Innocent Life (Part 1)

Title : Innocent Life
Genre : comedy, romance, life, family, ooc *dikit*, etc
Length : Part 1 of ?
Cast :
~ Jung Yunhak (CSS)
~ Ryu Hwayoung (Ex T-Ara)
A/N : okay part 1 udah meluncur!! Adakah yang nunggu ff ini? Maap kalo ffnya kelamaan dateng + bkin penasaran (?) sebenernya ini ff dibuat dengan kesarapan yang tiada tara. Gue gatau ini ff mau dibawa kemana, dan gue pun terpikir buat jadiin Hwayoung ga polos lagi -_-“
Okelah silakan dibaca. Yang baik tinggalin jejak, yang jahat tinggalin postingan ini u,u  

***

Yunhak dan Hwayoung masih belum mengenal satu sama lain. Mereka berdua hanya diam dan kadang-kadang saling menatap. Setelah itu mereka tertawa canggung.
Handphone Yunhak bergetar dan mengeluarkan ringtone aneh nan menggetarkan gendang telinga. Lelaki itu lalu keluar untuk menerima teleponnya. Hwayoung mendengus kesal. Ia menatap layar handphonenya dan mendapati handphonenya mati daritadi karena lupa di charge.
“Nuguya?” tanya Hwayoung ketika Yunhak baru saja masuk.
“Ah, nae abeoji,” jawab Yunhak sambil mengunci tombol iPhone-nya.
“Oh.,” balas Hwayoung canggung. Ia tidak tahu harus melanjutkan pembicaraan kemana lagi.
“Abeojimu…. Mengatakan apa?” tanya Hwayoung.
Yunhak tersenyum manis. “Awalnya dia membicarakan perusahaan. Tapi akhirnya dia berteriak padaku.”
“Berteriak apa?”
“Katanya aku tidak boleh menyentuhmu dulu,” Yunhak menatap wajah polos Hwayoung yang canggung.
“Tapi tadi kau menyentuhku,” Kata Hwayoung.
“Ne?? onje?? Kapan aku menyentuhmu??” tanya Yunhak kaget. Ia takut kalau tiba-tiba dalam tidurnya mengigau menyentuh Hwayoung. Tapi nyatanya ia belum tidur, ia juga belum mabuk, bukan! Yunhak bukan tipe pria yang kuat mabuk. Jadi…
“Tadi saat di gereja kan kau membantuku naik ke podium. Kau menyentuh tanganku,” Jawab Hwayoung tanpa dosa.
Yunhak membelalakkan mata. Punggungnya ia sandarkan di sandaran sofa. Ia memejamkan matanya dan mencoba untuk tidak berteriak dan marah-marah pada wanita didepannya. Biar bagaimanapun gadis ini telah menjadi istrinya dan sudah merupakan tanggung jawabnya untuk menjaganya.
Hwayoung merasakan atmosfer yang tidak aman. Tapi ia tidak berani keluar dan melapor polisi kalau suaminya ini akan melakukan KDRT. Ia menunggu Yunhak menatapnya dan menjelaskan perkaranya.
“Kau….” Yunhak bersiap menjitak kepala gadis itu dengan keras untuk menyadarkannya. Tapi melihat wajah polos Hwayoung Yunhak tidak enak hati untuk menjitaknya.
“Tenang saja. Aku tidak akan mengatakan pada abeoji-mu kalau kau sudah menyentuhku,” Kata Hwayoung takut-takut.
Yunhak lalu tertawa. Ia baru menyadari kalau gadis ini benar-benar polos. Benar kata ayahnya kalau anak ini belum lulus sekolah. Pastilah masih polos.
“Kau tidak tahu arti konotasi dari menyentuh, eoh?” tanya Yunhak geli.
“Konotasi itu kata yang seperti apa?”
Yunhak menggelengkan kepalanya takjub. Tugasnya menjadi seorang suami dan juga penyimpan ilmu benar-benar harus dikerahkan untuk gadis polos ini.
“Konotasi itu kata kiasan.” Jawab Yunhak.
“Oh.,” Hwayoung mengangguk. “Kata kiasan itu kata yang bukan sebenarnya kan?”
Yunhak mengangguk. “Kau tahu makna yang bukan sebenarnya dari menyentuh?”
Hwayoung menggeleng.
Yunhak menghela nafas. “Jadi, menyentuh itu mempunyai artian denotasi dan konotasi. Yang kau maksud di gereja tadi itu artian denotasi, arti sebenarnya. Kalau konotasinya ya…. ‘itu’.”
“’itu’ apa?”
Yunhak benar-benar tidak tahu bagaimana cara menjelaskannya pada Hwayoung. Ia menghela nafas dan mencari cara untuk menjelaskan makna konotasi dari menyentuh.
“Kau tahu hubungan suami istri setelah menikah?”
Hwayoung menggeleng.
“Kau tahu istilah malam pertama?”
Hwayoung mengangguk. “Itu terjadi setelah menikah.”
“Nah! Kau tahu apa yang mereka lakukan di malam pertama?”
Hwayoung mencoba berpikir. “Emmmm…. Membuatkan kopi untuk suaminya dan mengobrol.”
Yunhak menghela nafas lesu. Gadis ini terlalu polos. Ia takut jika salah memberitahunya akan berbahaya, atau gadis itu akan takut padanya. Mana sebentar lagi usia Yunhak memasuki kepala tiga. Jangan-jangan Hwayoung akan melaporkannya dengan tuduhan dirinya menjadi om-om mesum.
“Okay tidak perlu dibahas lagi. Kau sekolah kan besok?” Yunhak langsung membalikkan pembicaraan.
“Iya,” Hwayoung mengangguk.
“Kamarmu yang disitu,” Yunhak menunjukkan kamar yang dimaksud.
“Ne,” balas Hwayoung. “Keundae, bagaimana kau bisa tahu aku masih sekolah?”
“Bahkan tanggal ulangtahunmu saja aku tahu!” Yunhak menghela nafas panjang. “Sana tidurlah!”
“Padahal namamu saja aku tidak tahu,” Hwayoung mengerucutkan bibirnya.
“Yang penting aku tahu namamu dan nomor handphonemu! Sudah tidur saja!!” Yunhak sedikit memaksa agar gadis itu tidur dan ia bisa memikirkan urusan pekerjaannya.
Hwayoung mengangguk. Ia berdiri dan berjalan ke kamar yang telah ditentukan Yunhak.
Yunhak menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa lagi. Ia tersenyum-senyum sendiri. Ia masih tidak percaya bahwa masih ada gadis SMA yang benar-benar polos. Hwayoung benar-benar tidak tahu apa yang dilakukan suami istri setelah menikah? Minimal arti dari malam pertama. Ya Tuhan…
Yunhak mengacak rambutnya pusing. Ia tidak tahu bagaimana reaksi gadis polos itu kalau Yunhak memberitahu arti ‘menyentuh’, ‘malam pertama’, ‘hubungan suami-istri’ atau apapun semacamnya.
“Chogiyo….” Tiba-tiba Hwayoung menyembulkan kepalanya dari balik pintu. Matanya sayu karena mengantuk.
Yunhak menegakkan tubuhnya. Ia menatap gadis itu lembut dan gentle seperti kebanyakan lelaki.
“Wae?” tanya Yunhak.
“Err… Apa kau akan tidur denganku?” tanya Hwayoung.
Yunhak menggeleng sambil tersenyum lembut. “Aniya. Kau tidur saja yang nyenyak.”
Hwayoung mengangguk. “Oke. Jaljayo.”
Yunhak mengangguk. “Neodo.”
Hwayoung kembali menutup pintu.
Yunhak menghela nafas panjang lagi. Ia menyalakan laptop yang sedaritadi didiamkannya diatas meja.
Sembari menunggu proses booting selesai, Yunhak berjalan ke dapur dan membuat kopi, santapan malamnya.
“Malam pertama…. Membuatkan kopi dan mengobrol…” Yunhak masih ingat ucapan Hwayoung itu. “Kupikir menikah tidak buruk juga.”

****

Hwayoung terbangun lebih awal pagi ini. Ini karena ia mendapat panggilan alam dan tidak kunjung menemukan kamar mandi. Ia ingin bertanya pada suaminya, tapi…. Lelaki itu masih tertidur nyenyak di atas sofa.
“Kalau ternyata dia tidur di sofa lebih baik denganku saja. Kasur itu terlalu besar untukku.” Pikir Hwayoung. Ia lalu kembali mencari kamar mandi di dalam ruang apartemen besar ini.
Setelah menunaikan panggilan alamnya, Hwayoung berjalan ke dapur untuk mencari makanan. Dari kemarin ternyata ia belum makan. Hitung-hitung sarapan untuk sekolah.
“Mwo? Jinjja. Hanya ada mie instan?” Hwayoung menggeleng bingung. “Dan kopi cappucino.”
Hwayoung menghela nafas panjang.
Hwayoung melihat ke arah jam dinding yang dipasang di dapur. Jam itu menunjukkan pukul 6 lebih 15 menit.
“Daripada tidak ada makanan!” Hwayoung akhirnya mengambil satu mie instan terkenal korea dan memasaknya.

***

Yunhak mencium bau yang enak di depannya. Mungkin ibunya sedang membuat spageti keju kesukaannya. Yunhak membuka matanya sedikit. Terasa sangat berat karena ia baru 2 jam memejamkan mata.
“Kau sudah bangun?” tanya Yunhak pada Hwayoung yang sedang menyantap ramyun di dalam panci sambil menonton infotainment di televisi.
Hwayoung menatap Yunhak dengan posisi sedang memasukkan mie ke dalam mulut. Ia mengangguk sambil mengunyah mie itu.
“Kau membuat makanan apa untukku?” tanya Yunhak. Ia duduk di sofa dan mengencangkan otot tubuhnya.
Hwayoung tertegun melihat sosok suami di depannya. Rambut lelaki itu berantakan, tapi terlihat keren. Kantung mata lelaki itu sepertinya sudah terlalu lama dipelihara, makanya terlihat besar.
“Wae?” tanya Yunhak sambil mengucek matanya. “Kau baru merasakan pesonaku?”
Hwayoung menggeleng. “Aniya. Aku hanya baru pertama kali melihat namja setampan ini setelah bangun tidur.”
Yunhak menghentikan aktivitas menguapnya ketika Hwayoung baru selesai mengatakan itu. Ia menelan ludahnya. Tampan? Yunhak tersenyum geli.
“Jangan geer! Ini karena aku baru pertamakali serumah dengan namja selain ayahku!” kata Hwayoung.
Yunhak berdiri dan duduk dibawah lantai tempat Hwayoung makan ramen dengan enaknya. Yunhak dengan enaknya merebut sumpit dan panci yang sedang dipegang Hwayoung.
“Kau sudah menjadi istriku. Tandanya kau harus berlaku layaknya perempuan,” Yunhak menurunkan panci itu.
“Kau orang ke-51 yang mengatakan itu padaku,” Hwayoung menelan mienya dengan paksa.
Yunhak menatap wajah polos Hwayoung. “Kau harus makan pelan-pelan. Kau tidak boleh berbicara ketika makan, dan kau tidak boleh memuji ditengah suapan mie-mu.”
“Ck.,” Hwayoung mengambil panci dan sumpitnya dan ingin memakannya lagi. Tapi dengan cepat Yunhak menurunkan panci itu kembali ke lantai.
“Begini,” Yunhak mengambil sumpit dan menjepit mie itu. Kemudian ia memasukkannya ke dalam mulutnya tanpa mengangkat panci itu dan anehnya tidak berantakan sama sekali. “Hmm… buatanmu enak juga,” kata Yunhak sambil mengunyah mie itu.
“Katanya tidak boleh memuji di tengah suapan mie,” cibir Hwayoung kesal.
“Kalau sedang mengunyah berarti tidak apa-apa kan?” Yunhak mengambil mie dan memasukkan kembali ke mulutnya. “Kalau sedang seperti ini baru tidak boleh.”
“Ya!!” Hwayoung mengelap kuah yang ditimbulkan dari mie yang baru masuk ke mulut Yunhak.
“Itu akibatnya kalau memuji ditengah suapan. Makanya, kau tidak boleh melakukannya,” Yunhak menyuap mie-nya lagi.
Hwayoung tertawa geli. Ia memegangi perutnya.
“Ya! Sudah!” Yunhak meminum kuah bekas ramen itu sampai habis.
“Kau menghabiskan itu?!!” Hwayoung menatap kesal ke arah Yunhak.
“Istri bertugas untuk membuatkan suaminya makanan. Jadi, kau buat lagi saja.”
“Aniya!!!!”
“Istri tidak boleh memukul suami!”
“Tapi lebih tidak boleh lagi suami memukul istri! Sini kau!”
Pagi itu akhirnya suasana berbeda menghiasi apartemen yang luas itu.
“Sudah setengah tujuh. Mandilah di kamarmu. Aku mandi di kamar mandi ini,” kata Yunhak setelah lelah berkejaran.
“Jadi di kamarku ada kamar mandi? Padahal tadi aku mengitari ruangan luas ini loh untuk mencari kamar mandi,” Hwayoung berjalan masuk ke kamarnya.
“Jadi…..” Yunhak menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal. “Jadi semalam di kamarnya…. Dia tidak melihat kamar mandi?”
Yunhak hampir pingsan di tempat.

>> sebulan kemudian <<

“Baru dua hari kemarin kujelaskan tentang ini, kenapa kau lupa lagi?!” Yunhak melemparkan kertas coretan yang Hwayoung pakai untuk mencari jawaban dari soal yang ada di buku paketnya.
“Katanya kau mengerti, kenapa sekarang lupa lagi? Tuhaaan…” Yunhak mengacak rambutnya sendiri dengan gemas.
Hwayoung menundukkan kepala. Sebulan ini ia merasakan hidup yang tidak beraturan. Yunhak memang tidak pernah melakukan kejahatan seksual padanya. Yunhak sebenarnya orang yang baik, dia tidak pernah mau ikut campur dalam hidup Hwayoung kecuali jika gadis itu meminta petunjuknya. Tapi, kalau untuk urusan pelajaran, terutama matematika, Yunhak menjadi malaikat penjaga neraka yang suatu saat bisa memasukkannya ke neraka.
“Begini lho, kau harus mengalikan ini dengan 100%, kemudian jumlahnya ditambah dengan bilangan ini, sudah hasilnya. Ini pelajaran SD, Hwayoung-ah!” Yunhak hampir saja menjitak kepala Hwayoung.
“Iya… Iya… Akan kucoba lagi,” Hwayoung mengambil buku coretannya lagi. Kemudian ia mencoret lagi. Tapi tetap saja hasil yang diterima salah di mata Yunhak.
“Ya Tuhan Hwayoung….” Yunhak hampir menjitak kepala Hwayoung.
“O-oppa…” Hwayoung menutupi kepalanya dengan buku paket matematikanya.
Yunhak luluh dengan tatapan polos itu. Ia merasa ia seharusnya memilih fakultas pendidikan dan mengambil jurusan pendidikan matematika agar ia diberitahu cara mengajari anak yang sama sekali belum mengerti matematika.
Yunhak menghela nafas. Kemudian mengajari dengan pelan pelajaran SD itu. Hwayoung mencoret lagi dan akhirnya mendapatkan hasil yang diinginkan Yunhak.
“Okay kau tidurlah. Sudah jam 11. mianhae,” kata Yunhak sambil menutup buku paket Hwayoung.
“Oppa…” Hwayoung menatap Yunhak polos. “Buatkan aku makanan. Aku lapar.”
“Kau sudah belanja?” tanya Yunhak.
“Ha? Memangnya bahan makanan habis?” tanya Hwayoung balik.
Yunhak bingung. Seharusnya ia tidak bertanya tentang ini kalau akhirnya pertanyaannya dibalikkan lagi.
“Okay, aku akan memasak nasi goreng. Kau disini ya?”

***

“Bye Hwayoung!”
“Bye oppa!”
Setelah kaca mobil itu mencuat naik dan menenggelamkan bayangan orang yang ada di dalamnya, Hwayoung berbalik badan. Ia tersenyum lebar dan sepertinya siap untuk ulangan matematika hari ini. Tentu saja berkat bimbingan suami tercintanya.
Sudah sebulan hubungan ini berjalan. Hwayoung nyaman bersama lelaki itu walaupun ia baru tahu kalau ternyata Yunhak berusia 10 tahun diatasnya. Tapi Yunhak sudah berjanji kalau ia tidak sebrengsek namja seumurannya yang hanya mengejar wanita untuk nafsunya. Yunhak sama sekali tidak berniat untuk itu, kecuali dengan orang yang dicintainya. Begitu katanya.
Yunhak orang yang baik, dan ia berjanji tidak mau ikut campur urusan cintanya. Kata Yunhak, kalau Hwayoung punya lelaki lain yang disuka, maka cintai saja dia. Tapi Hwayoung bingung. Mana ada yang mau dengan gadis jorok sepertinya? Dan juga sekarang ia sudah menikah walau pernikahan ini terkesan dipaksakan.
“Ciee yang sudah menikah!” Hyoyoung menepuk pelan pundak kembarannya.
“Unnie,” Hwayoung tersenyum manis. “hehe..”
“Enak ya yang diantar suami setiap hari,” kata Hyoyoung.
Hwayoung dan Hyoyoung berjalan bersama ke kelas yang sama.
“Lebih enak bersama orang yang dicintai,” kata Hwayoung.
“Memangnya kau belum mencintainya? Dia itu baik lho. Sayang kalau tidak dimanfaatkan.”
Hwayoung menggeleng. “Mungkin aku belum menemukan cinta sejati.”
“Yaa, adikku ini sudah mengerti tentang cinta sejati? Okay. Berarti Taewoon juga belum menjadi cinta sejatiku,” Hyoyoung tersenyum pilu.
“Waeyo? Hubungan kalian terlihat baik-baik saja?”
“Memang terlihat baik-baik saja. Kini Taewoon menjadi model majalah, dan tentunya disitu ada perempuan-perempuan yang cantik. Aku takut,” Hyoyoung menghela nafas. Ia meletakkan tasnya dengan lembut di atas meja.
“Keundae, Taewoon oppa kan mencintaimu.”
“siapa yang tahu dia mencintaiku? Mulut kan bisa berbohong.”
Hwayoung mengangguk. Mungkin Yunhak juga bisa berbohong. Tiba-tiba ia takut.

****

“Kenapa kau tidak menjawab salamku?” tanya Yunhak ketika melihat Hwayoung tidak membalas salamnya setelah ia pulang kantor.
Hwayoung menggeleng.
“Kau remedial lagi? Mana soalnya? Ayo kita bahas,” kata Yunhak. Ia menggantungkan jasnya di gantungan jas yang ada di dekat pintu masuk.
“Apa kau bohong?” tanya Hwayoung.
“Tentang apa?” tanya Yunhak balik. Ia bingung kenapa tiba-tiba Hwayoung bertanya seperti ini. Bohong apanya? Sepertinya Yunhak tidak pernah menceritakan legenda-legenda tak berguna yang tidak diketahui kebenarannya.
“Apa kau bohong soal kau tidak akan menyentuhku sebelum aku lulus, dan kau menikahiku untuk mengambil alih perusahaan? Apa kau mempunyai tujuan lain padaku?”
Yunhak menatap Hwayoung dengan tenang. Ia duduk di sofa depan Hwayoung. Gadis itu tidak mau menatapnya. Aneh.
“Ck. Kenapa kau bisa berpikiran seperti itu?” tanya Yunhak. “Siapa yang meracunimu? Mentang-mentang sudah tahu arti ‘menyentuh’.”
Hwayoung menatap Yunhak kesal. “YA!”
Yunhak tertawa. “Lalu apa yang membuatmu bertanya seperti itu? Memangnya terlihat aku sedang berbohong?”
Hwayoung menatap lelaki itu lagi. Sepertinya lelaki itu benar-benar baik dan jujur. Hwayoung menggeleng.
“Lalu kenapa kau bertanya itu?” tanya Yunhak lagi.
Hwayoung menghela nafas. Ia menceritakan tentang kejadian di sekolah tadi, tentang cerita saudara kembarnya tentang kekasihnya yang sudah 3 tahun menjalin hubungan dengannya. Ia menceritakan bagaimana Hyoyoung diperlakukan sebelum dan sesudah Taewoon mendapat pekerjaan sebagai model. Dan tentunya Hwayoung menceritakan tentang mulut lelaki di mata kembarannya.
“Oh jadi saudara kembarnya sendiri yang meracuni gadis polos ini,” Yunhak mengangguk. “Kadang mulut lelaki seperti itu. Lelaki bisa saja egois dan posesif. Jadi lelaki itu gampang. Ia limited edition, 1 banding 4. Lelaki akan memanfaatkan kesempatan itu untuk gonta-ganti pacar.”
“1 banding 4 maksudnya apa?” tanya Hwayoung.
“Perbandingan antara perempuan dan laki-laki adalah 1 banding 4. jadi, ada 1 lelaki diantara 4 wanita. Ya seperti itulah,” jelas Yunhak. “Lelaki itu punya jurus ampuh untuk mendekati gadis. Salah satunya dengan rayuan gombal.”
Hwayoung manggut-manggut.
“Setelah merayu, mungkin lelaki melihat gadis lain yang lebih sempurna dari gadis yang tadi dirayunya. Ia kembali merayu gadis itu dan dengan kata-kata yang sama seperti rayuan untuk gadis pertama.”
“Ketika lelaki menghamili perempuan, dan perempuan itu meminta pertanggungjawaban, lelaki bisa menggunakan mulutnya untuk menyangkal. Itulah jahatnya lelaki,” Yunhak menghela nafas sejenak. “Isi tubuh lelaki adalah hormon testosteron. Hormon ini yang membuat lelaki menyukai seks. Makanya lelaki pasti suka melihat gadis yang seksi. Entah seksi darimananya.”
Hwayoung mengangguk. Edisi kuliah tujuh menit ini akhirnya selesai.
“Jujur, kadang aku juga mengalami masa-masa aku ingin ‘menyentuh’. Tapi terlalu egois bagiku untuk menyentuh istriku sendiri yang belum lulus. Dan aku merasa sangat bersalah bila aku menyentuh gadis lain sebelum istriku.”
Hwayoung menghela nafas panjang. Ternyata kultumnya belum selesai.
“Okay. Sudah cukup penjelasannya, nyonya Jung?” tanya Yunhak yang melihat Hwayoung kebingungan dan jengah.
“Hmmm…”
“Masih marah ceritanya?” Yunhak menghela nafas. “Ya sudah. Aku ingin buat ramen ah..”
“Mau!!” teriak Hwayoung senang. Perutnya memang sudah lapar daritadi.
Yunhak tersenyum lebar. “Buat sendiri.”
Hwayoung mendengus kesal. “Nappeun neo, oppa!”
Hwayoung berjalan ke dapur mengikuti Yunhak. Tapi langkahnya terhenti ketika baru sampai di bibir dapur.
“Ramennya habis ya? Kenapa tidak bilang?!” tanya Yunhak.
Hwayoung bergidik ngeri. Ia langsung berlari ke kamarnya untuk menghindari amukan malaikat penjaga neraka ini.

TBC

7 thoughts on “Innocent Life (Part 1)

  1. Clipclap Rindae Doet Doet

    wkwkwkwkwk, keren thor..
    itu hwa polos atau apa sih..
    yg lucu waktu yunhak ngajarin matematika..😀

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s