S.E.C.R.E.T (Part 6)

Title : S.E.C.R.E.T
Genre : ROMANCE, COMEDY, M-PREG, BOYXBOY, YAOI, sedikit CANON, OOC, FICTION, ANGST, ETC *gue caps. Sorry v^^
Length : 6 of ?
Author : LaillaMP
Main Cast :
–    Park Geonil
–    Kim Sungje
Other Cast :
–    Kim Kwangsu
–    Yoon Sungmo
–    Song Jihyuk
A/N : KYAKYAKYAKYAAAAAAAA LONG TIME NO SEE CHINGUDEULL!!!!!!!! KANGEN GA LO SAMA GUE? SAMA FF GUE? NGAKU LOO!!!! XDXD
Aduhhhhh.. maaaaaaaap banget lama banget ini lanjutannya. Gue sekarang udah sibuk mameeen dan gue gatau gimana cara nyolong waktu ditengah menggunungnya tugas yang udah pengen gue telen aja saking keselnya -_-
Di part ini ada beberapa kata kasar yang saya mohon untuk tidak diikuti dan dimaklumi. Kalo masih ga bisa maklumi, yaudah ga usah ikutin lagi cerita garing gue ini🙂
Oke, silakan aja dinikmati. Dan jangan lupa buat tinggalin jejak dan apresiasikan karya orang😀 menyenangkan orang berpahala loh😄
Dan gue juga mau bilang “Dont Like Dont Read” kalo pada ga kenal yaoi🙂 daripada salah paham🙂

***

<< Previous

Tinggal Sungje dan Jihyuk serta dua anak tak berdosa di kamar itu. Sungje tiba-tiba mematung, tidak tahu apa yang harus dilakukannya.
“Hyung juga tidur.”
“Iya.” Sungje tersenyum. “Kau keluarlah. Aku tidak mau kau ganggu.”
Jihyuk mengangguk. Ia pun berjalan keluar dan bergabung bersama dua member lainnya yang tidur duluan.
Drrrttt….. drrrtttt….. drrrrrtttttt…..
iPhone Sungje bergetar diatas meja. Sungje buru-buru mengambilnya dan mengangkatnya tanpa melihat penelponnya.
“Yoboseyo?” sapa Sungje.
‘….’
Tidak ada jawaban. Sungje kembali mengulang salamnya. “Yoboseyo?”
‘….’
Tetap tidak ada jawaban. Sungje duduk di kasurnya dan mulai mengomel dengan suara pelan.
‘Masih mengingatku?’
DEG… suara itu langsung menghentikan waktu dalam dimensi Sungje. Sungje menjatuhkan iPhonenya dan tidak berniat mengambilnya lagi. Sungje merebahkan diri di kasur perlahan dan menangis dengan suara pelan. Sungje tidak berusaha menutupi fakta kalau ia masih mengingat suaranya. Suara Park Geonil, yang akan selalu dikenangnya hari ini, besok,dan seterusnya.
‘Aku akan kembali datang di hidupmu. Jangan pergi, dan tunggu aku.’ Ucap orang di telepon pada udara kosong karena handphonenya tidak ditempelkan di telinga.

>> Part 6 <<

“Kita pindah sekarang juga!” ujar Sungje dengan nada penuh ketakutan.
“Wae hyung?” tanya Sungmo yang sedang mengoleskan selai pada rotinya.
“Pokoknya kita pindah sekarang juga! Kemasi barang kalian!” Sungje benar-benar terlihat ketakutan sekarang.
“Memangnya kenapa hyung?” tanya Kwangsu meminta penjelasan Sungje.
“POKOKNYA CEPAT KEMASI BARANG KALIAN! KITA PERGI DARI SINI ATAU AKU SAJA YANG PERGI SENDIRI!” teriak Sungje emosi. Ia menatap Sungmo dan Kwangsu dengan tatapan kejam.
“I-iya hyung..” Sungmo dan Kwangsu menurut. Mereka meninggalkan sarapan mereka dan bersiap berkemas tanpa alasan.
DUAG!!
Sungmo dan Kwangsu menabrak Jihyuk yang baru keluar dari kamar mandi menuju dapur. Jihyuk langsung jatuh terjengkang.
“Ya! Kalian kenapa sih? Masa orang sebesar ini tidak kelihatan?!” Jihyuk bangun dan mengelus pantatnya.
“Sungje hyung…”
“Jihyuk-ah, kemasi barangmu!” Sungje sudah berdiri didepannya sekarang. Memutus ucapan Kwangsu yang ingin menjelaskan.
“Untuk apa?”
“Kemasi saja barangmu. Kita pindah rumah sekarang.” Jelasnya singkat dan pelan.
“Pindah?” Jihyuk kebingungan. “Kondisimu belum pulih benar, hyung. Kenapa kau mau pindah?”
“Karena disini tidak aman!”
Kwangsu dan Sungmo menyingkir dan mulai bergosip lagi.
“Tuh! Sama Jihyuk langsung to the point. Sama kita?” Kwangsu membuka acara gosip itu.
“Iya!” Sungmo menarik resleting tasnya dengan kesal. “Jangan-jangan mereka memang sudah menikah duluan! Biarkan saja Geonil cemburu!”
“Geonil kan sudah tidak mencintainya.” Cibir Kwangsu menirukan ucapan Geonil.
“Akan kuhapus fotonya! PUAS!” tambah Sungmo.
Mereka berdua tertawa cekikikan tanpa tahu apa yang sedang terjadi pada Jihyuk dan Sungje diluar sana.

***

“Hyung kenapa tiba-tiba menyuruh kita pergi?” tanya Jihyuk lembut sambil meremas tangan Sungje yang daritadi digenggamnya.
Sungje masih memasang wajah panik dan tangannya makin dingin. Sungje sedikit terisak tanpa mengeluarkan air mata. Nafasnya sedikit sesak.
“Hyung, istirahat saja ya? Ayo—“
“Aniya! Kita pergi!” Sungje menggerakkan tubuhnya dengan susah payah.
“Kalau hyung mau pergi nanti saja. Biar nanti aku carikan—“
“TIDAK PERLU!!! YANG PENTING AYO KITA PERGI SEKARANG!!!!!!” teriak Sungje.
Sungmo dan Kwangsu langsung keluar dari tempat persembunyian sambil menggendong tas besar yang dibawanya dari Korea. Mereka berdua menatap bingung ke ‘pasangan’ ini.
“AYO KITA PERGI JIHYUK-AH!!! AYOOOO!!!!”
Setelah itu terdengar tangisan anak perempuan. Tapi Sungje tidak seperti biasanya mendiamkannya dan malah menyuruh Jihyuk untuk pergi.
“Hyung, apa-apaan kau?!” kata Jihyuk sambil melepaskan tubuh Sungje yang daritadi memeganginya untuk mengajaknya kabur. “Kenapa kau sangat ingin—“
“YA SUDAH KALAU TIDAK MAU IKUT PERGI DENGANKU! AKU AKAN PERGI SENDIRI!” kata Sungje dengan suara tinggi.
“KALAU KAU ADA MASALAH JANGAN LUPAKAN ANAKMU! DIA MENANGIS TAHU!!” balas Jihyuk dengan nada yang tidak kalah tinggi. Ia lalu pergi ke kamar Sungje untuk menenangkan dua bocah yang sekarang menangis bersamaan.

***

Sungje masih belum bisa tenang. Pikirannya sudah terlalu jauh dan ia terlalu takut untuk menghadapinya. Geonil akan kembali… Sudah cukup ia menerima banyak tekanan batin karena ditinggal Geonil. Sekarang anaknya sudah lahir. Apakah Geonil kesini hanya untuk anaknya? Hanya untuk mengambil satu dari mereka? Atau malah keduanya?
“Je hyung demam.” Lapor Sungmo pada Jihyuk.
“Jinjja?!!” Jihyuk yang sedang memandikan anak laki-laki Sungje tersentak kaget. Untungnya dia tidak menjatuhkan kepala anak itu yang sedang ditahannya.
“Ya sudah. Kau kompres Je hyung. Setelah itu urusanku. Aku memandikan dia dulu.” Kata Jihyuk.
Sungmo mengangguk. Ia mengambil kain dan es batu dari kulkas untuk keperluan mengompres.
“Dia tidur?” tanya Kwangsu setelah Sungmo baru memasuki ruang tamu.
Sungmo menatap Sungje yang menyandarkan kepalanya di pundak Kwangsu. Lalu mengangguk menjawab pertanyaan Kwangsu.
“Bawa ke kamar?” tanya Kwangsu lagi.
“Kalau kau kuat ya bawa ke kamar saja.” Jawab Sungmo datar. Ia lalu duduk dan mulai melakukan kegiatan yang Jihyuk suruh.
“Kau mau mengompresnya sedangkan dia tidur di pundakku?” tanya Kwangsu dengan nada tidak yakin.
“Maunya?”
Kwangsu pasrah. Ia membiarkan tubuh berat Sungje bersandar di tubuhnya sedangkan Sungmo dengan santai mengompresnya.
Tap! Tap! Tap!
“Aku pulang.” Ucap seseorang yang berhasil membuat kaget Sungmo yang sedang mengompres Sungje.
Kwangsu baru bisa mengarahkan kepalanya kesamping beberapa detik setelahnya. Dan ia langsung terkesiap sambil melebarkan mata. Memastikan bahwa itu benar-benar orang yang dikenalnya.
“G-G-Geo—“
“Sungmo-ya, bagaimana Sungje hyu—“ ucapan Jihyuk terhenti melihat Geonil sudah ada didepan pintu sambil menenteng koper besar yang sering dibawanya bepergian.
“Apa kabar?” tanya Geonil santai pada Jihyuk.
Jihyuk menghela nafas. Ia memalingkan wajah dan tersenyum dingin setelahnya. “Kau masih peduli pada kami, eoh?”
Geonil mengangguk. “Tentu saja.” Jawabnya santai. Ia berjalan masuk ke rumahnya dan melihat Sungje tengah tidur dipundak Kwangsu.
“Kenapa kau tidak membawanya ke kamar?” tanya Geonil sembari mengarahkan tangannya untuk menyentuh wajah Sungje.
TAK!!
Kwangsu yang berada dekat Sungje langsung menepak tangan Geonil dan menatapnya sengit. “Jangan sentuh dia.”
“Oh. Jadi sekarang dia punya 2 simpanan?” balas Geonil yang membuat emosi Kwangsu naik.
Sungmo langsung buru-buru naik ke sofa dan memindahkan kepala Sungje ke pundaknya. Kwangsu lalu berdiri dan mendorong Geonil keluar.
“Pergi sebelum aku panggil polisi.” Kata Kwangsu.
“Kau mengusirku? Ini rumahku.” Jawab Geonil sambil tersenyum dingin.
“Aku akan membayar untuk rumah ini kemudian. Sekarang kau pergi!”
Geonil mendorong Kwangsu pelan. Tapi Kwangsu yang kehilangan keseimbangan akhirnya malah jatuh. Geonil tertawa kecil lalu masuk ke rumah yang lama ia tinggal itu.

***

Geonil membuat penghuni sebelumnya di rumah itu geleng-geleng kepala. Ia sangat santai. Seperti tidak ada dosa terhadap orang-orang yang ada disana terutama seorang diantara mereka yang menderita tekanan batin yang sangat dalam.
“By the way, anakku mana?” tanya Geonil sambil memakan snack yang menjadi camilan Jihyuk ditengah malam.
Jihyuk diam.
“Ya! Kalian tidak tuli kan? Anakku mana?” tanya Geonil pada 2 member lain yang sedang menonton berita.
Sungmo dan Kwangsu juga diam. Tidak mungkin kan bilang kalau anak itu ada di kamar Sungje. Bisa-bisa kalau Geonil kesana malah membuat Sungje bangun dan tambah shock karena orang yang menyakitinya datang kembali.
“Kalian mau menghalangiku bertemu dengan anakku? Kenapa kisah ini begitu sinetron?” sindir Geonil karena daritadi ia dikacangi.
“Pacar gue yang bikin ini sinetron!!!” tunjuk Sungmo pada orang dibelakang layar.

*Plakk!!!! *nabok momo pake sendal

*Abaikan*

“Ya sudah. Aku akan mencarinya sendiri.” Geonil berdiri dari kursinya dan bersiap untuk mencari anaknya disekitar rumahnya.
“Mereka ada di kamar.” Jihyuk akhirnya menjawab pertanyaan Geonil tadi. Ia menurunkan majalahnya dan menatap Geonil sambil menghela nafas. “Tapi aku tidak akan membiarkanmu menyentuh sehelai rambutpun!” ucap Jihyuk tegas sambil berdiri menghampiri Geonil.
Geonil membalasnya dengan senyum lebar. “Jinjayo?”
“Aku jahat di ‘sinetron’ ini kan?” Jihyuk menekankan suaranya di kata ‘sinetron’. “Jadi aku menghalangi kalian.”
“Oh begitu.” Geonil mengangguk. “Oke. Mau kubayar berapa agar kau keluar dari sinetron ini?”
Sungmo dan Kwangsu mulai bingung dengan pembicaraan dua orang suami (?) ini. Mereka hanya menonton. Sesekali mereka berkomentar.
“Sutradaranya siapa?” kata Sungmo.
“Memangnya anak kecil punya rambut?” kata Sungmo lagi.
*Oke abis ini gue serius ga bakal nyela lagi! Oke? Jangan marah ama gue yaa temaaan ^^*

Geonil dengan sengaja mendorong Jihyuk. “Ups.. Maaf~” ia pun berjalan ke satu-satunya kamar yang pernah dibersihkannya dan dijadikan tempat untuk tidur.
Jihyuk tetap berusaha menghalangi Geonil masuk ke kamar Sungje. Ia takut Sungje sudah bangun dan menyadari bahwa Geonil kembali datang.
“Kau tahu kau itu—“
“Berisik!” Geonil langsung mendorong Jihyuk dan masuk ke kamarnya dengan santai. Lalu menutup dan mengunci pintu itu.
“YA!! BUKA!!! YA!!! BUKAAA!!!!” teriak Jihyuk sambil menggedor pintu kamar. “B*jingan!” Jihyuk mendengus kesal. “YAA!!! BUKAA!!!! PARK GEONIL BUKAA!!!!!”

***

“YA!! BUKA!!! YA!!! BUKAAA!!!!” teriak seseorang sambil menggedor pintu kamar. “B*jingan!” orang itu berkata kasar. “YAA!!! BUKAA!!!! PARK GEONIL BUKAA!!!!!”
Sungje setengah sadar ketika mendengar ucapan itu. Tapi ia terus memejamkan mata karena ia yakin itu hanya mimpi. Dan mimpi itu harus cepat-cepat dilewatinya agar lebih tenang.
“Kalian begitu lucu. Maafkan appa ya telah meninggalkan kalian.” Terdengar lagi suara kecil dari seorang lelaki. Suaranya terdengar sangat familiar. Tapi kata-katanya…
Sungje membuka matanya perlahan. Ia sudah tersadar dari mimpinya sekarang. Sungje merasakan dunianya berputar setelah ia membuka mata. Sedikit ia menggerakkan badannya. Sakit. Entah kenapa sekarang sangat sakit. Perutnya… ahh! Masih terlalu sakit. Antara mual dan nyeri sehabis operasi yang masih meninggalkan bekas.
Sungje merasa ia sangat menderita…
“Eunghh… Eunghhh..” terdengar lenguhan seorang anak yang hendak menangis. Sungje langsung membalikkan badan dan ingin menenangkan anaknya.
“Kenapa, ha? Kau mau apa sayang?” tanya seorang lelaki yang membelakanginya. Tubuhnya tinggi dan ia agak kurus. Sungje menghela nafas lega karena setidaknya masih ada Jihyuk yang membantu mengurus anaknya.
Sungje pun kembali menutup matanya. Tapi ia masih bisa sadar dan mendengar orang itu berbicara.
“Umma sakit.” Lelaki itu menempelkan tangannya di kening Sungje. Detak jantung Sungje langsung tidak karuan. Tapi ia tidak tahu harus melakukan apa sekarang.
“Jadi jangan menangis ya. Nanti umma bangun.” Ucap lelaki itu lagi. Pelan tapi terdengar jelas di telinga Sungje.
“Sweet dream chagi.” Dan Sungje kembali tertidur.

***

4 jam kemudian…

Sungje membuka matanya perlahan. Ia lalu mengerjap-ngerjapkan matanya untuk membuat matanya terbiasa dengan cahaya setelah ditutup beberapa jam. Sudah tidak seperti tadi. Dunianya kembali diam dan tidak berputar.
Sungje bangkit dari posisinya. Ia duduk di kasur dan rasa pusing kembali menderanya. Sungje memijat lembut kepalanya untuk menghalau rasa pusing itu. Setelah rasa pusing itu sedikit meninggalkannya Sungje mengarahkan kepalanya ke samping, ke tempat tidur anak kembarnya dan…
“Sudah bangun?” tanya Jihyuk lembut.
Sungje menghela nafas lega. Untunglah itu bukan Geonil. Entah kenapa Sungje jadi merasa takut setelah memimpikan Geonil yang sedang berbicara dengannya. Itu sangat menakutkan.
“Masih pusingkah hyung?” tanya Jihyuk lagi.
Sungje mencoba tersenyum. “Hmm..” dan mengangguk.
“Kau haus? Lapar? Mau makan?”
Sungje menggeleng lagi. “Aniya.”
“Nanti kau minum obat lagi ya sebelum tidur.”
“Ha? Sekarang jam berapa?” tanya Sungje kalut. Sepertinya ia mati suri karena tidur terlalu lama.
“Jam 5 sore.” Jawab Jihyuk. Lelaki itu lalu menatap anak yang masih dibedong di gendongannya. Setelah mengecup singkat dahi anak perempuan yang dipegangnya Jihyuk pun meletakannya kembali di box bayi, disamping tubuh kakak si kecil.
Jihyuk berjalan mendekati Sungje. “Boleh aku duduk disini?” tanya Jihyuk.
“Tentu saja boleh.” Jawab Sungje dengan suara serak.
Perlahan Jihyuk duduk di kasur dan menatap Sungje dengan tatapan yang tidak biasa. Tatapan itu seperti tatapan polos seorang anak yang kehilangan sesuatu. Jihyuk tersenyum lemah.
“Kau kenapa?” tanya Sungje yang masih bingung dengan ekspresi tidak biasa Jihyuk.
“Gwaenchana.” Jihyuk menghela nafas. Ia lalu menempelkan punggung tangannya ke dahi Sungje. Merasakan suhu tubuh lelaki itu. “Tidak separah tadi.”
“Memangnya aku kenapa?”
“Kau demam.” Jawab Jihyuk. “Kuambilkan minum dulu ya. Kau pasti haus. Kau tidur sangat lama.”

***

“Kau apakan saja Sungje selama aku tidak ada?” tanya Geonil setelah Jihyuk yang sedang mengambil minum.
Jihyuk memberhentikan air yang sedang mengalir ke gelas berukuran besar untuk Sungje. Ia berdiri dan membalikkan badan dengan tenang dan menatap Geonil.
“Melayaninya dengan sepenuh hati.” Jawab Jihyuk.
“Ternyata kau berani juga merebut istri orang.” Geonil tersenyum mengejek.
“Kau sudah membuangnya kan? Untuk apa kau kesini lagi? Mau mengambilnya kembali?”
Geonil menggeleng. Ia menggeser posisi Jihyuk yang ada di dekat dispenser dan mengambil air untuknya sendiri.
“Dia masih milikku. Jadi kenapa tidak boleh kuambil lagi?” Geonil tersenyum mengejek.
“Oh begitu.” Jihyuk menaruh gelas itu diatas meja dan berkacak dada pada Geonil. “Tapi sayangnya dia sudah punya pemilik baru. Jadi, ikhlaskan saja dia.”
“Tidak akan.” Geonil tersenyum dingin. “Tidak akan semudah ini aku mengikhlaskannya.”
“Kau kesini sebenarnya mau apa sih?” tanya Jihyuk. “Mau mengambil Sungje-ku, atau anakku?”
“Oh… sudah berani mengakuinya sebagai anaknya toh.” Geonil mengangguk menyindir. “Kau hebat ya. Mudah sekali sepertinya untuk mengambil hak orang.”
“Mengambil hak orang?” Jihyuk langsung tertawa keras. “Siapa yang mengambil? Kau memberikannya kok padaku!”
“Kapan?” Geonil mengangkat alisnya. Lelaki itu mendekatkan dirinya dengan Jihyuk. Menatapnya tajam seperti ingin membunuhnya dengan sekali tebas.
Jihyuk tetap tenang dalam posisinya. Ia tidak mau berpikir lebih untuk melawan lelaki ini. Hanya mengikuti arah pembicaraan ini saja, dan melawan lelaki bersabuk hitam tingkat 4 itu.
“Kapan kutanya?!!” bentak Geonil sambil menjambak rambut Jihyuk kesamping.
Jihyuk melepaskan tangan Geonil dengan lembut. Ia lalu merapikan rambutnya yang berantakan dan tersenyum menantang emosi Geonil.
“Beberapa minggu, bahkan bulan setelah kau disini bersama Sungje hyung.” Jawab Jihyuk. Masih sangat tenang.
“Lalu?”
“Aku mengatakan bahwa Sungje meneleponku dan mengatakan kau jahat.”
Geonil sangat mengingat itu. Rahangnya mengeras. Ingin rasanya ia membunuh lelaki di depannya dengan brutal dan membawa mayatnya ke tempat yang jauh dan tidak terlihat oleh siapapun.
“Sebenarnya Sungje hyung tidak mengatakan kau jahat.” Ucapan ini membuat rahang Geonil makin mengeras. “Sungje hyung hanya bertanya apakah CEO Kim menanyakan sesuatu padamu sampai kau marah-marah dan membentaknya di telepon. Dan aku pun menjawab ‘iya. CEO Kim menelponnya dan menanyakan tentang hubungan kalian’. Lalu Sungje hyung menangis, dan aku sebagai orang yang menyukainya tentunya merasakan sakit yang sama dengannya. Dan aku pun mengarang cerita yang akan membuat kau emosi untuk memberikanmu pelajaran. Tapi ternyata reaksimu malah begitu, over. Ckck.. Kau tidak cukup kuat untuk jadi—“
PLAK!!
Geonil langsung menonjok Jihyuk sampai tersungkur ke bawah. Nafas Geonil naik turun tak beraturan. Emosi Geonil telah sampai di ubun-ubun. Geonil menggigit bibir bawahnya.
“PERS*TAN!!!!!!! B*JING*N!!!!!!!!!!!” Geonil langsung memukul Jihyuk bertubi-tubi. Untunglah Sungmo dan Kwangsu langsung datang dan melindungi Jihyuk dan memilih tidak berusaha menenangkan Geonil. Karena dengan cara apapun hanya satu yang bisa menenangkannya.

***

Sungje merasa tidak tenang. Sepertinya ada seseorang yang menyusup masuk ke rumahnya dan mengatakan hal yang tidak senonoh di rumah ini.
“Eunghh… Eunghhh…” Sungje langsung bangun dari posisinya dan berjalan ke box bayi. Masih sedikit pusing. Tetapi tidak membuat Sungje harus melepas tanggung jawabnya sebagai orangtua bayi itu.
“Eh, Channie umma sudah bangun ya?” Sungje tersenyum pada anak perempuan yang sering rewel itu. Sungje menggendongnya dan membelainya dengan penuh rasa sayang.
“Hihihi… Kau sangat lucu.” Sungje mengecup dahi anak perempuannya berkali-kali. Lalu turun ke bibir dan kembali ia tertawa. “Ya Tuhan, aku tidak tahu apa yang lebih berharga dari dua malaikat kecil ini.”
Sungje hampir melupakan ‘Little Geonil’ yang selalu tenang di kasurnya. Ia meletakkan anak perempuannya di kasur dan kemudian mengambil anak laki-lakinya dan menyejajarkan tidurnya dengan saudara kembarnya.
“Kau Yoochan, dan kau Yoochun. Kalian suka kan nama itu?” Sungje berbicara pada dua anaknya yang kini membuka mata kecil indahnya.

*Seketika gue pun diteplak sendal karna numpang ngeksis bareng kembaran*

“Umma sudah lama tidak memandikan kalian. Umma sakit terus ya? Umma lemah.” Sungje kembali mengajak dua anak kembarnya berbicara. “Kalian pasti haus ya. Mau minum? Umma buatkan susu dulu ya sayang.”
Sungje berjalan ke dapur dengan senyum mengembang. Dan tanpa disadarinya sepasang mata menatapnya daritadi. Mengikuti arah geraknya dan mengawasi setiap hal yang dilakukannya.
Perlahan Geonil masuk ke dalam kamar yang ditinggal Sungje untuk membuat susu. Geonil duduk di kasur dan menatap kedua malaikat yang lama ia tinggal. Entah kenapa wajah polos mereka membuatnya menyesal telah meninggalkan Sungje sejak sekitar 5 bulan lalu.
“Kalian senang kan? Tenanglah, appa tidak akan meninggalkan kalian lagi. Nanti kalian main bersama umma dan appa ya.” Geonil tersenyum kecil sambil mengelus pipi anak kembarnya.
“Uuuuu… sangat lucu. Hihihi..” Geonil malah senang sendiri melihat kedua buah hatinya yang sedang menahan haus itu menunggu ibunya untuk membuatkan susu untuknya.
DUGGGGGG!!!!!!
Geonil langsung menoleh ke arah suara. Geonil melihat Sungje ada dibelakangnya dengan tatapan mata penuh emosi dan kebencian. Sungje rela menghempaskan dua botol susu hangat itu untuk kedua anak kembarnya.
“Jangan sentuh mereka…” ucap Sungje pelan. Ia berusaha untuk tidak terbawa emosi dan membuat kedua anaknya ketakutan.
“Keundae…”
“Jangan sentuh mereka, biadab!” ucap Sungje lagi. Ia menahan amarahnya yang sebentar lagi akan memuncak dan meletus dengan dahsyatnya.
“Sung—“
“JANGAN SENTUH YOOCHAN DAN YOOCHUN, ATAU KAU AKAN MATI!!!!!!!!!!!”

****

TBC

Wah wah wah wah wahhhhhh!!!!!!!!!!
Tuh kan bahasanya begini ==” maaf bukan apa-apa, Cuma mengarahkan cerita ke arah yang seharusnya (?) aja. Maap kalo ni ff lagi-lagi kaga tamat-tamat. Gue juga bingung gimana cara namatinnya >,<

Makasih bagi yang mau baca + komen, dan makasih lagi kalo udah ngikutin cerita ini dari awal dan nungguin kisah cinta (?) ala sinetron kacangan ini -_-

4 thoughts on “S.E.C.R.E.T (Part 6)

  1. liaprimadonna

    sumpah, gue jd beneran eneg sama geonil! bagus je! emg perlu digituin si geonil!
    bunuh beneran aja, gue rela kok #woy
    yosh maap baru komen!!!!
    udahlah ini jadiin jisung aja, kalo geonil nyiksa sungje mulu~ kasian T_T

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s