Time To Love (Part 9)

Title : “Time To Love” *ga tau dah ni nyambung apa kagak ==”
Genre : comedy (?), romance (?), family, shonen-ai, yaoi, mpreg, little angst *nambah lagi
Length : ga banyak-banyak (?)
Rate : PG 15 (?)
Author : LaillaMP *sepertinya sekarang gue harus tulis nama author biar pada ga bingung (?)
Cast :
–    park geonil *Cho Shin Sung*
–    kim sungje *Cho Shin Sung*
–    other Cho Shin Sung members~
Summary : Sungje merasa ia sudah menyukai Geonil. Tapi kadang ia bimbang, sebenarnya siapa yang ia cintai? Jihyuk atau Geonil? Dan siapakah yang bisa menghapus kutukan itu dan hidup bersamanya? *summary berganti
Disclaimer : all cast in this ff is belong to me *digaplak* and the story also mine. Jadi kalo ternyata ada ff yang mirip ama ff ini, itu bukan kesengajaan ^^
A/N : di part ini sepertinya tambah aneh ==a
Seharusnya saya share ff ini hari kamis kemaren *waktu gue pengumuman* karna gue masuk. Tapi karna gue pusing jadilah ga kuat jalan ke warnet ==”
Maafkan saya kalau anda jadi keracunan abis baca ff ini. Kalo sakit berlanjut jangan hubungi dukun!!
Maafkan saya kalo ada kata-kata yang salah. Monggo ^^

****

<< previous

1 jam kemudian….
“Katanya mau pulang!! Mana? Ih!! Geonil!!!!! Pulang baru tahu rasa kau!!” rutuk Sungje kesal sambil melempar bantal kecil sofa.
“Biasanya kalau aku berbicara dia langsung datang. Oke, aku akan terus berbicara siapa tahu Geonil langsung datang. Ya, dia kan seperti setan. Datang pergi tanpa pernah kedengaran jejaknya. Ah ya…” Sungje berbicara sendiri. Antara mengharapkan Geonil datang dan mengatasi ketakutan.
Drrrttttttt…. Drrrrrttttttttt…. Drrrrtttttttt…. Drrrrrtttttttt….. drrrrrrrrrtttttttttt…..
“Yoboseyo? Geonil-ah, neo—“
“Geonil kecelakaan. Sekarang ada di Rumah Sakit HanaDulSet. Anda istrinya kan? Cepat kesini!”
Klik
DEG

Geonil……
Kecelakaan???????
Geonil….
Kecelakaan???????
GEONIL KECELAKAAN??!!!!!!!!!!

>> Part 9 <<

Geonil meringis pelan ketika merasakan sakit disekujur tubuhnya ketika digerakkan. Geonil berusaha menebak apa yang terjadi pada dirinya tadi.. atau kemarin.. atau beberapa hari lalu.
Ah! Ia baru ingat kalau tadi kecelakaan.
Geonil mencari handphonenya. Ia takut Sungje menanyakan kenapa ia tidak pulang. Geonil takut Sungje kenapa-napa.
BRAKK!!!
Pintu kamar rawat Geonil dibuka kencang. Seorang lelaki cantik yang sedang mengandung cukup besar datang sambil menangis. Ia melihat Geonil yang sudah duduk di kasurnya dengan tenang walaupun ada perban yang melilit tangannya dan sedikit goresan di kepalanya.
“Geonil…” isak Sungje.
Geonil memeluk tubuh istrinya lembut. Tangannya terlalu lemas untuk memeluk Sungje lebih erat lagi. Sungje terus menumpahkan air matanya di dada bidang Geonil.
“Dasar bodoh!! Kutunggu malah kecelakaan! Dasar bodoh bodoh bodoh!!!” kata Sungje memaki Geonil.
Geonil tertawa kecil. “Kau menungguku?”
Sungje melepaskan pelukannya. Lalu mengangguk sambil menatap kedua mata Geonil. “Tentu saja! Memangnya kau tidak tahu?!! Aku menunggumu!”
Geonil terkekeh pelan. “Mian..”
“Harusnya aku yang bilang! Karena aku kau jadi tidak pulang.”
Geonil menggeleng. “Aniya. Maafkan aku karena aku membuatmu menungguku.”
Klek..
Pintu itu kembali dibuka. Seorang lelaki cantik masuk dan membawakan handphone Geonil. Lelaki itu berbadan kecil dan berkulit putih.
“Jiyong?” Geonil menggeleng kesal. “Kenapa handphoneku ada di kau? Kembalikan!”
Lelaki cantik bernama Jiyong itu tersenyum licik. “Ternyata kau sudah punya istri. Ckck.. betapa tidak jujurnya kau dengan bos, Park Geonil.”
Geonil menyentakkan tangannya pelan. Dengan sedikit tenaga dalam ia sudah bisa melepaskan infus itu dari tangannya dan membuat tangannya sedikit berdarah.
“Geo—“
“Kembalikan handphoneku! Kau kan yang menelpon istriku?”
“Bahkan aku meng-SMS bos dan memberitahumu kalau kau tidak punya pacar, tapi punya istri. Istrimu… ckck.. tidak lebih baik—“
PLAKKKK!!!!
Geonil menampar kencang pipi Jiyong. Lalu pipi satunya lagi. Kemudian lagi.. lagi dan lagi. Kalau saja Sungje tidak menahan tangan Geonil pasti pipi Jiyong sudah habis ditaboki.
“Jaga mulutmu, Kwon Jiyong!” gertak Geonil sambil mengambil paksa handphonenya dari tangan Jiyong. “Dan jangan harap kau bisa hidup kalau sekali lagi kau mengatakan sesuatu yang tidak pantas untuk istriku!”

***

“Kata dokter kau harus minum obat!”
“Ini kan Cuma luka kecil. Tidak usah dibesar-besarkanlah!”
“Tapi kata dokter—“
“Aku tidak mau minum obat!! Titik!!!!”
Sungje tidak tahu kenapa Geonil jadi seperti anak kecil begini. Disuruh minum obat ngambek, disuruh makan tidak mau, disuruh tidur mau. *gue banget xD
“Aku tidak suka minum obat. Jadi jangan paksa aku untuk minum obat, ya?” kata Geonil pada Sungje.
Sungje tertawa kecil.
“Umma, sini!!!” ucap Geonil manja. *muntahdarah
Kesempatan! Sungje mendengus kesal. Sungje duduk diatas kasur disebelah Geonil. Geonil memiringkan tubuhnya agar bisa memeluk Sungje.
“Aku akan keluar dari pekerjaanku sekarang. Aku sudah ketahuan.” Kata Geonil sambil menelungkupkan wajah ditubuh Sungje.
“M-mian…”
Geonil menggeleng. “Bukan salahmu. Ini salahku. Kenapa aku menyetir tidak hati-hati? Sampai Jiyong tahu kalau aku yang menabraknya. Ckck..”
“Kau—“
“Aku menabrak mobil namja jelek itu!” kata Geonil. *woiii!! Jelek-jelek itu kembaran gue juga!!!! #diusiryoochun
“Tapi dia tidak apa-apa!”
“Iya. Aku yang kenapa-napa!”
Sungje nyengir lebar. “Berarti harus minum obat…”
“ANDWAEEEE!!!! ANIYAAAAAA!!!!” Geonil langsung turun dari tempat tidur. Terlihat ketakutan di mata Geonil. “Jangan sodorkan aku obat!! Andwae!!”
Sungje mengangguk. “Iya.. iya. Sini!”
“Berjanji dulu! Jangan—AAAA!!!”
Sungje jadi suka menggoda Geonil. Balas dendam!! Sungje mengangkat bungkus obat berwarna biru yang ada beberapa pil didalamnya.
“Aku tidur diluar!!!” Geonil ngambek.

***

“Jangan marah! Iya aku akan buang bungkus obatnya.” Sungje berusaha membujuk Geonil yang masih bertahan diluar selama satu jam.
“Ani!!”
“Geonil-ah..”
“Aku tidak mau masuk!!”
Sungje mendengus kesal. “Kau kenapa sih? Kalau kau tidak mau masuk aku sodorkan obat lagi lho!”
“Sodorkan saja! Nanti aku kabur!”
Sungje jadi bingung. Kenapa Geonil jadi berubah? Jangan-jangan dia amnesia…
“Geonil-ah… kau… amnesia?!”
“Kata siapa?!!! Aku masih waras!!” Geonil langsung menggeleng keras.
“Lagian kau habis kecelakaan langsung berubah. Biasanya tidak takut apa-apa, sekarang jadi takut obat.”
Geonil diam.
“Kau kenapa?”
Geonil menggeleng. Wajahnya ditekuk seperti anak kecil yang permintaannya tidak terpenuhi.
“Kau kenapa? Kenapa kau jadi rewel gini? Jangan-jangan ini bawaan anakku.”
Geonil menatap Sungje. “Yang hamil kan kau! Kenapa jadi aku yang kau bilang terbawa anak?”
Sejak kapan Geonil jadi tempramental gini?! Pikir Sungje kalut.
“Kau kenapa sih??? Kepalamu tidak terbentur keras kan? Kau masih ingat kan siapa aku? Siapa kau?” Sungje mengecek suhu tubuh Geonil.
“Iyalah!!!!” Geonil menjawab dongkol karena dikira amnesia beneran.
Sungje menggaruk kepalanya. “Ini kenapa sih?!”
“Aku mau jagung bakar pedas sekarang!!” ucap Geonil.
Sungje menggaruk kepalanya. “Ha?!”
“Aku mau jagung bakar pedas!! Seperti tahun baru.”
Sungje mendengus kesal. “Tahun barunya 6 bulan lagi. Kau tunggu—“
“Aku mau sekarang!!! Kalau tidak aku tidak mau masuk!!”
Sungje menjitak kepala Geonil kesal. “Dasar!!”
“Bikin dua. Satu untukku, satu untukmu. Sausnya yang banyak!!”
“Iya bawel!!!!!!!”
Sungje masuk ke rumah dan mengecek persediaan jagung. Beberapa hari lalu Geonil membeli jagung untuk membuat sup bakso. Semoga saja masih ada.
“Tinggal satu? Kecil lagi! Ckck.. bisa-bisa bonyok sama Geonil! Haishhhhh!!” Sungje mengacak rambutnya kesal.
“Lagian itu anak kenapa sih? Tumbenan rewel kayak anak kecil gitu. Pake acara ngidam lagi!”
Sungje pun mengambil handphonenya untuk bertanya pada ibunya. Adakah pengaruh anak didalam kandungan terhadap suami?
‘Halo sayang? Kenapa? Geonil marah?’
Sungje mengangguk. “Iya umma. Mana pake acara ngambek lagi.”
Ibunya tertawa diseberang. ‘Hahaha..’
“Umma, Geonil tadi kecelakaan.” Sungje memulai curhat colongannya. “Terus pas pulang kusuruh minum obat dia tidak mau. Malah takut ngeliat bungkus obat. Nah sekarang dia diluar, ngancem aku kalo ga bikinin jagung bakar pedes dia ga mau masuk. Ada hubungan gak sih sama kandunganku?”
Ibunya tertawa lagi di seberang. Terdengar juga tawa renyah sang nenek dibelakang. Pasti nguping!
‘Dulu appamu juga begitu. Yang ngidam jadi appa, bukannya umma.’
“Jadi itu normal?”
Neneknya mengambil alih telepon. ‘Normal lah! Sekarang kau bikinkan saja apa yang dia mau. Memangnya dia mau apa?’
“Jagung bakar pedas dua. Tapi jagungnya tinggal satu dan itu kecil. Otte?!!”
‘Kau ambil saja di kebun.’
“Aku kan hamil, halemoniiiii!!!”
Neneknya tertawa. ‘Oh iya. Ya sudah. Makan sejagung berdua kan romantis.’
Klik
Sambungan telepon diputus..

***

“Kok Cuma satu?” tanya Geonil melihat hanya ada satu jagung di piring itu.
“Hanya ada ini!”
“Kan aku pesan dua.”
“Beli saja sendiri!” Sungje lalu menaruh piring itu dengan kasar dan berjalan masuk ke rumahnya.
“Yasudah. Berdua saja.”
Sungje menurunkan kenop pintu.
“Ahhh Sungje-ah!! Sini!!” Geonil memasang wajah innocent yang terlihat sangat lucu.
“Hahahaha…” tawa Sungje pecah.
Geonil tersenyum. “Sini!!”
Sungje pun duduk disamping Geonil, ditangga pertama. Bau Geonil sudah tidak ‘seharum’ tadi pagi. Yang membuatnya muntah seharian.
“Kau kenapa sih sebenarnya?” tanya Sungje sambil menyandarkan kepalanya ke pundak Geonil.
Geonil menggeleng. “Hanya ingin lebih dekat denganmu saja.”
“Setiap hari kita juga dekat.”
“Tapi tidak seperti ini.” Geonil tersenyum sambil menggigit jagungnya. Lalu memberikan pada Sungje untuk digigit juga.
“Kalau begini kan rasanya lebih enak.” Kata Geonil sambil menggigit jagung lagi.
Sungje mengangguk. Lalu menggigit jagungnya lagi setiap Geonil menyodorkannya ke mulutnya.
“Sungje-ah…”
“Kau tidak ingat aku lebih tua darimu?”
Geonil menggeleng sambil tersenyum kecil. Ia membuang jagung bakar yang sudah habis itu ketempat sampah tak jauh dari tangga depan rumahnya.
“Kau memang lebih tua dariku. Tapi sifatmu itu terlalu kekanakan. Tidak pantas disebut lebih tua dariku.”
DUG!!
Sungje memukul keras pundak Geonil.
“Boleh aku minta satu hal padamu?” tanya Geonil.
Sungje menyandarkan kepalanya ke pundak Geonil. Ia mengangguk sambil merasakan hangatnya pundak Geonil.
“Jangan tinggalkan aku…”
Sungje menggeleng. “Aku tidak akan meninggalkan orang yang kucintai dan mencintaiku apa adanya..”
Geonil ingin menyebutkan nama Jihyuk untuk dibandingkan. Tapi kemudian ia sadar kalau itu malah membuat Sungje makin bimbang dan ini bisa berpengaruh pada kandungannya.
“Pekerjaanku selama ini adalah menjadi model majalah dewasa, yang dituntut untuk profesional. Syarat yang paling utama adalah berwajah tampan dan single. Aku terpaksa bilang aku single daripada aku tidak bisa memberimu makan dan memeriksakanmu ke dokter.” Geonil menumpahkan isi hatinya. “Kau boleh marah padaku karena aku bekerja sebagai model majalah dewasa.”
Sungje tertawa kecil. “kenapa aku harus marah? Aku yakin kau hanya melakukan foto bersama model seksi saja.”
Geonil menghela nafas. “Tapi percayalah padaku kalau aku hanya berfoto tanpa melakukan apapun pada modelnya.”
Sungje tersenyum. Wajahnya memerah. Untungnya Geonil tidak bisa melihatnya. “Aku percaya.”
“Tapi karena salah satu orang sudah tahu kalau aku sudah punya istri, dan dia sudah memberitahukan pada bos, jadi aku tidak punya kesempatan lagi untuk meneruskan pekerjaanku.”
“Mianhada…”
Geonil menggeleng. “Tidak. Bukan salahmu. Ini salahku kenapa aku harus menyembunyikannya? Kau tidak marah kan aku menyembunyikan identitasmu dan mengatakan kalau aku tidak punya hubungan apa-apa pada orang lain?”
Sungje menggeleng. “Aku marah!! Aku marah Geonil-ah!! Hiks..”
Geonil tersenyum kecil. “Mian..”
“Aku marah karena kau melakukan banyak hal untukku dan aku tidak tahu bagaimana cara membalas semua kebaikanmu!! Kau jahat!! Kau membuatku bingung!!”
Geonil tertawa kecil. Air matanya perlahan turun. Tapi ia buru-buru menghapusnya. Tidak mau terlihat lemah di mata Sungje. Ia harus membuktikan padanya kalau ia adalah orang yang kuat.
“Aku tidak melakukan banyak..”
Sungje menghapus air matanya. “Kata siapa?! Banyak sekali yang kau lakukan padaku!”
Geonil mengelus punggung Sungje lembut. Ia tersenyum sambil mengecup puncak kepala Sungje dengan lembut.
“Ssst… uljjima.. jangan menangis, sayangku..” Geonil mengelus punggung Sungje lagi.
“Kau yang membuatku menangis!! Dasar Geonil jelek!!” Sungje menghapus air matanya dan duduk tegak. Lalu menatap Geonil dengan wajahnya yang masih basah karena air mata.
“Kau jelek sekali kalau menangis!! Dasar cengeng!!” Sungje menghapus air mata Geonil.
Geonil tertawa kecil. “Kau lebih jelek!”
“Kau sangat jelek!”
“Kau lebih jelek lagi!”
Geonil memeluk Sungje erat. Menghangatkan diri mereka yang terkena angin malam yang sebenarnya tidak baik untuk kesehatan.
“Dasar jelek! Kenapa aku bisa menyukai orang sepertimu?!! Jelek jelek jelek!!!” ucap Sungje setengah bercanda.
“Dasar cantik! Kenapa kau selalu menggodaku!!” balas Geonil yang sukses membuat wajah Sungje memerah.
Geonil melepaskan pelukannya. “Sudah yuk. Sudah malam. Masalah ini selesai.”
Sungje mengangguk. Geonil membantunya untuk bangun dan memapahnya ke dalam rumah.
“Mau tidur sendiri atau berdua?” goda Geonil.
Sungje mengamit tangan Geonil. “Berdua!!”

***

Sungje mengerjapkan matanya. Ia meraba kasur disampingnya. Tidak ada siapapun!
Sungje langsung bangun dan merasakan perutnya sangat sakit. Ia merintih pelan. Tapi kemudian ia berjalan perlahan mencari Geonil.

Aku ada urusan sebentar. Jangan lupa makan ^^

-The Prince, Park Geonil-

Sungje tersenyum kecil membaca tulisan Geonil. Apalagi melihat kata ‘The Prince’.
“Mana ada pangeran jelek sepertinya?” kata Sungje yang 100% bukan fakta. Geonil terlalu sempurna untuk ukuran pangeran. Dia tampan, tinggi, pintar, dan berwibawa. Seharusnya Geonil mendapatkan pendamping yang pantas. Bukan dia..
Sungje membalikkan piring putih itu. Lalu mengambil nasi sesendok. Setelah itu ia memandangi setiap lauk yang tersedia di meja. Nafsu makannya tiba-tiba hilang.
“Geonil…”

***

“Aku akan membayar berapapun untuk mengganti kerugian kontrak.” Ucap Geonil dengan tegas pada Mr Han, bosnya.
Mr Han menatap Geonil tajam. “Memangnya kenapa kau tiba-tiba mengundurkan diri?”
Geonil menghela nafas. “Kukira Jiyong sudah memberitahukannya padamu.”
Mr Han mengernyitkan dahi. “Jiyong?”
Geonil mengangguk. “Iya.”
“Jiyong tidak bilang apa-apa padaku.” Mr Han mencoba mengingat siapa yang berbicara dengannya kemarin.
Geonil langsung diam. Tapi ia tetap menunjukkan kharismanya dan tetap teguh untuk keluar dari pekerjaan yang ia tekuni ini.
“Ya sudah kalau itu maumu. Tapi tidak bisakah kau bekerja lagi sampai kontrakmu habis? Banyak lho yang menyukaimu.”
“Kontrak saya habis 10 hari lagi. Jadi sama saja kan kalau saya nanti juga akan mengundurkan diri.”
“Tapi semenjak ada kau, majalah ini jadi lebih banyak peminatnya. Banyak yang bertanya pada redaksi siapa lelaki tampan itu? Siapa model itu?”
Geonil menghela nafas. “Ya… bos belum beritahukan pada mereka kan siapa aku?”
Mr Han menggeleng. “Belum.”
“Ingat kalau kau bilang, kau akan tahu akibatnya.”
Mr Han mengernyit bingung. “Kau mengancamku?”
“Iya.” Geonil menghela nafas. “Atas nama Park Hwan Hee, sahabat karibmu.”
DEG

***

Sungje hendak mengambil ponselnya karena kesepian untuk menghubungi Geonil. Tapi sebelum ditelfon Geonil sudah langsung muncul didepan pintu. Geonil tersenyum lebar melihat Sungje sudah ada di ruang tamu.
DEG DEG DEG DEG
Jantung Sungje berdegup makin keras. Udara disekitarnya makin panas. Wajahnya memerah. Senyum itu terlalu manis.
DEG DEG DEG DEG
“Wae?” tanya Geonil bingung. Ia mendekat Sungje dan duduk didepannya.
Sungje menggeleng. “A-ani..”
“Wajahmu memerah..” Geonil mengangguk. Ia tersenyum menggoda. “Aku tampan ya?”
Sungje menggeleng. “Kau jelek!”
“Jelek? Jelas-jelas keren?”
Sungje menjitak kepala Geonil. “Apakah senyum itu hanya untukku?”
Geonil mengernyit. “Ah?”
“Apa senyum tadi hanya untukku?”
Geonil tertawa kecil. “Kau cemburu kalau aku tersenyum pada orang? Tenang saja. Senyumku ini limited edition.”
“Geonil…” panggil Sungje.
“Hmm?”
“Makan yuk?”
Geonil menatap Sungje tajam. “Kau belum makan? Aku kan sudah 3 jam pergi! Masa kau belum makan?!! Nanti kalau anakku kenapa-napa bagaimana???”
Sungje tersenyum. Entah kenapa sekarang ia jadi suka melihat Geonil marah-marah dan cerewet.
“Aku kan menunggumu. Masa kau marah-marah?” Sungje tersenyum menggoda Geonil.
Kini giliran Geonil yang wajahnya sedikit memerah melihat senyum menggoda Sungje. Ia berusaha untuk tidak menyekap Sungje dikamar nanti. *itukayaknyamaunyaauthordeh
“Oke. Ayo kita makan. Aku juga lapar.” Kata Geonil sambil memalingkan muka.
“Kau juga belum makan? Ckck! Geoniiiiiil!!! Kalau kau sakit bagaimana? Biasakan sarapan!!!”
“Kau juga!”
Sungje berjalan mengikuti langkah Geonil. “Aku kan kesiangan.”
Geonil menarik dua bangku. Ia duduk di bangku yang biasa ia tempati. Sedangkan Sungje duduk didepannya.
Karena Sungje telah mengambil nasi sebelumnya, jadi ia tinggal mengambil lauk dan memakannya. Sedangkan Geonil mengambil beberapa sendok nasi dan lauknya.
“Menurutmu kalau aku mengundurkan diri 10 hari sebelum kontrakku habis bagaimana?” tanya Geonil yang sebenarnya tidak pantas untuk dilontarkan di waktu makan ini.
“Makan!!” omel Sungje sambil melotot ke arah Geonil.
“Kan aku Cuma bertanya.”
“Tapi jangan diwaktu makan!!”
“Iya..” Geonil kembali melanjutkan makan.
“Tapi kalau aku keluar tidak apa-apa kan?”
Sungje menatap garang ke arah Geonil. Yang ditatap kembali fokus pada makanannya sebelum mendapatkan big hit dari istrinya.

***

“Mencari pekerjaan itu sulit lho.” Sungje menasehati. “Makanya, kau tidak usah keluar.”
“Tapi cepat atau lambat orang-orang bakal mencaritahu siapa aku, darimana asalku, dan latar belakang lainnya.” Geonil frustasi.
“Oke.” Sungje menghela nafas. “10 hari lagi kan kontraknya? Kau habiskan saja, setelah itu aku akan membantu mencari pekerjaan.”
“Kau sedang hamil. Tidak usah.”
“Kau pikir aku akan jalan, eoh?” Sungje tertawa kecil. “Aku punya ayahku yang punya koneksi disekitar sini.”
“Kuharap kau mencarinya jangan jauh dari sini. Nanti kalau aku merindukanmu kan tinggal lari.”
Sungje tersenyum malu mendengarnya. “Jangan lari. Nanti gempa.”
“Ha?!”
“Kau kan seperti raksasa disini. Badan tinggi, besar, cepet lari lagi.”
Geonil tertawa kecil. “Hehe..”
“Tapi… kenapa kau menyukaiku?”
“Eh?” Geonil menatap Sungje dengan mulut penuh nasi.
“Iya. Kau itu sebenarnya tampan, tinggi, pintar dan bisa melakukan apapun. Kenapa kau memilihku yang sebelumnya tidak menyukaimu? Aku juga laki-laki dan bodoh—walaupun tidak bodoh-bodoh juga—dan aku tidak bisa melakukan banyak hal.”
“Itu berarti kita jodoh.” Kata Geonil setelah menelan nasinya. “Kalau orang sempurna harus dapat orang yang sempurna, berarti yang tidak sempurna harus dapat yang sepertinya? Orang bodoh dapat orang bodoh, orang pintar dapat orang pintar. Menurutmu itu adil?”
Sungje menghela nafas.
“Maka itu, Tuhan menciptakan kita dari banyak latar belakang. Untuk apa? Untuk saling melengkapi!” Geonil menghela nafas. “Dari kecil aku selalu dibilang anak yang pintar, anak yang sempurna untuk seusiaku. Tapi nyatanya aku bukan orang yang seperti itu. Aku tidak bisa bergaul dengan orang lain, aku tidak bisa berbaur, aku tidak bisa bermain dengan ceria seperti anak lain.”
Sungje menelan ludahnya.
“Apalagi setelah umma, appa dan noona-ku tidak ada. Makin dingin! Ckck..”
Sungje tertawa. “Kukira dari lahir memang sudah dingin.”
Kedua laki-laki itu diam. Melanjutkan acara sarapan yang tertunda sampai mereka kenyang.
“Jadi kau takut obat itu—“
“Jangan dibahas!”
“Jawab dulu, baru tidak akan kubahas.”
“Aku tidak suka obat.” Kata Geonil singkat.
“Kenapa?”
“Aku tidak suka!”
“Iya tidak suka kan pasti ada sebabnya!”
“Nanti kau juga tahu.” Geonil tersenyum manis. Lalu bangkit dari kursinya dan pergi ke kamar.

***

“Saekki!!” Geonil menghela nafas kesal.
“Waeyo?” Sungje yang baru selesai mandi mendapati Geonil yang sedang bermuram durja. “Ada apa?”
“Jiyong sudah memberitahukan pada bos kalau aku sudah menikah!”
“Bukannya kemarin dia bilang dia sudah memberitahukan pada bosmu?”
Geonil menggeleng. “Dia baru mengatakan,” Geonil menghela nafas. “Jadi aku harus mengganti rugi.”
“Gara-gara aku ya?”
“Bukan!!! Daritadi kubilang bukan kau tidak mengerti ya?”
Sungje mengerucutkan bibirnya. “Iya, maaf.”
“100 juta… darimana aku dapatkan uang sebanyak itu?” Geonil menggigit bibirnya. Geonil menatap Sungje yang sedang merapikan rambutnya.
“Arrghhhh… sakiiiiiiitttttt….”
Geonil tersentak dan langsung berlari menghampiri Sungje. “Yang mana????? Yang mana?????” Geonil mengelus perut Sungje.
“Sakitt…. Ahhh… sudah baikan.” Sungje tersenyum senang.
Geonil mendengus. “Ini pasti Cuma akal-akalan!”
“Ah?”
“Iya. Kau mau kuelus kan jadi kau—“
“Aniya!!! Memang benar! Kau tidak tahu saja anakmu ini sepertinya jago olahraga! Jadi selalu menendang perutku.”
Geonil tersenyum. “Memang anakku.”
DEG bukan!!! Bukan anak Geonil!!!
“Ya sudah. Umma, kita tidur ya.” Geonil merangkul Sungje menuju ranjang medium sizenya.
Geonil berbaring beberapa senti lebih pendek dari Sungje agar bisa menenggelamkan wajahnya di dada Sungje. Geonil memeluknya manja. Sungje mengelus rambut Geonil lembut.
“Ah… geli!!!” Sungje terkekeh pelan.
Geonil sudah tidak kuat menahan kantuk. Ia tertidur setelah merasakan kehangatan dipelukan Sungje. Sungje memainkan rambut Geonil yang sudah tertidur pulas di dadanya.
“Hihihi..” Sungje terkekeh kecil melihat wajah polos Geonil yang tertidur. Ia kembali mengelus rambut Geonil lembut.
“Mencari pekerjaan itu sulit,” Geonil berujar ditengah tidur pulasnya. Entah ini hanya sekedar ngelindur atau memang nyata. “makanya kau jangan pergi ya. Disini saja. Mencari pekerjaan itu sama susahnya seperti mencari cinta.”
“Stttt… tidur!” Sungje menenangkan Geonil seperti menenangkan anak kecil. Ia memang suka anak kecil.
“Kajima! Disini saja! Jangan…” ucapan Geonil terputus oleh rasa kantuknya. Sungje tersenyum kecil. Lalu mengangkat selimut sampai ke leher Geonil.
“Goodnight, orang jelek yang kucintai!!”

***

TBC

Tuh kan!!!!!!!
Makanya, kasih komentar ya biar saya bisa bikin karya yang lebih memuaskan😀
Ada yang mau usul anaknya Sungje itu jenis kelaminnya apa??? Hahaha…
Salam GeonJe dari saya!!! #plakkkk

13 thoughts on “Time To Love (Part 9)

  1. tita

    ditunggu kelanjutannya ya kak…
    sorry baru ngasi komen di eps 9, soalnya aku ga sempet,, aku suka ngikutin cerita kakak lho,, #penggemar choshinsung

    Reply
  2. LailaMP Post author

    iyaa😀
    yang penting ngomen aja saya udah seneng kok. hehehe… #efekjarangnerimakomen

    yaaah kirain penggemar saya -_- #plakkk

    Reply
  3. Sooyeon Choi

    Lanjut Lanjut Lanjut!!!!
    Aku penggemar ff kakak loh~ apalg ini pairingnya GeoJae😀 mian aku komentarnya cuma di part ini sama part mana lg ya.. *mikir*
    oh ya, btw aku udah follow twitter kakak loh.. huehehe😀

    Reply
  4. Henhenly

    Annyeong . Im new reader🙂
    ffnya seru chingu. Tpi sijihyuk tu kemana? Mati atau udah nikah sama orang laen? ,
    awal nya sih ga telalu suka sama supernova eh setelah baca ff yg castnya mereka jadi tertarik deeh😀 #curcol

    Reply
  5. laladwiputri

    Mengharukan sungguh indah sekali wakakaka beda dari part sebelumnya yg dari awal sampe akhir cerita isi kegilaan semua komedi hahahahaha di part ini eh ani mulai dari yg ff sebelum ini adegan romantis ala drama2 sinteron2 telenovela muncul! Yeayyyy konfliknya cukup pas nggak ribet dan runyam2 banget well like this yo!! *nyanyi+nari WG like this😀 hahahahaha

    Reply
  6. kitty ai-chan

    .ini jga dh mmuaskan ko eonni#tulisan’a bner g?haha,plakk!
    .kalo mslh jenis klmin anak’a geonje si itu trsrah yg buat aj(?)
    .dtunggu y eon next chap’a,,kalo bisa si asap,,hehe,abis dh pnsran si ama lnjutan’a, =3
    .hwaiting ne!!\^o^/

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s