Because Of Our Baby

Title : Because Of Our Baby
Genre : comedy, romance, life, family, YAOI, etc
Length : oneshoot
Cast :
–    Park Geonil
–    Kim Sungje
–    Park Yoohwan (GeonJe’s baby)
A/N : Annyeong!!!!!
Maap gue kembali dengan ff baru, bukannya lanjutin yang lainnya~ hahaha
Ini salah satu ff yang gatau kenapa gue bisa kerjain dalam hitungan jam dan ini 5 HALAMAN! Hahaha..
Sorry kalo gaje dan ada typo🙂
Oke don’t ngomong anymore, lets check it out and dont forget to leave comment if you want~

***

“Oeekkkk oekkkk oeeekkkk…”
Sungje langsung terbangun mendengar suara tangisan seorang bayi laki-laki. Tanpa basa basi ia langsung berlari ke box bayi yang masih berada satu kamar dengannya. Anak laki-lakinya itu memang rewel dari tadi.
“Sssssttt sayang… umma disini. Cup cup cup…” Sungje menggendong anak itu dan menggoyang-goyangkannya untuk menenangkannya.
“Oeeekkkk oeeeekkkkk…”
Sungje kembali mencoba menenangkan Yoohwan—anaknya—dengan lembut dan sabar. Tidak ia pedulikan kantung matanya yang makin membesar karena harus terbangun malam-malam.
“Ya Tuhan, Yoohwan panas!”

***

“Perubahan cuaca memang sangat berpengaruh pada kesehatan anak-anak. Yoohwan masih rentan terhadap penyakit yang disebabkan perubahan cuaca.” Jelas dokter Han pada dua orangtua muda didepannya.
Sungje menggumamkan nama Tuhan mendengar penjelasan dokter. Sebagai seorang ibu ia sangat merasakan apa yang dirasakan anaknya.
“Tapi… Yoohwan tidak kenapa-napa kan?” tanya Geonil mewakili Sungje yang panik. Geonil menggenggam tangan Sungje yang sangat dingin.
Dokter Han menggeleng. “Sedikit rawat inap disini saja beberapa hari.”
“Kokjonghajima.” Geonil tersenyum menenangkan istrinya. “Gomapseumnida euisa.”
Dokter Han mengangguk. Ia mempersilakan kedua orangtua dari anak laki-laki bernama Park Yoohwan itu masuk ke ruang inap.

***

“Makan dulu.” Geonil menawarkan nasi beserta lauk untuk Sungje. Istrinya ini memang belum makan dari malam sampai siang ini.
Sungje menggeleng. “Aniya. Nanti saja.”
“Makan dulu.” Geonil duduk di sebelah Sungje dan meremas pundaknya. Menenangkannya.
“Aniya. Kau tidak kembali ke kantor? Sebentar lagi kan waktu istirahatmu habis.”
“Makanya kau makan dulu biar aku bisa tenang di kantor!!!!!!!” kata Geonil setengah marah.
Sungje menatap suaminya bingung sekaligus takut. Pasti penyakit marah-marah Geonil kumat! Kalau kumat kudanil pun tunduk sama dia. Oh…
“Nih terserah!! Mau dimakan atau tidak! Aku kembali ke kantor.”
“Geonil….”
Terlambat. Geonil sudah keluar dengan cepat dan meninggalkan Sungje sendiri. Sungje menatap lesu ke arah anaknya yang tertidur pulas. Lalu meraih bungkus berisi nasi dan lauknya dan memakannya dengan tidak bersemangat.

***

Day 2..

‘Geonil-ah, kau kapan sampai sih?! Aku belum mandi nih!’
“Ya sudah kau mandi saja. Sebentar lagi aku sampai kok.”
‘Masa Yoohwan kutinggal sendiri? Kalau dia kenapa-napa bagaimana?’
“Tidak akan! Kau mandi ya tinggal mandi. Kalau tidak titipkan saja Hwannie pada suster disana.”
‘Aniyaa!! Makanya cepat!! Uri Hwannie tidak sedang tidur!’
“Iya… iya. Tutup teleponnya ya biar aku cepat sampai.”
Geonil melepas headsetnya dengan kesal. Ia menginjak pedal gas dengan marah. Bisa-bisanya Sungje menyuruhnya cepat-cepat seperti ini.
Memang sejak kehadiran Yoohwan Geonil jadi ‘dikesampingkan’ oleh Sungje. Sungje lebih memilih Yoohwan ketika sarapan. Sungje lebih memilih untuk terus melihat ke arah Yoohwan tanpa peduli pada tatapan mata iri Geonil. Sungje juga jadi sering menyuruh Geonil untuk membeli barang kebutuhan harian, mingguan, bulanan atau tahunan. Oh ya, Sungje juga sering sekali menolak ajakan Geonil jika ingin melakukan kegiatan suami istri yang diatas kasur atau hanya sekedar menemaninya jalan dan menghadiri pesta pernikahan temannya.
Akhirnya Geonil sampai di Rumah Sakit tempat Yoohwan dirawat. Sungje langsung menghujaninya dengan tatapan penuh kekesalan dan sepertinya ingin menampar Geonil langsung saat itu juga.
“Aku akan jaga Hwannie. Kau mandi saja.” Ucap Geonil pelan dan berjalan ke kasur.
Sungje menghela nafas. Ia akhirnya mengambil handuk dan beberapa pakaian untuk sekalian berganti baju.
Geonil langsung melayangkan tatapan benci pada Yoohwan setelah Sungje menghilang dari pandangannya. Yoohwan memang anaknya, tapi entah kenapa hari ini Geonil benar-benar membencinya. Ia benci dijadikan nomor 2 oleh Sungje.
Praaakkk!!
Mainan yang dipegang Yoohwan jatuh. Geonil dengan sigap mengambilnya. Walaupun ia membenci anak ini tapi ini anaknya juga. Dan daripada ia jadi sasaran omel Sungje selepas keluar dari kamar mandi mending ia mengambil mainan itu dan memberikannya pada Yoohwan.
Prakk!!!
Jatuh lagi. Geonil kembali mengambilnya dengan lesu. Setelah itu Yoohwan membuangnya lagi dan tertawa puas telah mengerjai ayahnya.
“YAAAA!!!” teriak Geonil kesal pada akhirnya. Ia membanting mainan itu sampai hancur. “Bisa tidak kau tidak mengganggu hidupku, eoh?! Kau sudah mengambil semuanya! Kenapa kau harus mengambil tenagaku hanya untuk mengambilkan mainan itu?!”
“Hiks…” anak itu mulai menangis melihat wajah merah ayahnya yang sedang marah.
“Menangis saja! Mau membuat ibumu bersimpati?! Cih dasar!!”
“GEONIL!” gertak Sungje selesai mandi. “Kau ini apa-apaan—“ Sungje langsung menampar Geonil dengan murka.
“KENAPA KAU MEMARAHI ANAKMU SENDIRI? DIA MASIH KECIL!”
“MAKANYA KARENA MASIH KECIL KAU JADI TIDAK PEDULI DENGANKU? PERHATIANMU SEMUA TERCURAH PADANYA, BEGITU?!” Geonil tersenyum mengejek. “DIA MENYEBALKAN!”
“TAPI ITU ANAKMUUUU!!!!!” Sungje berteriak keras. Mengundang simpati orang-orang yang lewat dan menonton pertengkaran suami istri dan anak yang menangis tanpa diberi perhatian.
“BIARKAN SAJA KALAU ITU ANAKKU! AKU TIDAK MEMINTANYA!”
“Tidak?” Sungje menggeleng. “Tidak katamu? Kau tidak memintanya?”
Geonil menatap Yoohwan yang masih menangis tanpa diberi perhatian. Anak itu terlalu lemah untuk menghapus air matanya sendiri.
“Lalu yang kita lakukan setiap malam itu apa?” tanya Sungje.
“Kau tidak pernah melakukannya lagi setelah itu.” Jawab Geonil kesal.
“Itu untuk kebaikan kita dan Yoohwan.”
“Kebaikan apa?” Geonil tersenyum mencibir. “Kebaikan karena aku akan menjadi yang terakhir? Yang pertama ditempati anak-anak itu?”
Sungje mulai menangis. Tangisan Yoohwan pun mulai kencang setelah diam beberapa menit. Geonil mengatur nafasnya untuk menenangkan diri.
“Kau tidak menginginkannya, tapi aku yang menginginkannya.” Sungje menghapus air mata yang terus saja turun tanpa persetujuannya. “Tinggalkan kami sendiri.”
“Ti—“
“TINGGALKAN KAMI SENDIRI!!!!!! KENAPA KAU MASIH DISINI? KAU TIDAK MENGINGINKANNYA KAN? BIARKAN SAJA KAMI SENDIRIAN ATAU AKU HARUS MEMBUNUHNYA?!”
Geonil mencoba memeluk Sungje. Tapi akhirnya selalu kalah dan tidak bisa meraih tubuh itu.
“PERGI SANA!!! PERGIIIIIII!!!!!”
Geonil jatuh berlutut. Air matanya perlahan ikut keluar. Orang-orang yang bersimpati pun juga ikut menitikkan air mata. Sungje memeluk Yoohwan erat dan menghapus air matanya.
“Tenang sayang. Umma tidak akan meninggalkanmu sendiri…” bisik Sungje pada Yoohwan.
“Mianhae…” ucap Geonil. “Mianhae…”
Sungje menidurkan Yoohwan terlebih dahulu. Baru ia menghampiri Geonil dan memeluknya setelah sekian lama tidak dipeluk.
“Nado mianhae. Aku terus memberi perhatian pada Yoohwan.” Kata Sungje sambil mengelus punggung Geonil.
Geonil tidak merespon. Ia masih meringkuk dibawah dada bidang Sungje. Sungje terus mengelus punggung suaminya untuk menenangkannya.
“Mau tahu kenapa aku lebih perhatian pada Hwannie? Itu karena Hwannie masih anak-anak. Hwannie belum tahu cara berjalan, berbicara benar, menghapus air mata sendiri, memakai baju sendiri, dan semuanya. Hwannie masih butuh aku sebagai ibunya untuk melakukan itu semua. Bahkan sampai ia besar.”
Geonil menatap sosok ibu didepannya. Bukan sosok istri, tapi sosok lembut ibu yang selalu menguatkannya.
“Bahkan anak sebesar ini juga masih harus dibimbing oleh ibu.” Sungje mengacak gemas rambut Geonil. “Jadi, mau memaafkanku kan karena menomorduakanmu?”
Geonil tersenyum dan menggeleng. “Tidak akan kumaafkan!”
“Yasudah.” Sungje tersenyum lebar.
Geonil langsung memeluk Sungje erat. “Saranghaeeee!!!!”

***

“Hwannie mau balon, umm?” tawar Geonil ketika melihat mata anaknya mengarah pada penjual balon warna-warni.
“Belikan saja!” kata Sungje.
Geonil mengangguk. Ia dan Sungje lalu berjalan ke tempat penjual balon keliling berada.
“Iiiiii!!” Yoohwan berteriak melihat balon berbentuk hati berwarna hijau.
“Dia mau yang itu.” Sungje menunjuk balon yang ditunjuk Yoohwan.
“250 won saja untuk anak manis ini…” penjual balon itu memberikan balon itu pada Yoohwan.
“Biasanya 500 won.” Sungje mengeluarkan uang 500 won. “Gamsahamnidaa!!”
Seharian itu Geonil, Sungje dan tentunya anak mereka yang berusia 9 bulan itu berjalan-jalan di taman. Geonil sangat menikmatinya. Jarang sekali momen ini terjadi. Geonil hampir tidak mau melepaskan Yoohwan dari gendongannya karena gemas dengan pertumbuhan anak itu setelah sakit.
DORRR!!!
Balon yang dipegang Yoohwan tiba-tiba pecah. Suaranya sangat nyaring dan menyebabkan Yoohwan menangis kencang.
“Sssstt… cup cup cup anak baik! Jangan menangis sayaaang…” Geonil menggoyang-goyangkan gendongannya pada Yoohwan.
“Hueeeeeeeeee….” Tangisan anak itu makin keras.
Sungje khawatir. Tapi ia tidak bisa merebut Yoohwan langsung dari Geonil. Geonil terus menenangkan Yoohwan.
“Hwannie, look at appa…” Geonil berbicara dengan anaknya dengan bahasa inggris.
Pandangan Yoohwan lalu mengarah ke ayahnya. Tangisannya berhenti tiba-tiba. Geonil memasang ekspresi lucu untuk membuat Yoohwan tertawa. Dan akhirnya berhasil.
“Kau berbakat jadi badut.” Kata Sungje sambil terkekeh geli.
Geonil menatap Sungje sambil tersenyum manis. “Aku bukan jadi badut, tapi tukang sulap!”
“Cih!” Sungje terkekeh geli lagi.
“Appp… pppa….” Tiba-tiba mulut Yoohwan membuka dan mengeluarkan suara yang memanggil pendengaran Geonil.
“Apa? Bilang sekali lagi. Repeat it once more?”
“A-appp-ppapaaa..”
“YEEEEE HWANNIIIEEEEEEE!!!!” Geonil terus menciumi pipi Yoohwan gemas. Yoohwan tertawa mendapat perlakuan dari ayahnya.
Geonil menidurkan Yoohwan di tikar yang digelar Sungje dan terus menggoda Yoohwan. Kini Sungje yang dianak-tirikan.

***

“Hari ini kau senang?” tanya Sungje sambil menyandarkan kepalanya di pundak Geonil.
Geonil mengangguk. “Sangat senang!” Geonil tersenyum. “Aku baru tahu rasanya mendengar anakku memanggilku dengan sebutan ‘appa’.”
“Aku iri.” Sungje terkekeh.
Geonil membenarkan posisi gendongannya agar tidak mempersulit Yoohwan yang sedang tidur.
“Aku hampir tidak memegang anakku sendiri.”
“Nanti saja.” Geonil mengelus punggung Yoohwan. “Nanti dia tidur sekasur dengan kita.”
“Sepertinya sekarang aku yang jadi nomor dua.” Cibir Sungje untuk dirinya sendiri.
“Aniya.” Geonil mengelus rambut Sungje. “Kau tetap menjadi nomor 1.”
“Thank you.”
“You’re welcome.”

***

END

7 thoughts on “Because Of Our Baby

  1. laladwiputri

    yailah geonil -____- masa iri sama anak kandung sendiri ini ff kayak sinetron aja hahaha ;p but karena yg main geonje couple aku kasih rating bagus deh haha update lg dong thor ff lainnya well thanks for ff (sinetronnya) today mashita!😉

    Reply
    1. LaillaMP Post author

      bagusan ff saya kali daripada sinetron #duaghhh #digamparseluruhsutradarasinetron
      yahhh masa kasih rate bagus cuma karna castnya ==a hahahaa….
      makasih juga udah komen🙂

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s