Twins High School (Part 7)

Title : “twins high school”
Length : chaptered (7/??)
Main cast :
–    2wins Yoo a.k.a park yoo chun & park yoo chan
–    JungBro a.k.a jung yunhak & jung yunho #fiksiajaguejadiinkembar
–    JoTwins a.k.a Jo Kwangmin & jo youngmin
A.N : udah Part 7 aja yah ini ff. sama kek TTL. Hahaha!! XDD
Kalo kemaren fokus ke masalah Yootwins, sekarang fokus ke KwangChan~ kekeke… *laki gue ngedumel dibelakang
Okee, semoga ada yang baca. Kalo ga baca pun ga papa XDD

***

<< previous

“Nih kembaran lo! Mau ngomong kan lo sama dia?” Kwangmin langsung menyapa ketika melihat Yoochun berdiri mematung di depannya.
“Heh!! Ini kembaran lo!” Kwangmin melambaikan tangannya di depan mata Yoochun.
“Eh? Err.. Ng-nggak usah deh. Lo aja.” Yoochun langsung pergi dari hadapan mereka. Pandangan dua anak kembar itu sebenarnya saling bertemu. Dan mereka sama-sama bisa membaca pikiran masing-masing. Tapi, terlalu sulit untuk mengatakannya. Terlalu sulit untuk mengekspresikannya. Terlalu sulit bagi Yoochun untuk menerima kalau ia-lah penyebab ‘jatuh’-nya Yoochan, bukan Yunhak. Dan sulit juga baginya untuk menerima, bahwa keluarganya tidak memandang Yoochan lagi. Padahal dia mengorbankan semuanya untuknya.
Yoochun memekik dalam hati. Mengutuk dirinya sendiri yang begitu bodoh dan menyusahkan. Mengutuk dirinya yang menjadi penyebab kekacauan ini.
I’m a loser…

>> Part 7 <<

Pak Youngwoon dan bu yoona sedang berada di ruangan khusus kepala sekolah. Kepala sekolah sedang menghadiri rapat di Pulau Jeju *ini rapat apa riset pariwisata? ==a*
Wait!
Ini bukan hanya sekedar ajang pendekatan antara pak youngwoon dan bu yoona, tapi ini untuk membahas seorang anak yang mengalami kemunduran kecerdasan.
“Sebulan ini nilainya ga jauh dari do re mi. kemaren dapet 27. ckck..” bu yoona menunjukkan rekap nilai matematika dari satu anak.
“ckck.. kenapa ya?” pak youngwoon mulai bisa membedakan prioritas dan ajang pendekatan. Ia menatap rekap nilai itu dengan seksama. Nilai tertinggi 40. padahal nilai bulan lalu tidak pernah turun dari 100. paling kecil 86.
“kenapa nggak dihukum aja bu? Kan biar jera dia. Kayaknya dia kangen tuh pengen ngejahilin guru.” Kata pak youngwoon sambil tersenyum pilu mengingat waktu ia ditipu anak sekecil itu.
“mau hukum apaan? Dia kan nggak pernah ngerjain hukuman. Baru setengah selesai udah kabur. Ckck..” bu yoona menggelengkan kepala.
“coba cek kembarannya, nilainya gimana?”
Bu yoona membuka lembar sebelumnya. Rekap nilai dari saudara kembar yang menjadi perhatian dua guru itu.
“paling gede 50. yah sama aja. Namanya juga kembar. Satu jelek yang lain ikut jelek.” Pak youngwoon geleng-geleng kepala. “yang bulan lalu gimana?”
“masih bisa nyampe 80.”
Klek..
Pak siwon masuk dengan gagahnya sambil membawa buku berwarna hijau yang merupakan buku rekap nilai fisika.
“kenapa pak?” tanya pak youngwoon.
Pak siwon membungkukkan badannya sedikit. “pada lagi ngomongin rekap nilai yoochan ya? Saya juga mau laporan.”
Pak youngwoon menggaruk rambutnya stress. “Ckck.. kenapa lagi itu anak?”
“nilai tertinggi untuk bulan ini adalah 35.” Pak siwon menghela nafas. “5 hari lalu saya adakan ulangan, nilainya 0. entah kenapa pertanyaan yang menyangkut energi potensial malah diitung pake rumus tekanan.”
“astaganagabonar!!!” pak youngwoon mengacak rambutnya gemas.
“Terus rumus buat hukum coloumb malah pake rumus W = F X S.” *authornya abis nelen buku fisika. Makanya fisika terus nih yang muncul ==”
“Apa lagi?” pak youngwoon mulai bingung. Antara ingin tahu dan ingin marah. Ia memang tidak suka anak yang nilainya selalu turun.
“rumus tekanan hidrotatis malah ditulis rumus energi potensial. Mentang-mentang sama-sama ada rho nya.”
Pak youngwoon bukan orang yang menyukai fisika. Ia sudah lama tidak mempelajari fisika. Yang dia tahu hanya rumus energi kinetik. ½ m.v kuadrat. Tapi untungnya ia masih mengingat rho itu yang seperti apa.
“kayaknya ada ‘sesuatu’ sama anak itu.” Pak youngwoon mengingat waktu ibu yoochan menelepon malam-malam dan memaksanya yang masih terlelap untuk membangunkan yoochan di lantai 3 asrama kembar itu.
“wow! Lagunya syahrini ya pak?” pak siwon langsung antusias. Ia memang penggemar berat syahrini. Tapi dia lebih suka 3 diva daripada duo ratu. *woy ini apaan?!!!!
Pak youngwoon dan bu yoona langsung memelototi si guru ganteng yang terkenal seantero sekolah. Sayangnya ia limited edition, hanya ada di sekolah khusus anak kembar ini.
“udah libur senin nanti. Yaudah, kalo yoochan ga ikut pulang lusa nanti kita introgasi dia!”

***

“libur natal mau pulang gak?” tanya Kwangmin pada Yoochan yang sedang menikmati es krimnya yang ke-dua.
Yoochan menghela nafas. “nggak.”
“kok?”
“mau ngapain gue? Berantem?” yoochan tersenyum kecil. “mama gue udah bilang ke gue kalo dia sebenernya benci gue.”
“tapi kan dia bilang dia masih inget lo anaknya, jadi mama lo ga bisa benci lo.”
“nyatanya dia benci gue.”
Yoochan dan kwangmin sama-sama diam.
“lo sendiri, mau pulang gak?”
Kwangmin menghela nafas sambil mengangkat kedua bahunya. “nggak tau. Tunggu sinyal dari mama aja.”
“Sinyal? Emang operator? Ckck..”
Kwangmin tersenyum lemah. “pernah ngeliat orangtua lo berantem di depan mata gak?”
Yoochan menatap kwangmin dengan tatapan polosnya. Ia tidak pernah melihat orangtuanya bertengkar. Orangtuanya itu kelewat mesra dan jodoh. Selalu satu pikiran. Termasuk membenci anak perempuannya.
“gue pernah. Dan itu rasanya beneran sakit. Gue langsung nangis sampe di kamar.” Kwangmin tersenyum pilu mendengarnya. “itu dari gue umur 10 tahun. Masih terlalu kecil untuk memahami yang namanya urusan rumah tangga.”
“berantem pun sakit,” yoochan menyendokkan es krim yang terakhir ke mulutnya. “gue udah berkali-kali berantem dan itu rasanya juga sakit.” Yoochan menghela nafas sambil menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. “sebenernya ga ada orang yang mau berantem. Mereka Cuma salah langkah aja. Sebenernya semua yang ada di dunia bisa diselesaikan dengan damai. Tapi.. karena salah langkah jadinya jadi begitu.”
Kwangmin tertawa kecil. “jadi lo salah langkah?”
Yoochan mengangguk. “gue kan masih kecil waktu pertama kali berantem.”
“umur berapa?”
Yoochan mengingat-ingat. “kira-kira dari umur 6 tahun. Gue saking ga diperhatiinnya akhirnya gue berantem. Gue kesel ga diperhatiin. Gue dapet nilai bagus orangtua Cuma senyum, tapi yoochun yang paling dibanggain. Kalo kayak gitu sakit! Sumpah deh!”
“mama gue selalu mendukung gue. Mau gue dapet nilai bagus atau nggak. Tapi papa gue? Cuma youngmin yang dibanggain!”
“kakek juga kayak mama lo.” Yoochan menghela nafas. “yang selalu ngobatin luka gue kalo abis berantem itu kakek. Dia pernah jadi dokter. Makanya selalu ngobatin gue. Kalo gue sakit, gue pasti diobatin sama dia.” Yoochan menggigit bibir bawahnya. “gue sering ngeliat wajah anak-anak kakek. Tante hana, tante yoona, om jihwan sama papa. Mereka keliatan bahagia banget.”
Kwangmin menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi.
“gue pengen bahagia kayak gitu. Punya orangtua yang baik, yang perhatian, yang nggak mandang bulu. Paling kalo ada salah anaknya Cuma dinasehatin dengan lembut.” Yoochan memejamkan matanya. Lalu membukanya lagi.
“lo bukannya sering dinasehatin?”
Yoochan tertawa kecil. “Dimarahin kali!”
“kan sama aja!”
“beda!” yoochan mengambil stik es dan memasukkannya ke dalam mulut. “gue dimarahin. Dimarahin itu direndahin, diinjek-injek. Sakit! Hahaha..”
TEEEEEEEEEEETTTTTTTTTTTTTTT!!!!!!!!!!!!!!!!
Bel istirahat selesai. Tinggal satu pelajaran lagi lalu pulang ke asrama. Kwangmin berdiri. Lalu yoochan dengan malas juga berdiri.
“abis ini kan boleh keluar. Mau keluar gak?” tanya kwangmin.
“kemana?”
“kemana kek. Gue jamin lo suka.” Kwangmin tersenyum penuh rahasia. “gue tunggu di taman belakang ya.”
“dimana?!!”
“nanti lo tau!”
“Dimana kwangmin?!!! Kasih tau gue!!!”
Kwangmin menggeleng. “makanya ikut, kalo ikut kan pasti tau!” kwangmin langsung berlari ke kelas.

***

Malam minggu.
Yang punya pasangan pasti kencan. Termasuk yoochun yang sudah bersiap-siap di depan cermin sambil terus mencoba baju-baju yang menurutnya keren.
“ciee. Mau kemana?” tanya yoochan sambil tersenyum menggoda.
“kencan dong! Emang lo?” yoochun menjulurkan lidahnya.
“gue juga ada—ah!! Gue lupa! Mampus!!” yoochan langsung melempar komiknya dan berlari ke kamar mandi.
“ckck..” yoochun menggeleng bingung.

Pukul 7.01 malam

Yoochun mengganti pakaiannya mumpung Yoochan belum keluar dari kamar mandi. Ia lalu melihat ke memo kecil yang ditempel di lemari Yoochan.

24 December : the good person passed away

Good person?
Yoochun mengancing bajunya sambil mengingat siapa yang dimaksud Yoochan. Good person.. orang baik… KAKEK!!
Satu-satunya orang yang selalu mendukung yoochan kemanapun ia akan melangkah. Yoochun baru menyadari kalau kakek yang disayangi saudara kembarnya itu meninggal disaat ulangtahunnya.
“ngefans sama memo gue?” tanya yoochan yang ternyata sudah keluar dari kamar mandi. “lo pasti ga peduli sama tanggal kematian kakek.”
“gue peduli.”
“oh.”
Terlihat gurat wajah yoochan yang menunjukkan kesedihan. 24 Desember tinggal seminggu lagi. Lusa Yoochun akan dijemput orangtuanya untuk pulang dan merayakan ulangtahunnya yang ke-15 dirumah.
“lusa pulang ya?” yoochan menyisir rambutnya. “salamin buat mama sama papa ya.”
“lo ga ikut?”
Yoochan menatap yoochun sambil tersenyum licik. “gue ga mau bikin harta berharga mama dan papa sakit. Jadi gue disini aja.”
“Seminggu lagi ulangtahun kita.” Yoochun menelan ludah. “kita—“
“kita emang pernah ulangtahun bareng?” yoochan menggeleng keras. “lo ulangtahun gue di kamar. Gue Cuma jadi pembantu keluarga Park Jae Hwan.”
“pasti gara-gara gue ya?” yoochun tersenyum getir. “gue emang ga guna.”
“lo berguna.” Yoochan berdiri dan menguncir rambutnya. “gue sampah masyarakat.”
“nggak!”
“terus apa? Sampah negara? Sampah dunia? Sampah galaksi?” yoochan mengakhiri debat kusir itu. Ia lalu berlari keluar.

***

“makan es krim malem-malem dingin gini enak juga ternyata. Hahaha..” yoochan mengeratkan jaketnya. “udah mau musim dingin.”
Kwangmin mengangguk. “lo ada masalah?”
Yoochan menatap kwangmin. “masalah?”
“takutnya ada. Kalo ada cerita ke gue ya. Gue ga mau ngeliat lo mendam rahasia sendiri.”
Yoochan tertawa kecil. “gue berbagi cerita sama kakek dan Tuhan kok.”
“kakek lo masih ada? Enak dong! Kakek gue udah ga ada.”
Yoochan tertawa kecil. “kakek gue juga ga ada. Meninggal di saat paling berharga buat gue.”
Kwangmin menelan es krimnya susah payah.
“pas ulangtahun gue ke 13.”
“baru dong?!”
“makanya setiap malam natal gue pasti ga pernah absen ke gereja Cuma buat curhat atau dengerin lagunya.” Yoochan menatap gereja yang tidak jauh dari situ. “kakek pernah bilang, kalo nanti kakek nggak ada pas gue ulangtahun, kakek janji mau minta ke Tuhan buat ngirim orang baik buat gue.” Yoochan tersenyum kecil. “dan orang itu udah ada di deket gue.”
Kwangmin tersenyum kecil. “mama pernah bilang ke gue, kalo sebenernya ga ada orang jahat di dunia ini. Ya sama kayak kata lo, orang salah langkah.” Kwangmin menghela nafas. “kata mama, sebenernya orang yang sering berantem atau brandal itu kurang diperhatiin. Makanya mama berusaha merhatiin gue biar gue ga salah langkah.”
“kenyataannya emang gitu.” Yoochan menjilat cup es krim yang tinggal keraknya saja. “anak kecil itu pasti pengen diperhatiin. Anak kecil itu pasti pengen jadi orang yang paling diperhatiin dunia.”
“gue juga begitu. Pernah waktu mama ga merhatiin gue, gue akhirnya belajar keras biar bisa dapet nilai sempurna. Dan abis itu langsung diperhatiin lagi.”
“gue pernah nangis di depan kakek karna ga diperhatiin. Gue udah berusaha dapet nilai yang sempurna dari yang paling sempurna. Gue selalu dapet ranking pertama satu angkatan. Tapi tetep aja sama. Ulangtahun ga ada yang ngucapin, tahun baru ga ada yang ngajakin bakar jagung atau ayam, halloween gaada yang ngasih permen.”
“tapi akhirnya kakek lo ngasih kan?”
Yoochan mengangguk. “iya! Waktu yoochun ulangtahun gue kan ngurung diri di kamar. Terus kakek dateng. Dengan sangat tulus dia ngucapin ‘saengil chukkae, cucu manisku’ dan dia ngasih gue kue tart yang paling gue impiin dari dulu.” Mata Yoochan berbinar mengingatnya. “dan itu yang dilakukannya selama 3 tahun. Walau singkat, tapi gue bener-bener bahagia. Gue ngerasa dunia ini adil. Gue dapet kebahagiaan, dan orang lain juga. Gue udah lama ga merasa bahagia kayak gitu.”
Kwangmin menegakkan posisi duduknya. Ia lalu merangkul badan mungil gadis di sebelahnya dan menyandarkan kepalanya di dadanya. Yoochan tidak bisa berpura-pura kuat mengingat memori bersama kakeknya.
“gue kangen!! Gue pengen itu terjadi lagi!!” kata yoochan di tengah tangisnya.
Perempuan bisa terlihat kuat dan lemah dalam satu waktu. Kata mama Kwangmin waktu itu.
Kwangmin menatap Yoochan yang masih menangis dalam pelukannya. Ia mengelus rambut gadis itu dengan lembut.
Wanita bukan orang yang terlalu kuat, bukan juga orang yang terlalu lemah. Kata mamanya lagi.
Yoochan bukan orang yang terlalu kuat untuk menahan emosi dan kesedihan. Tapi ia juga tidak bisa dikatakan lemah karena sudah bertahun-tahun menjaga rahasia yang ada di hatinya.
Hati wanita itu lebih dalam daripada samudra. Itu kata Rose dalam film Titanic.
Ya, semua hal tentang wanita itu memang benar. Kwangmin memeluk Yoochan lebih erat lagi. Tiba-tiba ia merindukan ibunya. Ibu yang bisa terlihat kuat dan lemah dalam satu waktu, ibu yang bukan orang yang terlalu kuat atau lemah, dan ibu yang mempunyai hati yang lebih dalam dari samudra untuk menyimpan rahasia.
“satu hal yang seharusnya gue tau,” yoochan masih terisak kecil. “gue itu lemah.”
Kwangmin menggeleng. “nggak.” Kwangmin menyeka air matanya yang perlahan menetes.

***

“Aaaaaa!!! Kwangmiiiiiin!!!! Ini boneka lucu banget!!!” Yoochan memeluk teddy bear berwarna cokelat yang tidak terlalu besar ukurannya. Ia memeluknya berkali-kali tanpa menatap Kwangmin.
“Lo suka?” tanya Kwangmin.
Yoochan mengangguk. “Lucu banget! Hihi..”
Kwangmin tertawa kecil. “Kalo kayak gitu lo bener-bener keliatan kayak cewek deh.”
“maksud lo apa, kwangmin?!!” Yoochan bersiap untuk menjitak kwangmin.
“yahhh.. balik lagi deh tu jiwa preman.”
Yoochan tersenyum. Ia memeluk dan merasakan kehangatan boneka teddy bear berwarna cokelat itu.
“Cantik.”
DEG
Yoochan menghentikan aksi memeluk teddy bear-nya. Ia menatap Kwangmin yang sepertinya masih belum menyadari kata-katanya yang tertangkap telinga Yoochan.
“Kenyataannya lo emang cantik kok.” Kata Kwangmin santai.
DEG DEG DEG DEG DEG
Jantung Yoochan berdetak dua kali lebih cepat. Rasa yang sudah lama tidak ia rasakan setelah menyukai Yunho.
“Gue kurang ajar ya bilang begitu? Tapi itu kenyataan. Sumpah deh!”
Yoochan tersenyum malu. “Makasih.”
Kwangmin tersenyum. “Buat apa?”
“Semuanya. Dari es krim, segala curhatan gue yang lo dengerin, teddy bear, dan… itu!”
Kwangmin mendelik ke arah Yoochan. “Itu apa hayooooo???”
Yoochan tertawa kecil. “Udah bilang gue cantik.” Wajahnya memerah ketika mengatakannya.
Kwangmin menepuk pundak Yoochan. “Lo kan emang cantik! Emang ga ada yang nyadar?”
“Orang-orang taunya gue tukang berantem yang ga pantes dibilang cewek. Ckck..”
“Orang-orang Cuma liat luarnya. Padahal sebenernya lo cantik lho! Atau semua cewek emang cantik ya?”
Yoochan tertawa kecil. “Pak Sungje juga cantik kan? Hahaha..”
Kwangmin mengangguk. “Lo suka bonekanya?”
Yoochan mengangguk sambil terus menciumi dan memeluk boneka teddy bear itu. “Thanks”
“Sama-sama.”

***

TOK TOK TOK
Kwangmin menoleh ke arah pintu kamarnya dan Youngmin. Pintu itu diketuk. Kwangmin menatap jam dinding. Masih terlalu pagi untuk ada tamu di hari Minggu pagi ini.
“Weitss.. mau kemana? Rapi banget!” Youngmin yang membukakan pintu menyambut orang yang mengetuk pintu itu.
“Pengen ngajakin lo pada main basket. Mau ikut ga? Bosen nih gue!” kata orang itu.
Kwangmin langsung berlari ke pintu setelah mendengar suara itu. “Ikutttt!!!!”
Youngmin mengangguk. “Gue juga.”
“Gue juga!!” tiba-tiba seorang lelaki berkaus putih dan bercelana training dan berwajah ceria langsung ikut rombongan.
“Lawan gue tinggi semua.” Yoochan menggelengkan kepala.
“Gue bantuin nanti kalo kita se-tim! Slow aja kali.” Kata Youngmin sambil menepuk pundak gadis itu.
“Yaudah. Pas nih 2 lawan 2. Otte?”
“Leggoooooo!!!!!”

***

DUGGG!!! DUGGGGG!!!! DUGGGG!!!! BLASHHHHH!!!!!
“Yes!!!” Yoochan dan Youngmin saling berhi-five setelah memasukkan bola ke ring Yunho-Kwangmin.
DUGGGG!!!! DUGGGG!!!! BLAMMMMM!!!!
Shoot yang dilancarkan Yunho memantul. Youngmin langsung mengambilnya dan melemparnya ke arah Yoochan. Kwangmin yang ada di dekatnya langsung berusaha merebutnya.
“Kwangmiiiiiiiin!!!!” dengus Yoochan kesal. Ia berusaha merebut bola itu lagi. Tapi akhirnya Kwangmin bisa memasukkan bola itu dengan mudah dari jarak jauh.
“Gila! Jago banget lo!” Yunho menggelengkan kepala melihat shoot jarak jauh Kwangmin.
“Gue juga baru tau kalo ni anak jago banget!” timpal Yoochan.
“Emang jagoan si Kwangmin sih daripada gue. Kwangmin tinggi kan main basket mulu.” Lanjut Youngmin.
Kwangmin tersenyum penuh kebanggaan mendengar ia dipuji.
“Ada yang bawa minum gak?” tanya Yoochan akhirnya. Ia benar-benar haus. Padahal baru sekitar 18 menit mereka bermain. Mungkin karena sudah lama tidak bermain jadinya cepat haus.
3 laki-laki itu menggeleng.
“Yaudah tinggal beli. Susah banget sih.” Kata Kwangmin sangat masuk akal.
Yang lain mengangguk. “BELIIN!!!” koor mereka berbarengan.
Kwangmin tertawa jahil. “Gue lupa bawa duit nih. Gimana dong?”
Kwangmin pun mendapat lemparan bola basket dari Yunho. Bola itu memantul ke arah Yoochan. Yoochan pun mengikuti jejak Yunho—melempar bola basket ke arah Kwangmin. Bola kembali memantul karena ditangkis Kwangmin ke arah Youngmin. Dan Youngmin pun melempar bola itu tepat mengenai dahi Kwangmin.
“HAHAHA!!!” tawa 3 lainnya pecah melihat wajah Kwangmin yang memancarkan kesakitan yang amat sangat.

***

“Gue mau balik besok. Lo pada balik gak?” tanya Yunho setelah menelan mie-nya.
Yoochan menggeleng. Youngmin mengangguk. Kwangmin mengangkat bahu.
“Kangen sama Jae—emmpphhhhh…” mulut ember Yoochan kembali dibendung Yunho sebelum Jo Twins tahu siapa orang yang dimaksud.
“Siapa tuh???” Youngmin mendelik ingin tahu ke arah Yunho.
Yunho tersenyum lebar. “Pacarkuuuu!!!”
“Cieeeee….”
Yunho tersenyum bangga. “Dia nelpon gue kemaren. Katanya ‘Yunnie, aku kangen. Pulang dong!’ ya.. gue pastinya mau pulang dong. Dikangenin pacar gue. Ahhhhhhh!!”
“Cieee.. Yunnie ada yang ngangenin toh~” goda Yoochan sambil menyeruput moccacino hangatnya.
“Kayaknya ada yang ultah deh minggu depan. Siapa yah?” Yunho memicingkan mata ke arah Yoochan. Yang ditatap hanya tertawa kecil.
“Siapa Yun??” tanya Kwangmin dan Youngmin bersamaan. Padahal mereka sudah tahu kalau minggu depan si cewek satu-satunya disitu berulangtahun.
“Kadonya dooooong!!!!” Yoochan menadahkan tangan. Yang lain tertawa.
“Mau kado apa dari gue?” tanya Yunho sok.
“Gue takut nerima kado dari lo. Bisa-bisa bonyok gue sama pacar lo. Gue kan udah ga boleh berantem!” balas Yoochan sambil memakan mie-nya.
“Dari dulu lo juga ga boleh berantem tapi tetep berantem. Ckck..” Yunho menggeleng.
Yoochan tersenyum. “Gue masih sayang orangtua gue. Gue masih sayang sama keluarga Park, jadi gue ga mau nama gue ga terdaftar di keluarga Park!!”
Walaupun kedengarannya bercanda, sebenarnya itu memang kenyataan. Kwangmin melihat mata itu. Mata yang menyembunyikan kesedihan.
“Ke game center yuk! Maen!!” ajak Yoochan lagi.
Semuanya menggeleng. “Ga punya duit.”
“Yaah… aset gue juga disita. Tapi semoga aja yang ada di kartu gue—honor gue waktu masih jadi tukang olimpiade—masih ada.”
“Emangnya siapa yang mau ngambil hasil jerih payah lo?” tanya Youngmin.
“Diambil MAMI dan PAPI.” Yoochan menekankan kata ‘mami’ dan ‘papi’.
Kwangmin menghela nafas. Pasti jiwa cewek Yoochan bakal keluar. Dia bakal cerita semuanya. Dan semoga aja dia jadi lebih lega dan baik.
“Tega banget sih! Ckck..” Yunho menggeleng. Antara menggeleng karena nasib sial Yoochan dan juga mie ramen yang sudah habis di cup.
“Mana ada sih yang ga tega sama gue? Hahaha.. guru-guru aja pada tega gue dihukum suruh nyikat genteng. Hahaha…”
Hukuman Yoochan waktu kelas 2 SMP. Yunho ingat sekali waktu Yoochan telat datang dan telat mengerjakan PR.
“Mau tobat ah gue.” Kata Yoochan tiba-tiba. Semua orang disitu menganga. Termasuk penjaga kantin yang masih setia menjual makanan untuk anak-anaknya.
“Tumben.” Ups… Yunho menutup mulutnya.
“Bosen juga gue diomelin mulu. Gue udah SMA masa masih aja bandel. Mana nilai gue juga pada turun lagi!”
“Iya. Nilai matematika lo 27 tuh!” Yunho mulai ember.
DUARRRRRR!!!!!
Kwangmin kelabakan. Youngmin pun ikut kelabakan karena Kwangmin juga kelabakan. Penjaga kantin nganga lebar. Sedangkan Yoochan tertawa kecil mendengar nilai yang paling jelek sepanjang hidupnya.
“Biarin aja deh. Emang otak gue Cuma bisa segitu. The smart Park Yoochan is disapear…”
DEG
Kwangmin melihat mata itu lagi. Mata yang sama seperti mata ibunya. Mata yang menunjukkan keredupan.
“There’s no one that disapear in you..” Kwangmin mengucapkan dengan pelan. “Lo masih Park Yoochan kok.”
“Sebentar lagi bukan Park Yoochan yang lo kenal. Gue mungkin bisa bodoh sebentar lagi.”
“Ini kok kayak drama 1 thousand days promise ya?” Yunho merusak suasana. “Jangan bilang lo kena alzheimer!!”
“NGGAAAAAAAA!!!!!” teriak Yoochan langsung. “Jangan sampe alzheimer!! Gue udah cukup sama penyakit gue. Udah.. udah.. lo jangan nyumpahin!!!”
“Gue kan keinget drama.”
“Cowok sukanya nonton drama mellow. Ckck..” Youngmin menggeleng geli.

***

“Woi mau kemana?” tanya Kwangmin ketika keluar kamar. Ia melihat Yoochan berpakaian rapi.
Yoochan meneruskan perjalanannya. Asrama sepi sekarang. Banyak yang sudah pulang. Kwangmin mengikuti arah langkah kaki itu.
Sudah sampai diluar asrama. Langit sore hari ini terlihat sangat cerah. Kwangmin menebak kalau Yoochan akan pergi ke tempat untuk menenangkan diri.
“Mau ke dokter.” Jawab Yoochan setelah merasa posisinya aman untuk mengatakan yang sebenarnya.
“Ngapain??” tanya Kwangmin dodol. “Lo—“
“Belom parah. Slow aja.”
DEG
Kwangmin langsung berdiri di depan Yoochan. Menghalangi jalannya.
“Lo kenapa??? Woiii lo kenapa?!!! Jangan bilang—“
“Jadi gue belom ngasih tau ya?” Yoochan tertawa kecil. “Kakek gue kan meninggal karena penyakit jantung. Nah penyakitnya itu nurun ke gue. Udah hampir 6 bulan gue belom periksa. Makanya mau periksa lagi. Takut kenapa-napa.”
Kwangmin menghela nafas. “Sejak kapan…?”
“Apanya?”
“Sejak kapan penyakit jantung lo ada?”
Yoochan mengangkat kedua bahu. “Dulu waktu umur 10 tahun gue pernah kena semacam serangan jantung gitu. Terus diperiksa sama kakek. Eeh gue ternyata nurunin penyakit jantungnya kakek. Yaudah deh.”
Kwangmin jadi takut. “Belom parah kan?”
Yoochan menggeleng. “Belom kok. Selama gue bisa jaga pola makan sama olahraga gue baik-baik aja. Mungkin 5 tahun kedepan baru kerasa.”
Kwangmin menggigit bibir bawahnya. “Bisa sembuh kan?”
“Mungkin.” Yoochan tersenyum lebar. “Gue mau jalan. Udah ada janji sama dokter Lee.”

***

“Jantung kamu agak….” Kata Dokter Lee Min Kyu sambil menggelengkan kepala. “Masih sering berantem?”
“Sekarang lebih sering nangis.” Yoochan tertawa kecil mengingat peristiwa beberapa hari ini yang membuatnya tidak kuat.
“Tapi jantung kamu masih lumayan kok. Cuma agak beda aja dari beberapa bulan lalu pas kamu terakhir periksa.”
Yoochan mengangguk. “Dokter…”
“Apa?” dokter Lee Min Kyu menatap pasien kecilnya.
“Apa saya nanti matinya kayak kakek?”
Dokter Lee sudah kenal dengan kakek Yoochan. Waktu kakeknya meninggal dokter Lee ikut melayat dan dia tahu yang terjadi disaat terakhir Park Joo Won masih di dunia.
“Apa saya matinya akan tiba-tiba di hari ulangtahun orang yang menyayanginya?”
Dokter Lee tersenyum. “Kematian itu takdir.” Ia duduk di kursinya setelah mematikan layar monitor yang menampilkan kondisi jantung Yoochan sekarang. “Dokter tahu kalo kamu masih belum bisa merelakan kepergian kakekmu. Tapi kematiannya itu tidak disengaja.”
Yoochan berusaha untuk tersenyum. Walau akhirnya malah jadi air mata yang keluar mengingat kakeknya.
“Masalah merelakan, saya sudah rela.” Yoochan menatap Kwangmin yang masih setia berdiri di depan ruangan dokter Lee. “Tapi saya takut saya meninggalkan orang yang ‘memandang’ saya apa adanya. Saya… takut.”
Dokter Lee menggeleng. “Tidak usah takut.” Dokter Lee menghela nafas. “Mungkin dia orang yang Tuhan kirimkan untukmu untuk menjadi partner. Kakekmu pernah cerita, katanya kalau dia mati, dia mau minta Tuhan buat ngasih orang baik di sebelah cucu tercintanya.”
“C-cucu… t-tercinta?”
Dokter Lee mengangguk.
“Aku?”
Dokter Lee mengangguk lagi.
“Kukira Yoochun yang jadi cucu tercintanya.”
Dokter Lee menggeleng. “Bisa dilihat dari matanya kalau dia sangat menyayangi kamu.”
Yoochan menghela nafas lega. Ia tersenyum membayangkan kakeknya yang sangat menyayanginya dulu. Kakek yang selalu memberinya kado di saat ulangtahun, kakek yang selalu mengajaknya jalan-jalan dan ke gereja bersama di hari natal, kakek yang selalu mengajaknya melihat kembang api di malam tahun baru, kakek yang ini, kakek yang itu.

***

Klek..
Pintu ruangan itu akhirnya dibuka. Kwangmin menoleh dan melihat wajah sumringah Yoochan yang agak basah oleh air mata. Air mata bahagia.
“Ada yang sayang sama gue.” Kata Yoochan sambil menghapus air mata bahagianya. “Ada yang sayang sama gue, Kwangmiin!!!”
Kwangmin tertawa kecil. “Orang di depan lo ini juga sayang kok sama lo.”
DEG
“Jadi jangan pikir kalo ga ada orang yang peduli sama lo di dunia.”

***

TBC

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s