Twins High School {Special Yoochan Birthday}

Title : Twins High School {Special Yoochan’s Birthday}

Genre : comedy, romance, friendship, etc

Length : oneshoot

Cast :

–       JungBro a.k.a jung yunhak & jung yunho #fiksiajaguejadiinkembar

–       JoTwins a.k.a Jo Kwangmin & jo youngmin

–       American twins a.k.a Key & Amber

A/N : annyeong!!

Gue ga tau kenapa gue seneng banget share ff ga jelas ini. Mungkin karna nida yang sering sms gue buat nanyain lanjutan ff absurd ini -,-

Oke, gue harap dengan adanya special story ini kalian mengerti apa yang gue maksud. Capcusssss~~

 

****

 

“Yoochan ulangtahun malem natal ini. Ada yang mau bantu gue buat bikin kejutan gak?” tanya Kwangmin pada Yunhak, Yunho, Key dan Amber yang lagi ngumpul di kantin.

“What? Bestfriend ultah? Aaa gue bantuin!! Tunggu gue cancel jadwal gue mau liburan ke Jerman. Gue telpon bokap dulu suruh tunda atau tinggalin gue.” Amber siap-siap calling bokapnya.

“Sekalian gue juga!” kata Key.

“Oke bro!!” Amber memberikan jempolnya untuk kembarannya.

“Pa, maaf aku ga bisa ikut ke Jerman besok…… ngga pa. ada tugas Amber yang belom selesai. Bisa sih ditunda, tapi takut Amber lupa…… oh iya Key maunya bareng sama Amber…… ga papa kan pa?….. yaudah deh pa, bye. Moah.”

“Diijinin?” tanya Kwangmin.

Amber mengangguk. “Iya dong. Masa ngga? Amber gituloh!”

“Oke, ada yang punya ide gimana cara bikin itu anak terkejut tanpa jantungan?” tanya Kwangmin.

Semuanya tampak berpikir. Bingung.

“Yoochan sukanya apa?” tanya Yunhak.

“Seinget gue dia itu ga suka yang terlalu cewek, tapi juga ga terlalu cowok. Dia itu netral, jarang peduli sama pesta. Jadi…. Ga usah kasih apa-apa!” jawab Yunho yang langsung dapat pukulan sendal dari Amber.

“Ulangtahunnya dia itu pasti libur, makanya ga ada yang tau dan paling Cuma dirayain keluarganya. Nah di ulangtahunnya yang ke—ke berapa?”

“15!”

“Muda amat.” Komentar Key.

“Nah di ulangtahun yang ke-15 kita buat hidupnya lebih berwarna. Lagian siapa tau dari keluarganya juga ga semeriah yang kita buat.”

“Betull!!!” Yunho menyetujui.

“Oke, jadi gimana? Kita mau bikin apa?”

 

***

 

Persiapan untuk ulangtahun Yoochan hanya 2 hari. 3 pasangan kembar itu berbondong-bondong mendatangi mall dan mencari bahan untuk membuat kue. Mereka juga rajin searching google tentang cara untuk membuat kue ulangtahun walau akhirnya mereka sendiri yang ngiler dan ingin mencoba kue-kue itu.

“Telornya berapa?” tanya Amber panik.

Kwangmin merogoh sakunya, mencari kertas belanja. “6 butir!”

“Ambil 2 kilo aja. Takut gagal.” Key mengambil 2 kilo telur. “Terus apalagi?”

“Margarin, gula pasir, vanili, terigu, emulsifier, cokelat pasta, susu cair, buttercream,” Kwangmin mengabsen satu-satu jenis bahan.

Key mengangguk. Ia kemudian mencari bahan-bahan itu dan yang lainnya mengikuti di belakang.

“Gila, si Key kok tau sih?” tanya Yunho takjub. Ia mengambil beberapa snack untuknya sendiri.

“Tau lah. Cita-citanya pengen jadi koki. Dia koki keluarga gue! Kalo laper? Panggil aja dia. Dengan senang hati pasti dibikinin!” jawab Amber.

“Oh. Hebat loh. Yang cewek aja ga tau apa-apa soal beginian.” Yunho melihat-lihat snack yang ada.

PLOK!

Kepala Yunho langsung pening kena geplakan Amber. Semuanya tertawa.

“Udah ih ga usah rusuh! Kita cari apalagi?” tanya Key yang udah jauh banget dari mereka.

5 sekawan itu langsung berlari menuju tempat Key berada.

“Kita kasih hiasan apaan nih? Stroberi, cherry atau apa?” tanya Key.

“Eeeeh lilin udah belom? Jangan lupain itu lilin!! Nanti gimana make a wish?” kata Youngmin langsung.

“Oh iya. Mau lilin jenis apa? Angka atau batang?” tanya Key.

“Angka aja deh. Biar aja dia ga terima umurnya udah nambah satu. Hihihi…” Yunho tertawa girang ala banci taman lawang.

“Maap ya, obat adek gue abis.” Yunhak membungkukkan badannya sedikit.

“Kampret!” Yunho menempeleng kepala Yunhak.

“Okelah, kita pake beberapa lilin batang juga, biar wishnya bisa banyak yang dikabulin.” Key celingak-celinguk mencari tempat lilin yang dicari berada.

“Okay. Then?” Key bertanya lagi pada teman-temannya.

“Errr….. kismis!! Kita pake kismis yuk? Kayaknya enak tuh.” Kata Amber.

Key mengangguk. “Okay.”

Kemudian 3 kembaran itu mencari kismis.

“Gue jadi inget teori atom-nya J.J Thomson tentang roti kismis.” Kata Youngmin ga sadar.

“JANGAN NGOMONGIN PELAJARAN!!!!!” teriak Key, Amber, Kwangmin, Yunho dan Yunhak.

“Ini lagi liburan! Jangan ngomongin pelajaran, apalagi pelajaran pak Siwon! Cukup gue denger dia ceramah sambil bacain soal!” kata Amber.

“Apa lambang unsur belerang? Berapa nilainya? Berapa protonnya? Berapa neutronnya? Baahhh~” tambah Yunhak.

“Awas kalian menyontek!! Tuhan akan memperhatikan!” Kwangmin menirukan suara dan gestur pak Siwon tiap awal ulangan.

“Hahahahaaaa….” Semua ngakak, satu pramuniaga menegur mereka.

“Rusuh aja daritadi!” kata pramuniaga tadi.

Semua saling natap. Setelah itu ngakak lagi.

“Udah nih? Ga ada yang mau beli yang lain? Topi atau terompet ulangtahun gitu?” Key bertanya sambil mengabsen satu-satu barang yang ada di trolley sambil jalan.

“LILIN!” teriak Yunho gila.

“UDAAAAAAAH!!!!” Yunho langsung mendapat pukulan sendal dari Amber lagi.

 

***

 

Setelah belanja mereka berkumpul di kamar Amber dan Key untuk membuat kue. Kamar Amber dan Key lebih luas dari kamar anak lainnya. Maklum orangtuanya tajir, jadi ga mau anaknya dapet yang sederhana-sederhana aja. Kalo di kamar anak lain ga ada dapur, di kamar Key dan Amber ada. Dan peralatannya juga ga bisa dibilang sederhana walaupun alatnya itu-itu aja. Ada panci, wajan, pisau, spatula, kompor, elpiji, dll.

“Gue ga pernah buat cake kayak gini. Gue juga bingung gimana mulainya,” kata Key.

“Ahelah ada gugel! Tanya aja sama mbah. Udah tua juga tetep aja inget. Ga kayak lo yang masih muda aja udah pikun. Mau jadi apa lo?” Amber mengambil laptopnya dan mengaktifkan wifi-nya.

“Udah ah jangan bikin gue badmood! Itu quote dari guru ga jelas tau!” kata Kwangmin.

“Ya udah, kan tadi udah janji ga mau ngomongin pelajaran saat liburan. Sekarang, GIMANA CARA BIKIN KUENYA?” tanya Key dengan suara tinggi di akhir kalimat.

“Wow… Key bisa marah!” Yunhak takjub.

“Nih cara buatnya! Masukkan 6 butir telur ke dalam mixer bersama vanili dan gula. Aduk rata,” Amber membaca intruksi yang ada di salah satu blog, tentunya dengan sedikit lirikan ke gambar cake.

“Masukin cokelat kakao—“

“SEBENTARRRRR!!!!” teriak Key. “Belom juga rata!”

“Iye… iye. Kalo udah bilang ya.” Amber kembali mengalihkan pandangan ke gambar kue cokelat dengan hiasan disana-sini. “Eh siapa kek yang lumerin mentega!”

“Gue aja,” Yunhak mengambil panci dan mentega.

“Gila, Cuma gambar tapi enak banget ya keliatannya.” Komentar Kwangmin takjub.

“Itu teknik kameranya bagus! Pasti belajarnya lama!”

“Heeeh cepetan apa lagi??? Udah gue masukin nih cacao bubuk sama tepungnya!” kata Key sambil mengecilkan putaran mixer.

“Eeeeh mentega!! Udah dicairin belom menteganya?” tanya Amber.

“Udah! Dimasukin?” tanya Yunhak balik.

“Iya. Sini!” Key mengambil panci yang disodorkan Yunhak. Kemudian menuang isinya ke dalam mangkuk adonan.

Beberapa menit kemudian adonan itu selesai dibuat. Key menuangnya ke dalam loyang bulat. Setelah itu ia memasukkannya ke dalam oven.

“Sekarang kita bikin krimnya. Mau krim apa nih?” tanya Key sambil mengelap keringatnya dengan lengan bajunya.

“Cappucino aja kali ya. Yoochan kan suka banget sama yang bau-bau kopi,” kata Kwangmin.

“Oke. Cappucino! Kita tadi beli yang cappucino gak?” tanya Amber.

Hening. Gak ada yang inget sama cappucino, padahal yang lain juga suka. Akhirnya dengan bahan yang ada mereka membuat krimnya.

“Krim cokelat enak juga. Ntar kalo gue ulangtahun bikinin ya!” kata Yunho.

“Mau banget?” semuanya langsung melempar terigu yang masih tersisa pada Yunho.

“Kembarannya belom jadi ga lengkap! Lemparin juga!!” Amber melempar Yunhak dengan kulit telur.

“Kamprett!! Gue kaga salah apa-apa kena!” kata Yunhak.

“Hooooooo!!!!” Yunhak pun dilemparin sampah-sampah yang ada di atas meja.

“Nanti hiasannya mau ada bunga-bungaan ah. Cucok deh kayaknya,” kata Amber.

Semua bengong menatap Amber.

“Apa?!”

Ting!

Suara dari oven. Tandanya kue di dalam oven itu sudah matang. Key langsung mengambil sarung tangan dan bersiap menjemput kue yang sudah dibuatnya dengan susah payah. Semuanya deg-degan. Takut hasilnya tidak memuaskan.

Jreeeng!!!!

Hening.

Masih hening.

Tambah hening.

Lebih hening lagi.

100 kali lebih hening.

Dan………

“Kok bantet?” tanya Yunho.

“Iya ya….” Yunhak memeriksa hasil panggangannya yang tidak mengembang.

Key langsung nepok jidat. “Gue lupa sama baking powder!! Pantesan aja ga ngembang!!”

Key lemas. Jatuh ke lantai. Semuanya ikutan. Mereka kecewa.

“Hueeeeeeeeeeeeee emaaaaaaaaaaak!!!!!” Key nangis.

“Keeeey jangan nangis!!!!! Hueeeeeeee!!!!” Amber ikutan nangis, ikatan batin. Ia memeluk kembarannya.

Suasana jadi menyedihkan.

“Hueeee lo pada sadar gak? Hik… kita… hik… belom… hik…”

“Nangis nangis, ngomong-ngomong, jangan nangisin yang ngomong-ngomong. Hik..” kata Yunho sambil mengutip salah satu quote guru author yang terkenal.

“Lo pada sadar gak kalo kita kaga masukin kismis? Terus itu kismis buat apa? Siapa yang ngidein kismis?” tanya Key.

“Itu gue, kampret!!” Amber mukul kepala Key.

Tokk… tokk… tokk…

Pintu kamar KeyBer diketuk orang. Kwangmin yang membukakannya atas suruhan anak-anak lain.

“Loh, kok Kwangmin?” tanya orang itu, Bu Yoona.

“Eh kok bu Yoona?” tanya Kwangmin.

“Masalah buat kamu?” tanya Bu Yoona dingin. “Ini kenapa? Daritadi saya dengar berisik-berisik disini.”

Kwangmin menghela nafas. Kemudian ia menatap belakang, menjawab pertanyaan yang dilontarkan teman-temannya dengan suara kecil.

“Masuk, bu. Kwangmin nih ada guru bukannya disuruh masuk! Hehe…” Amber tiba-tiba datang dan mempersilakan bu Yoona masuk.

“Yaampun ini rumah apa kapal pecah?” tanya Bu Yoona melihat keadaan kamar yang berantakan.

“Bisul pecah bu!” sahut Yunho.

“Loh, ada Yunho juga?” tanya Bu Yoona.

“Yunhak juga ada!” jawab Yunho sambil menunjuk kembarannya.

“Ga nanya!” Bu Yoona menggelengkan kepala. “Kalian lagi apa? Berisik banget?”

“Gini bu……” Key menceritakan rencananya dan teman-teman untuk membuat pesta kecil-kecilan untuk ulangtahun Yoochan. Membuat kue, sampai persiapin buat kado apa yang harus dikasih, dan diakhiri dengan persembahan kue bantet untuk ditunjukkan pada bu Yoona.

Bu Yoona tertawa keras sampe anak-anak parno. Kemudian ia tersenyum menenangkan anak-anak polos sudah berdosa itu.

“Ibu coba boleh gak?” tanya Bu Yoona.

Semuanya mengangguk. Key memotongkannya untuk Bu Yoona. Bu Yoona mencicipinya.

“Enak sebenernya. Manisnya pas. Tapi kalian Cuma kurang baking powder. Ga papa, namanya juga baru belajar.” Bu Yoona mengiris satu bolunya lagi. “Ibu bisa bantuin kalian kok kalo kalian mau.”

“Udah ah, saya nyerah. Saya ga bisa jadi koki hebat!” kata Key.

“Loh, kok nyerah? Cuma salah dikit kok. Gimana mau jadi koki hebat kalo kamu nyerah duluan Cuma gara-gara salah sedikit? Ayo dong semangat! Atau ibu yang bikin?”

“Kita bikin bareng lagi aja deh. Kita beli bahannya lagi!” kata Youngmin.

“Kita patungan deh sekarang, ga pake duit kalian berdua!” tambah Yunhak.

“Bukan masalah duit sebenernya. Duit mah gue selalu ada. Tapi kalo kita gagal lagi?”

“Masa mau sih gagal untuk yang kedua kali? Kamseupay!! Ayo semangat!!” kata Kwangmin. “Masih ada waktu 2 hari buat persiapin. Gue yang urusin Yoochan biar dia kagak curiga kenapa kita ga main sama dia. Oke?”

Key mengangguk. Amber juga. Kemudian virus angguk-angguk pun membahana di ruangan itu.

Hari sudah sore. JungBro, Jo Twins dan Bu Yoona meninggalkan kamar KeyBer.

“Mampus! Siapa yang mau bersihin?” tanya Amber setelah 5 orang itu keluar.

Key menepuk jidat.

 

***

 

Besoknya….

Tok tok tok!!

“Amber!! Key!!” teriak Jo Twins + JungBro disertai bu Yoona yang sudah menawarkan diri untuk menjadi guru membuat kue.

“Kumsalam.” Jawab Key dan Amber sambil membukakan pintu.

“Kan gue ga bilang samlekum?” Kwangmin garuk pala.

“Yaudah kumsalam.” Balas Key lagi.

“Tau ah! Eh kenapa muka lo pada ditekuk gitu? Bahan makanan abis?” tanya Youngmin.

Key menggeleng. Amber diam. Semuanya jadi bingung.

“Lo kenapa sih?” tanya Yunho.

“Kasih tau ga, Mber?” tanya Key pada kembarannya.

“Kasih tau aja deh,” jawab Amber pasrah.

“Papa kita udah tau kalo Amber ngeboong. Kan waktu itu Amber bilang ada tugas yang belom kelar jadi hari ini gak bisa ikut ke Jerman. Tapi pas papa telpon ke sekolah katanya tugas kita ga ada yang belom selesai. Jadi, papa maksa kita ikut hari ini,” cerita Key dengan muka ditekuk. “Maaf.”

Semuanya menghela nafas panjang.

“Kalau saya tahu rencana kalian saya pasti bakal bilang iya,” kata bu Yoona.

“Jadi ibu yang ngasih tau?!” teriak semua anak.

Bu Yoona mengangguk.

“Ibuuuuuuuuu!!!!!!!” semuanya lemas.

Key tersenyum lemah pada teman-temannya. “Sorry ya. Tapi gue udah pesenin bolu kok di toko Jarnett di seberang. Gue juga udah bilang dipisah krimnya biar kalian bisa bentuk sesuka hati. Bisa diambil nanti malem biar ga dingin-dingin amat.”

“Kayak mie ayam aja saosnya dipisah,” kata Yunho.

Yunho langsung kena tabok Yunhak.

“Semua peralatan pestanya bisa kalian ambil di dalam. Salam buat Yoochan ya. Bilangin maaf gue ga bisa dateng di hari pentingnya,” Amber nangis. Semua juga ikutan.

Youngmin memeluk Amber dan Key bergantian. “Yaudah. Kalian hati-hati ya. Tenang aja masih ada ulangtahun gue sama Kwangmin kalo mau dirayain.”

Amber dan Key tersenyum simpul. “Kalo gue inget ya.”

“Yaudah. Ambil peralatan pestanya gih. Gue dijemput sebentar lagi,” kata Amber.

 

***

 

3Y, alias Yunhak, Yunho dan Youngmin bingung. Roti sudah ada di tangan mereka. Krim cappucino juga. Mereka tidak punya pengalaman menghias kue. Seharusnya mereka meminta pembuatnya juga untuk menghias kue ini sebagus mungkin. Kali ini kamar Jo Twins yang jadi basecamp mereka.

“Telpon Amber gak? Biar dia bisa bilang ke mbak-mbaknya kalo kuenya minta dihias?” tanya Youngmin. “Amber kan kartu AS kita men!”

Yunhak dan Yunho mengangguk.

“Iya sih. Tapi…… ntar kalo disuruh bayar gimana? Kasian Amber mulu yang bayar.” Kata Yunhak.

“Orang kaya!! Beda kali hyung!” kata Yunho sambil ngemut lollipop.

Youngmin mengeluarkan handphonenya. Ia mencari kontak ‘Amber’ dan bersiap menelponnya.

“Jangan deh, Young! Ntar ribet urusannya. Siapa tau Amber ama Key lagi di pesawat? Di pesawat kan ga boleh ngaktifin hape!” cegah Yunho.

Youngmin mengangguk. Ia kembali memasukkan handphonenya ke saku jaket. Ia menengadahkan wajah. Bingung.

“Jadi gimana? Mau kita hias semau kita? Ntar kalo rusak Kwangmin yang marah!” kata Youngmin.

“Kok jadi Kwangmin?” tanya Yunho bingung.

“Lo ga nyadar apa kalo Kwangmin suka sama Yoochan? Pernah ga dia ngasih yang jelek-jelek buat Yoochan? Gue yakin orang yang paling marah kalo liat kue ini ancur itu ya… Kwangmin!” jawab Youngmin frustasi.

“Tapi Yoochan sukanya sama gue,” kata Yunho.

“Ha?!!” Youngmin kaget.

“Itu dulu!! Sekarang udah beda kali. Kan lo sama—“ mulut Yunhak langsung dibekep Yunho.

“Oke oke oke!! Jadi gimana? Mau kita suruh mbak-mbaknya atau ngga? Etapi kalo sekarang kita kesana, menjamin gak kalo mbaknya masih inget kita yang ngambil kue tadi?” Youngmin galau.

“Telpon Amber deh!!” kata Yunhak.

“Yakin? Kalo di pesawat???”

“Siapa tau udah sampe Jerman atau masih ada di Incheon.”

Youngmin akhirnya menelpon Amber. Tapi akhirnya malah Amber yang marah-marah.

“Gue udah suruh mbak-mbaknya bikinin krimnya dan dipisah, terus dikasih tempatnya. Itu tinggal dipotong ujungnya aja trus lo bentuk sesuka hati! Krim di toko Jarnett dijamin enak. Kalo ga enak gue lapor polisi! Gue ga peduli!! Mau hiasan lo jelek kek, bagus kek, absurd kek, yang penting ini buatan lo pada. Gue sengaja pesenin roti botak biar kita ada usaha buat ngehias. Inget, ini buat temen gue! Kalo lo ngasih ke mbak-mbaknya suruh ngehias? No! Gue marah sama lo selamanya!”

Tit.

Sambungan diputus.

Youngmin langsung menaruh handphonenya diatas meja dan mengusap kupingnya yang kena omel Amber.

“Ganas gila! Udahlah. Sejelek apapun yang penting ini bikinan kita. Yoochan juga pasti bakal menghargai jerih payah kita. Oke?” Youngmin menghela nafas.

Yunho dan Yunhak mengangguk. Mereka kemudian mengoles kue botak itu dengan krim cappucino keseluruhan. Kemudian menghias ujung kuenya dengan krim putih. Ternyata toko Jarnett sudah menyediakan krim warna hijau di tempat yang lebih kecil. Mereka menggunakannya untuk menulis nama di bagian atas kue. Di sisi sampingnya, 3Y menghias dengan absurd dengan krim yang tersisa. Dibentuk ikan lah. Bentuk sapu lidi lah. Bentuk muka orang lah. Absurdlah pokoknya.

“Lilin!!! Lilin mana lilin??” tanya Youngmin.

“Ini,” Yunhak memberikan lilin kecil dan lilin angka pada Youngmin.

“Yaaah…” Youngmin melongo. “Mau ditaro mana ini lilin?”

Semuanya memperhatikan tulisan “Selamat ulangtahun nenek sihir” di bagian atas kue dan gambar muka absurd disamping tulisan. Lilinnya ada sekitar 10-an. Gimana caranya buat nempelin lilin ini tanpa mengganggu tulisan ceker bebek ini?

“Udah tindihin aja ga papa deh,” kata Yunho setelah melalui pertimbangan sana-sini.

“Oke.”

 

****

 

11.49 PM

 

“Yakin lo bakal jam 12 teng ini kita bikin pestanya?” tanya Yunho.

Youngmin dan Yunhak menguap bersamaan. Mereka mengantuk setelah menghias kue sejauh ini.

“Kwangmin mana sih? Lama amat di pameran. Itu ngeliat pameran atau kencan diem-diem hoammm….” Youngmin menguap lebar.

“Jangan salahin gue kalo gue ketiduran disini,” kata Yunhak.

“Selow. Tidur tidur aja. Di sofa tapi,” kata Youngmin.

“Nonton TV yuk. Siapa tau ada film apa gitu. Bosen gue.” Kata Yunho.

Youngmin meraba-raba sofa, mencari remot. Ia lupa remotnya ada dimana. Setelah menemukan benda kecil itu Youngmin memberikannya pada Yunho.

 

12.45 AM

 

Youngmin dan Yunhak tertidur. Tapi Yunho masih asyik menonton telenovela yang diputar di televisi. Yunho terbawa suasana dengan cerita telenovela itu. Persis ceritanya dengan kenyataan hidupnya. Seorang lelaki yang harus merelakan pujaan hatinya untuk orang lain setelah jadian.

Klekk…

Pintu kamar terbuka.

“Yunho? Kok ada lo?” tanya Kwangmin.

“Kenapa? Emang ga boleh?” tanya Yunho balik.

Kwangmin tersenyum kecil. “Kampret!” kemudian ia duduk di samping Yunho yang sedang menonton telenovela. Kwangmin meletakkan plastik berisi komik diskonan di sembarang tempat. kemudian tertawa keras melihat tontonan Yunho. “Ini tontonan lo? Gila!! Hahaha….”

“Diem lo! Lagi konflik nih!” kata Yunho.

Kwangmin mengambil salah satu komik yang dipilih Yoochan untuknya. Ia membuka bungkusnya, kemudian melihat gambar-gambarnya.

“Cih, cewek banget.” Kata Kwangmin. Kemudian ia mengambil komik Yu-Gi-Oh.

“Weitss Yu-Gi-Oh? Liat dong brooo!!” Yunho langsung merebut komiknya dari tangan Kwangmin.

“Eh, udah pulang lo, Kwang?” tanya Youngmin.

Kwangmin mengangguk. “Iye. Lo kenapa pada tidur di sofa? Itu kasur masih kosong.”

“Jadi kagak jam segini? Eeeh udah jam segini? Gila lo! Ngapain aja lo jam segini baru balik?” tanya Youngmin.

“Besok aja. Yoochan udah tidur dari tadi di bis. Gue nganter dia ke kamarnya dulu. Abis itu beres-beres dikit kamarnya. Berantakan banget sumpah!”

“Padahal gue udah susah-susah ngehias kuenya! Gila lo!!” Yunho memukul kepala Kwangmin dengan komik di tangannya.

“Yaudah pada tidur aja. Gue juga ngantuk.”

 

***

 

“Topinya manaaaaaa?!!!!” teriak Kwangmin.

“Terompetnya mana??????” balas Yunho.

“Iniiiiiii!!! Lo pada kemana sih matanya? Sekarang kuenya manaaaa????” sahut Yunhak.

“Disini kamprettt!! Udah cepetan!! Udah lewat ini dari perkiraan!!!”

Jo Twins + JungBro kalap. Mereka berencana untuk memberikan kejutan ini tepat pukul 7. tapi ini sudah lewat 1 jam. Setelah membawa semua peralatan pesta ditambah air-airan untuk menyiram Yoochan, mereka berjalan pelan ke kamar Yoochan.

“1….2….3….”

PRIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIITTTTTTTTT!!!

Youngmin membunyikan peluit yang dibelinya kemarin. Setelah itu disusul dengan ketukan pintu ga nyante dari Yunho dan Kwangmin.

“Saengil chukahamnida… saengil chukahamnida… saranghaneun Park Yoochannie…. Saengil chukkahamnida… yeeee!!!” dengan suara full pales ditambah teriakan absurd jotwins dan jungbro bernyanyi. Setelah lagunya habis mereka menyiramkan air-airan yang dibawa dari basecamp. Ada air putih, air susu, air teh, tanpa air raksa.

“Happy birthday ya, temen seperjuangan!” Yunho yang pertamakali memeluk Yoochan.

“Thankyou Yunnie sayang…” Yoochan balas memeluknya.

“Happy birthday ya, Yoochan. Jangan bandel lagi! Malu tuh sama umur! Hahaha…” kata Youngmin sambil mengulurkan tangan.

“Makasih Minnieee..” Yoochan tertawa senang.

“Happy birthday sweetheart!!” Kwangmin memeluk Yoochan erat.

“Cikicieewww sweetheart? Kayak nama merek cokelat,” sahut Yunho merusak suasana.

Youngmin langsung menoyor kepala Yunho.

“Sweetheart kayaknya nama es krim deh,” Yunhak yang bertugas memegang kue ulangtahun ikut-ikutan ga jelas.

“Sweetheart itu judul drama!!” giliran Youngmin yang ga jelas.

Kwangmin dan Yoochan tertawa menanggapi ambigu tiga orang didepannya.

“Make a wish dulu dong, abis itu potong kue! Pegel nih gue megang ini kue!” kata Yunhak.

“Yaudah, masuk yuk. Berantakan sih.” Kata Yoochan.

“Lo yakin? Kita F4 nih alias cowo berempatan. Ga dikira macem-macem nanti?” tanya Yunho.

“Ada gue! Kalo lo macem-macem sama Yoochan, gue terjunin lo!” kata Amber yang tiba-tiba datang bersama Key.

Kwangmin, Youngmin, Yunhak dan Yunho kaget. Tiba-tiba waktu berjalan slow motion. Amber dan Key tidak jadi ke Jerman?

“Lo ga pulang?” tanya Yoochan pada amber sembari melakukan special hi-five.

“Nanti. Gue ngerayain ulangtahun temen gue dulu ga papa kali,” Amber tersenyum tulus dan memeluk Yoochan. “Happy birthday, Yoochan. Makasih ya udah mau jadi temen gue.”

“Makasih Amber. Harusnya gue yang bilang itu. Makasih udah mau jadi temen gue. Lope deh!” balas Yoochan.

“Happy birthday ya. Kadonya nyusul ya,” kata Key setelah Amber melepaskan pelukannya pada Yoochan.

“Ga usah ga papa kali. Lo disini aja udah jadi kado, hehe. Eh ayo masuk. Dikira gue nelantarin anak orang diluar sini.” Yoochan masuk ke kamarnya duluan. Diikuti 6 orang dibelakangnya.

 

***

 

Setelah melaksanakan ritual ulangtahun—make a wish, tiup lilin, potong kue, makan kue—tiga pasang kembar plus Yoochan bercanda-canda absurd. Ngomongin guru, pelajaran, sampe akhirnya ngomongin spongebob.

“Mber, lo ga jadi balik?” tanya Youngmin.

Amber menggeleng. “Gue sama Key nangis-nangis sama papa biar dikasih kesempatan buat ngerayain ulangtahun temen.”

“Seumur hidup kita belum pernah yang namanya ngerayain ulangtahun temen. Papa ga terlalu percaya sama temen buat kita. Kebanyakan yang mau bertemen sama kita itu karna uang yang kita punya.” Tambah Key.

“Iya. Kita juga baru pertama kali ngerasain yang namanya real friendship. Kita lama sekolah di Amerika. Kita ga pernah pake seragam. Baju kita bagus-bagus, jadi orang lebih suka deketin kita daripada yang lain. Di sekolah gue dulu ga ada yang berbaur. Nge-gank terus. Gank anak orang kaya, gank anak pengusaha, gank anak pejabat, begitulah.” Cerita Amber lagi.

“Pas pindah sekolah kesini, pake seragam, lo pasti ga percaya kalo kita norak banget. Ngaca mulu di kaca. Ngebuktiin siapa yang paling pas pake seragam ini. Seragamnya keren!”

Semua tertawa mendengar curcolan American Twins.

“Sekarang udah ga ada rahasia ya! Ayo bocorin rahasia lo semua!!” kata Amber.

“Gue bocorin rahasia gue ya. Lo berdua doang yang pasti belom tau. Lo berdua boleh kok jauhin gue setelah ini,” kata Yunho. Ia menunduk.

“Apa?” tanya Key dan Amber.

“Sebenernya gue gay,” kata Yunho. “gue suka ama cowok.”

“What?!!!” Amber dan Key membelalakkan mata.

Yunho menatap mereka berdua. “Lo pasti ga mau kan punya temen gay kayak gue? Jauhin aja ga papa kok.”

“Ngga, Yun. Malah kita bakal bantu lo buat jadi normal kok!” kata Key.

“Beneran?” tanya Yunho.

Key mengangguk. “Iya.”

“Gue juga bantu kok!! Ayo Yun semangat!!” kata Yoochan.

“Semangat! Semangat! Semangat!” semuanya bersorak.

“Gue juga mau cerita,” kata Youngmin. “tentang hubungan gue sama Kwangmin.”

“What?? Lo gay juga? Ampun!!” kata Yunho.

“BUKAAAN!!” Kwangmin melempar Yunho dengan lilin.

Youngmin menatap Yoochan. “Chan, lo inget gak dulu pernah denger gue sama Kwangmin berantem?”

Yoochan memutar memorinya. Ia ingat.

“Gue punya temen, namanya Yura, Han Yura.” Kwangmin memulai ceritanya. “Gue sayang banget sama dia. Dia temen baik gue.”

Kwangmin menatap Yoochan yang masih berekspresi datar, lebih ingin mendengarkan cerita lanjutannya.

“Gue kenalin Yura ke Youngmin. Gue yang pemalu takut mau nyatain perasaan gue ke Yura sampe akhirnya malah Youngmin duluan yang nyatain. Gue kecewa sama Youngmin. Tapi gue bisa apa? Liat Yura bahagia gue udah seneng.”

“Yura deketin Kwangmin di saat gue lagi sayang-sayangnya sama dia. Gue sama Kwangmin diem-dieman. Gue ga suka liat mereka berdua mesra banget.”

“Tapi ternyata Yura punya maksud tersembunyi. Dia mau Youngmin benci sama dia. Yura itu sakit, dia ga mau bikin Youngmin sedih. Sampe di hari menjelang kematiannya, Yura manggil-manggil Youngmin. Gue telpon Youngmin, tapi Youngmin beneran marah. Dia ga peduli gue ngomong apa. Sampe akhirnya Yura meninggal.”

“Dan bodohnya kita malah ngungkit-ngungkit masalah itu waktu berantem. Gue emang bodoh banget ga jadi orang terakhir yang dia liat. Gue sakit hati, kenapa Kwangmin? Tapi akhirnya gue sadar. Gue yang bodoh disini.”

Semuanya menghela nafas. Tidak menyangka ceritanya akan sangat menyedihkan.

“Oke, sekarang nona Yoochan harus bercerita!” kata Kwangmin.

“Ha? Cerita apa?” tanya Yoochan bingung.

“Tentang lukisan ‘jika dunia ini adil…’”

Yoochan menatap Kwangmin tajam. Tapi kemudian ia menunduk dan menghela nafas panjang.

“Udah pada tau kan hubungan gue sama Yoochun?” Yoochan menatap teman-temannya. “Dari kecil gue sama Yoochun diperlakuin ga adil. Ini karna nenek gue belom punya cucu cowok, dan kebetulan Yoochun lahir. Tapi sialnya gue juga ikut lahir. Nenek gue berpesan sama mama gue buat jagain Yoochun sebaik-baiknya karna dia cucu cowok satu-satunya di masa itu. Yoochun penerus perusahaan papa. Sedangkan gue ga dikasih tempat dimana-mana. Keluarga gue juga ga peduli sama gue. Mereka nganggap gue ga penting karna udah kebanyakan cewek di keluarga. Gue pun mulai keluar dari dunia gue.

Gue berusaha buat berperilaku kayak cowok, biar diperhatiin. Gue berantem, gue pake celana ke sekolah, gue naik-naik pohon….

Tapi semua ga merhatiin gue. Malahan gue dimarahin. Gue disuruh jadi yang terbaik satu sekolah, baru diperhatiin. Dan gue berhasil. Tapi hasilnya gue ga dianggap apa-apa. Cuma dianggap angin lalu. Peringkat Yoochun jauh dibawah gue. Tapi dia yang dibanggain mulu.

Lama-lama gue muak. Gue bosen. Dan puncak bosennya adalah sekarang. Nilai ulangan kisaran do re mi karna gue ga tau harus pake cara apa lagi buat bikin keluarga gue sadar kalo gue terlanjur lahir. Seharusnya kalo ga suka gue bunuh aja gue dari dulu. Buang gue ke panti asuhan atau hutan belantara.”

Kwangmin memeluk Yoochan dari samping. “Ga usah dilanjutin kalo ga mau.”

“Ekhemmmm!!!” Yunho berdeham sengaja.

“Apa?” tanya Kwangmin sambil mengelus rambut Yoochan lembut.

“Ga papa.” Jawab Yunho sambil meminum coca cola yang dipesan Amber di kantin.

“Tapi karena ada kalian, gue ngerasa hidup kembali. Gue ga peduli gimana susahnya cari muka di depan keluarga gue. Gue punya kalian. Gue sayang kalian. Ngapain gue nunggu balesan sayang dari yang gue sayang dulu?” kata Yoochan sambil tersenyum lebar. Ia melepaskan dirinya dari jeratan Kwangmin.

“Emang kita sayang lo?” tanya Key.

“Kampret!” Yoochan melempar topi ulangtahun yang masih awet di plastik pada Key.

“Kita bakal sayang sama lo kalo lo bisa perbaiki nilai lo! Kita ga mau kan punya temen yang nilainya dibawah KKM Cuma gara-gara hal kecil?” kata Amber.

“SETUJU!!” semuanya mengangkat botol softdrink yang tinggal dikit.

“Oke, gue terima tantangannya!” kata Yoochan.

Ketiga pasang kembar plus Yoochan berpelukan. Kemudian menghabiskan waktu mereka dengan berpesta ga jelas. Kue sudah habis, makanan dan minuman yang dipesan di kantin juga habis. Tapi mereka tidak kehabisan ide untuk menghabiskan waktu.

“Eeeh kita hias pohon natal yuk! Rumah gue nanti sepi. Pohon natal belum dipasang. Pasti seru kalo kita masang bareng. Mau gak?” tanya Amber.

“MAU!!!!”

Dan mereka pun mempunyai rencana di malam natal ini.

Yoochan bersyukur, ia memiliki teman-teman yang baik walaupun kadang sarap. Tapi inilah hidup. Hidup tidak lengkap tanpa teman.

 

~ End of Special Part ~

 

 

 

5 thoughts on “Twins High School {Special Yoochan Birthday}

  1. Hanna Savira Fauziah

    tadi sempet gue share link wordpree lu om , haha banyak ye pengunjungnya congrats calon sutradara😀

    Reply
  2. renidee2013

    Wah thor keren banget ceritanya
    Oh iye, saya reders(?) Baru
    Dan barubaca ceritanya
    udah baca daei part 1 tapi baru coment disini. Maaf ye…
    Ff ini bener-bener sesuatu(?)

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s