S.E.C.R.E.T (Part 5)

Title : S.E.C.R.E.T
Genre : ROMANCE, COMEDY, M-PREG, BOYXBOY, YAOI, sedikit CANON, OOC, FICTION, ANGST, ETC *gue caps. Sorry v^^
Length : 5 of ?
Author : LaillaMP
Main Cast :
–    Park Geonil
–    Kim Sungje
Other Cast :
–    Kim Kwangsu
–    Yoon Sungmo
–    Song Jihyuk
A/N : Annyeong? Jal jinaego innayo? Hahaha… apa kabar semua? Long time not share ff~ u,u gue lagi sibuk beneran nih karna baru masuk kelas 10 ==a
Kembali gue diteror suruh lanjutin ini ff, dan gue juga sampe kebawa mimpi akhirnya ni ff dengan cast akhir gue dibully GeonJe karna misahin mereka *abaikan
Maap kalo ini epep kagak selese-selese. Gue juga bingung kenapa! Tapi biarkan gue egois sekali ini saja😄 gue mau namatin ini mungkin di episode sebelum 10. dan maap, di setiap chapter ff ini pastiiiiii panjang!
Okedeh, just check it out and jangan keberatan untuk leave comment😀

***

<< Previous

Sungje dan Jihyuk keluar dari ruang dokter dengan gembira. Sungje terus tertawa kecil membayangkan dua anak kembarnya lahir. Pasti mereka sangat lucu! Dan juga kalau mereka berdua tiba-tiba menangis di malam hari…. Bagaimana menenangkannya? Dan juga ketika bertengkar…. Itu lebih susah!
“Hyung, arah parkir mobil kita disana!” Jihyuk menunjuk arah kanan.
Sungje tertawa kecil. “Mianhae. Aku lupa.”
Jihyuk menggeleng. “Aniya, gwaenchana. Kkaja!”
Sungje tersenyum. Entah kenapa tiba-tiba image wajah Geonil langsung terlintas di depan matanya. Geonil yang 5 bulan lalu masih mengantarnya ke rumah sakit, dan dengan berlebihannya berceramah sambil menuntunnya keluar. Menyuruhnya untuk terus menjaga pola makan, kesehatan, gerak dan juga emosi. Geonil yang selalu berjanji untuk menjaganya dan tidak akan meninggalkannya, Geonil yang selalu memeluknya dan menenangkannya kalau-kalau Sungje takut kehilangannya. Dan kini, Geonil tidak ada. Geonil dengan teganya meninggalkannya dan janji-janji yang pernah dilontarkannya. Geonil jahat? Ya, dia jahat. Tapi Sungje tetap tidak bisa meninggalkannya. Tetap tidak bisa menghapus semua perasaan yang dari dulu sudah ada di hatinya, mengalir di darahnya. Sungje terlalu mencintainya. Bagaimana dengan Geonil?

>> Part 5 <<

“Sudah, kenapa sih kau tidak mengaku saja kalau kau masih mencintainya?” kata Kwangsu geram pada Geonil yang daritadi sibuk mengotak-atik folder foto di laptopnya.
Geonil diam. Ia malas meladeni Kwangsu yang dari kemarin sibuk mengganggunya dengan ucapan ‘kau masih mencintainya?’. Sudah jelas Geonil mengatakan berkali-kali bahwa ia-sudah-tidak-mempunyai-rasa-dengan-Sungje.
“Kau bisa diam tidak? Masih mau meragukan tendanganku?” Geonil berkata ketus pada Kwangsu.
“Kenapa tidak hapus saja foto Sungje hyung di laptopmu kalau kau sudah tidak mencintainya, eoh?”
“Oke! Akan kuhapus sekarang juga!” jawab Geonil ngotot. Ia membuka folder yang berisi foto yang berhubungan dengan Sungje. Dengan cepat ia menekan tombol ‘del’ dan berpindahlah foto itu ke recyle bin.
“PUAS?!!” Geonil pun pergi dari hadapan Kwangsu dan meninggalkan laptopnya sendiri.

***

“AAAAAA JIHYUK-AH!!!!!” teriak Sungje reflek ketika merasakan perutnya ditendang dengan tidak manusiawi.
Jihyuk yang sedang memotong wortel kaget dan reflek malah menggores jarinya sendiri. Ia meringis pelan dan langsung berlari mendengar teriakan keras Sungje.
“AAAAAA JIHYUK-AH, SAKIITTTTTTT!!! HIKSSS AAAAA!!!!”
Jihyuk mencoba menenangkan Sungje berkali-kali. Tapi gagal. Sekarang jurus elusan tangannya tidak berfungsi. Sungje terus memukul-mukul tubuh besar Jihyuk, menjambak kasar rambutnya dan menendang perutnya. Jihyuk benar-benar diperlakukan tidak manusiawi.
“Jihyuk-ah, sakittttt!!!!!!!! Tolongggg!!!!! Ahhhhh… ahhhh… ahhhh…”
Jihyuk hampir menangis. Ia panik, juga sangat ketakutan melihat Sungje yang terus berteriak. Ia ingin meminta tolong pada tetangga. Tapi sayangnya tidak ada yang bisa diucapkannya dari bibirnya.
“Oke.. okee.. kita buat—“
“Bawa saja aku ke rumah sakit bodoh!!! Ahhhh sakit sekaliiiii!!! Geonil-ahhhh!!!”
DEG…
Jihyuk bungkam. Nama itu ternyata masih di pikirkan Sungje. Jihyuk hampir saja mengamuk kalau tidak ingat Sungje sedang kesakitan karena akan melahirkan.
“TUHANNN…. AHHHH….”
Jihyuk mengerahkan seluruh tenaganya untuk membawa Sungje ke mobil diluar. Okay berhasil. Tapi Jihyuk lupa menaruh kuncinya dimana! Jihyuk kembali panik. Apalagi melihat Sungje dengan keadaan yang sangat memprihatinkan mencoba menghalau sakitnya demi bayinya yang sudah 9 bulan lebih dikandungnya.
Cepat-cepat Jihyuk mencari kunci mobil itu dan berdoa semoga Tuhan melindungi Sungje sampai kunci itu ketemu dan Jihyuk berhasil membawa Sungje ke rumah sakit.
“Bertahanlah, Sungje hyung..” doa Jihyuk sebelum menemukan kunci itu di atas meja ruang tamu.

***

DEG
Perasaan Geonil tidak enak. Ia terus-terusan keluar-masuk kamar. Jaehwan yang sekamar dengannya terus menutup kupingnya rapat-rapat ketika Geonil mulai keluar masuk tidak jelas dan menutup pintunya dengan keras.
“Kenapa anak itu?” tanya Kwangsu pada Sungmo yang sedang membaca komik barunya yang kembali bercerita tentang kehidupan ribet orang berumah tangga.
“Stres mungkin karena menghapus foto Sungje hyung.” Jawab Sungmo datar.
“Mungkin.” Kwangsu kembali mengotak-atik iPhone-nya.
DEG…
Jantung Kwangsu seakan berhenti berdetak mengetahui ini bulan Agustus. Ia menatap Sungmo yang masih saja asyik membaca komik yang sudah berapa abad tidak laku dipasaran.
“Sungmo-ah,” panggil Kwangsu lirih.
“Hmm?”
“Sungje hyung… melahirkan kan?”
Sungmo tidak bisa mendengar ucapan Kwangsu dengan jelas. “Apa?”
“Sungje hyung melahirkan kan?! Ini bulan apa?!! Cepattt!!!!”
Kwangsu kalap. Ia mencari handphone yang jelas-jelas dipegangnya. Sungmo hanya bisa melihatnya dengan polos karena tidak tahu apa yang harus dilakukannya.
“Iya!! Ini tepat 9 bulan!! 9 bulan Sungmo-ah!!! Kita punya ponakan!!!!!”
Sungmo langsung menjatuhkan komiknya. “Jinjja?!!”
“Telpon Jihyuk!!! Kita harus tahu berita barunya!!”
Sungmo mencari handphonenya. Tapi ia lupa kalo handphonenya sedang di charge untuk memulihkan baterai yang dipakainya terus.
“Tidak diangkat!! Kemana bocah bodoh ini?” Kwangsu terus mencoba menghubungi nomor jihyuk.
“Mungkin handphonenya dijual.”
“Jangan bercanda!! Aku benar-benar ingin tahu bagaimana kabar mereka berdua!! Keponakan kita bagaimana?”
“Nanti aku akan menikah dengan author ff ini. Kau tunggu saja untuk keponakanmu yang superjudes dan bandel.”

*Tuh Sungmo yang bilang ya! Gue mah oke oke aja :D*

“Aku tidak mau keponakan yang autis! Lebih baik keponakan aneh seperti Geonil dan Sungje!”

*oke kwang, lo gue end!!*

***

Sudah lebih dari 3 jam. Jihyuk masih bertahan diluar ruang operasi untuk menunggu Sungje yang sedang mempertaruhkan hidupnya untuk dua anak kembarnya. Jihyuk merasa sangat risih karena diperhatikan terus oleh orang-orang. Ia tidak menyangka kalau pamor Choshinsung sampai ke negara ini juga ternyata.
“Maaf, anda ini… koki ya?” tanya seorang suster yang kebetulan lewat didepannya dengan bahasa inggris.
Jihyuk tersenyum lemah sambil menggeleng. “Bukan.”
“Oh.” Suster itu berlalu pergi.
“Kenapa kau bertanya itu?” tanya Jihyuk setelah suster itu sudah berjalan 5 meter.
“Kau masih memakai celemekmu, tuan.” Suster itu menunjuk celemek yang menempel di tubuhnya.
Oow..
Jihyuk sampai lupa melepaskan celemek ini sampai 3 jam disini. Pantas saja orang-orang memandangnya aneh. Jihyuk pun langsung melepas celemek itu dan menaruhnya di kursi sebelah tempat duduknya.
Klekk…
Pintu ruang operasi itu akhirnya terbuka juga. Jihyuk langsung berdiri dan mengintrogasi dokter Heff Kim—dokter yang menjadi dokter pribadi Geonil dan Sungje.
“Geonil tidak ada?” tanya dokter Heff.
Jihyuk benar-benar ingin menonjok dokter ini sekarang. Sudah lama ia menunggu malah ditanya Geonil. Harusnya ia yang bertanya dimana anaknya—eeh, anak Sungje!
“Dia belum datang.” Ucap Jihyuk ketus. “Bagaimana keadaan Sungje hyung? Anaknya bagaimana? Mereka berdua baik-baik saja kan?”
Dokter Heff tersenyum lebar. “Bukan berdua, tapi bertiga.” Ucap dokter itu. “Mereka bertiga sama-sama beruntung masih bisa hidup. Sangat susah mencari golongan darah yang sama seperti Sungje.”
“Mencari orang sepertinya saja susah. Apalagi darahnya.” Kata Jihyuk. “Boleh aku melihatnya?”
Dokter Heff menggeleng. “Tunggu Sungje dan kedua anak kembarnya dipindahkan ke ruang inap biasa.”
Jihyuk mengangguk. “Jeongmal gamsahamnida!!!”
Jihyuk bersorak girang dengan suara yang ditekan sedemikian rupa. Ia melompat kegirangan mengetahui usahanya dan Sungje untuk mempertahankan benih cinta itu tidak sia-sia. Jihyuk terus-terusan mengucap syukur pada Tuhan yang menyelamatkan orang yang sangat disayanginya itu.
“Harus kutelpon orang-orang tak penting di Korea sana untuk mengetahui kabar baik ini!” Jihyuk meraba sakunya. Dan bodohnya ia malah tidak membawa handphone. Ia hanya membawa dompet yang kebetulan tertinggal di mobil setelah berbelanja kebutuhan hidup. Untung ia membawa dompet. Kalau tidak mungkin persalinan Sungje akan membutuhkan waktu lama.

***

“Sekarang bulan apa?” tanya Geonil pada Jaehwan.
Jaehwan melihat layar handphonenya. “Agustus.”
“Oh.”
“Waeyo? Sungje hyung melahirkan ya?”
“Memangnya dia hamil? Tch.”
Jaehwan tertawa kecil. “Hyung, kau amnesia-kah?”
“Kalau kau tidak mau merasakan tendanganku, diam saja!”
“Aku tidak percaya kalau kau bilang kau tidak mencintai Sungje hyung lagi.”
“Diam kau anak kecil!” Geonil menatap Jaehwan ketus.
“Aku yakin aku tidak akan kuat mempertahankan ego seperti ini. Aku yakin aku tidak akan bisa menutupi kenyataan bahwa aku masih mencintainya.”
DUGG!!!!!!!
Jaehwan kaget. Tapi sebelum ia sadar sepenuhnya Geonil kembali menendangnya dengan sangat keras sampai ia jatuh dari kasurnya. Geonil terus menendang dan memukulnya dengan brutal.
“Silakan memukulku sampai kau puas.” Jaehwan menyeka darah yang keluar dari hidungnya. “Kalau mau membunuhku juga silakan.”
“Apa urusanmu, ha?!! Apa?! Kau tidak ada hak untuk ikut campur!!” Geonil terus memukul Jaehwan sampai lelaki itu tidak sadarkan diri.
Geonil kembali duduk di kasurnya setelah memastikan Jaehwan pingsan. Geonil berusaha mengatur nafasnya dan menenangkan diri.
“Aku benar-benar tidak mau peduli lagi dengannya! Untuk apa? Cih! Untuk apa? Aku lelaki sempurna, yang harus dapat gadis sempurna juga!”

***

Sungje membuka matanya perlahan. Bola mata cokelat itu akhirnya bisa kembali melihat dunia. Ia menggerakkan tubuhnya. Tapi.. ahh.. sangat sakit. Sungje tidak bisa menahannya. Ia ingin menangis, tapi ia sadar ia harus kuat. Kini ia berhadapan dengan Tuhan untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.
“Sungje hyung akan baik saja kan?” sayup-sayup suara mulai terdengar. Sungje seperti pernah mendengar suara ini. Tapi… ini suara siapa?
“Iya, dia akan baik-baik saja.” Suara berat seorang pria lagi. “Jaga dia. Dia pasti akan sangat kesakitan ketika membuka matanya.”
“Kenapa?”
“Sudah menjadi derita ibu yang melahirkan caesar.”
“Oh..”
Klekkk…
Pintu ruangan itu terbuka. Seorang lelaki masuk. Sungje tidak bisa melihatnya dengan jelas karena bola mata cokelatnya seakan menghalanginya untuk melihat sosok itu.
“Gwaenchana?” tanyanya lembut di telinga Sungje. Sepertinya lelaki ini tidak tahu kalau Sungje sebenarnya sudah bangun.
“Tenanglah. Ada aku. Jangan takut ya.” Bisiknya lagi. Sangat menenangkan.
Sungje tidak tahu apalagi yang terjadi setelahnya. Tidak ada bisikan lembut lagi. Kini yang dirasakannya adalah rasa sakit yang berlebihan di bagian perutnya.
“Ahhh…” Sungje merintih pelan. Ia ingin menggerakkan tangannya dan menekan perutnya yang terasa sangat perih itu.
“Hyung…” suara itu lagi. Lelaki itu terlihat kikuk. Ia tidak tahu harus melakukan apa sampai Sungje merintih sekali lagi.
“Yang mana yang sakit? Tunggu sebentar, biar kupanggilkan dokter.”
Sungje sekarang bisa melihat sosok itu dari dekat. Itu Jihyuk. Ya, Jihyuk. Sungje merasa tenang sekarang. Rasa sakitnya seperti hilang begitu saja.
“Tunggu. Dokter Heff akan datang sebentar lagi.”
Sungje mengangguk lemah.
Seorang dokter dan seorang suster berdiri disampingnya bersama Jihyuk beberapa menit kemudian. Si dokter memeriksa detak jantung dan juga tekanan darah Sungje. Sedangkan si suster mencatatnya.
“Kau bisa mendengarku?” tanya dokter Heff.
“Ne.” jawab Sungje lemah.
“Kau merasa sakit?”
“Ne.”
Dokter Heff mengangguk. Berarti usahanya tidak sia-sia. Menyumbangkan darahnya sendiri dan juga meminta kepada beberapa orang bergolongan darah AB untuk memberikan darahnya demi kelancaran operasi Sungje. Lelaki cantik itu masih bisa mendengarnya dan merasakan tubuhnya.
“Euisa,” panggil Sungje pelan.
Jihyuk menggeleng dan mengarahkan wajahnya lebih dekat dengan Sungje. “Hyung, jangan banyak bicara dulu. Kau kan masih sakit, ne?”
Sungje mengarahkan kepalanya ke arah Jihyuk dengan susah payah. “Anakku…. Kemana?”
Jihyuk tersenyum lebar. “Anakmu lucu hyung! Yang satu perempuan, yang satu laki-laki. Mereka berdua selamat. Tadi mereka berdua menangis bersamaan. Uhh aku tidak tahu bagaimana harus menenangkan dua anak sekaligus!”
Sungje tersenyum senang mendengarnya. Anaknya lahir walaupun sesar, dan walaupun juga tanpa suami aslinya disini.
“Nanti kalau kau sudah baikan, dan dua malaikat kecilmu itu sudah bisa menyesuaikan diri, kalian akan bertemu. Makanya, jangan terlalu banyak gerak dulu. Istirahat saja.”
“Aku.. baru.. bangun. Kenapa… harus… istirahat lagi?” tanya Sungje terbata.
Jihyuk menghela nafas. Ia mengelus rambut cokelat Sungje lembut. “Untuk memulihkan kondisimu. Kau mau menggendong dua malaikatmu itu kan?”
“Tapi apa tidak bisa sekarang?”
“Just take a rest, and two little angels will come to you.” Bisik Jihyuk lembut sambil berjalan keluar, menemui dokter Heff.
Sungje tersenyum geli. Ia merasa sangat nyaman berlama-lama berada bersama makhluk yang paling sering dibully-nya itu. Melihat senyumnya, mendengar suara bassnya yang memekakan telinga, melihat tingkah kikuknya disaat panik. Sungje sudah merekamnya baik-baik di dalam memori otaknya.
“Jihyuk-ah… sarangingayo?”

***

“Mau kemana pagi-pagi begini?” tanya Jaehwan pada Sungmo dan Kwangsu yang baru keluar dari kamar masing-masing dengan pakaian super rapi.
“Mau menjenguk Sungje hyung. Katanya sudah melahirkan.” Kata Sungmo menjawab pertanyaan Jaehwan.
Jikyung yang baru mengambil camilan dari dapur langsung nimbrung. “Aku ingin ikut!”
Kwangsu menggeleng. “Kalian kan mau debut. Lebih baik disini tunggu berita dari kami.”
“Lalu hyung kerja apa setelah ini?”
Sungmo dan Kwangsu mengedikkan bahu. “Mollayo.” Jawab keduanya bersamaan.
“Mungkin kita bisa meminjam modal pada restoran yang kami buat untuk membangun cabang di kota tempat Sungje dan Jihyuk tinggal sekarang.”
“Dan kita bisa bekerja bersama!”
Baik Jaehwan maupun Jikyung sebenarnya ingin menyela lagi. Tapi daripada menghancurkan mood dua seniornya ini lebih baik mereka diam saja dan menunggu berita baiknya.
“Kita pergi dulu ya. Maaf tidak bisa mengajak kalian.”
Jaehwan mengangguk. “Joshimae! Salam untuk Sungje hyung dan Jihyuk hyung!”
“Dan juga keponakan lucu kami!” sambung Jikyung.
Sungmo dan Kwangsu mengangguk. Mereka berdua mengangkat tangan dan melambai pada dua magnae yang akan debut itu.

***

“Kata Jihyuk kembar kan?” tanya Sungmo tidak yakin pada ucapan Kwangsu tadi. Lelaki itu meletakkan kopernya dibagasi belakang.
“Iya.” Kwangsu menatap Sungmo. “Kenapa kau tidak percaya sih?”
“Aku takut salah info.” Sungmo menutup bagasi belakang mobilnya.
“Kau sudah pesan tiket kan?” sekarang giliran Kwangsu yang membalas ‘tuduhan’ tadi.
“Sudah lah!” Sungmo tersenyum simpul. “Kajja! Sebentar lagi pesawatnya berangkat.”
“Jam berapa?”
Sungmo melirik jam tangannya. “Menurut jadwal sih 1,5 jam lagi. Palli! Nanti terlambat.”
Kwangsu menatap bingung ke member yang katanya paling manly ini. Tapi akhirnya ia mengikuti arah jalan Sungmo dan masuk ke dalam mobilnya.

***

“Yeppeudaaaaa!!!” komentar pertama Sungje melihat dua anak kembar didalam box bayi yang sedang didorong suster.
Sungje gemas sendiri melihat dua buah cinta yang dikandungnya itu sedang tertidur. Jihyuk membantunya untuk mengambil salah satu dari mereka.
“Yaampun, aku tidak percaya kalau ini anakku.” Sungje terus mengecup bibir anak perempuan yang sedang digendongnya.
Jihyuk tersenyum. Lelaki itu mengarahkan pandangannya pada anak yang lebih dulu keluar ke dunia. Anak itu laki-laki, wajahnya, bibirnya, hidungnya, dan hampir semua yang ada di wajahnya sangat mirip dengan Geonil. Jihyuk tidak tahu harus ditunjukankah anak itu pada ibunya?
“Jihyukkie, tidakkah kau berfikir kalau dia mirip aku? Dia cantik kan?” tanya Sungje.
Jihyuk mengangguk. “Aku juga berfikir dia sangat cantik. Kalau aku tidak dapat ibunya, mungkin aku bisa dapat anaknya?”
Sungje langsung mengeplak kepala Jihyuk. Ia tertawa mendengar candaan Jihyuk.
“Hyung, sakiiit!” kata Jihyuk sambil mengelus kepalanya.
“Hahahaha!!!”
Jihyuk tersenyum senang melihat Sungje yang tertawa lepas. Sepertinya sudah lama Jihyuk tidak melihatnya.
“Dasar anak ini! Ya!! Kenapa kau malah bengong, ha?!” Sungje kembali meneplak kepala Jihyuk. Tapi yang diteplak belum juga sadar.
“Ya Tuhaaaaan!!!” Sungje yang gemas menempeleng Jihyuk dengan gelas yang ada disebelahnya.
“Ahhhh!!!” Jihyuk kembali mengerang.
“Lagian kau malah melamun! Tolong yang satu lagi!” suruh Sungje.
Jihyuk mengikuti perintahnya walaupun kepalanya benar-benar sakit sekarang. Berapa kali dalam sehari ia mendapat pukulan Sungje? Tidak di grup, tidak di kehidupan biasa tetap saja ia yang dibully. Jihyuk benar-benar sial.
DEG
Sungje menatap anak laki-laki yang ada di gendongannya sekarang. Jihyuk tidak memperhatikan ekspresi itu karena ia sedang mengurus anak perempuannya.
“Hyung?” panggil Jihyuk membuyarkan lamunan Sungje.
“Eh, wae?” tanya Sungje balik.
Jihyuk menggeleng sambil tersenyum bodoh. “G-gwaenchana. A-aku.. keluar sebentar ya?”
Sungje mengangguk. “Silakan.”
Sungje menunggu sampai Jihyuk benar-benar sudah menguci pintu kamar inapnya. Ia lalu kembali menatap anak laki-lakinya. Anak ini benar-benar mengingatkannya pada Geonil. Sungje gundah. Ia tidak tahu kenapa ia jadi mengingat masa lalunya bersama Geonil lagi? Dan kini dilema menghantuinya. Harus memberi nama anak ini dengan marga siapa? Ia belum benar-benar berpisah dari Geonil. Geonil hanya bilang ia akan menceraikannya kalau Sungje memang ingin berpisah. Tapi…
“Geonil…” tiba-tiba Sungje mengingat nama yang berusaha ia kubur dalam-dalam. “Kenapa kau mirip Geonil, eoh?” tanyanya pada anak yang sedang tidur dengan tenang itu. “Dahimu… benar-benar sama dengan ayahmu.”
Sungje mengelus pipi anak itu lembut. Tidak ingin menyakitinya dengan setiap inci tubuh yang diberikan Tuhan kepada anak itu. Anak itu berwajah sempurna. Tampan, berkulit putih bersih, mempunyai semua alat indra. Sungje menitikkan air mata. Tapi kemudian ia menghapusnya dengan punggung tangannya dan kembali tersenyum melihat anak yang kini benar-benar hidup.
“Jangan pernah menyesal ya nak, kau mempunyai umma sepertiku. Umma-mu ini bukan orang yang kuat, jadi, ikuti saran ayahmu. Jangan jadi orang lemah, kau harus lebih kuat dari umma.” Sungje menatap anak perempuannya di dalam box. “Anak manisku, kau jangan mudah tertipu lelaki ya. Mulut lelaki itu buaya, tidak semuanya bisa dipercaya.”
“Eungghhh…” anak laki-laki di gendongan Sungje mengeliat. Sepertinya ia mulai merespon ucapan ibunya. Sungje buru-buru menenangkannya dan tidak ingin anak itu terganggu dalam tidurnya.

***

“Kau tidak meneruskan kuliahmu disana kan?” tanya ibu Geonil pada anaknya yang baru mampir ke rumah setelah sekian lama.
“Tidak.” Jawab Geonil.
“Lalu apa yang kau lakukan disana?”
“Hanya menjaga Sungje dan menghindarkannya dari wartawan..”
Wanita berusia 50 tahun lebih itu duduk didepan anaknya. Sudah lama wanita itu tidak menatap wajah tampan yang sudah dilahirkannya dari perutnya itu.
“Lalu sekarang kau disini untuk apa?” tanya ibunya lagi.
Geonil tidak tahu harus mengatakan apa. Harus jujurkah? Tapi… bisa-bisa ia langsung dihapus dari daftar keluarga Park. Tapi kalau tidak jujur, ia harus kembali ke Jerman dan menjalani hidup dengan Sungje.
Drrttt…. Drrrttttt….. drrrtttttt….
Handphone Geonil bergetar. Tidak sopan untuk mengangkatnya didepan orangtua. Akhirnya Geonil mendiamkannya saja. Mungkin ini telepon dari temannya yang kurang kerjaan. Hanya mengganggu dan menghabiskan pulsa mereka sendiri.
“Apa yang mau kau lakukan disini, Geonil-ah? Masa depanmu sebagai artis sudah hancur sekarang! Lalu apa yang mau kau lakukan lagi? Mencari pekerjaan lagi?”
Geonil menggeleng. “Aku masih harus bertanggung jawab…”
“Untuk apa?!” ibunya menggeleng bingung dengan anaknya ini. “Tugasmu untuk menghindarkan Sungje dari wartawan awalnya memang berhasil. Tapi akhirnya ketahuan dan kau berani berbohong lagi kan? Sekarang kenapa kau tidak kembali kesana untuk menjaganya?”
Geonil diam. Wajahnya ditundukkan dan berusaha untuk tidak menghadapi kontak mata dengan ibunya. Ibunya pasti tahu kalau dia sedang berusaha menyembunyikan sesuatu. Suatu fakta yang akan membuat ibunya jantungan.
“Sekarang bulan apa? Sudah berapa bulan Sungje hamil? Aku benar-benar ingin menggendong cucu.”
Geonil menghela nafas lesu. Akhirnya ibunya mengingat kalau Sungje memang hamil dan sekarang sudah melahirkan.
“Baru 7 bulan.” Kata Geonil berusaha menutupi fakta.
“Sepertinya waktu lama sekali untuk menghadirkan cucu disini!” kata ibunya dengan mata berbinar.
Geonil tersenyum.
“Ya sudah. Kau sudah tidak punya uang kan? Tuh umma berikan uang untuk ke Jerman dan membiayaimu dan Sungje disana!”
Geonil mengangguk. “Ne.”

***

“Ya Tuhaaaaan benar!! Anak ini benar-benar lucu AAAAA!!!!” Sungmo yang biasa cuek dan cool kini mengeluarkan sifat aslinya. Ia gemas sendiri melihat dua anak yang sedang meminum susu yang setara dengan susu ibu.
Sungje terkekeh pelan. “Tuh kan! Apa kubilang! Anakku pasti lucu!”
“Jihyuk-ah, kau ingat apa yang kita khayalkan dulu?” tanya Kwangsu.
Jihyuk menatap Kwangsu bingung. “Khayalan yang mana?”
“Yang waktu itu lho! Masa kau tidak ingat? Yang kita membayangkan anak Sungje hyung bagaimana akhirnya nanti. Yang perempuan, yang laki-laki, dan akhirnya kita berpendapat kalau anak Sungmo lebih menyeramkan!”
Sungmo langsung menatap dua orang yang sedang frontal menyebutkan namanya. Ia menatap mereka dengan tatapan mematikan. Sungje yang sebenarnya tidak tahu apa-apa tertawa kecil karena tidak mau anaknya bangun jika ia tertawa terlalu keras. Pendengaran anak bayi itu terlalu sensitif. Sungje tidak mau anaknya tidak bisa mendengar lagi kalau pendengarannya rusak.
“Kenapa harus anakku yang lebih menyeramkan?” tanya Sungmo ganas.
“Karena ayahnya menyeramkan.” Jawab Jihyuk spontan. Ia lalu menatap Kwangsu dan Sungje bergantian. “Iya kan?”
“HAHAHAHA…”
“eunghhh… hiks… eungghhh…” dua anak kembar itu sama-sama terisak, hampir menangis. Semuanya langsung sibuk untuk menenangkannya.
“Sssttt… anak baik, tidak boleh menangis ya? Cup.. cup.. cup..” ujar Jihyuk dengan nada pelan.
Kwangsu mencolek bahu Sungmo. Sungmo memundurkan langkahnya menyamai posisi Kwangsu.
“Tidakkah kau berfikir bahwa mereka sebenarnya sudah menikah diam-diam?” tanya Kwangsu memulai acara gosip ini. Tentu saja bisik-bisik—takut ketahuan.
“Sepertinya memang iya.” Sungmo malah mengiyakan berita belum jelas ini.
“Lihat saja, mereka sepertinya sudah saling mencintai. Tuh, Sungje hyung bisa tertawa lagi kan!”
Sungmo mengangguk. “Iya.”
“Geonil sudah menceraikannya belum sih?”
Jihyuk dan Sungje yang baru menyadari kalau tinggal mereka berdua yang menenangkan dua bayi itu langsung menatap kedua lelaki yang sedang asyik berdua itu.
“Ya! Kalian sedang apa ha? Kenapa malah disitu bukannya membantu kami menenangkan dua anak ini?”
Sungmo dan Kwangsu tersenyum bodoh.
“Hehehe.. lanjutkan saja. Kami ingin mencari makanan dulu ya.” Kata Sungmo.
“Aku juga!” Kwangsu ngikut.
Mereka berdua lalu keluar meninggalkan Sungje dan Jihyuk yang tidak mengerti apa-apa.
“Ya sudahlah diamkan saja.” Jihyuk menyerah dan memilih diam.

***

Setelah 5 hari di Rumah Sakit, Sungje dan kedua anaknya pun boleh kembali ke rumah. Betapa senangnya hati Sungje bisa membawa kedua anak kembarnya itu pulang dan memperkenalkannya pada dunia.
“Kau belum memberi nama anak itu hyung.” Kata Sungmo.
Sungje tertawa kecil. “Ah ya, aku sampai lupa.” Katanya. “Kau mau umma beri nama apa, nak?”
“Mana bisa anak kecil itu memilih nama! Membuka mata saja masih susah!” kata Kwangsu.
“Aku bisa usulkan namanya! Mau tidak?” ujar Sungmo semangat.
“Apa?” tanya Sungje ikutan semangat.
“Romeo, and Juliet!” dan Sungmo-pun langsung mendapat jitakan dari semua member.
“Kenapa kau tidak memberikan nama yang lebih bagus? Romeo dan Juliet itu bodoh dan percaya pada sesuatu yang lewat! Aku tidak mau anakku seperti itu.”
Sungmo menghela nafas. “Ya… Maaf hyung.”
Sungje mengangguk. “Aku juga terlalu mempermasalahkan. Sudahlah, namanya biar nanti ku pikirkan.”
“Tapi… Marganya apa?” tanya Kwangsu tiba-tiba.
Sungje menatap semua orang yang ada di dalam mobil, termasuk Jihyuk yang tertidur disampingnya. Tapi tetap saja ia tidak tahu apa yang harus dijawabnya.
“Pertanyaan ini tidak penting! Berikan saja nama dulu!” kata Sungmo agar tidak menyinggung Sungje lebih jauh.
“Rumahnya dimana ini? Aku kan tidak tahu!” Kwangsu si penyetir kembali ke pekerjaannya.

***

@ 12.00 PM

Sungje terbangun dari tidurnya karena tangisan anak laki-lakinya. Walaupun mengantuk ia tetap bangun dan berjalan ke box bayi menenangkan anak laki-lakinya.
“Little Geonil, sstttt… disini umma sayang..” ucap Sungje pelan. “Kau mau apa, hmm? Mau susu? Tunggu umma buatkan ya..”
Sungje meletakkan kembali anaknya di box bayi. Ia berjalan pelan ke dapur sambil memegangi perutnya yang masih terasa sakit.
“Hyung?”
Sungje menoleh ke asal suara. Jihyuk sudah berdiri di ujung dapur dengan mata sayu karena masih mengantuk.
“Kenapa tidak bangunkan aku? Pasti perutmu masih sakit.” Kata Jihyuk.
Sungje tersenyum. Ia mengocok botol susunya agar air dan susunya tercampur sempurna. “Mereka anakku, jadi aku yang harus bertanggung jawab untuk mereka.”
Jihyuk berjalan mendekati Sungje. Ia lalu mengambil botol susunya. “Hyung tidur saja. Malaikat kecilmu itu percayakan saja padaku.”
Sungje menggeleng. “A—“
“Jangan membantahku, hyung.” Jihyuk menuntun Sungje ke kamar. “Kau harus cukup istirahat.”
Sungje menurut. Mereka berdua masuk ke kamar yang sama karena box bayi memang berada di kamar yang sama.
“Tidurlah.” Kata Jihyuk yang masih melihat Sungje belum memejamkan mata. Tangannya tetap sibuk memegang botol bayi yang mengalirkan air susu untuk anak laki-laki Sungje.
“Iya.” Sungje mengangguk. “Jihyukkie,”
“Ne?”
“Aku berfikir tentang nama mereka.”
Jihyuk menghela nafas. Ia menatap Sungje lagi. “Hyung tidur saja. Masalah ini bisa dibicarakan besok.”
“Aku ingin memanggil salah satu dari mereka Yuu-Chan. Nama itu bisa menjadi nama Jepang dan Korea kan?” Sungje tidak mengindahkan perintah Jihyuk.
Jihyuk mengangguk. “Iya nama itu bagus. Tapi kita bisa pikirkan ini besok lagi kan? Masih ada hari esok.”
“Siapa yang menjamin?” Sungje membenarkan posisi tidurnya. “Kalau aku mati sebelum aku menamai mereka…”
“Aku yang menamai!” potong Jihyuk cepat. “Istirahatlah hyung!”
Sungje tertawa kecil. “Iya.. Iya. Bawel!”
Jihyuk tersenyum lebar. Ia menaruh botol susu kosong ke atas meja. Lelaki itu menghela nafas dan duduk di bawah sambil menatap Sungje.
“Jangan menatapku seperti itu!” kata Sungje malu.
Jihyuk tersenyum. “Aku tidak akan menatapmu kalau kau tidur.”
Sungje memejamkan matanya. Ia menutupi wajahnya dengan guling. Jihyuk tertawa kecil.
“Oekkkkk oekkkk oekkkkk!!!”
Sungje terbangun lagi. Jihyuk pun panik. Mereka berdua sama-sama ingin pergi keluar untuk membuat susu.
“Oekkkkk oekkkkk oekkkkk!!”
Yang satu lagi menangis. Jihyuk pun bertindak cepat, membangunkan Sungmo dan Kwangsu yang daritadi tidak tersentuh dengan keadaan sama sekali.
“Tolong tenangkan dua anak itu! Aku mau membuat susu!” kata Jihyuk panik pada Kwangsu dan Sungmo.
Kwangsu dan Sungmo pun berlari ke kamar Sungje. Sedangkan Jihyuk ke dapur. Tapi karena hanya menemukan satu botol susu Jihyuk pun berjalan kembali ke kamar untuk mengambil botol yang satu lagi.
“Lebih baik membuat satu dulu!” Jihyuk pun kembali ke dapur.

Sementara itu di kamar….

“Cup… cup.. cup… anak baik. Jangan menangis ya… cup… cup… cup… oppa tampan disini sayangku…” ucap Sungmo menenangkan anak perempuan yang masih terus menangis di pelukannya.
“Oppa?” Kwangsu mengernyit geli mendengarnya. “Kau itu ajusshi!!”
“Berarti kau haraboji!”
“SUDAH DIAM!!!!” teriak Sungje kesal. Ia mengambil alih anak perempuannya dari gendongan Sungmo. Dan seketika anak itu langsung diam dan tertidur kembali.
“Memang dahsyat pelukan ibu.” Kata Sungmo berfilosofi (?)
“Aku jadi rindu ibuku.” Balas Kwangsu mengimbangi.
“Bagaimana kabar Busan?”
“Bagaimana kabar Seoul?”
Sungje menatap dua orang yang sedang bernostalgia itu. Ia lalu meletakkan kembali anak perempuannya setelah merasa dia tenang.
“Ini susu….nya…”
“Kau terlambat!” Sungje tersenyum. “Ya sudah. Kalian istirahat lagi.”
“Ya sudah. Kita benar-benar mengantuk. Hoammm~” Sungmo dan Kwangsu pun kembali ke ruang tengah untuk tidur di tempatnya.
Tinggal Sungje dan Jihyuk serta dua anak tak berdosa di kamar itu. Sungje tiba-tiba mematung, tidak tahu apa yang harus dilakukannya.
“Hyung juga tidur.”
“Iya.” Sungje tersenyum. “Kau keluarlah. Aku tidak mau kau ganggu.”
Jihyuk mengangguk. Ia pun berjalan keluar dan bergabung bersama dua member lainnya yang tidur duluan.
Drrrttt….. drrrtttt….. drrrrrtttttt…..
iPhone Sungje bergetar diatas meja. Sungje buru-buru mengambilnya dan mengangkatnya tanpa melihat penelponnya.
“Yoboseyo?” sapa Sungje.
‘….’
Tidak ada jawaban. Sungje kembali mengulang salamnya. “Yoboseyo?”
‘….’
Tetap tidak ada jawaban. Sungje duduk di kasurnya dan mulai mengomel dengan suara pelan.
‘Masih mengingatku?’
DEG… suara itu langsung menghentikan waktu dalam dimensi Sungje. Sungje menjatuhkan iPhonenya dan tidak berniat mengambilnya lagi. Sungje merebahkan diri di kasur perlahan dan menangis dengan suara pelan. Sungje tidak berusaha menutupi fakta kalau ia masih mengingat suaranya. Suara Park Geonil, yang akan selalu dikenangnya hari ini, besok,dan seterusnya.
‘Aku akan kembali datang di hidupmu. Jangan pergi, dan tunggu aku.’ Ucap orang di telepon pada udara kosong karena handphonenya tidak ditempelkan di telinga.

***

TBC

Tuh udah gue lanjut!!! Tenang, ga lama lagi kok. Gimana? Makin ancur ya? Berentiin aja ya? Hahaha…
Don’t forget to leave comment😀 tapi kalo ga mau ya ga papa~

4 thoughts on “S.E.C.R.E.T (Part 5)

  1. kitty ai-chan

    .wah!!kyk’a aq yg prtama komen ni!ayey!!XDDD
    .haha,,kasian lailla d katain kalo nikah ama sungmo ntar anak’a autis,,sabar y,,*tepuk2punggunglailla*
    .keren!!crita’a bisa bikin ktawa skaligus sedih dlm wktu yg brsamaan#nahloh!gmnacara’a?
    .krna couple abadi(?)tetap geonje psti ntar akhir’a brakhir dngan geonje kn y?harus iya!#maksa
    .entah knpa krna anda saya jdi trtular virus geonje#emangnular?
    .haha,dripda mkin nglantur udhan aj de y,,kasian t4’a ntar pnuh komenan sya kalo bnyak2#apadah
    .gomawo ne!keep writing!dtunggu loh chap slnjutnya,,semangat ya,,fighting!! 0_~b

    Reply
    1. LaillaMP Post author

      wihihiiiyyy saya telat bales komentarnya XDXD
      makasih udah menyabarkan saya dari bullyan maincast ff ini :*

      ff ini emang sengaja dibuat gitu. menangis dan tertawa dalam waktu bersamaan adalah hal sulit tapinya #apadehgue

      kopel abadi hanya milik sungje – yoochan *eaeaea

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s