Twins High School (Part 9)

Title : “twins high school”

Length : chaptered (9/??)

Author : LaillaMP

Main cast :

–       2wins Yoo a.k.a park yoo chun & park yoo chan

–       JungBro a.k.a jung yunhak & jung yunho #fiksiajaguejadiinkembar

–       JoTwins a.k.a Jo Kwangmin & jo youngmin

A.N : lama banget gue ga lanjutin ff ini. Pasti udah ga ada yang nunggu. Lagi juga ini ff kan Cuma buat pelampiasan u,u

Okelah silakan dibaca kalo masih mau. Liat chapter sebelumnya di kumpulan fanfic aja. Makasih :3

***

<< previous

“Gue tau ini mau lo, Park Yoochun.” Yoochan menyandarkan dirinya ke tembok sambil menaruh kedua tangannya di dada. “Tapi untuk kali ini, permintaan lo sepertinya belum bisa terwujud.”

“Kenapa? Sebegitu rendahnya gue dimata lo sampe—“

“Bukan.” Yoochan memotong ucapan Yoochun lagi. “Itu harapan gue beberapa tahun lalu. Mungkin gue dan lo sama-sama berharap sama. Gue pengen ulangtahun gue dirayain sekeluarga, natal dirayain bersama, menghias pohon natal, bagi-bagi kado natal, dan juga tahun baru. Tapi mungkin karna gue udah putus asa dan ga mau lagi berharap yang ga mungkin, jadilah tahun ini harapan gue berbeda.”

“Yoochan please!! Gue.. gue emang ga bisa janjiin apapun buat lo. Tapi… gue pengen sekali aja, Chan. Sekali! Yoochan… please?”

Yoochan menghela nafas. “Sorry.” Yoochan tersenyum kecil. “Gue udah ada janji. Kalo tahun depan gue masih bisa selamat, gue janji gue bisa rayain ulangtahun kita bersama.”

Yoochun duduk diatas kasur Yoochan. Kemudian ia menaruh tangannya diatas bantal Yoochan dan merasa ada suara seperti plastik yang ditekan. Yoochun meraba bawah bantal dan membelalak kaget ketika berhasil meraba benda itu.

“Kenapa?” tanya Yoochan santai.

“Lo… ini obat apa???” tanya Yoochun bingung. “Lo…?”

“Penyakit jantung kakek nurun ke gue.” Yoochan menjelaskan sedikit. “Dan ternyata kondisi jantung gue hampir sampe masa kritis, alias lemah. Jadi doain gue semoga gue bisa rayain ulangtahun tahun depan.”

>> Part 9 <<

Malamnya…

Kwangmin keluar kamar untuk sekedar menyapa Yoochan di kamarnya. Tadi ia melihat Yoochun beserta kedua orangtuanya datang. Tapi ia tidak tahu apa yang dibicarakannya.

“Baru mau samperin ke kamar taunya malah bengong disini.” Kata Kwangmin sambil terkekeh pelan.

Yoochan tersenyum lesu. “Yoochun sama orangtua gue kesini tadi.”

“Gue tau.”

“Kenapa baru sekarang?”

Kwangmin menghentikan isapannya pada lollipop di mulutnya. “Maksud lo?”

“Kenapa baru sekarang harapan gue dikabulin Tuhan? Gue udah capek nunggu dan putus asa baru mau dikabulin. Ck..”

“Ya bagus dong.” Kwangmin masih bingung dengan ucapan Yoochan. “Bukannya itu harus disyukuri?”

“Iya sih.” Yoochan menatap langit malam yang bertabur bintang. “Tapi gue udah ga butuh itu lagi.”

Kwangmin menghela nafas. Ia menatap Yoochan yang ada disampingnya dengan iba.

“Gue gatau sekarang gue hidup buat apa. Tujuan gue itu ga jelas. Dulu gue pikir gue hidup buat membahagiakan orangtua. Tapi akhirnya gue malah ngecewain dan mereka ga mau liat gue lagi.”

“Ga ada kata terlambat buat memperbaiki hubungan sama orangtua lo.”

“Tapi gue capek Kwangmin!! Gue capek nunggu dan kenapa mereka baru datang sekarang?!! Gue udah nyoba jadi anak baik tapi kenapa mereka ga tau? Kenapa Tuhan juga gatau? Kenapa Tuhan selalu nguji gue begini?!! Kenapa???? Kenapa???? Kenapa?????”

Kwangmin baru kali ini melihat Yoochan berteriak dan menangis putus asa. Kwangmin tidak tahu kalau beban gadis ini terlalu berat. Dengan tangan bergetar Kwangmin membawa gadis itu ke pelukannya. Membiarkannya menangis dan mengurangi bebannya. Kwangmin mengelus lembut punggung gadis itu. Mencoba menenangkannya dari segala beban yang ada.

“Yoochan,” Kwangmin menghela nafas setelah mengucap nama gadis itu. “Tuhan ga pernah ngasih cobaan yang ga bisa makhluk-Nya lewatin.”

“Tapi gue ga bisa ngelewatin!! Gue gagal… gagal.. gagal…”

“Nggak.” Kwangmin melepaskan pelukannya dan menatap gadis yang masih berlinang air mata itu. Gadis yang diam-diam rapuh dibelakangnya. “Lo belom gagal.”

Yoochan masih terisak kecil. Tapi dalam hati ia merasa lega karena masih ada orang yang berpihak padanya walau hanya satu orang.

“Nah, sekarang hapus air mata lo. Besok malem kita pergi ke pameran. Awas kalo lo nangis!” Kwangmin mengelus rambut Yoochan lembut.

Yoochan tersenyum. Ia menghapus air matanya dengan punggung tangannya. Lalu tertawa kecil menatap Kwangmin.

“Udah malem. Tidur gih.” Usir Kwangmin.

Yoochan mengangguk. “Lo juga.”

“Iya.” Kwangmin berdiri di sebelah Yoochan dan berjalan bersamaan.

***

Keesokkan malamnya….

Kwangmin tidak bisa berkedip melihat sosok didepannya. Gadis itu biasa saja. Hanya memakai kaus oblong yang ditutupi hoodie dan bercelana jeans serta memakai topi diatasnya. Sepatunya juga biasa saja. Sepatu hitam-putih converse yang mulai memudar warnanya karena terlalu sering dipakai.

“Kenapa?” tanya Yoochan galak.

Kwangmin menggeleng. “Ga papa.” Kwangmin tersenyum gaje. Ia lalu maju selangkah dan menutup serta mengunci pintu kamarnya.

“Lo kenapa liat gue begitu banget?” tanya Yoochan lagi.

Kwangmin menggeleng. “Ga papa. Emang kenapa?”

Yoochan menggeleng dan menyamakan langkahnya dengan Kwangmin. “Takut ada yang salah.”

“Tumben lo takut salah.”

Yoochan tertawa. “Maksud lo?”

***

“Mau cari komik apa?” tanya Yoochan sesampainya di pameran komik yang dipadati pengunjung.

“Gatau. Yang penting enak dibaca aja.” Balas Kwangmin.

“Kira-kira komik hentai ada gak?”

Kwangmin tertawa keras. “Ya adalah! Semuanya ada. Mau gue cariin? Atau gue praktekin?”

“Sial lo!” Yoochan menonjok keras pundak Kwangmin. “Eh itu ada komik diskon 70%! Cari yuk!”

Kwangmin tersenyum geli. Dimana-mana semua cewek sama! Suka diskonan! Ujar Kwangmin dalam hati.

“Masih penuh! Ntar dulu!” Kwangmin menarik Yoochan yang mau menerobos kerumunan orang yang berjajar di stand komik diskonan.

“Ih ntar ga dapet! Lo cari apa dulu kek daripada nungguin gue!” Yoochan bersiap menerobos lagi, tapi akhirnya malah ditarik Kwangmin keluar dari kerumunan.

“Itu komik-komik lama tau! Mendingan komik baru diskonan nih. Yaah.. Cuma diskon 10-15% sih.” Kata Kwangmin.

“Terserah deh.” Pasrah Yoochan sambil terus menatap plang bertuliskan “Diskon 70%”

“Udaah nanti gue ambilin plangnya deh kalo mau dibawa pulang. Sekarang tugas lo temenin gue nyari komik!”

***

“Sekarang ke tempat 70%!!!!!!!!!”

“Nanti dulu ah. Kalo tempatnya udah tutup baru kita colong plangnya.”

“Kwangmiiiiin, gue bukan mau plangnya!!!”

Kwangmin tertawa keras. Dibalas dengan tawa keras Yoochan juga. Semua pengujung pun menatap ilfeel pada mereka.

“Udah deh yuk. Cari komik terbaru tuh… disana. Seterah dah tuh mau cari komik apaan. Mau komik dewasa juga ada!”

“Komik dewasa udah sering gue baca! Bosen ah.”

“Kalo gue praktekin?”

Yoochan menyeringai kesal. “Lo pengen banget kayaknya praktekin sama gue? Tunggu gue jadi istri lo dulu baru deh. Hahaha..”

Kwangmin mendengus. “Mau banget gue kawinin?”

“Nggak deh yaw..”

Mereka berdua berjalan berdua sambil memegang plastik yang berisi beberapa komik yang dibeli di stand-stand berbeda.

“Lo pernah ke pameran komik begini?” tanya Yoochan.

Kwangmin mengangguk. “Sering. Kalo ada gue dateng. Mau ada duit apa nggak gue usahain buat kesini.”

“Kalo ngga ada duit lo ngapain aja? Liat doang?”

Kwangmin mengangguk. “Dengan terpaksa. Tapi kadang-kadang gue minta kerjaan sama pemilik stand stand itu. Bayarannya komik berapa jilid.”

“Wow…” mata Yoochan berbinar.

Kwangmin tersenyum. Ia menggandeng tangan Yoochan. Yoochan reflek menatap ke atas. Memastikan kalau ini memang benar Kwangmin yang menggandeng tangannya.

“Dulu gue inget banget waktu awal-awal gue ke pameran komik. Waktu itu orangtua gue lagi berantem, Youngmin sakit, keluarga ngurusin dia. Gue akhirnya jalan-jalan dan ketemu ada pameran komik ini. Gue liat-liat dan ga kepikiran buat beli. Terus ada seorang bapak yang minta gue buat lanjutin pekerjaannya karna dia mau ke kamar mandi. Gue menikmati banget dan ga sadar ada si bapaknya. Bapak itu terus ketawa. Gue malu banget karna udah berlagak penjual di stand jualannya.”

Yoochan tertawa. “Terus gimana?”

“Si bapaknya tetep nyuruh gue buat lanjutin. Katanya dia mau cari makanan. Yaudah gue jualin lagi. Lakunya banyak tuh. Terus pas bapaknya dateng lagi gue dikasih se-cup ramen sama air putih.” Kwangmin menghela nafas sejenak. “Habis itu gue diajak ngobrol sama bapak itu. Gue cerita masalah keluarga gue di hari itu. Akhirnya dia ngasih gue komik buatan anaknya yang ada di Jepang. Komiknya ga terkenal, tapi ceritanya bagus banget. Gue lupa taro itu dimana.”

“Ah elah! Judulnya apa?”

“Nah itu gue lupa!” Kwangmin nyengir kuda. “Nanti deh gue cariin. Ceritanya pas banget buat anak brokenhome kayak kita.”

Yoochan dan Kwangmin tertawa bersama. Mereka lalu ke stand komik lainnya untuk memenuhi bacaan mereka.

****

“Maaf gue Cuma bisa traktir lo ramen doang. Gue ga punya banyak duit. Hehe..” Kwangmin nyengir kuda.

Yoochan menggeleng. “Lo traktir aja udah enak kok. Ga perlu ngeluarin duit lagi gue.”

“Dasar cewek gratisan!”

TAKK!!

Yoochan melempar topinya ke kepala Kwangmin. “Gue punya harga!”

“Ya elah Cuma bercanda kok. Jangan dimasukin hati dong.”

“Tapi itu emang pantes dimasukin hati.”

Kwangmin menghela nafas. “Iya deh maaf. Oke?”

Yoochan mengangguk. “Iya ga papa kali.”

Dua ramen pesanan mereka datang. Kwangmin dan Yoochan langsung menyambutnya dengan antusias.

“Ramen disini enak banget!” kata Kwangmin setelah menelan ramen pertama.

“Iya. Lo sering?” tanya Yoochan sambil memasukkan ramen lagi ke dalam mulutnya.

“Ga sering. Kalo kebetulan ada duit aja gue beli.” Jawab Kwangmin.

Mereka berdua pun lebih serius untuk makan daripada berbicara.

“Abis ini kita kemana?” tanya Yoochan setelah ia menelan habis semua kuah yang ada di cup mie.

“Ke…. Eh ada pameran lukisan. Lo suka gak?”

Yoochan menggeleng. “Gue ga ngerti sama yang namanya lukisan.”

“Kita kan Cuma liat-liat. Ga perlu nebak temanya apa, pelukisnya siapa, tahun berapa, judulnya apa. Ck.”

“Tugas seni waktu gue SMP tuh!”

Kwangmin tertawa. “Nah makanya! Kesana sebentar aja deh ya?”

Yoochan menghela nafas. Ia paling benci ke tempat yang banyak lukisan. Menurutnya lukisan yang indah itu cukup lukisan yang berwarna datar dan tidak neko-neko.

“Emang ga ada lukisan monalisa asli. Tapi cukup kok buat diliat-liat keindahannya. Sekali lagi, ga usah nebak tema, pelukis, tahun dibuat, atau tahunnya!” kata Kwangmin untuk memprovokasi Yoochan untuk melihat ke pameran lukisan. Sebenarnya Kwangmin tahu kalau Yoochan sangat bodoh dalam urusan seni rupa. Kalau disuruh membuat gambar paling itu-itu lagi. Kalau tidak gunung yaa, air terjun. Cukup air terjun. Ditambah awan dan burung walet.

“Yaudah deh.” Ucap Yoochan akhirnya.

“Ntar kalo bosen bilang gue aja. Ntar kita ke tempat lain.” Kata Kwangmin.

Yoochan mengangguk. Akhirnya mereka sama-sama berdiri dan berjalan ke tempat pameran lukisan yang tidak jauh dari pameran komik, sambil membawa tentengan komik diskonan dan non-diskonan.

***

“Ini lukisan apaan? Lukisan gini aja kok dipajang.” Kata Yoochan sengit pada lukisan bermotif abstrak dengan warna yang tidak jelas dan saling bertabrakan.

Kwangmin menatap lukisan yang sedang diteliti Yoochan dari keindahannya. Kwangmin tertawa kecil melihat siapa pengarang dari lukisan ini.

“Gajah juga punya seni!” kata Kwangmin.

Yoochan mengernyit bingung.

“Liat deh. Ini yang bikin gajah Afrika, namanya Dumbo. Dia suka gerak-gerakin belalainya buat mainin rumput. Pas disuruh ngelukis dia bisa dan begini hasilnya.” Jelas Kwangmin.

“Tapi ini lukisan apaan? Ga jelas!”

“Justru karena ga jelas jadi ini dipajang!” Kwangmin melihat wajah kebingungan Yoochan. “Jadi, karena ini abstrak, banyak orang pengen tahu maksudnya apa. Siapa tau aja gajah itu memberikan pesan yang dibisikin Tuhan tapi dengan cara ngelukis. Kalo dia bersuara mana tau kita artinya apaan? Kita sesama manusia yang beda bahasa aja bingung artinya apaan.”

Yoochan mengangguk mengerti. “Oh… jadi lukisan abstrak itu mengandung arti?”

“Ga Cuma abstrak. Semuanya mengandung arti. Termasuk hidup kita. Tinggal kita aja gimana mengartikan hidup ini.”

Yoochan mengangguk. Ia lalu mengikuti arah kaki panjang Kwangmin yang menuju lukisan selanjutnya.

“Ini lukisan terkenal dari orang Indonesia, Basuki Abdullah.” Kwangmin memperkenalkan lukisan yang memang sudah ia kenal dari dulu.

Yoochan hanya mengangguk mengiyakan. Ia tidak tahu menahu tentang lukisan. Lagipula disini banyak sekali orang. Jangan-jangan kalau ia menyela sedikit nanti orang-orang pada marah.

“Elaah gue udah sampe sono lo masih disini.” Tiba-tiba Kwangmin menarik tangan Yoochan dan menggandengnya mesra.

Yoochan kaget. Tapi ia tidak tahu harus melakukan apa. Kalau melepasnya…. Sepertinya sangat sayang. Tangan Kwangmin terlalu hangat.

“Nih lukisan yang selalu jadi andalan lo. Air terjun bisu!” Kwangmin menunjukkan lukisan sederhana berbentuk air terjun yang tidak ada apapun lagi selain air yang mengalir.

“Lukisan kayak gini dipajang.”

Kwangmin menghela nafas. Begini nih ngomong sama orang ga ngerti seni! “Jadi, di dalam lukisan ini, pelukis menceritakan tentang hidupnya yang mengalir seperti air terjun. Terus… terus mengalir… Terlewatkan.”

Yoochan masih bingung.

“Pelukisnya kesepian.” Kwangmin mengangguk setelah berhasil menemukan hal yang menjadi maksudnya bercerita. “Pelukisnya hanya melewati hidup dengan melukis, sampai akhirnya dia meninggal karena komplikasi.”

“Pada akhirnya gue juga bakal meninggal karena komplikasi penyakit.”

“Hush!” Kwangmin menyalahkan dirinya sendiri tentang kematian. “Ga boleh ngomong gitu lagi ya, Yoochan!” ucapnya gemas.

“Tapi emang kenyataan.”

Kwangmin menatap Yoochan tajam. “Lo ngomong gitu sekali lagi, persahabatan kita sampe disini.”

Yoochan menundukkan kepala. “Maaf.”

Kwangmin mengelus rambut Yoochan lembut. “Gue maafin.”

“Abis ini mau kemana?”

****

“Gue mau roller coaster!!”

“Nggak, Yoochan!!”

“Kwangminnnn??”

“Nggak!!”

“Kwang??”

Kwangmin mendesah gila. Sudah berapa menit ia berdebat dengan Yoochan karena gadis itu keukeuh ingin naik roller coaster.

“Roller coaster bahaya!” kata Kwangmin.

“Yaudah rumah hantu?”

“Nggak!!” Kwangmin menggeleng keras. “Kalo lo dikagetin hantu gimana?”

“Terus apa? Masa Cuma beli popcorn sama minuman doang?”

“Komedi putar!!”

“Ga mau!!!!!!”

“Harus mau!” Kwangmin langsung menarik tangan Yoochan paksa dan memberikan tiket yang telah dibelinya.

“Sini aja.” Yoochan langsung menaiki kuda diatas komedi putar.

Kwangmin mengangguk. Ia lalu menaiki kuda disebelah Yoochan. Setelah memastikan seluruh penumpang menaiki wahana itu, pengendali komedi putar memutar tombol mesinnya, dan berjalanlah pelan komedi putar itu.

Kwangmin terus memperhatikan gadis disampingnya. Rambut gadis itu tergerai liar dan sedikit beterbangan karena komedi putar itu berjalan makin kencang dan angin malam juga berhembus lembut. Yoochan tersenyum ke arah Kwangmin. Kwangmin pun membalas senyumnya dengan lembut. Yoochan lalu kembali menikmati semilir angin malam itu tanpa mempedulikan Kwangmin yang sedaritadi merekamnya di dalam pikirannya.

“Gue baru tau rasanya seenak itu! Lain kali gue mau lagi ah.” Kata Yoochan setelah turun dari komedi putar itu.

Kwangmin tertawa kecil. “Perasaan tadi ada yang keukeuh bilang nggak deh. Siapa ya?”

Yoochan tersenyum lebar. “Gue tarik deh…”

“Tarik. Emang teh.” Kwangmin terkekeh pelan. “Eh, kita kemana lagi ya?”

“Capek nih. Duduk dulu deh.”

Kwangmin mencarikan tempat duduk untuk mereka berdua. Setelah menemukannya ia lalu menarik tangan Yoochan dan menggandengnya ke tempat yang dituju.

“Ke lukisan lagi yuk?” ajak Kwangmin.

“Nggak ah. Ngantuk. Mau pulang,” balas Yoochan sambil menguap lebar.

Kwangmin mengangguk. Ia melihat mata gadis itu yang tiba-tiba menyipit. Ia tersenyum lemah.

“Pulang aja ya, please?” pinta Yoochan.

Kwangmin mengangguk. “Oke.”

Kwangmin menggandeng tangan Yoochan dan keluar dari taman bermain. Ia berjalan ke halte bus yang terletak tidak jauh dari taman bermain itu.

Semenit kemudian bus itu datang. Kwangmin langsung menarik Yoochan masuk ke dalam bus. Kemudian mendudukkan gadis itu di sebelahnya.

“Kok gue ngerasa ngantuk banget sih?” tanya Yoochan untuk dirinya sendiri. Tapi terlanjur didengar Kwangmin.

“Yaudah tidur aja.” Kwangmin menyandarkan kepala Yoochan di pundaknya.

Yoochan mengatur nafasnya. Entah kenapa hari ini ia merasa lelah sekali. Mungkin karena seharian diajak Kwangmin mengitari pamern komik, galeri lukisan dan taman bermain.

“Kwang…” panggil Yoochan untuk sahabatnya ini.

“Hmm?” balas Kwangmin.

“Makasih ya.”

“Buat?”

“Zzzzz…”

Kwangmin menoleh sedikit untuk melihat keadaan Yoochan. Ia kemudian tersenyum kecil melihat gadis ini tertidur nyenyak.

****

Kwangmin menghela nafas panjang setelah menidurkan Yoochan ke atas kasur. Gadis itu langsung menyambut guling yang biasa dipeluknya setelah merasakan aroma kasur kesayangannya. Kwangmin tersenyum kecil.

Ia memandangi sekeliling kamar Yootwins. Kelihatan sama dengan kamarnya, tapi lebih berantakan.

Baru kali ini ia masuk ke kamar perempuan. Untungnya ini hari libur, jadi tidak ada yang mencurigai kalau Kwangmin masuk ke kamar ini. Lagipula ia tidak akan melakukan hal diluar batas dengan gadis lugu ini.

Perhatian Kwangmin jatuh pada sebuah lukisan di atas kertas berukuran A4. Lukisan itu tampak biasa saja, bergambar dua orang berwajah sama, laki-laki dan perempuan. Kwangmin mengerti ini adalah perumpamaan Yoochan dan Yoochun. Lukisan itu dibagi 4 bagian, pertama ketika bayi, lalu sekolah dasar, SMP, dan yang keempat adalah saat SMA. Kwangmin terus memperhatikan 4 lukisan dalam satu kertas itu.

Perumpamaan dari bayi hingga SMP membuat Kwangmin hampir tertawa keras, tapi ia lebih menyimpan rasa penasaran pada gambar terakhir. Dua saudara kembar itu tersenyum sambil bergandengan tangan dan dua orang itu sama-sama memegang kue kecil berlilin 1 di tangan yang masih bebas.

Kwangmin menoleh sebentar ke belakang, ke arah Yoochan yang masih saja tertidur pulas. Kemudian Kwangmin kembali melihat lukisan itu untuk mencari siapa pengarang lukisan ini sebenarnya.

Seingatnya baik Yoochan maupun Yoochun sama-sama tidak bisa menggambar. Mereka berdua sama-sama tidak antusias ketika disuruh menggambar. Mereka malah sering izin ke kamar mandi hanya untuk menghilangkan stress karena melihat gambaran-gambaran teman-temannya yang rata-rata bagus.

Kwangmin baru menyadari kalau ada tulisan kecil di pojok kiri kertas bagian belakang.

“Jika dunia ini adil…”

Dan Kwangmin mengenali tulisan ini. Ini tulisan Yoochan! Iya, benar. Ini tulisan gadis itu!

Kwangmin menoleh ke arah Yoochan lagi. Kemudian ia mendekati gadis itu perlahan. Kwangmin berjongkok sedikit, menyamakan tingginya dengan tinggi kasur itu dan menatap wajah lelah itu. Kwangmin menyibakkan poni Yoochan yang menutupi bagian matanya. Kemudian ia menghela nafas.

“Kenapa lo ga jujur aja sih? Ga capek apa munafik mulu?” kata Kwangmin sambil mengelus rambut halus Yoochan.

Kwangmin menatap jam tangannya. Tepat pukul 12 malam. Ia tersenyum manis sambil terus mengelus rambut Yoochan.

“Happy birthday, lovely Channie.” Kata Kwangmin lembut. Ia mendekatkan wajahnya ke wajah gadis itu. Kwangmin menahan nafasnya. Kemudian bibirnya sampai pada bibir merah Yoochan. Lelaki itu melumatnya pelan. Kemudian melepasnya lagi.

“Saranghae…” ucap Kwangmin tulus. Sangat tulus. Tapi sayangnya tidak terdengar oleh Yoochan. “Gue sayang lo…”

***

Yoochun baru saja membuka pintu kamar sambil menguap lebar kala mendengar suara terompet dibunyikan.

TOOOOOOTTTTT!!!!

“Saengil chukahamnida…. Saengil chukkahamnida…. Saranghaneun Park Yoochunnie… saengil chukahamnida…”

Yoochun tersenyum manis setelah lagu itu habis didendangkan. Yoochun mendapat pelukan dari semua saudara yang menengoknya di hari itu. Tidak lupa juga Yoochun mendapat tabokan yang sesuai dengan umurnya saat ini. Yoochun juga disiram air susu, dilempar terigu, dan disuruh makan brokoli.

“Happy birthday ya, sayang.” Ucap ibunya sambil memeluk Yoochun yang sudah berlumuran adonan kue, minus telor tentunya karena tidak diizinkan Mrs Park.

“Selamat ulangtahun ya, sayang.” Ayahnya juga ikut memeluknya.

“Makasih ma, pa…” Yoochun memeluk kedua orangtuanya mesra.

“Make a wish dulu dong!” Tante Farah membawa kue buatannya yang datangnya amat sangat telat.

Yoochun tersenyum makin lebar. Tante Farah membawa kue itu ke depan mata Yoochun. Yoochun menghela nafas. Kemudian ia memejamkan mata dan mengucapkan beberapa doa dalam hati. Setelah itu ia meniup lilin yang berjumlah 15.

“Yeee!!! Potong kue!!!” teriak sepupu-sepupunya yang ternyata udah kepengen sama kuenya.

Yoochun memotong kuenya dan memberikan potongan pertama pada kedua orangtuanya. Kemudian potongan kedua untuk siapapun yang cepat mendapatkannya. Yoochun sendiri tidak kebagian kue.

“Mandi dulu sana! Habis ini kita jalan-jalan! Oke?” Mr Park mengumumkan berita besar.

Semuanya bersorak dan langsung berebutan kamar mandi.

“Pa, kok kayak ada yang kurang?” tanya Mrs Park bingung.

“Ha? Kurang apa?” tanya Mr Park balik.

“Apa ya? Nggak tau nih…” Mrs Park bimbang.

“Oh iya! Kita belom pasang pohon natal. Biasa kan kita udah siap-siap biar malemnya tinggal pasang.” Mr Park menebak.

Mrs Park mengangguk. “Ah iya! Pantesan ada yang aneh! Iya pa, bener!”

Yoochun bengong.

“Chunnie oppa tidak mandi?” tanya Lola, sepupunya.

Yoochun mengangguk. “Ne. oppa akan mandi!”

***

PRIIIIIIIIIIT

“HAPPY BIRTHDAY!!!!!”

Yoochan dikagetkan dengan suara gak elit dari peluitan guru olahraga setelah membuka pintu. Berkali-kali pintu jatinya itu didiketuk dan ia merasa sangat terganggu mendengarnya. Ia ingin marah-marah pada sang pengetuk karena menurutnya itu sangat mengganggu. Ini kan hari libur! Tapi saat melihat yang terjadi diluar…

“Saengil chukahamnida… saengil chukahamnida… saranghaneun Park Yoochannie…. Saengil chukkahamnida… yeeee!!!”

Yoochan langsung disirem air teh, air putih, air susu, dan segala jenis air yang sedang dipegang 4 orang didepannya. Yoochan mendengus kesal, tapi tidak mampu marah karena kejutan ini.

“Happy birthday ya, temen seperjuangan!” Yunho yang pertamakali memeluk Yoochan.

“Thankyou Yunnie sayang…” Yoochan balas memeluknya.

“Happy birthday ya, Yoochan. Jangan bandel lagi! Malu tuh sama umur! Hahaha…” kata Youngmin sambil mengulurkan tangan.

“Makasih Minnieee..” Yoochan tertawa senang.

“Happy birthday sweetheart!!” Kwangmin memeluk Yoochan erat.

“Cikicieewww sweetheart? Kayak nama merek cokelat,” sahut Yunho merusak suasana.

Youngmin langsung menoyor kepala Yunho.

“Sweetheart kayaknya nama es krim deh,” Yunhak yang bertugas memegang kue ulangtahun ikut-ikutan ga jelas.

“Sweetheart itu judul drama!!” giliran Youngmin yang ga jelas.

Kwangmin dan Yoochan tertawa menanggapi ambigu tiga orang didepannya.

“Make a wish dulu dong, abis itu potong kue! Pegel nih gue megang ini kue!” kata Yunhak.

“Yaudah, masuk yuk. Berantakan sih.” Kata Yoochan.

“Lo yakin? Kita F4 nih alias cowo berempatan. Ga dikira macem-macem nanti?” tanya Yunho.

“Ada gue! Kalo lo macem-macem sama Yoochan, gue terjunin lo!” kata Amber yang tiba-tiba datang bersama kembarannya, Key.

“Lo ga pulang?” tanya Yoochan pada amber sembari melakukan special hi-five.

“Nanti. Gue ngerayain ulangtahun temen gue dulu ga papa kali,” Amber tersenyum tulus dan memeluk Yoochan. “Happy birthday, Yoochan. Makasih ya udah mau jadi temen gue.”

“Makasih Amber. Harusnya gue yang bilang itu. Makasih udah mau jadi temen gue. Lope deh!” balas Yoochan.

“Happy birthday ya. Kadonya nyusul ya,” kata Key setelah Amber melepaskan pelukannya pada Yoochan.

“Ga usah ga papa kali. Lo disini aja udah jadi kado, hehe. Eh ayo masuk. Dikira gue nelantarin anak orang diluar sini.” Yoochan masuk ke kamarnya duluan. Diikuti 6 orang dibelakangnya.

***

“Sorry ya gue ga punya persediaan minum atau makanan ringan. Lo telen ludah lo aja ya kalo keselek,” kata Yoochan dengan amat sangat menyesal.

“Kamprett!!” Youngmin melempar kacang yang ada di atas kue yang masih tersisa.

“Hahahaha!!” Yoochan tertawa polos. “Apa mau gue beliin dulu?”

“Slow aja kali. Gue suruh ibu kantin aja bawa minuman atau makanan. Lo pada belom makan kan? Gue traktir nih mumpung baru dapet duit!” kata Amber sambil mengeluarkan iPhone-nya.

“Alhamdulillah gue ga ngeluarin duit lagi!” kata Yoochan yang langsung menerima jitakan mesra teman-temannya.

“Halo ibu kantin? Mau pesen makanan dan minuman yang ada disitu dong buat… 7 orang…… dianter ke asrama G 26 ya…… makasih ibu kantin moah…” Amber menutup teleponnya disertai ciuman mesra untuk ibu kantin.

“Orang gila!” kata Yunhak.

“Modusin ibu kantin. Hahahah…” Amber tertawa garing.

“Maafin kembaran gue ya. Biasa obatnya abis.” Kata Key.

“Obat lo merk apa mber? Siapa tau sama kayak adek gue.” Yunhak melirik Yunho yang sedang senyum-senyum sendiri sama hapenya.

“Merk empat rebuan di toko A!” semua tertawa mendengar jawaban Amber.

“Jangan ketawa mulu. Nanti kotak tertawanya rusak!” kata Kwangmin.

“Bwahaahahaaaa spongebob!!!”

“Nanti ganti pake kotak tertawa spongebob!”

“Tapi anehnya kenapa spongebob masih bisa ketawa padahal kotak tertawanya udah dikasih ke squidward?”

“Kan punya cadangan. Waktu tangannya diputus aja masih bisa tumbuh.”

“Nah kenapa spongebob ga punya rambut sampe sekarang?”

“Pernah punya rambut deh kayaknya. Pas mau ngajak pearl kencan!”

“Yang nambah tinggi itu ya? Keren loh itu cara bikin alisnya!”

*okay kenapa ini anak-anak pada ngomongin spongebob?*

Oke karna ceritanya bakal panjang buat dijadiin part 9, mendingan sekarang kita TBC-in dan lanjut ke part bonus special Yoochan birthday. Mau dibaca monggo, kalo ngga ya ngga papa. Nanti part 10 udah ganti cerita lagi u,u

So, ditunggu aja ff yang ga pernah selesai ini. kkkk

2 thoughts on “Twins High School (Part 9)

  1. nisa6002

    Mian baru komen d chapter ini. Awal bca ff ini, jujur aku kurang suka. Tpi pas uda nemu konflik nya aku jdi kepo. Hehehe….
    Btw next chap nya cepetan ya.
    Dan ini ff berhasil buat aku nangis. Thanks
    Ff ini bgs walaupun awalnya agak aneh.
    Next ya

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s