Innocent Life (Part 2)

Title : Innocent Life {How To Date?}

Genre : comedy, romance, life, family, ooc *dikit*, etc

Length : 2 of ?

Cast :

~ Jung Yunhak (CSS)

~ Ryu Hwayoung (Ex T-Ara)

A/N : FINALLYYYYYY!!!!!

Setelah sekian lama tidak melanjutkan ff ini *sebenernya ngelanjutin, tapi karena kepanjangan jadi kelamaan di revisi*

Sorry bagi yang nunggu. BAGI YA. Yang ga nunggu ya tinggal baca dari awal dan beri komentar🙂

 

***

Hari ini tidak biasanya……

 

Hyoyoung tidak percaya dengan pemandangan di depannya. Hati kecilnya mampu menebak apa yang sedang berkecamuk di hati saudari kembarnya.

“Ryu Hwayoung, wae?” tanya Hyoyoung sabar.

Hwayoung menggeleng.

“Katakan, atau aku yang bocorkan?” ancam Hyoyoung yang langsung mendapat respon dari Hwayoung.

Hwayoung langsung menangis di pelukan Hyoyoung. Hyoyoung memeluk kembarannya sambil mengelus kepalanya.

“Hueeeeeee!!!” Hwayoung menangis keras. Anak-anak yang melihatnya bengong. Seumur-umur Hwayoung belum pernah nangis di depan umum kayak gini.

“Kamu kenapa sayang?” tanya Hyoyoung lembut.

“Aku…. Hiks…. Hueeeee” Hwayoung malah menangis.

Hyoyoung memeluk Hwayoung lebih erat lagi untuk menyembunyikan wajah jelek kembarannya kalau menangis.

“Kenapa? Ceritakan sendiri atau aku yang bocorkan ke publik?” ancam Hyoyoung, yang sebenarnya tidak serius. Hanya saja Hwayoung selalu percaya kalau Hyoyoung bisa melakukan itu.

 

***

 

“Kencan? Omo!! Hahaha….” Hyoyoung tertawa keras mendengar alasan Hwayoung tidak semangat hari ini. Sampai istirahat pertama ini mereka berdua menghabiskan waktu di UKS.

“Wae?” tanya Hwayoung sambil mengerucutkan bibirnya.

“Ceritakan apa yang Yunhak katakan tadi!” pinta Hyoyoung.

Hwayoung memutar bola matanya. Kemudian ia memutar cerita tadi pagi. Ia di ruang tamu, sedangkan Yunhak di dalam kamarnya, sedang merapikan dasi.

 

~flashback~

 

“OPPAAAA SUDAH BELUM? AKU HAMPIR TERLAMBAT INI AISHHH!!!” teriak Hwayoung pada Yunhak yang daritadi tidak keluar kamar. Merapikan dasi katanya.

“Siapa suruh bangun terlambat!” sahut Yunhak dari dalam kamar.

“Keundae aku kan sudah mandi cepat, makan cepat, dan waktunya lumayan longgar. Kenapa oppa yang selalu ngaret kayak kura-kura?!” balas Hwayoung tak mau kalah.

“Itu pembalasan,” jawab Yunhak sambil tersenyum tipis.

“Oppaaaa ayo berangkattt!!!!!!!!!” teriak Hwayoung sambil menarik tangan Yunhak yang baru menenteng tas laptopnya.

“Eeeee tunggu duluuu!!” kata Yunhak.

“Oppa buang-buang waktu! Ayo cepat aku hampir terlambat! Aku belum mengerjakan PR!!” Hwayoung menarik tangan Yunhak sampai keluar.

“Cepat keluarkan mobilnya!”

“Bahkan kunci mobil pun belum kuambil. Makanya kau sabar. Dan lagi, kerjakan PR itu di rumah! Bukan sekolah!”

Hwayoung mengerucutkan bibirnya. Ia mengikuti arah jalan Yunhak dan menunggu di halaman depan sembari membuka gerbang. Setelah mobil Yunhak berada di depannya Hwayoung menggeser gerbang untuk menutupnya. Kemudian masuk ke mobil dengan wajah ditekuk.

“Kalau aku terlambat oppa harus tanggung jawab!” kata Hwayoung.

Yunhak mengangguk. “Tenang saja, sekolahmu kan milikku.”

Hwayoung membelalakkan mata. “Ha?”

“Sudah kuduga kau tidak akan tahu. Kudet!” cibir Yunhak.

Hwayoung mengernyit. “Oppa lebih kudet, tidak tahu game versi terbaru!”

“Itu karena aku bukan orang di bidang game, dan aku terlalu sibuk untuk memikirkan berapa versi game-game itu!” Yunhak menjalankan mobilnya perlahan.

“Aku juga tidak tahu kalau sekolah itu milikmu, karena aku terlalu sibuk untuk memikirkan game-game itu daripada siapa pemilik sekolahku sendiri!” balas Hwayoung sambil mengeluarkan PSP-nya.

Setelah itu suasana sangat hening. Tidak ada yang berbicara kecuali PSP yang dipegang Hwayoung.

“Ngg… Hwayoung-ah,” panggil Yunhak pelan.

Hwayoung menyahut tanpa menolehkan kepalanya dari PSP itu. “Apa?”

“Kau… sibuk malam ini?” tanya Yunhak.

“Sibuk? Sibuk apa?” Hwayoung bingung sendiri. “Sepertinya tidak. Wae?”

“Aku mau mengajakmu kencan,” kata Yunhak. Suaranya terdengar sangat gugup.

“Hng?” Hwayoung mem-pause gamenya. “K-Kencan?”

Yunhak mengangguk. “Iya, kencan,” sekarang suara Yunhak terdengar sangat canggung. “Kemana?” tanya Hwayoung.

Yunhak menggeleng bingung sambil mengetuk-ngetukkan ujung jari telunjuknya pada stir mobil.

“Sejujurnya aku juga tidak tahu. Kita… jalan-jalan saja,” jawab Yunhak canggung. “Tapi kalau tidak mau ya tidak usah. Kau kan sebentar lagi mau ujian dan aku tidak mau mengganggu..”

“Y-Ya.. kita… kencan… malam ini…” Hwayoung menelan ludahnya dengan susah payah. Kencan? Itu tentang apa? Apa yang harus dilakukan?

“Okay. Setelah pulang kerja nanti aku akan menjemputmu,” kata Yunhak.

Hwayoung mengernyit. Tapi akhirnya ia mengangguk saja. Suasana kembali hening. Hanya deru lembut mesin mobil yang terdengar.

 

~ End Flashback ~

 

Hyoyoung mengangguk mendengar cerita Hwayoung. Hwayoung masih bingung, terkesan galau karena tidak tahu apa-apa tentang kencan.

“Kencan itu… melakukan apa?” tanya Hwayoung.

Hyoyoung menghela nafas. “Hanya jalan-jalan biasa. Menonton film, bermain di Taman Bermain, Makan bersama, berbicara… ya begitu saja.”

Hwayoung memejamkan matanya sejenak. Pusing.

“Nikmati saja. Yang terpenting dalam kencan adalah kebersamaan. Disitu kalian bisa mengetahui, apakah kalian saling cocok atau tidak.”

 

****

 

Yunhak kembali lagi ke kantor setelah menjemput Hwayoung di sekolah. Katanya pekerjaannya masih ada sedikit dan akan lebih baik bila diselesaikan hari ini. Hwayoung juga tidak terlalu berharap Yunhak ada di rumah karena ia akan sibuk memilih-milih baju.

Kejadian seperti sinetron seperti ini sangat tidak diinginkan Hwayoung. Dijodohkan dengan pengusaha tampan, diajak kencan, dan sekarang seperti kebanyakan gadis polos di sinetron ia sibuk menentukan warna apa yang cocok untuknya.

Hwayoung kira ia akan sangat mudah menentukan baju apa yang cocok untuk pergi seperti biasa. Tapi kenapa sekarang berbalik 180 derajat? Kenapa susah sekali mencari baju bagus? Dan kenapa bajunya amat-sangat-tidak-baik? Sebenarnya siapa yang salah?

Hwayoung merebahkan dirinya di kasur setelah memberantaki seluruh isi lemari. Ia meraba-raba kasur untuk mencari tasnya dan mengambil PSP. Siapa tahu PSP-nya bisa memberikan inspirasi untuknya.

“Ahh mana ada pasangan yang kencan dengan baju robot atau boxer smackdown!” Hwayoung melemparkan PSP-nya ke sembarang tempat diatas kasurnya. “Pusiiiiiing!!!”

 

****

 

Di kantor, Yunhak juga tidak bisa berkonsentrasi. Pekerjaannya sudah selesai. Yang dia bingungkan sekarang adalah kemana harus mengajak Hwayoung kencan nanti malam? Lagian salah dia juga sok-sokan ngajak kencan padahal sendirinya belum pernah melakukan hal seperti itu.

Selama 28 tahun ini, hidup Yunhak hanya diabdikan untuk belajar dan mengejar beasiswa agar bisa mewarisi seluruh saham perusahaan ayahnya. Bukan karena ia malas mencari tempat pekerjaan lain. Tapi kalau perusahaan ini lepas begitu saja semua keringat dan kerja keras ayahnya pasti akan sia-sia.

Selama 28 tahun ini tidak pernah sekalipun ia hidup untuk berkencan atau memberi permen di White Day pada perempuan, atau menerima cokelat di hari Valentine. Hidupnya terlalu serius, iya dia mengakuinya. Tapi untuk sekali ini ia berharap bisa berhasil. Hwayoung telah mengubah hidupnya sedikit demi sedikit.

“Hyung, kau kenapa?” tanya Geonil pada atasannya sekaligus temannya.

Yunhak menggeleng seraya mengatakan “Gwaenchana.”. Tapi dalam hati ia sangat ingin bertanya pada playboy kelas jago ini tentang kencan dan hal apa saja yang harus dilakukan orang kencan. Harus kencan kemana, dan apa yang harus dipersiapkan.

“Apa?” tanya Yunhak setelah Geonil menyuruhnya untuk memberi pendapat pada presentasi singkatnya yang sama sekali tidak didengarkannya.

Geonil langsung meninggalkannya setelah mengulang presentasi singkatnya dengan pelan dan sangat jelas dan diberi komentar “bagus” oleh Yunhak.

Benar-benar kencan itu hal yang sangat sulit.

 

****

 

Jam 5.00 sore.

Waktunya bagi bos dan pegawai kantor yang telah menyelesaikan pekerjaannya pulang. Yunhak masih berdiam di tempatnya duduk sejak pagi. Laporan-laporan hanya diterimanya dan belum ia periksa lagi kelengkapannya.

Internet!

Ah ya, kenapa bisa lupa dengan hal yang satu itu? Daritadi berdiam diri di ruangan serbaguna khusus manager tidak memberi apa-apa dan baru terpikir sampai sekarang. Benar-benar membuang waktu.

Yunhak membuka salah satu sistem pencarian yang terkenal di Korea dan mulai mengetik “Kencan”.

 

Kencan

Apa yang harus dilakukan dalam kencan?

Apa kegunaan kencan?

Cara untuk memikat hatinya dalam berkencan

 

Dan Yunhak memilih sebuah postingan yang berjudul “Kencan”

 

kencan adalah hal lumrah yang dilakukan setiap pasangan, terutama pasangan muda. Pada masa kini, kencan dianggap sebagai adat dalam berpasangan. Terutama di Korea. Kencan minimal satu tahun untuk membuktikan rasa cinta dan—

 

Yunhak tidak melanjutkan tulisan itu karena sangat menyedihkan untuknya. Ia belum pernah kencan sekalipun dengan perempuan manapun. Yunhak menurunkan postingan itu sampai laman yang berjudul “Apa yang dilakukan saat kencan?” terlihat di matanya. Dan Yunhak pun membacanya dengan serius.

 

****

 

Tin.. Tin..

Tidak biasanya suara klakson mobil begitu menakutkan bagi Hwayoung. Yunhak sudah pulang karena ini jam….

“JAM SETENGAH TUJUH?” Hwayoung membelalakkan mata. Apa yang dilakukannya sampai-sampai memakan banyak waktu? Kamar ini jadi benar-benar berantakan dan lebih dari kapal pecah.

TIN… TIN… TIN…

Suara klakson itu terdengar sangat keras untuk menyuruh si pemilik rumah membukakan pagarnya.

“Oppa, aku sedang ganti baju. Kau bisa membuka sendiri kan? Maafkan aku sungguh maafkan aku!” Hwayoung berbicara dengan cepat di telepon dan menutupnya sebelum Yunhak sempat menarik nafas sedikitpun.

“Ya Tuhan kalau ternyata kencan seribet ini kenapa aku harus menyetujuinya?” tanya Hwayoung. Kemudian mengambil baju lagi dari lemari.

“Hwayoung-ah, masih di dalam?” tanya Yunhak dari luar.

Hwayoung mengangguk. Kemudian meneriakkan kata “Ya” dan mengambil asal baju di atas kasur kemudian memasukkan kembali baju-baju yang masih berserakan ke dalam lemari.

Hwayoung keluar setelah mengganti baju dan memakai wewangian seadanya dari Hyoyoung padanya. Kemudian mempoles wajahnya sedikit dengan bedak dan keluar tanpa hiasan di rambut sedikit pun.

Yunhak yang sedang duduk di sofa langsung menoleh ketika mendengar suara pintu kamar terbuka. Waktu seakan berhenti ketika kedua pasang mata itu bertemu dan zaman pun berubah menjadi zaman es kembali.

“Tidak usah komentar apalagi protes dengan penampilanku! Hanya ini yang ku punya dan kupinjam!” kata Hwayoung sambil terus menarik-narik rok mininya yang hanya sejengkal dari lutut, berharap rok itu bisa panjang dengan sendirinya. Ini rok sejak kelas 3 SMP dan sekarang ia kelas 3 SMA. Bayangkan saja sependek apa rok itu dengan pertumbuhan Hwayoung yang pesat.

Yunhak menghela nafas. Kemudian kembali fokus pada iPad-nya untuk membaca majalah elektronik.

“Ganti!” kata Yunhak singkat.

“Apa?” tanya Hwayoung. “Kau menyuruhku menggantinya padahal aku—“

“Ganti kubilang! Diluar dingin dan aku tidak mau kau kedinginan! Dan yang lebih tidak kuinginkan adalah kalau paha jelekmu itu terlihat orang. Ganti!” jawab Yunhak sedikit marah.

Hwayoung terpaksa kembali ke kamar. Entah kali ini kencannya bagus atau tidak dengan permulaan seperti ini.

 

****

 

Hwayoung akhirnya memakai kaus biasa berwarna kuning dengan celana jeans ketat yang menutupi permukaan kaki dan paha-jeleknya serta memakai sepatu hak tinggi yang menyakitkan. Yunhak tidak berkomentar banyak dengan tinggi badannya atau harum tubuhnya yang menurutnya lumayan bikin orang pusing—padahal Hwayoung sendiri merasakannya dan merasa terganggu.

Yunhak juga hanya memakai kaus hitam yang ditutupi jaket biru dan celana jeans bermerk serta sepatu adidas putih yang biasa dipakai orang untuk jalan-jalan. Benar-benar fashion orang kaya.

“Seharusnya kau memakai sepatu biasa saja. Sepatu hakmu itu membuatmu lebih tinggi dariku,” kata Yunhak setelah sekian lama berjalan di sekitaran Lotte World.

Hwayoung menghela nafas. “Kenapa baru sekarang bilangnya? Aku sudah hampir keseleo dengan sepatu menyakitkan ini.” Katanya sambil memasang wajah menyedihkan yang tidak dibuat-buat.

“Aku baru menyadarinya. Maaf,” kata Yunhak.

Hwayoung mengangguk. “Tidak apa-apa.”

Lotte world sangat ramai di sabtu malam ini. Banyak pasangan yang berjalan sambil berpegangan tangan, dan sama sekali tidak malu untuk menunjukkan hal mesra yang mereka tahu.

Hwayoung menatap mereka dengan nanar sambil menahan sakit di tumit kakinya. Benar-benar menyakitkan memakai hak setinggi ini.

“Pakai ini,” Yunhak melepas sepatu adidas putihnya dan mendekatkannya pada kaki Hwayoung.

“Lalu Oppa pakai sepatu hak-ku?” tanya Hwayoung polos.

Yunhak menghela nafas panjang dan hening seketika.

“Tidak perlu. Sepatu ini enak kok. Aku masih bisa berjalan..” kata Hwayoung, mencoba mendramatisir keadaan agar terus membaik walaupun dengan nada lirih.

“Apa kita ke toko dulu untuk membeli sepatu yang lebih baik untukmu?” tawar Yunhak.

Hwayoung sebenarnya ingin mengiyakan. Tapi…

“Tiket ini sayang, Oppa. Kalau kita keluar dan kita masuk lagi kita bayar lagi sedangkan kita belum bermain satu wahana pun. Kita bermain saja sedikit untuk mengurangi kerugian…”

Yunhak mengangguk setelah sekian lama berpikir. Kencan ini terlalu menghabiskan kecepatan berpikirnya.

“Oke. Kita bermain apa?”

 

****

 

Ternyata kencan bisa membuat orang menjadi tidak tenang dan kehilangan fokus. Kenapa Yunhak tidak terpikir bahwa di Lotte World yang luas ini pasti ada banyak toko berjejeran, dan salah satunya adalah toko sepatu. Sekarang ia harus menikmati wahana Roller Coaster yang menurut Hwayoung bagus untuk dicoba. Setelah itu menaiki wahana ekstrim yang lainnya dan diakhiri dengan kincir angin yang romantis.

“Oppa, kau takut?” tanya Hwayoung dengan suara bergetar.

Mesin Roller Coaster dinyalakan dan menimbulkan suara bergemuruh. Hitungan mundur dari angka 10 telah berjalan dengan sangat cepat dan tinggal 5 detik untuk segera meluncur dan membuat jantung serasa mau copot.

“5….”

“Oppa, bertahanlah!”

“…4…”

“Hwayoung-ah, setelah ini aku tidak akan bertanggung jawab!”

“….3….”

“Oppa, kalau aku mati, kuburkan aku dengan layak ya?”

“….2…..”

“Hwayoung-ah, aku sebenarnya tidak tahu kencan itu apa.”

“….1….”

“HWAYOUNG… OPPA…. AKU MENCINTAIMUUUUUUUU!!!!!”

Dan Roller Coaster langsung melaju dengan kecepatan sekitar 100 km/jam melewati rel-rel yang sudah dipersiapkan. Teriakan ketakutan serta pelepasan stress langsung dilontarkan para penumpang kereta cepat itu. Yunhak memanfaatkan kesempatan ini untuk berteriak saking stressnya memikirkan tentang kencan ini. Sedangkan Hwayoung berteriak lebih untuk mengekspresikan ketakutannya.

 

*TBC*

 

Bagaimana kelanjutan dari kisah dua anak manusia polos ini? Saksikan di part selanjutnya!

4 thoughts on “Innocent Life (Part 2)

    1. LaillaMP Post author

      sebenernya ini lebih panjang loh ada sekitar 10 halaman. tapi ane revisi biar jadi 7-8 halaman aja =_= insya allah kalo guru-guru pada ga ngasih tugas gue lanjut😀

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s