Evil Boyfriend

Title : Evil Boyfriend

Genre : comedy, romance, sho-ai, etc

Length : oneshoot

Cast : GeonJe + CSS members~

A/N : TOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOTTTTT~~~~ *niup terompet* SAENGIL CHUKKHAE MY LOVELY SUNGJE!!!!! AKHIRNYA HARI INI DATENG JUGA😀

Gue comeback lagi! Kangen ga sama gue? Ngga yah? Ck. Balik-balik gue punya epep GeonJe. Hakhakhak.

Ff ini gue persembahin buat Sungje yang lagi berulangtahun, dan juga buat Geonil yang tanggal 5 kemaren juga ultah!

Okay, DON’T LIKE DON’T READ! I DON’T LIKE BASHING! THIS IS JUST FICTION!

 

****

“Hyung, nanti malam ke lotte world ya. Jangan masuk dulu sebelum kusuruh masuk!”

“Ha?”

Sungje sedikit menganga mendengar ucapan misterius dari Park Geonil. Lelaki itu resmi menjadi kekasihnya beberapa hari lalu.

“Jam 9! Jangan terlambat satu menit pun!”

Geonil tersenyum kecil. Ia lalu masuk ke kamarnya dan menutupnya rapat. Geonil tidak suka diganggu jika sudah masuk ke kamarnya.

“Ciee yang mau diajak kencan.” Sindir Sungmo yang baru selesai membuat cappucino cupcake kesukaan Yunhak.

“Ciee yang ditinggal wamil!” balas Sungje lagi.

Sungmo mendengus kesal. “Yang penting masih bisa mengunjunginya walaupun tidak dua minggu sekali seperti dulu.” Sungmo mencibir. “Ehm by the way, mau kupilihkan baju yang bagus untuk berkencan di lotte world nanti?”

“Bukan kencan, Sungmo-ah!! Ishh anak ini!” Sungje menjitak kepala Sungmo.

“Aku dan Geonil sama-sama 87line. Kami berjiwa muda! Mana mungkin aku tidak tahu kalau itu namanya kencan? Ck. Nasib punya couple diatas umur.”

“Maksudmu apa, haa?” Sungje bersiap menjitak Sungmo lagi.

Sungmo tertawa kecil. Ia lalu mencicipi krim cappucino cupcake buatannya. “Ehm. Karena ini Jepang, pasti ada yang mengenali kita. Jadi kau harus mencari baju yang tidak sesuai dengan stylemu agar kau tak ketahuan!”

“Lalu Geonil….”

“Dia kan mau pakai kostum badut.” Sungmo menghela nafas.

“Haa?!!”

 

***

 

Geonil menepuk jidatnya keras. Kenapa Sungmo malah memberitahukan rencananya? Bisa-bisa gagal acara ini. Geonil pun langsung mengambil ponsel dan meminta orang yang dipercayainya untuk mencari kostum lain yang sangat berbeda.

‘Geonil benar mau pakai kostum badut? Kalau begitu aku akan kesana! Aku mau mempermalukannya!’ ucap Sungje sambil tertawa evil.

Geonil mendengus. “Sungmoooooooooo!!!!!!!!!!!!!” gumamnya kesal. “Kubilang Yunhak kalau kau selingkuh baru tahu rasa kau!”

‘Tapi seandainya dia tidak memakai kostum badut bagaimana?’ tanya Sungmo.

‘Aku tetap akan datang. Katanya ini kencan. Sepertinya aku belum pernah kencan dengannya memakai status ini.’ Jawab Sungje.

Geonil menghela nafas lega. Ia tersenyum senang. Setidaknya Sungmo tidak sebodoh itu juga untuk menyebarkan semua yang telah direncanakan Geonil untuk memberikan surprise pada Sungje. Yaah, walaupun ini agak melenceng dari yang namanya surprise.

 

***

 

Malamnya…..

 

“Hoshhh… hoshhh… hoshhh….”

8.59… 9.00

Sungje mengatur nafasnya setelah berlari dari hotelnya menuju lotte world. Ia daritadi disibukkan oleh para member yang meminta tolong ini itu. Untung saja ia tepat waktu.

“KENAPA KAU TERLAMBAT?!! YA!! AKU KAN MENYURUHMU JAM 9 SAMPAINYA!” teriak seseorang.

Sungje mencari sumber suara. Tidak ada pemilik suara itu.

“KENAPA KAU TERLAMBAT?!! YA!! AKU KAN MENYURUHMU JAM 9 SAMPAINYA!” teriak suara itu lagi.

Suara Geonil! Sungje baru ingat! Ia mencari lelaki itu sampai memutar balikkan badannya beberapa kali. Tapi tidak ditemui si pemilik suara itu.

“INI SUARA DARI HAPEMU TAHU!! CEPAT MASUK!!” teriaknya lagi.

Sungje melongo bingung. Ia tidak peduli. Kemudian ia masuk dengan nafas yang masih tersengal. Dan alarm yang diaktifkannya di handphone Sungje tepat waktu.

Di sisi lain, Geonil tersenyum penuh kemenangan. Rencananya membuat Sungje terlambat dan bingung berhasil.

Geonil kembali memakai topeng berwajah seram, tidak seperti yang direncanakannya kemarin. Ia memberikan Sungje pesan untuk menunggunya di tempat gondola.

Tring…

Pesan dari Sungje.

 

‘Ne’

 

Geonil mendengus kesal. Mengirim banyak huruf dibalas hanya dua huruf. Benar-benar menyebalkan!

 

***

 

Sungje menoleh kesana sini untuk mencari dimana letak tempat yang Geonil maksud. Setelah merasa menemukannya Sungje pun melangkahkan kaki kesana.

Tunggu!

Tempat ini sepi sekali. Hanya tinggal beberapa orang disini. Bulu kuduk Sungje berdiri. Tapi ia mencoba cuek dan mengikuti saja apa yang Geonil inginkan.

“Ya, aku sudah diatas. Kau dimana?” tanya Sungje di telepon.

‘Masuk ke kereta yang paling dekat.’ Jawab Geonil.

“Aku tidak punya tiket!”

‘Memang kau masuk kesini pakai tiket? Cepat masuk! Aku menyusulmu nanti!’

“Tapi kalau ada yang mau main juga bagaimana?”

‘Jangan banyak komen! Cepat masuk!’ teleponpun diputus Geonil.

Sungje mendengus. Ia lalu masuk ke satu gondola yang terbuka. Ia terus menunggu orang yang mengajaknya kesini.

“Tuhannnn jangan-jangan anak itu kesasar!” gumam Sungje sambil terus menggenggam iPhonenya. “Atau malah kepeleset di dekat komidi putar.”

Grekkk…

Pintu gondola ditutup. Gondola perlahan jalan. Sungje panik. Geonil belum datang. Kenapa sudah dijalankan saja. Ck. Mana gelap pula didalamnya.

Sungje merasa tubuhnya dipeluk seseorang. Tapi ia tidak bisa melihat wujudnya. Tangan si pemeluk itu mengelus pipi mulus Sungje. Sungje menghindar.

“Geonil, jangan main-main!” kata Sungje kesal.

“Grrrrr….”

“Geonil….” Sungje memundurkan sedikit langkahnya untuk menghindari kontak dengan si makhluk berwarna hitam itu.

“Grrr…..”

“Pasti Geonil! Geonil, aku tidak main-main! Ini di gondola. Kau jangan mengancam nyawaku!” Sungje menelan ludahnya dengan susah payah.

Treq!

Makhluk itu menyalakan senternya dan mengarahkan ke wajahnya yang seram. Wajah itu penuh dengan darah dan daging busuk. Sungje menggelengkan kepalanya untuk menghalau ketakutan.

“Geonil, ini konyol!”

Makhluk itu langsung mengunci ruang gerak Sungje. Sungje berteriak keras. Tapi apadaya. Ini di gondola. Dan gondola itu tiba-tiba berhenti…

“Jangan!!! Jebal…. Andwae…. Eommaaa!!!” Sungje mencoba menggerakkan tubuhnya tapi tidak bisa. Akhirnya ia membiarkan air matanya yang bergerak turun.

Makhluk itu perlahan melepaskan Sungje. Sungje langsung terduduk di lantai gondola. Lemas sekali rasa kakinya.

“Geonil…” ucap Sungje pelan.

Makhluk itu kemudian melepaskan topeng yang dikenakannya. Ia juga melepaskan baju tengkorak yang melekat di tubuhnya. Kemudian memeluk Sungje yang benar-benar ketakutan.

“Seharusnya kau tidak usah takut karena dugaanmu benar!” Geonil mengelus punggung Sungje lembut.

Sungje menggeleng. “Ani…”

Geonil mengeratkan pelukannya. “Mianhae membuatmu takut.”

Sungje menggeleng. “Tidak akan kumaafkan.”

Geonil melepaskan pelukannya. Ia lalu menghapus air mata Sungje dengan ibu jarinya. Geonil tersenyum. Gondola perlahan jalan kembali.

“Kau harus melawan ketakutan ini, hyung.” Geonil mengecup kening Sungje lembut.

Sungje mengangguk. Ia berusaha mengatur nafasnya yang tersengal karena ketakutannya sendiri. Ya, ia harus melawannya sekarang.

 

***

 

“Mau naik kincir?” tanya Geonil sambil menunjuk kincir angin yang masih bergerak walaupun tidak ada banyak penumpang seperti biasa.

Sungje menggeleng. “Kalau ada hantu lagi dan aku ada diatas bagaimana?”

“Aku lawan hantunya.”

Sungje tertawa kecil. Ia lalu meraih tangan Geonil dan menariknya untuk menaiki kincir angin itu.

“Anginnya enak!” sungje menghirup udara malam yang menyejukkan ini.

“Angin malam tidak baik untuk kesehatan. Jangan dihirup terus.”

Sungje mengangguk. “Arasso.”

Kincir bergerak makin kencang. Suasana di dalam kapsul kincir angin itu menegangkan. Tapi Sungje bisa menikmatinya.

“Setelah ini apa?” tanya Sungje setelah berteriak cukup lama.

“Nanti kupilihkan! Sekarang kau persiapkan diri saja.” Geonil tersenyum misterius.

“Senyummu itu mengerikan. Hii~”

“Ck. Senyum manis begini dibilang mengerikan.”

“Memang mengerikan. Seperti kau ingin menyekapku di kamar seharian.”

“………”

Kincir angin perlahan berhenti. Menurunkan beberapa orang yang tersisa di dalamnya. Geonil dan Sungje menjadi yang paling akhir turun dari kincir angin itu.

Sungje masih sempoyongan. Tapi mau tidak mau ia berlari karena ditarik Geonil ke tempat yang tidak ia tahu.

“Kencangkan sabuk pengaman kalian.” Kata si guide ramah.

Geonil mengecek kekencangan sabuk pengaman di tubuh Sungje dulu. Kemudian ia mengencangkan miliknya sendiri.

 

3… 2… 1… Triiiiing!!

 

Kereta roller coaster melaju kencang dengan kecepatan lebih dari 100 km per jam. Sungje berteriak keras sambil memejamkan matanya. Wajahnya pucat, kali ini Geonil mempermainkan emosinya.

“AAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!!” teriak Geonil dan Sungje bersamaan. Teriakannya mungkin sama, tapi sebenarnya artinya berbeda. Yang satu senang, yang satu ketakutan.

Kereta membelok tajam. Sungje meraih tangan Geonil yang terulur di depan wajahnya. Ia menggunakan tangan Geonil untuk menutupi wajah ketakutannya.

“Oh Tuhan aku membuatnya menangis.” Gumam Geonil yang merasakan tangannya basah karena air mata.

Setelah sekitar 10 menit berada diatas kereta roller coaster, akhirnya dua lelaki itu selesai menunaikan tugas di permainan itu.

“Uljjima…” Geonil memeluk Sungje lembut.

Tubuh Sungje masih bergetar. Keringat dingin masih merembes dari kulit kepalanya. Geonil merasa bersalah. Tapi ia tidak mau menyerah ditengah jalan untuk memberikan hadiah terindah di hari ini.

“Kita nonton film saja ya?”

“Aniya! Pasti film seram lagi. Iyakan?”

Geonil menggeleng. Ia menghapus air mata Sungje dengan lembut. “Kali ini film kartun 4D. mana ada film horror di tempat seperti ini, heum?”

Sungje mengangguk. “Ya sudah.”

Geonil menggandeng tangan Sungje. Tapi Sungje masih diam di tempatnya.

“Waeyo?” tanya Geonil.

“Aku pulang saja…”

“Andwaeyo! Kau sudah disini berarti kau harus mengikuti perintahku.

“Tapi habis ini kau pasti mengerjaiku!”

“Mengerjai apa lagi? Ya, aku memang jahil. Tapi aku juga tidak akan lebih jahil dari orang lain!”

“Daritadi kejahilanmu itu membuatku jantungan tahu! Sudahlah aku mau pulang!” Sungje melangkah beberapa langkah.

“Eh… eh… eh…” Geonil menarik tangan Sungje dan memposisikan tubuhnya tepat didepan Sungje. Ia tersenyum lebar untuk menarik perhatian Sungje. “Aku harus jadi apa untuk menghiburmu? Ah… jadi badut ya? Tapi kostum badutnya kan sudah dimasukkan semua.”

Sungje mendengus. Ia lalu tersenyum. “Berarti aku bisa pulang…”

“Ani…. Ani!!” Geonil menghela nafas. “Aku sudah lama tidak ke taman bermain. Sejak kita sibuk dengan Supernova, aku sibuk dengan drama, musikal, dan lainnya, aku lupa bagaimana rasanya bermain di taman bermain ini.”

“Rasanya sama saja!”

“Tapi bagiku tidak. Apalagi ini dengan orang yang kucinta. Ehm… rasanya jadi lebih manis dan indah…”

Sungje tersenyum. “Ah ya kau benar juga.”

Geonil tersenyum penuh kemenangan lagi. Ia berhasil menghasut Sungje untuk tidak pulang!

“Ya sudah. Ke ice skating saja yuk?”

“Aku kan tidak bisa.” Sungje menggeleng. “Kalau kakiku cedera lagi bagaimana? Nanti aku dimarahi habis-habisan olehmu karena pakai painkillers lagi.”

“Ya makanya jangan pakai painkillers!”

“Tapi kalau tidak citraku sebagai lead dancer…”

“Lead dancernya kan aku! Ayo cepat kesana! Jangan khawatirkan apapun!”

Sungje mengumpat pelan untuk Geonil. Tangannya sepertinya akan putus kalau ditarik-tarik terus seperti ini.

“Dingin ternyata.” Gumam Sungje.

“Yaiyalah.” Geonil mengambil sarung tangan di saku jaketnya. Ia lalu memakaikannya di tangan Sungje.

“Tidak terlalu dingin kan?” tanya Geonil.

Sungje mengangguk. “Ne.”

Geonil mengulurkan tangan kanannya. “Hold my hands and we’ll play.”

“Jamkkaman.” Sungje melepas satu sarung tangan di bagian kirinya. Ia lalu memakaikannya ke tangan kiri Geonil. Kemudian ia menggenggam tangan kanan Geonil.

“Terlalu hangat. Gomawo!” Geonil lalu membawa tubuh Sungje berseluncur di arena ice skating. Sungje sedikit kaget. Tapi ia bisa langsung menyeimbangkan tubuhnya dan mengikuti kemana arah gerak Geonil.

 

****

 

“Sudah selesai belum?” Geonil berbicara di telepon dengan 3 rekannya di hotel.

‘Tunggu sebentar. Kita sedang membuat krimnya untuk hiasan!’ Jawab Jihyuk yang menerima teleponnya.

“Jangan lupa kadonya.” Ucap Geonil pelan.

‘Sure bro. sudah ya kita sedang repot! Selamat menikmati kencanmu!’ Jihyuk langsung memutuskan hubungan telepon.

Klekkk…

Pintu toilet terbuka. Sungje keluar dengan wajah pucat. Padahal tadi Sungje bilang ia hanya ingin buang air kecil. Tapi… kenapa begini?

“Ya Tuhan kau kenapa?” tanya Geonil panik.

Sungje menggeleng. “Efek naik roller coasternya baru terasa sekarang. Hoekk..” Sungje kembali masuk ke toilet.

Geonil mengacak rambutnya kesal. “Seharusnya aku tahu kalau tubuhnya tidak sekuat itu!!”

Geonil mencari iPhonenya. Ia berencana membatalkan bagian terakhir dari rencananya karena kondisi Sungje ini.

“Ayo lanjutkan bermain lagi.” Kata Sungje yang ternyata sudah ada didepan Geonil.

“Kita pulang saja ya? Hyung pasti sakit—“

“Aniya! Ayo ice skating lagi! Seru tahu!”

Geonil menghela nafas. “Kucarikan—“

“Ayo ice skating lagi.” Sungje menatap Geonil dengan tatapan mengiba.

“N-ne..”

Sungje mengangguk. Ia lalu menarik tangan Geonil untuk dibawanya lari ke tempat ice skating.

“Eeeeeeh jamkamman!” Geonil menghentikan langkah keduanya. “Hyung benar tidak apa-apa?”

Sungje menjitak keras kepala Geonil. “Memangnya wajahku terlihat memprihatinkan? Ayolah kita ice skating lagi!”

Geonil mengangguk. Ia lalu melirik jam tangannya di tangan yang sedang di genggam Sungje.

 

11.45

 

“Mwo?” pekik Geonil pelan. Ia lalu menghentikan langkah Sungje lagi yang sudah hampir sampai ke arena ice skating.

“Waeyo?”

“Filmnya sudah mau dimulai! Kita ke bioskop situ saja yuk?”

Sungje mengangguk. “Yukkk!!!”

Geonil menatap wajah sumringah Sungje. Ia tidak mau membayangkan dulu apa yang akan terjadi jika Sungje mengetahui bahwa film yang ditontonnya ini akan lebih buruk dari yang sebelum-sebelumnya.

“Madagaskar? Aah aku lama tidak menontonnya!! Kajja!” Sungje berjalan semangat ke dalam bioskop.

Geonil menghela nafas. “Ya Tuhan semoga dia tidak setakut tadi.”

 

Tring! Satu SMS masuk.

 

From : Kwangsu-kun

 

Semua beres! Kapan kami kesana?

 

Geonil tersenyum kecil. Sungje yang melihatnyapun penasaran dan ingin tahu apa isi pesan dari handphonenya.

“Pelit!” sungut Sungje ketika Geonil mengalihkan handphone itu dari pandangan Sungje.

 

To : Kwangsu-kun

 

Sekarang. Tunggu saja diluar. Nanti aku SMS lagi kalau filmnya selesai. Thankyou bro!

 

“Ada kacamatanya juga.” Sungje mengambil kacamata 4 dimensi itu di kursi itu.

“Hmm. Kau bisa memakainya?”

Sungje mengangguk.

Geonil pun mengambil kacamata itu dari atas kursi dan menunggu layar besar itu menampilkan film yang ditunggunya, bukan ditunggu Sungje.

 

>> Madagascar 3 <<

 

Sungje tersenyum senang melihat judul film itu. Setidaknya Geonil tidak menipunya lagi. Atau belum…

 

Baru beberapa menit film madagascar berjalan, film itu pindah haluan menjadi “Zombie’s Rebellion”

“Ahhhh!!!” Sungje menelungkupkan wajahnya di dada Geonil.

“Kau harus melihatnya hyung sayang…” Geonil menarik kepala Sungje untuk terus menonton film itu.

“Aniyaaa!!!!!! Kau menipuku lagi!!! Aaaaaa!!!!!” Sungje berteriak ketakutan mendengar backsound dari film horror itu.

“Coba lihat dulu.” Geonil menarik lembut kepala Sungje lagi. Kali ini Sungje pasrah. Wajahnya penuh air mata dan keringat dingin. Ia tidak suka berhadapan dengan film horror seperti ini.

“AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA AKU MAU KELUAR!!!!!!” teriak Sungje ketika ada adegan zombie menarik kerah manusia dan langsung memecahkan kepalanya dan memakan otaknya.

Sungje sempat melihat adegan terbunuhnya seorang anak kecil di tangan zombie yang kejam. Karena pengaruh kacamata khusus yang dipakainya Sungje merasa ia-lah yang dijadikan sasaran zombie berikutnya.

Sungje lemas. Ia benar-benar tidak ada tenaga untuk marah-marah lagi. Energinya terkuras hanya untuk tertawa dan menangis sepanjang hari.

Kemudian layar besar itu menghitam. Tidak ada gambar selama beberapa detik. Kemudian layar besar itu menampilkan rekaman beberapa orang yang dia kenal.

“Sungje hyuuuuuuuuuung!!!!!!!!” teriak mereka semua di dalam video itu.

“SAENGIL CHUKAHAMNIDA!! SAENGIL CHUKAHAMNIDA!! SARANGHANEUN KIM SUNG JE HYUNG.. SAENGIL CHUKAHAMNIDA! YEEEEE!!!” Kwangsu, Sungmo, Jihyuk dan Geonil bernyanyi bersama. Diakhir lagu Kwangsu dan Jihyuk meniup trompet dan melemparkan potongan kertas kecil.

“Mungkin ketika kau melihat ini kau sedang ketakutan!” Kwangsu yang pertamakali angkat bicara.

“Dan mungkin ketika kau melihat ini kau sudah dilamar oleh Geonil!” sambung Sungmo.

“Tapi yang pasti, ini hari ulangtahunmu! Saengil chukkhae!!!!!!!!!” Jihyuk kembali meniup trompet setelah menyelesaikan bagiannya.

“Hyung, saengil chukkhae ne. mianhae kalau hari ini kau lelah karena kukerjai habis-habisan. Maaf kalau hanya ini yang bisa kuberikan.” Geonil tersenyum manis ke kamera.

Sungje tertawa kecil. Dalam hati ia berkata, “Aku tidak bisa memaafkanmu secepat itu Park Geonil!”

Lalu video pun berlanjut dengan documentary foto-foto Sungje dari masa ke masa. Dimulai dari masa kecilnya yang masih terlihat chubby dan menggemaskan, sampai yang sudah besar. Sungje tidak menyadari kalau umurnya bertambah. Ia sudah tumbuh menjadi manusia sempurna sekarang.

Geonil menaruh tangannya diatas tangan Sungje. Sungje menoleh. Ia masih kesal dengan Geonil, tapi lebih berterimakasih pada evil magnae satu itu karena memberikan surprise yang paling parah dari beberapa perayaan ulangtahunnya yang lain.

“Saengil chukkahamnida! Saengil chukkahamnida! Saranghaneun Kim Sungje hyung. Saengil chukahamnida!” Kwangsu, Sungmo dan Jihyuk benar-benar datang dan langsung berdiri di depan Sungje.

“Saengil chukkhae hyung!” Kata Kwangsu.

“Make a wish dulu, lalu tiup. Kemudian bagikan kuenya!” sambung Sungmo.

Sungje mengangguk. Ia menegakkan tubuhnya yang lemas karena dipaksa nonton film horor yang sadisnya parah.

“Kue ini buatan kita sendiri lho. Kalau tidak enak ya… maaf.” Jihyuk nyengir kuda.

“Gomawo.” Sungje memejamkan mata. Ia lalu meniup lilin angka 27 dan beberapa lilin-lilin kecil. Setelah itu lampu bioskop menyala.

“Yeee!!! Potong kuenyaaa!!!!” Jihyuk semangat 45.

Sungmo memberikan pisau untuk memotong cake. Sedangkan Jihyuk mencabut lilin-lilin yang ada di atas kue.

“ Sini kupotongkan.” Geonil langsung mengambil alih pisau dan memotong cake itu dengan rapi. Ia lalu menaruhnya satu-satu di piring kertas yang telah disediakan.

“Yang pertama ini, untuk siapa?” tanya Kwangsu.

Sungje menatap ke sekeliling. Ia tidak tahu harus memberikannya pada siapa. Kalau ada ibunya tentu saja ibunya yang mendapat potongan pertama.

“Untuk….. untukku.” Sungje mengambil potongan pertama itu di tangan Sungmo.

“Wae? Kenapa bukan aku?” tanya Geonil tidak terima.

“Lagian kau mengerjaiku! Katanya tidak lagi. Ck.” Sungje dendam.

Geonil gondok.

Potongan kedua untuk Jihyuk yang selalu membuatnya tertawa dan bisa dibully setiap saat.

Potongan ketiga untuk Kwangsu yang sering membantunya di atas panggung.

Potongan keempat untuk Sungmo yang selalu membantunya melatih vokal.

Dan yang terakhir untuk Geonil. Geonil mendengus kesal karena ia tidak dapat yang pertama atau kedua.

“Jadi yang terakhir itu lebih baik dari yang kedua, ketiga, keempat, atau pertama. Jadi yang terakhir itu anugerah. Setiap orang lebih mementingkan cinta terakhir daripada cinta pertama, karena itu akan menentukan nasib cinta mereka.” Sungje menjepit potongan terakhir kuenya dan menyuapkannya pada Geonil.

“I will be the last for you?” tanya Geonil.

Sungje mengangguk. “Sure.”

“Thankyou.” Geonil membagi potongan kue itu dengan garpu kecil. Lalu menyendokkannya ke mulut Sungje seperti tadi. “Potongan pertama untukmu.”

“Mentang-mentang ada couplenya disini! Dua tahun lagi kau yang akan merasa sepertiku!” kata Sungmo yang sebenarnya ditujukan untuk Geonil. Entah kenapa ia iri melihat adegan ini.

“Sabar…” Kwangsu mengelus pundak Sungmo.

“Kalian enak bisa berdua wamilnya!” sungut Sungmo ikut-ikutan marah pada KwangJi.

“Berempat juga bisa. Kita kan 87liner…” balas jihyuk.

“Bukan ituuuuuu!!! Ahhh!!”

Jihyuk dan Kwangsu memaklumi. Sekarang biangnya sensitif dan moody itu Sungmo. Sejak Yunhak wamil Sungmo makin kacau dan ngelanturnya kelebihan jika berurusan dengan asmara.

“Kalian tidak memberikan kado untuk Je hyung?” tanya Geonil sambil menjilat bekas krim di sekitar bibirnya.

“Oh iya lupa.” Kwangsu, Sungmo dan Jihyuk sama-sama mengambil kado yang sudah dibungkus rapi.

“Ini dariku. Hope you like it!” Kwangsu memberikan kotak berukuran sedang pada Sungje.

“Tidak dare kan?” tanya Sungje sambil mengernyit sedikit.

“Aniya.” Kwangsu tersenyum sambil memberikan kode dengan tangannya agar Sungje membuka kado darinya.

Sungje membukanya dengan hati-hati. Ia lalu mengernyit bingung karena isinya sama sekali tidak masuk akal.

“Balsem hyung. Kalau kau merasa pusing karena Geonil kau bisa menggunakannya. Atau kalau kau sesak nafas kau bisa menghirupnya. Ehm, itu juga bisa membuatmu melek ketika harus latihan malam-malam. Tinggal oleskan saja di dekat mata.” Kwangsu tersenyum lebar.

Sungje balas senyum. “Pinter!” sindirnya.

“Sekarang dariku!!!” Jihyuk memberikan kotak yang berukuran tidak lebih besar dari kotak Kwangsu.

“Awas kalau aneh!” Sungje siap-siap bogem mentah.

Jihyuk menggaruk kepalanya. “Kuharap tidak aneh dimatamu.”

Sungje membukanya pelan-pelan. Di dalam kotak itu masih ada potongan kertas kecil yang menutupi kadonya. Sungje makin penasaran.

“Hahahahahaaaa!!!!!!!” Geonil tertawa keras melihat isinya.

Sungje menatap Jihyuk dengan tatapan membunuh. Ia lalu mengangkat kado dari Jihyuk yang lebih aneh dari kado Kwangsu.

“Ini apa, Jihyuk-ah? Ya Tuhan anak ini!!!” Sungje bersiap menjitak kepala Jihyuk. Tapi dengan sigap Jihyuk langsung berlindung di belakang tubuh Kwangsu.

“Itu…. Garam.” Jawab Jihyuk sambil menahan tawa.

“Ck kalau begini aku juga bisa beli sendiri.” Sungut Sungje.

“Terima saja hyung. Masih baik dia mau memberi kado pada orang yang sering membully-nya terus.” Geonil sedikit terkikik.

“Kau terlalu manis di usiamu ini hyung. Jadi, kuberikan garam agar tidak terlalu manis. Manis itu bisa bikin diabetes.” Kata Jihyuk masuk di akal. Tumben.

“Sekarang kado dariku!!” Sungmo tersenyum lebar sambil memberi kotak yang lebih kecil lagi dari Jihyuk.

“Ani! Jangan-jangan habis ini kadonya lebih aneh!” tolak Sungje mentah-mentah.

“Ya hyung! Mereka berdua kan tidak waras. Aku memberikan kado yang waras untukmu!” kata Sungmo tidak terima kadonya ditolak mentah-mentah.

“Sejak Yunhak hyung tidak ada kau juga ikut-ikut tidak waras!”

“Hyungg!!!!” Sungmo mendengus kesal.

Sungje tersenyum lebar. “Sini. Kalau tidak masuk akal seperti mereka tadi kusuruh kau makan pisaunya!”

“Okay siapa takut?!”

Sungje menerima kado dari Sungmo dengan angkuh. Ia lalu membuka bungkusnya yang kelewat simple.

Setelah melihat isinya Sungje memberikan death glare pada Sungmo. Ia memberikan pisau untuk memotong kue tadi pada Sungmo.

“Makan!”

“Kau lihat dulu kadonya!”

“Sudah! Ini lebih aneh!” Sungje mengeluarkan dua benda elastis yang ada di dalam kotak. “Untuk apa kau memberiku balon?”

“Mwo?!” Sungmo tertawa keras. Geonil bengong. Tapi akhirnya ia jadi yang paling keras tertawanya. Malah sampai guling-guling di lantai. Kwangsu dan Jihyuk juga ikutan tertawa.

“Yaaa!! Kenapa kalian malah tertawa?” tanya Sungje bingung. Kenapa malah pada kayak orang gila begini? Sepertinya Sungje harus menelpon rumah sakit jiwa untuk membawa pasien baru.

Geonil berdiri. Ia lalu menepuk pundak Sungje. Masih sedikit tertawa sambil memegangi perutnya. Tiga lainnya pun ikutan berdiri.

“Hyung, ini namanya kondom.” Kata Geonil.

“Haaa?!!” Sungje menatap lekat pada dua benda yang dikiranya balon itu.

“Ini untuk percobaanmu sebelum malam pertama benar-benar terjadi!” Sungmo berbisik. “Fighting!”

Sungje masih melongo. Ia tidak tahu harus melakukan apa. Apakah ia harus membunuh mereka satu-satu, atau hanya mengubur mereka hidup-hidup sekarang juga.

“Ya sudah. Kita tidak mau mengganggu kencan kalian. Terimakasih sudah mengundang kami di pesta ulangtahunmu!” Sungmo menepuk pundak Sungje dan Geonil.

“Dan kau, jangan sakiti Je hyung! Berikan pengertian padanya!” bisik Sungmo pada Geonil.

Geonil menganggukkan kepala. “Sip!”

Setelah melakukan special hi five pada 3 member lainnya, Geonil mengalihkan pandang ke Sungje yang masih bingung dengan kejadian hari ini.

Geonil memeluk Sungje hangat. “Tenanglah. Walaupun para bocah tengik itu memberikan banyak benda asing itu aku tidak akan melakukannya padamu sebelum kita benar-benar menikah.” Lalu Geonil melepaskan pelukannya.

Sungje menatap Geonil lekat.

“Dan seperti janjiku jauh-jauh hari, aku mau melamarmu di hari indah ini.” Geonil mengeluarkan kotak merah kecil dari saku jaketnya. “Would you be mine? Forever?”

Sungje speechless. Otaknya seperti lupa bagaimana cara bekerja. Dunia di sekitarnya seperti berhenti bergerak.

“Hyung…”

Sungje mengangguk. Ia menyetujuinya. Tentu saja menyetujuinya. Siapa yang tidak mau menjadi milik orang yang dicintainya?

Geonil tersenyum. Ia mengambil satu cincinnya dan memakaikannya di jari manis Sungje. Kemudian ia mengecup punggung tangan Sungje.

Sungje juga mengambil cincin satunya dan memakaikannya di jari manis Geonil. Kemudian ia tersenyum dan mengeluarkan air mata haru. Hari ini akhirnya datang.

“Saranghae.” Geonil memeluk Sungje erat. “Percayalah, aku akan membahagiakanmu.”

Sungje mengangguk. “Kupegang janjimu!”

Pada tanggal 17 November 2012, pukul 01:17, akhirnya hari ini datang. Hari ini memberikan banyak kebahagiaan.

“Teruslah di sisiku.” Pinta Sungje.

“Everything…” Geonil mengeratkan pelukannya. “Don’t leave me. I love you..”

 

****

 

END

 

Jujur loh, gue bikin ini sambil dengerin lagu davichi sama 4men yang can we love again dan gue gatau kenapa akhirnya jadi begini -___-

Gue harap lo pada komen!! Awas ga komen!! Gue ketekin atu-atu!😄 *boong deh*

3 thoughts on “Evil Boyfriend

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s