Young Love

Title : Young Love *judul bisa ga nyambung sama isi tergantung siapa yang nilai u,u
Genre : romance, angst, OOC, etc
Length : oneshoot
Author : LaillaMP
Cast :
–    Song Jihyuk
–    Lee Young Rin
–    Lee Jihyun
A/N : karena tanggal 13 Jihyuk ultah, gue pengen bikinin bekas kembaran gue (?) fanfic~ hahaha.. ga papa kali kecepetan gek. Gue kan udah mau mos jadi harus cepet-cepet u,u
Jangan ada yang protes kalo Jihyuk gue jadiin dewasa disini!!
Komentar yaaa ^^ mian ceritanya garing, jelek, ga jelas, atau banyak typo😀

***

TING NONG

Bel rumah dipencet seseorang. Seorang anak perempuan yang sedang asyik berimajinasi dengan para barbie-nya akhirnya terhenti. Ia melihat ibunya sedang sibuk memasak jadi ia tidak tega untuk menyuruh ibunya membukakan pintu untuk tamu pagi-pagi itu.
“Ajushiii!!!” pekik anak perempuan itu girang.
“Jihyun-ah!!” lelaki berbadan tinggi kekar itu langsung menyambut pelukan dari gadis kecil itu. Ia mengecup pipi anak itu dengan gemas dan menggendongnya.
“Kau merindukan ajushi?” tanya lelaki itu.
“Tidak.” Jawab anak perempuan itu.
“Kenapa?” lelaki itu memasang wajah memelas yang dibuat-buat.
“Karena aku sangat merindukan ajushiiii!!!” anak perempuan itu menggelendot manja di gendongan lelaki yang dipanggilnya ‘ajushi’
“Jihyun-ah, siapa yang da-“ ucapan wanita muda itu terhenti kala melihat sosok itu. Bertinggi badan 185 centimeter dengan tubuh kekar dan wajah tampan, sangat sempurna dilihat dari luar. Apalagi ia juga sangat pintar.
“Kau merindukanku, noona?” tanya lelaki itu.
“Cih!” wanita muda itu melenguh kesal. “Kenapa kau datang lagi?”
“Aku merindukanmu dan… Jihyun.” Ucapnya sambil menatap gadis kecil yang sedang bergelayut manja padanya. “Oh ya, ajushi punya cokelat.” Lelaki itu mengeluarkan sebatang cokelat dari kantung celananya.
“Aaaaa cokelaa-“
“Aku bisa membelinya!” kata wanita muda itu ketus sambil membawa masuk anaknya dengan paksa setelah menjatuhkan cokelat batang itu.
“Hiks… hueeeeee ummaaaaaaaaaaaaaa!!!!! Andwaeeeee!!! Cokelat!!!!”
“Nanti umma belikan. Sudah masuk!!!”
Lelaki itu menghela nafas lesu.

***

Jihyun menangis seharian di kamarnya. Anak perempuan berusia 8 tahun itu sangat merindukan ‘Jihyuk ajushi’ yang sudah dianggapnya sebagai ayah sendiri. Ayahnya sudah meninggal, kata ummanya. Ia tinggal bersama ibunya yang bekerja sebagai pemilik toko butik terkenal di dekat rumahnya.
“Jihyun-ah, makan dulu sayang!” teriak ibunya dari balik pintu kamarnya.
“Aniyaaa!!!!!” balas Jihyun kesal.
“Jihyun, menurutlah pada umma…” ibunya sudah hampir menyerah.
TOK TOK TOK…
Tangisan Jihyun langsung berhenti kala mendengar suara ketukan dari balik jendela kamarnya. Seorang lelaki bertampang tak berdosa tersenyum sambil melambaikan tangan. Jihyun langsung bangun dari tempat tidur dan membukakan jendela untuk lelaki itu.
“Ssssstttttt… ini ajushi bawakan cokelatnya. Kau jangan beritahu umma ya.” Lalu si ‘ajushi’ pergi.

***

Sore itu sangat indah. Matahari bersinar tidak terlalu terang dan angin yang datang sangat menyejukkan. Di taman kota banyak orang yang menikmati waktu santai di sore yang indah ini. Seorang anak perempuan asyik bermain ayunan sedangkan ibunya sedang membaca buku.
“Umma, ajusshi kemana?” tanya Jihyun polos pada ibunya.
Lee Youngrin, sang ibu hanya bisa menggeleng sambil tersenyum. Lalu kembali membaca buku yang dibawanya.
“Ajusshi kan baik. Kenapa umma tidak suka?” tanya Jihyun lagi.
“Dia memang baik. Tapi umma tidak menyukainya.” Kata Lee Youngrin datar.
“Noona…” seseorang memanggil Lee Youngrin. Dan ia sudah tahu itu siapa. Tapi ia tidak berminat untuk menyapanya balik atau hanya sekedar menggerakkan badan.
“Ajusshi!” Jihyun melompat senang dari ayunannya yang sedang digerakkannya dengan cepat.
DUGGG!!!!!!
Jelas saja kepala Jihyun langsung terbentur tempat duduk layanan ketika anak itu jatuh ke atas tanah. Jihyun menangis, Youngrin dan Jihyuk panik. Jihyuk sampai duluan di tempat Jihyun jatuh dan langsung menenangkannya dengan mengusap kepalanya. Jihyun terus menangis di dada Jihyuk.
“Appoyoooooooo…”
“Sssstttt… Jihyun-ah, uljjima. Katanya mau jadi superhero, masa menangis? Sssstt… nanti tidak akan ajusshi berikan cokelat yang kemarin.” Rayu Jihyuk.
Jihyun langsung melepaskan dirinya dari pelukan Jihyuk dan menghapus air matanya. “Aku tidak akan menangis.”
“Chego!” Jihyuk mengecup puncak kepala anak itu.
Youngrin yang melihat adegan ‘mesra’ Jihyuk dan anaknya itu langsung melemparkan buku yang dibawanya ke bawah. Lalu pergi begitu saja tanpa mengambil Jihyun.
“Ummaaaaaa!!!” panggil Jihyun sambil berdiri untuk mengejar. Tapi tangan anak perempuan itu ditahan Jihyuk.
“Biar ajusshi saja yang berbicara pada umma nanti. Kita main dulu ya?”
“Aniya!!” tolak Jihyun langsung.
“Jihyun-ah, kau lihat kan wajah umma tadi?” Jihyun menatap anak perempuan itu. “Kau lihat kan umma sedang marah? Nanti kalau kau dimarahi bagaimana?”
Jihyun mengangguk mengerti. Kalau ibunya marah memang seram. Jihyun pernah tidak diperbolehkan main, disuruh makan walaupun Jihyun tidak mau, harus belajar dan lain-lain.
“Nanti appa bicara pada umma ya? Sekarang kita diluar dulu. Biarkan umma tenang.”

***

Lee Youngrin mengacak setiap benda yang ada di kamarnya itu dengan marah. Ibu muda itu benar-benar kesal karena orang yang dibencinya menyentuh anaknya. Satu-satunya anaknya dari suaminya yang tidak mau bertanggung jawab atas kehamilannya.
Lee Youngrin hanyalah seorang perempuan biasa, yang berhati lembut dan mempunyai perasaan. Ia mencintai seorang pria yang setahun lebih tua darinya. Apapun ia berikan pada lelaki itu karena lelaki itu berjanji akan menikahinya. Tapi ternyata lelaki itu berkhianat dan pergi, lalu menikah dengan perempuan lain.
Selama 8 tahun ini ia berusaha untuk menghidupi Jihyun, anak satu-satunya, sampai akhirnya ada seorang lelaki yang mendekatinya dan memberikan cinta dan kasih sayang lebih.
Song Jihyuk, yaa.. kadang-kadang Youngrin tertawa sendiri melihat tingkahnya atau kegigihannya untuk mendapat balasan cintanya yang sudah beku dan tidak bisa dikeluarkan atau dicairkan lagi. Lelaki itu baru 25 tahun, 3 tahun lebih muda darinya. Tapi sifatnya sangat dewasa walaupun kadang-kadang kekanakan.
Tokkk… tokkkk… tokkkk…
Ketukan itu terlihat sangat sabar. Tapi Youngrin yang masih terbawa emosi mencoba menenangkan diri dulu kalau-kalau yang datang ternyata bukan Jihyuk atau Jihyun. Ck.. Youngrin baru sadar kalau keduanya memiliki nama yang hampir sama.
Setelah merasa tenang Youngrin pun berjalan ke depan dan membukakan pintu untuk tamu malamnya. Benar saja.
“Kalau mau marah nanti dulu. Kutidurkan Jihyun dulu.” Kata Jihyuk sambil menatap gadis kecil yang tertidur di pundaknya.
Youngrin mempersilakan Jihyuk masuk ke rumahnya. Jihyuk berjalan ke kamar Jihyun yang letaknya di dekat dapur dan kamar mandi. Dengan sangat hati-hati ia menidurkan Jihyun di kasurnya.
Jihyuk lalu keluar. Youngrin mengikutinya karena banyak yang ingin disampaikan padanya.
Klekk…
Jihyuk membuka pintu mobilnya. Keluarlah seorang perempuan cantik yang berumur sekitar 20 tahunan dari dalamnya. Jihyuk tersenyum manis pada perempuan itu. Dan entah kenapa Youngrin ingin sekali menampar Jihyuk saat itu juga karena berani membawa perempuan lain kesini.
“Perkenalkan, ini Jieun.” Jihyuk memperkenalkan perempuan di sampingnya. “Jieun-ah, ini Youngrin.”
PLAKK!
Youngrin langsung menampar pipi kanan Jihyuk dengan sangat keras. Lalu pipi kirinya sampai membekas. Youngrin ingin menampar pipi kanan lelaki itu sekali lagi. Tapi keburu ditahan Jihyuk dengan cengkramannya yang erat. Lelaki itu lalu menatap gadis di sebelahnya yang masih terdiam karena terkejut.
“Jieun-ah, jaga Jihyun.” Jihyuk lalu menarik Youngrin ke dalam mobilnya.
“Ne, oppa.” Perempuan bernama Jieun itu menyingkir untuk mempersilakan Jihyuk dan Youngrin masuk ke dalam mobil.
“Mau apa kau sebenarnya?!” tanya Youngrin kesal. Ia terus melawan ketika Jihyuk ingin memasukkannya ke dalam mobil.
“Ikut aku.” Kata Jihyuk pelan tapi tegas tanpa menatap Youngrin.
“Aniya! Lepaskan!!” Youngrin terus mencoba menghentakkan tangannya untuk melepaskan cengkraman Jihyuk di tangannya.
“Ikut aku, aku akan jelaskan semuanya. Setelah itu, aku bisa pergi dari duniamu.” Jihyuk menatap Youngrin dengan tatapan yang tidak biasa. Tatapan dingin dan tegas.

***

Youngrin terus mengikuti langkah Jihyuk setelah turun dari mobil. Jihyuk menurunkannya di ujung jalan menuju sungai Han. Lelaki itu menitipkan mobilnya pada seseorang disana. Suasana sangat canggung saat itu.
Angin malam berhembus lembut. Tapi membuat Youngrin kedinginan. Youngrin mencoba menghangatkan diri dengan memeluk dirinya sendiri.
“Pakai ini.” Jihyuk melepaskan jaket kulit mahal yang hanya setiap hari Selasa ia pakai.
“Tidak usah. Aku tidak dingin.” Youngrin melepaskan tangannya dari badannya.
“Disini dingin.” Kata Jihyuk tanpa menatap Youngrin. “Pakai saja.”
“Tidak.”
Jihyuk lalu berdiri tepat didepan Youngrin, menyebabkan langkah ibu satu anak itu terhenti. Jihyuk memakaikan jaket kulit berwarna cokelat itu dengan lembut ke tubuh Youngrin. Setelah selesai ia kembali berjalan di sebelahnya.
Youngrin tidak berani menatap Jihyuk saat itu. Ia terus menatap pemandangan yang tidak terlalu istimewa untuknya. Hanya cahaya remang lampu yang menghiasi. Sangat tidak mengasyikkan.
Langkah kaki Jihyuk lalu menuruni tangga di sungai itu sampai di bawah. Ia tidak melepaskan sepatu sporty mahal yang hanya ia pakai juga di hari Selasa.
“Kuharap kau mendengarkanku hanya untuk hari ini. Seterusnya, terserah kau.” Kata Jihyuk dari bawah sana.
Youngrin duduk di anak tangga paling atas. Ia menatap sungai Han di waktu malam yang indah.
Jihyuk membalikkan badan sambil memainkan air di kakinya. “Aku anak tunggal keluargaku. Laki-laki pula. Aku menjadi yang paling disayang.” Jihyuk memulai pembicaraan private di malam itu.
“Selama ini aku selalu dimanja. Aku tidak pernah tidak mendapatkan apapun yang kumau. Aku mau mainan yang paling mahal, boleh. Aku mau guru privat yang baik, boleh. Aku ingin uang banyak pun pasti diberi.” Jihyuk menghela nafas sejenak. “Kukira dunia akan memberikan semua yang kumau. Tapi ternyata dunia tidak memberikanku orang yang kucintai.”
“Keluargamu…”
“Mereka tentu saja kucintai.” Jihyuk tersenyum menatap Youngrin. Lalu kembali membalikkan badan. “Tapi kan aku juga harus memberikan keturunan untuk meneruskan usaha ayahku setelah aku tiada.”
“Tapi Jihyun anak perempuan…”
“Perempuan dan laki-laki tidak penting.” Jihyuk menatap Youngrin lembut. “Yang penting anak itu mau membantuku untuk meneruskan usaha yang sudah turun temurun ini.”
Suasana canggung lagi selama beberapa menit. Baik Jihyuk atau Youngrin sama-sama tidak tahu mau memulai pembicaraan darimana lagi.
Pandangan Youngrin yang semula ke arah sungai Han yang berarus tenang tiba-tiba beralih ke Jihyuk yang duduk di dua tangga lebih rendah darinya. Wajah itu begitu tenang dan bisa dipercaya. Ia masih muda, tapi ia lebih dewasa darinya. Lelaki itu juga tidak pernah melihat yang terburuk darinya. Masa lalunya bahkan.
“Aku tidak pernah bisa melihat yeoja menangis.” Kata Jihyuk. “Seperti namja lainnya, aku pasti akan menenangkan yeoja yang menangis dan tidak tega untuk meninggalkannya. Meninggalkannya sama saja menyakiti ibu kita sendiri, seorang perempuan.”
Youngrin menghela nafas. Ia kembali menatap ke depan tanpa objek pasti.
“Masa lalumu terlalu menyakitkan. Tapi nyatanya itu memang terjadi pada orang yang kucintai.” Jihyuk tersenyum masam. “Aku pernah bertemu dengan seorang yeoja yang sepertinya tidak akan mengingatku lagi. Dia seniorku yang berbeda 3 tahun dariku. Karena aku termasuk anak pintar, jadilah aku setingkat dibawahnya.”
“Dia… tidak mengingatmu?”
“Sama sekali tidak. Karena kita hanya pernah bertemu sekali.” Jihyuk merenggangkan tubuhnya. “Dan kita tidak saling menyebutkan nama.”
“Lalu bagaimana kau tahu tentang dia?”
“Aku terus mengikutinya sampai aku tahu asal-usulnya. Kau tahu kan aku anak yang paling beruntung di dunia ini?”
“Maksudmu apa?!”
Jihyuk tertawa kecil. “Aku bisa mendapatkan info tentangmu walaupun itu menyakitkan.”
“Tentangku?!” Youngrin mulai tidak mengerti arah pembicaraan.
Jihyuk tertawa bodoh. Ia menggaruk kepalanya dengan asal. “Mianhae…”
“Jadi…”
Jihyuk mengangguk. “Kita sebelumnya pernah bertemu.”
“Kenapa aku tidak ingat?”
Jihyuk mendengus. “Mungkin karena wajahku tidak sebagus wajah Yunhak.”
“Jangan ingatkan aku dengan lelaki brengsek itu!”
“Oh ya? Kau sudah bilang ia brengsek?” Jihyuk mulai menggoda Youngrin. “Jieun, kau masih ingat dia?”
“Dia siapa lagi?! Dasar mata keranjang!” emosi Youngrin tiba-tiba naik.
“Kau cemburu?”
Youngrin membelalakkan mata. Tanpa sadar memang ia cemburu. Tapi karena apa? Apa karena gadis itu masih muda dan single? Tidak seperti dirinya yang masih muda sudah mengurus anak?
“Jieun sangat cantik kan?” Jihyuk menggoda Youngrin. “Dia cocok tidak denganku? Ibuku menjodohkanku dengannya!”
Youngrin menatap Jihyuk dengan kesal. Ia berdiri dan hendak meninggalkan Jihyuk sendirian.
“Kau cemburu?” tanya Jihyuk.
“Untuk apa aku cemburu?” tanya Youngrin. Bertanya pada dirinya sendiri.
“3 tahun kita saling bertemu bukan waktu yang singkat. Aku yakin kau mempunyai rasa padaku.”
“Rasa apa?”
Langkah kaki Jihyuk terdengar naik ke atas. Youngrin tidak bisa melangkahkan kakinya lagi walaupun ia mau.
“Kau cemburu kan? Jujurlah.”
“Tidak.”
Jihyuk menghela nafas. “Kau selalu menganggapku anak kecil karena umurku kan? Kau juga selalu merendahkanku karena aku anak orang kaya yang manja. Kau juga pasti tidak percaya kalau aku bisa memberikan semua cinta untukmu. Aku memang anak kecil, tapi aku tahu bagaimana cara mencintai. Dan pilihanku hanya padamu.”
“Tidak. Aku bukan perempuan yang baik untukmu. Carilah perempuan lain yang lebih baik.”
“Bagiku kau yang terbaik.” Jihyuk menggigit bibir bawahnya menahan malu. “Nan jeongmal saranghaesseoyo. A-aku…”
“Ara. Dan aku menyuruhmu mencari perempuan lain yang lebih baik, Jihyuk-ah. Kau terlalu sempurna untukku..” Youngrin lalu berjalan perlahan meninggalkan Jihyuk. Meninggalkan lelaki yang sebenarnya ia kagumi dan juga mencintainya.
“SETIDAKNYA TATAP AKU DI HARI ULANGTAHUNKU, NOONA!” kata Jihyuk dengan suara kencang.

***

4 tahun kemudian…

“APPAAAAAAAA!!!!!”
“Jihyun-ah!!”
“Jihyuk-ah, wasseo?”
Jihyuk melepaskan sepatu bootsnya yang dipakainya setiap hari Jumat. Jihyun membantunya membawa sepatu itu masuk.
“Appa bawa oleh-olehkah? Sepertinya…”
“Ani. Appa tidak membawa apa-apa. Ini hanya kerjaan.” Kata Jihyuk bohong.
“Ck! Appa!! Aku kan sudah pesan jangan lupa bawa pizza keju! Ih appa jahat!”
“Istrikuuuuuuuuu, tolong bawakan tasku ke kamar ya!” Jihyuk memanggil Youngrin untuk menggoda anaknya. Ah, anak tirinya.
“Baiklah suamiku sayang…” Youngrin membawakan tas besar itu ke dapur, bukan ke kamar.
“Umma, kamar appa kan…”
Cup~
Jihyuk langsung mengecup pipi kiri Jihyun. Anak perempuan itu menggigit bibirnya malu. Ia menatap ayah tirinya dan menamparnya pelan.
“Saengil chukkhae Jihyunnie~”
Tiba-tiba ibunya dari dapur membawa sebuah roti berukuran besar yang sudah dibuatnya dengan diam-diam dengan lilin angka 12 diatasnya.
“Saengil chukkahamnida..
Saengil chukkahamnida..
Saranghaneun Jihyuk Jihyun..
Saengil chukahamnida…” Youngrin mengecup pipi mereka satu-satu.
“Yeeeeeee ummaaaaaa!!!” Jihyun memeluk ibunya sayang. Lalu ayah tirinya yang paling disayanginya. Ia memukul pelan dada kekar pria itu.
“Appaaaaa, mana pizza kejuku?”
Jihyuk menggeleng. “Tidak ada.”
“Haish!! Appa pasti bohong. Mana?!”
“Tidak ada. Coba saja kau cari.” Kata Youngrin ikut menimpali.
“Pasti disembunyikan!”
Ting nong…
Bel ditekan seseorang. Jihyuk memberikan kode pada Youngrin untuk membukakan pintu. Jihyuk terus meyakinkan Jihyun kalau pizza keju itu tidak ada.
“Saengil chukkhae, Jihyun-ah!!” seorang perempuan berusia 24 tahun membawa sekotak pizza berbau… KEJU!
Jihyun langsung menyambar kotak itu dan memakan isinya tanpa memperhatikan cake yang dibuatkan ibunya dengan sangat susah.
“Nanti aku dan Jieun yang akan memakannya.” Kata Jihyuk untuk menghibur Youngrin.
“Iya. Tidak usah juga tidak apa-apa. Ini tidak enak.”
“Enaklah pastinya.”
“Jieun ajumma,” panggil Youngrin pada perempuan berusia 24 tahun itu. “Ajumma tidak mengajak Geonil ajusshi?”
“Geonil ajusshi sedang sibuk syuting drama. Kau tunggu saja. Katanya mau memberikanmu hadiah.”
“Yaaaahh…”
Suasana sempat hening sejenak karena semuanya makan. Jihyun asyik dengan pizza kejunya dan 3 orang dewasa lainnya makan kue buatan Youngrin.
“Umma, appa, aku mau meminta satu ini. Boleh kan?” tanya Jihyun polos.
“Apa?” tanya Jihyuk dan Youngrin bersamaan.
“Aku ingin punya adik. Aku bosan sendiri terus!”
Jihyuk dan Youngrin saling menatap. Mereka lalu mengiyakan dengan berat hati.

***

“Mumpung Jihyun sedang diajak Geonil dan Jieun keluar, kenapa kita tidak membuat adik untuk Jihyun?” kata Jihyuk pada Youngrin yang sedang mencuci muka di kamar mandi.
“Ck! Kau menanggapinya dengan serius?” Youngrin mencibir.
“Jihyun memang serius. Lagian… aku juga anak tunggal dan aku sering merasakan tidak enaknya sendiri tanpa saudara.”
“……” Youngrin tidak tahu harus berkata apa. Ia keluar dari kamar mandi dan merebahkan dirinya di kasur king size-nya membelakangi Jihyuk.
“Aku tidak menanggapinya dengan serius.” Jihyuk juga merebahkan dirinya membelakangi Youngrin.
“Jihyuk-ah..”
“Apa?” suara Jihyuk terdengar parau.
“Aku memang belum memberikan keturunan untukmu…”
“Tidak usah kalau tidak mau. Bersamamu sudah merupakan anugerah untukku.”
Youngrin membalikkan badan menghadap Jihyuk. Ia lalu menyandarkan kepalanya ke punggung Jihyuk.
“Lakukanlah, asalkan pelan-pelan. Sudah lama aku tidak melakukannya.”
Jihyuk membalikkan tubuhnya. Ia tersenyum meyakinkan. “Aku tidak akan bisa keras pada wanita. Bersiaplah. Aku akan menyerangmu dengan lembut.”

***

Sementara itu, Jihyun yang sedang berjalan-jalan dengan adik sepupu dari Jihyuk, Jieun dan sang pacar, Geonil, mulai merasa mengantuk. Tentu saja karena sudah lebih dari 5 jam ia dan dua pasangan itu berjalan-jalan, bermain di game center dan belanja.
“Sepertinya Jihyun mengantuk.” Bisik Geonil pada Jieun disampingnya.
Jieun melihat ke belakang. Benar saja kepala Jihyun bergerak-gerak berusaha menahan ngantuk. Tapi akhirnya anak itu tertidur dengan sempurna.
“Ya sudah kita bawa saja ke rumah. Sepupumu pasti sedang ‘ehm’ dengan Youngrin.” Kata Geonil.
Jieun mengangguk.
Geonil lalu mengambil ponselnya dan mengirimkan pesan singkat untuk Jihyuk di rumah.

Hyung, Jihyun katanya mau menginap di rumah kita. Boleh ya?
Selamat melanjutkan pekerjaanmu! ^^

–    geonil

***

END

4 thoughts on “Young Love

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s