그대여 (Baby)

Title : 그대여 (Baby)

Genre : angst, romance, songfic

Length : oneshot

Cast :

–          Kim Sungje

–          Park Yoochan

OST :

Monday Kiz -그대여 (Baby)

A/N : songfic ini terinspirasi dari lagu keudaeyo-nya Monday Kiz yang diciptakan mas Lee Jin Sung terutama buat istrinya :”) Happy wedding ajusshi! Umurmu udah ga muda lagi. Jinwoo kapan mau nikahin gue L

Karna gue ga ada feel buat bikin Jinsung dan calon istrinya (baca : bukan gue) jadi gue bikin versi gue sama mas Sungje. Kalo mau tau lagunya tinggal dicari aja pake kata di ost itu. Mvnya juga so sweet. Haha…

Okelah kasian dibacotin terus. Yok baca~~

ps : thanks again @kisseumii udah buatin gue poster yang indah ini dimana sungje keliatan lebih ganteng dari aslinya❤

****

Untitled-21

Kisah ini…………….

Kisah terindah dalam hidupku.

Kau……………….

Lebih dari apapun di dunia ini.

Kau………………

Aku-sangat-mencintaimu.

***

“Even after coming home late at night, tired and exhausted
A person who says you missed me, runs to me and hugs me”

 

Kim sungje melangkahkan kakinya ke sebuah rumah sederhana yang menjadi tempat singgahnya sehabis kerja. Tempat itu kecil bagi orang lain. Tapi rumah itu menyimpan sesuatu yang lain. Sesuatu yang tidak ada di setiap rumah. Bukan perabot mahal, bukan lantai marmer yang berkilau, bukan hiasan-hiasan rumah yang terbuat dari berlian. Ini adalah sesosok “Dewi”. “Dewi” yang selalu menyambutnya walaupun ia dipuji, dihina, diinjak-injak oleh dunia, dan “Dewi” itu selalu ada, bahkan ketika hujan badai sekalipun.

“Suamiku,” sang dewi tersenyum lebar. Ia tidak mengatakan sesuatu yang lain selain itu. Ia akan meletakkan sesuatu yang dipegangnya atau meninggalkan objek yang dilihatnya untuk sekedar menyambut Kim Sungje, seorang yang “biasa saja”.

“Kau butuh teh, atau kopi?” dewi itu bertanya dengan sangat anggun dan dengan nada yang sangat riang. Hati lelaki “biasa” itu berdebar dan mengatakan ‘Tuhan, benarkah dewi itu ditujukan untukku?’

“Apapun, asal bersamamu,” Kim Sungje tersenyum pada sang dewi. Kemudian sang dewi ke dapur untuk membawa pesanan lelaki itu.

“Suamiku, aku sangat merindukanmu,” sang dewi pun memeluk tubuh yang menyimpan sebagian tulang rusuknya setelah menyajikan teh itu di atas meja.

“Aku juga sangat merindukanmu, dewiku.”

“A person who worries about me and can’t sleep even when you’re sick
A person who stays by my side”

 

Sang dewi ternyata juga manusia. Tapi kekuatan dewi yang dimilikinya membuatnya tetap kuat menunggu seseorang yang “biasa saja” di mata orang. Dewi itu hanya menghela nafas pasrah ketika jam menunjukkan pukul 12 malam. Ia terbatuk sendiri sambil memegangi kepalanya yang pusing karena guncangan tubuhnya sendiri. Jaketnya telah bertambah setiap jam dan akhirnya seluruh selimutlah yang dikerahkan untuk menghangatkan tubuhnya.

“Ya, kenapa kau tidak tidur?” tanya si lelaki “biasa saja” itu dengan nada sedikit marah. “Aku telah menyuruhmu tidur,” nada suaranya melunak.

Sang dewi menggeleng sambil terbatuk pelan. “Apakah salah aku mengkhawatirkanmu yang selalu pulang malam hari dengan perut kosong dan tubuh dingin? Kubuatkan sesuatu ya?”

Kim Sungje berlutut, menyamakan tinggi badannya dengan sang dewi yang terduduk lemah di sofa depan ruang tamu. Lelaki itu benar-benar kehabisan kata-kata. Bahkan ia sendiri hampir tidak pernah tahu kalau dewi yang dikirimkan Tuhan untuknya ini selalu ada untuknya.

“Aku mencintaimu,” lelaki itu memeluk sang dewi.

“Aku pun mencintaimu, suamiku,” dan pelukan sang dewi pun menyertainya.

“Sometimes, when I’m feeling sad and want to be comforted
A person who doesn’t say anything and just hugs me”

 

Memang benar kalau di cerita-cerita legenda. Seorang dewi diciptakan memiliki kekuatan serta kelembutan hati yang tiada tara. Memang ada dewi yang “jahat”, tapi itu tidak lebih dari dewi-dewi yang mempunyai kekuatan dan kelembutan hati itu.

Seorang dewi bisa menyembuhkan penyakit hanya dengan menatap dan menyentuhnya sekilas. Setelah itu sembuhlah penyakitnya. Ketika penyakit itu datang kembali sang dewi pun dengan lembut akan mennyentuhnya dan penyakit itu tidak datang lagi.

Itulah yang dilakukan dewi yang dimiliki Kim Sungje. Seseorang yang tidak mengatakan apapun, dan hanya dengan memeluk tubuh yang menyimpan sebagian tulang rusuknya, telah menyembuhkan jiwanya yang diremukkan keadaan.

“A person who always smiled even when I couldn’t warmly greet her
A person who cried with me whenever tears came”

Kelembutan hati sang dewi membuatnya terus tersenyum walaupun sang pangeran yang diinginkannya tidak akan menjadi miliknya.

“Suamiku,” sang dewi menyambutnya dengan senyum dan siap memeluknya seperti biasanya.

Kim Sungje yang hatinya terbakar oleh emosi dunia memilih tidak menatap orang yang terus menunggunya itu. Ia terus berjalan dan meninggalkan sang dewi yang terdiam dan menghela nafas panjang. Ia tidak ingin menangis, tapi setelah mendengar tangisan hati belahan jiwanya, ia pun ikut menangis.

“You, my love, you, you my love whom I’m thankful for
Even though my life was uneasy, even though I lacked
A person who leaned on me”

Kim Sungje, dan dewinya—Park Yoochan—sering pergi ke sebuah taman di masa muda mereka, di umur 18 tahun. Taman itu dekat dengan danau, dan mereka berdua sangat senang berada di pinggiran danau, mengulum lollipop rasa strawberry sambil berpegangan tangan dan menyandarkan kepala satu sama lain. Kadang mereka tertawa untuk hal yang sama sekali tidak bisa dijelaskan. Mereka tertawa entah karena angin yang bertiup dan menerbangkan rambut mereka, atau karna air danau yang berdesir lembut karena terpaan angin, atau justru karena pikiran mereka masing-masing.

“Kau percaya padaku kan?” tanya Kim Sungje, si lelaki yang biasa-biasa saja pada seorang Park Yoochan yang berasal dari keluarga terpandang dan berkepribadian baik.

“Hm,” gadis itu menjawab  dengan anggukan mantap.

“Terima kasih,” hanya itulah yang bisa dikatakan lelaki itu.

“Untuk apa?”

“Mempercayaiku, dan bersandar padaku,” kemudian kata-kata lain pun mengalir, lembut, bagaikan aliran sungai di surga yang tidak pernah berhenti mengalir dan selalu memberikan air yang sangat jernih. Dan sebuah pernyataan dan pertanyaan pun dilontarkan pada gadis yang sedang menyandarkan kepalanya di pundaknya.

Park Yoochan tersenyum lebar. Kalau boleh ia ingin menceburkan diri ke danau ini dan berteriak pada penghuni di dalam air bahwa ia dan lelaki yang dicintainya akan menikahinya. Dan Park Yoochan pun hanya bisa mengatakan “Ya” dengan suara kecil. Bukan karena tidak yakin, tapi lebih pada tidak bisa berkata-kata.

“My dear i’ll say this under the sky

I’ll protect you for all your life

As much as you waited a long time for me, as much as you cherished me

I will live for you”

Kim Sungje menunggu permaisurinya memasuki altar. Memakai gaun putih berbuntut panjang yang indah. Pintu gereja terbuka, dan masuklah seorang putri cantik yang berjalan bersama seorang lelaki yang menjadi walinya sambil membawa buket bunga kecil yang sangat indah. Lelaki itu tersenyum, menatap gadis yang akan menjadi pendamping hidupnya sampai maut memisahkan mereka.

“Aku bersedia,” ucapnya membalas pertanyaan sang pendeta.

“Dan Nona Park Yoochan, bersediakah Anda mendampingi dan mengasihi Tuan Kim Sungje, dalam suka maupun duka, dalam sehat maupun sakit, sampai ajal menjemput kalian?” pertanyaan sang pendeta kini berganti untuk Park Yoochan. Gadis itu menundukkan kepalanya sejenak. Kemudian kembali menatap sang pendeta dan mengatakan “Aku bersedia.”

Semua yang menyaksikan pernyataan dua anak manusia itu berdiri dan bertepuk tangan. Sang pendeta menyuruh Kim Sungje untuk memberikan ciuman pertamanya pada kening Park Yoochan untuk pertama kalinya setelah menikah. Kemudian mereka berdua bergandengan tangan dan berjalan ke luar altar.

Semua itu terjadi sekitar 3 tahun lalu. Tapi perasaan yang kuat itu membuat hubungan manis itu seperti baru terjadi kemarin. Kim Sungje dan Park Yoochan kini bersama, bergandengan tangan dan tersenyum menyambut malam.

“Sometimes, I get drunk and cry alone as I look at your face
I’m sorry, I’m sorry for not doing very much for you
My loving person”

Suatu malam di tengah hujan yang sangat deras dengan petir yang menggelegar bak membelah langit, sesosok lelaki masuk dengan menendang pintu dengan keras. Park Yoochan yang sedang membuat teh hangat untuk menghangatkan dirinya di dapur tersentak dan menjatuhkan cangkirnya. Ia langsung berlari tanpa membersihkan pecahan cangkir tehnya dan mendatangi ruang tamu.
”Ya Tuhan,” Park Yoochan langsung mengangkat tubuh suaminya yang mulai oleng akibat pengaruh minuman keras. Bau alkohol terasa sangat menyengat di indra penciumannya. “Kau minum lagi?” Park Yoochan mendudukkan suaminya di atas sofa. Kemudian membuka kemejanya dan menggantinya dengan pakaian lain yang lebih santai.

Kim Sungje meracau sendiri tentang pekerjaan dan keluh kesahnya hari ini. Istrinya hanya menghela nafas, dan memijat lembut lengan kekar Sungje.

****

Keesokkan harinya ketika terbangun dari tidurnya, Kim Sungje merasakan pusing yang sangat kuat. Ia hampir tidak bisa bangun dan memikirkan apa yang terjadi tadi malam. Setelah mengingatnya dengan jelas, lelaki itu melangkah dari sofa, mencari sosok dewinya yang ia lihat sangat lesu tadi malam.

“Mianhae,” lelaki itu langsung menghambur ke pelukannya, mengecup lembut seluruh bagian wajahnya sampai dewinya terbangun. “Mianhae,” dan ucapan maaf yang kedua kali itu membawa air matanya jatuh. Park Yoochan memeluk suaminya lembut, dan terus mengatakan “Gwaenchana” karena suaminya itu tidak melakukan kesalahan apapun.

“…………………….You…………………….”

Memori-memori indah itu terekam kuat oleh memori otak Park Yoochan dan Kim Sungje. Masa-masa ketika mereka masih sangat muda dan tidak berani menatap mata satu sama lain. Setelah bisa menatap kedua mata satu sama lain, mereka pun mulai mempermasalahkan hal-hal kecil. Lebih mempermasalahkan mengapa keduanya bertabrakan dan mencari pelakunya, bukan mempermasalahkan bagaimana wajah menyeramkan dosen ketika tugas darinya tidak dikerjakan. Kemudian satu pesta dari teman sekampus mereka memberikan sinyal hijau kuat untuk lebih dekat satu sama lain. Ketika mereka berdua tersingkir dari pergaulan dan mereka hanya diam berdiri di depan meja minuman, terdiam, kemudian kata-kata itu mengalir lembut.

“Kau….. maukah kau menjadi pacarku?” tanya Kim Sungje dengan sedikit penekanan di setiap katanya.

“Hm?” gadis di sebelahnya malah tertawa.

“Iya,” Kim Sungje kemudian lebih bergairah untuk mengatakannya lagi dengan lebih serius. Ia menatap manik cokelat muda milik Park Yoochan dan berlutut dengan gaya ala pangeran dongeng. “Maukah kau menjadi pacarku, Nona Park Yoochan? Aku mencintaimu dan aku tidak mau kau bersama yang lain.”

“You, my love, you, you’re the reason i’m happy”

 

Kemudian kata “Ya” itu terucap, menghasilkan setetes air mata kebahagiaan darinya dan juga seluruh penonton di sekitar gedung. Kim Sungje tidak peduli jika kegilaannya menyatakan cinta pada asisten dosen yang sangat perfeksionis itu dilihat orang. Ia bahkan sangat bahagia, lebih dari apapun.

“Gomawo,” kata Kim Sungje di tengah pelukannya bersama Park Yoochan. Kemudian Kim Sungje melayangkan ciuman singkat pada bibir gadis itu. Gadis itu tersipu. Itu ciuman pertamanya.

“A love that only gives

A person who was a light to me

My precious love”

 

Kim Sungje tersenyum menatap Park Yoochan di tengah kegelapan. Gadis itu sangat bercahaya melebihi lampu-lampu jalan. Lelaki itu kemudian mengalihkan pandangannya ketika sudah tertangkap basah telah menatap Park Yoochan yang sedang berjalan setelah melakukan riset di laboratorium kampusnya.

“Tuhan tidak salah kan memberikanmu untukku?” tanya Kim Sungje pelan.

“Maksudmu?” Park Yoochan tersenyum. “Tidak, tapi Tuhan salah memberikanmu untukku,” dan kemudian tawa mereka mengalir deras.

“My dear, i’ll say this under the sky

I love you to death”

 

Kim Sungje langsung menghambur ke pelukan Park Yoochan setelah 2 hari tidak bertemu karena pekerjaan kantornya. Park Yoochan yang sedang memasak hampir saja menjatuhkan kentang utuh ke dalam wajan berisi minyak panas. Kemudian wanita muda itu tersenyum, mengatakan “Aku merindukanmu” dan dibalas dengan kata “Aku mencintaimu” oleh Kim Sungje.

“As much as you shed tears, as much as we love each other

I will go to you”

 

“Marilah berjanji untuk selalu bersama sampai kapanpun,” kata Park Yoochan di tengah malam meriah tahun baru, bersamaan dengan menyalanya dua batang kembang api yang dipegang masing-masing mereka.

“Tidak perlu,” kata Kim Sungje.

“Wae?” tanya Park Yoochan bingung. Cipratan api di kembang apinya hampir mencapai batas yang ditentukan.

Dan ketika kedua batang kembang api itu sama-sama mati, menyisakan asap dan juga suara-suara meriah penyambutan tahun baru, Kim Sungje menciumnya. Mengekspresikan semua yang dirasakannya serta harapannya di tahun yang baru ini. Setelah ciuman dilepaskan barulah wanita itu tersenyum dengan sangat lebar.

“Terima kasih.”

“My love”

 

“Aku mencintaimu,” mereka berdua mengatakan itu bersama-sama. Kemudian Park Yoochan menyandarkan kepalanya di dada lelaki yang dicintainya itu. Suara ledakan kembang api yang besar menghiasi malam itu. Malam yang indah, malam yang penuh cinta, malam penutup lembaran pahit di tahun ini dan memulai dengan kertas yang baru di tahun kemudian.

~End~

Gimana? Aneh ya jadiya .-. ga papa yang penting jadi.

Ada kritik atau saran? Atau mau gamparin sungje /plak/ silakan di komen. Ga usah malu-malu *wink* *kemudian pergi ke kamar om Jinsung*

2 thoughts on “그대여 (Baby)

  1. paramitasr

    Ehhh lagi iseng iseng blogwalking elu, ehhh tiba tiba gue menemukan something yang ada tulisan “@kisseumii” ehh ternyata mencantumkan nama gue :3 jadi penasaran sama ceritanya. Ceritanya sedih sama rada fluffy gimanaaa gitu~~~ tapi Sungjenya malah kebayang Sungjae BToB masa -,- fighting! ^^

    Reply
    1. LaillaMP Post author

      eciye yg seneng uname twitternya muncul disini xp

      ceritanya udah abis kalo penasaran dipendem aja/? asal tau aja gue jg lebih ngebayangin om jinsung daripada sungje x)

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s