The Next Life (Sekuel Revenge) Part 2

Title : The Next Life (sekuel Revenge)
Genre : NC17, straight, romance, angst
Length : 2 of 3
Main Cast :
–    Park Yoo Chan
–    Kim Sung Je
Other Cast :
–    Park Yoo Rin
A/N : ini lanjutan dari sekuel revenge!! Hahaha… menuju ending. Nanti ada epilognya juga. Hahaha😄
Ada yang suka ceritanya? Kalo gue sih suka *secara gue ama sungje gitu yang maen *plak
Sekali lagi terima kasih bagi yang mau baca ^^
Saya kasih clue buat part terakhir, SAD ENDING!! #PemirsaKabur

***

<< previous

“Memangnya istrinya secantik apa? Sekaya apa dan sepintar apa? Kenapa lelaki seperti Sungje oppa menyukainya?”
“Umma akui. Dia tidak cantik, dan sepertinya tidak sekaya dan sepintar anak umma. Tapi dia bisa memberikan kebahagiaan untuk Sungje. Umma melihat sifat asli Sungje jika dekat dengannya. Sungje sangat nyaman berada di dekatnya.”
Yoorin menyambar kunci mobil dan langsung keluar kamar meninggalkan ibunya seorang diri. Hanya satu tempat yang ingin dikunjungi Yoorin. Tempat yang baginya sangat menenangkan. Pantai!
Yoorin membiarkan angin mengibas rambut panjangnya. Ia bersandar di sebelah mobil sedan hitamnya tanpa melakukan apapun. Dibiarkannya ponsel kesayangannya terus berteriak karena ada panggilan.
Pandangan Yoorin tiba-tiba teralih ke arah seorang lelaki bersama pasangannya yang sedang hamil. Mereka menautkan tangannya sambil tertawa riang. Nafas Yoorin naik turun ketika melihat sosok perempuan di sebelah lelaki muda yang tampan itu.
“arrrggghhhhhhh!!!!!” Yoorin memekik kecil sambil memukul badan mobil sedannya. “Sialan!! Aku tidak percaya istrinya tidak lebih dari aku!!”
Yoorin memfokuskan pandangan ke arah pasangan suami istri itu. Sungje—lelaki dambaannya—terlihat benar-benar menikmati waktunya bersama sang istri. Kadang-kadang ia menyipratkan air ke wajah istrinya yang memerah kena sinar matahari pagi. Dan setelah itu mengecup bibirnya berkali-kali. Sungje terlihat sangat tenang disitu.
“Lihat saja! Aku akan merebutnya!!” Yoorin masuk ke dalam mobil. Lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.

>> part 2 <<

Sungje dan Yoochan duduk di atas pasir putih pantai itu. Mereka menikmati kunjungan ke pantai hari ini. Pantai sangat sepi karena seharusnya hari ini hari kerja.
“Maaf kalau aku manja. Tapi hari ini aku benar-benar ingin terus bersamamu!” kata Yoochan dengan nafas tersengal.
“Gwaenchana.” Sungje berusaha mengatur nafasnya. “Aku juga ingin terus bersamamu.”
“Sungje?” panggil Yoochan.
“Ne, Channie?” Sungje menoleh ke sebelahnya.
“Hanya ingin memastikan kau masih ada atau tidak. Takutnya kau ke kantor lagi.”
Sungje menggeleng tegas. “Sudah kubilang aku free hari ini. Okay, kita mau kemana lagi?”
“Asalkan denganmu, terserah saja.” Yoochan menyandarkan kepalanya ke dada Sungje. Lalu menikmati sinar matahari pagi yang menghangatkan.
“Sepertinya kau perlu berjemur agar kulitmu tidak seperti mayat. Kadang-kadang aku bingung sekaligus iri, kenapa laki-laki sepertimu mempunyai kulit sebagus ini.” Yoochan mengelus tangan kiri Sungje.
“Aku juga bingung, kenapa perempuan sepertimu menjadi pilihanku?” Sungje menatap Yoochan jahil. Yoochan mendengus kesal sambil menjepit hidung mancung suaminya dengan kencang.

****

Besoknya…
“Mianhae, kau sering kutinggal.” Sungje mengecup dahi istrinya. “Mian..”
“Jangan meminta maaf terus. Sudah sana! Sudah jam 6.15. nanti kau telat lagi!” Yoochan menunjuk jam dengan jari telunjuknya.
“Masuknya kan jam 7.30. tunggu sebentar lagi ah..”
Yoochan terkekeh geli. “Mau menunda? Ckck.. presdir Kim bisa menunda waktu ternyata!”
Sungje meminum segelas susu yang ada di meja sampai habis. Setelah itu ia berpamitan pada Yoochan.
“Joshimae! Jangan lupa makan!” teriak Yoochan sambil melambaikan tangan.
Sungje hanya mengirim senyum dan melambaikan tangan. Lalu ia pun hilang seiring dengan tertutupnya pintu apartemennya.

***

“Annyeonghaseyo, Direktur Kim!” sapa beberapa karyawan yang sudah datang setelah direktur muda itu datang.
“Ne, annyeonghaseyo..” Sungje membalas sapaan itu sambil menunduk hormat. “Terima kasih sudah mau datang pagi.”
“Ah presdir! Kami kan memang biasa datang pagi-pagi!” seorang dari mereka tersenyum geli.
“Jangan panggil aku presdir dulu. Aku belum terlalu tua untuk dipanggil presdir.” Sungje tertawa kecil. Lalu melanjutkan perjalanan ke ruangan khususnya.
“Waah presdir terlihat senang sekali!” ujar sekretarisnya sambil menatap Sungje dari atas rambut sampai ujung kaki.
Sungje terkekeh kecil. “Berapa kali harus kubilang aku belum siap dipanggil presdir.”
Sekretarisnya ikut terkekeh kecil. “Direktur, kemarin nona Yoorin datang. Dia menanyakanmu.”
Sungje jadi ingat tentang panggilan dan SMS dari Yoorin. “Apa dia meminta nomorku?”
Sekretarisnya mengangguk. Sungje hampir menonjoknya kalau ia tidak ingat sekretarisnya itu perempuan.
“Tapi saya mengargai privasi Direktur. Aku tidak memberikannya.” Kata sekretarisnya seakan mengetahui isi pikiran Sungje.
“Oh. Syukurlah.” Sungje menghela nafas lega. “Tapi darimana ia dapat nomorku?”

***

Yoorin mengambil iPhone yang tergeletak di meja riasnya. Ia sudah mendapatkan nomor langka istri presdir muda di perusahaan HanaKimi itu.
“Kira-kira kutelepon tidak ya? Kusuruh janjian ke tempat yang jauh biar kecapekan, terus keguguran! Pasti Sungje oppa langsung meninggalkannya!!”  senyum sinis disunggingkan Yoorin.
“Yoorin-ah, makan dulu nak!” teriak ibunya dari dapur.
Yoorin mengangguk. Ia meninggalkan iPhone-nya untuk sarapan. Dan juga untuk menyiapkan sarapan untuk pujaan hatinya di kantor HanaKimi Company.
“Umma, siapkan untuk Sungje oppa ya!” pinta Yoorin lembut.
Ibunya mengangguk. Sebenarnya ia tahu, kalau Sungje tidak akan memakan apapun yang diberikan putri satu-satunya itu.

***

Drrttt… drrtttt… drrrttt…
10 menit sebelum rapat dimulai. Banyak SMS yang datang ke ponselnya. Sungje terus berkutat pada iPhone-nya itu.

From : My Yeobo-Chan~

Presdir, sudah siap dengan rapat hari ini? Good luck ya!! Fighting!! ^^

Sungje tersenyum senang melihat SMS itu. Kemudian iPhone-nya bergetar lagi. Sungje berharap ini dari Yoochan lagi. Tapi…

From : (no name)

Oppa, hari ini ada rapat kan? Aku akan datang untuk mengantarkan makan siang. Fighting untuk rapat hari ini!! ^^

Sungje mendengus kesal. Walaupun tidak terdaftar dalam daftar kontaknya, Sungje sudah tahu kalau itu Yoorin, gadis belia yang mengejarnya. Sungje lalu menghapus SMS itu. Dan berjalan ke ruang rapat. Ia tidak mau terlambat.

***

Krieeeettttt….
Sungje terkejut melihat kursi putarnya mengarah ke belakang. Tapi ia bisa menguasai diri dan bersikap berwibawa seperti biasa.
“Oppa, aku menunggumu dari 2 jam lalu.” Yoorin, gadis itu memutar kursi ke arah Sungje.
Sungje mengangguk. “Ada yang bisa kubantu?” tanyanya dingin.
“Aku tidak suka melihat pria muda sepertimu selalu serius. Memangnya tidak ada kata ‘main’ dalam otakmu?”
Sungje menggeleng. “Kalau tidak ada urusan penting, mohon angkat kaki dari ruangan ini.”
Yoorin menghela nafas. Ia bangkit dari bangkunya dan mendekati Sungje. Sungje masih berdiri dengan tegaknya, ditemani wajah dingin nan mencekamnya.
“Oppa—“
“Berhenti panggil aku oppa.” Kilah Sungje langsung.
“Kau masih muda. Kau mau kupanggil ajusshi?” Yoorin mencoba mencairkan suasana.
“Aku sudah 29 tahun, dan aku sudah punya istri. Sebentar lagi aku akan punya anak. Jadi, bisakah kau tidak menggangguku?”
Yoorin memasang wajah kecewa. Tapi kemudian ia tersenyum. “Aku rela kau jadikan aku wanita ke-seribu. Oppa, jebal!”
Sungje menggeleng. “Aku sudah beberapa kali menonton drama, kata itulah yang diucapkan seorang gadis yang masih mengejar pujaan hatinya yang mempunyai pasangan.” Sungje berhenti sejenak. “Tapi aku yakin, aku hanya menjadikan Yoochan sebagai yang pertama dan terakhir.”
“Oh.. jadi namanya Yoochan?” Yoorin mulai memasang wajah sinis. “Aku sudah mendapatkan nomornya. Jadi, aku bisa dengan mudah mengerjainya.”
Sungje hampir menampar gadis itu, kalau saja tidak ada sekretarisnya yang memberikan hasil rapat tadi.
“Jangan ganggu dia. Atau kau akan celaka!” desis Sungje. Ia lalu keluar. Meninggalkan Yoorin dan sekretarisnya berdua.

***

“Presdir Park!” panggil Sungje pada seorang pria parubaya yang sedang berjalan ke limousinnya.
Presdir Park menoleh dan tersenyum. “Ne?”
Sungje berlari menghampiri presdir tua itu. “Boleh saya meminta sesuatu dari anda?”
Presdir Park tidak jadi masuk ke limousin-nya. “Kau butuh dana berapa? Biar aku yang tanggung semuanya. Kita kan sudah bekerjasama.”
Sungje menggeleng tegas. “Bukan masalah pekerjaan,” Sungje menelan ludahnya untuk meringankan bicaranya. “dengan penuh rasa hormat, saya meminta anda untuk menjaga putri anda. Atau saya tidak akan menjanjikan keselamatan baginya.”
Presdir Park terkesiap kaget. Ia sudah tahu sifat Sungje yang akan langsung bertindak kalau ia tidak nyaman. “Tapi kenapa?”
Sungje menghela nafas. “Putri anda sudah mengganggu kenyamanan saya dan istri saya. Saya mohon dengan amat sangat, jaga dia. Aku tidak mau ia celaka karena saya.”
Presdir Park menggeleng bingung. Ia lalu memasuki kendaraan mewahnya dan pergi tanpa mengucapkan salam perpisahan. Sungje kembali masuk ke kantornya.

***

“Presdir Kim mana?”
“Ya! Kalau ketahuan kau memanggilnya presdir bisa marah dia! Daritadi mood-nya tidak bisa ditebak.”
Bisikan halus terdengar diluar ruangan khusus direktur yang dirancang khusus untuk kenyamanan sang direktur yang baik hati itu bekerja.
“Anak presdir Park itu terlalu agresif ya. Direktur sudah punya istri tetap saja dikejar!”
“Iya. Ckck.. Sudah bosan hidup sepertinya!”
Sungje keluar dengan wajah yang tidak secerah tadi pagi. Semua karyawan tidak berani menyapanya. Sungje juga tidak berniat menyapa mereka duluan. Tanpa berpamitan seperti biasa, Sungje angkat kaki dari kantor megahnya.

From : My Yeobo-Chan~

Aku merasa ada aura tidak mengenakkan di dirimu. Ada apa, suamiku? Bisa kau ceritakan kan?

SMS dari Yoochan membuatnya kembali tenang. Ia kembali bisa tersenyum walaupun lelah dan takut. Takut kalau istrinya akan diganggu Yoorin.

To : My Yeobo-Chan~

Nanti aku akan ceritakan dirumah. Buatkan aku teh hangat ya? Aku benar-benar tidak bisa melakukan apa-apa sekarang.

Sungje menambah kecepatan mobilnya agar bisa sampai di rumah dengan cepat.

***

“Berapa kali sudah kubilang kalau kau tenang saja?” Yoochan membuatkan teh hangat untuk yang kedua kalinya. “Aku bukan wanita bodoh. Aku bisa mengatasinya.”
Sungje harusnya menyadari itu. Tapi ketakutan itu membuatnya buta akan semua kemampuan yang dimiliki Yoochan.
“Oke kalau dia tidak mengancammu lewat telepon. Tapi sebentar lagi dia pasti tahu dimana tempatku tinggal.” Sungje menggeleng frustasi. Ia menarik rambutnya. “Aku takut dia—“
Yoochan menyandarkan kepalanya ke pundak Sungje sambil menggenggam tangannya. Memberikan kehangatan dan kekuatan yang meredup karena ketakutannya.
“Kau sedang hamil. Aku takut kau kenapa-napa. Aku benar-benar takut sekarang!!”
Yoochan menghapus air mata yang turun dari pelupuk mata suaminya. “Memangnya kalau aku sedang hamil kenapa? Selama kau ada dan cerewet diluar sana kalau sedang pergi jauh aku tenang kok. Lihat, aku baik-baik saja kan? Bayi kita juga tidak apa-apa.”
Sungje terus menghapus air matanya yang selalu jatuh tanpa bisa dibendungnya.
“Aku juga pernah merasa seperti Yoorin. Mencintai seseorang tapi ternyata cintaku bertepuk sebelah tangan. Aku terus berusaha mendapatkannya dengan cara apapun. Tapi nyatanya aku tidak kuat. Aku jatuh dan menyerah begitu saja. Lalu kau datang dan memberiku semuanya.” Yoochan berusaha menenangkan suaminya. “Aku yakin dia pasti juga akan begitu.”
Sungje mengangguk. Air matanya perlahan berhenti. “Aku mandi dulu ya. Rasanya lengket sekali. Aku juga mengantuk.”
Yoochan mendesah lega melihat Sungje kembali seperti semula. Ia bisa tersenyum lagi dan berjalan santai.
“Aku sangat mencintaimu, Sungje-ah..” gumam Yoochan. Ia lalu mengambilkan satu stel pakaian tidur untuk suaminya.

***

Di kediaman keluarga Park…
Park Jae Hee menatap tajam ke arah putrinya, Park Yoorin. Lee Young In, istrinya mencoba menenangkannya dengan menatapnya lembut. Namun suaminya itu belum bisa luluh.
“Kau tahu, masa depan perusahaan kita ada di tangannya!! Masa depanmu juga! Kau mau berhenti kuliah dan miskin?!” Park Jae Hee membentak pelan anaknya.
“Yeobo—“
“Kalau kau terus mengganggunya, bisa-bisa hancur perusahaan kita! Kita sudah banyak dibiayai!”
Yoorin menunduk takut. Sebelumnya ia tidak pernah dimarahi ayahnya. Karena ia anak tunggal, ia bisa bebas melakukan apa-apa. Tapi sekarang sepertinya masalahnya sangat serius.
“Appa mohon, tinggalkan Sungje! Jangan ganggu dia lagi. Kasihan. Dia masih muda. Kalau pikirannya dipenuhi masalah bisnis, keluarga, ditambah lagi denganmu, dia bisa mati muda!”
“Bukannya baik kalau dia mati muda? Perusahaannya bisa diambil alih appa dan appa bisa tambah kaya?” Yoorin mencoba ‘melawan’ kata ayahnya.
“Yoorin-ah, sudah!” ibunya menenangkan putrinya. “Yeobo, kau masuk ke kamar. Masalah ini akan kubicarakan dengan Yoorin.”
Park Jae Hee merasa beruntung mempunyai istri seperti Lee Young In. Ia menuruti perkataan istrinya dan masuk ke dalam kamar. Kalau diingat-ingat ia sudah lama tidak tidur di kasurnya.

*

“Yoorin-ah, kau dengar kata appamu tadi?” Lee Young In membuka pembicaraan antara ibu dan anak.
Yoorin mengangguk lesu.
“Kau mau menjauhinya?”
Yoorin diam. Ia sudah tahu kalau Sungje sudah punya istri, dan ia melihat dengan mata kepala sendiri, Sungje benar-benar menikmati waktunya dengan wanita itu.
“Sekarang kau renungkan sendiri apa yang harus kau lakukan.” Lee Young In bangkit dari tempat duduknya. Lalu mengikuti jejak suaminya yang sudah lebih dulu ke kamarnya.
Yoorin kini sendiri. Bersama dengan barang-barang mewah dan udara beserta materi-materinya. Yoorin berusaha merenungkan. Tapi yang ada dipikirannya hanya itu. Keputusannya sudah bulat!

***

# 5 bulan kemudian

“Tuh kan! Lama-lama pasti dia diam. Kau tenang saja, suamiku sayang!!” Yoochan tersenyum senang melihat wajah Sungje yang tidak pernah absen tersenyum 5 bulan ini. Selain karena Yoochan akan melahirkan dan ia akan punya anak perempuan—menurut hasil USG—‘pengganggu’ mereka juga sudah lama tidak menampakkan batang hidungnya.
“Sebulan lagi aku akan punya anak perempuan. Pasti dia cantik sepertimu!” Sungje mengelus perut istrinya terus-terusan. Lalu mencium bibir Yoochan berkali-kali.
“Ah aku tidak sabar!! Kau mau menamakan siapa?” Sungje mulai cerewet seperti biasa.
“Terserah. Aku ikut denganmu saja.” Kata Yoochan sambil mengelus perutnya yang tambah membesar.
“Aku mau bolos ah. Hihihi.. sudah 8 bulan.” Sungje terlihat senang sekali. Berkali-kali mengajak anaknya ‘berbicara’. Yoochan tersenyum tulus melihatnya senang. Ia berjanji tidak akan pernah membantah ucapan suaminya. Pasti itu yang terbaik untuknya. Yoochan ingin Sungje menggendong bayinya ini dengan senyum manisnya yang mengembang.
“Aku penasaran, nanti dia akan cantik sepertiku atau sepertimu ya?” Yoochan terkekeh geli dengan ucapannya.
Sungje tertawa kecil. “Aku kan tampan!! Waktu itu kau bilang aku tampan.”
“Iya.. iya.” Yoochan pasrah.
“Ada tidak ya alat pengukur cinta?” ujar Sungje tiba-tiba. Yoochan kaget, sejak kapan Sungje bisa ngegombal?
“Memangnya kalau ada kenapa?”
“Mau mengukur, berapa cinta yang kuberikan dalam sehari, dan berapa cinta yang kuterima dalam sehari. Kenapa aku merasa semuanya bercampur dan menjadi besar, seperti mau meledak. Ahhhhh… aku gila!!!”
Yoochan terkekeh pelan sambil mengelus rambut Sungje yang berada di pangkuannya. Sungje sudah memakai baju khas orang kantoran sekarang. Tapi Sungje sudah tidak berniat untuk masuk kantor.
Drrttt… drrtttt… drrrtttt…
Sungje mengambil iPhone-nya di dalam saku jas. Lalu membaca SMS yang tertera disana. Ia berharap bukan dari Yoorin.

From : Presdir Park

Direktur Kim, kami sekeluarga mau mengajakmu dan istrimu untuk makan malam hari ini. Apakah anda bersedia datang?

Yoochan melirik sebentar ke arah iPhone suaminya yang membuatnya diam dan tidak berkutik. Mereka berdua sama-sama menghela nafas.
“Aku tidak mau ikut!” kata Yoochan dengan sangat yakin. Ia tidak tahu kenapa sekarang bisa membaca isi otak Sungje.
“Kenapa? Sepertinya mereka mau berdamai.” Sungje bangun dari pangkuan Yoochan yang tadi ia jadikan bantal.
“Kau saja yang datang. Aku tidak keberatan di rumah.” Nada bicara Yoochan menjadi ketus, tidak seperti biasanya.
“Ya sudah aku tidak akan datang.” Sungje memeluk Yoochan. Lalu mengecup puncak kepalanya. “Aku berangkat. Tidak apa-apa kan?”
Yoochan mengangguk. “Aku sudah hampir 2 tahun menjadi istrimu. Aku tidak pernah melarangmu pergi kemana-mana kan? Bahkan kalau kau mau selingkuh aku pun menerimanya.”
“Kenapa kau mengatakan itu?!”
Yoochan tersenyum jahil. “Karena aku percaya kau tidak bisa selingkuh dariku.”

****

Yoorin terus mondar-mandir di sekitar kamarnya. Pandangannya mengarah keluar jendela. Sudah malam. Tapi belum ada satu mobil pun datang ke rumahnya.
Sebenarnya kedua orangtuanya sudah bilang Sungje tidak akan datang karena harus menjaga istrinya di rumah. Lagi-lagi istrinya! Sungut Yoorin kesal.
Yoorin menghindar dari Sungje 4 bulan ini karena ia ingin mencoba menghilangkan rasa cintanya pada Sungje. Tapi entah kenapa rasa itu mulai timbul lagi.

“Ironna omoi ga afureru dasu “ima” dakara
tsutaetai kimi ni….”

iPhone Yoorin memutarkan lagu for you dari choshinsei. Ada telepon masuk. Yoorin langsung mengambilnya tanpa melihat siapa yang menelponnya.
‘Aku sudah tahu,’ kata orang diseberang itu dengan yakin. Lalu memberitahukan semua yang di dapatkannya tentang apa yang ingin diketahui Yoorin. Senyum licik tersungging lagi di bibirnya.

***

“Kau ikut ya? Aku mau ke Korea dua hari.” Sungje mencoba membujuk Yoochan.
“Tidak bisa, Sungje-ah. Kau lihat kan perutku bertambah besar? Memangnya mudah membawanya kemana-mana?”
Terlihat gurat kekecewaan di wajah Sungje. Tapi Yoochan benar-benar tidak mau merepotkan Sungje di Korea nantinya. Ia juga ingin melupakan semuanya. Melupakan masa lalunya yang kelam di Korea.
“Aku akan suruh bibi Aya kesini menemanimu. Otte?” Sungje mengusap air mata yang menetes di pipi Yoochan. “Dia bisa kok bahasa Korea. Kau tidak perlu susah-susah belajar bahasa Jepang.”
Yoochan memeluk Sungje. Ia tidak tahu kenapa perasaannya sekarang bercampur aduk. Antara sedih, takut dan tidak rela ditinggal sendiri. Ia ingin ikut, tapi masa lalunya menghalanginya. Kalau ia tetap disini, ia takut. Takut sesuatu yang tidak diinginkannya terjadi.
“Kau harus bersabar punya suami orang sibuk sepertiku. Bukannya kau yang pernah bilang begitu?” Sungje juga menitikkan air mata. “Aku akan pulang cepat. Aku usahakan besok bisa pulang.”
Yoochan tidak mau melepaskan pelukan ini. Padahal 30 menit lagi pesawat yang akan ditumpangi Sungje lepas landas.
“Aku takut. Aku tidak tahu kenapa. Aku takut. Hiks..”
Sungje mengusap punggung Yoochan. “Tenang. Aku tidak jadi saja. Aku batalkan—“
Yoochan menggeleng. Ia merenggangkan pelukannya. “Tidak perlu. Aku akan menjaga diri. Kau hati-hati ya.”

****

“Appa mau ke Korea?” tanya Yoorin pada ayahnya.
“Iya, sayang.” Park Jae Hee menjawab sambil mengaitkan kancing kemejanya. “Kau mau ikut?”
“Apa Sungje oppa ikut?”
Park Jae Hee mengangguk. “Tentu saja.”
Yoorin mengangguk senang. “Ok. Apa umma juga ikut?”
“Pasti. Umma kan menemani appa disana.”
Senyum Yoorin makin mengembang. “Ya sudah. Pesawatnya sudah mau berangkat kan? Appa tidak takut terlambat?”
Park Jae Hee melihat ada kejanggalan dalam ekspresi Yoorin. Tapi ia tidak berusaha menerka lebih dalam apa yang akan dilakukan putri semata wayangnya itu.
“Ya sudah. Appa dan umma berangkat. Awas jangan melakukan apa-apa!” Lee Young In mengecup pipi anaknya.
“Ne umma. Annyeong!!”
Setelah kepergian kedua orangtuanya, Yoorin langsung berlari ke kamar. Ia mencari secarik kertas. Kertas itu adalah alamat apartemen Sungje.

Takagi Tower, lt 12 no.45, Tokyo

***

Tepuk tangan meriah mengakhiri rapat di hari itu. Sungje tersenyum penuh kebahagiaan menyadari rapat ini sudah berakhir dan respon para pengusaha yang memujinya terus-terusan.

From : My Yeobo-Chan~

Presdir, sudah makan belum? Hayoooo jangan lupa!!😛

SMS itu membuat Sungje makin mengembangkan senyumnya. Perutnya tiba-tiba berbunyi pelan. Sudah lewat jam makan siang. Dan Sungje sama sekali belum menyentuh makanan. Bahkan minuman sekalipun.
Perlahan orang-orang yang mengikuti rapat sudah keluar dari ruangan. Tinggal Sungje dan Presdir Park saja yang masih bertahan di tempat itu.
“Sungje-ssi,” panggil Presdir Park.
Sungje menoleh dari iPhone-nya. “Ne?”
“Kau… baik-baik saja kan?”
Sungje mengernyitkan dahi. Bingung maksud petanyaan Presdir Park. Mungkin karena dari tadi ia tersenyum sambil menatap iPhone-nya.
“A-aku baik-baik saja.” Sungje tersenyum malu. “Ada apa?”
Presdir Park menggeleng. Entah kenapa perasaannya tidak enak melihat Sungje. Entah kenapa juga pikirannya melayang ke Yoochan, istri presdir muda itu.
“Istrimu?” Presdir Park mencoba mencairkan suasana.
Sungje menghela nafas. “Dari SMS yang dikirimnya, sepertinya ia merindukanku.”
“Oh..” Presdir Park mengangguk. “Jaga dia ya.” Ia lalu pergi. Meninggalkan sejuta pertanyaan di otak Sungje.

To : My Yeobo-Chan~

Jaga dirimu. Jangan memaksakan diri kemana-mana. Dan jangan buka pintu pada orang yang tidak kau kenal!

Ada perasaan tidak enak dalam diri Sungje ketika mengrim SMS itu. Sungje lalu mematikan iPhone-nya dan mengisi perutnya yang sudah kosong.

***

TING NONG
Ada yang memencet bel apartemennya. Yoochan berjalan tertatih menuju pintu depan. Tapi dihalangi bibi Aya yang diutus Sungje untuk menjaganya.
“Nona duduk saja. Biar saya yang membukakan pintunya.” Kata Bibi Aya.
Yoochan mengangguk. Ia kembali berjalan ke sofa depan TV sambil menunggu kedatangan bibi Aya kembali.
“Ada yang memberikan ini.” Bibi Aya memberikan bungkusan itu pada Yoochan. “Katanya dari perempuan, teman nona.”
Yoochan mengangguk. “Oh, arigatou.”
Bibi Aya kembali ke dapur. Yoochan membuka bungkusan itu. Ada dua tumpuk kotak bekal berwarna kuning. Yoochan mengernyitkan dahi. Ia sebenarnya takut membuka kotak bekal itu. Tapi akhirnya dengan rasa penasaran yang amat sangat besar ia membuka kotak itu dari atas.
“AAAAAAAA!!!!!!!!!!!!!!!”

****

“AAAAAAAAA!!!!!!!!!!!!” Sungje berteriak kaget ketika seorang yeoja bersama anjingnya berlari.
“Mianhae! Jeongmal mianhae!!” ucap yeoja itu sambil menunduk hormat. Ia lalu pergi.
Sungje merasakan detak jantungnya yang tidak normal. Bukan. Bukan karena ia menyukai yeoja yang tadi menabraknya. Tapi karena—
Ia sendiri juga tidak tahu. Baru kali ini Sungje berteriak seperti itu di depan umum, selain dengan Yoochan di sampingnya. Tubuhnya bergetar. Sungje menjatuhkan mocca float yang dipegangnya. Dan ia jatuh terduduk di bangku taman kota Seoul.
“Presdir kenapa?” tanya salah satu karyawan yang ikut dalam kunjungan kerja di Seoul.
Sungje masih berusaha mengatur nafas. Pikirannya kalut. Entah kenapa perasaannya benar-benar tidak enak.
Karyawannya bingung. Tapi ia tidak berani bertanya langsung. Tidak mungkin bos besarnya ini baik-baik saja. Kalau ia baik-baik saja, pasti ia sudah dimarahi karena tidak sengaja memanggilnya “presdir”
“Direktur Kim!!!” teriak beberapa orang yang baru keluar dari kantor. Terlihat gurat kekhawatiran dari wajah mereka.
“Direktur, ada apa?” sekretarisnya berteriak panik. “Kenapa tidak membawanya ke rumah sakit?!! Cepat!!!!”
Sungje menggeleng. “Aku… tidak apa-apa…”
Semuanya langsung berhenti panik.
“Aku… tidak.. apa-apa….” Dan Sungje pun kehilangan kesadarannya.

***

Wanita berusia 50-an itu terus berjalan mondar-mandir di koridor rumah sakit. Ia sangat menyesal karena menerima bungkusan yang seharusnya tidak diterimanya. Bungkusan itu berisi puluhan cacing hidup dan juga nasi basi.
Yutaka Aya—nama wanita itu—terus menelpon seseorang yang paling dekat dengan Yoochan. Tapi dari tadi tidak ada yang mengangkat teleponnya. Baru setelah panggilan ke-9 ada yang mengangkat teleponnya.
‘Maaf kalau saya lancang menjawab telepon Direktur Kim. Ada yang bisa saya sampaikan pada Direktur Kim?’ perempuan diluar sana menjawabnya dengan bahasa Jepang.
“Tolong sampaikan pada Direktur Kim,” suara Yutaka Aya bergetar. “istrinya di Rumah Sakit.”

***

Park Yoorin tersenyum senang mendengar berita bahwa istri presdir Kim langsung dilarikan ke rumah sakit setelah membuka bungkusan yang diberikannya. Tentu saja hanya satu tujuannya, membuat Sungje tahu perasaannya.
Drrrttttt….
iPhone-nya bergetar. Satu SMS masuk dari ayahnya.

From : Appa

Yoorin-ah, adakah yang terjadi disana?

Yoorin mengernyitkan dahinya bingung. Ia tidak tahu maksud pertanyaan ayahnya itu. Tapi sepertinya mengarah pada hal ‘itu’.

From : Appa

Kau tidak melakukan apa-apa pada Yoochan kan?

SMS lagi dari ayahnya yang datang untuk kedua kalinya sebelum Yoorin balas. Kemudian ayahnya meng-SMS lagi.

From : Appa

Cepat balas! Kau melakukan apa pada Yoochan?! Kau tahu disini Sungje mengigau tentangnya terus!!

Yoorin mematikan iPhone-nya. Ia jatuh terduduk di atas kasur empuknya. Ia berteriak kesal bercampur marah. Kenapa ayahnya sekarang lebih membela Yoochan? Bukan Yoorin—anaknya?

****

TBC

Mohon mian (?) kalo ceritanya jelek atau apalah. Gue kan masih belajar (><) kkk
Leave some comments ya kalo mau😀 dan leave some pray biar gue masuk ke SmakTi. Walaupun nanti gue Cuma bisa bikin ff sekali sebulan (>,<)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s