Time To Love (Part 10)

Title : “Time To Love” *ga tau dah ni nyambung apa kagak ==”
Genre : comedy (?), romance (?), family, shonen-ai, yaoi, mpreg, little angst *nambah lagi
Length : ga banyak-banyak (?)
Rate : PG 15 (?)
Author : LaillaMP
Cast :
–    park geonil *Cho Shin Sung*
–    kim sungje *Cho Shin Sung*
–    other Cho Shin Sung members~
Summary : Sungje merasa ia sudah menyukai Geonil. Tapi kadang ia bimbang, sebenarnya siapa yang ia cintai? Jihyuk atau Geonil? Dan siapakah yang bisa menghapus kutukan itu dan hidup bersamanya? *summary berganti
Disclaimer : all cast in this ff is belong to me *digaplak* and the story also mine. Jadi kalo ternyata ada ff yang mirip ama ff ini, itu bukan kesengajaan ^^
A/N : wahahaaaaaaaa ternyata udah lama juga gue ga share ini ff! pada kangen kagak? *semua : kenal weh henteu!*
Nah, ini ff gue bikin dengan kegajean diatas rata-rata. Maaf kalo ff ini udah ga ada feelnya. Itu karna guenya sibuk dan kehilangan sense untuk bikin ff romance dan menggantinya dengan rentetan tugas yang males banget gue selesein ==a *jadicurhatkantuh
Silakan dikomen kalo ikhlas, kalo kagak ya kagak usah. Douzo ^^

***

<< Previous

Geonil berbaring beberapa senti lebih pendek dari Sungje agar bisa menenggelamkan wajahnya di dada Sungje. Geonil memeluknya manja. Sungje mengelus rambut Geonil lembut.
“Ah… geli!!!” Sungje terkekeh pelan.
Geonil sudah tidak kuat menahan kantuk. Ia tertidur setelah merasakan kehangatan dipelukan Sungje. Sungje memainkan rambut Geonil yang sudah tertidur pulas di dadanya.
“Hihihi..” Sungje terkekeh kecil melihat wajah polos Geonil yang tertidur. Ia kembali mengelus rambut Geonil lembut.
“Mencari pekerjaan itu sulit,” Geonil berujar ditengah tidur pulasnya. Entah ini hanya sekedar ngelindur atau memang nyata. “makanya kau jangan pergi ya. Disini saja. Mencari pekerjaan itu sama susahnya seperti mencari cinta.”
“Stttt… tidur!” Sungje menenangkan Geonil seperti menenangkan anak kecil. Ia memang suka anak kecil.
“Kajima! Disini saja! Jangan…” ucapan Geonil terputus oleh rasa kantuknya. Sungje tersenyum kecil. Lalu mengangkat selimut sampai ke leher Geonil.
“Goodnight, orang jelek yang kucintai!!”

>> Part 10 <<

Kwon Jiyong mengetuk pintu ruangan Mr Han, bosnya. Ia baru membuka pintunya ketika orang didalam menyuruhnya masuk.
“Ada apa, Kwon Jiyong?” tanya Mr Han ramah. Hal yang jarang ia lakukan pada anak buahnya yang hampir ia pecat karena tidak becus dalam bekerja.
“Aku hanya ingin menyampaikan berita saja untukmu. Kau mau tahu?”
“Berita apa?” Mr Han menatapnya pensaran.
“Kau belum lihat kan foto istri Park Geonil?”
“Memangnya harus? Aku tidak mau!”
“Jinjja?” Jiyong tersenyum menggoda. “Kau tidak akan kecewa. Di edisi depan aku akan menunjukkannya pada dunia kalau model tampan itu punya istri yang sangat cantik, namun…”
“Namun apa?” Mr Han terlihat antusias.
“Sepertinya….” Jiyong menghela nafas. “Tadi kan kau bilang kau tidak mau tahu. Ya sudah aku tidak akan beritahu.”
“Jiyong-ah!!!!” Mr Han menarik tangannya. “Beritahu padaku.”
Jiyong tersenyum sinis. “Kau bisa melihat artikelnya nanti, tuan.”

***

MAU TAHU MODEL N-AKED YANG DIRAHASIAKAN IDENTITASNYA?

Berita utama dalam majalah dewasa bernama ‘N-AKED’ itu bercetak tebal. Membuat orang yang biasanya cuek di depan tukang majalah jadi memandang majalah itu dan membelinya. Mungkin penjualan majalah dewasa yang selalu menjadi kecaman orang akan meningkat di edisi ini.
“Namanya Park Geonil.”
“Dia tampan sekali. Cocok dengan namanya.”
“Masih 18 tahun.”
“Muda sekali.”
“Tingginya 187 cm.”
“Tinggi sekali di usianya yang masih muda.”
“Mungkin akan meningkat lagi.”
“Sepertinya aku mengenal dia.”
“Siapa?”
“Bukannya atlet renang muda waktu itu? Wajahnya mirip. Dia tidak kelihatan sejak beberapa tahun lalu.”
Park Geonil jadi pergunjingan orang-orang sekarang. Banyak komentar yang terlontar dari bibir-bibir para pembeli dan penggosip.
Mr Kim, ayah Sungje yang kebetulan lewat dan mendengar gosip dari para perempuan di kantornya menguping sebentar. Lalu dilihatnya ada majalah ‘N-AKED’ yang tergeletak di meja resepsionist. Ia membaca berita utama di edisi itu.
“Geonil?!”
Resepsionist itu menatap direkturnya. “Presdir mengenalnya?”
Mr Kim menggeleng. “A-aniya. Aku… ah tidak. Aku pernah melihatnya di majalah. Dan aku kaget saat tahu namanya.”

***

Sungje bangun pertama dipagi itu. Geonil masih tidur sambil memeluk guling. Terlihat sangat lelah. Sungje tidak tega untuk membangunkan suaminya.
Ia berdiri dari tempat tidur dan langsung masuk ke kamar mandi untuk mencuci muka dan memenuhi panggilan alamnya. Setelah itu keluar rumah untuk menghirup udara sejuk.
“Hoaaaaaaaa—“ belum sempat Sungje mengatupkan bibirnya lagi setelah menguap ia sudah disambut beberapa lelaki cantik sambil membawa majalah yang tidak ia ketahui namanya.
“Kau masuk majalah!” kata salah satu dari mereka.
“Tunggu.” Sungje menggeleng bingung. “Maksud kalian…”
“Iya!” lelaki cantik disebelah pembicara pertama itu menunjukkan fotonya bersama Geonil di Rumah Sakit waktu itu.
“Ini…”
“Kau dan suamimu. Ah, dia jadi model? Kenapa kau tidak bilang?”
Sungje menggaruk kepalanya yang tidak gatal dengan cepat. Ia tidak tahu harus mengatakan apa karena aib suaminya terbuka lebar.
“Suamimu tampan. Kau beruntung sekali. Anakmu pasti akan sangat tampan.”
Sungje menghela nafas. “Aish… otteyo? Dia sudah dikeluarkan dari pekerjaannya dan.. karena gosip ini.. Geonil pasti susah dapat pekerjaan. Aishh!! Kenapa aku sangat bodoh?!!”
“Ada apa ini?” suara berat itu mengagetkan mereka. “Kenapa kalian membuat Sungje-ku setakut itu?”
Lelaki cantik di depan Sungje menunjukkan majalah N-AKED, majalah tempatnya bekerja. Geonil langsung membaca artikel yang dibuka oleh lelaki cantik itu.

“PARK GEONIL DAN ‘ISTRI’NYA?

Beberapa waktu lalu Park Geonil mengalami kecelakaan mobil kecil dan ia dirawat di Rumah Sakit. Tidak disangka ternyata model ini mempunyai istri. Sedangkan persyaratan menjadi model disini tidak boleh mempunyai pacar, apalagi istri. Tapi model sexy yang satu ini malah mempunyainya, dan sedang hamil besar pula. Dan sepertinya… ‘istri’nya ini laki-laki…

(lalu berjajar foto-foto ketika Sungje dan Geonil berada di Rumah Sakit. Sungje yang menangis sambil memeluk Geonil, Geonil yang berwajah tenang yang berusaha menahan sakitnya, dan lain-lain)”

Sungje menatap Geonil yang raut wajahnya tiba-tiba berubah. Ia menyesal. Kenapa ia keluar? Kalau ia tidak keluar kan pasti tidak ada yang menunjukkan majalah ini dan skandal ini.
“Kwon Jiyong…” Geonil mendesis berat menyadari nama itu ada di dalam penulisan artikel.
“Geonil-ah…”
“Persetan!! Dasar orang gila!!” Geonil langsung membanting majalah itu.
“Geonil!!!!” teriak Sungje sambil berlari ke dalam.
Para lelaki cantik itu mundur beberapa langkah sampai ke bawah tangga dan akhirnya pulang ke rumah masing-masing.
“Geonil-ah, waeyo?!!” tanya Sungje takut-takut.
Geonil masih menampakkan wajah marah tertahannya. Nafasnya memburu karena ia sudah tidak sabar untuk menghajar orang-orang dibelakang pembuatan artikel itu. Hanya bermodalkan mencuci muka dan baju yang melekat ditubuhnya ia langsung menyambar kunci mobil yang tergeletak di atas meja.
“Geo—“
“Kalau mau makan pesan saja. Aku ada urusan sebentar.” Ucap Geonil dengan suara pelan. Mencoba tidak menakuti Sungje. “Mianhada..”
Sungje menatap kepergian Geonil dengan wajah penuh air mata. Ia tidak bisa menghentikan air matanya, apalagi kemarahan Geonil. Kini penderitaannya bertambah parah. Perutnya sakit karena belum makan. Anaknya meronta untuk diberikan makanan. Sungje duduk di sofa terdekat dan menangis sendirian.
Suara mesin mobil Geonil yang  berat itu akhirnya tidak terdengar lagi karena sudah menjauh. Sungje meratapi nasibnya. Ia sendirian, dan merasa bersalah. Merasa bersalah karena telah melibatkan Geonil dalam hidupnya. Geonil yang masih muda dan seharusnya masih bisa menikmati bangku sekolah, berjalan-jalan dengan teman-temannya atau kekasihnya, berenang dan bermain basket untuk menghilangkan stress. Sungje benar-benar salah. Ia benar-benar bodoh.
Seharusnya Jihyuk yang sekarang ada disampingnya. Seharusnya ia yang bertanggung jawab atas hidupnya. Jihyuk pengecut! Benar-benar pengecut!!!!!! Pekik Sungje dalam hati.

***

Geonil kembali lagi ke rumah dengan lesu. Ia tidak mengucapkan salam. Bahkan ia seperti tidak peduli dengan Sungje.
“Geo—“
“Mianhae, jangan ganggu aku dulu ya chagi? Aku pusing. Aku.. mau tidur.” Elak Geonil.
Sungje mengangguk. Ia kembali duduk di sofa dan tidak berusaha untuk mengikuti Geonil dan menenangkannya.
Tes.. tes.. tes..
Beribu tetes air mata langsung mengalir deras dari pelupuk mata Sungje. Sungje terus menghapusnya sampai akhirnya ia tidak kuat untuk menangis lebih keras lagi untuk menenangkan pikirannya.
“Sungje pabo!! Sungje pabo!! Sungje pabo!! Kalau tidak ada kau pasti Geonil bahagia disisi orang yang lebih pantas!! Sungje paboooo hiks..” Sungje terus menyalahkan dirinya.

***

Geonil berusaha menenangkan pikirannya di dalam kamar. Ia berharap Sungje masuk ke kamar dan ikut menangis disampingnya. Memperhatikannya yang sedang terpuruk dan mencoba untuk menenangkannya walau akhirnya malah Geonil yang harus menenangkannya.
“Ya Tuhan!! Jangan bilang aku meninggalkannya sendiri!!” Geonil langsung keluar sambil menghapus sisa air matanya.
“G-Geonil?” Sungje kaget melihat Geonil sudah ada didepannya. Ia menghapus air matanya dan mencoba menyembunyikan semuanya dari Geonil.
Geonil berlutut di depan Sungje. Ia tersenyum mencoba mengangkat beban yang sebenarnya sangat susah untuk diangkat.
“Harusnya aku yang menangis bukan kau!” ucap Geonil. “Kenapa kau menangis, eoh?”
Sungje salah tingkah. Ia mencoba mengalihkan pandangannya dari pandangan Geonil. Geonil tertawa. Ia mengelus rambut cokelat Sungje lembut dan memeluknya.
“Kau tidak akan meninggalkanku kan?” tanya Geonil lembut.
Sungje membalas pelukan hangat itu. Ia menggeleng sambil tersenyum jahil. “Tentu saja aku akan meninggalkanmu. Untuk apa terus bersamamu.”
Geonil langsung melepaskan pelukannya tanpa melepaskan senyum manisnya. “Jinjja?”
Sungje menggeleng. “Ani.”
Geonil tertawa. “Sekarang aku sudah miskin. Aku tidak punya pekerjaan dan aku harus menanggung utang.”
Sungje menunduk. “Pasti karena aku.” Sungje menggigit bibir bawahnya. “Aku bisa membantumu kok.”
“Sampai kapan kau akan terus menyalahkan dirimu?!!” Geonil duduk disamping Sungje. “Kalau kau mengatakan itu lagi, aku akan meninggalkanmu!” ancamnya dengan nada serius. “Dan lagi, tidak usah pikirkan masalah itu! Kau tinggal hidup berbahagia saja disampingku. Ingat itu!”
Sungje menatap Geonil lesu. Entah kenapa Sungje berfikir ini memang asli, Geonil akan meninggalkannya? Oh no! dia tinggal dengan siapa nanti? Tak ada Geonil kan… ya, walaupun tingkat menyebalkannya lelaki itu tetap saja Sungje menyukainya dan nyaman berada didekatnya.
“Tapi tenang saja, aku akan tetap melayani setiap ngidammu. Oke?”
Sungje mengangguk. “Geoniiiiil…”
“Apa baby?”
Sungje menatap Geonil sangat dalam. Ingin sekali ia mengatakan ini tapi tidak pernah bisa. Ia terlalu malu dan gengsi untuk mengatakannya pada lelaki yang dicintainya ini.
“Tidak jadi.”
Geonil tidak berusaha menebak. “Ya sudah. Kita tidur ya?”
Sungje menggeleng.
“Lalu kau mau apa?”
Sungje menggeleng lagi. “Ya sudah, kita tidur.”
Sungje berdiri. Geonil membantunya untuk berjalan. Sungje menyandarkan kepalanya ke dada Geonil. Terdengar suara gemuruh detak jantungnya. Sungje tersenyum mendengarnya. Geonil benar-benar mencintainya.
“You like this?” tanya Geonil tiba-tiba.
“Eh?” Sungje langsung melepaskan pelukannya.
“Kau menyukainya? Silakan peluk lagi setelah kita tiduran.”
Sungje mendengus kesal. Ia lalu merebahkan diri dan memiringkan posisinya. Geonil mengikutinya dan memiringkan tubuhnya menatap Sungje. Tatapan keduanya sama-sama bertemu. Sungje kembali terpesona oleh ketampanan makhluk Tuhan satu ini.
“Ini mungkin kali terakhir kita menggunakan kasur ini.” Kata Geonil.
Sungje menyandarkan kepalanya di dada Geonil lagi. “Aku tidak masalah mau tidur dimanapun. Asalkan ada Geonil, aku rela.”
Geonil memeluk Sungje. Ia mengelus punggung Sungje lembut dan mengecup puncak kepala lelaki itu.
“Aku sangat berharap hari ini terjadi lagi di keesokkan hari.”
Sungje tersenyum. “Jangankan hari ini. Seumur hidupmu kau bisa merasakannya.”
Geonil memeluk Sungje lebih erat lagi. “Saranghae..”
“Nado..”
Kriukkk….
Geonil dan Sungje sama-sama membelalakkan mata mendengar suara yang sepertinya berasal dari perut itu. Sungje sadar itu suara perutnya. Ia menundukkan kepalanya untuk menghindari wajahnya terlihat Geonil.
“Kau belum makan?” tanya Geonil.
Sungje menggeleng pelan. Takut melihat wajah Geonil.
“Kenapa belum makan?” tanya Geonil dengan nada dingin. Ia melepaskan tangannya dari tubuh Sungje.
Sungje tetap diam dan memilih tidak mau menatap Geonil.
“Sungje-ah…” panggil Geonil dingin. “Kenapa belum makan?”
“….”
“Tadi sudah kusuruh untuk membeli makanan kan? Kenapa tidak membelinya?”
“….”
“Aku ada urusan dengan bosku 3 jam. Dari kemarin kau belum makan. Kalau kau sakit bagaimana? Ini berpengaruh pada kandunganmu. Kau—“
“Aku hanya ingin makan bersama denganmu, Geonil-ah!! Kenapa sih kau selalu memarahiku kalau aku menunda makanku demi kau?”
Sungje mulai kumat sensitifnya. Geonil mendengus kesal dan kembali memeluk Sungje untuk menenangkannya.
“Oke oke oke sayangku. Kita makan sekarang ya. Kau mau apa?”
“Nasi goreng super pedas!!!!!!!” ujar Sungje langsung semangat.
Geonil tertawa. Ia mengecup sekilas bibir Sungje dan langsung berdiri dari tempat tidur. Meninggalkan Sungje yang masih mematung karena tautan bibir singkat itu.

****

Malam ini Geonil benar-benar tidak bisa tidur. Rumah ini sudah membuatnya cukup nyaman. Tapi mau tidak mau ia harus menjualnya. Demi menyambung hidup dan membayar ganti rugi ke perusahaan majalah itu.
Huft…
Geonil menghela nafas panjang. Geonil lelah. Benar-benar lelah dengan beban hidupnya, hidup Sungje, hidup anak Sungje. Ia tidak tahu kenapa jadi sejauh ini bebannya.
Geonil menatap kesamping. Sungje tidur dengan pulasnya sambil memeluk guling. Geonil tersenyum kecil. Lalu mengelus rambut Sungje lembut. Kemudian mengelus pipi mulus Sungje yang benar-benar mulus, tidak tersentuh kotoran sedikitpun.
“Kau begitu sempurna.” Gumam Geonil. “Tapi kau salah memilih Jihyuk sebagai orang yang menjadi number 1 di hatimu.”
Geonil mengelus rambut cokelat Sungje lembut karena takut membuatnya terbangun. Geonil menatap lurus ke depan. Ia harus mengambil keputusan secepatnya.
“Warisan…” Geonil tiba-tiba menggumam. “I have it…”
Uang warisan Geonil terlalu banyak. Tapi ia sudah berjanji tidak akan memakainya karena waktu itu ia melihat keluarganya memperebutkan hak miliknya ini.
“Aku sudah berjanji…” Geonil menghela nafas. Ia kembali menatap Sungje yang masih tertidur dengan tenang disampingnya. Deru nafasnya membuatnya sesak. Sebisa mungkin Geonil harus mempertahankan kehidupannya sekarang. Uang simpanannya hanya cukup untuk membayar denda ke perusahaan majalah N-AKED itu dan setelah itu tidak bisa lagi untuk membiayai hidupnya dan Sungje.
Warisan!
Kembali Geonil terpikir untuk memakai uang warisannya yang sangat banyak. 95% warisan itu untuk Geonil. Uangnya ada sekitar setengah trilyun. Dan 95%-nya miliknya…
“Andwae! Ini urusan pribadi. Uang warisan itu tidak akan kupakai!” gumam Geonil bertekad.
Tapi melihat Sungje yang sedang dalam masa kehamilan, Geonil harus cepat bertindak! Menjual rumah ini dan membeli rumah yang lebih kecil, dengan fasilitas yang tidak memadai, atau memakai uang warisan untuk tetap memberikan semuanya pada Sungje.

****

“Tadaaaaaaaa!!!!!!!” teriak Sungje setelah Geonil memasuki dapur.
Geonil sedikit terlonjak. Ia ingin marah karena seseorang mengganggu paginya yang seharusnya tenang ini. Tapi karena melihat siapa yang memberi kejutan dan kejutan apa yang sedang ditampilkan Geonil pun tersenyum sangat tulus.
“Waaah… Siapa yang membuat makanan ini, chagi?” tanya Geonil sambil berjalan dan menatap makanan yang tersusun di meja dengan rapi.
“Tentu saja aku!” jawab Sungje dengan tegas nan riang.
Geonil menatap tak percaya pada Sungje yang sedang tersenyum riang. Pandangan Geonil kembali mengarah pada jajaran makanan ini. Nasi goreng, telur mata sapi, sop bakso, kimchi, dan pecel lele (?)
“Coba saja dulu baru komentar!! Kalau tidak enak tinggal dibuang!!” kata Sungje marah karena diremehkan Geonil.
“Temani aku makan dulu! Sini kucicipi dulu.” Geonil duduk di kursi biasa ia duduk. Sedangkan Sungje duduk di depannya dengan sangat cemas. Sungje menggigit bibir bawahnya. Takut Geonil kenapa-napa. Kalau Geonil tiba-tiba pingsan ataupun mati setelah makan masakannya bagaimana? Begini juga anak orang, bukan anak setan.
“Nasi gorengnya enak sebenarnya. Tapi kalau lebih pedas sepertinya lebih enak karena bumbunya terlalu banyak untuk ukuran gurih.” Komentar Geonil ketika mencicipi nasi goreng.
“Memang kurang pedas? Padahal sudah kutambahkan banyak cabai loh.” Kata Sungje.
“Untukku sih kurang pedas.” Geonil kembali memasukkan sesendok nasi goreng lagi.
Sungje mengangguk saja. “Besok-besok aku tambahkan banyak cabai ya biar kau PUAS!” Sungje menekankan kata ‘pedas’ sambil menatap Geonil.
“Coba sop baksonya.”
Sungje memberikan semangkuk kecil sop bakso yang memang dipersiapkannya hanya untuk Geonil. Geonil mencicipinya dengan antusias dan mengecap lidahnya berkali-kali dan mengulangi kegiatannya sampai ia bisa memberikan komentar tentang masakan berat pertama yang Sungje buat.
“Enak sih. Tapi kurang gurih. Tambahkan sedikit kaldu untuk lebih menggugah selera.”
Sungje mengerucutkan bibir. Entah kenapa ia sedikit kecewa karena makanannya ini selalu dikomen daripada dipuji.
“Telur mata sapinya seperti biasa, enakk!!!” nah! Ini baru pujian. Sungje pun bisa tersenyum walaupun pujian ini sudah sering dilontarkan.
“Kimchiiiiiii!!!!” Geonil langsung menarik piring berisi kimchi itu dan memakannya dengan lahap tanpa membekas sedikitpun. Bahkan Geonil sampai menjilat piringnya.
“Lagi dong chagiiii??”
Sungje tersenyum. “Berarti aku hanya bisa membuat kimchi saja ya? Ya sudahlah. Setelah ini aku tidak usah memasak—“
“Memasaklah.” Geonil menghela nafas. “Memasaklah selagi—by the way, dapat darimana bahan-bahan ini?” tanya Geonil langsung membelokkan pembicaraan.
DEG
“Uang kita kan sudah habis. Uangku…”
Raut wajah Sungje berubah. Tidak mungkin ia bilang kan kalau ini uangnya—maksudnya uang ayahnya. Bisa-bisa Geonil meninggalkannya karena mengingkari janji.
“Darimana Sungje sayang????” tanya Geonil lembut.
Sungje mendengus kesal. Ia mendapatkan ide untuk menjawabnya dan memberikan ketenangan pada hati Geonil. “Aku sering menabung sejak kecil! Makanya aku punya simpanan. Aku menyimpannya dan sekarang masih ada. Jadi, ini uangku sendiri!”
“Sudah kubilang—“
“Memangnya kenapa sih kalau aku membantumu? Sepertinya kau selalu menghalangiku untuk membalas budiku padamu. Maumu apa?!!!!”
Geonil kalut. Sifat sensitif Sungje kumat. Padahal ini momen yang sangat berharga baginya.
Geonil baru sadar kalau Sungje adalah orang kaya. Orang yang sama sekali tidak pernah merasakan penderitaan di rumah jelek, kasur reyot, sofa tidak empuk, dan Geonil tidak mau memberikan itu semua untuk Sungje! Andwae! Maldo andwae!
Geonil pun bertekad untuk mengambil haknya. 95% dari setengah trilyun, dan itu sangat besar. Tapi ada satu syarat untuk mengambil haknya lagi. Syaratnya itu sangat berat.
‘Eotokhae?’ tanya Geonil dalam hati. Ia menatap Sungje dengan tatapan yang tidak biasa. Geonil harus cepat-cepat mengambil keputusan!

****

TBC

Maap kagak jadi pesta ff. gue sibuk nih #kibasrambut #dilemparduit

22 thoughts on “Time To Love (Part 10)

  1. laladwiputri

    Akhirnya TTL di update juga eh author ulang tahun ya? Kok mention2 pesta ff? Hahaha happy birthday deh kalau emang bener ulang tahun😉 hehe ah geonil tuh bener2 lelaki bertanggung jawab! Saya terharu banget sekarang baca ff ini komedinya udah mulai jarang dan fokus ke romance-nya tp tetep aja sama serunya hehe ayo lanjut deh thor! Cepet ya di lanjutnya jangan lama2 eh itu TTL versi hyunmin kapan keluarnya? I’m so curious with that fic🙂

    Reply
  2. liaprimadonna

    nyaris lali(?) sama cerita ini ><
    saking lamanya ya thor~~
    kalo disini ceritanya masih manis, jd cinta sama geonil *labil*
    udah lah nil, lo ambil aja warisannya, biar jihyuk buat gue XDDDD #salah
    yosh updeto cepeto!!

    Reply
    1. LaillaMP Post author

      doh geonil kembaran sayaaa -_- #plakkkk
      saking lamanya saya sendiri juga lupa ini ceritanya dimulai darimana >,<

      doh jihyuk kan lagi dibekep kwangsu. culik gih :p
      ga janji cepet update😄

      Reply
  3. geonildetry

    saya meningalakan SELURUUUUUUUUUUHHHH komentar saya mulai chapter 3 sampai 10…
    makin kesini komedinya agak sedikit berkurang ya saeng…u__u
    cerita tetep bagus, pas di alurnya, hanya disini yang menjengkelkan adalah geonil!!
    ngomong setengah2, ditambah sungjenya ngamukan!!
    KLOP!!
    tambah cepet dah bubarnya tu rumah tangga klo egonya tetep pada selangi pula, dan akhirnya yang di untungkan dari perceraian mereka adalah saya… *ini ngomong apa ya, kok saya jadi ngrang cerita sendiri, wkwkwkw* *di injek*
    still like your fanfic saeng…
    klo da updatean terbaru tolong saya di kabarin, soalnya saya jarang ubek2 punya orang, punya sendiri ja cuma di ubek2 pas malam 1 suro ja…
    oke deh, sekian dulu, wassalam…

    Reply
  4. Pingback: Time to Love (Part 11) | Kumpulan Fanfic

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s