***


<< previous

“Aku pulang denganmu ya!” kata Sungje setelah menghabiskan makanannya.
“uhukk.. uhukk..” Yoochan langsung tersedak. Sungje sudah menduga ini akan terjadi. Sungje menyodorkan minuman ke gadis itu.
“Tidak usah takut. Aku tidak akan sakit.”
“JANGAN!!”
“Wae???”
“Kubilang jangan ya jangan!!”
“Sejak kapan ada peraturan begitu?!!”
Yoochan mengelap bibirnya. “Aku sudah bosan dibilang pembawa sial. Kau tahu bagaimana rasanya? Sakit!! Apalagi waktu itu dibilang pembawa sial untuk keluarga sendiri. Makanya aku tidak boleh ikut ke Amerika.”
“Tapi kan kau tidak selalu membawa sial.”
“Memang. Maksudku memang tidak sekarang. Tapi nanti, pada waktunya.”
Sungje menghela nafas. Ia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Mereka berdua makan di restoran Jepang di dekat sekolah.
“Masalah kau dan kakakmu itu sudah berakhir! Sekarang kau hanya tinggal memulihkan citramu saja.”
“Memang benar dari dulu. Kalau berbicara itu lebih mudah dari melakukan.”
Sungje mendengus kesal. “Memang begitu kenyataannya.”
“Ya sudah. Aku tidak mau kau ikut aku jalan!”
“Tapi—“
“Aku tidak akan datang besok kalau kau ikut aku jalan!” ancaman Yoochan berhasil. Sungje langsung lemas mendengarnya.
Ini juga untuk kebaikanmu, Sungje-ah..

>> part 3 <<

Pertandingan dimulai pukul 4 sore. Tapi sekarang—pukul 8 pagi—latihan sudah dimulai. Malahan lebih keras dari yang kemarin.
Sungje mendengus kesal karena tidak ada yang bisa melayaninya sekarang. Biasanya ada Yoochan yang setia di pinggir lapangan sambil membawa botol minum dan kain untuk mengelap keringat Sungje.
Kali ini Sungje merasa merindukannya..
“Memangnya aku siapa?” pikir Sungje dalam hati.
“Sungje-ah, TANGKAP!!” teriak salah satu temannya sambil melempar bola basket ke arahnya. Sungje langsung menangkapnya dan mengiringnya ke ring.
BLASHHH!!!!
Itu bukan lemparan bola dari Sungje. Entah karena apa Sungje kecolongan. Pelatih menggelengkan kepalanya bingung.
“Fokus!!” teriak sang pelatih sambil melemparkan bola lagi pada Sungje.
Sungje mengangguk pasrah sambil menangkap bola itu. Lalu kembali mencoba fokus dan memasukkan bola itu tepat pada ring.

***

Drrtttt… drrrtttt… drrrttt…
Getaran ponsel itu membangunkan Yoochan dari tidurnya. Sebenarnya ia masih mengantuk. Tapi terpaksa ia mengambil benda kecil itu dan menempelkannya di telinga kanan.
“Yoboseyo?” sapanya dengan suara serak.
‘Kau sedang apa?’ tanya orang di seberang.
“Nuguseyo?” Yoochan belum bisa menebak siapa yang meneleponnya sepagi ini di hari Minggu.
‘Kau tidak ingat?’
“Yoochun? Hoammm…”
Orang di seberang mendesah berat. ‘Ini aku Sungje!! Masa kau tidak mengenali suaraku?!’
Yoochan masih belum sepenuhnya sadar. “Oh Sungje..”
‘Kau masih tidur ya?’
Yoochan mengangguk. “Hmm.. untuk apa kau membangunkanku pagi-pagi sekali?”
‘DATANG KE LAPANGAN BASKET SEKOLAH SEKARANG!! KUTUNGGU 30 MENIT!! KALAU TIDAK AKU TIDAK AKAN MAIN HARI INI!’
Tiiiiiiiiit~
Sambungan terputus. Yoochan langsung duduk di tempat tidurnya. Mengacak rambutnya yang sudah benar-benar berantakan. Lalu mengutuk orang yang menyuruhnya ke lapangan basket itu pagi-pagi dan masuk ke kamar mandi.

***

“Ckck.. benar-benar aneh!” sang pelatih melihat perubahan besar pada Sungje setelah Yoochan datang tergopoh-gopoh karena jarak rumahnya dan sekolah sangat jauh. Ditambah lagi ia membawa 5 botol minuman untuk Sungje.
BLASHHH!!!!
Benar-benar ajaib. Dari jarak yang sangat jauh Sungje bisa memasukkan bola dengan sempurna. Semua orang yang ada di lapangan itu bersorak girang.
“Berikan bolanya pada yang lain, Sungje-ah!!” teriak Yoochan dari pinggir lapangan.
Perhatian tertuju padanya. Tapi Yoochan tidak peduli. Sungje mengangguk. Lalu memberikan bola itu untuk temannya yang ada di dekat ring dan memasukkannya ke ring.
DUGG DUGG DUGG BLASHH!!!
Semua orang di lapangan merasa puas. Pemain inti break sebentar. Lalu pemain cadangan berlatih. Sungje langsung berlari dengan riangnya ke pinggir lapangan.
“Ini..” Yoochan memberikan sebotol air mineral pada Sungje.
“Terima kasih sudah mau datang!” Sungje tersenyum senang. “Ih! Tidak dibukakan segelnya!” Sungje memberikan botol minuman itu pada pemiliknya.
“Dasar manja!” Yoochan merobek segelnya dan membukakan tutup botolnya. Lalu dengan cepat Sungje meminumnya.
Sungje lalu duduk di samping Yoochan. Memperhatikan para pemain cadangan berlatih dengan serius.
“Sudah kubilang kan berikan bola pada yang terdekat. Kalau ada musuh bagaimana?”
Sungje tertawa kecil. “Nee, algesseyo!”
“Sudah mengerti tetap saja bermain sendiri. Main saja sana di lapangan sendiri!”
Sungje menghela nafas. “Iya. Aku janji aku tidak akan egois nanti.”
“Bagus!”
PRIIIIIIIIIT~
“Pemain inti, masuk!!”

***

“Kau pasti belum makan.” Sungje mencoba membujuk Yoochan untuk makan bersama para pemain basket lainnya.
“Kau saja. Aku tidak biasa makan pagi.” Elak Yoochan.
“Ya sudahlah. Kau tunggu sini. Jangan kemana-mana!” Sungje pergi ke kantin.
Lapangan itu sangat sepi sekarang. Para pemain basket dan pelatihnya pergi makan untuk mengisi energinya lagi. Ia ingat dulu pernah begitu dengan Yoochun.
“Ini. Aku hanya bisa belikan ramen. Lagipula aku juga ingin ramen.” Sungje menyodorkan cup ramen pada Yoochan.
“Gomawo.” Yoochan menerimanya sambil tersenyum senang.
Sungje duduk di samping Yoochan. Lalu memakan ramennya dengan tidak berselera.
“Kenapa?”
“Gwaenchana.” Sungje menggeleng. Lalu kembali memakan mie ramennya lagi.
“Gugup ya?”
Sungje mengangguk. “Maybe.”
“Sejak kapan kau bisa bahasa inggris? Ckck.. tumben!”
Sungje menjitak kepala Yoochan dengan sumpit. “Memangnya tidak boleh aku memakai bahasa inggris sekali-kali?”
Yoochan tertawa kecil. “Boleh.”
Pemain basket sekolah satu persatu datang. Yoochan dan Sungje masih duduk sambil menghabiskan kuah ramen yang masih tersisa.
“Kau tadi jalan?” tanya Sungje setelah membuang cup ramennya dan Yoochan di tong sampah.
“Lari! Lagian kau menyuruhku 30 menit. Aku kan takut kau benar tidak mau main hari ini.”
Sungje tertawa keras sambil mengacak rambut Yoochan gemas. “Ternyata jurusku berhasil juga!”
“Dasar!!”
PRIIIIIIIIIT~~
“Main lagi!!” teriak pelatih itu pada Sungje.
Yoochan tersenyum. “Semangat! Atau kusuruh berenang di kolam 3 meter!”
“Kemarin kau bilang 2!”
“Karena kau mengerjaiku tadi jadi aku tambah satu meter!”
PRIT PRIT PRIT!!!!!

***

Lapangan basket sudah sepi. Anak-anak diperbolehkan beristirahat sejenak untuk pertandingan nanti sore. Sungje dan Yoochan masih ada di lapangan.
“Sekali-sekali kita jalan-jalan yuk!” ujar Sungje tiba-tiba. Ia membidik bola dari jarak beberapa meter.
“Ha?!”
“Kenapa? Aku hanya mengajakmu jalan-jalan saja. Aku kan jarang mengajak orang jalan. Apalagi perempuan!”
Yoochan berjalan ke tengah lapangan. Merebut bola basket yang dipegang Sungje. Lalu dengan mudah memasukkannya.
“Nanti kau terbawa sial olehku. Kau mau?” Yoochan mengambil kembali bolanya.
Sungje mendengus kesal. “Sudah berapa kali kubilang kau bukan pembawa sial! Sudah 2 minggu aku tidak apa-apa kan?”
“Tapi—“
“Apa perlu aku memperkosamu untuk membuktikan kalau kau bukan pembawa sial?!”
Yoochan mengernyit bingung. “Memangnya apa hubungannya?”
“Kalau kau pembawa sial berarti aku akan memperkosamu dan membiarkanku menjadi ayah di usia muda!”
Yoochan tersenyum kecil. “Dasar!”
“Lagian kenapa sih kau sepertinya takut sekali dengan kata-kata pembawa sial?” Sungje menangkap bola yang di lemparkan Yoochan.
“Aku bukan orang yang terlalu kuat untuk menerima itu. Apalagi waktu itu aku dibilang pembawa sial untuk keluarga dan sekolah. Tidak ada yang peduli denganku. Bahkan hubungan batinku dengan Yoochun seperti terhapus begitu saja. Untungnya aku tidak dikeluarkan dari sini. Kalau aku dikeluarkan? Mungkin aku akan menjadi gelandangan disini dan mati kelaparan!”
Sungje melempar bolanya ke ring. Tapi tidak masuk dan memantul ke arah Yoochan. Sungje menatap gadis itu.
“Boleh tidak aku membahagiakanmu?”
Yoochan mengernyit bingung. “Ah?”
“Boleh tidak aku membahagiakanmu? Aku tidak ingin melihatmu sedih.”
Yoochan tertawa geli. “Aku tidak sedih kok! Kau bisa lihat sekarang kan?” Yoochan melempar bola ke arah Sungje. Tapi bola itu didiamkan berlari menjauh.
Sungje berjalan ke arah Yoochan. Gadis itu sempat mundur beberapa langkah. Namun langkahnya terhenti ketika melihat Sungje dengan matanya yang sayu itu menatapnya.
DEG
GREP!! Sungje memeluknya lagi!
“Mianhada..”

***

Kali ini keberadaan Yoochan benar-benar dinantikan anak-anak basket. 10 menit lagi pertandingan dimulai. Dua tim dari kesebelasan berbeda sudah bersiap-siap. Tapi salah satu pemain dari SMA itu ada yang tidak bersemangat.
“Hyung, kau menyukainya?” tanya Geonil pada Sungje.
Sungje membelalak kaget. “Menyukainya?”
“Apa lagi namanya kalau bukan menyukainya? Kau semangat kalau ada dia!”
Sungje menggigit bibir. “Kalau tidak aku bisa disuruh berenang di kolam 3 meter. Jangankan 3 meter, 1,5 meter saja aku sudah menyerah duluan.”
Geonil tertawa. Sudah mengerti kelemahan kakak kelasnya ini selain bahasa inggris. Yaitu berenang.
“Kau menunggunya sekarang?”
Sungje mengangguk.
“Untuk apa?”
Sungje menggeleng. “Mungkin untuk menyemangatiku.”
“Kenapa harus dia? Kan masih banyak perempuan lain yang lebih cantik darinya dan… membawa—“
“Sekali lagi kau bilang dia pembawa sial, aku tidak akan sungkan membunuhmu dengan bola ini!” Sungje mengangkat bola basket kesayangannya. Lalu berjalan ke ruang ganti di belakang.
Geonil menggeleng bingung. “Aneh!”

***

DUGG DUGG DUGG BLASHHH!!!
WHOAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!!!!!!!!!!!
DUGG DUGG
AARRRGGGHHHHHHHHHH!!!!!!!
DUGG DUGG BLASHHH!!!!
Suara pantulan bola dan teriakan orang menyatu. Para cheerleader juga terus menyemangatinya tanpa merasa lelah.
Sudah telat 6 menit. Yoochan tidak tahu apakah bangku itu sudah ada penghuninya atau belum. Ternyata belum ada. Bangku itu dipesan khusus untuknya dari Sungje.

3-8

Skor yang tertera di layar. Sekolah kebanggaannya itu tertinggal jauh 5 angka. Yoochan menyesal karena datang terlambat di saat seperti ini. Sebenarnya ia sadar Sungje menjadi lebih bersemangat karenanya. Tapi Yoochan juga bingung, kenapa bisa seperti itu?
“SUNGJE-AH SEMANGAT!!!!!!” teriak Yoochan ditengah teriakan para penonton lain.
DUGG DUGG DUGG DUGG DUGG BLASHH!!!!!
Sungje berlari dengan gesitnya menuju ring lawan. Ia tidak mempedulikan beberapa teman se-timnya yang ada di dekat ring. Dengan cepat ia melempar bola itu dan memantul dari ring. Semua orang kecewa.
“Sudah kubilang jangan egois! Kolam 3 meter siap untuknya!” sungut Yoochan.
Beberapa kali Sungje gagal memasukkan bola. Terlihat gurat kecewa di wajahnya. Tapi ia tidak menyerah. Kemudian Sungje menatap ke samping. Tepatnya ke arah Yoochan. Lalu Sungje tersenyum. Dan yang terjadi Sungje lebih semangat. Permainannya lebih baik dari sebelumnya. Ia tidak egois lagi.
“SUNGJE!! SUNGJE!! SUNGJE!! SUNGJE!!” teriak Yoochan menyemangati temannya.

10-8

Keadaan berbalik. Tim SMA Sungje dengan mudah bisa menyalib. Skor pun bertambah seiring berjalannya waktu.
PRIIIIIIIIIIIIT~
Dan akhirnya permainan selesai. Skor akhir 30-25.
Yoochan tersenyum senang. Bukan hanya karena hari ini kemenangan itu didapatkan sekolahnya, tapi juga karena Yoochan bukan pembawa sial bagi para pemain basket lagi sekarang.
“Permisi.. Permisi.. Permisi..” seseorang terus menggumamkan kata permisi. Dan kata itu baru selesai terucap ketika berhadapan dengan Yoochan. Sosok itu tersenyum dengan badan bermandikan keringat. Orang-orang menjerit senang melihatnya.
“Aku menang!” ucapnya bangga.
“Ne, arasso!” balas Yoochan sambil memberikan botol minumnya.
“Masih ingat juga ternyata.” Sungje mengambil botol minum itu dan meneguknya sampai habis setengahnya.

****

“Aku tidak harus berenang di kolam 3 meter kan?” Sungje mengedipkan matanya jahil pada Yoochan di sebelahnya. Yoochan menggeleng.
“Permainanmu cukup bagus setelah aku datang. Apa sebelum aku datang kau masih suka egois?”
Sungje tertawa kecil. “Sebenarnya aku memang cukup egois dari menit awal. Makanya tidak berhasil.”
“Makanya!! Untung aku datang, jadi kau ingat hukuman itu dan bermain adil. Aku memang hebat ya!”
Sungje menjitak pelan kepala Yoochan. Yoochan terkikik geli sambil menyeruput cappucino hangatnya. Udara malam ini begitu dingin. Yoochan terus mengeratkan jaketnya.
“Dingin sekali.”
Sungje tersenyum menggoda. “Modus! Kau pasti mau kupeluk.”
Yoochan menginjak kaki Sungje. “Enak saja!”
“Jangan bohong! Kau mau kan kupeluk? Unlimited hug lho!!”
“Kapan kau mulai bisa mengucapkan bahasa inggris? Aah kau—ckck.. aneh!!”
Sungje tertawa kecil. Ia mengambil jaket dari tasnya dan memakaikannya ke badan kecil Yoochan.
“Aku tidak butuh.” Yoochan mengembalikan jaket itu ke pemiliknya.
“Yeee aku ingin romantis kau malah menolak! Stok namja tampan tinggal sedikit! Dan kau mendapatkannya di sebelahmu.”
“Haishh.. dasar!”
Mereka berdua berjalan menuju rumah masing-masing. Kebetulan rumah mereka searah, jadi Sungje ingin ikut jalan.
“Acara untuk besok… jadi kan?” Sungje mengedipkan matanya.
“Acara apa?” Yoochan sudah lupa.
“Katanya kalau aku main kau mau beri aku hadiah!!”
“Bukannya kau yang ingin hadiah? Bukan aku yang memberi?” Yoochan tersenyum menggoda.
“Tuh kan kau jahat!” Sungje mendengus kesal.
“Kan memang kenyataannya begitu. Aku kan hanya ingin kau main!”
“Ah.. aku jadi menyesal main tadi!”
Yoochan tertawa keras. “Tenang aku masih ingat!! Memangnya sebegitu inginnyakah kau mau ke taman bermain?”
Sungje tersenyum malu. “Sebenarnya aku belum pernah kesana.”
“Mwoya?!!” Yoochan menggeleng heran. “Kau pasti bohong!”
“Memangnya semua orang harus pernah kesana?”
“Bukan begitu. Aku.. aku hanya heran kenapa orang kaya sepertimu tidak pernah kesana?”
“Memangnya orang kaya harus selalu kesana?”
“Aishhhh!! Bukan begitu!! Ahhh!! Susah berbicara denganmu!” Yoochan mendengus kesal.
“Jangan marah!!” Sungje menatap Yoochan dengan tatapan seperti anak kecil.
“HAHAHAHA…” Yoochan tertawa keras. “Aku berani bertaruh kau akan tertawa sendiri melihat wajahmu itu!! Ahahaha!!!”
Sungje menggaruk kepala belakangnya. “Kau sudah tertawa saja membuatku percaya.”
“Kau tidak lelah kan?”
“Tidak.”
“Kakimu?”
Sungje menggeleng. “Tidak juga.”
“Okay. Jadi aku tidak perlu takut kalau anak orang kuajak pulang dengan berjalan kaki malam-malam.”
“Kan aku yang memintamu jalan bersama!”
“Tumben sadar!”
Sungje menjitak kepala yoochan kesal.
“YA!!” teriak Yoochan kesal. Lalu mengejar Sungje yang sudah berlari lebih dulu.
CIIIIIIIIIIIIIIIT~~~ DUAGGGHHHH!!!!!
Blitz! Blank! Blitz! Blank!
Begitu seterusnya. Dunia Yoochan dipenuhi sinar yang sangat terang dan lubang hitam besar yang terus berganti setiap detiknya. Terbukti lagi kalau ia benar-benar pembawa sial. Kejadian setahun lalu terulang lagi. Tahun lalu kakaknya yang menjadi korban, dan sekarang temannya. Mungkin ini saatnya ia menerima eksekusi mati untuk kesalahannya.
“Kau temannya kan? Ayo ke rumah sakit!” pengendara yang menabrak Sungje membawanya ke rumah sakit dengan cepat. Sepanjang perjalanan Yoochan hanya diam. Tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Lagi-lagi Tuhan mengujinya.
“Ya tuhan…”

***

Semalaman Yoochan menunggu di rumah sakit. Menunggu Sungje yang masih diperiksa di ruang gawat darurat. Berkali-kali ia menyeka air matanya karena takut hari esok akan datang. Ia tidak siap menerimanya lagi.
Orangtua Sungje sudah di telpon. Mungkin sebentar lagi orangtuanya datang dan langsung menamparnya. Lalu bilang kalau ia adalah pembawa sial bagi anaknya. Lalu tidak mengizinkannya dekat dengannya.
Tapi kalau itu yang terbaik untuk Sungje, Yoochan rela kehilangannya. Rela kehilangan teman terbaiknya itu. Teman yang sudah ia seret ke dunianya. Teman yang belum pernah merasakan rasanya ke taman bermain.
“Dimana Sungje?” pertanyaan itu yang pertama kali dilontarkan seorang wanita berusia pertengahan 40-an, tapi masih terlihat cantik dan awet muda.
“Ada di dalam. Dia tidak kenapa-napa. Hanya luka gores. Bukan luka dalam.” Jawab sang dokter tenang.
Wanita itu langsung masuk ke dalam ruang inap Sungje bersama seorang pria yang sepertinya adalah suaminya.

****

Sung Eun menatap gadis itu dari kejauhan. Seperti pernah mengenal gadis itu. Tapi.. kapan? Dimana?
Sung Eun bukan murid di sekolah yang sama dengan Sungje, adiknya. Dan juga ia tidak sekelas dan tidak tahu menahu tentang orang yang dekat dengan adiknya.
Ah! Sekarang ia mulai ingat. Gadis itu gadis yang pernah ditabrak adiknya. Ah, bukan. Gadis yang saudaranya ditabrak Sungje. Gadis yang menangis sambil memeluk saudaranya. Gadis yang membuat adiknya berubah.
“Sungeun-ah! Kenapa kau masih disana? Adikmu ada di dalam! Mau menjenguk tidak?” ibunya memanggilnya.
“Ne, umma.” Sung Eun berjalan masuk ke kamar inap adiknya. Sesekali ia melihat gadis itu menyeka air matanya. Sepertinya ia menyukai Sungje..
“Sungje tidak minta dijemput tadi?” tanya ibunya mengintrogasi.
“Tidak.” Sung Eun mengotak-atik ponselnya. “Tidak ada telepon darinya.”
“Kenapa ia jalan malam-malam begini? Siapa yang mengajaknya?”
Sung Eun ingin menjawab. Tapi ia tidak bisa. Urusan pasti akan lebih panjang kalau ibunya tahu siapa yang menyebabkan Sungje begini.
“Aku curiga dengan gadis diluar. Yang menangis itu. Sambil melihat ke ruangan ini!”
Sung Eun mengangguk saja. Dia adik bintang basket tahun lalu!
“Wajahnya tidak seperti orang kaya,” komentar ibunya tajam.
Sung Eun menghela nafas. Dia memang bukan orang kaya.
“Kira-kira.. dia siapa ya?” ibunya bertanya sendiri sambil menggenggam tangan putra bungsunya.
Sung Eun menatap gadis itu dari dalam. Gadis itu masih tetap duduk diluar sana sambil mempertahankan kesadarannya. Dia adik bintang basket tahun lalu. Bintang basket yang ditabraknya tahun lalu, umma.

****

“Sungje oppa kecelakaan ya?”
“Katanya gara-gara jalan bareng si pembawa sial!”
“Ah kukira dia bukan pembawa sial lagi setelah itu!”
Bisik-bisik mulai terdengar di sekolah. Untungnya Yoochan memilih menghindari sekolah di hari ini dan memilih bersembunyi di rumah peninggalan orangtuanya.
Drrtttt… drrrttttt… drrrtttt…
Handphone yang kemarin ia tinggalkan bergetar. Seseorang meneleponnya.
‘Kau tidak sekolah? Kenapa?’
Kembarannya yang cerewet kembali meneleponnya. Yoochan menghela nafas. Memilih diam daripada jujur.
‘Yoochan-ah, bukannya kemarin Sungje bisa bermain dengan sangat bagus karenamu? Terus kenapa?’
Yoochan masih diam. Yoochun yang di Amerika sepertinya rela menghabiskan pulsanya hanya untuk menelepon kembaran tercinta.
‘Aku sudah dengar semuanya. Kau bodoh kalau begitu. Kenapa menghindari hari ini kalau hari esok masih ada?’
Yoochan menghela nafas. “Kau sudah tahu. Untuk apa kuberi tahu?”
‘Tapi kau bukan pembawa sial!’ Yoochun menarik nafas panjang. ‘Oke. Apa perlu aku ke Korea untuk mengurus ini semua? Mengurus bahwa kau bukan orang yang membuatku kecelakaan?’
“Aku tidak mempermasalahkan itu sekarang!”
‘Lalu apa?’
Yoochan menghela nafas. Lalu menceritakan semuanya. Menceritakan dari awal ia dan Sungje berteman. Lalu tentang pertandingan basket yang hampir kacau karena ia belum datang. Kemudian cerita menangnya tim SMA HakCha dan terakhir tentang kecelakaan itu. Walaupun jauh ia dapat merasakan banyak orang yang membicarakan di luar sana.
‘Baguslah dia mendapat balasannya.’
Yoochan mengernyitkan dahinya. “Balasan?”
‘Iya. Kau tahu kenapa dia susah payah mau ‘menyelamatkanmu’ dari sebutan ‘pembawa sial’? Dia bisa saja bilang kalau kau mengubah hidupnya. Tapi bukan! Sebenarnya dia hanya menutupi kesalahannya padaku.’
Yoochan makin bingung. “Maksudnya?”
‘Sungje yang menabrakku setahun lalu! Dia ingin orang-orang lebih memperhatikannya daripada aku. Aku pemain terbaik tahun lalu, dan Sungje ingin mengambil semuanya! Sungje ingin aku mati dan medali itu untuknya!’ Yoochun mendesah berat diluar sana. ‘Jauhi dia! Aku akan ke Korea hari ini juga.’
“Kuliahmu—“
‘Tidak usah pedulikan. Aku ingin MENJENGUK-nya sekarang.’ Yoochun tersenyum kecil dari Amerika. ‘Channie, kau tenang ya? Aku akan menyelesaikan semuanya.’
Sambungan internasional itu terputus. Yoochan belum melepaskan telepon genggamnya itu dari tangannya.
‘Sungje yang menabrakku setahun lalu! Dia ingin orang-orang lebih memperhatikannya daripada aku. Aku pemain terbaik tahun lalu, dan Sungje ingin mengambil semuanya! Sungje ingin aku mati dan medali itu untuknya!’
Kata-kata itu terus terngiang di telinganya. Ponsel Yoochan terhempas dari tangannya dan memantul seperti bola basket setelah jatuh dari kasur elastisnya.
“Jadi, apa artinya aku ini? Apa aku hanya media untuk ‘menghapus’ dosanya dari Yoochun? Apa arti ‘membahagiakan’ yang dimaksud Sungje waktu itu? Apa arti kata ‘Mianhada’ waktu itu?” pertanyaan itu belum menemukan jawabannya. Yoochan menjatuhkan dirinya di atas kasur empuknya. Air mata itu kembali tumpah. Tumpah bersama dengan pertanyaan-pertanyaan atas kejadian setahun lalu dan kemarin.

*****

TBC

Hahahaaaaaa jadi ga jelas !! Buat yang baca, makasih ya !! ^^
Buat yang komen, terima kasih banyak!! Dan buat yang RCL, neomu neomu neomu gomawoyo!! ^^ saranghae !!! saranghae buat yang selalu dukung saya !! ^^ *kalo ada v^^

–    Sung Je Kim Wife – #PLAK

6 thoughts on “Stupid Love (Part 3)

  1. VieLli

    Satu lagi ff bercast CSS yg menarik minat bacaku. Ceritanya sih umum tp krn mungkin aku suka gaya menulisnya jd nilai tambah penarik minat bacaku. Tp sayangnya pas sampek klimaks2 knp tbc dan gak berlanjut T,T Jd dibuat penaaaaaaaaaaaaaasaran -,-

    Reply
    1. LaillaMP Post author

      aku malah ngerasa ini ff terlalu menstrim genrenya jadi ga seru banget hahaha…..
      karna dokumen ff ini ilang kemakan virus dan saya lupa ceritanya gimana jadi…. discontinue for a while/? kkkk

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s