Innocent Life (Prolog)

Title : Innocent Life
Genre : comedy, romance, life, family, ooc *dikit*, etc
Length : Prolog of ?
Cast :
~ Jung Yunhak (CSS)
~ Ryu Hwayoung (Ex T-Ara)
A/N : Ini adalah prolog ff yang waktu itu gue tulis medit-medit karna lagi on hape dan gue bosen mau ngapa-ngapain -_-
Prolog ini jauh lebih banyak dan berbeda dari 3 prolog yang sebelumnya gue kasih di waktu itu >,<
Okay dinikmati saja dan berdoalah saya akan melanjutkannya😀

***

>>> Prolog <<<

Pagi itu sangat tidak biasa. Salah satu keluarga Jung yang sering sekali berpencar keliling dunia akhirnya bersatu! Bukan.. bukan. Ini bukan mermaidman dan barnacelboy yang ingin menyelamatkan bikini bottom. Ini adalah keluarga pengusaha yang sudah lama sekali tidak berkumpul di rumah ini, di meja makan ini, menyantap makanan ini, bertigaan, dan dengan suasana tegang karena jarang berinteraksi satu sama lain.
“Jung Yunhak,” kepala keluarga dalam rumah tangga itu mengucapkan nama pertama di pagi hari yang seharusnya indah itu.
Jung Yunhak, pria berusia 28 tahun itu menoleh ke arah ayahnya. Ia menelan potongan roti bakar yang sudah ada di tengah tenggorokannya itu dengan cepat.
“….kau tahu, saat ini aku sudah sangat tua,” Kata ayahnya dengan suara berat.
Yes! Pasti nih! Pasti! Yunhak bersorak girang dalam hatinya. Padahal ia tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya.
“…dan aku ingin mewariskan perusahaan ini untukmu, seperti janjiku dulu, dan karena kau anak satu-satunya,” Mr Jung menelan ludah.
Yes!! Akhirnya dateng juga!! Yunhak bersorak kegirangan lagi dalam hati. Jiwanya sekarang benar-benar seperti cheerleader yang bersorak kegirangan terus.
“Aku siap menjalankan perusahaanmu, abeoji,” kata Yunhak yakin.
Mr Jung tersenyum. Ia menatap anak laki-laki satu-satunya itu dengan bangga. Anak itu telah menyelesaikan kuliah ekonominya beberapa tahun lalu di Jepang, tanpa mengeluarkan biaya apapun karena anaknya sendiri yang mencari beasiswa dan dibiayai oleh pemerintah Jepang. Ia sangat bangga pada anak ini.
“Keundae…” ada syaratnya! Mr Jung seperti susah untuk mengucapkan dua kata ini. Ia takut kejadian seperti di sinetron-sinetron terjadi.
“…ada syaratnya,” dan akhirnya ia bisa juga mengucapkannya setelah beberapa kali meneguk minumannya. “Kau, harus menikah.”
“Mwo?!! Uhukk.. uhukk…” mata Yunhak melebar. Mulutnya menganga, jiwa cheerleadernya hilang. Hatinya tidak lagi bersorak karena telah kalah. Dan yang pasti ia tersedak, karena kata itu meluncur ketika ia sedang menelan kimchinya.
Kedua orangtua Yunhak menanggapinya dengan datar. Mereka sama-sama memasukkan kimchi ke dalam mulutnya dan menatap anak satu-satunya itu terbatuk karena tersedak.
“Kok nggak ada yang ngasih minum sih?” tanya Yunhak kesal pada kedua orangtuanya.
“Adegan seperti itu sudah biasa di sinetron. Kalau disuruh menikah sok keselek. Lebay!” kata Mr Jung santai.
“Tapi… Tapi… Ini beneran…” Yunhak ingin sekali menonjok sesuatu untuk melampiaskan kekesalannya. Masa bisa-bisanya ayahnya berpikir kalau Yunhak mengikuti adegan sinetron-sinetron yang doyan keselek. Ini benar!! Ayahnya berbicara ketika potongan sayuran itu melewati kerongkongannya. Tentu saja si otak meresponnya dengan tiba-tiba.
“Keundae, aku kan belum dekat dengan siapa-siapa. Jangan bilang aku dijodohkan!”
Mr Jung mengangguk. “Kau akan kujodohkan dengan salah satu putri kembar Tuan Ryu, namanya Ryu Hwayoung.”
“Aku tidak yakin dari namanya,” kata Yunhak.
“Dia sebentar lagi lulus. Jadi, kau harus membantunya belajar di ujian kali ini,” lanjut Mr Jung.
“Yassalam,” Yunhak menyandarkan punggungnya ke kursi.
“Kau punya cukup ilmu. Jangan pelit. Ilmu itu tidak ada gunanya jika tidak dikembangkan.”
“Ya… Ya… Ya. Keundae, aku akan dicap sebagai maniak wanita karena menikah dengan anak sekolahan sepertinya.”
“Tapi yang penting sebentar lagi dia lulus!”
“Terserah!!” Yunhak menelan kimchinya yang terakhir. “Aku tidak mau!”
“Ya sudah,” Mr Jung mengelap mulutnya dengan tisu yang selalu disediakan di samping piring. “Perusahaan ini tidak jadi untukmu.”
“Andwae!!!!!!! Ya, ya, aku akan terima itu!”

****

Ryu Hwayoung memasukkan jari kelingkingnya ke dalam lubang hidungnya dengan santai. Ia mengambil beberapa kotoran yang membuat hidungnya tak nyaman. Ryu Hyoyoung, saudari kembarnya, mengernyit kesal karena walaupun sudah hampir lulus saudari kembarnya ini tetap jorok dan tidak bisa bersikap layaknya wanita asli.
“Kau harus menghentikan kebiasaan jorokmu itu, Hwayoung!” kata sang ayah pada anak tertuanya.
“Ne….,” jawab Hwayoung.
“Kau harus berusaha menjadi istri yang baik untuk putra tuan Jung.” Petuah sang ayah lagi.
“Ne….,” jawab Hwayoung lagi.
“Dan kau harus menjadi wanita!” ibunya ikut nimbrung.
“Aku sudah menjadi wanita kok. Ini lihatlah, aku juga punya payudara!” Hwayoung membusungkan dadanya.
“Bukan itu!! Ya, Hwayoung-ah!!” Hyoyoung ingin sekali melempar saudari kembarnya itu dengan sepatu haknya.
“Waeyo? Aku memang dilahirkan jadi wanita kan? Nih!!” Hwayoung membusungkan dadanya lagi.
“Sudah jangan dipameri begitu! Pamerlah pada suamimu nanti!” kata Hyoyoung.
“Suami? Memang aku mau menikah? Dengan siapa?” tanya Hwayoung polos.
“Jadi….. Daritadi kau mendengar apa dari kami semua?!!!” teriak ayah, ibu, serta Hyoyoung geram. Mereka bertiga lalu menghujani Hwayoung dengan jitakan maut.
“Aku kan tidak tahu!! Setidaknya jelaskan dulu dong!!” Hwayoung kesal.

****

Tidak seperti gadis-gadis lain yang memberontak atau membuat reaksi over ketika dinikahi paksa, Hwayoung menurut saja jika ia diminta untuk membuka atau menutup matanya ketika sedang diberikan olesan kosmetik yang tidak pernah menyentuh kulitnya sama sekali. Hwayoung juga menerima ketika matanya diberi eyeliner yang mengharuskan ia membuka matanya terus sedangkan ada semacam pensil yang menusuk mata bagian bawah.
Bukan karena pasrah atau apa, tapi Hwayoung hanya ingin menuruti sedikit perintah dari kedua orangtuanya untuk menikah dengan orang pilihan mereka. Apalagi ia tidak tahu bagaimana rupa orang yang dijodohkan dengannya itu. Pernah bertemu, tapi Hwayoung lupa bagaimana bentuk mukanya.
Rambut pendek Hwayoung memudahkan para perias untuk mengatur rambutnya.
“Selesai,” Salah satu perias tersenyum senang melihat hasilnya. Hwayoung kini benar-benar terlihat seperti wanita pada umumnya, cantik dan elegan.
“Hwayoungie, kau cantik sekali…” Hyoyoung memeluk saudari kembarnya. “Aku iri padamu.”
Hwayoung mengelus pundak Hyoyoung lembut. “Taewoon pasti akan menikahimu sebentar lagi.”
“Padahal aku dulu berharap kita menikah bersama dan mempunyai anak bersama.” Kata Hyoyoung.
“Aku juga tidak akan punya anak secepat itu! Jadi, kita bisa mempunyai anak bersama.” Kata Hwayoung sambil mengelus punggung Hyoyoung.
“Hwayoungie….” Hyoyoung menangis terharu. “Aku harap kau berbahagia.”
“Nado…”
Suasana di ruang rias pengantin itu mendadak haru. Dua saudara kembar yang akan memulai hidup sendiri-sendiri itu terlihat sangat dekat dan tidak terpisahkan. Hwayoung mulai menitikkan air mata.

****

Hwayoung memasuki altar gereja setelah pendeta memberikan aba-aba untuk masuk. Seorang lelaki tampan dengan tuxedo putih itu telah menunggu pengantinnya tiba. Ia tersenyum manis, tapi Hwayoung tidak bisa menatap mata lelaki itu karena ia harus berkonsentrasi pada jalannya agar tidak jatuh. Maklum ini pertamakalinya memakai sepatu hak.
Jung Yunhak membantu Hwayoung naik ke atas mimbar. Hyoyoung yang bertugas mengangkat ekor gaun Hwayoung mencari tempat untuk duduk dan menikmati acara pernikahan ini.
“Taewoon oppa?” Hyoyoung menatap takjub pada kekasihnya yang tiba-tiba ada disampingnya.
“Kau seperti melihat setan saja,” jawab Taewoon sambil tersenyum manis.
“Katanya kau ada pemotretan!” balas Hyoyoung.
“Ssssst!!!!” beberapa orang menyuruh mereka diam untuk menikmati acara sakral ini.
“Jung Yunhak, bersediakah kau menerima Ryu Hwayoung menjadi istrimu, dan menerimanya dalam suka maupun duka, sampai ajal menjemput kalian?” tanya sang pendeta.
“Ya, saya bersedia,” jawab Yunhak tegas.
“Dan Ryu Hwayoung, bersediakah kau menerima Jung Yunhak sebagai suamimu, dan menerimanya dalam suka maupun duka, sampai ajal menjemput kalian?”
“Ya, sayang bersedia,” jawab Hwayoung pelan.
Tepuk tangan riuh menghiasi meriahnya ijab kabul itu. Semua orang senang, karena hari ini, sepasang anak manusia yang ditakdirkan bersama akhirnya berada di dalam ikatan suci bernama pernikahan.

***

“Kau kenapa?” tanya Jung Yunhak yang sedang menyetir menuju apartemen pribadinya pada Hwayoung disampingnya.
“Tidak apa-apa,” Jawab Hwayoung sekenanya.
“Kau menyesal menerima pernikahan ini?” tanya Yunhak lembut.
“Molla,” Hwayoung menghela nafas panjang. “Seharusnya aku dan saudari kembarku menikah bersama dan mengucapkan janji itu bersama tadi.”
“Lalu…. Kenapa tidak sekalian?”
“Entahlah. Kedua orangtuaku lebih memilihku untuk dijadikan alat perjodohan. Tapi itu lebih baik daripada Hyoyoung yang jadi korbannya. Dia sudah bahagia dengan kekasihnya.”
“Kau…. Apa punya kekasih?”
Hwayoung menggeleng. “Mana ada yang mau dengan perempuan jorok sepertiku?”
Yunhak tersenyum. “Ya… kau benar. Aku juga tidak mau sebenarnya.” Yunhak lalu memarkirkan mobilnya di space yang masih kosong.

***

TBC

Minimal 50 komen bisa kali😀 #plakk

4 thoughts on “Innocent Life (Prolog)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s