S.E.C.R.E.T (Part 7-END)

Title : S.E.C.R.E.T
Genre : ROMANCE, COMEDY, M-PREG, BOYXBOY, YAOI, sedikit CANON, OOC, FICTION, ETC *gue caps. Sorry v^^
Length : 7 of 7
Author : LaillaMP
Main Cast :
–    Park Geonil
–    Kim Sungje
Other Cast :
–    Kim Kwangsu
–    Yoon Sungmo
–    Song Jihyuk
A/N : HUHHH!!! SETELAH BERKUTAT DENGAN TUGAS TUGAS NAUJUBILLAH ITU AKHIRNYA GUE BISA NYELESEIN INI EPEP !! HAHAHA…
Ending ff ini tidak seperti yang kalian bayangkan. Ini berakhir tragis dan sangat disayangkan kalau tidak membaca #jebret #digaplok #digampar #dikeluarindarigalaksi #ketendangkeexoplanet #kawinlarisamaluhan
Curhat dikit ah ya. Gue buat ff ini pertama kali karna keisengan aja pen buat mpreg yang bener-bener mpreg (?) dan bercast GeonJe. Kalo Yunjae entah kenapa gue jadi ga ada feel. Gue emang lebih berfeel baca ff yunjae daripada bikinnya ==”
Karna ff ini juga gue pernah di bash. Hahaha.. untung aja ga banyak yang ngebash. Ff ini awalnya berfeel buat gue, tapi akhirnya nggak. Jadi maklumi kalo ada adegan yang ga jelas.
Oke, nikmatilah ending dari ff ini. Maap kalo panjang. Leave your comment if you want😀
nb : Alur kecepetan merupakan wewenang author😄

***

<< Previous

Sungje berjalan ke dapur dengan senyum mengembang. Dan tanpa disadarinya sepasang mata menatapnya daritadi. Mengikuti arah geraknya dan mengawasi setiap hal yang dilakukannya.
Perlahan Geonil masuk ke dalam kamar yang ditinggal Sungje untuk membuat susu. Geonil duduk di kasur dan menatap kedua malaikat yang lama ia tinggal. Entah kenapa wajah polos mereka membuatnya menyesal telah meninggalkan Sungje sejak sekitar 5 bulan lalu.
“Kalian senang kan? Tenanglah, appa tidak akan meninggalkan kalian lagi. Nanti kalian main bersama umma dan appa ya.” Geonil tersenyum kecil sambil mengelus pipi anak kembarnya.
“Uuuuu… sangat lucu. Hihihi..” Geonil malah senang sendiri melihat kedua buah hatinya yang sedang menahan haus itu menunggu ibunya untuk membuatkan susu untuknya.
DUGGGGGG!!!!!!
Geonil langsung menoleh ke arah suara. Geonil melihat Sungje ada dibelakangnya dengan tatapan mata penuh emosi dan kebencian. Sungje rela menghempaskan dua botol susu hangat itu untuk kedua anak kembarnya.
“Jangan sentuh mereka…” ucap Sungje pelan. Ia berusaha untuk tidak terbawa emosi dan membuat kedua anaknya ketakutan.
“Keundae…”
“Jangan sentuh mereka, biadab!” ucap Sungje lagi. Ia menahan amarahnya yang sebentar lagi akan memuncak dan meletus dengan dahsyatnya.
“Sung—“
“JANGAN SENTUH YOOCHAN DAN YOOCHUN, ATAU KAU AKAN MATI!!!!!!!!!!!”

>> Part 7 <<

5 bulan kemudian ….

Sungje sebenarnya tidak tahan dan selalu ingin kabur dari penjaranya ini. Tapi tidak bisa. Geonil selalu ada disampingnya dan berusaha merebut perhatiannya lagi.
“Mau kemana?” tanya Geonil yang sudah siaga di depan pintu.
Sungje menatapnya sinis. “Kabur.”
“Kalau kabur tidak usah bilang.” Balas Geonil.
Sungje menggigit bibir bawahnya agar amarahnya tidak terucap begitu saja. Ia lalu berbalik badan dan berjalan begitu saja meninggalkan Geonil.
“GEONIIIIIIIL, KAU MENGUNCI GERBANGNYA?!!!!” Tanya Sungje kesal. Ia menendang gerbang dengan kesal.
Di dalam Geonil tertawa kecil. Kemudian perhatiannya kembali tertuju pada dua buah hatinya yang sama sekali belum menganggapnya sebagai ayah.
5 bulan ini terjadi perubahan besar pada diri 5 mantan member boygroup itu. Mereka bersamaan membangun restoran-cafe Jepang dan Korea dari pinjaman modal dari restoran awal mereka, Red Sky yang menuai sukses di pasar Jepang.
Jihyuk, Kwangsu dan Sungmo lebih sering menghabiskan waktu di restoran Red Sky Part 2. Tentu saja karena mereka bertiga ingin mendapat ketenangan selain harus mendengar adu mulut suami istri yang nyatanya sampai sekarang belum cerai juga. Kadang-kadang mereka bertiga ingin sekali punya rumah sendiri. Kecil pun tidak apa-apa. Tapi karena harga rumah disini mahal dan juga Sungje selalu memohon untuk ikut dengan mereka atau menyuruh trio 87-Team itu tetap tinggal di rumah untuk menjaganya dari kepungan makhluk tak tahu malu bernama Park Geonil.
“Satu café latte dan jajangmyun!” pesan seorang wanita yang sedang Kwangsu layani. Wanita ini telah memesan setidaknya 5 kali dalam seminggu ini. Dan sepertinya harus selalu datang ke café ini tiap minggu walaupun hanya sekali. Pasti wanita ini sangat kaya!
“Okay.” Kwangsu mengangguk dan mencatat pesanan wanita itu.
“Satu lagi!” Wanita itu menatap lurus. Menatap seseorang yang tengah membaca buku di kasir. “Aku ingin dia yang mengantarkannya padaku.”
Kwangsu menatap jari wanita itu yang menunjuk ke…
“Si autis itu apa mau mengantar pesanan?!” Kwangsu mendengus kesal. Ia bergumam dengan bahasa Korea yang sialnya didengar wanita yang sedikit-sedikit bisa bahasa Korea.
“Autis? Kau mengatakannya autis? Dia tampan seperti pangeran!” balas wanita itu dengan bahasa Jerman.
Kwangsu yang beberapa bulan ini kemampuan bahasa Jermannya meningkat mengetahui arti dari kata itu. Ia tertawa keras sambil memandangi Sungmo yang tidak berkutik dari tempatnya.
“Pangeran? Pangeran apaan? Pangeran upil? Hahaha…” Kwangsu tertawa sendiri oleh leluconnya.
“Upil? Kau bilang dia upil?!” wanita itu langsung menggetok kepala Kwangsu dengan sepatu haknya.
“Badanku memang yang paling kecil diantara teman-temanku.” Tiba-tiba Sungmo datang sambil membawa nampan berisi café latte dan jajangmyun. “Selamat menikmati.” Sungmo tersenyum manis.
Wanita itu tidak berkutik beberapa saat. Ia baru tersadar dari lamunannya setelah sang pangeran pergi dari hadapannya dan membaca novel yang bertuliskan huruf jepang.
“Kau mau apa lagi? Pesananku sudah datang!” kata wanita itu sinis.
“Oh. Ada pesanan lagi?”
Wanita itu tersenyum manis. “Ada.” Kemudian senyumnya berubah menjadi senyum dingin. “Pergi dari sini! Kau merusak pemandangan! Besok-besok kau harus operasi plastik untuk menyempurnakan wajahmu.”
“Ya! Wajah ini kurang tampan apa? Aku juga punya abs! kau mau lihat?”
“Yaaaaaaa Romeo dan Juliet dataaaangg!!!!!” tiba-tiba Sungmo berteriak kecil sambil berlari setelah melihat sepasang suami istri datang membawa satu anak masing-masing.
Geonil langsung menjitak kepala Sungmo karena bertindak memalukan di restoran milik sendiri.
“Sekarang aku tamu disini. Sambut aku!” kata Geonil.
Sungmo menyeringai galak pada Geonil karena tidak diizinkan langsung menyentuh ‘Juliet’ di tangan Geonil.
“Oso oseyo… Silakan pilih tempat yang kau inginkan.” Ucap Sungmo cepat. Ia bersiap untuk menyentuh pipi anak perempuan yang sedang menggigit jarinya sendiri.
Sungje menatap gemas pada dua lelaki gila disebelahnya. Ia lalu memasuki restoran dan menuju ke meja yang masih kosong.
“Itu siapanya?” tanya wanita itu pada Kwangsu.
Kwangsu menatap wanita yang sama sekali tidak ia kenal tapi sialnya selalu dia yang mendapat giliran melayaninya.
“Yang mana?”
“Romeo dan Juliet.”
Kwangsu tersenyum kecil. “Dari dulu Sungmo memang menyukai roman kuno yang sudah bosan kubaca itu. Dan nama dua anak itu sebenarnya ingin dinamai Romeo dan Juliet. Dia berjanji kalau sudah besar—“
“Aku bertanya yang dimaksud juliet yang mana? Apakah si cantik yang… euwhh.. itu?” wanita itu menatap geli pada Sungje yang sedang duduk bersama seorang anak laki-laki.
“Kalau iya kenapa?”
Wanita itu mendengus kesal. Ia menyeruput café lattenya dengan kasar.
Kwangsu tertawa. “Kau percaya? Aigoya kau begitu bodoh. Kalau Julietnya dia pasti si autis itu sudah mendatanginya dan tidak mau berurusan dengan si tiang listrik kesetrum dirinya sendiri itu!”
“Kau suka sekali memberikan julukan untuk orang? Yang satu dipanggil pangeran upil, autis, lalu ada lagi yang dipanggil tiang listrik apa itu. Ck.”
Kwangsu mendengus kesal. “Aku sudah berapa tahun bersama mereka dan tidak ada salahnya kalau aku memberikan nickname untuk mereka.”
“Ada yang mau membeli! Sana pergi!” usir wanita itu.
“Cih dasar!” Kwangsu langsung menatap kasir dan sudah ada sekitar dua pasangan ingin memesan. Kwangsu mendengus kesal karena Sungmo malah asyik bermain bersama anak Sungje.

***

“Kau kenapa sih? Ini sudah 3 bulan lebih aku kembali. Kenapa kau diam?” tanya Geonil di tengah jalan. Ia tetap fokus dengan suasana jalan.
Sungje diam. Ia tidak pernah menginginkan ini lagi semenjak ia bersama Jihyuk untuk beberapa bulan.
“Aku minta maaf karena aku sangat bodoh dalam mengambil tindakan. Aku saja tidak sadar kalau aku dibodohi.” Kata Geonil.
“Semua orang memang paling gampang mengucapkan maaf. Karena hanya terdiri dari 4 huruf dan dua suku kata. Tapi bagi orang yang menerima ucapan maaf itu terlalu sulit untuk menjawabnya. Padahal hanya tinggal dijawab iya atau tidak.” Kata Sungje sambil menerawang ke depan.
“Jadi, apa jawabanmu?”
“Kesalahanmu itu terlalu berat untuk dimaafkan. Seharusnya orang sepertimu harus dimasukan ke penjara, bahkan neraka yang paling dalam.”
“Tapi ucapan maaf juga bisa mengangkatku ke tingkatan yang lebih tinggi, walaupun masih ada di bayangan neraka.”
“Tidak.” Sungje menghapus air matanya. Ia terlalu sakit hati untuk sekedar mengucapkan ‘aku memaafkanmu’.
“Uljjima.”
“Apa urusannya denganmu? Ini air mataku.” Kata Sungje.
“Itu juga bagian hidupku.”
“Bullshit!!” Sungje tersenyum mengejek.
Geonil menepikan mobilnya. Ia melepas sabuk pengamannya dan menghadap Sungje. Geonil sangat merindukan ini. Merindukan saat-saat ketika mereka berdua ada di satu mobil dan saling menatap. Dunia yang sempit pun berubah seiring kedipan mata mereka berdua yang penuh cinta. Tapi tidak sekarang.
“Hyung, berikan aku kesempatan.” Kata Geonil. “Berikan aku, satu saja. Aku akan memanfaatkannya baik-baik.”
Sungje menatap Geonil kesal. Ia tersenyum mengejek. “Kesempatan? Sekali lagi? Ck.” Sungje tertawa sinis.
Geonil mencoba meraih tangan Sungje. Tapi dengan cepat sungje menyingkirkan tangannya.
“Satu lagi? Jebal?” Geonil menatap penuh harap pada Sungje. Walaupun ini sudah keberapakalinya Geonil meminta kesempatan kedua tetap saja Sungje meresponnya begitu. Padahal yang ini lebih tulus. Geonil sudah berjanji pada dirinya sendiri dan juga Tuhan jika diberi kesempatan untuk mendapat kesempatan kedua ini.
“Hyu—“
“Kau tidak pernah tahu apa yang aku lakukan selama aku disini. Aku tidak bisa bahasa Jerman, aku tidak bisa memasak, aku tidak bisa melakukan semuanya sendirian. Aku tidak pernah berhenti berdoa. Aku selalu berharap Tuhan menolongku. Setidaknya mengirimkan seseorang yang baik hati untuk sekedar membantuku untuk melewati pembatas diantara hidup dan matiku. Aku sangat menderita. Aku tidak pernah menyerah sampai akhirnya aku menyerah karena tidak ada seorangpun yang dikirimkan Tuhan untukku. Aku mengambil pisau, tapi aku jatuh terduduk. Aku melihat tumpukkan kertas yang kau tulis dan kau buang begitu saja. Itu lirik lagu kan? Dan itu cerita tentang kita berdua kan? Aku berpikir kau sudah membuangku seperti kertas-kertas yang sudah terisi dengan cerita itu.”
Geonil termenung mendengar curahan panjang Sungje yang benar-benar dari hatinya. Hati Geonil teriris. Ia menyesal telah meninggalkan belahan jiwanya ini untuk keegoisannya sendiri.
“Aku hampir bunuh diri saat itu. Tapi kedua anakku dengan caranya menyuruhku untuk tidak membunuh diriku dan mereka. Merekapun ingin merasakan dunia. Itulah yang membuatku terus hidup sampai sekarang.”
Geonil menatap ke belakang. Dua anak kecil tak berdosa sedang tidur dengan pulasnya di jok belakang dengan pengaman sana sini. Dua anak itu masih sangat polos. Mereka tidak tahu, seperti apa keburukan sang ayah.
“Aku menginginkan kau disisiku sepanjang waktu. Aku sangat kecewa ketika pagi itu Jihyuk yang mengetuk pintunya. Aku tidak pernah menyapanya duluan karena aku ingin menjaga perasaanmu. Aku selalu menunggumu dan…” Sungje menyeka air matanya. “…aku menyerah. Aku tidak akan bisa bersamamu lagi.”
“Tapi…”
“Kau kembali lagi. Duniaku sudah indah ketika aku selesai melahirkan dua malaikat kecil itu. Tapi kau datang lagi, dan aku berusaha melindungi dua guardianku yang menemani manis pahitnya hidupku.”
“Terima aku lagi, Sungje-ah, terima!! Terima aku lagi!! Aku berjanji aku tidak akan menghancurkan duniamu! Aku berjanji aku akan—“
“JANGAN MENGUCAPKAN JANJI-JANJI ITU! JANJI ITU TERLALU MANIS UNTUKKU! CARILAH ORANG YANG LEBIH BAIK! KAU ITU SEMPURNA, KENAPA KAU MAU DENGAN ORANG BODOH SEPERTIKU? SANA CARI YANG LEBIH BAIK!”
“DENGARKAN AKU!! AKU BERBICARA SERIUS!! AKU AKAN MEMEGANG JANJI INI! TUHAN MENDENGAR KITA!”
“KAU PIKIR AKU TAHU ITU BENAR ATAU TIDAK? AKU SUDAH TIDAK PERCAYA LAGI PADA MULUT BUSUKMU ITU!”
“TAPI TIDAK BISAKAH KAU PIKIRKAN LAGI? AKU SUDAH MEMEGANG JANJI DENGAN TUHAN DAN AKU TIDAK BISA MENGINGKARINYA LAGI!”
Sungje dan Geonil sama-sama tidak ingat dimana mereka sekarang dan sedang bersama siapa. Yoochun dan Yoochan menangis keras mendengar pertengkaran yang sering terjadi antar dua orangtua itu. Geonil langsung membuka pintu dan keluar untuk masuk melalui pintu belakang. Sungje hanya diam dan tidak berusaha untuk menenangkan mereka berdua.
“Susu… Dimana susu? Ah ya, tunggu appa buatkan.” Kata Geonil setengah panik.
Tangis dua anak itu makin keras. Geonil tambah panik melihat tidak ada persediaan susu. Sedangkan Sungje tidak berkutik dari bangku depan.
“Sssstt… Anak baik. Nanti menangisnya dilanjutkan lagi ya. Sekarang sedang dijalan.” Kata Geonil sambil mengelus punggung dua anak itu.
Geonil menatap Sungje yang masih saja dengan posisi itu. Akhirnya Geonil menggendong dua anak itu dan membawanya keluar menikmati udara musim semi yang menyejukkan. Tangis dua anak itu pun berhenti.
“Tidakkah kau hanya menginginkan mereka berdua? Kalau iya, ambillah mereka dan pergi dari hidupku.” Gumam Sungje sambil menangis.

***

Sudah pukul 2 malam. Tapi Sungje masih belum bisa memejamkan mata. Ia keluar dari kamarnya untuk menikmati udara bebas dari kekangan Geonil.
“Sungje hyung? Kau belum tidur?” tanya Jihyuk yang ternyata sedang asyik memakan ramen sendiri.
Sungje tersenyum. “Aku tidak bisa tidur.”
“Pasti kau lapar. Mau kubuatkan lagi?”
Sungje menggeleng. “Tidak perlu.”
Jihyuk tersenyum lebar. “Kalau begitu makan denganku saja.”
Sungje menggeleng. “Sudah kau makan saja. Aku mau keluar.”
“Tunggu!” Jihyuk langsung menghabiskan ramennya secepat kilat. Tanpa menaruh pancinya kembali ke dapur dan mengikuti Sungje keluar.

***

Kwangsu tiba-tiba terbangun setelah memimpikan sesosok anak kecil yang sedang meminta uang padanya. Ia agak geli kalau mengingat sosok anak kecil yang ternyata anak jadi-jadian itu.
GREP!!!
Tiba-tiba tubuh Kwangsu kaku. Tidak bisa digerakkan. Bukan. Bukan karena Kwangsu sakit atau malaikat sedang mencabut nyawanya. Tapi karena…
“Hyung, bogoshippo…” ucap orang yang tiba-tiba memeluk Kwangsu itu.
Kwangsu menganga lebar. “Ha?!!!!” pekiknya kaget.
“Kapan kau menemaniku lagi, eoh?” tanyanya lagi. Suaranya parau. Pastilah orang itu sedang memimpikan seseorang dan terbawa sampai ke dunia asli.
“Ck. Ngigo ini orang!” kata Kwangsu. Ia berusaha untuk lepas dari tangan kekar itu.
“Mau kemana lagi hyung? Disini saja. Temani Momo-mu yang selalu menjahilimu…” katanya lagi.
Kwangsu mengernyit heran. Sebenarnya siapa yang sedang dia mimpikan? “Aku memang lebih tua darimu. Tapi hanya 2 bulan kok! Tidak perlu panggil aku hyung! Lepaskan!”
“Kau hampir 3 tahun lebih tua dariku hyung…”
“Aigo.. ini orang benar-benar mengigau!” Kwangsu menggaruk kepalanya.
“Hyung, aku benar-benar merindukanmu. Kapan kau mau pulang? Aku menunggumu…”
Kwangsu mencoba menatap wajah Sungmo yang sedang tertidur itu. Dengan susah payah akhirnya ia bisa mengangkat kepalanya dan melihat wajah itu. Wajah polos dengan ketampanan sekaligus kepolosan yang tiada tara.

?!!!

“Kwangsu-ya, kau memikirkan apa?!!!” gumam Kwangsu pada dirinya sendiri.
Ia kembali melihat wajah Sungmo. Wajah itu terlihat sangat tenang. Itulah wajah yang paling sering ditampilkannya di tv. Tapi… kenapa Kwangsu baru melihat sisi lain dari wajah tampan itu?
Sungmo kembali menjadikan Kwangsu guling. Tapi Kwangsu diam. Ia malah menikmati setiap sentuhan di kulitnya dari Sungmo.

DEGDEGDEGDEGDEGDEG

“Pangeran….” Gumam Kwangsu lagi. “Sepertinya ini memang pangeran…”
“Aku memang pangeran.” Balas Sungmo. “Dan aku boleh melakukan apapun padamu..” Sungmo meraba tubuh atas Kwangsu yang tidak tertutup apa-apa.
“Heeeyy!!!!!”

***

“Aku mengajak Yoochan dan Yoochun jalan-jalan dulu ya! Boleh kan?” kata Geonil sekalian meminta persetujuan.
Sungje mengangguk lemas. Ia tidak tahu apa yang harus dikatakan. Seharian ini ia hanya diam. Tidak menyapa siapapun. Termasuk Geonil yang selalu ada di sisinya.
“Kau sakit?” tanya Geonil yang sedang memindahkan Yoochun dari box bayi ke kereta bayinya.
Sungje menggeleng.
“Ada masalah?” tanya Geonil lagi.
Sungje kembali menggeleng.
“Wajahmu terlihat lesu. Kau sebenarnya kenapa?” tanya Geonil untuk keberapakalinya di hari ini.
“Aku tidak apa-apa. Sudahlah ajak saja dua anakmu jalan.” Kata Sungje datar.
Geonil menghela nafas. Ia mengeratkan pengaman di pinggang kedua anaknya dan bersiap membawa anak-anaknya jalan-jalan sore.
“Ya sudah. Aku berangkat.”
BLAM!
Sungje baru sadar kalau Geonil membawa dua anaknya pergi. Perasaan tak enak pun muncul. Jangan-jangan Geonil malah membawa keduanya ke Korea dan mereka berdua hidup dengan ibu tiri yang sudah dipilih keluarga Geonil untuk anak kesayangannya itu. Kalau ibu tirinya baik Sungje memaklumi. Tapi kalau ibu tirinya ternyata jahat? Ya Tuhan!!
Sungje langsung berdiri dan berlari membuka pintu dengan paksa. Tidak ada satupun orang di rumah itu. Sungje berlari keluar. Mencari tempat yang mungkin menjadi tujuan Geonil untuk mengajak anaknya jalan-jalan. Taman bermain. Ya, itu.

***

Di tempat lain, Kwangsu tertegun melihat wajah yang tadi malam dilihatnya dari dekat. Wajah itu terlihat misterius. Memang misterius sih. Orang itu tidak pernah mau menampilkan semua kemampuannya dan merahasiakan semua itu dari publik.
Yoon Sungmo…
Entah kenapa daritadi hanya dia yang dipikirkannya. Semua ucapannya tentang pangeran upil, autis, sok cool dan segala nickname tak jelas yang dipilihkannya untuk lelaki itu berbalik ke dirinya. Sungmo bukan orang yang seperti itu.
“Lho? Sungmo kemana?” tanya Kwangsu kalap.
Daritadi sebenarnya ia melihat ke arah kasir. Tapi kenapa tiba-tiba Sungmo menghilang? Ya Tuhan, jangan bilang dia hantu! Kata Kwangsu dalam hati.
“Daritadi kupanggil!” seseorang memukul kepala Kwangsu dengan buku catatan kecil yang sering dibawa pelayan untuk mencatat pesanan.
“AAAAKKKK!!!” Kwangsu mengerang pelan. “Sakit ta…hu…” Kwangsu kembali tertegun melihat wajah itu.
“Ya! Aku masih normal!” kata Sungmo sambil memukul wajah Kwangsu dengan buku catatan kecil tadi.
“Eh? A.. Aku juga normal!” kata Kwangsu kalut.
“Makanya kenapa kau melihatku seperti itu? Cepat kerja! Jangan menganga seperti itu!” Sungmo memasukkan serbet ke mulut Kwangsu yang menganga.
“mppphhh……..ahhh!!!” Kwangsu langsung melepaskan serbet itu dari mulutnya. “Sial kau!!”
Kwangsu menggenggam serbet kecil itu. Ia lalu tersenyum sendiri. “Yang penting bekas Sungmo. Hihihi..” ucapnya sinting.

***

Tidak ada! Tidak ada sosok ayah dengan dua putra dan putri di kereta bayi yang sama! Sungje kalut. Ia tidak menemukan tiga sosok itu.
Sungje kembali berlari. Pikirannya dihantui ketakutan yang sangat dalam. Kalau ternyata Geonil membawa mereka pergi bagaimana?
Sungje kembali lagi ke rumah. Ia langsung membenamkan wajahnya di bantal dan menangis sekencangnya. Ia sangat takut. Benar ia sangat takut.
“Hyung…” suara berat seorang lelaki membuat ketakutan Sungje berkurang. Ia menyingkirkan bantal yang menutupinya dan kemudian menoleh ke arah lelaki itu.
“Kau menangis? Kenapa?” tanyanya panik.
Sungje menghapus jejak air matanya dengan punggung tangannya. Sebisa mungkin ia tekan rasa takutnya karena sekarang ada orang yang menemaninya.
Sungje tersenyum sambil menggeleng untuk menjawab pertanyaan Jihyuk. “Gwaenchana.” Katanya dengan suara serak.
“Kenapa kau sendiri? Geonil mana? Yoochan dan Yoochun mana?” tanyanya lagi.
“Molla.” Jawab Sungje. Ia menekan sakit di dadanya dengan menahan nafas. Itulah orang yang dicarinya daritadi.
Jihyuk tiba-tiba memeluk Sungje. Ia mengelus lembut punggung Sungje dengan lembut dan mengecup pucuk kepalanya. Sungje tidak berkutik. Ia hanya diam dan mencoba menikmati sentuhan lembut itu.
“Kalaupun tidak ada mereka, aku bisa menemanimu.” Kata Jihyuk. Ia lalu melepaskan pelukannya dan menatap Sungje tepat di kelopak matanya. “Tatap aku, hyung. Tatap aku, dan rasakan semuanya. Tatap aku dan perhatikan aku, apa yang harus kulakukan untuk menjadi penggantinya? Tatap aku dan berikan aku semua yang pernah kau berikan pada Geonil. Jebal.”
Sungje speechless. Setelah beberapa bulan dengannya ia baru menyatakan cintanya. Tapi kenapa baru sekarang? Kenapa ia baru menyatakannya setelah Geonil kembali ke kehidupannya?
Sungje mendorong Jihyuk kasar. “Saekki!”
“Hyung…”
“Kenapa kau jahat?”
Jihyuk berusaha mengatur nafasnya. Sepertinya orang didepannya ini bukan Sungje. Bukan Sungje yang lembut dan penuh perhatian.
“Ani, kenapa semua orang jahat? Aku benci kalian semua!!” Sungje melempar semua barang yang ada di dekatnya untuk melampiaskan kekesalannya. Ia juga melempari Jihyuk dengan semua barang yang dipegangnya.
“HYUNG, KEUMANHAE!!” teriak Jihyuk sambil terus melindungi dirinya dari pukulan benda-benda yang ada di kamar itu.
“Ini hukuman bagi kalian yang telah membuatku bingung! Ini hukuman bagi kalian yang menyakitiku!!”

***

“HYUNG, KEUMANHAE!!!” teriakan nyaring Jihyuk membuat Geonil kaget. Setelah memasuki rumahnya ia langsung meninggalkan dua anaknya di ruang tamu dan segera berlari ke tempat kejadian perkara.
Geonil kaget bukan main. Pemandangan di depannya ini benar-benar diluar dugaannya. Dengan sigap Geonil langsung menjauhkan Sungje dari Jihyuk.
“KENAPA KAU MENGHALANGIKU, BODOH? AKU INGIN MEMBUNUHNYA!!!!!” teriak Sungje sambil mengacungkan pecahan vas bunga.
“KAU GILA, HA?!” Geonil merebut pecahan vas itu dari tangan Sungje dan membuangnya ke lantai. Ia menatap Jihyuk yang sedang mengelap darah yang keluar dari dahinya. “Jihyuk-ah, bawa Yoochan dan Yoochun menjauh dari sini! Beritahukan yang lain jangan ke rumah dulu!”
Jihyuk menatap Geonil. “Keundae…”
“Palli!!! Aku tidak mau anakku tahu kalau ayah dan ibunya pernah bertengkar! PALLI!!!” kata Geonil memaksa.
Jihyuk mengangguk. Dengan susah payah ia berjalan. Kakinya memang tidak apa-apa. Tapi efek kaget inilah yang membuat kakinya gemetar.

***

“Jihyuk-ah, waeyo???” tanya Kwangsu panik ketika melihat Jihyuk yang mendorong kereta bayi sambil menangis ke arah restoran.
“Kau memalukan! Menangis kenapa pula?” tanya Sungmo yang langsung menghampiri Jihyuk. “Kepalamu kenapa pula?” Sungmo mengelap darah yang masih mengucur dari dahi Jihyuk.
Ada perasaan menusuk ketika melihat Sungmo mengelap darah dari dahi Jihyuk. Tapi ia buru-buru menggelengkan kepala karena masalah ini membuatnya penasaran.
“Ayo duduk dulu.” Kwangsu memilihkan tempat paling ujung yang sepi.
“Sekarang ceritakan.” Kata Sungmo.
Jihyuk masih belum bisa menghentikan tangisnya. Entah kenapa tiba-tiba ia ketakutan mengingat kejadian tadi.
“Ceritakan pelan-pelan.” Pinta Sungmo lembut sambil mengambil Yoochan dari box bayi.
“A-aku tidak tahu harus menceritakan darimana.” Kata Jihyuk.
“Ceritakan saja pointnya! Kenapa kau bisa sampai seperti ini? Dan kenapa kau membawa kabur anak orang!” balas Kwangsu.
Jihyuk menarik nafas dan mengeluarkannya perlahan. “Sungje hyung…… dia aneh.”
“Dia memang aneh!” kata Sungmo. “Lanjut!”
“Ketika aku pulang tadi, dia menangis. Lalu aku memeluknya, menenangkannya. Tapi kemudian Sungje hyung mendorongku, melempariku dengan barang-barang yang ada di kamar. Dahiku ini mendapat pukulan vas bunga. Kemudian ia mengambil pecahan vas bunga yang pecah itu dan bersiap membunuhku.”
“O-omona…” Kwangsu dan Sungmo melebarkan matanya mendengar cerita Jihyuk.
“Untungnya Geonil datang. Dia menyuruhku untuk membawa Yoochan dan Yoochun pergi agar anaknya tidak melihat semua itu.”
Sungmo dan Kwangsu mengangguk mendengar cerita Jihyuk.
“Katanya juga, kalian tidak usah ke rumah karena Geonil ingin menyelesaikan masalahnya sendiri.” Tambah Jihyuk.
“Mwo? Enak saja! Kita mau tinggal dimana?” Sungmo bersiap pergi. Ia berdiri dan menidurkan kembali Yoochan di kereta dorongnya. Lalu melepaskan celemek yang menempel di tubuhnya.
“Andwae!! Suasana benar-benar mencekam! Hanya Geonil yang bisa meredakan amarahnya!” Jihyuk menahan tangan Sungmo untuk tidak pergi protes.
“Kau percaya begitu? Sungje hyung begitu karena Geonil! Jadi keadaan akan lebih membahayakan kalau ada Geonil! Sudahlah aku ke rumah dulu. Kau dan Kwangsu jaga sini dan Romeo Julietku!” Sungmo merapikan rambutnya yang berantakan. Lalu bersiap berlari dan terpentok kursi.
Tanpa disadari Kwangsu merekam semuanya di memori otaknya. Sungmo yang tampan menjadi pahlawan disini…
“Waeyo?” tanya Jihyuk yang bingung karena tiba-tiba Kwangsu melotot ke arah lari Sungmo.
“Sungmo-ah, aku ikutttt!!!” teriaknya. Ia berlari mengikuti langkah kaki Sungmo.
Jihyuk menatap ke sekeliling. Hanya ada beberapa pelanggan, pelayan dan juga dua anak kembar. Dia ditinggal sendiri lagi.

***

TOK TOK TOK !!!
Geonil terlonjak ketika mendengar suara ketukan yang sangat keras itu 3 kali. Geonil mendengus pelan dan meninggalkan kasur pelan-pelan. Geonil memakai pakaian yang tercecer di lantai rumahnya dan menyelimuti Sungje yang tertidur pulas.
“Kenapa kalian kesini?” sambut Geonil jutek pada dua orang yang mengetuk pintu dengan brutal itu.
“Sepertinya kau yang membuat semua kekacauan ini. Kenapa kau masih mau mengacaukannya?” tanya Sungmo to the point.
Geonil mengernyit bingung. “Ha?”
“Semua kekacauan ini berawal darimu! Harusnya kau yang jadi korban, bukan Jihyuk!” kata Sungmo.
“Oh.” Geonil mengangguk. Ia bersandar pada pintu yang berdiri kokoh dibelakangnya. “Sebenarnya kejadian hari ini berawal dari Jihyuk. Ia menyatakan cinta pada Sungje-ku dan membuatnya bingung. Dia masih mencintaiku dan dia sudah memberiku kesempatan lagi.”
Sungmo dan Kwangsu membelalakkan matanya. Pasti Geonil ngelantur! Kata mereka dalam hati.
“Aku benar! Aku tidak melantur atau apalah yang ada di pikiran kalian. Dia sudah memberiku kesempatan kedua dan aku akan memanfaatkan semuanya.” Geonil tersenyum. “Mulai besok, rumah ini untuk kalian bertiga.”
“Ha? Maksudmu?!” tanya Kwangsu bingung.
Geonil tersenyum dan melipat tangannya di depan dada. “Aku, Sungje dan dua anak kembarku akan meninggalkan Jerman. Kami berempat akan membuka lembaran baru di lain tempat. Kuharap kalian tidak ikut campur.”
“Geonil-ah….” Sungmo menganga tak percaya. “Kau bahkan belum bertemu Yunhak hyung untuk menjelaskan semuanya sampai kita tidak punya pekerjaan di dunia hiburan..”
“Sampaikan saja salamku untuknya. Bilang saja, aku akan melupakannya dalam waktu dekat.”
“Memang kau ada hubungan apa dengan Yunhak hyung?!” Sungmo bersiap menonjok Geonil.
“Kenapa kau marah?” tanya Geonil. “Kau juga akan kulupakan. By the way, dimana anakku?”
“Kenapa kalian berkumpul didepan? Tidak didalam?” Jihyuk tiba-tiba datang membawa kereta bayi berukuran lebar.
Geonil tersenyum sangat lebar. Ia menghampiri kereta bayi itu dan melihat kedua anaknya tersenyum lebar ketika ditatapnya.
“Jihyuk-ah, gomapta sudah menjaga Sungje hyung ketika aku tidak ada.” Ucap Geonil tulus. Ia mengulurkan tangannya.
Jihyuk menatap bingung pada Geonil.
“Terimakasih untuk terus menjaganya.” Kata Geonil sambil tersenyum, tulus dari hatinya.
“Kau… tidak ada maksud apa-apa kan?” tanya Jihyuk. Bulu kuduknya berdiri. Pasti ada apa-apanya!
Geonil menghela nafas. “Aku akan meninggalkan kalian. Aku dan Sungje akan memulai hidup baru di tanah yang baru.”
“Geoni—“
“Maaf untuk semuanya. Aku sudah berjanji pada Tuhan, kalau aku diberi kesempatan olehnya aku akan menjaganya sepenuh hati. Aku ingin ia melupakan masa lalunya disini, termasuk kalian.”
“Kau….” Jihyuk menggeleng. “Andwae, Geonil-ah!”
“Tapi itu harus.” Geonil menghela nafas. “Aku tahu kita telah lama menjadi teman, bahkan kita pernah sekelas. Tapi untuk kali ini aku ingin hidup ini lebih menyenangkan dengan melupakan masa lalu.”
“Melupakan masa lalu bukan berarti melupakan teman!” ujar Kwangsu.
“Melupakan masa lalu bukan juga solusi dalam masalahmu ini.” Tambah Sungmo.
“Nah, kau dengar kan?” Jihyuk tersenyum lebar.
Geonil menghela nafas. “Okay. Aku mungkin tidak akan, maksudku tidak bisa melupakan kalian. Tapi sebisa mungkin aku akan menyingkir dalam hidup kalian.”
Sungmo dan Kwangsu mendekat ke Jihyuk dan Geonil. Mereka berdua menepuk pundak teman, sahabat serta saudara mereka yang akan menjalani kehidupan barunya.

***

“Pesawat kalian akan take off.” Sungmo menerjemahkan kata demi kata yang diucapkan wanita dalam pengeras suara itu.
“Aku juga tahu itu artinya apa!” kata Geonil dongkol karena daritadi Sungmo jadi orang sok pintar disini. Ia menerjemahkan ucapan orang yang ditemuinya. Dari penjaga parkir bandara, sampai wanita di pengeras suara itu.
“Ya sudah, kami berangkat.” Kata Sungje.
“Jaga dirimu, hyung.” Jihyuk menepuk pundak Sungje.
“Mianhae..” sesal Sungje karena kejadian kemarin.
“Kenapa minta maaf? Aku yang salah.” Jihyuk tersenyum manis lagi. “Jangan lupakan aku.”
“Tidak akan, babi jelek!” Sungje memeluk Jihyuk. Pelukan dari sahabat untuk sahabat.
“Channie, Chunnie, jangan lupakan ajusshi ne? annyeong!!” Jihyuk mencubit pipi kedua anak kembar GeonJe dengan gemas.
Geonil, Sungje beserta kedua anaknya yang digendong masing-masing berjalan menuju lorong untuk memasuki pesawat. Geonil menoleh sebentar, lalu melambaikan tangan.
“KALAU KALIAN MENIKAH, JANGAN LUPA UNDANG KAMI! ARASSEO?”
Dan untuk kedua kalinya, Geonil dan Sungje pergi ke tempat lain untuk menjalani kehidupannya. Persis setahun yang lalu. Mereka berlima. Tanpa leader yang tidak mengikuti perkembangan mereka.
“Padahal aku mau memberi kalian surprise. Eh kalian sudah datang saja.” Kata seorang lelaki yang tiba-tiba datang.
Semuanya menoleh dan membelalakkan mata. Terutama Sungmo. Ia mengucek matanya berkali-kali untuk memastikan apakah ini mimpi atau kenyataan. Ternyata memang benar. . . . . . .
“Yunhak hyung???????????”

****

END

TRAGIS KAN TRAGIS KAN AKHIRNYA!!
HAHAHA….
Maap endingnya najong amit amit gini. Gue lagi stres !! tiap gue belajar keingetan epep ini mulu!
Kalo gue lagi iseng, mungkin gue buat sekuel ff ini dengan pair beda😄 gue udah rencanain satu kopel tersohor di CSS buat jadi cast !!
Makasih bagi yang udah baca sampe akhirnya ini ff selesai. Hahahaha..
Ppyong~~~~

2 thoughts on “S.E.C.R.E.T (Part 7-END)

  1. Mikyou

    Haha akhirnya selesai baca ff ini semaleman,
    geonil ah kau buat ku galau😄
    .
    .
    Eh? Yunhak dateng? Gmn nasib kwangsu ya?? Kalo sungmo balik ama yunhak, kwangsu ma jihyuk buat aku aja, haha
    #ditimpuk author :>

    tp emang rada menyedihkan krn geonje hrs pergi, hiks T,T

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s