The Next Life (Sekuel Revenge) Part 3 (End)

Title : The Next Life (sekuel Revenge)
Genre : NC17, straight, romance, angst
Length : 3 of 3
Main Cast :
–    Park Yoo Chan
–    Kim Sung Je
Other Cast :
–    Park Yoo Rin
Author : LaillaMP *sepertinya sekarang gue kudu nulis nama author biar pada ga bingung (?)
A/N : entah otak apa yang gue pake buat bikin ff ini. Pengennya happy end malah jadi sad end ==”
Abis ini ada epilog, dan di epilog bisa direquest, mau dibikin sekuel apa kagak. Kalo kagak mau yasudah. Kalo mau tunggu gue punya waktu. Hahah😄
Ceritanya biasa yah? Mianhada!!
RCL please😀

***

<< Previous

Park Yoorin tersenyum senang mendengar berita bahwa istri presdir Kim langsung dilarikan ke rumah sakit setelah membuka bungkusan yang diberikannya. Tentu saja hanya satu tujuannya, membuat Sungje tahu perasaannya.
Drrrttttt….
iPhone-nya bergetar. Satu SMS masuk dari ayahnya.

From : Appa

Yoorin-ah, adakah yang terjadi disana?

Yoorin mengernyitkan dahinya bingung. Ia tidak tahu maksud pertanyaan ayahnya itu. Tapi sepertinya mengarah pada hal ‘itu’.

From : Appa

Kau tidak melakukan apa-apa pada Yoochan kan?

SMS lagi dari ayahnya yang datang untuk kedua kalinya sebelum Yoorin balas. Kemudian ayahnya meng-SMS lagi.

From : Appa

Cepat balas! Kau melakukan apa pada Yoochan?! Kau tahu disini Sungje mengigau tentangnya terus!!

Yoorin mematikan iPhone-nya. Ia jatuh terduduk di atas kasur empuknya. Ia berteriak kesal bercampur marah. Kenapa ayahnya sekarang lebih membela Yoochan? Bukan Yoorin—anaknya?

>> part 3 <<

Keesokkan paginya….
Sungje membuka matanya. Sebenarnya masih terlalu berat untuk dibuka. Tapi ia merasa harus bangun sekarang juga.
“Presdir?”
Sungje mengira itu suara istrinya. Tapi ternyata itu suara sekretarisnya. Sungje menghela nafas berat.
Seorang laki-laki berpakaian serba putih masuk ke ruangan itu. Diikuti 2 wanita yang juga memakai baju putih sambil membawa beberapa obat-obatan. Sungje menyadari ia berada di rumah sakit.
“Presdir sepertinya kelelahan ya?” dokter itu memeriksa detak jantung Sungje. “Anda pasti merindukan ‘dia’.”
Pikiran Sungje langsung menuju ke sebuah apartemen mewah di jantung kota Tokyo, di gedung Takagi, lantai 12 nomor 45.
“Yoochan…” gumam Sungje dengan suara lemah. Tidak ada yang mendengarnya. Karena Sungje benar-benar dalam keadaan lemah sekarang
“Jam berapa ini?” tanyanya pada sekretarisnya.
Sekretarisnya melirik jam tangannya. “Jam 7 kurang 10.”
Sungje mengangguk lemah. Rapat dimulai pukul 8. Ia tidak yakin bisa bangun dan memimpin rapat lagi.
“Bisa aku keluar dari sini sekarang? Rapat dimulai pukul 8 kan?”
“Hari ini kalau memungkinkan kau bisa pulang ke Korea. Biar rapat hari ini aku yang urus.” Presdir Park datang bersama 3 orang asistennya. “Maafkan anakku ya.”
Sungje merasa kekuatannya terisi lagi. Dugaannya tentang Yoorin si anak presdir itu sepertinya memang benar. Istrinya dalam bahaya.
“Dimana istriku?!! Di Rumah Sakit mana?!!! Cepat beritahu!!! Malhaebwa!!!!!!” teriak Sungje kesal. Ia turun dari tempat tidurnya dan membiarkan infusnya lepas dan membuat tangannya berdarah. Sungje mencengkram kerah Presdir Park.
“Kau—maksudku anakmu, kalian apakan istriku?!! Saekki!!! Dasar tidak punya otak!! Aku sudah bilang aku tidak akan segan membuat siapapun celaka kalau istriku kenapa-napa!!” amarah Sungje memuncak. Ia mendorong Presdir Park ke belakang. 3 asisten Presdir Park menahan Sungje agar tidak melakukan tindakan anarkis lagi.
“Lepas!!!!”
“Oppa, keumanhae!!!” teriak seorang gadis dengan wajah penuh air mata. “Oppa, mianhae!!”
Pandangan Sungje beralih pada gadis itu. Amarahnya tambah memuncak dan sebentar lagi akan mengeluarkan lava-nya. Dengan kekangan 3 asisten Presdir Park, Sungje tetap menyampaikan rasa marahnya.
“Yeoja sialan, aku belum pernah menghardik yeoja sebelumnya!” Sungje mengucapkan dengan suara bergetar. “Tapi karena kau, aku jadi menghardik yeoja!”
“Mianhae oppa..” air mata Yoorin bercucuran deras.
“Aku pernah menolak kerjasama karena di awal kita bertemu kalian malah menjadikan ini ajang perjodohan. Tapi keesokkan harinya aku mengabulkan permintaan perusahaan kalian untuk bekerja sama. Itu semua berkat Yoochan! Kalau tidak ada dia, mungkin kalian akan jatuh!!” kata Sungje dengan nafas tersengal. “Aku sadar aku tidak boleh menyamakan urusan pribadi dengan urusan pekerjaan. Jadi kuterima. Dan nyatanya kita berhasil!”
“Direktur—“
“Istriku tidak pernah melakukan apa-apa pada Yoorin kan? Istriku tahu kau sering meng-SMS dan menelponku malam-malam. Dia tahu, tapi dia percaya padaku dan terus membiarkannya menggangguku tiap malam.” Sungje menelan ludahnya sejenak. “Aku benar-benar tidak menyangka.”
Yoorin menjatuhkan dirinya ke lantai. Ia berlutut pada Sungje. Kali ini ia benar-benar tulus meminta maaf.
“Ini penantian panjang. Aku sudah hampir 2 tahun menikah dengannya. Dan kami sudah menunggu kehadiran anak pertama kami. Rencananya sebulan lagi dia lahir sebagai anak perempuan yang cantik. Kami sudah membeli perlengkapan bayi, membeli baju berwarna cerah, aku sudah berusaha semampuku untuk menjaganya, tapi kenapa kalian menghancurkan harapanku? Aku dan dia sama-sama ingin mempunyai anak.”
“Oppa, jeongmal mianhae!! Aku tahu aku salah!! Aku termakan api cemburu. Aku—aku minta maaf. Aku benar-benar menyesal sekarang. Hiks.. oppa!!!” Yoorin terus mengeluarkan air mata.
“Terlambat!” Sungje melepaskan dirinya dari cengkraman 3 asisten Presdir Park. Ia berjalan ke arah presdir Park. “Pak, dengan penuh rasa hormat, saya memutuskan hubungan kerjasama ini! Silakan anda mencari dana untuk mengganti rugi.”
Sungje sudah tidak mempedulikan kondisinya. Ia berjalan keluar ruangan masih dengan memakai baju khas rumah sakit dan tangan yang berdarah karena goresan jarum suntik pada infus.
“Direktur!!!” 4 anak buah Sungje yang baru datang langsung menghalaunya. “Direktur—“
“Bisa kalian biarkan aku pergi?” tanya Sungje dengan nada mengancam.
“Tapi anda harus berganti baju dan membersihkan luka anda. Lalu kita pulang ke Jepang.”
Sungje baru menyadarinya. Ia tersenyum malu dan kembali ke ruangannya untuk membersihkan luka di tangannya dan mengganti bajunya.
“Handphone anda…” sekretarisnya memberikan iPhone-nya.
Ada 5 SMS. Sungje langsung membukanya. Namun hanya satu yang menarik perhatiannya. Pesan itu pesan yang lebih baru dari pesan lainnya.

From : My Yeobo-Chan~

Walaupun jauh, aku masih bisa merasakannya.
Sayang, kau tidak apa-apa kan? Pulanglah. ‘Dia’ menunggumu. Maaf kalau aku mengecewakanmu. Bayi kita lahir prematur..

Sungje tersenyum. Semua anak buah yang ikut dengannya terus bertanya kenapa. Tapi Sungje hanya tersenyum.
“Anakku lahir..” Sungje mendesis terlalu senang. “ANAKKU LAHIR!!!!”
“YEEEEAAAAAAHHHHH!!!!!!!” semuanya ikut senang mendengarnya.
“Anakku lahir!!! Terima kasih ya Tuhan!!!” Sungje bersujud syukur. Ia tidak menyangka anaknya lahir. Walaupun prematur, tapi ia tetap bersyukur.
“Jadi, kapan kita mau pulang presdir?” sekretarisnya tersenyum menggoda.
“Sekarang!!!!”

***

“Bagaimana anakku? Dia baik-baik saja kan?” tanya Yoochan pada dokter yang baru selesai memeriksa anak perempuannya.
Dokter itu mengangguk. “Iya. Tapi seperti kebanyakan bayi prematur lainnya, ada beberapa organ yang belum berfungsi maksimal. Detak jantungnya masih lemah.”
Yoochan tersenyum. “Dokter, bisa kan dia bernafas sampai suami saya datang?”
Dokter itu mengangguk. “Kalau Tuhan mengizinkan, pasti bisa.”
Yoochan terus menunggu Sungje. Ia yakin Sungje pasti akan pulang. Entah hari ini, atau besok. Yang penting Yoochan menunggunya.
“Channie sayang!!!!!!” teriak Sungje ketika memasuki ruangan dimana Yoochan dirawat.
Yoochan terkekeh pelan melihat kelakuan memalukan pria berumur 29 tahun itu. Ia memeluknya erat. Tidak peduli sakit perutnya ketika di caesar.
“Mana anakku? Ah.. anak kita?” Sungje melepaskan pelukannya. Lalu mengecup bibir Yoochan berkali-kali.
“Ada di inkubator. Tahu kan bagaimana anak yang terlahir prematur?” air muka Yoochan berubah.
Sungje mengelus pipi Yoochan sayang. “Aku tidak kecewa, sayang. Aku bersyukur karena aku tidak perlu menunggu sebulan lagi untuk melihat wajahnya. Pasti mirip kau.”
Yoochan menggeleng. “Kupikir dia lebih mirip ayahnya.”
Sungje tertawa kecil. Ia lalu memapah tubuh Yoochan agar duduk di kursi roda. Sungje mendorong kursi roda Yoochan sampai ke ruang khusus bayi di samping ruang inapnya.
“Dia cantik sekali kan?” Yoochan tersenyum memandangi anak pertamanya yang sedang berusaha untuk mengambil udara dari alat bantu nafasnya.
“Iya. Lebih dari dugaanku.” Sungje gemas melihat bayi yang masih memejamkan matanya itu.
“Yang mana yang lebih cantik? Dia, atau aku?”
Sungje menggeleng bingung. “Dua-duanya sama-sama cantik. Cantik sekali. Ah.. aku punya dua orang yang cantik. Ckck..”
Yoochan mengelus kepala Sungje yang sudah sejajar dengannya. Sungje terus mengagumi kecantikan anak pertamanya itu.
“Yoochan-ah,”
Yoochan menoleh ke arah Sungje. “Apa?”
“Mau berjanji satu hal denganku?”
Yoochan mengangguk sambil tersenyum. “Apa?”
“Jangan tinggalkan aku. Apapun yang terjadi.”

***

Hujan deras mewarnai pemakaman kecil itu. Seorang anak yang baru merasakan panasnya bumi harus kembali lagi ke pangkuan sang pencipta.
“Ssst.. sudahlah. Dia sudah tenang kok.” Sungje merangkul Yoochan yang masih tetap bertahan di makam kecil itu.
Yoochan tidak berkutik. Dibiarkannya badannya basah karena guyuran hujan yang deras itu. Sungje terus membujuknya untuk berdiri dan meninggalkan tempat itu.
“Mungkin memang belum saatnya.” Sungje berusaha menenangkan Yoochan.
“Mianhae..”
“Bukan salahmu. Ayo kita kembali.”
“Mianhae!! Hiks.. ini salahku!! Sungje-ah, kenapa kau tidak marah padaku?!!” Yoochan menonjok pelan tubuh kekar suaminya yang juga basah oleh guyuran hujan.
“Ini bukan salahmu.” Ucap Sungje lagi. Ia memeluk Yoochan erat.
“Ini salahku!! Sungje-ah kenapa kau tidak pernah marah padaku????”
Sungje membiarkan Yoochan menangis. Tanpa sadar air matanya juga membasahi wajah tampannya. Kedua orang itu belum diizinkan Tuhan untuk menjadi orangtua dalam waktu dekat.

***

Sepanjang hari Yoorin terus merutuki dirinya yang begitu bodoh. Begitu butanya karena cinta. Yoorin menyesali perbuatannya. Sangat menyesalinya. Ia rela diperlakukan bagaimanapun untuk menebus kesalahannya.
“Memang sudah terlambat untuk meminta maaf. Tapi belum terlambat untuk memperbaiki sikapmu.” Ujar sang ibu menenangkan.
Yoorin terisak. Ia ingat bagaimana ekspresi Sungje kemarin saat ia tahu kalau Yoorin-lah yang membuat Yoochan hampir keguguran. Ia juga ingat ekspresi Sungje ketika melihat buah hatinya yang masih lemah di ruang inkubator. Dan Yoorin pun tahu bagaimana ekspresi Sungje ketika menenangkan istrinya karena telah ‘gagal’ memberinya seorang anak.
“Andaikan aku mendengarkan umma..” Yoorin menyeka air matanya.
Ibunya merangkul Yoorin ke pelukannya. Membiarkan putrinya itu menumpahkan air matanya.
“Andaikan aku tahu kalau masih ada ketulusan di dunia ini. Umma, aku menyesal sekali!” isak Yoorin.
“Umma juga pernah menyesal sayang.”
Yoorin langsung melepaskan pelukannya. “Kenapa? Umma menyesal karena punya anak bodoh seperti aku?”
Ibunya menggeleng. “Bukan.”
“Lalu?”
“Umma menyesal karena umma gagal menjaga anak umma.” Sang ibu meneteskan air matanya. “Umma gagal karena umma pernah meninggalkan dua anak umma.”
Yoorin membelalakkan matanya bingung. “Umma… punya anak… sebelum aku?”
Wanita itu mengangguk. “Iya. Sebelumnya umma punya dua anak kembar. Mereka laki-laki dan perempuan. Tapi karena keegoisan umma dan appa, kami meninggalkannya di Korea. Umma menyesal karena tidak bisa menjaga mereka.”
“Lalu… kemana mereka?”
Ibunya menyeka air matanya. “Yang laki-laki dibunuh, entah oleh siapa.” Air mata sang ibu kembali membasahi pipinya. “Dan anak perempuan umma yang satu lagi… adalah Yoochan.”
DEG
Yoorin memegangi dadanya yang terasa sakit. Ia tidak punya penyakit keturunan seperti asma atau jantung. Sakit ini lebih pada sakit karena telah menyakiti kakaknya sendiri.
“Kenapa umma meninggalkan mereka? Kenapa umma dengan mudahnya bilang kalau aku anak satu-satunya?”
Tiba-tiba ayahnya masuk. “Kami kira mereka sudah cukup dewasa untuk ditinggal. Waktu itu umur 10 tahun. Kami hanya pulang dua kali setahun.” Ayahnya menghela nafas sejenak. “Makanya semenjak kelahiranmu, kami berusaha untuk memberikan kasih sayang untukmu, dan menganggapmu anak satu-satunya.”
“Ternyata kalian begitu jahat. Pantas saja aku—aku pun ikut jahat.” Yoorin menangis keras menyadarinya. Yoorin tidak percaya kalau ia dilahirkan dari keluarga yang ‘jahat’. Dan mereka sudah mendapat balasannya, penyesalan yang tiada akhir.
Sekarang Yoorin tahu alasan kenapa kedua orangtuanya seperti mempunyai hubungan ‘batin’ dengan Yoochan, itu karena mereka adalah orangtuanya. Dan Yoorin pun sekarang tahu kenapa rasa sakitnya ini lebih besar dari rasa sakit ketika ia menyukai orang lain sebelum Sungje, itu karena yang menyukainya adalah kakaknya. Orang terdekatnya. Orang terdekatnya menyukai orang yang ia suka..

***

Sudah hampir seminggu. Sungje dan Yoochan masih dirundung duka. Terutama Yoochan yang selalu mengigau sambil memegangi perutnya.
“Kau sudah berjanji kan tidak akan meninggalkanku, apapun yang terjadi?” Sungje merangkul tubuh Yoochan yang terbalut jaket tebal. Ia berdiri dalam diam di balkon apartemennya.
Yoochan diam. Ia tidak mendengarkan ucapan Sungje. Yang ada di hadapannya sekarang langit malam yang tak berbulan ataupun berbintang. Langit itu kosong. Sama seperti hatinya.
“Aku mengucapkan itu bukan tanpa arti. Aku mengucapkan itu karena aku tidak mau aku menjadi nomor dua di hatimu setelah anak kita lahir.” Sungje menyeka air matanya tanpa sepengetahuan Yoochan. “Aku egois ya?” Sungje tertawa mengejek dirinya sendiri.
Yoochan menarik nafas berat. Lalu menghembuskannya perlahan. Sedikit menarik bibirnya kesamping. Sifat suaminya ini yang bisa menenangkannya di masa sulit.
“Sebelum aku bertemu Park Yoochan, aku tidak pernah merasa seperti ini. Dari kecil aku dididik untuk menjadi pribadi yang tegas dan menomor satukan perusahaan. Aku sudah dijadikan calon penerus perusahaan HanaKimi sejak kecil. Setiap hari dijaga ketat oleh beberapa bodyguard. Aku tidak punya teman. Kalau ada yang mau dekat denganku pun, dia pasti akan menjauhiku lagi. Mengetahui kalau aku mempunyai bodyguard yang siap menerkam mereka kapan saja.” Sungje mengusap air matanya. “Aku tidak pernah merasakan yang namanya cinta dan ketulusan dari kecil. Orangtuaku pergi jauh, entah kapan mereka akan pulang. Tahun baru dirayakan sendiri, ulangtahun dirayakan sendiri, natal pun dirayakan sendiri. Sering aku berdoa ketika natal, dan yang kuminta hanya satu.” Sungje menghela nafas untuk menenangkan diri. “Tuhan, aku ingin merasakan ketulusan. Tunjukkanlah aku ketulusan.”
Yoochan menyandarkan kepalanya ke dada Sungje. Sudah lama ia tidak melakukannya. Tidak merasakan hangatnya dada suaminya ini.
“Dan aku baru merasakan ketulusan itu di umur 27. Aku bertemu denganmu. Aku mulai melihat dunia lain selain bisnis dan uang. Kau mengajariku bagaimana untuk menyayangi burung-burung merpati disana, kau mengajariku bagaimana cara menyelamatkan anak anjing yang kakinya berdarah dan kehujanan, kau mengajariku bagaimana menghadapi dunia dengan caramu.”
Yoochan melingkarkan tangannya di pinggang Sungje. Ia merasa jauh lebih tenang sekarang. Apalagi mendengar tuturan lembut Sungje tentang masa lalunya.
“Kau tidak pernah menyerah untuk menyelamatkanku. Kau tidak pernah kehabisan akal untuk menenangkan pikiranku. Kau memberikanku cappucino hangat setiap malam hanya untuk menenangkan pikiranku. Dan kau selalu mengajakku ke tempat penjualan hewan peliharaan. Tujuanmu hanyalah ke tempat dimana anjing-anjing kecil ditempatkan. Kau bilang kau ingin bisa setia seperti mereka. Kau ingin bisa menjadi penghibur bagi siapapun, kau juga ingin menjadi penyelamat mereka.”
“Sungje-ah,” Yoochan akhirnya membuka suara. Suaranya serak. Ketahuan sekali ia habis menangis. “Kau tahu latar belakangku? Itu pertanyaan yang sering kulontarkan untuk diriku sendiri. Aku selalu menyembunyikan ini. Tapi hari ini aku benar-benar ingin jujur. Aku tidak kuat untuk menyimpannya sendiri.”
Sungje menghela nafas. “Jauh sebelum kau melontarkan pertanyaan ini padaku, aku sudah tahu.” Sungje mengeratkan pelukannya pada Yoochan. “Aku tahu kau kabur ke Jepang karena ingin pergi dari masalah. Kau membunuh saudara kembarmu karena kau ingin membalas dendam karena dia telah membunuh orang yang kau cinta. Aku tahu kau sudah tidak perawan, dan aku juga tahu kau mulai menyukaiku ketika aku memberikan anak anjing padamu. Mungkin kau lebih menyukai anjingnya. Tapi aku merasa kau lebih menyukaiku.”
Wajah Yoochan memerah mendengarnya. Ia mungkin menjadi orang pertama diantara mereka berdua yang menyukai duluan.
“Aku tahu ketika kita berada di pinggir pelabuhan kau bukan melihat ke arah kapal. Melainkan ke arahku.” Sungje tersenyum menggoda. “Aku pun melakukan hal yang sama. Aku menatapmu. Tapi kau tidak pernah sadar.”
Sungje menatap langit malam yang tidak berbintang itu. “Dari dulu aku selalu diajarkan untuk memilih wanita yang kaya, anggun dan pintar. Tapi kau tidak ada di 3 kategori itu.”
Yoochan mencubit pinggang Sungje gemas. “Awas kau!!”
Sungje tertawa lega melihat perubahan di wajah Yoochan. “Tapi aku mencintaimu. Aku mencintai wanita aneh, tidak kaya, tidak anggun, tidak pintar dan tidak cantik.”
“Kenapa kau jadi menghinaku?!”
“Aku belum selesai, sayangku..” Sungje merangkul Yoochan kembali dari belakang. “Kau pernah menonton drama ‘kkotboda namja’?”
Yoochan mengangguk. “Iya.”
Sungje menghela nafas. “Sama seperti Goo Jun Pyo, aku mempunyai semuanya. Aku mempunyai wajah, uang dan otak. Yang dibutuhkan Goo Jun Pyo adalah Geum Jandi. Sama seperti dia, yang kubutuhkan hanya Park Yoochan.”
Yoochan tersenyum lega mendengarnya. Sungje menghangatkannya sekarang. Sungje merangkulnya lebih erat.
“Aishiteru, Park Yoochan..” ucap Sungje tulus.
Yoochan menumpahkan air matanya ke dada Sungje lagi. “A-aishiteru.. Kim Sungje.”

***

Hari ini Yoochan merasa hidupnya tidak berarti. Memang Sungje masih terus melakukan hal yang sering dilakukannya, tapi Yoochan merasa Sungje menutupi sesuatu darinya.
Sekarang ia sedang memotong wortel untuk dibuat sup. Tapi pikiran gilanya menyuruhnya untuk menggoreskan pisau itu ke pergelangan tangannya dan memutus nadinya. Dan, ia mengikuti pikiran gilanya itu.
“YOOCHAN!!!!!!!” teriak seseorang histeris. Ia langsung menjatuhkan pisau itu ke lantai dan mendorong Yoochan menjauh beberapa langkah dari masakannya. “NEO MICHEOSSO?! KENAPA KAU MENGINGKARI JANJIMU, EOH?!!”
Yoochan tidak pernah melihat Sungje dengan ekspresi ini. Biasanya Sungje masih bisa dilunakkan, tapi kali ini?
“KAU KENAPA?! KAU TAKUT AKU MENINGGALKANMU?! TIDAK AKAN!!!” teriak Sungje kesal. “Oh. Kau ingin anak lagi? Aku bisa membuatnya! Ayo kapan kita mau membuatnya? Satu? Dua? Tiga? Terserah berapapun aku bisa membuatkannya!!”
Yoochan mengatur nafasnya yang tidak beraturan. Ia benar-benar tidak percaya kalau di depannya ini ada orang yang mengamuk.
“AAAHHHHH!!!!” Yoochan berteriak kesakitan kala Sungje dengan paksa menghisap kuat lehernya. Yoochan terus meronta. Tapi Sungje tetap tidak memberinya kesempatan untuk meronta.
Sungje mengangkatnya ke atas meja makan yang kokoh. Dengan paksa Sungje melepas pakaian Yoochan sampai ia tidak ada sehelai benang pun menempel di tubuhnya.
“Sungje-ah…”
“Aku akan hapus pikiran gilamu itu!” desis Sungje sambil mengulum bibir Yoochan. Tangannya dengan ganasnya meremas buah dadanya. Yoochan tidak pernah merasakan hal ini.
Sungje berubah…

***

Sungje tidak habis pikir kenapa dirinya bisa bertindak sejauh itu? Ia juga tidak bisa mempercayai kalau ia telah ‘menyiksa’ istrinya. Hal yang paling dihindarinya dari awal ia menyukainya.
“Ssst… mianhada…” ucap Sungje lembut sambil mengelus rambut Yoochan.
Yoochan masih menangis sambil memeluk guling. Selimut tebal menutupi tubuhnya yang baru saja mengganti baju.
“A-aku tidak tahu kenapa aku melakukannya. Yoochan-ah, kau tidak marah kan?” Sungje mengguncangkan tubuh Yoochan pelan.
Sungje menghela nafas. “Aku hanya ingin kau tahu, kalau aku tetap akan ada disampingmu walaupun kau belum memberikan hal yang satu itu. Kita bisa mengadopsi anak lain kan? Kita bisa menjaga mereka kan?”
Yoochan masih tetap menangis. Mengingat perlakuan Sungje di dapur tadi. Karena sudah lama tidak melakukan, ia merasa sangat sakit. Apalagi Sungje tidak memakai pemanasan sebelumnya.
Sungje merebahkan tubuhnya di samping Yoochan. Memeluk istrinya dari belakang. Mengecup lembut tengkuknya yang tidak luput dari hisapannya tadi.
“Jaljayo… Saranghae..”

***

5 tahun kemudian……

“Appa!!!!” teriak anak laki-laki berusia 4 tahun itu pada ayahnya yang sedang asyik dengan iPhone-nya.
Hup!! Pria berusia 34 tahun itu menangkap bola yang diberikan anak laki-lakinya. Ia memasukkan iPhone-nya dan melempar bola itu ke anaknya.
Hup!! Anak laki-laki itu menangkap bolanya dengan cepat. Ia lalu berjalan ke arah seorang wanita yang duduk di atas kursi roda.
“Umma, mau main juga?” tanya Kim Jun Young, anak itu.
Wanita itu menggeleng. “Kau dengan appa-mu saja. Appa-mu belum olahraga dari seminggu lalu. Tugas terus!”
Jun Young tersenyum manis sambil mengangguk. Lalu berlari ke arah ayahnya yang masih berdiri sambil mengutak-atik iPhone-nya.
“Appa, tangkap!!!!” teriak Jun Young. Mengagetkan Sungje yang sedang membalas SMS dari rekan kerjanya.
Hupp!!!
Bola itu tertangkap, tapi iPhone-nya jatuh. Yoochan tertawa melihat ekspresi Sungje yang kesal. Seperti anak kecil yang es krimnya jatuh padahal belum dimakan sama sekali.
“Jun Young!!!!!!!” teriak Sungje kesal. Ia mengejar anaknya tanpa mempedulikan iPhone-nya yang terbanting. Yoochan mengarahkan kursi rodanya ke arah iPhone suaminya itu jatuh.
“Appa sudah olahraga! Tuh keringatan!” ucap Jun Young polos sambil menatap ayahnya yang sedang mengelap keringat.
“Siapa sih yang mengajarimu lari, eoh? Cepat sekali!” Sungje mengangkat Jun Young ke gendongannya. Jun Young terus meronta. Tapi Sungje terus mengunci ruang gerak anak itu.
“ummaaaaa!!!!!!” teriak Jun Young sambil memukul-mukul punggung ayahnya. “Badan appa bau!! Appa belum mandi!!”
Yoochan tertawa. “Sana kalian mandi. Badan kalian bau matahari.”

***

Jun Young terus berlari mengiring bola bersama beberapa temannya di taman dekat rumahnya. Ia tidak sadar terus diperhatikan kedua orangtuanya.
“Aku tidak tahu kenapa aku bisa sangat bahagia sekarang.” Ucap Yoochan sambil menyeka air matanya. “Aku tidak tahu kalau aku berhasil bunuh diri waktu itu. Aku tidak tahu apa yang akan kurasakan hari ini.”
Sungje membawa Yoochan ke pelukannya. “Aku tidak akan merasakan bagaimana ketika Jun Young mengencingiku di umurnya yang belum sampai setahun. Aku juga tidak tahu bagaimana rasanya melihat anakku belajar berjalan sampai bisa berlari seperti ini. Aku tidak tahu bagaimana rasanya mendengar anakku mengucapkan kata ‘appa’ dan ‘umma’. Aku merasa aku adalah orang berhasil di dunia ini.”
“Kau ingat ucapan pertama Jun Young setelah mengucapkan kata ‘appa’ dan ‘umma’?” Yoochan memperhatikan gerak anaknya yang sangat lincah.
“Saranghae.” Sungje menggumam tepat di telinga Yoochan. “Saranghae. Itu yang dikatakannya.”
Yoochan mengangguk. “Aku harap aku adalah ibu yang paling berbahagia. Aku memberikan cinta di umurku yang tidak lagi panjang. Aku mendengar ucapan cinta dari orang yang paling kusayang di dunia ini.”
Sungje mengangguk. “Aku akan terus memberikan cinta selagi kau hidup, dan juga setelah kau mati.”
“Kau sudah ikhlas kalau aku meninggalkanmu?”
Sungje mengangguk. Antara yakin dan tidak yakin. “Kalau Tuhan merasa itu yang terbaik untukmu, aku tidak bisa melakukan apa-apa.”
“Jaga Jun Young ya, Sungje-ah..”
Sungje menggigit bibirnya. Entah kenapa harapannya agar Yoochan bisa hidup lebih lama seperti pupus begitu saja. Sungje mengangguk. Ia berjanji akan menjaga malaikat kecil itu, Kim Jun Young.
“Kau tahu apa tujuan Tuhan menciptakan kita?” tanya Sungje sambil menyibakkan rambut Yoochan.
“Untuk saling melengkapi?”
Sungje mengangguk. “Dan kau tahu apa tujuan Tuhan menciptakanmu?”
Yoochan menggeleng.
“Untuk memberitahuku apa yang dimaksud ketulusan. Untuk memberiku cinta, dan untuk memberiku kebahagiaan.” Sungje mengecup puncak kepala Yoochan. “Dan kau tahu apa tujuan Tuhan menciptakan Jun Young di tengah-tengah kita?”
Yoochan menggeleng. “Mungkin untuk melengkapi kita?”
Sungje mengangguk. “Ada lagi.” Sungje menghela nafas. “Kau lihat dia, sekarang sedang apa?”
“Bermain bola.”
“Kau bisa menebak perasaannya?”
Yoochan mengangguk. “Dia sangat senang.”
“Bagaimana perasaan kita melihatnya?”
Yoochan menyeka air matanya. “Senang, bahagia, entahlah. Aku tidak bisa mengekspresikannya.”
Sungje tersenyum. Ia juga menghapus air matanya.
“Kau tahu kenapa Tuhan menciptakanmu?” Yoochan menatap suaminya lekat-lekat.
Sungje tersenyum jahil. “Untuk ada disampingmu?”
Yoochan mengangguk. “Ada lagi.” Yoochan menempelkan telinganya di dada Sungje. Terdengar gemuruh detak jantung di dalam sana.
“Apa?”
Yoochan menghela nafas. “Untukku,” Yoochan menelan ludahnya. “Terima kasih, untuk semuanya.”
Setelah itu Sungje tahu, bahwa Yoochan sudah mengucapkan kata terakhirnya. Sungje berusaha untuk tidak menangis. Tapi ia tidak bisa berpura-pura. Lelaki itu menangis. Belahan jiwanya sudah dipanggil. Belahan jiwanya sudah tidak ada disampingnya. Tapi belahan jiwanya  masih ada di hatinya, menjadi pelengkap hidupnya.
“Sama-sama.” Sungje mengucapkan dengan suara bergetar. “Terima kasih juga, untuk menjadi wanitaku..”

***

END

4 thoughts on “The Next Life (Sekuel Revenge) Part 3 (End)

  1. Shin Seul Young

    oiye baru mudeng ternyata baca part 2 yang ini kelewatan karna baca dari hape dan error loading..
    itu yoochan sakit apa? kenapa ga dijelasin? sad ending kemudian happy di part 3… tp aku ga setuju klo si junyoung punya umma baru cukup sungje saja yang jadi umma skaligus appa wkwk
    thor ini wajib sekuel.. ditunggu pokoknyaaa

    Reply
    1. LaillaMP Post author

      hahahahaaa mending ke page kumpulan fanfic dulu biar gampang kalo mau cari ff. tapi saya lupa kapan itu update terakhir -___-
      sebenernya saya juga ga ngerti kenapa yoochan mati. yah biarin aja lagian dia jahat/?
      sungje jadi mamah ga bakal cocok walaupun udah official umma-nya css/? ga bisa bersih2 sama masak -___-
      sekuel ya…. hehehe….. gatau sih u,u tunggu wangsit aja/?

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s