Time To Love (Part 8)

Title : “Time To Love” *ga tau dah ni nyambung apa kagak ==”
Genre : comedy (?), romance (?), family, shonen-ai, yaoi, mpreg, little angst *nambah lagi
Length : ga banyak-banyak (?)
Rate : PG 15 (?)
Cast :
–    park geonil *Cho Shin Sung*
–    kim sungje *Cho Shin Sung*
–    other Cho Shin Sung members~
Summary : Sungje merasa ia sudah menyukai Geonil. Tapi kadang ia bimbang, sebenarnya siapa yang ia cintai? Jihyuk atau Geonil? Dan siapakah yang bisa menghapus kutukan itu dan hidup bersamanya? *summary berganti
Disclaimer : all cast in this ff is belong to me *digaplak* and the story also mine. Jadi kalo ternyata ada ff yang mirip ama ff ini, itu bukan kesengajaan ^^
A/N : otte??? Seru gak part 7-nya??? Hehehe… #ketawabodoh
Ga kerasa udah part 8 aja yah ==a ada yang bosen?? Pastinya!! Kalo bosen ya dihentikan saja, saya juga ga nuntut buat baca sampe akhir. kkk
Semoga part ini lebih seru lagi~ mohon dimaafkan kalau ada typo atau kesalahan lainnya *bow again with choshinsung members~

****

<< previous

“Geonil kemana sih?!! Jangan-jangan dia pacaran lagi! Selingkuh padahal udah punya istri!! Geoniiiiiiiiil, kalau ketahuan mati kau!!!” gumam Sungje dongkol. Ia menunggu di sofa ruang tamu.
Sudah satu jam lebih Geonil belum pulang. Padahal janjinya 30 menit lebih sedikit. Sungje memukul-mukul sofa saking kesalnya.
DUGGG!!!
Pintu dibuka paksa oleh seseorang. Sungje terlonjak kaget. Untungnya tidak sampai berteriak histeris. Di depannya sudah berdiri Geonil dengan wajah yang menyeramkan, seperti ketika Sungje membuka album foto yang berisi foto kecilnya.
Sungje kira ia akan menerima ungkapan marah Geonil. Tapi ternyata Geonil malah berlutut. Air matanya mengalir deras. Ia memohon,
“Tinggalkan Jihyuk. Sungje-ah, tinggalkan dia! Kumohon..”

>> part 8 <<

Sungje tidak bisa mempergunakan otaknya sekarang. Semua saraf yang terhubung dengan otak tidak bisa bekerja sempurna. Sungje bingung.
Geonil datang dengan wajah yang ditekuk, lalu berlutut sambil menangis dan memohonnya untuk meninggalkan Jihyuk. Sebenarnya kenapa????
“Geonil-ah..”
“Tinggalkan Jihyuk, jebal!!” Geonil masih berlutut sambil menangis.
Sungje menghapus air matanya yang tiba-tiba menetes. Ia menyuruh Geonil untuk menatapnya.
“Geonil-ah,” akhirnya Sungje ikut berlutut dan memeluk Geonil. “Aku…”
“Jebal, akan kubantu kau untuk melupakannya? Otte?” Geonil menatap kedua mata Sungje. Di matanya tersirat bahwa Geonil benar-benar ingin melakukannya.
“Tapi kenapa? Bisa kan kau beritahu aku kenapa?” Sungje hampir kehabisan kesabaran karena Geonil selalu setengah-setengah dalam berbicara.
Geonil menggeleng. “Aku tidak mau kau tahu sekarang.”
Sungje melepaskan pelukannya. “Kenapa?! Geonil-ah, bisakah kau bilang sekarang?! Aku benar-benar bingung denganmu. Kau selalu berbicara setengah-setengah. Geonil—“
Geonil tersenyum kecil. Lalu menempelkan jari telunjuknya ke bibir Sungje yang masih ingin berbicara. “Asalkan kau berjanji untuk tidak stres. Ini berpengaruh pada kandunganmu.”
Sungje mengerucutkan bibir. “Terserah.”
Geonil menghapus air mata Sungje. Kemudian air matanya. Ia mencoba tersenyum walaupun ada rasa sakit di hatinya. Sungje langsung memeluknya. Geonil balas memeluknya lebih erat.
“Tanpa kau sadari, sebenarnya aku hampir melupakan Jihyuk karenamu. Dan tanpa kau sadari juga, kau mengingatkanku kembali padanya.” Sungje melepaskan pelukannya. Menatap Geonil dengan matanya yang selalu memancarkan kebahagiaan.
“Berarti seharusnya aku tidak mengatakan itu tadi? Aishh!! Kenapa aku bodoh sekali?!” Geonil memukul kepalanya kesal.
Sungje mengelus rambut Geonil sayang. Lalu mencubit pipinya yang sering menggembung kalau sedang kesal. Geonil berteriak kaget. Tapi wajahnya memerah menerima sentuhan itu.
“hahaha…” Sungje tertawa keras melihat raut wajah Geonil. Tiba-tiba Sungje merasa ingin menyentuh bibir Geonil. Tapi..
“Mau jalan-jalan? Kau pasti bosan Cuma diam di rumah. Iya kan?”
Sungje mengangguk. Untuk sementara ia melupakan kejadian tadi.

***

“Aku mau yoghurt itu!!” Sungje menunjuk sebuah toko yoghurt yang tidak terlalu ramai pengunjung.
“Yakin?”
Sungje mengangguk. Matanya berbinar.
“Tidak akan mogok makan setelah muntah?”
Sungje menendang kaki panjang Geonil. Geonil tertawa keras melihat raut wajah Sungje yang tidak pernah berubah setelah digoda Geonil.
“Yoghurt 1!” ujar Geonil pada penjual yoghurt itu.
“Nee..” penjual itu memberikan yoghurt itu pada Geonil sambil tersenyum manis.
“Gamsahamnida.” Geonil memberikan yoghurt itu pada Sungje.

*

“Marah lagi..” Geonil mendengus kesal melihat raut wajah Sungje yang ‘pedas’ setelah Geonil diberi senyum oleh seorang lelaki cantik.
“Lagian kau balas senyum juga!!” jawab Sungje dongkol. Ia menyeruput yoghurtnya.
“Kan tidak sopan kalau tidak balas.”
“Tapi tidak usah semanis itu bisa kan!!”
Geonil tersenyum. Dalam hati benar-benar senang. Akhirnya Sungje melihatnya. Melihat senyumnya dan mengakui kalau senyum itu manis.
“Senyumku manis ya?”
Wajah Sungje memanas. Ia menelan yoghurt yang tersisa dan mencoba memalingkan wajah dari Geonil.
“Tidak usah takut bilang. Aku memang manis kan?” Geonil berkata narsis.
“Iya cerewet! Kau manis. Puas?”
Geonil mengamit tangan Sungje. Lalu menggandengnya erat sambil terus berjalan dan tersenyum. Mereka menjadi pusat perhatian di taman bermain itu.
“Geonil-ah, aku lelah!” Sungje berkata dengan raut wajah manja. Geonil tersenyum geli dan mencoba untuk tidak mengecup bibir merah Sungje. Nanti acara jalan-jalannya malah hancur hanya gara-gara Geonil menciumnya sekilas seperti waktu itu.
“Ya sudah. Kita duduk disitu saja. Kau mau kubelikan apa?” tanya Geonil sambil menuntun Sungje ke satu bangku di taman itu.
“Tidak usah. Mau duduk didekatmu saja.”
DEG
Geonil speechless lagi. Ia coba untuk tersenyum walaupun itu berat. Bukan karena Geonil tidak mau duduk disampingnya. Tapi karena jantung Geonil yang tidak bisa diatur detak jantungnya.
Sungje menyandarkan kepalanya di pundak Geonil. Lalu menggenggam tangannya yang terasa dingin. Sungje tersenyum senang merasakan ketegangan Geonil.
“Kau tegang ya? Baru pertama kali ya kupegang begini?”
Geonil menggeleng. “Tidak.”
“Jangan takut bilang! Kau gugup kan kupegang begini?”
Geonil tetap menggeleng. “Tidak.”
“Halah. Jangan bohong, suamiku! Kau gugup kan? Ahahaha.. masih berlaku juga godaanku!”
“Godaan apa?” Geonil bertanya dengan wajah yang dipolos-poloskan. “Kau tidak menggodaku.”
Sungje mendengus kesal. Geonil tertawa keras lagi. Acara jalan-jalan hari itu ditutup dengan senyum merekah dari keduanya.
“Geonil-ah,” Sungje menyandarkan kepalanya ke pundak Geonil sambil berjalan pelan mengikuti langkah Geonil. “Kau masih mencintaiku?”
Geonil menghela nafas sambil memasang tampang dingin. “Tidak.”
“Jangan bohong!!” Sungje mencoba menggoda Geonil. Tapi Geonil tetap menampilkan wajah dingin.
“Aku sudah bilang kan waktu itu, kalau aku tidak—“
“Hiks.. Geonil-ah, katanya kau mencintaiku!!” Sungje mulai terbawa permainan Geonil.
Geonil tertawa jahil. Lalu menghentikan langkahnya sehingga langkah Sungje ikut terhenti. Geonil menatapnya dengan tatapannya yang biasa. Tatapan yang menyiratkan cinta. Ingin sekali Geonil mengecup bibir merah itu. Tapi… lagi-lagi ia takut Sungje marah lagi.
“Aku masih mencintaimu kok.” Geonil berkata lembut. “Uljjima.. Ah.. aktingku keterlaluan ya?” Geonil menghapus air mata Sungje. Lalu memeluknya. “Aku kan hanya bercanda. Kalau kau bertanya lagi besok, aku pasti akan jawab aku mencintaimu 1000 kali lebih besar dari kemarin. Lalu besoknya aku jawab aku mencintaimu 10000 kali lebih besar dari kemarin. Dan begitulah sampai tidak terhitung berapa kali aku mencintaimu.” *terinspirasi dari 1 thousand days promise. Kata-katanya jihyung buat sooyeon. Jangan tanya kenapa gue tau!! #plak*
Sungje tersenyum manis. “Gomawo.”
“Sama-sama sayang.” Geonil mendekatkan kepalanya ke wajah Sungje yang mulai tertutup kegelapan malam. Sungje tersenyum malu sambil memejamkan matanya dan berharap itu terjadi. Tapi…
“Ah nanti kau marah lagi. Ini lagi suasana romantis!” Geonil mengamit tangan Sungje. Lalu berjalan pelan.
‘AAAAAAAA kenapa tidak?! Geonil-ah kenapa tidak?!! Aaaaaa Geonil jahat!!!!’ teriak Sungje dalam hati. Ia sangat mengharapkan Geonil menciumnya. Tapi nyatanya… Geonil malah mempermasalahkan kejadian yang lalu. Sewaktu Sungje masih belum yakin dengan perasaannya. Di sisi lain…
‘AAAAAAAAA NEON BABOYA!!! Kenapa aku bisa segegabah itu? Aaaa aku gila!! Aku gila!! Kenapa aku mau menciumnya? Ya Tuhan!! Pasti Sungje marah karena aku mau menciumnya!!’ pekik Geonil dalam hati. ‘Tapi aku juga tidak boleh munafik. Aku sebenarnya mau menciumnya. Ya Tuhan.. aku gila!!’

***

BRAKKKK!!!!
Sungje langsung membanting pintu kamarnya setelah sampai rumah. Geonil mengacak rambutnya kesal karena lagi-lagi ia membuat suasana romantis jadi hancur. AAAAAAAAAAAAA!!!!! Geonil memekik dalam hati.
Sampai malam Geonil mau berangkat untuk pemotretan pun Sungje tetap tidak keluar dari kamarnya. Tapi Geonil sudah membuatkan makanan kalau-kalau Sungje lapar.
“Aku berangkat dulu ya! Jaga dirimu!” teriak Geonil di depan pintu kamar Sungje. Lalu pergi dengan langkah berat.

***

Sudah 3 hari Sungje mogok bicara dengan Geonil. Tapi ia tetap rajin menyantap masakan Geonil di waktu-waktu Geonil sedang beristirahat atau kerja. Kadang-kadang kalau Geonil memergokinya di dapur dan ingin mengambil makanan yang dibuat Geonil, Sungje berkilah dan mengambil ramen sebagai lauknya walaupun sebenarnya ia ingin makan masakan Geonil.
Memang baru 3 hari. Tapi sebagai pasangan ‘baru’ Sungje merasa kesepian. Geonil berkali-kali melihatnya, tapi Sungje tidak menghiraukannya dan terus mempertahankan ego-nya.
“Mie-mu sudah matang dari tadi. Kenapa tidak segera matikan kompornya?” Geonil yang baru pulang kerja langsung ke dapur dan mematikan kompor yang dipakai Sungje untuk memasak mie.
“Eh?” Sungje salah tingkah. “Aishh aku makan pakai apa dong? Ramen sudah habis!”
“Kau tidak ingat ada aku disini?” Geonil berdiri tegak di depan sungje. “Aku bisa membuatkan makanan lain.”
“Tidak perlu!” Sungje berkata ketus. Ia berjalan menjauhi Geonil. Tapi sebelum sampai satu langkah Geonil sudah menarik tangannya.
“Bisa kau beritahu aku apa alasan kau menjauhiku 3 hari ini?” tanya Geonil.
“Dan bisa kau beritahu aku alasan kau menyuruhku menjauhi Jihyuk?” tanya Sungje balik sambil tersenyum licik.
Geonil menghela nafas. “Aku akan mengatakannya kalau ada waktu yang tepat. Sekarang kau beritahu aku kenapa kau menjauhiku 3 hari ini?”
“Aku juga menunggu waktu yang tepat untuk memberitahumu kalau begitu.” Sungje mencoba melepaskan cengkraman tangan Geonil yang hampir membekukan darahnya.
“Lepas!!”
“Beritahu aku dulu, baru kulepaskan!”
Sungje tetap memberontak. “Beritahu aku kenapa aku harus melupakan Jihyuk!!”
Geonil akhirnya melepaskan tangan Sungje dan membiarkannya pergi ke tempat yang ia mau tanpa mengisi perutnya.

***

“Ini.” Geonil memberikan semangkuk mie rebus hasil buatan Sungje.
Sungje menatap Geonil. Ingin ia memakannya. Sudah lama juga ia tidak memakan masakan Geonil. Tapi lagi-lagi Sungje mempertahankan ego-nya.
“Ini bukan masakanku. Kau tenang saja.” Geonil masih mengulurkan tangannya untuk memberikan mangkuk itu pada pemiliknya.
“Aku tidak tahu kenapa kau memusuhiku 3 hari ini. Tapi aku tetap mau peduli denganmu. Kau belum makan dari tadi. Mau kubelikan apa? Kau pasti tidak mau makan masakanku!”
Sungje menghela nafas. Ia mengambil mangkuk mie itu dan kembali fokus ke tontonannya. Geonil juga menghela nafas panjang. Lalu pergi dari hadapan Sungje.
Setelah Geonil pergi, Sungje menatap nanar ke arah makanannya. Bukan hanya karena itu bukan masakan Geonil, tapi karena tidak ada garpu ataupun sendok untuk menyuap.
“Mian, aku lupa memberikan ini.” Geonil menyerahkan garpu dan pisau dengan tangan bergetar.
“Geo—“
“Ah aku lupa. Harusnya kan sendok. Ah.. sebentar!”
“Geonil-ah,” Sungje langsung berdiri dan menarik tangan Geonil. Ia ingin menghentikan semua kesalahpahaman ini. Ini sudah sangat gawat.
Sungje memeluk tubuh kekar Geonil dan menangis tanpa Geonil tahu penyebabnya. Geonil pun membalas pelukannya. Dan berkali-kali meminta maaf tepat di telinga Sungje.
“Mianhada.. Saranghanda..”

***

“HAHAHAHAHA!!!!!!”
Geonil tertawa keras mendengar penuturan Sungje atas marahnya ia selama 3 hari. Berkali-kali Geonil mencoba untuk menghentikan tawanya, tapi setiap ia melihat wajah Sungje yang kelewat innocent ia pun tertawa lagi. Sungje sudah berkali-kali menonjok perut Geonil. Tapi Geonil adalah pemegang sabuk hitam taekwondo di umur 15 yang bisa mengatasi tonjokkan Sungje yang bertubi-tubi.
“Sudah?!” sindir Sungje setelah Geonil berhenti tertawa.
Geonil mengangguk. “Kalau aku bisa membaca pikiranmu pasti dari kapan aku sudah memperkosamu. Ckck..”
Sungje menjitak kepala Geonil. “Dasar!”
“Lagian kenapa kau tidak jujur saja? Tinggal bilang ‘Geonil-ah, cium aku!’ atau apalah. Tidak usah pakai acara mogok bicara 3 hari. Sampai aku bingung!”
“Bingung sih boleh. Tapi kenapa kau memberiku garpu dan pisau tadi? Memangnya aku mau makan steak?!”
Geonil tertawa lagi. “Okay, maafkan aku untuk yang itu.”
Sungje mengangguk. Wajahnya memerah. Ia menunduk, dan memikirkan kata-kata apa yang harus ia pakai untuk membujuk Geonil untuk menciumnya. Ya, walaupun tidak dibujuk Geonil pun pasti bisa menciumnya langsung. Tapi… Sungje ingin itu inisiatif Geonil sendiri. Dan Sungje juga masih terlalu gengsi untuk membujuknya berciuman.
“Jadi tidak mau kucium? Bibir ini limited edition lho! Belum ada orang lain yang mencicipinya selain keluargaku. Mau?” Geonil mengedipkan satu matanya.
Sungje tertawa kecil. “Kalau begitu, silakan!”
Geonil mencoba menenangkan diri. Lalu mendekatkan wajahnya perlahan ke wajah Sungje. Entah kenapa kini ia merasa lebih canggung.
Geonil memejamkan matanya. Begitu juga Sungje. Geonil memiringkan kepalanya sedikit. Perlahan ia bisa menyentuh bibir itu. Menyentuh bibir yang selama ini hanya ada dalam impiannya, menyentuh bibir yang pernah menyatakan cinta padanya.
Awalnya Geonil menciumnya lembut. Tapi seperti kebanyakan laki-laki lain yang mempunyai nafsu lebih besar, Geonil menciumnya jauh lebih intens. Tapi Geonil melakukannya dengan lebih lembut. Ia mendorong pelan tubuh Sungje agar berbaring di kasurnya. Lalu kembali menikmati bibir itu.

*YES!!! Geonil udah ciuman ama Sungje!! Hahaha!!!!! #mencobatidakgalau *langsung ditarik Sungmo ke kamar*

***

Sungje terbangun dari tidurnya. Ia mengeliat pelan dan
“Auuuu!” Sungje merintih ketika memposisikan dirinya duduk di kasur medium size-nya. Ah bukan. Kasur medium size Geonil.
Sungje menatap ke samping. Geonil masih tidur dengan posisi tengkurap. Hanya bagian punggungnya yang terekspos. Bagian lain yang tidak tertutup pakaian ditutupi selimut tebal.
Sungje baru ingat, tadi malam ia dan Geonil melakukannya untuk pertama kalinya. Sungje tersenyum sendiri mengingatnya. Betapa Geonil yang dikiranya sangat polos ternyata bisa membuat permainan ini menjadi lebih indah. *sumpah gue ngiri je!!!
Sungje sudah yakin kalau ia mencintai lelaki di sebelahnya.
“Pagi, suamiku!” kata Sungje ketika Geonil membuka matanya.
Geonil tersenyum lebar dengan mata sayu karena mengantuk. “Pagi, istriku!”
“Mau sarapan apa?”
Geonil menggeleng. “Aku tidak mau. Kemarin itu bisa dibilang makan malam dan sarapan terindah di dunia. Ahh.. Aku sangat menikmatinya!”
Sungje mengelus rambut lebat Geonil. “Aku juga.”
“Kau tidak marah kan aku tidur disampingmu?”
Sungje menggeleng. “Memangnya aku harus selalu marah?”
Geonil tersenyum bodoh. Senyumnya biasa. “Bagaimana kalau mulai hari ini kau dan aku tidur sekamar? Aku akan membeli kasur yang lebih besar dari ini!”
Sungje kembali berbaring di kasurnya, menghadap Geonil. Ia bisa merasakan hembusan nafas Geonil yang tenang dan wajahnya yang polos ketika bangun tidur. Geonil sangat tampan! *curhatan author!! *dijitak Sungje
“Terserah kau saja. Tapi memangnya kau punya uang?”
Geonil tertawa kecil. “Tentu saja! Aku mendapat bagian banyak!”
Sungje mengangguk. Ia lalu kembali merebah di samping Geonil. Geonil memeluknya dari samping. Tidak terlalu erat, tapi sukses membuat Sungje memerah karena melihat langsung wajah tampan suaminya itu. *gue juga mau!!!!!!! #authormupeng #keracunanamoremio
“Give me a morning kiss, please..” ucap Geonil pelan sambil memonyongkan bibirnya sedikit.
Sungje tertawa kecil. Lalu ikut memajukan bibirnya dan menyentuh bibir itu lagi. Bibir termanis yang pernah ia rasakan seumur hidup.
“Keuman! Nanti kita malah membuat kembaran untuk Ho Young. Hehehe..” kata Geonil setelah melepaskan tautan bibir itu.
“Geonil-ah, kenapa bibirmu manis sekali? Kau pakaikan gula ya sebelum menciumku?”
Geonil tertawa kecil. Ia mengelus rambut Sungje lembut. “Kan sudah kubilang bibir ini limited edition. Belum ada yang punya bibir seperti ini.”
Sungje memukul kepala Geonil karena kepedeannya yang diatas normal. Ia lalu bangun dan menyuruh Geonil juga bangun.
“Mandi! Badanku lengket semua! Badanmu juga bau. Ckck..” sungut Sungje.
“Tapi tetap saja bau badanku menggoda kan?” Geonil menggoda Sungje sambil mencoba bangkit dari tidurnya.
“hoekkkkk…” Sungje langsung berlari ke kamar mandi setelah Geonil bangun.
Geonil mencium badannya. “Yah… Kalau aku diusir bagaimana?” perkiraan Geonil ada benarnya. Biasanya di usia kandungan yang keberapa bulan suami akan ‘dibenci’ istri. Dan itu artinya…
“Geonil-ah, CEPAT MANDI!! BAUMU SAMPAI KESINI TAHU!! HOEKKK…”
Geonil menepuk kepalanya. Lalu berlari secepat mungkin ke kamar mandi diluar. Tapi ia ingat handuknya.
“Geonil-ah, jangan kesini dulu!!! Bau tahu!! Hoekkkkk…”
Geonil langsung mengambil handuknya. Ya Tuhan……

***

“Waaaaaaa sudah ada sarapan!!” Sungje langsung memegang perutnya melihat ada berbagai macam masakan yang sudah lama tidak disantapnya. Ada sup ikan tuna, sayur bayam, sayur lodeh (?) dan lele goreng *gue ngidam lele!! Jangan ada yang protes!! (?)
“Geonil-ah, aku makan duluan ya!!!!” teriak Sungje dari ruang makan.
“Makan saja!!!!” jawab Geonil dari kamar mandi.
Sungje dengan asyik terus makan masakan yang ada di meja. Tanpa sadar 3 lele goreng ditambah nasi 3 piring, dua mangkuk kecil sup ikan tuna, semangkuk sayur bayam dan lodeh habis dimakannya.
“Ahhhhh kenyang!!!” Sungje menyandarkan dirinya di sandaran kursi. Perutnya benar-benar kenyang sekarang.
“Kenapa ya Geonil bisa masak ini semua dalam waktu singkat? Enak lagi. Ah.. andaikan aku bisa…” pikir Sungje minder.
Tiba-tiba bau yang tidak enak sampai di indra penciuman Sungje. Bau yang ia kenal, bau Geonil sebelum mandi tadi. Sungje menutup hidung dan mulutnya.
“Geonil-ah, kau sudah mandi belum sih?!!” tanya Sungje.
Geonil berjalan ke meja makan. “Sudah kok. Nih bauku harum kok. Mau cium?”
Sungje menggeleng. “Pergi!” ucap Sungje pelan. Ia tidak sadar dengan ucapannya ini.
“Pergi…” ucap Sungje pelan. Ia benar-benar tidak tahan dengan bau badan Geonil sekarang.
Geonil yang salah tingkah langsung mencium ulang badannya. Tidak ada yang salah. Pikirnya. Mungkin memang benar fase ‘membenci’ pada istri akan muncul. Tapi kenapa harus sekarang?!
“Hoekkkk….” Sungje kembali memuntahkan makanan yang ia telan tadi di samping meja. Ia tidak sempat ke kamar mandi untuk menguras isi perutnya. Geonil menepuk dahinya. Ia lalu membantu Sungje melegakan perutnya.
“Oke. Aku akan pergi nanti.” Bisik Geonil setelah Sungje sedikit tenang. Ia lalu memapah Sungje kembali ke kamarnya dan menunggunya tidur lagi.

***

Geonil benar-benar tidak pulang!!!!
Sungje mengutuki dirinya sendiri. Tapi ini juga bukan kesalahannya. Tadi ia sudah menelpon ibunya dan mengatakan masalahnya pada sang ibu.
‘Umma dulu juga begitu. Appa sampai tidak berani pulang karena umma pukuli terus sampai rumah. Hihihi..’ curhat sang umma pada Sungje.
“Tapi kan kasihan Geonil, ma!” Sungje mendengus melihat ke arah pintu. Masih belum ada tanda-tanda Geonil datang. “Sebenarnya aku tidak bisa mengusirnya. Tapi entah kenapa kalau mencium aromanya aku langsung muntah-muntah dan jadi ikut malas bertemu dengannya.”
‘Itu wajar kok, nak.’ Neneknya nimbrung dari samping. ‘Kalau tidak salah nenek waktu itu hanya seminggu.’
“Hanya?!!!!!” Sungje menggeleng. Seminggu tanpa Geonil?!
‘Dulu halmeoni semingguan. Setelah itu kembali seperti biasa.’
“Seminggu?!!!” Sungje masih belum bisa mempercayai pendengarannya.
Klik
Sungje memutuskan sambungan teleponnya dan meremas handphonenya kesal. Ia menatap ke pintu lagi. Sama seperti tadi, tidak ada tanda-tanda kedatangan Geonil.
Seminggu tanpa Geonil?! Sehari tanpanya saja sudah kesepian! Nanti siapa yang mau membuatkanku makanan? Siapa yang membangunkanku di pagi hari? Siapa yang memelukku kalau aku kesakitan? GEONIL!!!!!!!!!!

***

Drrrtttttt….. drrrrttttt…. Drrrrttttt….
Handphone Geonil bergetar 3 kali. Ada SMS masuk.

From : My Wife~

Geonil-ah, pulanglah!!

Geonil tersenyum membaca SMS itu. Ia lalu mengetikkan jawabannya dengan cepat.

To : My Wife~

Kau tidak akan muntah lagi?

Beberapa detik kemudian handphone Geonil bergetar lagi. Kembali SMS dari Sungje.

From : My Wife~

Daripada seminggu tanpamu!!

Geonil menghela nafas. Seminggu?

From : My wife~

Ya? Geonil-ah? Geonil-ah pulang ya? Aku tidak akan mengusirmu!! Kalaupun begitu kau jangan jauh-jauh dariku. Ne??

Geonil masih tidak bisa menjawab.

From : My wife~

Kau marah? Mianhada Geonil-ah!! Kata umma ini memang bawaan bayi!

Geonil akhirnya membayar semua pesanannya. Ia mengetikkan jawaban atas permohonan Sungje.

To : My wife~

Ne, sarang~
Aku pasti akan kembali. Tidak perlu kau suruh juga aku akan kembali. Aku hanya ingin kau menenangkan diri.
Jaga diri ya, sayang! Tunggu aku dirumah! ^^

Setelah itu Geonil merogoh saku jaketnya untuk mengambil kunci mobil. Setelah menemukannya Geonil mengendarai mobilnya.

***

1 jam kemudian….
“Katanya mau pulang!! Mana? Ih!! Geonil!!!!! Pulang baru tahu rasa kau!!” rutuk Sungje kesal sambil melempar bantal kecil sofa.
“Biasanya kalau aku berbicara dia langsung datang. Oke, aku akan terus berbicara siapa tahu Geonil langsung datang. Ya, dia kan seperti setan. Datang pergi tanpa pernah kedengaran jejaknya. Ah ya…” Sungje berbicara sendiri. Antara mengharapkan Geonil datang dan mengatasi ketakutannya.
Drrrttttttt…. Drrrrrttttttttt…. Drrrrtttttttt…. Drrrrrtttttttt….. drrrrrrrrrtttttttttt…..
“Yoboseyo? Geonil-ah, neo—“
“Geonil kecelakaan. Sekarang ada di Rumah Sakit HanaDulSet. Anda istrinya kan? Cepat kesini!”
Klik
DEG

Geonil……
Kecelakaan???????
Geonil….
Kecelakaan???????
GEONIL KECELAKAAN??!!!!!!!!!!

****

TBC

Karena sepertinya ff ini kurang konflik, maka saya tambahkan konflik. Entahlah ini bakal jadi berapa part. Ckck *plakk
Maaf kalau ada beberapa atau malah banyak kata yang salah, dan juga saya nyela terus karna emang lagi mupeng sama geonil *diinjek sungje*
Terimakasih bagi yang sudah membaca ff ini dari awal dan setia menunggu ^^
Dan doakan saya moga saya diterima di SMK 3 Bogor. Kkk #iklanterselubung (?)

9 thoughts on “Time To Love (Part 8)

  1. laladwiputri

    YaAllah WHY WHY mesti geonil yg celaka? WHYYYYY? Kenapa nggak tetangga mereka yg lg berantem aja! Lah siapa tetangganya ya? Aaaaa molla tp ini uuuuh yaAllah why?? Geonil bertahanlah! Jangan mati aaaaaa author kejam! Kejam! Kejam! Andwaeeeeeeee! Langsung ke ff lanjutan liat geonil di ruma sakit!😦

    Reply
  2. kitty ai-chan

    .mwo?geonil kclakaan?andwae!!! DX”#lebay
    .nnti gmna dgn sungje?jgn smpe geonil knpa2 y,,author,lanjuutt!!#prsaan dh ad lnjutan’a d,, ==’

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s