2hours/6days of Date (Day 1)

Title : 2hours/6days of Date (Day 1)
Genre : comedy, romance, YAOI, boyxboy, little angst, OOC *dikiiiiit
Length : part 1 of ?
Author : LaillaMP *sepertinya gue harus tulis nama author biar ga bingung (?)
Cast :
–    Park Geonil
–    Kim Sungje
A/N : inilah kelanjutan dari ff yang entah judulnya nyambung apa kagak sama isinya >,<
Ini ff pengen gue buat romantis dengan sedikit bumbu berbeda dari biasanya (?) tapi akhirnya malah jadi biasa.
#LeaveYourComment please😀

****

Jam 6 di Namsan Tower…
Park Geonil menunggu dengan santai di depan tower. Berharap sosok cantik bertinggi 184 itu segera muncul dan menampilkan wajahnya yang dingin dan cuek di depannya. Lelaki tampan itu berusaha untuk tidak meninggalkan tempatnya walaupun udara sangatlah dingin disini.
Sebenarnya tidak ada alasan khusus kenapa Geonil mau membayar Sungje mahal untuk sekedar kencan dan menemaninya. Mungkin karena ia kesepian dan membutuhkan orang untuk ada disampingnya.
Sama seperti kebanyakan anak orang kaya lain, tidak ada yang namanya orangtua disamping. Orangtuanya memang memberikan banyak fasilitas untuknya. Rumah mewah, mobil mewah, komputer canggih yang terhubung internet, akses sekolah dimana-mana, buku-buku berbahasa inggris dan banyak guru privat bahasa asing. Semuanya diberikan hanya untuk Geonil, cucu laki-laki satu-satunya di keluarga.
Geonil tumbuh dengan baik. Wajahnya tampan, dengan tinggi sekitar 187 cm dengan IQ cerdas dan bisa melakukan apa-apa. Dan juga… ia kaya.
Banyak wanita yang menginginkannya karena semua itu. Tapi Geonil tidak pernah menyukai mereka. Baginya wanita-wanita itu pengganggu dan mata duitan.
“Hoshhh… hoshhh… ternyata kau masih menunggu! Ini sudah jam 6!” kata Sungje yang datang tergopoh-gopoh dengan jaket tebal yang tertutup rapat untuk menghalau hawa dingin yang menusuk tulang itu.
“Goo Junpyo menunggu sampai 4 jam sebelum Geum Jandi datang. Jadi aku tidak masalah berdiri disini menunggumu 2 jam.” Balas Geonil tanpa ekspresi.
“Dingin-dingin begini mau kencan kemana???”
Geonil menghela nafas. Uap dingin keluar dari lubang hidungnya. “Aku bukan ahli kencan.”
Sungje mengacak rambutnya yang tertutup topi. “Seharusnya kau tidak mengajakku! Pabo!”
Geonil mengangguk. “Ya sudah. Aku akan mengajakmu ke suatu tempat. Karena kau sudah kusewa, kau tidak boleh kemana-mana.”

***

Kalau begini kencannya lebih baik aku batalkan kontraknya!!! Ucap Sungje dalam hati.
Sungje masih setia menunggu si teman kencannya ini memilih-milih komik. Kalau ada komik yang dibuka ia akan membacanya dan melihat isinya. Kalau Sungje tidak berdeham keras untuk menyadarkan lelaki itu, pastilah Geonil akan membaca semua seri komik itu sampai habis.
Sudah ada sekitar 15 komik yang dimasukkan ke dalam tas yang dibawa Sungje. Terlalu banyak menurut Sungje. Seumur-umur ia tidak pernah yang namanya membeli komik banyak. Membeli komik satu saja perlu waktu setahun.
“Sekarang mau kemana?” tanya Sungje dongkol.
“Ke buku tentang komputer.” Jawab Geonil cuek.
Ini bukan kencan yang kuinginkan!!! Teriak Sungje dalam hati.
“Pasti pacarmu akan bosan kalau kau ajak kencan kesini. Ckck..” kata Sungje sambil menggelengkan kepala. “Kalau aku jadi pacarmu lebih baik aku mati daripada tidak diperhatikan.”
Geonil tidak mempedulikan ucapan Sungje walaupun mendengarnya dengan jelas. Ia terus menyusuri rak buku tentang komputer. Setelah menemukan buku yang menurutnya cocok ia langsung memberikannya pada Sungje. Nanti Sungje yang memasukkannya ke kantong belanja.
Sungje melihat jam tangannya.
Pukul 6.34 PM
Masih ada sisa waktu sekitar satu setengah jam untuk berkencan. Kencan yang membosankan.

***

“Totalnya 50000 won.” Kata si kasir.
Geonil mengeluarkan kartu kreditnya. Kemudian si kasir segera menggeseknya dan memproses transaksi. Setelah selesai Sungje kembali menenteng puluhan komik dan buku-buku lain yang ada di dalamnya.
“Kau akan membaca semua ini?” tanya Sungje yang sudah kepayahan mengangkat beban ini.
“Tidak.”
“Lalu untuk apa kau membelinya?”
Geonil menghela nafas. “Untuk meramaikan rumahku.”
“Haaaa?!!” Sungje menganga lebar mendengar alasan bodohnya.
“Lantai 2 di depan toko buku. 5 menit!” tiiiit
Geonil sepertinya sedang menyuruh orang untuk membawakan tas belanjaan Geonil yang superduperr berat ini.
“Ada yang bisa saya bantu, tuan Geonil?” tanya dua orang berbadan besar yang sangat tunduk pada Geonil.
Geonil mengambil paksa belanjaan yang dibawa Sungje. Sungje yang tersentak hampir melayangkan makian pada lelaki itu. Terlalu ‘sopan’ untuk dilakukan anak konglomerat sepertinya.
“Bawakan ini dan rapikan.” Kata Geonil dengan nada dingin.
Sungje melihat dua orang bodyguard itu membungkuk sopan dan mengiyakan suruhan Geonil. Dunia ini memang tidak adil! Yang kaya seenaknya memerintah, yang miskin hanya bisa diam dan membungkuk terus-terusan.
“Waktuku tinggal sejam lagi ya?” tanya Geonil tanpa menatap Sungje disampingnya.
Sungje melihat ke arah jam tangannya. “58 menit lagi.”
Geonil berjalan menuju tempat yang ia inginkan. Sungje hanya bisa mengikutinya dari belakang seperti bodyguardnya. Disini dia menjadi tokoh miskin, jadi dia hanya bisa diam dan menunduk terus-terusan.
“Bayaranku akan kau bayar kan?” tanya Sungje memanasi Geonil.
Geonil mengangguk. “Setelah selesai kencan aku akan memberikan semuanya untukmu.”

***

Ternyata Geonil bukan orang yang terlalu membosankan.
Ia mengajak Sungje ke tempat permainan. Sungje sangat menyukai tempat ini dan ingin sekali bermain terus disini.
“ini 30 koin untukmu. Kau suka kan main disini?” tanya Geonil datar. “Kalau kurang minta saja padaku.” Geonil lalu berlalu untuk mencari permainan yang dia suka.
Sungje melihat Geonil berjalan ke arah permainan basket. Ia memasukkan satu koin dan mulai memasukkan bola basket itu ke dalam ring dengan sangat mudah. Tentu saja dengan tinggi seperti itu pasti gampang memasukkan bolanya! Tidak ada satupun bola yang meleset.
“Wow..” Sungje langsung terpesona pada permainan basket Geonil.
Permainan babak satu sudah selesai. Geonil memasukkan koin lagi. Lalu kembali bermain dengan sangat keren dan cool. Permainannya cukup santai, tapi tetap tidak ada yang meleset satupun.
Sungje terpesona lagi. Begitu pula orang-orang yang kebetulan lewat dan akhirnya malah menonton pertandingan gratis itu. Yang menjadi tokoh utama tetap bisa fokus dan memasukkan bola lagi. Sudah banyak tiket yang dihasilkan dari shoot kerennya.
Saking lamanya ia memperhatikan Geonil, Sungje lupa dengan 30 koin yang diberikan Geonil tadi. Ia kemudian mencari permainan yang menurutnya bisa menghilangkan stres.

***

Geonil sebenarnya tahu kalau banyak orang yang melihatnya sekarang. Termasuk Sungje. Tapi Sungje sudah pergi ke tempat lain untuk bermain. Ekor mata Geonil menangkap Sungje yang sedang berusaha membidik boneka yang ada di dalam mesin. Kalau tidak dapat ia akan memaki pelan dan berusaha lagi.
BLASHHH!!!
Itu bola terakhir yang ia masukkan. Setelah itu ia mencabut tiket yang sudah lumayan banyak dan mendatangi Sungje yang masih berkutat dengan mesin pengambil boneka.
“Aku bisa belikan banyak boneka untukmu. Tidak usah berjuang seperti ini.” Kata Geonil masih dengan wajah datar pada Sungje.
Sungje menggeleng. “Tidak.” Ia memasukkan koin yang ke-10. “Aku mau memberikan ini untuk adikku dan teman-temannya di panti asuhan. Mereka sangat menyukai boneka. Jadi boleh kan aku memberikan mereka hasil kerja kerasku?”
Geonil diam. Selama ini ia tidak pernah tahu ada kehidupan lain selain kehidupannya menjadi orang kaya yang ibarat tinggal-kedip-langsung-dapat. Masih banyak orang yang harus berjuang untuk mendapatkan apa yang mereka mau.
“Chukkahamnida!!” kata si mesin pengambil boneka itu. Sungje tersenyum senang sambil mengambil boneka bergambar buaya berwarna hijau yang lucu itu. Ia kemudian mengambil koinnya dan memasukkannya lagi ke mesin itu.
Geonil menghela nafas sambil melihat sisa koinnya. Masih ada sekitar 10-an lagi. Ia mengambil satu dan ikut memasukkan koin ke mesin pengambil boneka yang ada disebelah Sungje.
“Chukkahamnida!!” si mesin kembali mengucapkan selamat. Dengan wajah datar Geonil mengambil boneka bergambar kucing berwarna cokelat dibawah dan memberikannya pada Sungje.
Sungje masih heran kenapa Geonil bisa dengan sempurna menaklukkan permainan disini.
“Chukkahamnida!!” kembali si mesin mengucapkan selamat ketika Geonil mendapatkan boneka bergambar buaya hijau.
“Bisa kau ambilkan si teddy kecil? A-aku..”
Geonil mengangguk. Ia kembali menggunakan kemampuan untuk menyapit boneka itu. Tapi boneka yang diinginkan Sungje terlalu susah untuk didapatkan.
“Shit!!” maki Geonil pelan. Ia ingin memukul mesin itu. Tapi kemudian ia ingat Sungje yang belum menyerah walau sudah menghabiskan lebih dari 10 koin untuk satu boneka.
Kesempatan kedua. Masih belum bisa didapatkan boneka itu.
Kesempatan ketiga. Hampir bisa. Tapi si pencapit malah menjatuhkannya dengan sengaja.
Kesempatan keempat. Lagi-lagi hampir bisa. Tapi si pencapit kembali menjatuhkannya.
Kesempatan kelima. Geonil hampir menyerah. Tapi Sungje disampingnya mengajarkan untuk terus mencoba selagi bisa. Dan dikesempatan ketujuh ia baru bisa mendapatkan boneka yang diinginkan.
“Chukkahamnida!!” ucap si mesin datar.
“Yeeee!!!!” Sungje berteriak pelan tapi girang.
Geonil memberikan boneka itu pada Sungje. Sungje menerimanya dengan gembira. Ia mengucapkan terimakasih sambil terus tersenyum. Dan tanpa sadar membuat Geonil ikut tersenyum kecil. Hal yang jarang dilakukannya.
“Waktuku tinggal berapa?”

***

7.45

Geonil dan Sungje sudah menghabiskan koin di game center. Mereka lalu mencari tempat untuk makan.
“Disitu ada tempat yang jual waffle. Enak sekali. Kau mau coba?” tawar Geonil dengan wajah datar.
Sungje mengangguk. “Aku belum pernah makan waffle. Aku mau coba!”
DEG
Lagi-lagi Sungje seperti membawanya ke dunianya. Masih ada juga orang yang belum pernah mencoba makanan seenak waffle. Padahal Geonil bisa dengan mudah membeli waffle. *gue belom pernah nyoba niniiiiiiil!!!! #guekere
“Super waffle.. kau mau berapa?” Geonil bertanya pada Sungje.
“Satu saja cukup.” Jawab Sungje yang masih terpesona dengan resto waffle itu.
“Super Waffle 3 dan… kau mau minum apa?”
“Err.. mocca float..” Sungje tertarik melihat gambar minuman di dalam gelas yang ada es krim vanilla diatasnya.
“3 super waffle, 1 mocca float dan 1 cappucino hangat.”
“Totalnya 35000 won.”
Geonil kembali menyerahkan kartu kredit. Setelah menggeseknya Geonil mendapatkan sebuah papan nomor.
“Disini saja. Dekat jendela.” Sungje memilih tempat yang langsung menjorok keluar. Geonil mengikutinya.
“Kau sering makan disini?” tanya Sungje sambil terus fokus keluar. Menatap suasana kota Seoul yang sedang dilanda musim dingin.
“Lumayan.”
“Harga wafflenya mahal sekali. Mendingan tadi aku tidak menyetujuinya.”
Geonil tersenyum kecil. “Bukannya kau yang sering ‘memoroti’ orang-orang yang mau berkencan denganmu?”
Sungje menggeleng. “Tidak juga. Kebanyakan mereka mengajakku ke restoran Jepang atau makan spagetti.”
“Kau mau makan itu?”
Sungje mengangguk. “Tapi tidak hari ini. Waktu kita tinggal 12 menit lagi.”
Kemudian pesanan mereka datang. 3 super waffle yang berukuran besar. Tapi yang baru Sungje sadari disitu ada 3 piring. Berarti.. Geonil akan menghabiskan dua piring waffle besar ini?
“Makanlah. Kujamin kau tidak akan menyesal kuajak kesini.”
Sungje mengangguk. Ia mengambil pisau dan garpu. Lalu memotongnya dalam ukuran kecil dan memasukkannya ke dalam mulut. Dan…
“Enak sekali…” Gumam Sungje tanpa sadar. Ia memotong lagi dengan ukuran yang lebih besar.
Geonil menghela nafas lega. Entah kenapa ia merasa bahagia melihat orang didepannya ini bahagia. Ia mulai melakukan hal yang sama. Aroma waffle itu tidak bisa dibendung lagi.
Geonil baru menghabiskan setengah dari wafflenya ketika Sungje sudah selesai menghabiskan super wafflenya. Mocca floatnya juga sudah habis.
“Mau mocca float lagi?” tanya Geonil menawari.
Sungje mengangguk. “Hehe.. iya.”
Geonil melambaikan tangan. “Satu mocca float.”
“Segera.”
Sungje kembali menelan ludanya melihat masih ada super waffle yang beraroma sangat menggoda didepannya. Geonil yang menyadari langsung tertawa kecil.
“Makan saja kalau mau.” Kata Geonil.
Sungje menatap Geonil yang dengan santai melihatnya. Ia tersenyum manis sekali. Baru kali ini ia melihat senyum semanis itu.
“Cute.” Ups…
Untung Geonil tidak mendengar dan terus memotong wafflenya.
Sungje memotong seperempat dari waffle itu. Lalu menaruhnya di piringnya dan kembali menyantapnya. Mocca float kemudian datang.

***

Kencan hari ini sangat menyenangkan untuk Sungje. Walupun awalnya ia harus pusing karena diajak ke toko buku—hal yang paling jarang ia lakukan—tapi akhirnya ia bisa menghabiskan satu setengah waffle yang sangat lezat ditambah 3 mocca float yang membuatnya kenyang.
Geonil membuka pintu mobil untuk Sungje. Setelah Sungje masuk  ia menutup pintu mobil mewah itu dan berjalan ke samping. Geonil mengeluarkan sesuatu dari balik dasbor mobilnya.
“Karena aku kelebihan 2 menit, tarif kutambah 500 ribu.” Geonil menyerahkan sebuah amplop berwarna cokelat yang sangat tebal. Mata Sungje langsung hijau melihatnya.
“Gomapta.”
Geonil mengangguk. Ia menyalakan mesin mobil dan berjalan pelan-pelan untuk menghindari kecelakaan di musim dingin ini dan mengantarkan Sungje dengan selamat.
“Masih mau melanjutkan kencan kita?” tanya Geonil setelah sampai di depan rumah sederhana Sungje.
“Err…”
“Kalau mau kutunggu di kedai jajangmyun didekat SMA HakJeong jam 4.”
Dan Geonil pun langsung memundurkan mobilnya dan pergi menjauh dari hadapan Sungje.

***

TBC

Day 1 finished~
What do you think??? Is it romantic?? Hahaha XDD

8 thoughts on “2hours/6days of Date (Day 1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s