Loner Girl

Hello~

Karna gaada ff yang selesai gue mau share karya lawas gue. Ini gue buat sekitar 2-3 tahun lalu, pas gue SMP pokoknya. Dan maafkan kalau bahasanya alaycetarmembahana. Tapi menurut gue lebih berfeel ff lawas gue daripada yang sekarang u,u

Happy reading~

***

cast :
kevin (u-kiss)
thunder (mblaq)
xander (u-kiss)
jae jin (ft. island)

Annyeong, woo sung hyun imnida. Kalian bisa panggil kevin saja, hehe.. beberapa bulan ini aku selalu melihat dia ada di bawah pohon di dekat danau. Aku penasaran dengannya karena dia selalu menyendiri, dan membawa buku diary-nya yang berwarna biru muda dan putih.
“kevin-ah, kenapa kau ini?” tanya sahabatku, alexander.
“ani, aku kepikiran dia!” jawabku.
“ngapain sih pikirin dia? Udah tahu dia tak memikirkanmu!” kata sahabatku yang satunya, jaejin.
“aku penasaran! Kau tahu kan kalau orang penasaran seperti apa!” kataku kesal lalu meninggalkan mereka berdua.
Aku lalu berlari ke tempat si gadis yang ku bilang “loner girl” itu bersarang *haha*. Dia ada disana! Seperti biasa, dia membawa buku hariannya dan sedang menulisnya. Aku menghampirinya dengan hati-hati.
“annyeong,” kataku dengan nada gugup.
Si “loner girl” itu langsung berbalik badan sambil terkaget dan akhirnya pergi dari hadapanku.
Kenapa dia selalu menghindar dariku? Sepertinya ada hal yang dia sembunyikan dariku. Kevin, ayo ikuti “loner girl” itu! Ternyata dia anak kelas 2, lebih muda 1 tahun dariku yang sekarang kelas 3! Di kelas pun dia hanya diam, dan menulis di buku hariannya yang sempat terputus oleh sapaanku tadi.
“kevin!” ada seorang yang menepuk pundakku.
“aish.. kenapa sih, alexander lee eusebio?” tanyaku.
“aniyo, hanya mau bilang,, si “loner girl” itu kelas 2-a,, haha..”
“pabo! Aku sudah tahu!!”
“sebentar lagi bel, cepatlah masuk!”
Dengan terpaksa aku meninggalkan kelas si “loner girl” itu bersama sahabatku alexander yang biasa dipanggil xander.
“sepertinya kau penasaran sekali padanya, apa kau menyukainya?” selidik thunder, sahabatku yang ke-3.
Aku bingung harus jawab apa. Kalau aku jawab aku menyukainya, pasti mereka bakal mengataiku karena menyukai gadis aneh sepertinya. Dan satu lagi, aku masih punya jin hye.
“kalau kau mau, aku akan membantumu mencari berita tentang si “loner girl” itu!” kata thunder.
“aku juga akan bantu!” kata jae jin sambil menepuk pundakku.
“pastinya aku bantu juga!” kata xander.
“gomawo!” kataku.
Aku senang mempunyai sahabat seperti mereka. Walaupun kita sering bertengkar karena masalah sepele. Kalau dengan xander, pasti gara-gara buku-nya di umpetin sama jae jin. Kalau jae jin, selalu marah kalau gitarnya dimainin salah satu dari kita, kalau thunder, dia selalu marah kalau ku singgung tentang penampilannya yang menurutnya sudah cool.
Istirahat..
“kevin, kita cari dia di dekat danau?” kata thunder.
“bukan, di kuburan!” kataku kesal.
Jae jin dan xander tertawa mendengarnya. Akhirnya ku tinggalkan saja mereka bersama thunder yang sedang bingung.
“jae jin, thunder, xander, sini kalian!” kataku.
Mereka berdua seperti budakku. Ku suruh langsung manggut *dikeplak bini” mreka*
“ada apa?” tanya xander.
“itu orangnya!!” kataku sambil menunjuk gadis yang sedang menulis diary-nya seperti biasa.
“omo,, lumayan!!” komentar jae jin.
“lumayan!” komentar thunder.
“tetap saja aneh!” dan komentar dari xander yang membuatku kesal.
“jangan mengatainya! Dia juga manusia!!” kataku kesal.
Aku kembali mencoba mendekatinya. Aku takut seperti kemarin. Dia selalu menghindar dari-ku. Tak tahu kalau orang lain.
“annyeong,,” kataku.
Seperti biasa, si “loner girl” itu balik badan dan kaget, dia akan pergi lagi. Tapi aku tahan.
“tunggu, mian kalau mengagetkan! Bukan maksudku mengganggumu!” kataku.
Matanya berkaca-kaca. Dia tak mengucap satu huruf pun! Dengar suaranya saja tidak!
“aku mohon, beritahukan namamu!” pintaku.
Dia tidak menjawab. Hanya duduk mematung di depanku. Matanya masih berkaca-kaca, tapi matanya sepertinya mengisyaratkan kalau dia ingin ngobrol denganku.
“bicaralah! Aku bukan orang jahat. Aku orang baik,” kataku lagi.
Lagi-lagi dia tak bersuara. Aku memang kesal. Tapi ku tahan karena aku penasaran dengannya. Dia menangis, tak tahu sebabnya! Aku memeluknya dengan hangat, berharap tangisnya reda dan dia akan bicara.
“kalau kau tak mau ngomong sekarang, ya sudah. Aku akan menunggu.” Kataku. Dia melepas pelukanku dengan muka penuh air mata. “o y, jonen woo sung hyun imnida, kau bisa panggil kevin saja..” kataku sambil mengajak berjabat tangan.
Dia hanya tersenyum memandangiku dan akhirnya menjabat tanganku dan tidak bersuara, kemudian pergi lagi. Teman-temanku langsung mendekatiku.
“bagaimana? Enak?” tanya xander.
Dia mengatakan itu sambil tertawa. Aku jadi kesal melihatnya!
“apa kau tahu isi diary-nya?” tanya jae jin.
Ini lagi, membuat kesal saja!
“siapa namanya? Apa dia mau denganmu?” tanya thunder.
“ah.. aku muak dengan candaan kalian! Jangan sok-sokan mau bantu aku kalau reaksi kalian begini!” kataku marah, “aku jawab pertanyaan kalian sebelum aku pergi lagi! Rasanya begitu saja. Aku tak tahu isi diary-nya karena dia lagsung menyembunyikannya dariku. Aku juga tak tahu namanya karena dia hanya diam. Puas kalian?” aku benar-benar marah pada mereka.
Di kelas..
“kevin woo!” samar-samar ada yang memanggilku. “kevin woo!” katanya lagi. Aku tak yakin kalau orang itu memanggilku. “WOO SUNG HYUN!!” kali ini memanggil namaku dan berteriak sangat keras.
“makannya jangan melamun!” kata thunder yang duduk di sebelahku.
“kevin woo, mengapa akhir-akhir ini ulanganmu selalu jelek? Biasanya kau yang paling tinggi nilainya di kelas ini!” kata jungsoo sonsaengnim.
Aku baru sadar, karena si “loner girl” itu aku mendapat nilai jelek. Saking penasarannya aku jadi melupakan pelajaran.
Di rumah..
“kevin, kenapa nilaimu seperti ini?” tanya appa sambil menunjuk kertas ulanganku yang ku simpan yang bernilai 65.
Bagaimana ini? Apakah aku harus bilang kalau aku penasaran dengan si “loner girl” itu, dan akhirnya jatuh cinta?
“apa kau sedang jatuh cinta?” tanya appa kemudian.
Sepertinya ayah bisa membaca pikiranku. Kalau aku bilang “iya” pasti bakal di pukul. Seandainya omma masih ada, aku pasti di bela!
*flashback*
Saat kelas 3 SMP..
“kevin, siapa yang merusak bingkai ini?” tanya appa sambil memegang bingkai foto pernikahannya dengan omma dulu.
“bukan aku! Memangnya hanya ada aku disini?” tanyaku balik.
Appa langsung memukulku dengan rotan. Aku yang takut langsung menghindar. Appa mengejarku sambil melempar pecahan kaca.
“sudah, berhenti!!” teriak omma sambil berdiri di depanku.
“ah.. kau ini! Sudahlah, jangan atur aku! Anak ini sanngat keras kepala!!” kata appa.
Appa kembali bersiap-siap mengejarku kembali sambil membawa rotan. Omma juga ikut mengejar untuk melindungiku.
“kevin, terima ini!” kata appa sambil melempar pecahan kaca lagi.
Aku tak sadar. Ternyata aku sudah berada di garis buntu rumahku. Ujung rumahku adalah dapur. Aku tak bisa apa-apa lagi. Tuhan, tolong aku!
“hentikan!!” omma sudah berada di depanku lagi sekarang. “hentikan sekarang juga! Belum tentu kevin yang salah. Itu karena aku kurang hati-hati saat membersihkan bingkai!”
“pasti kevin yang salah! Tak mungkin kau!”
Kesempatan ini kumanfaatkan untuk kabur.
“kevin..!” appa mengejarku seperti tadi, omma juga. Omma sudah berada di depan appa dan.. BRUK!
“OMMA!!” kataku dengan mata berakca-kaca.
“chagiya,” kata appa.
Omma terdorong ke meja makan yang ada kacanya. Kepalanya berlumuran darah *haha*, langusng saja omma dibawa ke rumah sakit. Ternyata umur omma tak panjang. Di perjalaan rumah sakit omma sudah pergi.
–end flashback—

“kevin woo, kenapa kau? Apa kau marah karena aku membunuh ibumu?” pertanyaan itu selalu terdengar di kupingku.
“appa, tolong jangan bicara itu lagi! Aku rindu omma! Apa appa tahu, aku selalu menangis malam-malam?” tanyaku yang sudah banjir air mata.
_besoknya_
“hei, kau sedang apa?” tanyaku.
Dia langsung kaget dan menutup buku diary-nya.
“kenapa kau diam saja? Aku ingin bicara padamu!” kataku.
Dia tetap diam. Dia hanya menatapku sambil tersenyum seakan aku adalah pangeran yang baru saja mengisi hatinya *ge-er.com*.
TTTEETTT….
Suara itu aku benci dari dulu! Kenapa sih harus ada bel disaat seperti ini? Sudah tahu aku mau mengatakan sesuatu yang penting padanya.
——————————————————————
Ternyata aku mengejarnya sudah lama sekali ya. Sampai tak terasa kalau aku akan ujian minggu depan. Aku berharap dia mengeluarkan suara agar aku bisa belajar dengan tenang. Istirahat pertama, seperti biasa, aku ke tempat si “loner girl” itu untuk menyuruhnya bicara.
“annyeong..” sapaku. “sedang apa?” tanyaku.
Dia masih tak bicara. Dia hanya menunduk.
“kenapa sih kau tak mau bicara? Apa ada tampang menyeramkan dari tubuhku? Dari kevin woo?” tanyaku sambil menunjuk mukaku.
Dia mendongak dan tersenyum padaku. Aku pun membalas senyumnya. DEG! Jantungku berdetak sangat cepat, sampai aku tak bisa membendungnya lagi. Aku merasa diriku sangat bahagia. Jadi pengen nyebur danau!
“o ya, kau tahu kan kalau hari senin nanti aku akan ujian?” tanyaku berbasa-basi. “aku ingin mendengar suaramu sebelum aku keluar dari sini. Dan juga, aku ingin kau menyupport-ku agar aku semangat! Mau tidak?”
Si “loner girl” tampak berpikir. Entah apa yang dipikirkannya. Akhirnya..

TTEETT..
Bel lagi, bel lagi! Kenapa sih? Aku sedang ingin berdua dengannya! Kenapa harus ada bel disaat ada orang jatuh cinta?
“chagiya..” ada yang memanggilku. Aku tahu siapa dia.
“jin hye-ah, kenapa tak masuk kelas?” tanyaku.
“harusnya aku yang tanya itu!”
“hei! Cepat masuk! Tinggalkan aku disini!”
“kevin-ah, apa orang cacat itu yang mengisi hatimu sekarang?”
Pertanyaan itu membuatku kaget. Bisa-bisanya dia bilang kalau si “loner girl” itu cacat.
“kenapa kau mengatakan itu? Dia juga manusia! Manusia tidak ada yang sempurna! Bisakah kau tidak membandingkan orang lain seperti itu? Lihat dulu dirimu sendiri!” kataku marah.
“kenapa kau ini? Kenapa kau memarahiku seperti itu?”
“aku hanya tak mau ada orang yang bilang orang lain tidak sempurna, padahal sendirinya tidak sempurna!” aku lalu pergi meninggalkan jin hye yang masih dipenuhi tanda tanya.
“kevin-ah, tunggu!” kata jin hye sambil menahan tanganku.
“apa lagi?”
“mianhe..”
“tolong jangan pegang tanganku! Kita tak bisa lanjutkan hubungan ini! Kita putus sekarang!!” kataku.
Dia melepas tanganku. “kenapa? Apa aku salah denganmu?”
“mian, kita belum cocok. Kalau kita jodoh, pasti kita balik lagi! Tapi aku tak berharap balik denganmu!”
Aku tak mempedulikan kata-kataku, dia, appa dan guru di kelas yang akan memarahiku. Aku tahu jin hye menangis. Tapi, inilah keputusanku. Tak ada yang bisa diganggu gugat.

_home_
PLAK!
Pukulan itu diarahkan appa ke kepalaku menggunakan rotan.
“mengapa kau memutuskannya? Apa kau senang mendapat ini dari appa?” tanya appa-ku sambil terus memukul badanku pakai rotan.
“appa, aku masih SMA, kuliah saja belum! Kenapa sudah di jodohkan?”
Appa terdiam. Aku tahu dia menyembunyikan sesuatu dariku. Mungkin, karena masalah utang jadi aku yang di korbankan.
“appa, jawab!”
“harusnya kau yang jawab! Aku yang memberikanmu pertanyaan duluan! Kenapa kau malah balik tanya?”
PLAK!
Pukulan itu kembali diterima olehku. Di bagian kepala, badan dan kaki. Disaat seperti ini aku selalu ingat omma. Omaa, kesinilah dan bantu anakmu yang malang ini!
“sudah cukup pukulannya?”
“kau bisa pukul aku sepuasnya. Aku tidak akan marah! Mau kau pukul aku sampai mati pun tak apa. Malah aku berharap itu!
“kevin!”
“ajusshi!” kata sahabat-sahabatku yang tiba-tiba datang. “aku mohon jangan pukuli kevin lagi!” kata thunder. “iya, ajusshi. Kevin masih terlalu kecil untuk di jodohkan!” kata xander. “ajusshi, tolong maklumi dia!” kata jae jin. “mianhe, bukan maksud kita untuk ikut campur dalam urusan ini!” kata xander.
Appa langsung melempar rotannya dan pergi meninggalkan aku dan teman-temanku disini.
“kev, ke rumahku saja yuk! Jae jin dan thunder juga menginap di rumahku!” kata xander.
“sekalian kita obati lukamu. Kepalamu mengeluarkan banyak darah!” kata jae jin.
Aku langsung meraba kepalaku. Ternyata benar. Darah-darah bentuk perjuangan omma mengucur di kepalaku. Aku mulai merasakan sakit yang tak biasa. Darah-darah itu juga terlihat di tangan dan sebagian badanku.
“kalau boleh, aku ikut kalian. Lama-lama aku bosan kalau di perbudak!”
“of course..” kata xander sambil menepuk pundakku.
“thanks..” kataku lalu berdiri dari lantai dan mengikuti mereka semua ke mobil thunder.
__xander home__
Ah.. sakit..
Sahabat-sahabatku membersihkan luka yang ada di sebagian tubuhku bekas pukulan appa. Aku hampir menangis. Tapi aku baru ingat kata-kata omma waktu aku kecil : “kevin, kalau kau sudah besar, jangan terjerumus ke pergaulan yang tak benar. Terus jangan durhaka sama appa dan omma. Dan juga, jangan menangis. Kalau kau menangis, omma juga merasakannya, dan omma juga menangis!”
Kata-kata itu terngiang kembali di kupingku. Kenapa di saat seperti ini aku harus ingat omma?
“kev, gwaenchana?” tanya thunder panik.
“ne, gwaenchana..”
“kau menangis. Apa kau ingat omma-mu lagi?” tanya xander sambil menghapus air mataku.
“ya,, seperti biasa,,”

__back to school again__
Apakah kali ini aku akan menemuinya lagi? Lama-lama aku gila kalau menemuinya. Apalagi melihat senyumnya.
“kevin.. lagi-lagi kau memikirkan si “loner girl” itu!” kata xander.
Kata-kata ini selalu membuatku kesal dan ingin menemui gadis itu! Xander.. xander. Seandainya kau tidak bicara itu!!
“aku mau menemuinya! Jangan kau ganggu!” kataku lalu berlari dari hadapannya.
Di tempat biasa..
“hei! Apa kau sedang menggambar?” tanyaku yang sedang mengamatinya mengarsir sesuatu dari belakangnya. Aku lalu menghampirinya. “lanjutkan! Kalau aku mengganggu, aku akan pergi!” gadis itu hanya menggeleng. Mengisyaratkan “kajima! Kau tidak mengganggu!” dia terus menggores pensilnya ke kertas yang ada di pangkuannya.
“itu pohon mapple!” kataku. “bagus sekali!!”
Sekali lagi dia hanya tersenyum. Dan lagi-lagi aku terpikat senyumannya. Saat sedang menikmati kehangatan senyumnya..
“oh, jadi ini yang membuatmu memutuskanku?” tanya mantanku, jin hye.
Si “loner girl” itu kaget dan balik badan. Dia heran apa maksud dari perkataan jin hye. Jin hye menghampiriku dan si “loner girl” itu. Dia mengambil diary berwarna biru muda dan putih itu dari genggaman si “loner girl”. BYUR.. diary itu dilempar jin hye ke danau.
“puas kau?” kata jin hye dengan devil smile-nya.
Si “loner girl” itu lalu pergi sambil menangis. Aku tak bisa mencegahnya lagi karena aku sudah benar-benar marah.
“jin hye,” tanpa sadar aku menamparnya. “kenapa kau lakukan itu? Kau tahu perasaannya? Jawablah!!” kataku kesal. “kalau kau punya perasaan jawablah! Kau telah menyakiti orang lain! Apa kau tidak pernah diajari sopan santun oleh orangtuamu?” aku memakai suara extra keras sekarang dan aku mengarahkan tanganku lagi ke pipinya.
“KEVIN!! Sudah! Dia manusia, dia perempuan!” kata xander sambil mencegah tanganku melakukan hal itu.
“biarkan saja! Manusia macam apa yang tidak punya perasaan? Dia lebih bagus dipanggil setan daripada manusia!” kataku lalu melepaskan tanganku dan pergi.
Aku benar-benar kesal! Tunggu, tadi diary-nya ada di danau! Aku harus mengambilnya! Aku kembali berlari ke danau dan ..
“kevin..”
Aku mencoba menyusuri danau yang sangat dalam itu. Untungnya aku tahu cara berenang, jadinya aku tidak akan takut kalau nanti aku tenggelam. Yeah.. aku dapat bukunya.. aku segera berenang ke tepian.
“kevin..” sahabat-sahabatku membantuku naik. “kenapa kau lakukan ini?” tanya thunder.
“ini bukti rasa salahku. Sepertinya buku ini sangat berarti untuk dirinya!”
“ya sudah. Kau ganti baju dulu.. aku akan meminjamkan di koperasi *?*” kata jae jin lalu lari ke koperasi.
Setelah ganti baju, aku langsung ke kelas si “loner girl” itu. Aku menyuruh anak kelas 2-a yang lain untuk memanggil si “loner girl” itu. Dia menghampiriku dengan mata yang masih sedikit basah.
“ini.. mianhe,” kataku singkat.
Dia langsung balik badan dan balik lagi ke bangkunya tanpa mengucap terima kasih. Aku masih bisa mamakluminya.

_besoknya_
Istirahat pertama aku langsung berlari ke tempat biasa. Tanpa mempedulikan sahabatku yang mengajakku ke kantin untuk makan dan minum karena aku belum melakukannya tadi pagi. Sampai disana, DIA TIDAK ADA! Kemana dia? Apakah dia sangat sedih karena diary-nya itu? Ini semua salahku! Salahku! Kalau bukan karena aku menjalin hubungan dengan jin hye, pasti tidak akan begini! AAA… aku berteriak kencang. Tanpa mempedulikan keadaan disana. Aku terus menyalahkan diriku. Seminggu, dua minggu, tiga minggu, aku tak dengar kabar darinya. Aku selalu mendatangi tempat itu, aku selalu berharap ada dia disitu. Sekarang, hanya ada bayangannya saja. aku duduk di tempat yang biasa si “loner girl” itu duduk. Aku membayangkan saat aku mendatanginya dia akan tersenyum manis.
“kevin,, aku baru mendapat berita tentang si “loner girl” itu!” kata thunder yang ngos-ngosan.
“apa? Apakah ada yang terjadi padanya?” tanyaku khawatir.
Thunder membawaku lari ke kantin. Semuanya berkumpul disana dengan muka yang ditekuk.
“MWO? Ani.. ani.. ini tak mungkin!!”

Aku langsung berdiri dari kursi dan memukul meja kantin, kemudian berlari sekuat tenaga ke rumah sakit seoul. Aku tak percaya apa yang dikatakan sahabat-sahabatku kalau si “loner girl” itu keadaannya benar-benar gawat!
“kev, tunggu!!” kata sahabat-sahabatku sambil mengejarku.
Aku berlari tanpa memperhatikan sahabat-sahabatku yang juga berlari mengejarku.
“kev, tenang!” kata xander yang sudah berhasil menggenggam tanganku. “kita naik mobil thunder sekarang!”
Aku tak bicara apa-apa sekarang. Pikiranku terarah pada si “loner girl” yang malang itu. Lalu berlari sekuat tenaga ke tempat parkiran untuk menemui thunder, jae jin, dan mobilnya.
“cepat masuk!” kata thunder.

__rumah sakit__
Benarkah itu? Gadis manis yang sedang terlelap di kasur dengan menggunakan alat bantu pernafasan itu si “loner girl”? aku benar-benar tak percaya!
“kev, kalau kau mau menatapnya lebih dekat, silakan masuk!” kata thunder.
Aku lalu masuk. Di kasur itu dia tak bergerak. Matanya terus tertutup. Diary-nya tidak dia pegang.
“hei, bangunlah! Kau sudah melanggar janji! Kau berjanji kau mau menyupport-ku saat aku ujian! Ujianku sudah berakhir dari sebulan lalu!” kataku.
Aku tak sadar kalau butiran-butiran air sudah keluar dari mataku. Kevin, kau harus kuat! Kau laki-laki!!
“kau juga belum menyebutkan namamu!” aku menggenggam tangannya untuk yang pertama kali.
“kev, dia harus di periksa lagi. Kau diminta keluar!” kata jae jin dengan hati-hati.
Aku hanya mengikuti jae jin keluar. Sebelumnya, aku mendengar kalau si “loenr girl” itu tak ada harapan untuk membuka mata. Dia sudah berbaring disitu selama 1 bulan!
“kev, minum dulu dan tenangkan perasaanmu! Thunder sedang berbicara dengan dokternya!” kata xander.
Aku lalu menerima minuman yang dia sodorkan. Aku meminumnya dengan perasaan yang campur aduk. Ada sedih karena keadaannya, ada bingung karena keadaannya, dan ada kesal karena jin hye. Kalau saja jin hye tidak melakukan itu, pasti tidak akan begini!
“kevin, xander, jae jin, cepat masuk!!” kata thunder dengan nada panik.
“Ada apa?” tanya semuanya termasuk aku.
“cepat!!”
Kita semua lalu masuk ke gedung rumah sakit dan melihat ke ruangan si “loner girl”
“ani.. tak mungkin! Kau pasti salah ruangan!” kataku.
“kau ingat nomor kamarnya berapa?” tanya jae jin.
“132”
“lihat nomor kamarnya!” kata xander.
Benar, 132! Itu nomor kamar si “loner girl”!
“jweisoghamnida..” kata dokter itu singkat.
“euisa, apa ada yang kurang dari rumah sakit ini? Ini di korea, semua lengkap! Masa’ kau tidak bisa menyelamatkannya?” kataku emosi.
“mianhe, kita hanya bisa sampai segitu!”
“kau..” aku bersiap-siap menonjok dokter itu.
“kevin, apakah ini caramu melampiaskan emosi? Hah? Kau selalu tidak peduli laki-laki dan perempuan! Tua muda, dll..” kata xander yang juga mulai emosi.
“euisa, bagaimana keadaan anakku?” tanya seorang ibu yang sepertinya adalah ibunya si “loner girl”.
“jeongmal mianhe, aku tidak bisa menyelamatkannya. Penyakit jantungnya sudah sangat parah!” kata dokter.
Ibu itu menangis. Aku tak tega melihatnya.
“nak, apakah kau temannya?” tanya si ibu itu setelah tangisnya reda.
“kita belum kenalan. Dia belum memberitahu namanya, aku baru mengenalnya saat aku kelas 3!” jawabku.
“aku mohon datanglah besok ke rumahnya, ke pemakamannya. Aku yakin dia pasti senang!”
“ne, aku pasti datang..”

__besoknya__
“kev, jangan terlalu bersedih. Aku tahu kau sangat mencintainya!” kata thunder sambil menepuk pundakku.
“ok. Aku akan mencari “loner girl” yang baru..” kataku.
“apakah anda kevin woo?” tanya seorang laki-laki.
“ne..”
“berikan bunga ini kepada gadis yang terbaring di peti itu! Aku yakin dia sangat senang!”
Aku menerima bunganya dan berjalan menuju peti tempat si “loner girl” terbaring.
“hei, aku tahu kau tidak akan pernah bangun. Tapi, tolong jangan lupakan aku! Saranghae.. jeongmal saranghae..” kataku lalu meletakkan bunga mawar merah itu ke tangannya. “tenanglah di alam sana. Aku akan terus mengunjungimu kalau aku merindukanmu! Kalau kau merindukanku, datanglah ke mimpiku, aku pasti akan kesini!” aku menggenggam tangannya untuk yang terakhir kalinya. Aku mencium tangannya yang sudah tak berdaya. Lalu bibirnya yang sudah membiru. “selamat tinggal.. jangan lupakan orang yang sangat mencintaimu ini!” kataku.
“kev, kau sudah menyampaikan uneg-unegmu kan?” tanya xander.
“yup. Sekarang aku sudah mengikhlaskannya. Aku akan mencari penggantinya!”

__setelah acara pemakaman__
“anak muda, apakah kau kevin woo?” tanya seorang ibu yang ku temui di rumah sakit kemarin.
“ne..”
“dia menitipkan ini untukmu, dia berpesan padaku agar aku menyuruhmu menyimpan ini!”
Mwo? Diary ini? Diary yang sering dia bawa ke dekat danau, dan menulisnya. Diary yang berwarna biru muda dan putih. Ku buka halaman pertama diary-nya. Tertulis namanya. Namanya… aku tak percaya. Apakah ini.. lee hae rin yang ku kenal dari TK?

*flashback*

TK..
“kevin, aku mau jujur padamu sebelum aku ke ottawa,” kata hae rin.
“wae?” tanyaku.
“saranghaeyo..”
“hanya itu?”
“ne.. apa kau mau menerimanya?”
“ani.. aku tak mau pacaran!”
“kalau kau tak mau pacaran, kenapa kau dekat dengan hee jin?”
“itu bukan urusanmu! Memangnya kau ke ottawa mau apa?”
“aku ikut lomba menyanyi tingkat internasional di ottawa. Sekalian..”
“sekalian apa?”
Mukanya pucat, keringatnya juga bercucuran. “jalan-jalan!”
“oh..”

==end flashback==
Aku menyesal dekat dengan hee jin! Aku menyesal telah mengabaikan cintanya yang tulus! Btw, kenapa dia tak pernah bicara padaku ya?
“dia punya penyakit amandel. Saat bernyanyi, amandelnya pecah dan menyebabkan dia tak bisa bersuara,” sepertinya ibu itu tahu pikiranku deh.
“kev, baca diary itu!” suruh xander.
“diary itu dia beli setelah dia menemukanmu!” kata ibunya hae rin lalu pergi.
Isi diarynya :
~senin~
Hari pertama aku masuk ke kelas dua. Aku merasa senang karena ada seseorang yang selalu datang menemaniku. Aku ingin ngomong, tapi apa daya kalau tak bisa? Dia mengajak ngomong, ya tuhan.. tolonglah hambamu yang malang ini! Walaupun aku tak pernah membalas perkataan orang yang selalu bertanya itu, dia selalu datang dan setia menungguku.

~selasa~
Orang ini tak ada kapok-kapoknya. Sudah beberapa bulan ini dia selalu datang ke tempat yang menurutku rahasia. Sepertinya aku mulai mengenalnya! Yang ku ingat dia adalah kevin, orang yang ku taksir dari TK. Saat dia bilang “jonen kevin imnida” aku makin yakin kalau itu adalah kevin yang aku kenal. Kevin yang selama ini aku rindukan. Tambah tampan saja dia!

“haha.. ternyata dia masih mencintaimu ya..” goda jae jin.

~~~~~~lanjut dah panjang bgt~~~~~~
Ternyata panjang sekali ya.. untungnya hampir akhir aku membacanya.
~senin~
Saat ini dia selalu datang dan menemaniku. Dia seperti malaikat yang datang dan menolongku tiba-tiba. Aku mendadak punya teman karena sejak dulu aku sering dijauhi teman. Dia selalu mengajakku ngobrol. Tapi aku tidak bisa meresponnya dengan omongan. Hanya dari hati, dan senyuman. Aku tak tahu kenapa saat aku tersenyum dia pasti selalu terdiam, dan akhirnya tersenyum. Apakah dia ingat aku, lee hae rin yang selama ini mengejarnya?

~kamis~
Kevin di gambar ini sangat manis. Lucu seperti saat TK dulu. Hanya sifatnya saja yang berbeda.

——————————————————-
Mwo? Dia menggambar sketsa wajahku! Aku sangat malu!

~*langsung*jumat~
Sebentar lagi ujian kelas 3, aku sudah berjanji mau menyupport-nya. Tapi, aku merasa umurku tak panjang lagi. Sekujur tubuhku selalu sakit setiap malam. Aku selalu sesak nafas di tengah malam, makannya aku agak ragu untuk menemuinya nanti.

——————————————————–
Kenapa ada bercak darah disini? Apakah dia menulis ini saat mimisan?
“oh iya..” ibunya hae rin datang. “dia menulis ini sebelum dia terbaring di rumah sakit ini. Dia mimisan waktu itu”
Sudah halaman akhir. Disana ada surat. Isinya : “semoga saja yang membaca ini benar kevin woo yang aku cintai. Kevin, walaupun aku tahu kalau kau tak menyukaiku, tapi aku berharap kau bisa menerimaku. Mian kalau aku tak bisa menyupport-mu saat kau ujian. Aku harap nilai ujianmu paling tinggi diantara yang lain. Seperti waktu TK dulu. Kau sangat menonjol. Bakat yang paling kau tonjolkan menyanyi. Suaramu bagus, walaupun saat TK dulu sangat cempreng *digetok kekev* tapi ku yakin, kalau sekarang suaramu jauh lebih bagus dari dulu.. sekian surat dariku. Semoga saja doa dan harapanku terkabul!

Ps : jangan lupakan orang yang selalu menyayangimu sepenuh hati. Akulah orangnya, orang yang selalu mengejarmu padahal kau tak mau. Kalau aku sudah mati, tolong simpan ini baik-baik, kalau kau kangen padaku, lihat saja foto di belakang sketsa gambarmu!

Lee Hae rin..
—————————————————————–
Aku kembali membalik halaman tempat foto hae rin. Ternyata benar ada. Mengapa aku tak sadar ya? Ternyata sketsa fotoku ditempel. Dan dibalik tempelan itulah fotonya berada.
——————————————————-
“ANAK-ANAK, DENGAN BANGGA BAPAK SAMPAIKAN KALAU KALIAN SEMUA LULUS DENGAN NILAI YANG SANGAT HEBAT!” kata jungsoo sonsaeng. “NILAI TERTINGGI DENGAN RATA-RATA 9,75 JATUH KEPADA..”
Siapa ya kira-kira? Kalau aku yang dapatkan sih, aneh. Mana mungkin aku mendapat nilai sebesar itu?
“WOO SUNG HYUN!!”
“kev, itu kau!” kata thunder.
“jinca?”
“ne.. kau hebat!” kata jae jin.
“chukkae..” kata xander.
Hari itu aku mau mengucapkan terima kasih atas doa dari si “loner girl” yang aku panggil lee hae rin. Eh kebalik. Tapi tak apalah..
“hei, aku berhasil mendapatkannya! Aku berhasil meraih beasiswa ke Toronto! Gomawo..”

~end~

3 thoughts on “Loner Girl

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s