Everlasting Sunset

Title : Everlasting Sunset
Genre : angst, shonen-ai, etc
Length : drabble? – oneshoot
Cast : GeonJe~~ *gue udah males nulis nama panjang ni dua makhluk! :p
A/N : Maunya gue jadiin drabble. Tapi ternyata lebih panjang DIKIIIIIIT… hahaha..
Gue gatau kenapa bisa bikin ff jelek kayak gini. Awalnya dengerin lagu juniel yang everlasting sunset, tapi akhirnya malah begini ==a
Biar lebih afdol (?) dengerin ya lagu everlasting sunset-nya Juniel. Everlasting sunset~~~ #nyanyi #dilempargalonaqua

***

“Kenapa harus tempat ini lagi? Kau harus menjaga kesehatanmu!” ujar lelaki cantik itu dengan nada panik.
“Untuk apa aku menjaga kesehatan? Toh aku akan mati sebentar lagi.” Balas lelaki tampan di sampingnya.
Lelaki cantik itu menatap orang di sebelahnya. Air matanya perlahan turun dan membasahi pipinya. Tapi sedikitpun namja disampingnya tidak mau mengusapnya dan memeluknya.
Geonil duduk di pasir putih pantai yang sangat bersih. Diikuti Sungje setelah memastikan tidak ada air mata yang bisa ditunjukkan lagi padanya.
“Kenapa kau mengajakku kesini?” tanya Sungje pada Geonil yang keadaannya sudah semakin parah. Seharusnya tidak boleh keluar, tapi karena ini yang terakhir maka Geonil harus memanfaatkannya.
“Karena aku mau menunjukkan sesuatu padamu. Tunggu sekitar 15 menit lagi. Akan kau lihat keagungan Tuhan yang selalu lupa kau syukuri.”

—– 20 menit kemudian —–

Sungje tidak fokus pada matahari yang akan menyembunyikan dirinya karena akan digantikan oleh bulan. Sungje terus menunggu Geonil mengucapkan, bahkan hanya sepatah-dua patah kata saja. Tapi sampai 5 menit setelah Geonil menyuruhnya menunggu, belum ada pernyataan apapun.
Sungje menatap kesamping. Seorang lelaki dengan santainya tidur di pasir putih yang walaupun bersih tapi bisa membuat baju kotor. Tidak ada gerakan apapun di tubuh lelaki itu. Bahkan dadanyapun tidak naik-turun.
“Ya, kau mau menunjukkan apa sebenarnya? Dasar orang aneh!” ujar Sungje sambil menggoyangkan tubuh kekasihnya.
5 menit lagi, Sungje menunggunya. Kemudian 5 menit lagi, Geonil masih belum bangun dan menunjukkan perubahan. Sampai akhirnya malam benar-benar menjelang. Awan hitam menghiasi langit dengan sedikit taburan bintang. Dan seharusnya Sungje tahu dari awal kalau kekasih yang paling disayanginya itu telah pergi.
Lalu apa yang patut disyukuri dari ini?
Sungje terus bertanya. Bahkan sampai jasad Geonil yang sudah menjadi abu disebarkan di pantai tempatnya terakhir kali menghembuskan nafas.
Sebuah kertas terbang ketika perahu yang ditumpangi Sungje akan menepi. Sungje dengan cepat langsung menangkapnya. Kertas itu kosong. Tapi setelah Sungje mengerjapkan mata barulah bisa dilihat apa maksud kertas itu.

Aku memang akan mati, tapi matahari tidak. Kau bisa melihat matahari itu kalau merindukanku. Aku mencintaimu, Kim Sungje!
Matahari tidak akan lupa untuk muncul lagi setelah terbenam, tapi aku tidak bisa muncul lagi setelah dibenamkan. Sungje-ah, tetaplah menjadi everlasting sunset-ku!

****

END

Tuh kan gaje!! *ditabok Geonil #PLAKKK

3 thoughts on “Everlasting Sunset

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s