S.E.C.R.E.T (Part 3)

Title : S.E.C.R.E.T
Genre : ROMANCE, COMEDY, M-PREG, BOYXBOY, YAOI, sedikit CANON, OOC, FICTION, ANGST, ETC *gue caps. Sorry v^^
Length : 3 of ?
Author : LaillaMP
Main Cast :
–    Park Geonil
–    Kim Sungje
Other Cast :
–    Kim Kwangsu
–    Yoon Sungmo
–    Song Jihyuk
A/N : Chapter tiga keluaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaarrr!!!!!!!!! Ada yang nunggu? *krik *kayaknya nggak deh *puasa nih woy!!!
Maaf gue malah share ff YAOI di tengah puasa ini. Ff ini bisa dibaca setelah adzan magrib berkumandang  hahaha…
Dan sekali lagi maaf, ternyata susah namatin ff ini di part 3 ==” daripada kepanjangan mendingan gue buat aja beberapa chapt lagi. XDXD
Gue mengharapkan ada yang merespon cerita ini walaupun hanya satu orang. Please yaaa?!! *maksa
Okee, itadakimasu!! ^^

***

<< Previous

“zutto kimino chikakude zutto kimiwo miteita
Oh no, Oh no ( I need you back now)
ima suguni aitakute..”

Lagu Comeback To Me mengalun lembut dari ponsel Geonil ketika ia baru saja mengantarkan Sungje tidur. Malam ini ia tidak bisa tidur lebih awal seperti kemarin. Insomnianya kumat.
“Yoboseyo?” kata Geonil sambil mengernyitkan dahi untuk mengetahui siapa yang meneleponnya. Nomor handphonenya ini sebenarnya hanya diketahui oleh member choshinsung lain.
‘Park Geonil, eodiya?’ tanya orang diseberang.
Geonil mengernyit lagi. “Mian, nuguseyo?”
‘Eodiya, Park Geonil? Kau tidak ingat aku?’
DEG….
Suara itu memang jarang didengarnya. Namun ia tak asing dengan suaranya. Suara CEO Kim, bosnya.
‘Aku tidak mau tahu, kau harus menjelaskan padaku seluruhnya besok. Mau tidak mau kau harus ke Korea besok dan bawa Sungje serta.’

Tit…. Tit…. Tit…
Sambungan internasional kembali terputus.
Geonil membiarkan iPhone-nya jatuh ke lantai. Tangannya terlalu lemas untuk mengambil kembali ponsel mahal itu. Nafasnya tercekat. Ia tidak tahu kenapa berita itu bisa ada di internet. Siapa yang mengenalnya di negara ini? Di tempat terpencil ini?
Dan ah ya, sepintar-pintarnya kau menyimpan bangkai baunya pasti akan tercium juga. Begitu juga dengan aibnya ini. Sudah tercium kemanapun.
Geonil lemas. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Haruskah ia ke Korea dan menjelaskan semuanya dan membiarkan reputasi grupnya hancur? Atau… ia berdiam disini dan menghindar dari seluruh media yang mencarinya?

>> Part 3 <<

Geonil masuk ke dalam kamar dengan pikiran yang masih kalut. Ia memang sudah tahu tentang berita itu. Perkembangan jaman memang makin cepat. Foto itu diambil hari kemarin, dan sampai ke telinga para fans dan antifans beberapa jam setelahnya. Ani, bahkan lebih cepat.
“Geonil-ah…” panggil Sungje yang sudah menyadari keberadaan Geonil kembali di sisinya setelah menonton sedikit telenovela malam di salah satu stasiun TV Swasta.
“Ne? sstt… Tidurlah.” Geonil mengelus rambut Sungje lembut sambil tersenyum kecut.
“Kenapa belum tidur?” Sungje membuka matanya sedikit untuk menatap wajah Geonil.
“Aku belum ngantuk.” Balas Geonil lembut. “Kau tidur duluan saja.”
Sungje mengangguk pasrah. Ia lalu mengamit lengan kanan Geonil dan menjadikannya guling. Geonil menghela nafas sambil mengelus rambut Sungje dengan tangan satunya.
“Nan otokhae?” Geonil bertanya sendiri pada dirinya dengan suara kecil. Pandangannya lalu mengarah pada Sungje yang tertidur pulas di sampingnya.
Ck. Mana mungkin Geonil bisa membawa Sungje ke Korea dengan keadaan perut yang makin membesar dan Sungje membutuhkannya lebih banyak? Mana bisa pula Sungje dipaksa untuk mengakui semuanya. Itu bisa mempengaruhi kandungannya yang tidak terlalu kuat.
Geonil lalu menatap perut Sungje yang sudah membesar. Memasuki bulan ke 3. Geonil harus ekstra hati-hati menjaga Sungje. Menjaga emosinya, pola makan dan lainnya. Ia ingin menjadi suami yang baik untuk lelaki ini.
“Anak appa ini tidak nakal kan?” Geonil mengelus perut Sungje lembut. “Jangan nakal ya. Appa tidak mau punya anak nakal.”
Tanpa sadar setitik air mata jatuh dari pelupuk matanya. Lalu setitik lagi, lagi, dan akhirnya Geonil kewalahan sendiri mengontrolnya. Ia melepaskan lengannya dari cengkraman Sungje dengan hati-hati, lalu keluar dan membiarkan dirinya hanyut dalam perasaan yang sudah ditahannya selama ini.
Geonil mengeluarkan iPhone dari saku celananya. Ia ingin menelepon nomor CEO-nya. Tapi akhirnya tidak jadi. Lalu mencoba memberanikan diri dan akhirnya Geonil menyerah dan memilih untuk tidak menghubungi CEO-nya.

Jam 11.30 PM
Sudah malam di Jerman, tapi masih siang di Korea. Geonil memilih menghubungi Jihyuk.
‘Geonil?’ Jihyuk menyambutnya dengan menyebut namanya.
Geonil tersenyum lega karena nomor ini memang benar-benar punya Jihyuk. “Ne.”
‘Ada apa?’
Geonil tersenyum pilu. “Kukira kau sudah tahu.”
‘Jadi kau sudah terima telepon dari CEO Kim?’ tanya Jihyuk di seberang sana.
Geonil mengangguk. “Ne.”
‘Apa katanya?’
“Aku dan Sungje harus menghadapnya besok.” Geonil tersenyum lemah. “Aku tidak tahu harus melakukan apa. Kandungan Sungje tidak terlalu kuat untuk pulang pergi Korea-Jerman.”
‘Aku juga tidak bisa memberi solusi.’ Jihyuk menghela nafas diseberang sana. ‘Mau minta saran Sungmo atau Kwangsu?’
Geonil mengangguk. ‘Boleh.’
Telepon pun berpindah ke tangan Sungmo.
‘Geonil-ah, bagaimana kabarmu?’ tanya Sungmo.
Geonil menggeleng bingung. “Lumayan.”
‘Mianhae..’
“Untuk apa?”
‘Karena nomor ini akhirnya sampai ke meja CEO Kim.’
“Gwaenchana.” Geonil mendesah berat. “Memang seharusnya begini.”
‘Geonil-ah,’ suara berganti menjadi Kwangsu. ‘Tidak usah datang.’
Geonil terdiam beberapa detik. Ia menatap langit malam Jerman dengan tatapan kosong.
‘Disana saja. Temani Sungje hyung. Biar kami yang menyelesaikan semuanya.’ Kata Kwangsu lagi.
“Tidak usah.” Geonil menggeleng keras. “Aku akan menjelaskannya besok. Lalu kembali lagi ke Jerman. Aku tidak usah membawa Sungje…”
‘Jangan!’ suara berganti lagi menjadi Sungmo. ‘Biar kita yang menjelaskan.’
“Aniya. Ini urusanku. Masa depan kalian ada di tanganku.”
‘Biarlah kita miskin.’ Sungmo mendesah berat. ‘Tapi kita kan masih punya aset penting di Nagoya. Kau ingat?’ Sungmo mengucapkan dengan suara pelan, karena ini sangat rahasia.
Geonil mengernyit bingung. Aset penting?
‘Red Sky!’ Jihyuk berkata sangat pelan.
“Ah!” Geonil tersenyum lagi. “Aku ingat.”
‘Itu kan gagasanmu! Kau malah lupa!’
Geonil tertawa kecil. “Sorry!”
‘Okay. Urusan ini serahkan saja pada kami. Kami tidak mau tahu, pokoknya beberapa tahun lagi kau kesini kita sudah harus menggendong keponakan!’ kata Sungmo.
Geonil menghela nafas lega. “Okay. Aku pasti akan memberikan keponakan yang menyusahkan untuk kalian!”
3 member Choshinsung tertawa diseberang sana.
‘Kalau begitu tidak jadi!’ canda Kwangsu.
“Okay. Aku pasti akan membawakannya untuk kalian. Semoga saja anak kembar. Perut Sungje lebih besar dari yang lainnya di usia 3 bulan ini.”
‘Bagaimana tidak kembar. Kau membuatnya terus. Dalam semalam kau mungkin bisa memberikan 10 keturunan langsung!’ kata Jihyuk.
Geonil tertawa. “Ah ya. Eh, sudah malam disini. Aku akan menelpon kalian lagi besok. Bye.”

***

Geonil masuk kembali ke dalam rumah dengan santai dan tidak terlalu tegang seperti tadi. Sedikit bebannya terangkat.
“Sungje-ah? Kenapa disitu?” tanya Geonil kaget karena Sungje sedang berdiri beberapa meter dibelakang pintu.
“Hiks… kukira kau pergi makanya aku mencarimu!” kata Sungje.
“Mulai lagi deh.” Geonil mendekati Sungje dan langsung memeluknya. “Aku kan hanya sebentar.”
“Tapi kenapa langsung pergi saja? Jangan-jangan nanti kau malah pulang ke Korea dan meninggalkanku sendiri! Kalau begitu aku tinggal dengan siapa?”
Geonil mengeratkan pelukannya. “Kau tidak akan kutinggalkan sendiri, sayang.”
“Tapi…”
“Tidur lagi. Baru jam 12. Tidur lagi ya?”
Sungje menggeleng. Geonil mendengus.
“Aku mau shin ramyun.” Pinta Sungje dengan amat sangat.
“Mwo?! Kan tadi kita lihat stok—“
“Belikan ya?” Sungje menatap Geonil dengan puppy eyes andalannya.
“Tapi… sudah malam..”
“Tapi aku mau Geonil-ah…” Sungje mengelus perutnya yang membuncit. “Ya sudah kalau tidak mau—“
“Aku akan carikan ya? Kau tunggu sini.”
Sungje tersenyum bahagia. “Aku tunggu ya.”
Geonil mengangguk. Ia mengecup dahi Sungje. Lalu ke kamar dan mengambil jaket, dompet dan kunci mobilnya.
“Kalau ada apa-apa telepon aku ya.”
Sungje mengangguk.

***

“Red Sky lumayan kan?” Kwangsu bertanya pada si ahli bisnis, Sungmo *kan OOC. Seterah gue siapa yang jadi ahli bisnis! :P*
“Lumayan. Kita bisa bekerja disitu kalau kita tersingkir dari perusahaan ini.” Balas Sungmo.
“Yang penting biarkan Sungje hyung dan Geonil tenang. Sungje hyung kan lagi ‘ehm’ jadi… dia butuh ketenangan. Malah kata Geonil waktu itu kan kandungan hyung tidak terlalu kuat.”
Sungmo dan Kwangsu mengangguk. “Semoga saja mereka bahagia.”
Tokkk tokkk tokkk…
Pintu dorm diketuk orang. Kwangsu berdiri untuk membukakan pintu. Ia sudah siap dengan semua yang akan terjadi.
“Kenapa wajahmu tegang begitu? Kami membelikan kalian camilan. Ya, siapa tahu kalian mau makan.” Kata Jikyung.
Kwangsu tertawa kecil. “Kukira siapa. Masuklah.” Kwangsu mempersilakan dua magnae itu masuk.
Jikyung dan Jaehwan masuk dan langsung bergabung dengan pembicaraan dewasa dengan member senior.
“Kini aku terbuka pada kalian. Kumohon kalian mau bekerjasama dengan kita untuk tutup mulut atau menjadi pihak kita.”
Jaehwan dan Jikyung mengangguk. Jikyung lalu membuka satu camilan yang dibawanya dan menawarkannya pada hyung-hyungnya.
“Gomawo.” Ucap Jihyuk bahagia karena diberi camilan *==”*
“Bisa kita mulai?” tanya Sungmo serius.
Jikyung dan Jaehwan mengangguk.
Sungmo menghela nafas sejenak. Lalu memastikan bahwa tidak ada orang lain yang mengintip atau menguping.
“Kau sudah mengunci pintu kan?” tanya Sungmo pada Kwangsu.
Kwangsu menggeleng. Ia lalu berdiri dan mengunci pintunya.
“Geonil dan Sungje hyung memang suami istri. Mereka sudah menikah setelah lulus SMA di tempat yang memperbolehkan kawin sejenis. Dan seperti yang kalian tahu, Geonil memang sering meng’…’” Sungmo menyensor ucapannya dengan sedikit katupan di mata kirinya dan memberi tanda kutip dengan tangannya. Untungnya Jaehwan dan Jikyung mengerti.
“Dan entah aku harus bilang ini anugerah atau malah musibah Sungje hyung bisa hamil dan sekarang sedang mengandung. Kata Geonil sih kandungannya lebih besar dari yang lainnya. Dia berharap anak itu kembar.”
“Pasti akan sangat lucu!” kata Jikyung.
“Bandel iya.” Kata Kwangsu sambil mendelik ke masa lalu Geonil dan Sungje.
“Dan sebenarnya besok CEO Kim menyuruh mereka datang kesini untuk mempertanggungjawabkannya. Dan kami menyuruhnya untuk tetap disana sedangkan kita yang akan mengurusnya. Kau mau membantu kami?”
“Bantu apa?” tanya Jaehwan. “Aku tidak tahu harus mengatakan apa.”
“Katakan yang sejujurnya!” jawab Jihyuk. “Katakan apa adanya. Kita harus terima apapun yang akan dilakukan CEO Kim.”
“Tapi kalau kalian tidak mau atau tidak bisa ya… tidak usah. Biar kita yang mengurusnya.”
“Tapi…” Jaehwan tersenyum kecut. “Bahkan aku belum memulai debutku. Masa aku langsung gagal?”
3 senior itu diam dan menundukkan kepalanya.
“Tidak usah juga tidak apa-apa. Yang penting kau tutup mulut saja.” Kata Sungmo. “Okay. Aku lapar. Jadwal siapa untuk membuat makanan hari ini?”
“Aku mau Shin Ramyun!!” request Jihyuk.
“Buat saja sendiri!” kata Kwangsu.
“Yaaahhh…”

***

Sementara itu di Jerman…
“Aish!! Masa aku harus ke kota untuk membeli ramyun? Ck.. Sungje mintanya aneh-aneh aja!” gerutu Geonil sambil terus menyetir mobilnya dengan keadaan setengah mengantuk. “Mana besok ada mata kuliah penting. Pokoknya aku harus lulus 2 tahun lagi!”
“Demi Sungje pokoknya aku harus mendapatkannya! Fighting Geonil-ah!!!!!” Geonil kembali tancap gas dengan kecepatan tinggi.
Ia sudah hampir mengitari kota tempatnya tinggal dan tetap saja tidak ada yang menjual mie yang dipesan Sungje.
Geonil berfikir ia harus ke Berlin, ibukota Jerman untuk mencari mie itu dan membeli banyak untuk stok menu ngidam Sungje. Tapi ke ibukota perlu waktu setengah jam-an.
Drrttt… drrrtttt…. Drrrrtttt….
Ponsel Geonil bergetar. Geonil dengan panik langsung mencari ponsel itu di saku celananya dan meminggirkan mobilnya ke sisi kiri.
“Yoboseyo?”
‘Geonil-ah,’
DEG…
Geonil hampir saja menjatuhkan iPhone-nya lagi kalau saja ia tidak bersikap tenang setenang-tenangnya. Suara CEO Kim. Pasti ia ingin Geonil ke Korea sekarang juga sambil membawa Sungje.
‘Kapan kau mau kesini? Bawa Sungje sekalian. Aku mau tahu berita ini benar atau tidak.’ Kata CEO Kim dengan suara berat.
“A-aku…” Geonil tidak tahu harus mengatakan apa.
‘Kutunggu. Disana setengah dua pagi kan? Kalau kau berangkat sekarang kemungkinan kau sampai disini sore. Dan kau bisa menjelaskan padaku.’
“Tapi…”
‘Tapi apa? Sungje tidak benar-benar hamil kan? Kau belajar kan?’
“Iya aku belajar dan aku sedang mengejar lulus 2 tahun lagi.” Geonil menelan ludah berat. “Tapi…”
‘Aku tidak mau dengar alasanmu. Kau kesini atau hidupmu hancur. Bawa Sungje sebagai bukti!’
“Sajangnim… sajangnim?!!” Geonil mendengus kesal. Ia memukul stir mobil dengan penuh emosi. Lalu menatap keluar jendela dan menghembuskan nafas kesal berkali-kali.
“Sial!!! Sial!!! Sial!!! Otokhae? Shitt!!!!! You Are…. SHIIIIIIT!!!” Geonil melempar iPhonenya ke kursi di sebelah.
Drrrtttt…. Drrrrttttt…. Drrrrttttttt….
Kembali ponselnya bergetar. Geonil menggeram pelan sambil mengambil ponsel yang diproduksi Apple itu. Tanpa melihat yang menelponnya ia sudah yakin kalau ini…
“Ada apa lagi? Aku tidak bisa ke Korea sekarang! Istriku hamil, kau puas?!!”
Geonil ingin mematikan handphonenya. Tapi….
“Ini aku! Kau marah karena aku hamil? Iya? Marahlah! Cepat marah!! Mau ke Korea? Ke Korea saja sana! Tinggalkan aku sendiri disini.”
KLIK..
“Sungje-ah? Jagi??? Hime??? Baby???? Yaaaaa miannhhhh!!!” Geonil kembali memukul stir mobil yang tidak berdosa. “KENAPA ORANG-ORANG ITU HARI INI?!!!!”

***

Sungje menangis sesenggukan di kamarnya. Ia tadinya menelpon Geonil untuk menyuruhnya pulang dan tidak usah mencari mie yang susah di negara ini.
“Hiks… Aku tidak bisa menyalahkan kalian. Hiks.. Appamu pasti marah padaku.” Sungje mengelus perutnya.
“Hiks… Geonil!! Pulanglah… Jangan tinggalkan aku. Hiks… Mianhaee… hiks… Geonil!!” Sungje terus menangis. Berkali-kali ia menatap ponselnya dan ingin menelpon Geonil. Tapi, Geonil kalau sedang marah tidak bisa diapa-apain. Semua member sering membiarkannya marah kalau dia memang ingin marah.
“Kita tidur ya? Aaaa… perutku sakittt!!! Geonillll….” Sungje menggeleng keras. “Ani! Geonil sedang mencari uang diluar sana. Kita tidur ya, sayang. Jangan buat umma sakit.”
Sungje merebahkan dirinya perlahan. Ia menarik selimut sampai ke atas lehernya dan memejamkan matanya yang sudah sangat berat.
“Geonil….”

***

Drrrtttt….. drrrttttt…. Drrrttttt…. Drrrttttt….
Geonil mengambil iPhonenya dengan lesu. Ia menghapus air matanya dan berdeham pelan untuk melegakan tenggorokannya. Ia lalu menarik tombol hijau kesamping.
‘Geonil-ah,’
Geonil mengira ini Sungje. Ternyata Jihyuk. Geonil menghela nafas lesu. Ia tidak bisa menjelaskan semua pada Sungje saat ini juga.
‘Kau belum tidur kan pasti?’
Geonil menyandarkan kepalanya ke kaca mobilnya. Ia menggeleng pelan sambil menatap lurus ke depan. Ke arah yang ia juga tidak tahu ada apa saja didepan sana.
‘Kau mau datang kesini?’
Geonil menggeleng lagi. Padahal jelas-jelas tidak ada artinya karena Jihyuk pun pasti tidak melihat apa yang Geonil lakukan.
‘Kau melakukan apa pada Je hyung?’ suara Jihyuk tiba-tiba berubah tegas.
“Kenapa kau mengurusi istri orang?!”
‘Jawab aku, kau melakukan apa pada Je hyung?!!’
Geonil menggeleng. “Tidak ada.”
‘Gojitmal!!!!!’ kata Jihyuk. ‘Kalau tidak kenapa dia menelponku dan menangis? Lalu mengatakan ‘Geonil jahat!’ sambil menangis dan dia…’
“Sungje-ku mengatakan itu?!”
‘Dia milikmu? Kalau iya kenapa kau membiarkannya menangis? Kau memang lelaki jahat! Kalau saja aku mengenalnya lebih dulu aku pasti akan berada di posisimu dan aku akan menjaganya dengan sangat baik!’
“Kau mau merebut istriku? Kau menyukainya?” Geonil tersenyum mengejek. “Ambil saja! Kau kesini, dan mengakulah menjadi suaminya. Aku sudah tidak dibutuhkannya lagi kan?”
‘Neo—‘
“Buktinya dia menelponmu, bukan aku.” Geonil menghela nafas panjang. “Terserah! Aku akan ke Korea besok!”
‘Ya! Sungje hyung…”
“Kau jaga saja! Ambil saja kalau mau!”
Klik…

***

Pagi-pagi sekali Sungje sudah bangun dan langsung disambut pemandangan yang sangat asing. Geonil menenteng sebuah koper besar. Ia memakai kaus oblong berwarna putih dan celana jeans. Ia juga memakai sepatu merek kesukaannya yang paling ia banggakan.
“Geonil-ah, neo… neun odika?” tanya Sungje hati-hati.
Geonil menatap Sungje sebentar. Lalu memalingkan wajah dan mengangkat gagang koper untuk menggeret koper besar itu.
“Mau kemana, Geonil-ah?” tanya Sungje sambil berjalan mendekatinya.
Geonil tetap cuek. Ia tidak menggubris sedikitpun ucapan Sungje. Dan ia juga tidak memarahi Sungje karena berjalan terlalu cepat.
“Geonil…”
Geonil akhirnya menghentikan langkahnya setelah sampai di depan pintu. Sungje pun ikut berhenti.
“Aku sudah belikan 40 Shin Ramyun pesananmu. Maaf lama. Dan maaf kejadian itu.” Kata Geonil dingin. “Kalau mau pesan makanan ambil uang di lemari. Disitu juga ada kamus bahasa Jerman jika kau mau memesan makanan.” Geonil pun pergi.
Sungje ingin sekali memeluk Geonil dan menyuruhnya untuk tidak pergi. Tapi kakinya terasa membeku. Lidahnya terlalu kelu untuk berteriak dan mengucapkan ‘Kajima!’ dan ia tidak kuat untuk menahan ini dan menangis lagi.
“GEONIL-AH!!!!!!” teriak Sungje akhirnya.
Terlambat. Geonil telah menjalankan mobilnya ke tempat yang tidak Sungje ketahui. Sungje menelan ludah pahit. Ia tidak tahu harus melakukan apa disini.

***

“Kau sih!” Sungmo menempeleng kepala Jihyuk kasar.
“Ahhh!!! Kau senang sekali sih membullyku!” Jihyuk mengelus kepalanya yang terkena tempelengan Sungmo.
“Kalau kau tidak mengatakan itu, pasti Geonil tidak akan ngotot kesini! Sungje hyung pasti ditinggal!”
“Tidak mungkin!!” Jihyuk menggeleng. “Akan kubunuh dia kalau kesini tanpa Sungje hyung!”
“Kau membunuhnya?” Kwangsu menggeleng ragu. “Sepertinya kau yang akan mati ditangannya lebih dulu karena telah merebut istri orang!”
“Tapi… aku kan bilang yang sesungguhnya.”
“TAPI LIHAT KEADAAN DONG!!!!” Sungmo berteriak kesal. “Kalau punya perasaan lebih pada istri orang, simpan saja! Kalau kalian jodoh pasti akan dipertemukan lagi!”
“Tapi…”
Kwangsu menghela nafas. “Kau tahu kan bagaimana Geonil itu? Dia tipe perfeksionis dan egois. Dia akan melakukan apapun untuk orang yang dicintainya tanpa melakukan kesalahan sedikitpun, dan dia tidak akan segan membunuh orang didepannya yang ingin mengambil harta berharganya.”
“Sudah 2 jam sejak CEO Kim menelepon.” Sungmo melirik jam tangannya. “Dan Geonil belum datang..”
“Aku harus apa?”
Kwangsu mengambil blackberry-nya dan menelepon Geonil. Sungmo dan Jihyuk menunggunya dengan harap-harap cemas.
“Tidak diangkat.” Kwangsu melepaskan blackberrynya dari kupingnya.
“Telepon lagi!” Jihyuk menawarkan handphonenya.
“Pabo! Yang ada langsung di block nomormu dari listnya!” Sungmo kembali menempeleng kepala Jihyuk.
“Ahhh!!” Jihyuk merintih lagi. “Ck. Pakai nomormu!”
“Tidak ada pulsa.” Jawab Sungmo simple.
“Beli dong!!”
“May I have your money? We’re on disaster now!”
Jihyuk mendengus kesal.
Kwangsu kembali mencoba untuk menghubungi Geonil. Tapi…
“Tidak aktif.”
“Telepon Sungje hyung! Kalau tidak aktif juga berarti mereka pergi berdua!”
Kwangsu langsung mengikuti saran Jihyuk. Ia menelepon Sungje dan membiarkan pulsanya habis kalau diangkat.
“Tidak aktif juga.”
Senyum Sungmo, Kwangsu dan Jihyuk mengembang.
“Semoga saja mereka kesini berdua.”
“Semoga.”
“Hyung, CEO Kim memanggil.” Kata Jikyung pada 3 member supernova senior itu.
“Oh ne.” Sungmo langsung berdiri diikuti dua temannya.

***

Sungje diam di dalam kamarnya tanpa melakukan apa-apa. Ia biarkan semua rasa sakit yang ada di perutnya. Sentakan anak di dalam kandungannya yang memintanya untuk memberikan si kecil tak berdosa itu makanan juga tidak ia gubris. Ia biarkan semuanya berjalan tanpa tindakan apapun darinya.
Sungje tidak tahu apa yang membuat Geonil jadi seperti itu. Mungkinkah Geonil membencinya karena telah menghancurkan mimpi-mimpinya? Mimpi menjadi rapper, pemain basket, atau…
Ya, Sungje sadar kalau ia memang selalu mengganggu pikiran Geonil. Ia selalu bersikap seolah ialah yang boleh mendampingi Geonil tanpa memikirkan masa depan Geonil. Sungje menyukainya dari dulu dan ternyata Geonil pun mempunyai rasa yang sama. Tapi… rasa itu… mungkinkah sudah hilang?
Ah, Sungje ingin sekali menyalahkan anak di dalam kandungannya ini. Kalau saja anak ini tidak pernah ada di dunia, mungkin Geonil dan Sungje masih terus berada di Korea atau Jepang untuk bernyanyi dan menari, menatap fans, memberikan senyum tulusnya untuk fans, dan tetap mengubur fakta ini.
“Mungkin memang seharusnya aku mati. Aku tidak boleh ada di dunia ini. Aku tidak boleh ada untuk Geonil. Geonil adalah lelaki sempurna yang patut mendapat orang yang lebih sempurna darinya. Lebih cantik, anggun dan berkelas. Ya, aku bukanlah orang itu.” Sungje bangkit dari kasurnya dengan hati-hati. Ia terus berpegangan pada benda yang ada di sekitarnya. Ia berjalan ke dapur untuk mengambil pisau dan membunuh dirinya.
Sreeekkkk…
Gesekan dari beberapa sendok dan garpu yang berada di tempat yang sama dengan pisau yang dipegang Sungje sekarang. Sungje yakin ia harus melakukan ini. Biarkan saja mayatnya membusuk dan ia mati di tengah kehamilannya.
Pandangan Sungje tidak sengaja ke arah tong sampah yang ada dirumah dengan keadaan terbuka. Banyak sekali gulungan kertas yang dibuang kesitu. Sungje meletakkan pisau itu di atas meja untuk mengetahui tulisan apa yang ada didalam kertas itu.

Kertas pertama

Uh seperti pertemuan dalam mimpiku
Kau menghancurkan duniaku
Masa depan yang kita lukis bersama waktu itu tidak akan pernah luntur
Aku sangat percaya kalau aku berarti untukmu
Tapi jika kau merasa kalau aku mempermainkanmu, maafkan aku
Cerita cintaku menjadi egois

Kertas kedua

Kenapa kau malah meneleponnya bukan menelponku?
Kenapa kau mengatakan padanya bukan padaku?
Inikah yang kau lakukan untuk membalas cintaku?
Aku sudah berkali-kali memberikan semuanya tapi kenapa kau tidak mengetahuinya?
Aku mohon kembalilah kepadaku, sayangku…

Sungje yakin ini lirik lagu. Mungkin lirik lagu ciptaan Geonil atau….
Di kertas pertama Sungje tahu itu lirik rap dari Geonil di lagu comeback to me. Tapi yang kedua… ketiga…

Kertas ketiga

Aku tidak tahu darimana aku harus memulainya
Aku benar-benar bingung dan tidak tahu apa yang kurasa sekarang
Aku tidak tahu kapan terakhir kali aku makan
Aku pun tidak tahu berapa kali kakiku ini berjalan di bumi ini
Yang aku tahu aku hanya mencintaimu, itu saja

Kertas keempat

Satu orang tidak merestui kita? Biarkan saja.
Dua orang tidak merestui kita? Biarkan juga!
Tiga orang tidak merestui kita? Berusahalah untuk tegar.
Empat, lima, enam, tujuh, sepuluh? Biarkan saja mereka berucap. Aku tetap ada disisimu untuk memelukmu dan menenangkanmu sayangku…

Kertas kelima

Walaupun kau telah meneleponnya
Walaupun kau marah padaku
Dan walaupun kau membenciku dan tidak membutuhkanku sekarang
Tenanglah. Aku tetap akan kembali untukmu, sayangku…

Apakah Geonil tahu kalau Sungje menelepon Jihyuk tadi malam dan mengatakan semuanya pada Jihyuk? Lalu Jihyuk melaporkannya pada Geonil dan Geonil marah…
Sungje menyerah. Ia tidak bisa berfikir jernih. Ia kembali mengambil pisau itu untuk membunuh dirinya sendiri.

***

Geonil tidak tahu kenapa ia senekat ini pergi ke Korea untuk menemui CEO Kim dan meninggalkan Sungje sendiri. Kini ia sudah sampai di bandara Incheon, bersiap untuk mencari taksi untuk ke gedung Maroo Entertainment.
Geonil mengambil ponselnya dan menyalakannya. Setelah itu bersahutanlah getaran tanda SMS dan laporan orang-orang yang me-missedcallnya.

47 messages
120 missed call

Geonil memperhatikan setiap nama yang ada di layar. Dan nama yang paling banyak adalah nama Kwangsu dan Sungmo, bukan Sungje. Bahkan tidak ada satupun nama Sungje di daftar message dan missed call.
“Maroo Entertainment.” Ucap Geonil datar pada si supir Taxi.

***

“Ada apakah memanggil kami kesini, sajangnim?” tanya Sungmo hati-hati pada CEO-nya.
CEO Kim menatap 3 anak muda yang baru saja datang. Ia lalu mempersilakan 3 anak muda itu duduk di sofa.
“Sebentar lagi. Kalian mohon tunggulah.”
Suasana di ruangan itu berubah tegang seketika. Kwangsu, Sungmo dan Jihyuk menunggu orang yang dimaksud sambil terus menghela nafas menenangkan diri.
Klekkk…
Pintu itu akhirnya dibuka. Orang yang ditunggu datang. Kwangsu, Sungmo dan Jihyuk tersentak kaget melihat Geonil adalah orang yang ditunggu itu.
“Sungje hyung…”
“Aku akan menjelaskan semuanya.” Ucap Geonil datar tanpa ekspresi. “Aku dan Sungje…”
“Duduklah.”
Geonil memilih tempat duduk di sebelah Sungmo. Itu juga dengan paksaan. Di sebelah kanan ada Jihyuk, dan Geonil lebih memilih di sebelah Sungmo daripada di sebelah orang yang membuatnya emosi hari ini.
“Kau tidak mengajak Sungje sekalian?” tanya CEO Kim bingung.
“As you can see,” Geonil melihat ke sekeliling. “aku tidak membawanya.”
“Lalu…. Dia kemana?”
“Di rumah. Aku tidak tahu dia sedang apa sekarang.”
“Kenapa kau tinggalkan dia dirumah?”
“Karena setelah ini aku ingin mengurus surat perceraian dengan Sungje.”
DEG

***

TBC

One thought on “S.E.C.R.E.T (Part 3)

  1. kitty ai-chan

    .andwae!!!jangan geonil!!!jangan tinggalkan sungje!!!jebal!!!kasian sungje,,, T^T
    .huwaahh!!untung dah ada terusan’a,,kao belum,,entahlah jadi apa saya nanti,,, -_-”
    .waa!!!cerita’a makin seru eon!!!daebakk!! >w<b
    .tetap semangat ya!!!hwaiting!!!go go go!!!\(^o^)/

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s