Twins High School (Part 8)

Title : “twins high school”
Length : chaptered (8/??)
Main cast :
–    2wins Yoo a.k.a park yoo chun & park yoo chan
–    JungBro a.k.a jung yunhak & jung yunho #fiksiajaguejadiinkembar
–    JoTwins a.k.a Jo Kwangmin & jo youngmin
Author : LaillaMP *sepertinya gue harus tulis nama author biar ga bingung (?)
A.N : gue masuk SMAKTI mameeeeeen!!!!!! #pestakeju (?)
Akhirnya gue dapetin apa yang gue mau, dapetin sekolah yang nentuin masa depan gue buat nyusul sungje ke korea #PLAAAK
Okeee, gue lagi gila. Makanya, ini ff gue persembahkan untuk kalian (?) para pembaca. Mau silent reader, atau active reader. Saya harap ada active reader yang baca ff ini dan komentar bagaimana seharusnya ff ini adanya (?)😀

***

<< Previous

Klek..
Pintu ruangan itu akhirnya dibuka. Kwangmin menoleh dan melihat wajah sumringah Yoochan yang agak basah oleh air mata. Air mata bahagia.
“Ada yang sayang sama gue.” Kata Yoochan sambil menghapus air mata bahagianya. “Ada yang sayang sama gue, Kwangmiin!!!”
Kwangmin tertawa kecil. “Orang di depan lo ini juga sayang kok sama lo.”
DEG
“Jadi jangan pikir kalo ga ada orang yang peduli sama lo di dunia.”

>> Part 8 <<

“Yoochan, lo beneran ga ikut?” Yoochun menatap saudari kembarnya yang masih asyik bermain dengan PSP-nya.
Yoochan menggeleng. “Lo aja. Kan udah ga ada kakek. Nanti ga ada yang mau kasih kado.”
“Gue mau.”
“Gue ga mau nerima!”
Yoochun mendengus kesal. “Yoochan, pulang dong! Please! Lo gatau sih kalo dirumah gue itu—“
“Serba ekslusif. Mau apa lagi?”
Yoochun menggeleng. “Gue tau fasilitas gue emang lebih banyak dari lo. Tapi… itu jadi bikin gue kayak anak mami!”
“Lo emang anak mami.”
Yoochun menjitak kepala kembarannya. “Lo bisa gak sehari aja mandang gue?”
“Gue udah pernah mandang lo. Dan gue nyesel pas mandang lo karna gue akhirnya inget apa yang seharusnya ga gue inget.”
Yoochun menunduk. “Kalo gitu gue minta maaf.”
Yoochan menggeleng. “Ga ada yang perlu dimaafin. Ini salah gue. Tapi gue ga mau minta maaf.”
Yoochun menggeleng sambil menatap kembarannya yang masih setia di depan PSP. “Yoochan…”
“Apa?”
“Lo tau kan sebelum gue tiup lilin gue pasti ‘make a wish’?”
Yoochan mengangguk. “Semua orang juga begitu.”
“Wish gue 4 tahun ini adalah… gue mau damai, gue mau ngerayain ulangtahun sama kembaran gue, gue mau—“
“Itu Cuma mimpi lo. Gue sama sekali ga tertarik buat damai, ngerayain ulangtahun sama lo, atau ngelakuin apa aja sama lo!” Yoochan mematikan PSP-nya. “Ayo gue bawain—“
“Jangan menghindar!!” Yoochun menarik tangan Yoochan yang sudah berdiri dari kasurnya.
Yoochan berusaha melepas cengkraman tangan Yoochun di pergelangan tangannya.
“Liat ke mata gue!”
Yoochan menggeleng. “Yoochun lepas!!!”
“Liat ke mata gue!!”
“Ga mau!!!”
“Yoochan!!!!”
TOK TOK TOK
Pintu jati itu diketuk seseorang. Cengkraman Yoochun langsung mengendur. Yoochan dengan sigap langsung berjalan dan membukakan pintu untuk tamu pagi ini.
DEG
Ayah dan ibunya sekarang ada di depannya. Yoochan tidak bisa mengedipkan matanya. Bahkan bernafaspun seperti lupa caranya.
“Chunnie, ayo.” Ajak sang mama lembut.
Yoochan mundur beberapa langkah dan akhirnya masuk ke dalam kamar mandi. Ia menyalakan shower dan meredam suaranya. Yoochun mendengus lesu. Ia menarik kopernya menuju ke arah pintu.
“Ma, nanti aku nyusul ya. Aku masih ada perlu.” Kata Yoochun sambil menyerahkan koper pada orangtuanya.
Mamanya tersenyum lembut. “Iya sayang.” Dan segera menjauhi tempat itu.
DUG DUG DUG
Yoochun menggedor pintu kamar mandi. Masih terdengar gemuruh suara shower. Pasti jiwa perempuan Yoochan muncul—jiwa yang akhir-akhir ini menghantuinya.
“Yoochan!!!!” Yoochun menggedor pintu kamar mandi dengan kencang. “Yoochan, buka!!!!!! Yoochan!!!!!”

***

DEG
Yoochun sudah bisa menggedor pintu kamar mandi yang lunak. Ia melihat kembarannya itu sedang meraba tembok kamar mandi untuk mematikan tombol shower.
Kondisi jantungnya sepertinya mulai parah karena sekarang ia selalu menangis dan menahan semuanya sampai tidak bisa menahannya lagi.
“Lo—“
Yoochan berusaha mengatur nafasnya. Dan akhirnya bisa walaupun ia harus mengucapkan kalimat itu dengan sangat terbata.
“Jantung… gue…”
“Lo kenapa?!!!” Yoochun langsung membopong Yoochan yang badannya sudah basah terkena shower ke kasur.
“Sakitt..”
“Kita ke dokter! Ayoo!!”
“Jangan!!” Yoochan menggeleng. Ia berusaha tersenyum sambil menatap mata kakak kembarnya. “Lo udah ditunggu—“
Yoochun menggeleng. “Lo bisa gak sehari aja perlakuin gue seperti saudara kembar lo? Bukan adik lo? Gue benci!”
Yoochan tersenyum lemah.
“Kalo lo ga mau,” Yoochun berdiri dari posisinya. “wish gue untuk ulangtahun dan natal ini tetep sama. Gue mau bisa selamanya sama saudara kembar gue. Apapun yang dia lakukan ke gue…” dan Yoochun pun menyusul kedua orangtuanya yang sudah menunggu lama dibawah.

***

Kwangmin melihat Yoochan berdiri dalam diam di balkon yang tidak jauh dari kamarnya. Ia berjalan pelan agar tidak mengagetkannya.
“Sepi banget ya.” Yoochan tertawa kecil.
“Kan ada gue.” Kwangmin menatap objek yang ditatap Yoochan, langit hitam tak berhias.
“Tapi tetep sepi.”
Kwangmin tersenyum kecil. “Youngmin besok pulang.”
“Lo kesepian?”
Kwangmin menghela nafas. “Maybe..”
Tiba-tiba ada seorang yang berdiri di samping kiri Yoochan. Yoochan bisa merasakan atmosfer yang berbeda dari biasanya.
“Maafin gue buat semua kesalahan yang gue buat.” Ucap orang itu, Jung Yunhak.
Yoochan tersenyum tulus. “Maafin gue juga karna udah ngegedein masalah.”
Kwangmin tersenyum melihat ketulusan Yoochan. Ia memeluk gadis itu dari samping.
“Sebentar lagi natal. Ga ada salahnya kan kita damai?” Yunhak menjulurkan tangan kanannya.
Yoochan tertawa kecil. “Nanti abis natal langsung ribut lagi?”
Yunhak tertawa. “Nggalah. Gue udah ga mau ngungkit masa lalu. Tindakan gue terlalu bodoh. Ckck.. anak orang ga salah gue salahin.”
“Iya! Dasar dodol!” Yoochan mengamit tangan Yunhak dan menggerakkannya ke atas dan kebawah.
“Sekarang gue mau nyoba jadi orang yang bijak dan normal.”
“Dasar! Kakak adek ga ada yang normal!”
Yunhak tersenyum malu. “Tapi yang gue suka dulu kan udah ga ada. Dan yang gue suka sekarang ada di depan gue.”
DEG
Jantung Kwangmin yang berdetak keras dan kemudian berdetak lambat. Bukan Yoochan. Kwangmin menatap Yunhak yang masih menatap Yoochan dengan lembut. Kwangmin ingin menonjok Yunhak yang sudah lancang membuat masalah Yoochan bertambah. Ah tidak, ia juga marah karena—entah karena apa. Yang pasti ia tidak suka mendengar ungkapan suka dari Yunhak pada Yoochan.
“Gue suka sama lo.” Ucap Yunhak pelan.
Yoochan tertawa. “Hahahaaa.. dasar bego!”
“Sorry…”
“Hahaha.. kenapa lo suka sama musuh lo? Kenapa lo suka sama cewek brandal kayak gue?”
Yunhak menggeleng. “Cinta itu gila kan?”
Yoochan mengangguk. “Tapi lo… ckck!! Gila lo! Masa ngajak damai terus bilang lo suka sama gue? Bego dasar!” Yoochan tersenyum malu.
Yunhak menggigit bibir bawahnya. “Sorry..”
“Jangan minta maaf mulu! Emangnya lo salah? Eh lo emang salah deng!”
“Sorry kalo cara gue salah..”
“Emang salah!” Yoochan mendengus kesal. “Kenapa makin lama makin banyak orang yang suka ngehibur gue ya? Bilang suka lah, bilang mau ngerayain ulangtahun bareng lah, bilang ada yang sayang sama gue lah…”
“Kalo gue sih ga ada maksud menghibur lo.” Kata Kwangmin sambil menatap langit malam. “Gue emang sayang sama lo.”
“Tuh kan tuh kan! Demen banget sih ngehibur gue.”
Kwangmin menggeleng. Ia menatap Yoochan. “Sekarang disamping lo ini adalah orang yang peduli sama lo.”
“Sorry. Gue udah ga mau dipeduliin.” Yoochan berjalan ke kamarnya.
Dua lelaki disana menatapnya sampai bayangannya hilang ditelan pintu salah satu kamar. Mereka menghela nafas berat.
Kwangmin orang pertama yang angkat kaki dari tempat itu. Kemudian disusul Yunhak yang kamarnya disebelah kamar Kwangmin dan Youngmin.

***

Tok Tok Tok
Pintu kamar Yoochan diketuk. Gadis itu masih mengantuk. Tidak bisa membuka matanya. Seperti ada lem yang menempel sehingga susah untuk dibuka.
Tok Tok Tok
Lagi-lagi pintu itu diketok. Yoochan mendengus kesal lalu membuka pintu itu dengan keadaan yang super acak-acakan.
“Ada apa?!” tanya Yoochan ketus pada orang didepannya, Pak Young Woon.
Pak Young Woon ingin sekali menjewer Yoochan. Tapi melihat keadaannya yang sepertinya ngantuk berat akhirnya ia menyampaikan maksudnya.
“Orang suruhan Park Jae Hwan tadi mengirimkan ini untuk Park Yoochan.” Pak Young Woon memberikan sebuah plastik yang berisi kardus berukuran sedang. “Handphone.”
“Oh.” Yoochan menerimanya dengan malas-malasan. Ia sebenarnya tidak mau menerima. Tapi ia bingung bagaimana caranya untuk menolaknya secara halus. Otaknya benar-benar tidak bisa diajak kerjasama.
“Gamsahamnida.” Lalu Yoochan menutup pintunya dan melempar bungkusan itu ke ranjang sampingnya, ranjang Yoochun yang sudah 3 bulan ini ada di kamarnya. Ia lalu merebahkan dirinya diatas kasurnya.

21 December

Tanggal yang terlihat oleh mata Yoochan ketika melihat ke arah kalender. 3 hari menuju peringatan 2 tahun kakeknya yang sudah tidak ada. Selama hampir 1 tahun Yoochan belum mengunjungi kakeknya. Tiba-tiba ia merindukannya.
Tapi ia masih terlalu mengantuk untuk memutar memori bersama sang kakek. Akhirnya ia jatuh tertidur lagi.

***

Yoochun menunggu dengan cemas di ruang tamu. Orangtuanya sedang ada rapat membahas kerjasama awal tahun nanti. Jadi dirumah itu Yoochun hanya ditemani beberapa pembantu dan perabotan mewah.
Disinilah biasanya terjadi pertempuran yang mengakibatkan rumah terlihat seperti kapal pecah. Disinilah tempat biasa Yoochun dan Yoochan adu mulut sampai adu kuat. Disinilah tempat yang paling dihindari Yoochan setiap ada tamu datang berkunjung.
Sekarang Yoochun sendiri…
Tap! Tap! Tap!
Langkah cepat dan tegas itu terdengar. Yoochan menatap 3 orang suruhannya yang ia suruh untuk memberikan sesuatu pada saudari kembarnya yang ada di asrama.
“Sudah Tuan muda.” Ucap salah satu dari mereka setelah membungkukkan badan.
“Oh. Terimakasih.” Ucap Yoochun sambil tersenyum manis.
Kemudian 3 orang suruhan keluarga Park itu pergi. Kembali kesepian menderanya. Yoochun jadi merindukan saat-saat ia dan kembarannya bertengkar hebat.
“Chunnie..” ibunya menyapa setelah pulang dari kantor.
“Umma dan appa sudah selesai rapat?”
Kedua orangtuanya mengangguk.
“Oh..” jawab Yoochun datar.
“Sudah makan?”
Yoochun menggeleng. “Belum.”
“Mau makan apa?”
Yoochun menggeleng lagi. “Apa aja.”
Mr Park mengambil handphone. Ia tidak sengaja melihat tanggal yang tertera di layar handphonenya. 3 hari lagi anak kembarnya berulangtahun.
“3 hari lagi ulangtahun ya, Chun?” Mrs Park mengelus kepala anak laki-lakinya. “Ah.. umma belum siapkan kejutan apa-apa.”
Yoochun tersenyum. “Nggak usah repot-repot.”
“Oh.. tidak!!” Mr Park menimpali. “Nggak repot kok buat anak papa. Hehe..”
“Kalo anak papa yang satu lagi gimana?”
DEG
Kedua orangtua itu diam.

***

“Lo sih! Yoochan jadi marah kan!!” Kwangmin memarahi Yunhak.
Yunhak menggaruk kepalanya. “Kok jadi gue??”
“Kalo lo ga bilang suka kan dia pasti ga marah!”
“Kata Yunho dia kalo marah ga lebih sampe 2 jam kok!”
“Tapi sama Yoochun bertahun-tahun.”
“Aneh.”
“Woi, lo pada ngomongin siapa sih?” tanya Yunho yang tiba-tiba keluar kamar.
Yunhak dan Kwangmin sama-sama menatap pintu di sampingnya. Yunho sudah pasti tahu. Ia menghela nafas.
“Nanti ditambah 2 jam lagi kalo lo ngomongin dia.” Kata Yunho sambil tersenyum kecil. “Lo pada ngomongin apa kemaren dibalkon? Kok ga ngajak gue?”
“Ini urusan laki-laki sama perempuan!” jawab Yunhak.
“Gue kan laki!” Yunho protes.
“Tapi ga normal!” Yunhak menjulurkan lidah.
“Lo juga kaliiii!!!”
“Tapi gue udah mulai normal!!”
Kwangmin bingung dengan ucapan dua orang ini. Normal ga normal. Kemarin Yoochan juga bilang kakak adek sama-sama ga normal. Berarti… GAY?!
Kwangmin langsung angkat kaki dari situ untuk menghindari hal yang tidak diinginkan. Nanti kalau salah satu dari mereka suka bagaimana? Oh… Kwangmin kan cukup tampan dan keren buat dijadiin pacar!
DUGGG!!!
“Auuuuu Kwangmiiiiin!!!! Lo liat-liat dong kalo jalan!!!!”
“Hahahahaaaa….” Yunhak dan Yunho tertawa renyah.
“Lo ngapain lagi pada ketawa?! Gue lagi susah bukannya ditolongin!”
Dua laki-laki yang tadi sedang bertengkar tak jelas mendatangi Yoochan dan Kwangmin yang masih bertatap tajam.
“Bantuin gue dong.”
“Bantuin apa?” ketiga lelaki itu bertanya bersamaan.
“Gue…”
“Kenapa?”
Yoochan menggeleng. “Ah ini urusan cewek! Lo tau gak siapa cewek disini yang masih ada?”
Ketiga laki-laki itu menggeleng. “Tadi gue liat bu Yoona.”
“Nah!! Temenin gue ke dia!”
Kwangmin menelan ludah. “Ha? Lo mau ngapain?”
“Udah deh ini urusan cewek!! Lo tadi liat dimana? Cepetan!! Darurat nih!!”

****

Mrs Park dan Mr Park duduk di atas ranjang. Mereka memikirkan ucapan Yoochun yang sebenarnya ada benarnya. Mereka jarang, malah hampir tidak pernah memperhatikan anak perempuannya.
“Sebenernya apa yang salah ya dari Yoochan?” tanya Mrs Park sambil tersenyum pilu. “Sebenernya ga ada yang salah kan?”
Mr Park menggeleng. “Tidak.”
“Apa salahnya kita merayakan ulangtahun anak kembar kita? Terakhir kita merayakan ulangtahun mereka bersama… umur 2 tahun?”
Mrs Park mengangguk. “Iya.”
“Kita jahat?”
“Iya.” Mr dan Mrs Park tersenyum pilu.

***

“Huahahahaaa!!!!” Bu Yoona tertawa keras mendengar curhatan dari muridnya yang satu ini. Ia hampir saja terjengkang kalau saja tidak ditahan Yoochan.
“Ibu saya serius!!! Please ibu!!!” Yoochan pucat.
“Iya.. iya. Ternyata kamu belum? Ckck.. ibu kira sudah.”
Yoochan menggeleng. “Belum!! Ini baru dapet. Makanya saya bingung. Saya tau gimana menstruasi datang. Tapi saya ga tau gimana make pembalut, pembalut yang dipake, dan tentang-tentang menstruasi yang belum pernah dijelaskan di buku IPA!!”
Bu Yoona menghela nafas. “Oke. Karena saya sudah berapa tahun mengalami, maka saya akan ajarkan.”
Yoochan menatap bu Yoona dengan mata berbinar. “Makasih, bu..”
“Biasa aja lah..”
“Makasih ibu!! Saya makasih banget!!”
Bu Yoona jadi senewen. Ini anak otaknya ngegeser apa?
“Otak saya gak ngegeser kok. Saya berterimakasih emang kenapa?”
“Sebentar,” bu Yoona tidak mengacuhkan pertanyaan Yoochan. “memangnya ibu kamu belum pernah ngajarin?”
Yoochan menggeleng. “Merhatiin aja ga pernah. Gimana mau diajarin?”
Bu Yoona tersenyum. “Ya sudah. Ayo. Ibu masih punya beberapa kok. Sementara kamu pake dulu. Nanti kalo pas ya berarti itu yang harus dipilih.”

***

“Kayaknya curhat.”
“Tumben.”
“Kan dia cewek, Ho!”
“Tapi setau gue dia jarang banget curhat kayak gitu. Dia kan kelewat dingin.”
Kwangmin menggerutu kesal karena dua anak kembar disebelahnya ini malah ngegosip. Udah tau suara didalem kedengerannya kecil, masih aja bisa ngegosip.
“Bisa diem gak?!!!!” gertak Kwangmin kesal.
“Lo nguping aja kerjaannya!” kata Yunho nyolot.
“Lo juga!” balas Kwangmin.
“Udah sesama nguping ga usah berantem.” Yunhak menjadi tritagonis disini.
Kriettttt…
Ruang guru terbuka. Dua perempuan cantik keluar sambil tersenyum lebar. Yoochan melayangkan tatapan mematikan pada tiga manusia bernama laki-laki itu.
“Kalian ngapain?” tanya Bu Yoona.
“K-kita—“
“Nguping!!” ujar Yoochan yang 100% ada benarnya. “Dasar cowok!!”
“Yang sering nguping kan cewek!!” Yunho membela diri. Dan memang ada benarnya kalau menguping itu kerjaan kebanyakan cewek untuk mendapatkan informasi.
Bu Yoona dan Yoochan kemudian berjalan tanpa mengacuhkan ketiga lelaki itu. Mereka menuju ruang inap guru untuk melanjutkan pembelajaran.

***

“Kenapa ga bisa ditelpon ya?” Yoochun bertanya sendiri. Sudah 3 jam setelah ia mengirimkan handphone untuk kembarannya beserta nomor ponselnya tapi tidak bisa dihubungi.
“Jangan-jangan Yoochan ga bisa pake hape lagi! Ya Tuhaaaaan!!!” Yoochun mengacak rambutnya.
Selama ini Yoochan tidak pernah memegang handphone. Kalau PSP sih sudah. Tapi handphone sama PSP kan beda…
“Gimana kalau kita rayakan ulangtahun mereka berdua?” terdengar suara ayahnya dari luar.
Yoochun langsung mendekati pintu dan menguping pembicaraan kedua orangtuanya yang sepertinya berada tidak jauh dari kamar Yoochun.
“Iya. Lagipula mama juga mau minta maaf. Masa punya anak dua yang diurusin Cuma satu?”
Yoochun tersenyum sinis. Baru nyadar!
“Tapi papa dengar dari gurunya, katanya nilai Yoochan turun. Gimana?”
Yoochun mendengus kesal. Perhitungan lagi sama anak sendiri!
“Yaa.. gimana ya? Apa yang mau kita banggain?”
Yoochun hampir menonjok pintu kamarnya kalau saja ia tidak ingat kalau pintu itu terbuat dari bahan yang keras.
“Woiiii!! Emangnya apa yang bisa lo pada banggain sama gue??!!” Yoochun mengomel dengan suara pelan.
DUGGG
Ternyata kedua orangtuanya menuju ke kamarnya. Mereka membuka pintu kamar Yoochun dan menyebabkan Yoochun langsung kejedot pintu.
“Chunnie? Kamu ngapain??” tanya Mrs Park khawatir.
Yoochun mengusap dahinya. Ia lalu mencari alasan untuk menutupi fakta. “A-anu.. tadi hape Chunnie kebanting sampe sini. Hehe..”
“Oh gitu.” Mr Park tersenyum. “Err.. kamu mau ikut ke hotel Sungkyunkwan gak? Papa mau kenalin kamu sama dunia bisnis.”
Yoochun membelalakkan mata. Udah mau natal aja masih mikirin bisnis!
“Ayo. Papa kenalin sama temen deket papa yang pengusaha sukses. Dia buka cabang hampir di semua negara. Laris semua!”
Yoochun sebenarnya sama sekali tidak mengerti sama yang namanya bisnis. Yang dia tahu hanya musik. Sejenis musik ballad-nya SG Wannabe, atau musik rock-nya Seo Taiji and boys. Dan Yoochun pun tahu beberapa musisi Amerika yang berbakat menciptakan lagu, tari dan musik yang berbeda.
“Jadi gimana? Mau ikut gak? Nanti abis ke hotel itu kamu bisa minta satu permintaan. Gimana?”
Yoochun langsung mengangguk. “Apapun?”
“Ya.”
Disaat seperti ini Yoochun mungkin bisa memanfaatkannya. Ya, hitung-hitung untuk pelajaran bagi kedua orangtuanya juga.
“Bawa Yoochan kesini! Rayain ulangtahun kita berdua!!”
Mr dan Mrs Park saling bertatap. Lalu mereka menatap anak laki-lakinya yang juga menatapnya penuh harap.
“Rencananya sih papa mau jemput Yoochan juga.” Kata Mr Park.
“Panjang umur nih rencananya.” Lanjut Mrs Park.
Yoochun tersenyum. Pasti ga bakal gagal! Yoochan, ga bisa ngelak lo!!

***

“Weitss!! Jiwa cewek lo tumbuh juga lama-lama. Lagi jatuh cinta yah?” ujar Yunho ketika berpapasan dengan Yoochan yang baru keluar dari kamar bu Yoona.
Yoochan tersenyum lebar. “Ha?! Hahaha…”
“Lo inget aja waktu suka sama gue. Gimana rasanya?”
Kwangmin yang ada di sebelah kanan Yunho menatapnya tajam. Tapi kemudian ia kembali ke jalan yang benar—menatap Yoochan.
“Gue kan Cuma suka ngerjain lo. Khukhukhu..” Yoochan menggigit bibir bawah.
“Dasar!”
“Eh, lo suka komik kan? Tanggal 23 nanti ada pameran komik. Banyak banget komik-komik bagus plus murah. Kalo lo mau, biar gue temenin.” Kata Kwangmin mengubah topik pembicaraan.
“Cieee.. ada yang ngajak kencan nih!” Yunho terkekeh pelan. Lalu menatap kembarannya di sebelah kirinya. “Sabar ya hyung!” bisiknya pada Yunhak.
“Gue cek money dulu yah. Kalo belom disita oke aja. Acaranya pagi-siang-malem?”
“Mulai pagi. Tapi kita berangkatnya sorean aja.” Kwangmin menghela nafas. “Kalo ga ada money lo bisa pake duit gue dulu. Mau gantiin boleh, mau ngga juga ga papa.”
Yoochan mengangguk. “Oke deh. Gue udah lama juga ga baca komik. Waktu mau pinjem komik lo waktu itu… lo lagi galau.”
Kwangmin tertawa. “Oke. Gue samperin ya jam 4-an!”
“Siiip!!” Yoochan mengangkat jempolnya.

***

Fiuhhhh…
Kata pertama yang diucapkan Yoochun setelah selesai pertemuan antara orangtuanya dengan temannya yang seorang pengusaha sukses. Kalau dilihat dari wajah dan penampilannya memang orang itu sukses. Mungkin dengan perawatan wajah sana-sini serta pakaian rapi yang dibeli dari sana-sini pula makanya terlihat begitu terhormat. Orang inilah yang membuat lapangan pekerjaan, yang membuat orang-orang bisa makan.
“Jadi ga, Pa?” tuntut Yoochun untuk permintaannya tadi.
“Ngapain?” tanya Mr Park. Entah pura-pura atau emang beneran lupa.
“Jemput Yoochan!!!!”
Mr Park tersenyum lebar. “Maap papa lupa. Hehe..”
“Kurs jual won di dollar Amerika kemaren berapa, pa?”
“Errr.. sekitar 10000-an lah.” *authornya ga bakat akutansi
“Kalo janji papa yang 2 jam lalu papa setujuin inget gak?”
Mr Park menelan ludah pahit. Ini anak kenapa jadi ikut-ikutan mojokin orangtua?!
“Menurut papa pengusaha tadi itu adil nggak sama perusahaan lain diluar negeri? Apa dia ngasih asuransi buat karyawannya, apa dia peduli kalo uang penghasilan mereka dikorup?” entah kenapa Yoochun jadi berani mengatakannya. Mungkin karena pengaruh beberapa bulan sekamar dengan saudara kembarnya yang tidak punya malu untuk mengatakan apapun—kecuali masalah tertentu.
“Untuk itu papa ga tau.” Jawab Mr Park sambil berjalan pelan.
“Apa papa adil sama dua anaknya? Kenapa Cuma aku yang diistimewain? Kenapa Cuma aku yang selalu dimanja?” Yoochun menghela nafas. “Maaf, pa, ma. Bukannya Chunnie ngelawan. Tapi… mama dan papa kan ga tau gimana cara Yoochan buat dapetin perhatian kalian. Sampe akhirnya dia nyerah dan ngebiarin nilainya jatuh gitu aja.”
“Itu sih karna dianya. Kenapa minta perhatian sampe segitunya?” Mrs Park menanggapi dengan santai.
“Sekamar 6 bulan sama Yoochan bikin aku ngerti,” Yoochun menggigit bibir bawahnya. Entah ini harus dikatakan atau tidak. “sekamar sama dia bikin aku ngerti, gimana susahnya hidup tanpa bantuan orang lain.”

***

DEG
Tiba-tiba langkah Yoochan terhenti. Entah apa yang membuatnya sakit. Ia memegangi dadanya. Tubuhnya oleng dan ia jatuh bersandar di pintu jati kamarnya. Berkali-kali Yoochan berusaha untuk meraih gagang pintu dan membukanya untuk mengambil obat didalam tempat rahasianya, tapi ia selalu gagal dan akhirnya ia mengatur nafasnya sendiri dengan susah payah. Untungnya tidak ada yang melihatnya. Jadi ia tidak perlu merasakan belas kasihan dari orang lain.
Kreeeeekkk..
Akhirnya pintu itu bisa dibuka juga. Sekarang yang dicari hanyalah obat dan air minum. Obat tinggal sedikit, dan mungkin bisa cukup sampai tanggal 24 nanti, tanggal ulangtahunnya. Tidak lupa tanggal 23 ia akan menghadiri pameran komik yang sudah lama tidak ia datangi. Apalagi sekarang bersama Kwangmin.
DEG
Jantungnya tiba-tiba berdetak cepat. Yoochan buru-buru meminum obatnya dan menenangkan diri. Sepertinya penyakit jantungnya akan memasuki fase kritis alias mulai ada serangan.

Tok Tok Tok

Pintu kamar Yoochan diketuk seseorang. Yoochan langsung menaruh obatnya dan membuka pintu untuk orang itu.
“Minta nomer hape dong!” kata Kwangmin sambil menyodorkan handphone-nya.
“Ha?” Yoochan menganga lebar. “Gue—“
“Gue tau lo punya hape! Minta nomor lo. Nanti kalo ada apa-apa telpon gue. Oke?”
Yoochan tersenyum kecil. Entah kenapa perasaannya kini campur aduk. Antara malu, senang, dan berbunga-bunga. Senang dan berbunga-bunga itu sepaket. Sedangkan malu karena dia tidak bisa memakai handphone! Tahu nomor handphonenya aja nggak.
“Kwang—“
“Jangan malu dong. Hape gue jelek ya makanya lo ga mau kasih liat hape lo yang bagus—“
“Bukannnnn!!!” Yoochan menggeleng. “Gue ga bisa make hape!!”
Kwangmin terdiam sebentar. Setelah itu ia tertawa keras sampai tidak terkendali dan akhirnya malah dikacangin Yoochan yang langsung masuk ke kamarnya.

Tok Tok Tok
Kwangmin kembali mengetuk pintunya.
“Gue gatau nomor hape gue!!” kata Yoochan kesal.
“Lagi dapet ya mbak jadi sensitif gini?” Kwangmin mendengus heran.
“Kok tau???” Yoochan bersuara kecil.
“Yaudah. Tapi kalo lo ga mau ke pameran—“
“Gue mauuuu!! Gue mau dibilangin!! Gue kan udah lama ga baca komik!” Yoochan naik pitam. “Yaudah. Doain moga penyakit jantung gue ga kumat.”
Kwangmin tersenyum. “Oke nona. Gue jadi ga sabar.” Kwangmin menjilat bibirnya yang kering. “Oke. Jaga diri ya. Kalo ada apa-apa panggil gue.”

***

Yoochun beserta kedua orangtuanya sudah melapor pada pihak yang berwajib di Twins High School untuk menjemput satu anaknya lagi.
“Ck ck ck. Anak dua kok yang dijemput satu dulu? Apa ga boros bensin?” curhat salah satu satpam pada satpam lainnya.
“Den Yoochan sama den Yoochun kan jarang akur. Pas pertama kesini aja udah bikin ribut. Heeeh… kalo ga ada lapangan basket ancur kali itu kamar.”
Oke, back to Yoochun and family.
Yoochun mengetuk pintu kamar yang selama ini ditempatinya bersama Yoochan. Beberapa detik kemudian sang empunya membukakan pintu.
Suasana canggung langsung terjadi…
“Masuk, ma.” Kata Yoochun sopan.
Yoochan berjalan kesamping beberapa langkah untuk memberi jalan pada keluarga terhormat itu. Kemudian ia menutup pintu dan menatap sekeluarga bahagia itu dengan sinis.
“Maafin mama ya, sayang.” Kata Mrs Park mengawali pembicaraan.
“Seharusnya aku yang minta maaf,” Jawab Yoochan sambil menatap ke arah lain. “karena telah mengganggu kenyamanan hidup anak anda satu-satunya.”
“Yoochan!!” Mr Park menggumam pelan.
“Kalau kamu nggak keberatan, mama sama papa mau rayain ulangtahun kalian berdua nanti.”
Yoochan menatap kedua orangtuanya. Itu harapannya beberapa tahun lalu. Tapi tahun ini, sepertinya ada yang menjanjikan lebih dari merayakan.
“Papa dan mama janji gak akan ngebiarin kamu lagi. Papa bisa memindahkan kamu ke sekolah manapun yang kamu mau, papa bisa membiayai apapun yang kamu mau, papa—“
“Makasih, Pa, Ma.” Ucap Yoochan tulus. Ia tersenyum. Ini memang harapannya ketika ulangtahunnya beberapa tahun lalu.
“Jadi… lo mau?” Yoochun menatap penuh harap pada kembarannya.
“Sayangnya ada yang menjanjikan lebih dari merayakan,” Yoochan tersenyum. “dan juga aku udah ikhlas kalo mama dan papa nggak mau aku disetarakan sama Yoochun.”
“Yoochan!!! Lo—“
“Gue tau ini mau lo, Park Yoochun.” Yoochan menyandarkan dirinya ke tembok sambil menaruh kedua tangannya di dada. “Tapi untuk kali ini, permintaan lo sepertinya belum bisa terwujud.”
“Kenapa? Sebegitu rendahnya gue dimata lo sampe—“
“Bukan.” Yoochan memotong ucapan Yoochun lagi. “Itu harapan gue beberapa tahun lalu. Mungkin gue dan lo sama-sama berharap sama. Gue pengen ulangtahun gue dirayain sekeluarga, natal dirayain bersama, menghias pohon natal, bagi-bagi kado natal, dan juga tahun baru. Tapi mungkin karna gue udah putus asa dan ga mau lagi berharap yang ga mungkin, jadilah tahun ini harapan gue berbeda.”
“Yoochan please!! Gue.. gue emang ga bisa janjiin apapun buat lo. Tapi… gue pengen sekali aja, Chan. Sekali! Yoochan… please?”
Yoochan menghela nafas. “Sorry.” Yoochan tersenyum kecil. “Gue udah ada janji. Kalo tahun depan gue masih bisa selamat, gue janji gue bisa rayain ulangtahun kita bersama.”
Yoochun duduk diatas kasur Yoochan. Kemudian ia menaruh tangannya diatas bantal Yoochan dan merasa ada suara seperti plastik yang ditekan. Yoochun meraba bawah bantal dan membelalak kaget ketika berhasil meraba benda itu.
“Kenapa?” tanya Yoochan santai.
“Lo… ini obat apa???” tanya Yoochun bingung. “Lo…?”
“Penyakit jantung kakek nurun ke gue.” Yoochan menjelaskan sedikit. “Dan ternyata kondisi jantung gue hampir sampe masa kritis, alias lemah. Jadi doain gue semoga gue bisa rayain ulangtahun tahun depan.”

DEG

***

TBC

Sepertinya ini ff ga layak buat di share ya ==a
Tapi karna ini ff yang gue targetin selesai sebelum gue SMA jadilah gue lanjut terus~~
Don’t forget to comment😀 kalo mau liat chapter sebelumnya, liat di page “kumpulan fanfic^^” ya!! ^^

2 thoughts on “Twins High School (Part 8)

  1. tita

    author author author
    aku mau nanya,, park yoochan itu beneran ada ta?
    aku jadi penasaran sama tokoh yang satu ini.. di beberapa ff ada park yoochan,,
    kalo ga mau jawab ya gapapa tapi kalo aku mati terus gentayangan gimana? gara2 arwahku penasaran sama park yoochan #lebaaaayyyyy
    hheeehhee

    Reply
    1. LailaMP Post author

      mau tau park yoochan siapaaaaa????? #pasangmukasemisteriusmungkin
      dia itu kembaran yoochun di dunia fiksi, yaitu….. SAYA SENDIRI #plaaaaakkkkk #kabur

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s