Fly to Love (Part 1)

Title : Fly To Love

Genre : comedy, romance, shonen-ai, ooc, etc

Length : Part 1 of ?

Author : Salma Rizky & Lailla Mustika Pertiwi

Cast :

~ Oh Sehun *EXO*

~ Xi Luhan *EXO*

~ other EXO members

Lailla’s Note : Hei hei hei! Ini lanjutan dari ff kolaborasi gue sama temen sebangku gue tercinta/? Wkwk…

Okay, mungkin pada ga tertarik karna gue ga biasa bikin /.\ yang penting kewajiban gue buat ngelanjutin ini sedikit demi sedikit akan tuntas/?

Mungkin part terakhir akan dilanjut sama temen gue biar dia bisa berekspresi terhadap hunhannya hahaha…. silakan dinikmati ^.^

 

****

AUTHOR POV

Hari ini adalah hari kedua masuk sekolah. Lelaki bertubuh mungil itu bangun dengan mood yang kurang baik. Dia sangat malas untuk kembali ke sekolah itu. Karena artinya, ia akan disibukkan dengan tugas-tugas yang selalu menghantuinya selama liburan kemarin. Bahkan dia sama sekali tidak mendapatkan jatah liburan untuk tahun ini, karena tugas osis yang selalu mengikutinya kemana pun ia pergi.

“Luhan, kau sudang bangun?” tanya ibunya. Luhan diam dan duduk di meja makan.

“Hari ini ada kegiatan orientasi lagi di sekolah dan aku—,“ belum melanjutkan ayahnya sudah berbicara, “Jangan bertele-tele Luhan, kau ini Wakil Ketua II Osis di sekolah mu, ayo berangkat. Appa tidak mau mendengar anak appa terlambat,”.

Luhan hanya mengambil kotak makanannya dengan lesu. “Baiklah, aku berangkat,” ujarnya sambil berjalan gontai. Luhan berjalan menuju halte bus, yah, ini masih pagi, tapi Luhan harus berangkat untuk mempersiapkan kegiatan orientasi di sekolahnya. Padahal Luhan masih mengantuk karena semalam dia menonton pertandingan Bayern VS Manchester United bersama appanya. Tapi, apa yang ia lihat tadi? Appanya menyuruh Luhan untuk berangkat. Di menghembuskan nafas berat.

 

***

 

Luhan sudah sampai di ruangan osis. Kini, teman-temannya sudah menunggu kedatangannya.

“Ya! Luhan, kau terlambat 3 menit,” ujar Kyungsoo. “Hanya 3 menit,” jawab Luhan santai. “Lalu, apa yang harus aku kerjakan?” Tanyanya.

“Tidak ada,” jawab Kyungsoo. Luhan hanya mendengus sebal. Untuk apa ia datang pagi-pagi tapi ia tidak dapat pekerjaan apapun. Lebih baik ia datang jam 7 saja kalau seperti ini. Dan ujur saja kejadian ini merugikan dirinya.

“Tapi setelah ini kau ada kerjaan, Luhan,” Luhan melirik ke arah sumber suara. “Iya aku tau,” Ujar Luhan sambil mendengus kesal. “Baguslah,” ujar Suho.

Oke, Luhan. Selamat datang kembali, batinnya. Ia hanya mengangguk mengerti.

 

***

 

LUHAN POV

Upacara hari kedua murid baru pun di mulai. Aku baris di dekat barisan kelompokku yang tadi aku dan teman kerjaku Baekhyun merapikannya. Tepatnya di sebelah adik kelas. Ya adik kelasku yang baru. Jujur saja, aku merasa tak enak baris disana karna sedari tadi aku melihat adik kelasku selalu melirik ke arah ku. Bukannya aku terlalu pede, tapi memang begitu kenyataannya. Aku tidak suka kalau mereka terus melirik ku seperti itu.

Akhirnya upacara pun selesai. Para senior –termasuk aku– ikut serta dalam kegiatan orientasi kali ini. Kalau tahun sebelumnya aku hanya melihat kegiatan orientasi ini dari pinggir lapangan tapi tidak, kali ini aku ada di dalam lapangan. Dan cuaca hari itu sangatlah panas. Aku bisa gila.

“Luhan, kau belum apa-apa saja sudah keringetan seperti itu,” ujar Baekhyun sambil memberikanku tisu. “Gomawo,” ujarku. Baekhyun hanya mengangguk. “Baiklah, ayo kita absen anak-anak dulu, Baekki,” ajakku.

Aku  mulai mengabsen satu persatu-satu. Semua hadir. Tapi hanya ada satu yang tidak ada kehadirannya. “Baekkie, kau tahu dimana anak ini?,” tanyaku. “Memang ada apa?,” tanyanya.

“Dia tidak hadir disini,” jawabku. “Benarkah? Kalau begitu aku akan mencarinya,” kata Baekhyun. “Tidak usah, aku saja yang mencarinya,” kata ku sambil bergegas. Dasar anak ini,merepotkan saja, batinku.

Aku melihatnya. Ia, Oh Sehun, dia sedang mencoba kabur untuk yang kedua kalinya. Dan bukannya ia merasa bersalah ia malah tersenyum padaku.

“Oh Sehun…”

Ia masih terus menatapku.

 

AUTHOR POV

Hari ini adalah hari terakhir kegiatan orientasi. Luhan yang sudah datang dan sedari tadi sedang bercengkerama dengan Jongin di depan aula tidak sengaja melihat ke arah Sehun dan temannya yang kelihatannya mereka berdua sedang memperhatikannya dari jauh. Luhan pun punya ide untuk mengerjai mereka. Namun sayang, Luhan harus menunda dulu kejahilannya karena para junior harus sudah berkumpul kembali.

“Hun-ah, apa yang kau buat?” tanya Chanyeol.

“Aku membuat sebuah tas daur ulang, lalu kau?” tanyanya.

“Aku membuat ini tempat pensil,” katanya. Sehun tertawa saat melihat hasil pekerjaan Chanyeol.

“Kenapa kau tertawa?”

“Ani.. ani..”.

“Baiklah, siapa yang tidak mengerjakan tugas hari ini?” tanya Luhan. Semuanya terdiam.

“Oke, sekarang kumpulkan tugas kalian,” ujarnya lagi. Sehun yang tau karena sedari tadi sahabatnya selalu melihat ke arah lelaki yang disukainya itu pun membangunkannya.

“Hey, Yeolli, ayo kumpulkan tugasmu,” kata Sehun. Chanyeol pun mengangguk.

“Ekhem.. Oh Sehun, tidak berniat untuk kabur lagi?” tanya Luhan. Baekhyun yang sedari tadi di samping Luhan hanya melihat mereka sambil menahan tawanya.

“Ah itu, sebenarnya tadi aku ada niatan untuk kabur, tapi aku sadar karena aku mempunyai tugas yang harus dikumpulkan jadi..yah… sunbae bisa melihatnya sekarang,” ujar Sehun tenang. Luhan hanya bergumam.

Hari ini adalah kegiatan orientasi terakhir. Sehun pun sangat senang karena hari-hari yang menyebalkan telah dilaluinya.

“Yeolli, ayo kita ke cafe. Kita rayakan karena kita telah melewatkan hari-hari yang menyebalkan,” ujar Sehun girang. “Baiklah,”.

Mereka telah sampai di sebuah cafe yang tak jauh dari sekolah mereka. Mereka baru pertama kali berkunjung di cafe itu dan mereka pun duduk di dekat jendela.

“Selamat datang, mau pesan apa?” tanya pelayan itu.

“Chocolate Bubble Tea satu dan ice cappucino-nya satu,” Pelayan itu mencatat pesanan mereka lalu permisi meninggalkan mereka.

“Akhirnya, kegiatan orientasi  yang gila itu telah selesai, dan aku tidak akan pernah lagi bertemu dengan dia,” ujar Sehun. “Maksudmu Luhan?” tanya Chanyeol. Sehun mengangguk.

“Ah, tapi tidak mungkin. Kau harus menunda planning mu itu hunna, kau kan punya janji untuk membantuku,” Sehun tercengang. Ia lupa. Oh tidak ini masalah.

“Ah, iya, aku lupa hahaha,” ujar Sehunsambil tertawa garing,

“Jadi, apa yang akan kau lakukan?”

“Jujur saja Yeolli, aku belum memikirkannya. Tapi ada 1 hal yang ada di pikiranku,”.

“Apa itu?”

“Surat cinta. Kenapa kau tidak membuatkannya surat cinta?”

Chanyeol tertawa. “Hey, Oh Sehun, surat cinta? Kau bilang surat cinta? Kau gila. Tidak akan!”

“Emang apa salahnya? Bukannya itu bagus, dia akan tahu perasanmu yang sebenarnya,”

“Kau benar, mungkin aku  akan membuatkan sebuah memo cinta untuknya,” ujar Chanyeol. “Tunggu, memo?” tanya Sehun heran. Ia mengangguk.

“Ah, terserah padamu, itu artinya aku tidak diperlukan kan?” tanya Sehun sambil tersenyum girang. “Kau sangat aku butuhkan. Kau yang akan menaruh memo-memo itu di loker Luhan, kau mau kan?,” ujar Chanyeol.

“APA? KENAPA AKU?—“ belum melanjutkan Chanyeol sudah memelas dihadapannya. Sehun hanya menghembuskan nafas berat dan menampilkan muka datarnya.

“Baiklah, aku mau..”

 

LUHAN POV

Aku menghempaskan tubuhku ke kasur. Hari ini aku ektra kerja keras karena kegiatan orientasi yang gila itu. “Akhirnya…” aku menghela nafas yang kali ini kelihatan sangat ringan dan rilex. Otakku sudah penuh dengan semua masalah  yang kemarin-kemarin. Dan sekarang aku tidak akan memikirkan hal itu lagi. Aku mulai memainkan ipod dan menyalakan lagu kesukaanku dan tak lupa mematikan lampu tidurku.

Esok paginya, aku berjalan menuju koidor sekolah dengan malas. Aku masih malas untuk bangun. Tapi appa selalu menyuruhku untuk tidak terlamabt kesekolah. Yah appa ku itu memang seorang yang perfectionist, dimataku. Aku menuju lokerku. Kulihat di dalam lokerku ada sebuah memo.

 

To: Luhannie,

Hello… aku hanya ingin mengucapkan selamat pagi untukmu. Semoga harimu menyenangkan.

From: idiots

 

Aku hanya tercengang saat membaca memo tersebut dari siapa. Idiots, siapa orang yang mau memakai istilah itu. Aku hanya tertawa dan menyimpan memo itu ke dalam kantong celana ku dan segera bergegas ke kelasku.

“Luhan, kau sudah mengerjakan tugas Ekonomi mu?” Tanya Xiumin.

“Sudah, apa?” Aku kaget karena Xiumin langsung mengambil tugas punyaku.

“Aku pinjam dulu ya,” katanya sambil tertawa.

Baiklah. Batinku.

Aku berjalan menuju kantin sekolah. Hanya sendiri. Karena aku ingin sendiri. Setelah membeli sebuah minuman aku beranjak ke taman ekolah dan duduk di bawah pohon sambil memainkan ipodku. Aku bersenandung saat mendengarkan lagu kesukaanku. Tiba-tiba aku melihat seorang namja yang ia kenal. Yah, Oh Sehun. Lelaki itu sedang duduk bersama temannya yang kemarin ia lihat.

 

SEHUN POV

Aku pergi ke kantin bersama Chanyeol. Dan tak sengaja aku melihat err.. namja itu. Luhan. Iya Luhan. Ia sedang membeli sebuah minuman di kantin. Chanyeol yang tersadar langsung menarikku ke pinggir jalan.

“Hun-ah, kau sudah menaruh memo yang kuberikan padamu tadi pagi kan? Di lokernya?” tanyanya sambil melirik ke arah Luhan. Aku mengangguk.

“Tapi apa ia tidak penasaran siapa yang memberikan dia memo cinta pagi ini?”

“Yeolli, tidak secepat itu. Kalau kau mau dia penasaran, berikan ia memo cinta-mu itu sebanyak-banyaknya agar dia penasaran dan mencari tahu,” ujarku. Ia mengangguk mengerti.

“Ah, Sehunie, ayo kita pergi, lihat ia menuju taman,” Aku hanya mengikutinya saja.

Aku melihat ia duduk dibawah pohon sambil mendengarkan musik dengan mp3 nya sambil menutup matanya. Saat itu angin berhembus sehingga menerpa poni Luhan.

Cantik, batinku.

Kalau boleh jujur, ia memang cantik. Namja cantik. Tapi tentu saja gengsi mengalahkan kejujuran itu sendiri.

“Kalau dia seperti itu, dia sangat cantik,” ujar Chanyeol.

“Tidak sama sekali,” jawabku dusta. Chanyeol hanya memberikan Aku tatapan deathglarenya.

“Apa?” kataku menampilkan muka datarku. Dia tidak menjawab dan langsung melihat ke arah Luhan lagi.

Lalu aku melihat ia membuka matanya dan ia melihat ke arah kami.

DEG

Jantungku berpacu begitu cepat. Oh tidak. Ada apa ini. Suhunya mulai memanas. Ah gila, aku bisa gila, apa jangan-jangan aku— TIDAK.AKAN.PERNAH.

Dia menghampiri kami. Jantungku masih tidak bisa normal. Ada apa ini.

“Annyeong..” ujarnya. Chanyeol yang masih shock hanya membalasnya dengan senyuman.

“Ann-yeong,” ucapku terbata-bata.

“Apa yang kalian lakukan disini?,” ujar Luhan. “Ah kami hanya sedang duduk saja menikmati indahnya matahari, hehe,” jawabku sekenanya. Ia mengangguk mengerti.

“Ah, baiklah, aku duluan,” ujar Luhan sambil tersenyum.

“Aku tidak nafas saat ia menghampiri kita,” kata Chanyeol sambil mengatur nafasnya kembali.

“Mwo? Sampai seperti inikah?” ia hanya mengangguk. Dan kami pun langsung pergi dari taman.

 

Sehun POV end

 

***

 

Oh Sehun kembali ke sekolah pagi ini dan sudah di titipi sebuah kertas di atas mejanya. Dari Chanyeol, dan Sehun sudah hafal dengan kebiasaannya selama hampir sebulan ini. Sehun sengaja datang terlambat agar ia tidak harus menempelkan memo-memo kurang kerjaan itu di loker Luhan. Tapi akhirnya ia pun tetap harus menempelkannya. Demi persahabatan katanya.

Sehun berjalan agak lambat menuju loker-loker anak kelas 2, berharap bel akan menyelamatkannya dan mengembalikan memo itu pada pemiliknya. Kalau dipikir sebenarnya Chanyeol itu gila. Memang gila. Memo cinta…. ya, seperti di drama-drama untuk ditempelkan di kulkas agar si wanita tidak lupa makan atau melakukan sesuatu. Dan Sehun juga masih tidak habis pikir kenapa memo? Memangnya Chanyeol pimpinan perusahaan yang selalu memberi memo bagi bawahannya untuk mengerjakan sesuatu, dan Sehun adalah kurir pengirim alias penempel memo itu di tempat-tempat sekitar bawahan. Entahlah, dunia Sehun benar-benar sudah gila sekarang.

Sehun berhenti ketika melihat seseorang yang lokernya akan di datangi sedang berada bersama seorang yang sangat ia kenal berkat masa orientasi ini. Xi Luhan dan Kim Jongin. Sehun menebak sepertinya ada hubungan khusus diantara keduanya. Bukan hanya mereka berdua berada dalam bidang yang sama dalam organisasi siswa, tapi mereka juga sekelas. Mereka sering tertawa bersama dan kadang Sehun memergoki mereka makan bersama di kantin—yang untungnya Chanyeol tidak pernah melihat ini karena ini hanya terjadi setidaknya seminggu sekali tergantung kesediaan Jongin.

“Hai,” seseorang membangunkannya dari lamunan tentang Chanyeol, Luhan dan Jongin. “Kau masih ingat aku kan?”

Sehun menatapnya datar. Tidak tahu harus mengatakan apa. Kalau dia mengatakan sepatah kata saja pasti sudah gagap seperti yang ada di drama.

Luhan kemudian menatap sesuatu yang terselip diantara jemari Sehun. Sehun yang sadar memo kuning yang dia pegang itu terlihat langsung meremasnya dan meninggalkan Luhan yang kebingungan sendiri.

“Itu apa?” tanya Luhan sebelum Sehun melangkahkan kakinya untuk yang kedua kali.

Sehun menaikkan kedua bahunya. “Aku juga tidak tahu.”

 

****

 

“Kau sudah mengirimnya kan? Sekarang temani aku untuk melihat reaksinya!!” kata Chanyeol setelah bel baru saja berbunyi.

Sehun menatap Chanyeol sekilas. Kemudian ingat akan memo kuning yang malah ia masukkan ke saku, bukannya ditempel di loker Luhan. Sehun kemudian memasukkan barang-barangnya yang berserakan diatas meja ke dalam laci.

“Sehun-ah, wae? Kau sakit? Atau kau sudah tidak mau membantuku?”

“Ani… Ani…” jawab Sehun tidak enak. “Eng… maaf, aku tadi datang terlambat dan…” Sehun melihat raut wajah Chanyeol yang seperti biasa untuk menentukan arah cerita dari bibirnya ini. “Ah, aku ingin makan. Kau mau temani aku makan? Sepertinya aku melihat ada menu baru di kantin tadi.”

“Kantin kita sudah sempit, mau ditambah apa lagi? Mau ditaruh dimana?” Chanyeol mendengus kesal. “Kalau tidak mau mengantar ya sudah—“

“Bukaaaan!!” Sehun langsung menarik tangan Chanyeol. “Oke kutemani.”

Sehun merutuki dirinya sendiri. Kenapa ia malah meremas memo itu dan memasukannya ke saku bukannya menempelkan ke loker? Memangnya apa salahnya? Tapi nanti pasti ketahuan kalau Sehun yang menempel memo itu. Jangan-jangan nanti Luhan ge-er karena yang mengirimkan memo itu adalah adik kelas yang paling terkenal ini.

“Sehun-ah, sepertinya kita terlambat,” Chanyeol menilik jam tangannya dan menatap kembali loker yang sudah ditutup rapat oleh pemiliknya. “Kau pasti tidak menempelkannya di dalam kan?”

Sehun mengangguk kikuk.

“Mungkin dia sedang senang. Ayo kita ke kantin! Menu barunya apa? Aku penasaran!”

Kebohongan pertama tertutupi, dan kebohongan kedua akan dimulai. Sehun ingin menenggelamkan dirinya di dasar bumi saja karena kebohongannya sendiri.

“Aku ingin makan bento saja. Aku akan membelikan dua. Carikan kursi kosong ya untuk kita berdua!” Chanyeol kembali tersenyum idiot dan berlari mengantri bento. Sehun tertawa sendiri dan mencari salah satu kursi yang kosong. Satu-satunya yang ada hanyalah…. oh Tuhan. Ini kebetulan yang gila! Sebagai teman Sehun tidak akan memberikan Chanyeol pemandangan seperti ini.

“Yeol-ah, kita makan di kelas saja yuk?” Sehun menarik tangan Chanyeol untuk pergi dari tempat itu.

“Waeyo? Kau melihat siapa?” tanya Chanyeol.

“Tidak perlu tahu! Ayo kita makan di kelas saja!” Sehun buru-buru menarik tangan Chanyeol sebelum ia sempat melihat adegan Luhan dan Jongin saling menyuapi bento masing-masing.

“Kau mau makan apa? Bahkan aku saja belum mengantri lama untuk mendapatkannya,” satu pelajaran lagi yang Sehun dapat. Jangan mudah terpancing suasana sebelum mendapat makanan.

 

****

 

Pukul 11 malam.

 

Luhan merenggangkan otot tangannya setelah keluar dari kelasnya. Pelajaran tambahan yang didapatkannya hari ini lebih berat dari pelajaran tambahan di hari lainnya. Lelaki itu jatuh terduduk di dekat lokernya dan memejamkan matanya. Penat. Ia benar-benar menguras tenaganya hari ini.

“Lu?” Xiumin, teman sekelasnya menatapnya bingung. Ia langsung berjongkok dan menyamakan tingginya dengan Luhan. Punggung tangannya berusaha mencapai dahi lelaki cantik itu.

“Aku tidak apa-apa, tidak usah takut begitu,” Luhan langsung membuka matanya dan melompat berdiri. “Kau mendapat soal apa dari si botak itu?” tanya Luhan lagi.

Xiumin tertawa. “Karena ia kehabisan pertanyaan, maka kami boleh keluar kelas!”

Luhan membuka lokernya lagi dan mengambil tasnya. “Seharusnya aku ikut rombongan kalian saja ya. Ckck…”

Xiumin menepuk pundak Luhan. “Sekali-kali kau harus merasakan, jadi murid sisa di sebuah kelas. Itu menyenangkan! Aku bersumpah.”

Luhan tertawa. Kemudian ia dan Xiumin sama-sama berjalan ke luar sekolah untuk kembali ke rumah. Mengistirahatkan tubuh sampai sekiranya pukul 7 pagi karena pukul 9 kelas baru dimulai.

 

****

 

“Menunggu Jongin?” tanya Xiumin setelah sampai di depan gerbang.

Luhan mengangguk. “Tentu saja,” ia menjawab dengan senyum merekah. “Aku janji kalau Jongin punya mobil aku akan mengajakmu bersamaku.”

Xiumin tertawa. “Tidak, terima kasih. Aku duluan ya. Selamat menunggu adikmu itu!”

Luhan sendirian. Ia menghela nafas dan mencari posisi nyaman dengan bersandar di pagar besi. Anak-anak kelasnya yang baru pulang menyapanya. Luhan pun menjawab saja sapaan mereka sambil mengangkat tangannya. Setelah itu senyap. Tidak ada lagi makluk yang keluar dari tempat mengerikan itu.

Sampai sekitar 5 menit kemudian, belum tampak sesosok lelaki menaiki motor besar berwarna hitam yang bersuara keras.

“Jongin-ah, kau dimana?” bisik Luhan sedikit jengkel.

Sebuah suara mesin terdengar mendekat. Luhan menegakkan dirinya untuk menyambutnya. Ia sudah siap dengan seluruh keluhannya tentang hari ini karena lelaki itu. Tapi………..

Motor itu melesat kencang melewatinya, dan kemudian disusul dengan motor-motor lain yang juga melesat kencang dengan suara yang memekakan telinga.

“Astaga!” pekik Luhan. “Apa-apaan mereka. Mana lagi Jongin. Seharusnya aku memang ikut Xiumin.”

Luhan menghela nafas panjang. Memang benar kata teman-temannya. Jongin tetap adiknya walau mereka seangkatan. Jongin tetap anak kecil, yang kadang lupa dengan janji.

 

****

 

“Semalam aku melihat Luhan sendirian,” kata Sehun pada Chanyeol yang baru datang dan meletakkan tasnya di atas meja. “Pukul 11 malam, di depan pintu gerbang.”

“M-mwo? Sedang apa dia disitu malam-malam begitu? Kalau dia kenapa-napa bagaimana? Sehun-ah kenapa kau tidak mengajaknya pulang bersamamu?!” tanya Chanyeol sambil menggerakkan badan Sehun yang lemas.

Sehun melepaskan tangan Chanyeol dari pundaknya. “Pertandingan final, you know? Dengan seseorang yang tidak kukenal.”

“Mwo? Pertandingan apa?” tanya Chanyeol.

Sehun diam. Ia baru ingat kalau tidak ada yang tahu pekerjaan “Sampingan”-nya. Akhirnya Sehun menggeleng—dan untungnya Chanyeol sama sekali tidak curiga.

“Menurutmu apakah nanti Luhan sunbae akan pulang malam seperti tadi?” tanya Chanyeol sambil menerawang.

“Entahlah. Mungkin ia bersama Jo—ekhm, mungkin dia ada jadwal belajar tambahan lagi hari ini,” Sehun menghela nafas atas kebohongannya yang ke-berapa kalinya pada sang sahabat.

“Dia kan masih kelas 2, kenapa harus ada pelajaran tambahan?” tanya Chanyeol bingung.

“Dia kan murid teladan yang selalu jadi andalan untuk olimpiade. Jadi pasti tidak ada bedanya dengan anak kelas 3.”

Chanyeol mengangguk. Ia percaya saja pada apa yang Sehun bicarakan—dan Sehun sangat bersyukur karena ia tidak harus mengeluarkan energi ekstra untuk melantunkan alasan-alasan bodohnya lagi.

 

****

 

“Lu, aku minta maaf karena tidak menjemputmu tadi malam. Aku ada pelajaran tambahan juga,” lelaki tinggi itu duduk di depan lelaki berkulit susu yang sedang sibuk memotong-motong mie dengan sumpit.

“Aku menyesal, benar ini bukan hal yang ku sengaja,” Kim Jongin terus meyakinkan lelaki di depannya atas kejadian tadi malam.

“……..” Xi Luhan masih diam, terus berkutat pada sumpitnya yang tidak juga bisa membawa mie-nya ke dalam perut.

“Lu….”

“Jangan jemput aku hari ini. Aku ada pelajaran tambahan untuk olimpiade minggu depan!” kemudian Xi Luhan pergi, meninggalkan Jongin sendiri dengan segala penyesalannya.

Jongin langsung bangkit dari kursinya dan menyusul Luhan yang lebih dulu pergi. Tidak butuh waktu lama bagi Jongin untuk menemukan sosok lelaki berkulit susu itu.

“Aku akan menunggumu,” kata Jongin tepat dibelakang Luhan. Luhan tetap berjalan dan tidak mau menghiraukan janji lelaki itu. “Kali ini benar! Kumohon jangan marah lagi padaku!” teriaknya pada Luhan. Seluruh perhatian orang sekitar tertuju pada Jongin yang hampir mengamuk karena telah mengecewakan orang yang paling dicintainya.

 

****

 

“Yeol, aku ke kamar mandi ya!” kata Sehun di tengah suapannya.

“Ha? Kau mau apa?” tanya Chanyeol dengan mulut penuh nasi.

“Jangan sok polos!” Sehun langsung berlari ke tempat yang ditujunya. Kamar mandi, ia benar-benar membutuhkan tempat itu sekarang.

Setelah semuanya selesai, Sehun menghela nafas lega. Panggilan alamnya telah tersalurkan dan kini ia tinggal menyelesaikan makannya.

“Hiks… Hiks…”

Kemudian Sehun bergidik mendengar suara tangisan. Ia tidak pernah membayangkan setan kamar mandi benar-benar ada. Sehun buru-buru meraih gagang pintu untuk keluar, tapi kakinya benar-benar tidak bisa bergerak. Tangisan itu makin keras, dan membuat Sehun benar-benar tidak bisa bergerak, bahkan bernafas sekalipun.

Bel berbunyi dengan kencang. Membuat tangisan dari si “Setan kamar mandi” itu berhenti. Sehun sudah bisa bergerak sekarang. Ia menuju westafel untuk membasuh tangannya.

“Sehun?” suara itu terdengar tidak asing di telinganya. Mungkinkah setan kamar mandi itu mengetahui namanya? Darimana?

Sehun menatap cermin. Dilihatnya sesosok manusia berjenis lelaki dengan kulit seputih susu di belakangnya. Lelaki itu berdiri di wastafel sampingnya dan membasuh mukanya.

“Kau kenapa?” tanya Sehun setelah melihat wajah merah Luhan yang habis menangis. Kini sudah jelas kalau setan kamar mandi itu tidak ada.

“Bukan urusanmu,” kemudian Luhan pergi, meninggalkan kran air yang masih mengeluarkan air deras.

Sehun menghela nafas. Setidaknya sekarang ia tidak akan berbohong lagi pada Chanyeol kalau lelaki itu punya harapan. Mungkin Luhan dan Jongin sudah putus.

 

-tbc-

 

14 thoughts on “Fly to Love (Part 1)

  1. ~LayHan~

    Thor lanjutin lagi dong aku lagi suka sama ffmu:) kren bngt nih critanya. Tpi lain kali tulisannya di teliti la ya, soalnya masih ada yg typo gtu:D tpi bagus kok critanya aku suka. Lanjutin ya;)

    Reply
    1. LaillaMP Post author

      haa typo? padahal udah kuteliti loh /kurang teliti/ lanjutannya nunggu temenku yang ngelanjut ya. ini ff colab soalnya🙂 makasih udah baca ^^

      Reply
  2. oktav

    masih binging, sebenernya luhan sama kai ada hubungan apa ? katany cm ade tapi kok kyknya lbih ? huft kpn ni ada hunhan moment nya he, fighting n keep writing😀

    Reply
  3. victoriakim

    Kyaaa!!!!luhannya gitu banget sih!!!!!nyebeliiiinnnn…
    Udalah tinggal bilang suka ke luhan ribet amat-_-
    sebenernya hubungannya kkamjong sama luhan itu apa adik kakak atau pacaran?
    aduh masih bingung

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s