S.E.C.R.E.T (Part 4)

Title : S.E.C.R.E.T
Genre : ROMANCE, COMEDY, M-PREG, BOYXBOY, YAOI, sedikit CANON, OOC, FICTION, ANGST, ETC *gue caps. Sorry v^^
Length : 4 of ?
Author : LaillaMP
Main Cast :
–    Park Geonil
–    Kim Sungje
Other Cast :
–    Kim Kwangsu
–    Yoon Sungmo
–    Song Jihyuk
–    Jung Yunhak
A/N : HAMPIR END CHAPTER MAMEEEEEEEEEEN!!!!!! AKHIRNYA KELUAR!!!!!!!! #plakkkk
Pengennya gue namatin di chapter ini. Tapi akhirnya ga bisa karna terlalu kecepetan. Itu juga atas saran Lia unnie dan akhirnya emang bener setelah gue cek ==a  
Jangan marah gue jadiin cerita ini begini! Gue gatau kenapa geonil jadi jahat disini T.T silakan dinikmati~~ Typo may applied~

***

<< Previous

“Ada apakah memanggil kami kesini, sajangnim?” tanya Sungmo hati-hati pada CEO-nya.
CEO Kim menatap 3 anak muda yang baru saja datang. Ia lalu mempersilakan 3 anak muda itu duduk di sofa.
“Sebentar lagi. Kalian mohon tunggulah.”
Suasana di ruangan itu berubah tegang seketika. Kwangsu, Sungmo dan Jihyuk menunggu orang yang dimaksud sambil terus menghela nafas menenangkan diri.
Klekkk…
Pintu itu akhirnya dibuka. Orang yang ditunggu datang. Kwangsu, Sungmo dan Jihyuk tersentak kaget melihat Geonil adalah orang yang ditunggu itu.
“Sungje hyung…”
“Aku akan menjelaskan semuanya.” Ucap Geonil datar tanpa ekspresi. “Aku dan Sungje…”
“Duduklah.”
Geonil memilih tempat duduk di sebelah Sungmo. Itu juga dengan paksaan. Di sebelah kanan ada Jihyuk, dan Geonil lebih memilih di sebelah Sungmo daripada di sebelah orang yang membuatnya emosi hari ini.
“Kau tidak mengajak Sungje sekalian?” tanya CEO Kim bingung.
“As you can see,” Geonil melihat ke sekeliling. “aku tidak membawanya.”
“Lalu…. Dia kemana?”
“Di rumah. Aku tidak tahu dia sedang apa sekarang.”
“Kenapa kau tinggalkan dia dirumah?”
“Karena setelah ini aku ingin mengurus surat perceraian dengan Sungje.”
DEG

>> Part 4 <<

DEG….
Pisau yang Sungje pegang jatuh tanpa sebab. Detak jantung Sungje tidak beraturan. Kadang sangat cepat, lalu melambat, dan cepat lagi.
“W-waeyo?” gumam Sungje.
Ia ingin mengambil pisau itu lagi. Tapi sang jabang bayi di perutnya menendangnya dengan keras untuk menyadarkannya. Menyadarkan bahwa bunuh diri bukanlah solusi yang tepat, dan juga menyadarkannya kalau makhluk di dalam tubuhnya juga membutuhkan makanan.
“K-kau mau makan?” Sungje menggumam sendiri pada perutnya sambil mengelusnya pelan. “Akan umma buatkan. Tunggulah.”
Sungje mencoba berdiri. Tapi ia gagal. “Ck. Bahkan berdiripun aku tidak bisa. Tega sekali Geonil kalau pulang ke Korea sendiri.”

***

“Dimana Sungje hyung?” Jihyuk langsung menarik kerah Geonil sesampainya di dorm.
Geonil menatapnya dingin. Lalu melepaskan tangan Jihyuk dari kerahnya. “Di Jerman.”
“Kau tinggalkan dia sendiri?”
Geonil mengangguk santai. Ia menaruh kopernya dan duduk diatas sofa depan TV.
“Ck! Dasar—“
“Sudah… sudah… sudah!!!” Sungmo dan Kwangsu langsung menarik tubuh keduanya menjauh.
“Susul saja kalau mau. Gampang kan?” Geonil tersenyum tanpa beban.
Jihyuk bersiap menonjok Geonil lagi. Tapi lengan kekar Kwangsu menahannya.
“Okay. Akan kususul!” Jihyuk menatap Geonil dingin.

***

“SUPERNOVA’S GEONIL KEMBALI, JIHYUK MENGHILANG?”

Kembali grup ini diterpa masalah serius. Geonil kembali dan mempertanggungjawabkan masalahnya. Dengan mudahnya ia bercerita pada pers tentang hubungannya dengan Sungje. Tentu saja ia berbohong disini karena ia akan menceraikan Sungje dan kembali berkarir di dunia hiburan.
“Aku tidak tahu kenapa kalian sering sekali membuat masalah.” Manager Han menaruh tablet PC-nya diatas meja, ditengah-tengah member choshinsung.
Sungmo mendengus kesal. Dia unmood, tidak mau menerima berita baru darimanapun walaupun itu benar.
Kwangsu membaca judul itu dengan lesu. Begitu pula Jihwan dan Jikyung yang masih menjadi pengganti bagi 2 member yang ‘hilang’ itu.
Geonil tetap tenang walaupun sibuk sendiri. Ia sedang mengurus surat cerai di negara tempatnya menikah.

“Sekitar 3-4 bulan lalu Supernova Park Geonil dan Kim Sungje menghilang dari dunia hiburan dengan alasan melanjutkan pendidikan di suatu negara, sekarang Supernova Jihyuk yang ‘menghilang’. Mungkinkah ia menyusul Supernova Sungje yang sedang hamil?
Ditemui di Hotel MiJin beberapa hari lalu, magnae Supernova Park Geonil angkat bicara soal hubungannya dengan Sungje. Ia mengatakan itu semua tidak benar. Geonil pulang ke Korea untuk menjelaskan ini semua dan meninggalkan Sungje yang akan mengejar lulus sekitar pertengahan tahun depan.
Ketika ditanya soal kedekatannya dengan Sungje, Geonil menjawab “Aku dan Sungje hyung sekamar sejak awal debut dan kami selalu berbagi, bercerita, bertengkar dan bercanda. Aku banyak belajar darinya, dan dia juga banyak belajar dariku. Ya, seperti itulah kedekatan kami.”
“Lalu bagaimana dengan berita ini? Benarkah bahwa kau sudah menikahi Sungje dan menghamilinya?”
Park Geonil tertawa keras saat itu. “Menikahinya? Memangnya tidak ada perempuan lagi? Hamil? Tentu saja tidak. Mana ada lelaki bisa hamil?”

***

Sungje langsung menangis melihat berita itu tersebar di internet. Ia ingin menampar Geonil saat itu juga dan mengatakan pada pers bahwa itu semua benar. Geonil sudah menikahinya, dan Sungje hamil karenanya.
“Hyung..” Jihyuk langsung memeluk Sungje dengan lembut. “Tenanglah. Biarkan saja si brengsek itu menjalani hidupnya dengan berbohong.”
“Geonil jahat!! Dasar orang jahat!! Hiks…”
Jihyuk mengelus punggung Sungje lembut. “Sssstt… uljjima. Ada aku. Aku janji tidak akan meninggalkanmu.”
Sungje menggeleng. Ia melepaskan tangan Jihyuk dari tubuhnya. Ia menatap lelaki yang sudah hampir 2 bulan disini, menemaninya dan melupakan masa lalunya bersama Choshinsung.
“Kenapa Geonil setega itu? Kenapa dia sesantai itu mengatakan bahwa hubungan kita hanya segitu? Kenapa Geonil tidak memberitahukan yang sebenarnya?”
Jihyuk tersenyum untuk menenangkan lelaki cantik didepannya. “Yang penting sekarang aku disini. Kau tidak sendirian.”
Sungje mengangguk. Ia lalu menatap perutnya yang makin membesar karena sudah memasuki bulan ke-5.
“Aku harus mengatakan apa pada anakku kalau ia bertanya tentang ayahnya?”
Jihyuk menghela nafas. “Bilang saja aku ayahnya. Gampang.”
Sungje tersenyum kecut. “Mengatakan kau ayahnya memang gampang. Tapi mengatakan bahwa aku ibunya itu sangat susah.”
“Kenapa susah?” Jihyuk tersenyum manis. “Kau memang ibunya. Mau tidak mau, anakmu harus menerimanya.”
Sungje mendengus. Antara kesal dan lega. “Marga anakku seharusnya apa?”
Jihyuk menghela nafas. Bingung. Ia tidak tahu seharusnya ini bagaimana. Memakai nama marganya? Ini bukan anaknya. Memakai marga Geonil, ayah aslinya? Tapi Geonil berencana mau menceraikannya. Jadi….?
“Besok kita pikirkan lagi ya? Sekarang hyung tidur. Kasihan anakmu. Dia kan juga butuh istirahat.” Jihyuk tersenyum menenangkan.
Sungje mengerucutkan bibirnya kesal. Ia membaringkan tubuhnya di kasur empuk yang sudah 2 bulan ini tidak ditidurinya bersama Geonil.
“Kau tidak keberatan tidur di sofa terus?” tanya Sungje sedikit khawatir. Tentu saja karena Jihyuk anak orang, masa tidur di sofa terus?
“Sama sekali tidak.” Jihyuk mengelus rambut Sungje lembut. “Tidurlah.”
“Andaikan Geonil sepertimu.”
Jihyuk tersenyum mengejek. “Kalau aku jadi hyung aku pasti memilih orang lain daripada Geonil.”
Sungje tersenyum. “Aku juga berfikir begitu.”
“Kenapa tidak mencari penggantinya saja?”
Sungje menghela nafas. “Siapa yang mau dengan lelaki sepertiku?”
Jihyuk tersenyum kecil. “Aku.”
Sungje diam. Ia menatap Jihyuk dalam-dalam. Sungje tidak tahu harus melakukan apa. Marah-marah pada Jihyuk? Tapi karena apa? Marah pada Geonil? Untuk apa? Marah pada dirinya sendiri? Kenapa?
“Tidurlah. Tidak usah dipikirkan kata-kataku.” Jihyuk menarik selimut sampai ke dada Sungje.
Sungje mengangguk. “Jihyuk-ah?” panggilnya.
“Ne?”
Sungje menggeleng. “Gwaenchana. Aku hanya takut kau pergi.”
Jihyuk menggeleng. “Tidak akan. Aku janji!”

***

Kwangsu duduk dalam diam di sofa ruang tamu. TV yang dinyalakannya dikacangkan, tidak diperhatikan. Suara-suara dalam TV itu memantul alias tidak sampai di telinga kirinya. Kwangsu tidak berkonsentrasi.
Sungmo terus menatap sahabatnya dengan bingung. Komik yang dibawanya sudah selesai ia baca untuk kedua kalinya. Masih dengan cerita complicated tentang cinta segibanyak dan akhirnya semua pemeran utama meninggal karena bom bunuh diri.
“Sebegitu inginnya kau mengetahui dimana Jihyuk dan Sungje hyung? Kau kan bisa tanya si magnae gila itu dimana rumahnya di Jerman!” kata Sungmo.
Kwangsu menatap Sungmo dengan tatapan sendu. Lalu kembali menunduk dan mengotak-atik remot TV sampai bosan.
“Kau percuma bertanya dimana tempat tinggal suami istri itu pada Sungje hyung! Dia kan hampir tidak pernah keluar dan pastinya tidak tahu nama jalan rumahnya dan alamatnya.” Kata Sungmo lagi. “Dia yang sudah beberapa tahun kerja di Jepang saja hanya tahu beberapa hurufnya.”
“Tapi tulisannya kan masih romaji, bukan kanji.” Balas Kwangsu benar-benar lemas sambil menatap Sungmo.
“Iya juga.” Sungmo menggaruk kepalanya. “Lalu bagaimana?”
“Kalau kalian mendapatkan alamatnya kalian mau menyusul mereka kesana?” tanya Geonil.
Kwangsu dan Sungmo langsung menoleh ke asal suara. Geonil dengan tampang acak-acakan datang tanpa diundang.
“Kalau mau ya sudah. Biarkan saja aku kerja sendiri.”
Sungmo menggeleng heran. “Ck magnae ini! Ya, kau kenapa sih? Sebegitunyakah kau patah hati hanya karena Jihyuk bilang ia menyukai Sungje hyung?”
Geonil menatap Sungmo dingin. Sungmo juga menatapnya dingin. Kwangsu yang ada diantara mereka menatap bingung sendiri.
“Jawab!”
“Sebegitu inginnyakah kau mengetahui jawabanku, Sungmo-ah?”
Sungmo mengelus dadanya lembut. “Sabar… sabar…” ia mengatur nafasnya. “Kau cemburu? Kalau cemburu boleh saja ASALKAN tidak berlebihan.”
“Mungkin Jihyuk lebih baik untuk Sungje daripada aku.”
“Tapi biar bagaimanapun kau yang menghamilinya!!! Kau harus bertanggung jawab. Setidaknya untuk anakmu.”
“Anakku? Anak itu bukan anakku lagi.”
Sungmo menggeleng takjub. “Orang gila.” Gumamnya. “Tapi…”
“Aku akan mengirimkan alamatnya di ponselmu.” Geonil kembali masuk ke kamar.
“Ck. Orang gila!” kata Kwangsu yang baru connect.
“Dari awal seharusnya aku tahu kalau Geonil itu gila dan bodoh! Kalau dia gila sudah terbukti tadi! Dan dia bodoh itu baru kuketahui sekarang!” ujar Sungmo dengan marah. “Jihyuk kan tidak ada hak apa-apa untuk merebut istri orang. Dan Jihyuk mengatakan itu memang benar, dan ia tetap tidak mempunyai hak untuk memiliki Sungje hyung. Sungje hyung pasti juga tidak mau lah dengan Jihyuk! Jihyuk kan hanya dianggapnya sebagai teman dari dulu. Kalau mereka memang jodoh pasti dipertemukan lagi. Aku yakin itu!”
Pembicaraan Sungmo ngalor-ngidul. Kwangsu bingung. Ia mengernyitkan dahi berkali-kali dan tetap tidak mendapat apa-apa dari kata-kata itu.
“Intinya, Geonil itu bodoh karena ia tidak tahu dimana posisinya. Posisi dia itu ada di puncak teratas hati Sungje hyung, dan dia juga tidak tahu kalau sebenarnya ia masih sangat menyayangi Sungje hyung.”
Kwangsu mengangguk pasrah. “Lalu…. Kenapa kau tahu kalau puncak teratas hatinya itu ditempati Geonil?”
Sungmo menghela nafas. “Kau tidak pernah menatap mata kedua manusia bodoh itu? Pasti yang kau lihat mata yang selalu berbinar-binar! Mata yang menunjukkan cinta dan kasih sayang. Kau mungkin tidak pernah tahu setelah Sungje hyung menangis pasti Geonil langsung keluar dan menangis sendirian…”
Kwangsu sedikit melihat kesungguhan dalam diri Sungmo saat mengatakan itu. Mata yang selalu berbinar-binar, mata yang menunjukkan cinta, mata yang menunjukkan kasih sayang…
“Ya! Ini kenapa suasananya jadi mellow begini? Kau kenapa ikut menangis pula?” Kwangsu kalap.
Sungmo menggeleng. Ia menghapus air matanya yang perlahan turun. “Aniya.”
“Kau punya masalah?”
Sungmo menggeleng. “Aniya. Hanya teringat sedikit…. Masa lalu.”
“Oh.”
Kwangsu tidak tahu, bahwa Sungmo menyimpan rahasia yang sangat dalam. Rahasia yang hanya ia, seseorang, dan tentunya Tuhan yang tahu.

***

‘Sungmo-ah?’
Sungmo menarik nafas dalam-dalam. Lama sekali ia tidak mendengar suara ini. Suara orang yang sangat special dan selalu ia rindukan.
‘Sungmo-ah, gwaenchana?’
Suara itu… suara ini sangat jauh. Tapi…. Sekarang terasa dekat.
‘Kuriunnare? Hahaha…’
Sungmo tertawa kecil. “Ne, jeongmal.”
‘Tenanglah. Sebentar lagi.’
“Kau selalu mengatakan itu tapi…. Aku lelah menunggumu.”
Orang diseberang mendesah berat. ‘Cari saja orang lain kalau lelah menungguku.’
Sungmo menggeleng. “Tidak akan!”
‘Jinjjayo?’
Sungmo mengangguk. “Hmm..”
‘Nanti aku juga pasti akan ada di posisimu. Menunggumu yang sedang wajib militer… itu terlalu lama dan menyakitkan.’
“Aku tidak akan membuatmu menunggu lebih lama. Tenang saja.”
Orang diseberang kembali mendesah berat. ‘Sungmo-ah, sudah malam. Aku harus istirahat. Mianhae.’
Sungmo tersenyum kecut. “Gwaenchana. Sweet dream! More than yesterday!”
‘Itu kata-kata Kwangsu. Hahaha…’
“Iya. Haha.”
‘Ya sudah. Aku mau tidur. Jalja^^’
Sungmo mengangguk. “Jaljayo…”
‘Saranghae!’
Sungmo tersenyum senang. “Na do.”
Dan teleponpun terputus.

***

“Malam-malam begini Sungmo ditelpon siapa?” Geonil daritadi ternyata sibuk menguping Sungmo dari balik pintu kamar depan Sungmo dan Yunhak. “Baguslah kalau ia punya orang yang disuka. Daripada merebut istri orang.”
Geonil berjalan ke dapur tanpa menyadari arti dari ucapannya.
“Geonil-ah,” panggil Kwangsu.
Geonil terlonjak. Hampir saja teh yang baru dibuatnya tumpah. Untungnya selamat dan tidak menyebabkan kehancuran pada cangkirnya.
“Menurutmu Jihyuk ganti nomor atau mematikan teleponnya?” tanya Kwangsu setengah sinting. *digampar
Geonil mengangkat kedua bahunya. “I Dunno”
“Menurutmu?”
“Mematikan handphone kali.” Geonil berlalu tak acuh.
Kwangsu mengikuti arah jalan Geonil, tapi tidak mengikuti langkahnya. Ia ingin menanyakan ini, tapi… benarkah yang didengarnya? Kalau salah bagaimana? Kalau Geonil ngamuk kan…. Orang gila juga tahu kalau itu ‘temannya’ yang sedang marah.
“Geonil-ah!” panggil Kwangsu akhirnya.
Geonil yang baru memegang gagang pintu menoleh ke arah Kwangsu yang tepat 5 meter didepannya.
“Jawab aku dengan jujur.”
“Apa?” tanya Geonil, mulai bingung dengan kewarasan teman-temannya hari ini.
“Kau masih menganggap Sungje hyung sebagai istrimu?”
Geonil menatap Kwangsu dengan tatapan kosong. Otak yang selalu bekerja tepat pada waktunya tidak bisa berfungsi detik ini. Satu-satunya hal yang bisa Geonil lakukan sekarang adalah bernafas.
“Kau masih menganggapnya sebagai istrimu kan?”
Geonil mengangkat kedua bahunya. “Molla.”
Kwangsu menepuk pundak Geonil lembut. “Dari matamu ketahuan kalau kau masih mencintai Sungje hyung.”
“Tidak.” Geonil menggeleng. “Aku tidak mencintainya lagi. Sudah ada orang yang mengisi tempatnya….”
“Nuguya?” Kwangsu menatap kedua bola mata Geonil untuk mengetahui setiap kebenaran dalam ucapan Geonil.
Kwangsu sudah tahu kalau ini bohong. Memangnya dengan siapa Geonil berkencan setelah ia meninggalkan Sungje? Lawan mainnya di drama? Jiyoung-kah? Atau Dana? Atau Jiyeon? Atau Eunjung? Atau…. Minkyung?
Terlalu banyak nama dan Kwangsu sangat yakin posisi teratas memang masih ditempati Sungje. Yang keduapun Sungje. Yang ketiga Sungje. Dan begitu seterusnya.

****

3 bulan 3 minggu kemudian…..

“Arrrghhhhhhhhh….. appaaaaaayoooo….. ahhhhhhhhhhh….” Sungje terus memegangi perutnya yang terasa sangat sakit sekarang. Serasa ditendang, ditinju, diinjak dan dilempari sesuatu perutnya. Sakit sekali. Sungje terus berusaha menghalau rasa sakit itu dengan menekan perutnya. Tapi yang didapatkannya malah rasa sakit yang dua kali lebih sakit dari yang tadi. Sungje menangis.
“Hyunggg!!!!” teriak Jihyuk panik. “Hyung-ah, jamkkaman!! Aku akan panggilkan taksi!”
“Ahhhhhh sakit Jihyuk-ah…. Hiks….” Sungje menangis sambil menarik baju Jihyuk.
Jihyuk menggaruk kepalanya panik. “Ssssttt…. Sayang, tenanglah…. Jangan sakiti umma ya… tunggu…” Jihyuk mengelus perut Sungje, berusaha untuk tidak panik.
“Ahhhh….” Lenguh kesakitan Sungje perlahan memudar. Wajah Sungje tidak terlalu pucat lagi. Sungje sudah lumayan tenang.
“Kita periksakan ke rumah sakit dulu ya?”
Sungje menggeleng. “Aku tidak apa-apa. Mungkin ini memang gejala ibu hamil ketika memasuki masa kelahiran.”
Jihyuk memeluk Sungje perlahan. Lalu mengelus punggung lelaki itu lembut. Jihyuk menangis. Ia sekarang bisa merasakan penderitaan ibunya waktu mengandungnya. Hidup sekitar 5 bulan dengan Sungje membuatnya mengerti kalau hidup ini butuh perjuangan yang sangat keras.
“Aku takut mati.” Isak Sungje.
Jihyuk menggeleng. “Hyung tidak akan mati. Percayalah.”
“Kalau aku mati siapa yang akan menjaga anakku? Geonil pasti tidak mau.”
“Aku bisa menjaganya. Hyung tenang saja.”
“Jihyuk-ah, aku benar-benar takut!!!!!! Aku tidak mau mati!!! Aku ingin hidup!!! Aku ingin melihat anakku hidup dan berbahagia!!”
Jihyuk mengangguk. “Bisa. Kau pasti bisa.”
Sungje melepaskan pelukan Jihyuk yang menemaninya hampir setengah tahun ini. Ia menatap lelaki itu, lelaki yang dengan sendirinya datang dan selalu sabar dengan segala keterbatasannya.
“Aku mendukungmu hyung! Kau pasti bisa hidup kok.” Jihyuk menyemangati.
“Mungkin aku bisa.”
“Bukan mungkin, tapi memang!” Jihyuk mengangguk mengiyakan. “Kau harus berjuang!! Ani, kita harus berjuang!!”
Sungje tertawa kecil melihat Jihyuk menyemangatinya dan dirinya sendiri. Ia bergaya seperti pahlawan bertopeng yang baru saja membunuh musuh.
“Sekarang, kita ke dokter!! Kita periksa. Khaja!”

***

“ARRGHHHHHHHH!!!!!!!!!!” pekik Geonil kesal.
Semua perhatian mengarah padanya yang sedang memasak ramen di dapur. Mereka serempak bertanya ‘ada apa?’ dan memeriksa keadaannya dari ujung rambut sampai ujung kaki.
“Perasaanku tiba-tiba tidak enak. Kalian tidak apa-apa kan?” tanya Geonil ngebingungin.
Semuanya menggeleng bersamaan.
“Baguslah.” Geonil berbalik badan dan meneruskan membuat mie. Tapi perasaannya tetap sama. Tidak enak.
“Kau kenapa?” tanya Sungmo heran.
“Gwaenchana.” Jawab Geonil tak acuh.
Waeyo? Perasaanku benar-benar tidak enak! Ucap Geonil dalam hati. Ia terus mengaduk mie-nya yang sebenarnya sudah tidak perlu diaduk lagi.
Adakah yang terjadi pada Sungje-ku? Ah, bukan milikku lagi… ya, bukan milikku lagi. Batin Geonil berkecamuk.
Tidak, kalau eomma kenapa-napa pasti ada yang memberitahuku. Ya… tapi—
“GEONIL-AH, KAPAN MIE-NYA JADI!?!!” teriak Kwangsu kesal. Ia sudah tidak makan dari pagi jadi perutnya terasa sangat lapar.
“Ah…” Geonil baru sadar kalau mienya sudah matang. Ia langsung mematikan kompor dan mengangkat panci berisi ramen itu ke atas meja.
Semuanya melongo melihat porsi di panci itu. Mereka memang belum makan dari pagi, tapi…. Ini porsi untuk 6 orang lebih!
“Kau kira kita ini kelompok arisan? Ya! Ini terlalu banyak!” kata Sungmo judes.
“Porsi segini untuk makan ibu-ibu PKK juga lebih dari cukup!” tambah Kwangsu.

*Gue gatau kenapa ini anak 2 pada kenal sama dunia emak-emak ==”*

“Nanti kan ada Ji——“ Geonil baru sadar kalau Jihyuk tidak ada sejak 5 bulan lalu. Ia mengacak rambutnya frustasi. Kenapa daritadi ia selalu melakukan kesalahan?
“Jihyuk hyung?” Jaehwan membuka suara. “Jihyuk hyung kan menyusul Sungje hyung…”
“Stttttt!!!!!!” semua member—kecuali Geonil—memberi kode pada Jaehwan.
“Mungkin aku yang dimaksud.” Kata Jikyung. “Iya kan hyung?”
Geonil mengangguk untuk menghindari pembicaraan lebih lanjut. Ia tidak tahu kenapa otaknya sekarang terasa diputar-putar, tidak jelas apa dan siapa yang dipikirkannya.
“Oh.” Jaehwan mengangguk. “Err… lalu siapa yang akan menghabiskan ini?”
“Kalian makan sajalah! Kalau tidak habis ya aku yang menghabiskan! Kenapa kalian selalu meributkan masalah sekecil ini? Ck pabo!”
“Yang pabo itu kau!!!!” Sungmo berdiri dan hendak menampar Geonil.
“Sungmo-ya….” Kwangsu langsung menarik tangan Sungmo untuk berada disamping badannya. “Biarkan saja.”
“Aku tidak mau makan ini! Makan saja sendiri!” Sungmo ngambek, kembali ke kamarnya.
“Kalian habiskan saja! Aku ikhlas tidak makan!” Geonil juga ikutan ngambek, kembali ke kamar.
Kwangsu mengacak rambutnya kesal. Kenapa jadi pada sentimen gini sih?!! Batinnya. Ia lalu mengambil sumpit dan mengambil mie dan menaruhnya di mangkuk kecil diikuti dua magnae pengganti ini.

***

“Anaknya kembar, sehat.” Kata dokter Jerman keturunan Korea itu menjelaskan pada Sungje dan Jihyuk.
Sungje tersenyum senang sambil mengelus perutnya. Dua anaknya ternyata sehat walaupun ia hidup dengan sangat sengsara dan waktu itu hampir bunuh diri. Untung saja Sungje tidak jadi bunuh diri. Kalau jadi? Ia tidak akan merasakan senangnya mendengar ucapan dokter ini.
“Geonil masih belum pulang?” tanya dokter itu tiba-tiba.
Senyum Sungje memudar. Nama itu sebenarnya ingin dilupakannya. Tapi karena dokter ini mengingatkannya… maka dengan terpaksa bayangan Geonil berkelebat di otaknya.
“Belum. Mau tidak mau dia kan harus mengurus semuanya di Korea. Jadi, ya… dia harus tinggal disana beberapa hari lagi. Mungkin ketika Sungje hyung lahiran dia akan datang.”
Dokter itu mengangguk. “Sudah lama aku tidak melihatnya. Pasti dia senang sekali kalau Sungje benar-benar melahirkan dengan selamat.”
Sungje tersenyum.
“Eumm.. Keurom, adakah yang lainnya? Apa yang harus kami lakukan di masa-masa ini?” tanya Jihyuk.
“Jaga kesehatan dan pola makan saja. Jangan biarkan Sungje depresi dan terguncang.” Jawab dokter itu. “Vitaminnya masih ada kan?”
Sungje mengangguk. “Masih.”
“Baguslah. Minum juga ya. Sehari sekali cukup.”
“Ne, algesseyo.”
Sungje dan Jihyuk keluar dari ruang dokter dengan gembira. Sungje terus tertawa kecil membayangkan dua anak kembarnya lahir. Pasti mereka sangat lucu! Dan juga kalau mereka berdua tiba-tiba menangis di malam hari…. Bagaimana menenangkannya? Dan juga ketika bertengkar…. Itu lebih susah!
“Hyung, arah parkir mobil kita disana!” Jihyuk menunjuk arah kanan.
Sungje tertawa kecil. “Mianhae. Aku lupa.”
Jihyuk menggeleng. “Aniya, gwaenchana. Kkaja!”
Sungje tersenyum. Entah kenapa tiba-tiba image wajah Geonil langsung terlintas di depan matanya. Geonil yang 5 bulan lalu masih mengantarnya ke rumah sakit, dan dengan berlebihannya berceramah sambil menuntunnya keluar. Menyuruhnya untuk terus menjaga pola makan, kesehatan, gerak dan juga emosi. Geonil yang selalu berjanji untuk menjaganya dan tidak akan meninggalkannya, Geonil yang selalu memeluknya dan menenangkannya kalau-kalau Sungje takut kehilangannya. Dan kini, Geonil tidak ada. Geonil dengan teganya meninggalkannya dan janji-janji yang pernah dilontarkannya. Geonil jahat? Ya, dia jahat. Tapi Sungje tetap tidak bisa meninggalkannya. Tetap tidak bisa menghapus semua perasaan yang dari dulu sudah ada di hatinya, mengalir di darahnya. Sungje terlalu mencintainya. Bagaimana dengan Geonil?

****

TBC

Maapkan saya kalo kependekan dan kejelekan (?)
Maap bagi yang udah nunggu tapi hasilnya malah jadi kayak begini😥 jujur gue ga tega bikin GeonJe begini. Maunya sih langsung cere (?) tapi akhirnya gue nyerah karna Geonil udah ngancem pake golok kalo buat dia langsung cere dalam itungan detik #okeinipalsu

Dimohon bagi yang mau ngasih saran buat ff ini selanjutnya tulis di komen ya😀 tapi kalo ga mau juga ga papa.
Ehm, kalo mau follow twitter gue juga boleh kok. Di @geooniil2 ^^ mau follback tinggal mention.

Mentionnya gimana?
Bilang aja ‘Kembaran Geonil, follback dong’ #plakkk

Udah ah, cukup sudah bacotan saya~
Sampai ketemu di chap akhir!! *kapan?!

7 thoughts on “S.E.C.R.E.T (Part 4)

  1. Sooyeon Choi

    Komen pertama! ye ye ye!
    Yang part ini ga jelek kok kak, bagus malah!!😀
    Geonilnya jahat ya, ninggalin Sungje gitu ajaa ㅠ.ㅠ
    Ah pokoknya bagus deh

    Reply
  2. LaillaMP Post author

    nah makanya saya ga tega makhluk tinggi itu jahat, dan lebih ga rela lagi karna sungje tinggal ama orang lain ._.

    tiap ff bilang bagus mulu. terpaksa ga nih? hehehe

    Reply
  3. liaprimadonna

    aduh nama gue disebut lagi >O<
    ckck sumpah benci sama geonil, titik #ditendang
    jahat banget, yaudah biar sungje sama jihyuk aja, entah kenapa tu happy buta satu jadi dewasa banget karna masalah ini^^d
    keren!!! lanjutannya jgn lama2 lai kkkkkkkk

    Reply
    1. LaillaMP Post author

      biar eksis unn. kan temen seperjuangan (?)

      jangankan unnie, aku aja benci sendiri ama geonil >,<

      insya allah she's gone keluar lanjutannya ikut keluar🙂 *amin woy #plak

      Reply
  4. kitty ai-chan

    .mau nulis apa ya,,,bingung nie,,,hahagh#jduakk!!!
    .laila-ssi, dicritain waktu sungje lairan yak,,hehe#ni anak,,ckck,,-_-“a
    .telat ya ngomen’a,,part 5 dh dtng,,,#hore dh dtng!!!*tepuktangan*
    .makin lama makin ngaco aja ngomen’a,,,udhan aja d ya,,,ba bay!!!#apaanpula
    .tetap,,,semangat!!!keep writing ne!!mau baca chap selanjutnya dulu!!!>w<*kabur*

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s