SONGFIC // JUST LOOK AT THE SKY // BANG YONGGUK X OC // ONESHOT

Title : Just Look at The Sky
Length : oneshoot
Genre : angst
Cast :
~ Bang Yongguk *BAP*
~ Yoon Junhee *OC*
~ Other BAP members
OST :
Just Look at The Sky – Noel’s Kang Kyun Sung
Other OST :
Coffee Shop – BAP
A/N : songfic ini terinspirasi dari lagu Kang Kyunsung, serta Coffee Shop, dan satu lagi, karena gue kangen seseorang *abaikan*
Gue lagi pengen bikin songfic makanya gue bikin ini dan entah kenapa gue milih Yongguk. Mungkin karna wajahnya yang pas ya buat karakter ini -_- keiii, silakan dibaca dan mohon komentarnya ^^
Nb : maaf kalo ga nyambung dan ga berfeel >,< dan maaf ga ada posternya. maklum gue ga bisa bikin dan ga ada yang mau bikinin >,<

****

Wherever my footsteps lead me, I just walk and walk
And I end up in a totally different alleyway in Samchungdong

Bang Yongguk berjalan santai di jalanan asri Samchungdong, sebuah distrik kecil di kota Seoul. Lelaki itu baru menyelesaikan tour Amerika bersama grup-nya dan langsung terpikir untuk mendatangi distrik ini sebelum ke gedung perusahaan yang menangani grupnya.
Drrrttt… drrrttt…
Handphone-nya bergetar. Bang Yongguk langsung mematikan iPod serta melepas earphone-nya. Kemudian mengambil handphone-nya di saku lainnya. Ada telepon.
“Kau dimana? Manager Hyung mencarimu!” kata orang diseberang, Kim Himchan.
Yongguk menghela nafas. “Iya, aku segera kesana,” katanya dan sambungan itu langsung diputus oleh si penelpon.
Yongguk melangkahkan kakinya ke sembarang arah—tidak sesuai dengan apa yang diucapkannya pada Himchan tadi. Lelaki itu kembali memasang earphone dan tenggelam dalam imajinasi lagu rop-rock yang didengarkannya.
Langkah lelaki itu kembali terhenti kala melihat gang kecil ini. Gang yang dulu sering dilewatinya setiap akhir pekan. Gang yang ada ‘toko bunga warna kuning’ yang menjadi ‘ikon’ Samchungdong baginya.

In that quiet and familiar street
Our past memories remain the same
How are you doing?

“Yongguk-ah, bunga ini indah kan?” gadis itu mengangkat sebuah bunga berwarna kuning cerah dari dalam pot yang sengaja dipajang sang pemilik toko untuk menarik perhatian pengunjung.
“Iya, iya,” Bang Yongguk tersenyum kecil melihat wajah gadis itu yang sepertinya sangat menyukai bunga yang tidak ia ketahui namanya itu.
“Kau berniat untuk membelikanku ini, kan?” tanyanya lagi dengan nada manja. Gadis itu tersenyum lebar, berharap bunga itu akan menjadi miliknya.
“Tidak,” kata Yongguk dengan wajah datar yang dibuat-buat.
Gadis itu mengerucutkan bibirnya. “Kalau begitu, aku tidak akan mau menikah denganmu!” Yoon Junhee menaruh kembali bunga itu ke dalam potnya.
“Ya sudah, aku akan tetap memaksamu menikah denganku,” Yongguk mengambil buket bunga kuning yang sebenarnya sudah dipesannya jauh-jauh hari dari tangan pemilik toko itu.
Gadis itu tertegun menatap buket bunga kuning yang harganya sangat tidak terjangkau itu. Yongguk menyodorkannya ke depan wajahnya, dan reflek Junhee mengambilnya dan mencium aromanya.
“Yongguk-ah, gomawo,” gadis itu tersenyum.

***

“Yoon Jinhee, bagaimana kabarmu?” gumam Yongguk sambil memejamkan matanya. Kemudian melanjutkan berjalan lagi menjauhi toko itu.

I unintentionally went to the places you really liked
That small cafe, that supermarket
It’s still the same and hasn’t changed

Langkah kakinya kembali membawanya ke masa lalunya. Bang Yongguk berhenti mendengarkan musik dan fokus dengan bayangan masa lalunya di distrik kecil ini. Lelaki itu mendekati sebuah bangunan dua lantai bergaya tradisional dan merasakan aroma latte menggelitik hidungnya.
Bayangan masa lalu kembali terputar dalam ingatannya. Ketika ia dan Yoon Jinhee memasuki toko ini dan disambut hangat oleh pelayan yang ada di depan. Kemudian gadis itu langsung ke lantai atas dan memilihkan tempat diluar ruangan. Alsannya agar ia tidak kepanasan di dalam.
“Pemandangannya bagus kan?” tanya gadis itu riang. Ia menyeruput latte-nya pelan-pelan agar bisa bertahan lebih lama disini.
“Iya,” seperti biasa, lelaki itu hanya bisa menyetujuinya sambil terus menatap wajah riang Junhee.
“Hanya di Samchungdong kau bisa merasakannya! Aku suka Samchungdong!!” gadis itu berteriak dan membuat beberapa orang yang sedang bercengkrama disana menatapnya heran. Yongguk menempelkan kedua telapak tangannya di depan dada sambil menundukkan kepala, meminta maaf.

Yongguk tersenyum mengingatnya. Kemudian langkah kakinya mengajaknya ke sebuah supermarket tempat Junhee dulu sering merengek untuk berbelanja—dan gadis itu sama sekali tidak memikirkan uangnya yang menipis karena membeli buket bunga kuning itu.
Yongguk masuk ke supermarket itu tanpa tujuan. Tidak berubah. Sama sekali tidak berubah. Tempat ini masih sama ramainya seperti terakhir ia dan Junhee mengunjunginya.
“Kau tahu kenapa aku suka supermarket?” tanya Junhee setelah memasuki supermarket itu.
Yongguk menggeleng. “Kenapa?”
“Karena disini ramai!” Junhee tertawa kecil dan terlihat idiot. Yongguk langsung mengacak rambutnya dan menyuruhnya cepat untuk memilih-milih.

I stop my footsteps and silently smile
Your face faintly comes into mind
I remember, I sometimes remember so I sometimes look at the sky

Ia tidak peduli kalau orang mengiranya gila karena tersenyum sendiri di depan pintu masuk supermarket. Karena tanpa tujuan yang jelas, lelaki itu keluar dari tempat yang penuh keramaian itu.
Sampai detik ini hanya wajah Junhee yang menghiasi pikirannya. Ia tidak peduli berapa banyak panggilan Himchan yang menyuruhnya untuk ke gedung perusahaannya sekarang, dan ia lebih tidak peduli lagi dengan omelan managernya yang terlalu lama menunggu.
Yongguk menatap langit. Cuacanya sangat cerah. Matahari bersinar terik menyinari dunia. Tapi tidak menurunkan semangatnya untuk kembali berjalan-jalan, mengelilingi Samchungdong yang penuh kenangan ini.

I sit alone in the cafe and drink a cup of sweet latte
On this languid afternoon, I feel somewhat empty

Yongguk mengawali harinya di Café dua lantai kemarin keesokkan harinya. Hitung-hitung untuk menenangkan diri dari rutinitas pekerjaannya dan juga omelan bos serta managernya yang khawatir kehilangannya. Ia setia menunggu pengunjung yang menduduki singgasananya di lantai dua itu sampai pergi, kemudian mengambil alih tempat itu.
“Latte,” kata Yongguk ketika seorang pelayan menanyakan pesanannya.
Pelayan itu mengangguk dan segera melapor ke barista untuk membuatkan pesanan pelanggannya. Yongguk menenggelamkan kepalanya dalam tumpukan kedua tangannya sembari menunggu pesanannya tiba. Hari ini matahari bersinar sangat terik, sampai-sampai ia merasa kulitnya terbakar. Yongguk langsung mendongakkan kepala ketika mencium aroma latte mendekatinya.
“Selamat menikmati,” kata pelayan itu sambil tersenyum.
Yongguk mengangguk sambil tersenyum kecil. “Terima kasih,”
Biasanya ada yang berisik di depannya ketika ia memesan Latte. Yoon Junhee selalu menyuruhnya untuk meminumnya pelan-pelan agar bisa bertahan lebih lama melihat pemandangan Samchungdong dari atas sini.
Yongguk merasakan kehilangan yang amat sangat menyakitkan. Lantai dua ini ramai, tapi seramai apapun tetap saja itu tidak bisa mengisi kekosongan dalam hatinya. Yongguk menarik nafas. Sesak. Kemudian dikeluarkannya lagi. Lebih sesak lagi. Dan dalam beberapa detik ia kembali menenggelamkan wajahnya di tumpukan tangannya, menangis, hal yang hampir tidak pernah ia alami lagi.

Now I think I’ll finally know
The small moments of each minute and each second
They were more precious and happy for me than anything else

“Hyung, kau tidak apa-apa kan?” tanya Zelo, magnae grupnya yang pertama kali melihat Yongguk memasuki dormnya.
Yongguk mengangguk. Ia langsung ke kamar yang ia bagi bersama seluruh membernya. Zelo tidak mengajukan pertanyaan apapun lagi karena menurutnya ia tidak akan mendapatkan jawaban. Jongup yang baru dari kamar mandi bertanya apa yang terjadi, dan Zelo menggeleng.
“Kupikir aku tahu,” kata Jongup.

****

Yongguk menghela nafas panjang. Ia memejamkan matanya sejenak dan menutup wajahnya dengan selimut yang ada di atas kasurnya. Yongguk merindukannya. Merindukan seseorang yang mengisi waktunya, hatinya, pikirannya, dan segalanya.
Benar. Setiap detik yang diberikan Tuhan itu tidak akan sia-sia. Sedikit pun waktu yang diberikan, dan sedikit pun moment yang tercipta di setiap menit atau detiknya, pasti berharga. Dan setiap detik yang disediakan Tuhan bersama Yoon Junhee adalah yang terbaik dari yang terbaik.
Yongguk tersenyum. Ia turun dari tempat tidur dan menyahut panggilan Youngjae yang menyuruhnya makan.

I walk all day and all night
I think of the words you said to me
The words “I’m sorry” revolve in my ear

“Yongguk-ah!”
Yongguk terus berjalan tanpa mengacuhkan panggilan manja itu. Gadis itu membuatnya jengkel hari ini. Yongguk mempercepat langkahnya dan berniat bersembunyi dan mengagetkannya untuk mengganti kekesalannya.
“YONGGUK-AH, JAMKKAMAN!!!” teriaknya sambil berlari kecil. Di tangannya sudah bergelantungan kantung-kantung hasil belanjaan dari tabungannya dan sedikit tabungan Yongguk.
“BANG YONGGUK!!!” teriaknya lagi.
Gadis itu berlari mengejar Yongguk yang sudah diseberang jalan. Orang-orang menyingkir ketika gadis itu berlari tanpa melihat rambu yang sudah menunjukkan warna merah. Tidak bisa menyingkir. Gadis itu terlalu takut untuk menggerakkan kakinya. Seluruh belanjaannya jatuh dan ia lemas.
Seseorang langsung memeluknya dan ia merasakan tubuhnya terpental agak jauh dari tempatnya. Gadis itu masih bisa membuka matanya dan merasakan kesakitan di sekujur tubuhnya.
“Panggil 911!!!” teriak seseorang sambil mendatangi Junhee dan si penolong yang ikut jadi korban.
Junhee berusaha melihat siapa yang menyelamatkannya. Seorang lelaki, ada disampingnya dan ia masih sadar. Lelaki itu tersenyum.
“Mianhae…” hanya kata itu yang terucap oleh gadis itu. Kemudian ia memejamkan matanya.

It’s all in the past and I brushed it all off
I believed that I was doing fine now but
I keep missing you, I keep missing you so I look at the sky, only the sky

“Itu semua sudah berakhir, Hyung,” kata Jongup setelah mendengar cerita-cerita menyakitkan Yongguk yang disimpannya selama ini.
“Walaupun sudah berakhir, kau tidak bisa kan langsung melupakannya?” kata Yongguk.
Semua member mengangguk. Himchan menepuk pundak Yongguk pelan. Kemudian disusul Youngjae yang tersenyum sambil membereskan piring.
“Kau memang bodoh dalam mengekspresikan perasaanmu sendiri, Hyung,” kata Daehyun.
Yongguk menatap Daehyun sengit. “Aku tahu!”
Makan sore selesai. Jongup dapat giliran mencuci piring dan yang lainnya membubarkan diri. Yongguk sendiri sudah berada di balkon dormnya. Lelaki itu menatap langit dan membisikkan kata “Aku merindukanmu” pada orang yang entah dimana. Setelah kejadian itu Yongguk tidak pernah melihatnya lagi. Yoon Junhee mungkin sudah melupakannya, karena ini kenangan sekitar… 10 tahun lalu?

Uh gloomy day

Langit tiba-tiba mendung dan menitikkan sedikit air hujan. Yongguk kembali ke dalam dorm dan menutup pintu balkon.
“Ada telpon untukmu, Hyung. Aku tidak tahu dia siapa,” kata Himchan sambil memberikan handphone Yongguk yang tidak dibawanya ke balkon.
Nomor tak dikenal. Yongguk tidak berniat untuk menghubunginya lagi—walaupun ia memang penasaran. Tapi untungnya orang itu menelponnya lagi.
“Yoboseyo?” sapa Yongguk, menekan rasa penasarannya.
Hening sejenak. Tidak ada yang berbicara. Baik Yongguk ataupun seseorang diseberang. Yongguk mengecek layar handphone-nya, memastikan orang diseberang masih standby disana.
“Yoboseyo?” kata Yongguk lagi dengan nada lebih keras. “Maaf, ini siapa?”
‘Kau…. Tidak ingat aku?’ tanya orang diseberang dengan nada parau. Seorang gadis. Ia tidak ingat pernah bertemu gadis akhir-akhir ini.
“Siap—Junhee-ah?” Yongguk langsung mengucapkan nama itu, nama yang mengganggu pikirannya dari kemarin.
Terdengar tawa kecil khas gadis itu. Yongguk berniat duduk di sofa terdekat dan sayangnya meleset jauh ke lantai marmer yang keras. Tapi ia tidak berteriak sedikitpun karena terlalu senang.
“Yoon Junhee…”
‘Bang Yongguk,’ gadis diseberang tertawa senang. ‘Yongguk-ah, bogoshippo!’
Yongguk menghapus air mata yang tiba-tiba turun dengan cepat. “Nado…”
Anggota grupnya yang lain tersenyum. Jongup yang baru selesai mencuci piring juga ikut tersenyum melihat leadernya itu menunjukkan ekspresi yang lebih baik dari yang tadi. Langit yang tadi mendung sekarang berawan.
“Jonguppie, masuk!” kata Daehyun dari depan kamar.
Jongup mengangguk. Kemudian seluruh member memasuki kamarnya dan membiarkan Yongguk sendirian, mengenang masa lalu.

~ End ~

Maafkan kalo rada ga jelas. Ini dibikin Cuma beberapa jam dan gue juga gatau kenapa bisa langsung jadi –“ dimohon komentarnya wahai pembaca ^.^

13 thoughts on “SONGFIC // JUST LOOK AT THE SKY // BANG YONGGUK X OC // ONESHOT

  1. VieLli

    Ini bagus, tp krn aku gak tau lagunya noel’s kang kyun-sung jd feelnya agaknya emang kurang dapet. Mungkin setelah ini bakal coba cari itu lagu😀
    Oke deh selamat berkarya, semangat!! ^o^)9

    Reply
    1. LaillaMP Post author

      bahkan aku yang udah denger lagunya aja ga terlalu dapet feelnya xD mungkin salah cerita nih kkk
      makasih udah baca karya ga jelas ini ya unn kkk

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s